2 research outputs found
Pembuatan Busana Khusus “Angel of Toraja” dengan Menggunakan Teknik Smock Modifikasi
ABSTRAK Enjelia, Nina. 2016. Pembuatan Busana Khusus “Angel of Toraja” dengan Menggunakan Teknik Smock Modifikasi. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri Program Studi Diploma III Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd., (II) Rudi Nurdiansyah, S.T., M.T., Kata Kunci: Smock Modifikasi, Angel of Toraja, Budaya Toraja Busana Khusus ini diberi judul “Angel of Toraja” karena menggambarkan manusia yang harus bekerja cepat, tepat waktu, disiplin, dan terampil serta memadukan unsur kebudayaan Toraja dengan mengambil bentuk atap rumah Tongkonan. Menggambarkan manusia yang memiliki sayap dengan busana yang memiliki detail unik. Angel of Toraja merupakan busana two piece yang terdiri dari mini dress dan aksesoris kerangka besi. Proses pembuatannya menggunakan creative fabric berupa smock modifikasiyang membentuk motif khas Toraja yaitu Paqambo Uai. Pembuatan smock modifikasidibuat dengan cara menjepit garis-garis yang sudah dijahit terlebih dahulu dengan menggunakan benang senar menjadi bentuk yang diinginkan. Hasil jadi yang dihasilkan berupa mini dress berwarna gold full creative fabric dan mempunyai aksesoris kerangka besi yang berbentuk atap rumah Toraja yang terbalik. Kerangka besi terbuat dari besi ringan yang dibentuk dengan cara di las. Smock modifikasi dibuat terlebih dahulu dengan menjahit lurus kain berjarak 9 cm sepanjang panjang dress yang diinginkan sebelum memotong bahan, lalu dilakukan proses pressing dengan posisi hasil jahitan berada diposisi dua garis hasil jahitan. Perawatan busana sebaiknya jangan dilipat karena akan merusak smock modifikasinya. Cukup digantung pada hanger dan dimasukkan kedalam cover jas agar tidak ada debu yang menempel pada lipatan busana. Mencuci busana dengan teknik dry clean (pembersihan kering atau tanpa air)
Pembingkaian Struktur Naratif Dalam Video Dokumenter "Suara Alam Dan Tradisi Tarawangsa
Video dokumenter berjudul “Suara Alam dan Tradisi Tarawangsa” merupakan karya audio visual yang mengangkat makna dan fungsi alat musik tradisional Tarawangsa dalam kehidupan masyarakat Suku Sunda. Dokumenter ini menggali
sejarah dan asal-usul Tarawangsa, serta menyoroti nilai-nilai spiritual dan budaya yang melekat pada alat musik tersebut. Tarawangsa bukan sekadar alat musik, tetapi
juga berperan sebagai media perantara antara manusia dan para leluhur dalam berbagai ritual adat. Namun,keberadaannya kini berada di ambang kepunahan karena rendahnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya tersebut. Dokumenter ini dibuat dengan pendekatan naratif menggunakan
struktur tiga babak untuk menyusun alur cerita yang
kronologis, emosional, dan komunikatif. Dalam proses penyusunan naskah dokumenter, penulis berfokus pada
penerapan model pembingkaian empat tahap yang dikemukakan oleh Robert Entman. Model ini terdiri atas: (1)define problems, yaitu merumuskan masalah utama berupa ancaman terhadap kelestarian tradisi Tarawangsa; (2)diagnose
causes, yakni mengidentifikasi faktor-faktor penyebab, seperti minimnya regenerasi pelaku budaya serta pengaruh modernisasi; (3)make moral judgments, yaitu memberikan penilaian moral atas pentingnya pelestarian sebagai bentuk
tanggung jawab terhadap warisan budaya; dan (4)suggest remedies, yakni menawarkan solusi melalui penampilan praktik pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang. Penulis naskah melakukan riset
melalui studi pustaka, observasi lapangan, serta wawancara dengan pelaku budaya. Penulis tidak hanya berperan dalam penyusunan naskah berdasarkan kerangka tersebut, tetapi juga terlibat secara aktif dalam seluruh tahapan produksi hingga
pascaproduksi. Hasil dokumenter ini menunjukkan bahwa penerapan model pembingkaian Entman secara sistematis dan naratif efektif dalam membangun kesadaran audiens akan pentingnya pelestarian Tarawangsa sebagai bagian dari
identitas budaya Sunda.
Kata kunci: Video Dokumenter, Tarawangsa, Pembingkaian, Pendekatan Naratif, Struktur Tiga Babak. / The documentary video entitled “Sounds of Nature and the Tarawangsa Tradition” is an audio-visual work that highlights the meaning and function of the traditional musical instrument Tarawangsa in the lives of the Sundanese people. This
documentary examines the history and origins of Tarawangsa, and highlights the spiritual and cultural values inherent in the musical instrument. Tarawangsa is not just a musical instrument, but also plays a role as a mediator between humans and ancestors in various traditional rituals. However, its existence is now on the verge of extinction due to the low level of public knowledge and concern for this cultural heritage. This documentary was made with a narrative approach using a three-act structure to build a chronological, emotional, and communicative storyline. In the process of compiling the documentary script, the author focused on the application of the four-stage framing model proposed by Robert Entman. This model consists of: (1) define problems, namely formulating the main problem in the form of threats to the sustainability of the Tarawangsa tradition; (2) diagnose causes, namely identifying causal factors, such as the lack of regeneration of cultural actors and the influence of modernization; (3) make moral judgments, namely providing moral judgments about the importance of preservation as a form of responsibility for
cultural heritage; and (4) suggesting solutions, namely offering solutions through the appearance of preservation practices carried out by the Nagrak Village community, Cangkuang District. The scriptwriter conducted research through literature studies, field observations, and interviews with cultural actors. The writer not only played a role in compiling the script based on the framework of thought, but was also actively involved in all stages of production to post-production. The design results show that the application of the Entman framing model systematically and narratively is effective in building audience awareness about the importance of preserving Tarawangsa as part of Sundanese cultural identity.
Keywords: Documentary Video, Tarawangsa, Framing, Narrative Approach, Three-Act Structure
