1,720,989 research outputs found

    Bolano Sau Lake Fish Data

    No full text
    This submission contains data on morphometric and meristic characters of the fish locally known as payangka from Bolano Sau Lake in Parigi Moutong District, Central Sulawesi Province, Indonesia. Based on DNA barcoding data (COI mtDNA) this species has been identified as the gudgeon Giuris laglaizei Sauvage 1880 (Eleotridae), representing the first record for this recently resurrected species outside the Philippines. The specimens were collected from August to December 2019

    GenBank Accessions, BOLD Records (mitochondrial COI gene sequences) and other nucleotide sequences used for phylogenetic analyses of Eleotridae and Giuris spp.

    No full text
    This file contains Table S1 - Extended Data for the article entitled: DNA barcoding detects resurrected taxon Giuris laglaizei (Sauvage 1880) in Sulawesi, Indonesia: Bolano Sau Lake payangka phylogeny, phenotypic characters and implications for Giuris spp. conservation. These data comprise a table of GenBank Accessions, BOLD Records (mitochondrial COI gene sequences) and other nucleotide sequences used for phylogenetic analyses of Eleotridae and Giuris spp. including data on the origin of the specimens from which the sequences were derived and associated publication references

    PERTUMBUHAN IKAN HIAS BANGGAI CARDINALFISH (PTERAPOGON KAUDERNI) PADA MEDIA PEMELIHARAAN SALINITAS YANG BERBEDA

    Full text link
    Ikan endemik Banggai cardinalfish Pterapogon kauderni (Koumans, 1933) umumnya dinilai terancam punah oleh permanfaatan sebagai ikan hias.  Indonesia berkomitmen untuk menjamin kelestarian ikan dengan pola pemanfaatan berkelanjutan. Dalam rangka mendukung pengelolaan lestari ikan P. kauderni, dilaksanakan penelitian terhadap pengaruh salinitas terhadap pola pertumbuhan. Ikan uji berasal dari populasi introduksi di Teluk Palu. Penelitian terhadap pengaruh salinitas melengkapi penelitian sebelumnya pada kisaran salinitas 27-35 ppt. Kisaran ukuran awal panjang baku (SL) ikan uji berkisar antara 1,2 sampai 1,7cm, perlakuan salinitas yang diterapkan adalah: 16 ppt, 18 ppt, 20 ppt, 22 ppt, 24 ppt dan 26 ppt dengan 3 ulangan dan ikan sampel yang digunakan 5 ekor/ulangan (N=90). Berat tubuh (W) dan panjang baku (SL) diukur setiap 10 hari selama periode/masa pemeliharaan 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak selama periode penelitian P. kauderni juvenil terjadi penurunan seiring dengan penurunan salinitas (pada perlakuan), namun tidak berpengaruh nyata (Fhitung<Ftabel). Sintasan terjadi penurunan seiring dengan penurunan salinitas (pada perlakuan), salinitas ≤ 24 ppt berpengaruh nyata sampai sangat nyata

    STRUKTUR UKURAN GLASS EEL IKAN SIDAT (Anguilla marmorata) DI MUARA SUNGAI PALU, KOTA PALU, SULAWESI TENGAH

    Full text link
    Ikan sidat memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan global semakin meningkat. Salah satu spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Anguilla marmorata. Sungai-sungai di Sulawesi Tengah umumnya terdapat populasi ikan sidat, selama ini penelitian cenderung terfokus pada Sungai dan Danau Poso dan ketersediaan data sangat kurang di sungai/danau lainnya, termasuk Sungai Palu. Salah satu jenis ikan sidat ukuran glass eel yang melakukan ruaya anadromous di Sungai Palu adalah Anguilla marmorata. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisa struktur ukuran glass eel ikan sidat (Anguilla marmorata) yang beruaya anadromous di Sungai Palu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai April 2009 di muara Sungai Palu dan Laboratorium Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPL) Palu. Sampling glass eel dengan cara penangkapan menggunakan alat tangkap berupa seser (hand scoop net) ukuran mata jaring 1 mm. Setiap kali dilakukan penangkapan/pengumpulan sampel dilakukan pengukuran salinitas dan suhu air sungai. Salah satu cara yang umum digunakan dalam mengidentifikasi spesies glass eel adalah identifikasi berdasarkan karakter kunci Anal Dorsal Vertebrata (ADV) atau anodorsal vertebrae. Setelah glass eel diidentifikasi selanjutnya dilakukan pengukuran panjang dan berat. Setiap jenis yang teridentifikasi dimasukkan ke dalam akuarium yang terpisah.  Khusus jenis Anguilla marmorata dihitung jumlahnya dan dikelompokkan berdasarkan struktur ukuran panjang maupun  berat. Untuk mengetahui frekuensi rata-rata ukuran panjang total dan berat tubuh masing-masing populasi spesies tiap bulan dalam sampel hasil tangkapan glass eel, dianalisis menggunakan teknik histogram frekuensi, perhitungan rata-rata dan standar deviasi (Standard Deviation). Kisaran panjang total glass eel ikan sidat Anguilla marmorata yang tertangkap selama bulan Januari sampai April berkisar antara 4,1 sampai 5,0 cm dengan modus distribusi frekuensi berada pada kelas 4,5 sampai 4,8 cm. Secara keseluruhan frekuensi panjang total terbanyak 180 ekor (4,8 cm).  Rata-rata panjang total Anguilla marmorata yang ditemukan adalah 4,838 ± 0,023.  Kisaran berat tubuh Anguilla marmorata yang tertangkap selama bulan Januari sampai April adalah 0,04 sampai 0,15 gram dengan modus distribusi frekuensi berada  pada kelas ukuran 0,05 sampai 0,10 gram.  Secara umum frekuensi berat tubuh terbanyak terdapat pada kelas ukuran 0,10 gram sebanyak 130 ekor

