1,721,014 research outputs found

    ANALISIS KESESUAIAN PENGEMBANGAN PERIKANAN PANCING (HOOK AND LINE) DENGAN KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DAN SOSIAL DI PERAIRAN TELUK TIWORO, SULAWESI TENGGARA

    Full text link
    Setelah perairan Teluk Tiworo ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui SK Bupati Kabupaten Muna No.157 tahun 2004, pemanfaatan sumberdaya ikan oleh nelayan lokal sedikit terganggu. Penelitian ini akan mencoba menganalisis kesesuaian perikanan pancing dan strategi pengembangannya sebagai alternatif pemanfaatan di lokasi. Metode yang digunakan dalam penelitian terdiri dari analisis karakteristik lingkungan, analisis kesesuaian, dan analisis hireraki. Hasil penelitian menunjukkan suhu permukaan perairan Teluk Tiworo berkisar 26,5 oC – 29oC, salinitas air berkisar 29‰ - 33‰, logam Hg berkisar 0,00045 – 0,0008 ppm, dan arus cukup tenang. Nilai pH-nya berada pada kisaran pH optimal (7,0 - 8,5) untuk pertumbahan ikan, sehingga sangat cocok dijadikan daerah penangkapan ikan. NKgab pancing dengan fungsi kawasan, potensi kawasan, kebutuhan masyarakat, dan perangkat hukum berturut-turut 3,64, 3,25, 3,24, dan 3,33 pada skala 1-4, sehingga mempunyai kesesuaian tinggi untuk dikembangkan di perairan Teluk Tiworo. Pengembangan perikanan pancing berbasis zonasi (rasio kepentingan = 0,278 pada inconsistency 0,04) merupakan strategi prioritas untuk pengembangan pancing secara berkelanjutan di perairan Teluk Tiwor

    MODEL PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN YANG BERSINERGI DENGAN FUNGSI KONSERVASI KAWASAN (STATUS KASUS PENGELOLAAN SERO BERKANTONG DI PERAIRAN TELUK TIWORO, PROVINSI SULAWESI TENGGARA)

    Full text link
    Pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan Teluk Tiworo cenderung destruktif dan hanya mengejar manfaat ekonomis, meskipun perairan tersebut telah dinyatakan sebagai kawasan konservasi laut berdasarkan SK Bupati Kabupaten Muna No. 157 Tahun 2004.  Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian sero berkantong dengan karakteristik perairan, pola dinamis optimasi penggunaannya, dan kelayakan pengusahaan sero berkantong di Teluk Tiworo.   Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis kesesuaian (Jusuf, 1999 dan Mustaruddin, 2005), analisis sistem dinamis (Muhammadi, et. al, 2001), dan analisis usaha (Gaspersz, 1992).  Hasil penelitian menunjukkan sero berkantong sesuai dengan sifat alat tangkap ramah lingkungan (NK=3,4), potensi sumberdaya ikan kawasan (NK=3,0), kebutuhan masyarakat (NK=3,3), perangkat hukum terkait (NK=3,2).  Jumlah optimal sero berkantong yang dapat dioperasikan secara dinamis di perairan Teluk Tiworo sekitar 15 unit.  Pengusahaan sero berkantong dapat mendatangkan keuntungan bersih (π) yang positif, yaitu sekitar Rp 70.716.800 per bulan.  Bila nelayan anggota pengelola sero berkantong berjumlah 15 orang, maka setiap anggota akan mendapat bagi hasil sekitar Rp 4.714.453 per bula

    CSR disclosure and its impacts on financial performance and institutional ownership : evidence from the Malaysian public listed companies / Mustaruddin

