1,720,963 research outputs found
..(LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI BLM DITANDA TANGANI, GUNAKAN TTD ASLI BUKAN SCAN, UPLOAD ULANG)..Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Jual Beli Di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi
Nashihin, Muhammad Rifa’I Busyron. Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik
Jual Beli di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Skripsi
2024. Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam,
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing: Choirul Daroji,
Lc., M.H.
Kata Kunci: Kejujuran, Jual Beli, Ekonomi Islam
Jual beli merupakan transaksi pertukaran barang atau jasa antara dua pihak
yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariat Islam. Faktanya penulis menemukan suatu kejadian yang
unik dalam praktik jual beli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Hal
ini menjadi problematika adalah di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron
Ngawi, pembeli mengambil sendiri barang yang akan dibeli dengan melihat label
harga yang sudah tertera dibarang dagangan sehingga pembeli mengetahui harga
barang tersebut. Penjual juga menaruh kotak untuk tempat menaruh uang
pembayaran tanpa adanya pengawasan dari penjual itu sendiri. Sehingga praktik
jual beli tersebut apakah sudah sesuai dengan teori prinsip jual beli ekonomi Islam,
hal ini harus diperhatikan agar bisnis yang dijalankan tidak menyimpang dari
syariat ajaran Islam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan
metode kualitatif dengan jenis pendekatan penelitian deskriptif. Dalam
pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan
wawancara yang dilakukan kepada pihak takmir, pengelola, dan pembeli di warung
kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deduktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli di warung kejujuran
Masjid Al-Huda Paron Ngawi termasuk dalam jual beli mu’athah. karena jual beli
di warung kejujuran ijab dan qabul menggunakan perbuatan, dan Untuk pengganti
ijab dan qabul secara lisan penjual memberi label harga pada setiap barang
dagangan yang dijual sehingga pembeli bisa membayar sesuai dengan harga barang.
Pada dasarnya warung kejujuran ini didirikan juga untuk mendidik karakter jujur
pada setiap pembeli agar lebih menanamkan nilai kejujuran, artinya warung
kejujuran ini didirikan bukan sekedar untuk mencari keuntungan tetapi untuk
kemaslahatan bersama. Dalam praktiknya warung kejujuran sudah menerapkan
teori prinsip-prinsip jual beli dalam ekonomi Islam. Dan dalam penerapannya
warung kejujuran memiliki dampak posisitif terhadap lingkungan sekitar
Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Jual Beli Di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi
Rifa’i Busyron Nashihin, Muhammad. Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Jual Beli di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Skripsi 2024. Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing: Choirul Daroji, Lc., M.H.
Kata Kunci: Kejujuran, Jual Beli, Ekonomi Islam
Jual beli merupakan transaksi pertukaran barang atau jasa antara dua pihak yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Faktanya penulis menemukan suatu kejadian yang unik dalam praktik jual beli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Hal ini menjadi problematika adalah di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi, pembeli mengambil sendiri barang yang akan dibeli dengan melihat label harga yang sudah tertera dibarang dagangan sehingga pembeli mengetahui harga barang tersebut. Penjual juga menaruh kotak untuk tempat menaruh uang pembayaran tanpa adanya pengawasan dari penjual itu sendiri. Sehingga praktik jual beli tersebut apakah sudah sesuai dengan teori prinsip jual beli ekonomi Islam, hal ini harus diperhatikan agar bisnis yang dijalankan tidak menyimpang dari syariat ajaran Islam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan penelitian deskriptif. Dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan kepada pihak takmir, pengelola, dan pembeli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi termasuk dalam jual beli mu’athah. karena jual beli di warung kejujuran ijab dan qabul menggunakan perbuatan, dan Untuk pengganti ijab dan qabul secara lisan penjual memberi label harga pada setiap barang dagangan yang dijual sehingga pembeli bisa membayar sesuai dengan harga barang. Pada dasarnya warung kejujuran ini didirikan juga untuk mendidik karakter jujur pada setiap pembeli agar lebih menanamkan nilai kejujuran, artinya warung kejujuran ini didirikan bukan sekedar untuk mencari keuntungan tetapi untuk kemaslahatan bersama. Dalam praktiknya warung kejujuran sudah menerapkan teori prinsip-prinsip jual beli dalam ekonomi Islam. Dan dalam penerapannya warung kejujuran memiliki dampak posisitif terhadap lingkungan sekitar
Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Jual Beli Di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi
Rifa’i Busyron Nashihin, Muhammad. Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Jual Beli di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Skripsi 2024. Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing: Choirul Daroji, Lc., M.H.
Kata Kunci: Kejujuran, Jual Beli, Ekonomi Islam
Jual beli merupakan transaksi pertukaran barang atau jasa antara dua pihak yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Faktanya penulis menemukan suatu kejadian yang unik dalam praktik jual beli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Hal ini menjadi problematika adalah di Warung Kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi, pembeli mengambil sendiri barang yang akan dibeli dengan melihat label harga yang sudah tertera dibarang dagangan sehingga pembeli mengetahui harga barang tersebut. Penjual juga menaruh kotak untuk tempat menaruh uang pembayaran tanpa adanya pengawasan dari penjual itu sendiri. Sehingga praktik jual beli tersebut apakah sudah sesuai dengan teori prinsip jual beli ekonomi Islam, hal ini harus diperhatikan agar bisnis yang dijalankan tidak menyimpang dari syariat ajaran Islam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan penelitian deskriptif. Dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan kepada pihak takmir, pengelola, dan pembeli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli di warung kejujuran Masjid Al-Huda Paron Ngawi termasuk dalam jual beli mu’athah. karena jual beli di warung kejujuran ijab dan qabul menggunakan perbuatan, dan Untuk pengganti ijab dan qabul secara lisan penjual memberi label harga pada setiap barang dagangan yang dijual sehingga pembeli bisa membayar sesuai dengan harga barang. Pada dasarnya warung kejujuran ini didirikan juga untuk mendidik karakter jujur pada setiap pembeli agar lebih menanamkan nilai kejujuran, artinya warung kejujuran ini didirikan bukan sekedar untuk mencari keuntungan tetapi untuk kemaslahatan bersama. Dalam praktiknya warung kejujuran sudah menerapkan teori prinsip-prinsip jual beli dalam ekonomi Islam. Dan dalam penerapannya warung kejujuran memiliki dampak posisitif terhadap lingkungan sekitar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Poverty incidence in Indonesia, 1987-2002 : a utility-consistent appoach based on a new survey of regional prices
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
