1,721,050 research outputs found

    Kritik Epistimologi dan Model Pembacaan Kontemporer

    Full text link
    Jika ide pembaharuan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla disebut sebagai awal modernisasi dalam pemikiran Islam, maka proses modernisasi itu sudah berjalan tidak kurang dari dua abad lamanya. Dan, jika proses modernisasi itu dikatakan berhasil, maka mestinya sudah cukup waktu dan bukti bahwa ide pembaharuan itu terintegrasi dalam kesadaran umat Islam. Namun, apa yang terjadi pada umat Islam, termasuk di Indonesia, selama ini tradisi selalu dilihat dengan kacamata tradisi sebagaimana yang terjadi pada kaum tradisional (salafiyah) di satu sisi atau tradisi selalu dilihat dengan kacamata modernitas sebagaimana yang dilakukan kaum reformis pada sisi yang lain. Makanya kaum tradisional selalu berada pada posisinya yang tradisional itu. Mulai tradisi intelektualisme yang dikembangkan, model dan corak pendidikan, sampai keberagamaan mereka tidak pernah terpegaruh oleh hiruk-pikuknya pembaharuan. Ide-ide pembaharuan lebih dipandang sebagai tantangan yang perlu diwaspadai dari pada untuk diterima. Ini terjadi pada sebagian besar muslim Indonesia, bahkan juga, yang terjadi pada umat ini. Kondisi seperti ini tentu menggelisahkan kaum reformis. Mereka melihat ada ‘penyakit’ yang menjangkiti umat Islam ini. Maka kemudian ada yang mengobatinya dengan rasionalisasi, purifikasi, [neo]modernisasi, bahkan sekularisasi. Sampai saat ini, dua abad sudah masa modernisasi di dunia ArabIslam, dan kurang lebih satu abad modernisasi (pemikiran) Islam di vi Kritik Epistemologi & Model Pembacaan Kontemporer Indonesia, nalar tradisi masih tetaplah tradisional, sementara upaya modernisasi, termasuk dengan para reformisnya tak henti-hentinya menuai kritik, terutama dari kalangan muda-menengah. Maka, di sinilah barangkali ada benarnya juga sebagian pengamat yang mengatakan, modernisasi Islam itu sebenarnya tidak berhasil. Atau, kalau tetap dikatakan berhasil, kenyataannya memang masih bersifat elitis. Meminjam kalimat Hasan Hanafi, umat Islam umumnya lebih merasa at home dengan tradisi ketimbang modernitas, karena tradisi telah menyatu dalam kesadaran sejak empat belas abad lalu, sementara modernitas baru datang tidak lebih dari dua ratus tahun lalu. Artinya, jika dapat diilustrasikan dalam sebuah gambar maka seperti segitiga sama sisi yang dipotong garis di tengah; bagian atas, yakni bagian kecil adalah gambaran Islam modernis yang sudah relatif maju, sedang bagian bawah atau bagian terbesar, menunjukkan kondisi tradisional. Kalangan muda-menengah sebagaimana disebut itu, dapat saja lahir dari kelompok reformis, tetapi umumnya dari kelompok tradisionalis yang merasakan adanya anomali bahkan krisis dalam pola pikirnya, bahkan barangkali pola keberagamaannya, namun ada juga yang sejak semula melihat apapun upaya modernisasi itu harus ditolak karena laisa minna. Selanjutnya perkembangan pemikiran Islam mengalami episode yang sama sekali baru yakni saat terjadi peperangan 6 hari, yang berakhir dengan kekalahan Arab oleh Israel pada Juni 1967. Tampaknya peristiwa itu merupakan tonggak bagi lahirnya suatu kesadaran baru: “limadza taakhkharal muslimun wa taqaddama ghairuhum”? Autokritik itu berlanjut, sebenarnya ada apa dengan tradisi kita dan ada apa dengan modernitas, bagaimana semestinya memperlakukan keduanya? Sejak saat itu, isu “tradisi dan modernitas” (al-turâts wa al-hadâtsah) menjadi isu tersanter dalam pemikiran Arab kontemporer. Apakah tradisi harus dilihat dengan kacamata modernitas ataukah modernitas harus dilihat dengan kacamata tradisi atau bisakah keduanya dipadukan? vii Kata Pengantar Menjawab persoalan mendasar itu, berkembang varian-varian pemikiran keislaman baru, yang kemudian dikenal dengan pemikiran Islam kontemporer. Sejumlah pemikir lahir dan menawarkan gagasan mereka, seperti Abied al-Jabiri, Arkoun, Syahrur, Hasan Hanafi, dll. Umumnya mereka melihat bahwa bangunan episteme, ‘aqal, atau sistem pengetahuan yang menjadi basis tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan dan juga tradisi (turâts) mesti dibaca dengan cara yang baru. Demikian juga dengan modernitas (hadâtsah). Keduanya harus bisa dibaca secara kreatif, dengan ‘model’ pembacaan kontemporer (qira’ah mu’ashirah). Turâts tidak hanya dibaca secara harfiah tetapi sampai pada basis pembentuknya untuk menemukan makna potensial sehingga bisa ditransformasikan di zaman kita. Tidak sebagaimana perpektif modernisme, apa saja yang datang dari Barat diterima tanpa kritik, bahkan dianggap pasti baik dan benar. Dalam pembacaan kontemporer, hadâtsah juga harus dibaca secara kritis, dengan kritik, dengan mengambil jarak, juga untuk membongkar basis filosofis dan ideologisnya. Di sinilah peran oksidentalisme