    Full text link
    The pressure on companies to carry out Corporate Social Responsibility (CSR) efforts has gained impetus in current times, as a way of sustaining a competitive advantage in business. Previous studies found that the awareness and involvement of Public Listed Companies (PLCs) in Malaysia in practicing CSR activities were high; however, the level of disclosure of such activities is relatively low. The aim of this thesis is to explore CSR disclosure (CSRD) and its relation to Corporate Financial Performance (CFP) and Institutional Ownership (IO) of the Malaysian PLCs. In this thesis, a longitudinal study of 200 highest market capitalizations sampled from 474 companies listed on the main-board of Bursa Malaysia during the period 1999 to 2005 is conducted. This study employs robust regression methods, namely, the Generalized Least Squares (GLS) with Fixed Effect Model (FEM). The findings reveal that CSRD in the annual reports of PLCs in Malaysia is at its emerging stages, where the involvement of the Malaysian PLCs in CSR practices is improving. The number of companies disclosing their CSR practices has increased during the seven year period with an average growth of CSRD information at approximately 10.8 percent yearly. The employee relations dimension has the highest disclosure, followed by the community involvement dimension, and finally the product and environment dimensions. It was also found that the three industries with the highest level of disclosure are the plantation, construction and consumer products industries. To observe the statistical power, longitudinal data analysis with a large-sample testing was carried out. Results which confirmed earlier estimations indicated that there are positive and significant relationships between CSRD and CFP as well as IO. Results of the hypotheses testing based on the CSR dimensions also found that all four dimensions are positive and significantly related to CFP. Two of the CSR dimensions namely employee relations and product were found to be positively related to IO, while the community involvement and environment dimensions were negatively related to IO. Lastly, both CSRD and IO support the hypothesis as being positive and significantly related to CFP for PLCs in Malaysia. These results suggest that institutional investors hold their shares for longer time periods when they believed that companies are concerned with socially responsible practices. This proves that CSR practices can be used as a strategic approach to enhance the financial performance and reputation of PLCs in Malaysia. These findings suggest that the Malaysian PLCs should disclose their CSR activities fully, because CSRD has a significant impact in improving CFP and IO in the Malaysian PLCs. The Security Commission should therefore provide a criterion to measure the social performance of companies, such as creating a social performance ranking for PLCs. This ranking could not only set as a benchmark for CSR activities by PLCs in Malaysia, but also be utilized as a general standard measurement to evaluate companies engaging in CSR activities. There are some limitations in the study where the focuses are only on companies‘ annual reports. Future research could consider other media such as stand-alone reporting, in-house magazines, newspapers, and web-sites. Utilizing alternative sampling techniques from a wider population could also improve results as it would assist in making generalised conclusions. Collecting primary data through interviews is also highly recommended, as it would be useful to identify precise motives and perceptions of managers towards the disclosure of CSR activities

    DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN PERAN STAKEHOLDERS UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN BERBASIS PENANGKAPAN DI PENGAMBENGAN, JEMBRANA-BALI

    No full text
    Pengambengan dipilih sebagai sasaran pengembangan kawasan minapolitan sekitar 75,3% kegiatan perikanan Kabupaten Jembrana terjadi di Pengambengan. Selain itu, sekitar 6.935 dari 10.149 RTN beraktivitas di sana. Metode yang digunakan dalam penelitian inimencakup analisis fisiko-kimia, analisis bivariat correlation, dan analisis QSPM. Dari aspek lingkungan, pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan masih terkendala oleh kondisi perairan yang sedikit tercemar oleh deterjen (1,02 ppm) dan logam berat Pb (0,0011ppm). PEMDA dan nelayan mempunyai tingkat peran “kuat’ bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, yang ditunjukkan oleh NK masing-masing 0,713 dan 0,645. Industri perikanan mempunyai tingkat peran “sedang” (NK 0,379), sedangkan usahapendukung/jasa perikanan seta masyarakat mempunyai tingkat peran “sangat kuat” bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, dengan NK masing-masing 0,785 dan 0,814.  Praktek produksi bersih dalam penangkapan dan penanganan industri perikananmerupakan strategi terpilih (TNKO= 5,65) untuk mendukung  pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana.Kata kunci: lingkungan, minapolitan, perikanan tangkap, tingkat pera

    Hubungan Pengetahuan dan Status Ekonomi Thu Hamil dengan Pemnfaatan Pelayanan Antenana; Care (ANC) di Desa Beringin Raya Wilayah Kerja Puskesmas Pematang Raya Kabupaten Simalungun

    Full text link
    Kematian Ibu di negara maju berkisar antara 3-5 per 100 000 kelahiran hidup. sedangkan di negara berkembang berkisar antara 50-800 per 100 000 kelahiran hidup Negara dengan jumlah AKI terbesar menurut data WHO tahun 2011 adalah India, Nigeria, Pakistan, Republik Kongo dan Ethiopia, Tanzania, Afganistan, Banglades Cina, Kenya, Indonesia dan Uganda Nega-negara penyumbang 67% dan seluruh kematian ibu di dunia Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui Untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Status Ekonomi thu Hamil Dengan Pemanfaatan Pelayanan Antenanal Care (ANC) di Desa Baringin Raya Wilayah Kerja Puskesmas Pamatang Raya Kabupaten Simalungun Tahun 2016 Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita 1-5 tahun Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita 1-5 tahun yang berkujung ke Puskesmas Ujung Padang Hasil penelitian berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square Ada hubungan Pengetahuan Dengan Pemanfaatan Pelayanan Antenanal Care (ANC) di Desa Baringin Raya Wilayah Kerja Puskesmas Pamatang Raya Kabupaten Simalungun Tahun 2016 Didapatkan hasil dan Uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,004 (0.05) Ada hubungan status ekonomi Dengan Pemanfaatan Pelayanan Antenanal Care (ANC) di Desa Baringin Raya Wilayah Kerja Puskesmas Pamatang Raya Kabupaten Simalungun Tahun 2016 Didapatkan hasil dan Uji statistik Chi-Square diperoleh p value 0,000 ? a (0,05) Diharapkan hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan dan saran untuk masukan dan saran untuk petugas kesehatan dan sebagai wacana baru dalam memberkan meningkatkan cakupan kunjungan ibu hamil agar target prorgam pelayanan ANC dapat terpenuh

    POLA PENGEMBANGAN INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN INDRAMAYU MENGGUNAKAN PENDEKATAN ANALISIS PERSAMAAN STRUKTURAL

    Full text link
    Indramayu regency render production rate 54,38% from the total rate production of sea fisheries production in north coastal West Java reaching Rp 216,9 billion per year.  Capture fisheries effort can be developed further with maximizing the positive interaction and anticipate negative interaction of the Capture fisheries effort components.  The research result show that suistainable of fisheries resources and  human quality are the main internal focus of  the capture fisheries industry development (kp = 2,41 by P = 0,042).   While some components that become main interest for external aspect, governmental policy, and industry development performance is influence of culture (kp = 4,39 by P = 0,024), licensing (kp = 1,63 by P = 0,000), and ability in return of invesment (kp = 4,39 by P = 0,024). The height focus in cultural aspect because of Indramayu fishermen easy to follow behavior changing from outside.  From fisherman point of view, the job assurance opportunity must become main focus to development, but  the reasing of fisherman earn consider to be disregarded because the profit sharing from every trip remain high enough during this time. Key word: capture fisheries, development, industrial, interactio

    Penentuan Wilayah Basis untuk Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap Ramah Lingkungan di Perairan Pulau Salahnama dan Pulau Pandang

    Full text link
    Approximately 34.1% of marine fish production in Tanjung Tiram, Batubara Regency comes from the waters of Salahnama Island and Pandang Island. The development of fishing effort in environmentally-friendly ways in the appropriate locations can guarantee the continuity of fish production and to provide a space for the development of the other management activities. The study aims to analyze the type of environmentally-friendly fishing effort and determine the location quotient for their developments in the waters of Salahnama Island and Pandang Island. The methods used were descriptive method, scoring analysis, and analysis of location quotient (LQ). The results showed that fish traps, hook and line, gillnet, and falling net were selected as environmentally-friendly fishing efforts. The location quotients for their developments are a) Fish traps in the east waters and north of Salahnama Island; b) Hook and line in the east waters of Salahnama Island and the north waters of Pandang Island; c) Gillnet in the east waters and north of Salahnama Island and the east waters of Pandang Island; and d) Falling net in the west waters of Salahnama Island and Pandang Island. The location quotient for development to their supporters are a) Port in the south area of Salahnama Island and the west area of Pandang Island and b) Fuel installation in the west area of Salahnama Island and Pandang Island.  Keywords: batubara, fishing effort, location quotient, environmentally-friendl

    MODEL PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP PROSPEKTIF DI WILAYAH PERAIRAN ACEH

    Get PDF
    Sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi penggerak utama pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong pengembangan usaha perikanan tangkap prospektif yang menopang keberlanjutan usaha dan sumberdaya ikan di masa datang.  Penelitian ini bertujuan menentukan jenis usaha perikanan tangkap yang prospektif dan menyusun model pengembangannya di perairan Aceh. Penelitin menggunakan metode analisis prospek investasi dan pemodelan numerik kalkulatif. Usaha jaring insang hanyut (JIH), pancing tonda, jaring insang tetap (JIT), bubu, bagan perahu, dan trammel net propspektif untuk dikembangkan di perairan Aceh, karena mempunyai nilai NPV, IRR, ROI, dan B/C ratio di atas standar, sedangkan perangkap lainnya tidak prospektif. Bila potensi sumberdaya ikan yang belum termanfaatkan di peraran Aceh dikelola 100 % (model III), maka usaha jaring insang hanyut (JIH), pancing tonda, jaring insang tetap (JIT), bubu, bagan perahu, dan trammel net masing-masing dapat ditambah 27 unit, 7 unit, 34 unit, 933 unit, 18 unit, dan 73 unit. Sedangkan jika dikelola 30 % (model I) dan 60 % (model II), maka keenam usaha perikanan tangkap tersebut masing-masing dapat ditambah 8 unit dan 16 unit, 2 unit dan 4 unit, 10 unit dan 21 unit, 280 unit dan 560 unit, 5 unit dan 11 unit , serta 22 unit dan 44 unit. Kata kunci:      model numerik kalkulatif, perairan Aceh, prospek investasi, dan usaha perikanan tangkapSektor kelautan dan perikanan dapat menjadi penggerak utama pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong pengembangan usaha perikanan tangkap prospektif yang menopang keberlanjutan usaha dan sumberdaya ikan di masa datang.  Penelitian ini bertujuan menentukan jenis usaha perikanan tangkap yang prospektif dan menyusun model pengembangannya di perairan Aceh. Penelitin menggunakan metode analisis prospek investasi dan pemodelan numerik kalkulatif. Usaha jaring insang hanyut (JIH), pancing tonda, jaring insang tetap (JIT), bubu, bagan perahu, dan trammel net propspektif untuk dikembangkan di perairan Aceh, karena mempunyai nilai NPV, IRR, ROI, dan B/C ratio di atas standar, sedangkan perangkap lainnya tidak prospektif. Bila potensi sumberdaya ikan yang belum termanfaatkan di peraran Aceh dikelola 100 % (model III), maka usaha jaring insang hanyut (JIH), pancing tonda, jaring insang tetap (JIT), bubu, bagan perahu, dan trammel net masing-masing dapat ditambah 27 unit, 7 unit, 34 unit, 933 unit, 18 unit, dan 73 unit. Sedangkan jika dikelola 30 % (model I) dan 60 % (model II), maka keenam usaha perikanan tangkap tersebut masing-masing dapat ditambah 8 unit dan 16 unit, 2 unit dan 4 unit, 10 unit dan 21 unit, 280 unit dan 560 unit, 5 unit dan 11 unit , serta 22 unit dan 44 unit. Kata kunci:      model numerik kalkulatif, perairan Aceh, prospek investasi, dan usaha perikanan tangka

    ESG disclosure and company profitability: Does company size play a role?

    Full text link
    Purpose — This study aims to examine the relationship between Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosures and profitability, with firm size as a moderating variable. Method — This study employs a quantitative approach using Moderated Regression Analysis (MRA) techniques. The sample consists of 52 companies listed on the Indonesia Stock Exchange from 2017 to 2021. Result — We found that ESG disclosure has a significant negative effect on profitability, using ROA as a proxy. Additionally, company size moderates the relationship between ESG disclosure and ROA profitability. Practical implications — The study implies that disclosing corporate ESG activities incurs relatively high costs, which may reduce ROA in the short term. However, large companies are likely to have access to capital and resources that can help overcome ESG-related costs and ultimately increase ROA in the long term
    corecore