    KAJIAN POTENSI BUDIDAYA ALGA MERAH (Gelidiella acerosa) DI TELUK PALU

    Full text link
    Seiring dengan pertumbuhan penduduk global dan kemajuan teknologi, kebutuhan produk perikanan budidaya semakin meningkat, termasuk khususnya produksi global alga merah (Rhodophyta). Selain rumput laut yang telah umum dikembangkan seperti dari Genus Gracilaria, Euchema atau Kappaphyccus, masih banyak jenis yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku industri pangan dan pakan, farmasi, energi, cat, tekstil, kertas dan lainnya, namun belum dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi penting di Indonesia. Salah satu spesies alga merah dengan penyebaran asli di Indonesia yang dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomis tinggi adalah Gelidiella acerosa. Tujuan penelitian adalah untuk menyediakan data dan informasi mengenai potensi pengembangan budidaya alga merah Gelidiella acerosa di Sulawesi Tengah dengan fokus utama di Teluk Palu. Penelitian terdiri dari desk study dan uji-coba pemeliharaan Gelidiella acerosa yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Oktober 2010 di perairan Teluk Palu khususnya di perairan Kelurahan Watusampu, Kota Palu. Bibit G. acerosa dipelihara dalam wadah tertutup yang terbuat dari waring. Wadah tersebut dipasang pada 3 stasiun kedalaman yaitu: Stasiun I dekat permukaan (kedalaman sekitar 0,3 meter); Stasiun II (kedalaman 1 meter) dimana suhu cenderung lebih stabil; dan Stasiun III (kedalaman 2 meter) untuk menilai pengaruh penetrasi sinar matahari. Parameter utama yang diamati adalah sintasan, pertumbuhan dan kondisi bibit G. acerosa, serta parameter lingkungan terutama kualitas air. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Kondisi dinilai berdasarkan skala kondisi (Neish, 2005). Parameter utama yang diamati adalah: (i) Grazing: pemangsaan oleh herbivora; (ii) Bleaching = pemutihan; (iii) W.E.E.D = weed/gulma, epiphytes/tumbuhan penempel, epizoa/hewan penempel dan disease/penyakit. Empat kondisi pada skala tersebut adalah: kondisi hijau = baik; kondisi kuning = kurang baik; kondisi oranye = menghawatirkan; dan kondisi merah = sebagian besar mati atau akan mati dalam waktu dekat. Kondisi Green/Hijau harus bebas pemutihan dan pemangsaan yang berarti, penyakit, serta komponen WEED lainnya tidak ada atau hanya sedikit. Hasil yang diperoleh adalah bahwa Gelidiella acerosa, merupakan suatu alga merah bernilai ekonomi tinggi, dapat bertahan hidup dengan sintasan 100%. Laju pertumbuhan bibit pada kedalaman 0 sampai 30 cm sekitar 15,4% dan pada kedalaman 1 sampai 2 meter sekitar 12,5%. Hasil pengamatan tersebut sesuai hasil desk study bahwa pertumbuhan G. acerosa yang hendak dikembangkan dengan metode pembiakan vegetatif (stek) kurang baik. Dinilai dari aspek ekologi peluang pengembangan sebagai komoditas budidaya cukup baik namun diperlukan program riset untuk mengembangkan metode budidaya berdasarkan produksi tetraspora atau karpospor

    A SITE-BASED CONSERVATION APPROACH TO PROMOTE THE RECOVERY OF BANGGAI CARDINALFISH (Pterapogon kauderni) ENDEMIC POPULATIONS

    No full text
    The endemic Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) is an Indonesian conservation priority with Endangered species. The goal of this research was to develop a site-based conservation concept appropriate from a bio-ecological viewpoint, based on the unusual characteristics of this species, in particular: (i) mouthbrooder with direct development, leading to reproductively isolated stocks and fine scale genetic structure; (ii) high level of reliance on habitat, in particular symbiosis with benthic animals providing protective micro-habitat. Methods used include review and analysis of published literature and unpublished data, including an analysis using the Marxan spatial planning software. We suggest several policy options and identify research needs, including: (i) base P. kauderni conservation (protection, rehabilitation and sustainable use) on stocks as the basic management unit; (ii) use data on P. kauderni genetic stocks in the zonation of the proposed Banggai Archipelago marine protected area (MPA); (iii) undertake further research to identify stocks/stock boundaries; (iv) apply the "BCF gardens" concept to fine-scale rebuilding of P. kauderni populations and enabling sustainable use through micro-habitat rehabilitation, with a community-based approach supported by a multi-phase scientific research program. The outputs from this study should support efforts towards sustainable management of the Banggai cardinalfish, particularly in the context of strategies to develop and manage an effective sub-national MPA. Keywords genetic stock; habitat/micro-habitat rehabilitation; community-based conservation; marine protected area; Marxa

    Diagnosis Dan Patologi Infeksi Bakterial Vibrio sp. Pada Ikan Kardinal Bangggai (Pterapogon kauderni)

    Full text link
    The aim of this study to observe the effect rearing time of Banggai cardinalfish&nbsp; were infected with Vibrio sp. from mortality rate and verify tissue’s abnormalities through histopathology test. Rearing time were 5, 10 and 15 days using a completely randomized design with three replications. Data processing is done by analysis of variance one-way ANOVA. Histology bacterial identification and data were analyzed descriptively. Research conducted at the Installation Building Fish Quarantine of Palu, Microbiology Laboratory of Palu and Histology Laboratory Fish Quarantine of Makassar in April to August 2015. Based on identification, found 8 bacteria of Vibrio sp were V. pelagius, V. damsela, V. carchariae, V. anguillarum, V. ordalii, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus and V. aerogenes. The results showed rearing time for 15 days (treatment C) triggered the highest fatality rate of 62% was followed by rearing time 10 days (treatment B) of 52% and 5 days (treatment A) of 44%. Histopathological test showed tissue damage in the gills, kidney, skin and eyes. The results shows the longer rearing time the higher of mortality rate were infected with Vibrio sp

    Diagnosis Dan Patologi Infeksi Bakterial Vibrio Sp. Pada Ikan Kardinal Bangggai (Pterapogon Kauderni)

    Full text link
    The aim of this study to observe the effect rearing time of Banggai cardinalfish&nbsp; were infected with Vibrio sp. from mortality rate and verify tissue’s abnormalities through histopathology test. Rearing time were 5, 10 and 15 days using a completely randomized design with three replications. Data processing is done by analysis of variance one-way ANOVA. Histology bacterial identification and data were analyzed descriptively. Research conducted at the Installation Building Fish Quarantine of Palu, Microbiology Laboratory of Palu and Histology Laboratory Fish Quarantine of Makassar in April to August 2015. Based on identification, found 8 bacteria of Vibrio sp were V. pelagius, V. damsela, V. carchariae, V. anguillarum, V. ordalii, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus and V. aerogenes. The results showed rearing time for 15 days (treatment C) triggered the highest fatality rate of 62% was followed by rearing time 10 days (treatment B) of 52% and 5 days (treatment A) of 44%. Histopathological test showed tissue damage in the gills, kidney, skin and eyes. The results shows the longer rearing time the higher of mortality rate were infected with Vibrio sp

    STATUS OF AND THREATS TO MICROHABITATS OF THE ENDANGERED ENDEMIC BANGGAI CARDINALFISH (Pterapogon kauderni)

    No full text
    The endemic Banggai cardinalfish (Pterapogon kauderni) is one of conservation priority marine species in Indonesia. With a conservation status of Endangered, Indonesia has made a commitment to P. kauderni conservation, and policy development is underway. P. kauderni lives in symbiosis with sea urchins (Diadema sp.), sea anemones and branching corals. This research evaluated the current status of and threats to P. kauderni microhabitat, including the climate change context. Primary data were collected using Coral-Watch and swim survey methods during the 2016 global bleaching event, and compared with survey data collected since 2004. The study revealed a sharp decline in Diadema sp. population abundance as well as reduced sea anemone abundance, in both cases largely due to sharp increases in exploitation by local communities, mostly for human consumption. Corals and other microhabitats had also suffered from increased coral reef degradation related to local-scale destructive human activities, as well as climate-related coral bleaching. Wherever microhabitat availability was greatly reduced, P. kauderni abundance had declined sharply, irrespective of fishing pressure on this species. Microhabitat protection and recovery is considered a sine qua non prerequisite for successful in-situ P. kauderni conservation. The results contribute to the scientific basis for sustainable management of endemic P. kauderni stocks and habitat. Keywords Endangered species; symbiosis; microhabitat; overfishing; coral bleachin
    corecore