sebagai perspektif. Setelah keduanya dibaca secara kritis-kreatif, lalu terbangun konstruksi pemaknaan yang baru. Model pembacaan seperti inilah yang disebut dekonstruksi-rekonstruksi, khas pemikiran kontemporer. Semua ini bisa dilakukan, tentu diawali dengan asumsi bahwa baik turâts maupun hadâtsah sama-sama bersifat historis, juga satu hal yang tidak lazim di masa-masa sebelumnya. Mengambil sebagian aspek paling krusial dari wacana pemikiran Islam kontemporer, buku ini hadir untuk melibati diskursusnya. Disebut demikian, karena buku ini tidak hanya menyajikan pembahasan mengenai “Kritik Epistemologi” yang merupakan grand proyek pemikiran Islam Kontemporer, tetapi juga membahas “Model Pembacaan Kontemporer” sebagai cara baca baru. Secara umum, buku ini terbagi ke dalam tiga pembahasan utama, yaitu bagian pertama “Kritik Epistemologi dan Pembangunan Tradisi Ilmiah. Pada bagian viii Kritik Epistemologi & Model Pembacaan Kontemporer ini, disajikan 5 artikel pilihan, dimulai dengan pembahasan tentang signifikansi dan peran filsafat ilmu dalam aktivitas ilmiah, dilanjutkan dengan penelusuran terhadap basis epistemologi keilmuan Islam, terutama studi al-Qur’an, filsafat ketuhanan, baik yang bercorak manthiqiy maupun yang bercorak intuitif. Bagian kedua membahas “Wacana Pemikiran Islam Kontemporer”. Pembahasan ini mengajak pembaca untuk memasuki diskursus pemikiran Islam kontemporer, baik sebagai mode pemikiran (mode of thought) maupun sebagai model pembacaan (qira’ah mu’ashirah). Bagian kedua ini juga dilengkapi dengan kajian dan sekaligus pembacaan terhadap wacana gender equality, wacana masyarakat madani, dan model kritik epistemologi ilmu fiqh oleh Khaled Abou al-Fadl, sebagai varian wacana keislaman yang berkembang di era kontemporer ini. Sementara bagian ketiga, mengupas persoalan “Etika dan Problem Pamaknaan”. Diawali dengan pembahasan mengenai perspektif etika dalam studi filsafat, dilanjutkan refleksi terhadap makna peristiwa hijrah, peran ke-diri-an manusia dalam menggapai kemulyaan dan keadilan Ilahi; yang bisa dikatakan sebagai aplikasi etika dalam kehidupan ini. Dengan selesainya penulisan buku ini, secara khusus kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak KH. Kafrawi Ridwan, MA, Rektor ISID Gontor, yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada kami untuk mengembangkan Jurnal Tsaqafah, sebagai jurnal ilmiah terakreditasi, di mana beberapa artikel terpilih disajikan dalam buku sederhana ini. Dan, patut disyukuri bahwa dengan pengembangan jurnal ilmiah ini tampaknya telah turut mendorong bagi terbangunnya tradisi ilmiah di lingkungan ISID Gontor, yang ditunjukkan dengan dinamika dan produktivitas ilmiah para dosen dan mahasiswa, baik dalam penyelenggraan seminar, diskusi berkala, penulisan buku, artikel ilmiah dan populer, maupun penerbitan jurnal fakultas dan prodi. Ucapan terima kasih juga kami ix Kata Pengantar sampaikan ke semua Wakil Rektor ISID Gontor, juga kepada Ketua Lemlit atas segala bantuan dan supportnya, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan bagi terselesikannya buku ini. Akhirnya, penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat diterima oleh masyarakat, sebagai upaya memberikan sumbangan pemikiran untuk menjawab persoalan keislaman terutama di era kontemporer ini. Tak lupa, kritik dan saran dari segenap pembaca selalu penulis harapkan, agar dicapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi lagi. Semoga Allah berkenan meridlai langkah ini

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Integrasi Agama dan Sains: Telaah Pemikiran Holmes Rolston

    Full text link
    The discourse of religion and science is constantly echoed and continues to be studied mainly by several academics, including several universities. There is nothing but to strengthen the meeting point between religion and science, moreover there are some assumptions which state that religion and science cannot be united. The concept of integration is one of the efforts in the discourse of the dichotomy of religion and science, one of which is the view of Holmes Rolston, one of the philosophers who brings together theology, namely religion and theory, namely science in methodology. Through Holmes Rolston's methodological concept, the integration between religion and science can grow and develop and even complement each other. In this study, the author uses a qualitative approach with the library study method. From the study that the author conducted on Holmes Rolston's view on the integration of religion and science, as a response to the sychotomy of religion and science, the answer is that between theology, namely religion and theory, namely science, can meet in a methodology

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore