29 research outputs found

    CHANGE IN CITY CORRIDOR INTO COMMERCIAL AND HOME INDUSTRY DISTRICT

    No full text
    Abstract— The presence of street vendors (vendors) in Jalan Barito for over 20 years proves that the informal sector was able to survive and is one of the most effective way of reducing unemployment in the city of Semarang and surrounding areas. From a survey conducted by the Office of Semarang City Market in collaboration with the University of Semarang, found that the increased status of street vendors used to be a special area (typical) street vendors, will be promoting business in this sector. The presence of more and more traders on the street Barito, giving a negative impact on the environment such as visual degradation environment, clutter, and discomfort for Barito road users. Vehicle circulation and car parking arrangements which disrupt the smooth flow of traffic through the road Barito, a function of path-breaking Barito traffic flow can not function properly. The majority of traders in Barito area has the status of permanent buildings. This is preferred for reasons of practicality in the trade. Function River Flood Canal levee East as a drag stream of water disturbed by the presence of a permanent bengunan erode the dike body. The need for clarity of the status of street vendors in Jalan Barito, one of them by changing its name to Regions Barito. This is because the definition of Barito vendors on the street can not apply again. The influence of this change are felt in the regulations concerning the building for the street vendors. Thus there is need for a new regional regulations to regulate this area in particular. Need for physical rearrangement of existing areas. It takes a broader space for the circulation that took place in this region remained smooth and regular. The desire to keep the majority of traders who occupy permanent buildings should be considered to continue to see its position on the East River Flood Canal Keywords : Change, City Corridor, Barito Street Latar Belakang Permasalahan B. Adji Murtomo, Ir, MSA, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang, Jl. Prof Soedarto Tembalang Semarang, Telp. 024-7063999, Fax. 024 7063888, email : [email protected]. Berawal ketika Pemerintah Kota Semarang memindahkan beberapa Pedagang Kaki Lima dari kawasan Stasiun Tawang, jalan Sendowo, dan jalan Kartini pada awal dekade 80-an. Beberapa PKL tersebut dipindahkan ke tempat yang dianggap tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan. Maka dipilihlah Jalan Barito sebagai tempat perpindahan tersebut. Saat itu jalan Barito masih berupa jalan kampung yang belum diaspal dan tidak begitu banyak kendaraan yang lewat di jalan tersebut. Namun seiring dengan perkembangan pembangunan di kota Semarang, maka Pedagang Kaki Lima yang ada semakin bertambah banyak. Apalagi setelah jalan Barito diaspal dan menjadi jalan alternatif (jalan kolektor sekunder) yang menghubungkan jalan Brigjend Katamso dengan jalan Kaligawe. Hingga sampai saat ini perkembangan itu telah menjadikan jalan Barito sebagai ikon bagi kota Semarang sebagai kawasan perdagangan suku cadang otomotif dan barang hasil industri kecil untuk rumah tangga. Menurut data survei dari Dinas pasar Kota Semarang, diperoleh angka transaksi dari tiap pedagang yang cukup besar, pendapatan per hari pedagang di Kawasan ini bisa mencapai lebih dari Rp. 1.000.000,00. dari jumlah tersebut, pedagang mendapatkan keuntungan sebesar 10%. Dengan jumlah pedagang yang tercatat hingga tahun 2007 mencapai 776 pedagang, maka jumlah peredaran uang yang terjadi di kawasan Barito tidak bisa dianggap remeh. Dari perkembangan tersebut, ternyata kawasan Barito ini menyimpan masalah yang cukup pelik, mulai dari perubahan fungsi dan definisi pedagang yang menempatinya, lalu munculnya masalah ketidaknyamanan pengguna jalan Barito, penetapan tarif pajak dan retribusi bagi pedagang, serta masalah keabsahan bangunan yang terletak persis di tepi tanggul sungai Banjir Kanal Timur. Gejala sosial lain yang timbul adalah masalah kesemrawutan yang timbul akibat dari belum dilakukannya penataan kawasan yang terencana dengan matang. Penempatan lahan parkir yang berada tepat di tepi jalan, bahkan sampai memakan badan jalan, menjadi masalah utama bagi kelancaran arus lalu lintas yang ada di jalan tersebut. Pembedaan antara lahan parkir dan tempat perbaikan kendaraan pun tidak begitu jelas. Keduanya diletakkan tepat di tepi jalan utama (jalan Barito). Kendaraan yang parkir bisa juga merupakan kendaraan yang sedang diperbaiki. Hal lain adalah penempatan barang dagangan yang berdimensi cukup besar, seperti gardan mobil, pipa-pipa besi, drum dan ban bekas. Keberadaan barang-barang ini yang hanya ditumpuk didepan kios-kio

    FUNGSI JEMBATAN PENYEBERANGAN DI PASAR BULU DITINJAU DARI PEJALAN KAKI

    No full text
    Berkembangnya kota besar akan mengakibatkan peningkatan aktifitas masyarakat kota, sehingga mobilitas jalan raya yang sangat tinggi akan terjadi. Sejalan dengan hal tersebut, terlihat prilaku pejalan kaki yang bertambah kacau dalam menyeberang jalan yang bisa mengancam keselamatan pejalan kaki dan pengendara kendaraan bermotor yang melintasi jalan. Jembatan penyeberangan banyak disediakan diberbagai lokasi penting yang rawan kecelakaan atau aktivitas padat seperti : pasar, sekolah dll. Tetapi hal itu sama sekali belum di manfaatkan seoptimal mungkin oleh pejalan kaki yang hendak menyeberang. Mereka cenderung melompat atau menerobos pembatas jalan, atau langsung menyeberang. Fenomena lain yang terjadi di lingkungan jalan raya berkaitan dengan jembatan penyeberangan yaitu misalnya: penempatan jembatan penyeberangan yang tidak tepat pada pedestrian, pelanggaran penyeberang jalan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan dan lainnya. Jembatan penyeberangan sebagai sarana penyebrangan memberikan keuntungan, sebab selain memperlancar arus lalu lintas juga berfungsi sebagai hiasan kota. Fungsi lain yaitu bisa berupa tempat di letakkannya papan reklame dan sepanduk sesuai dengan peraturan pemerintah daerah setempat. KAJIAN PEMAHAMAN JEMBATAN PENYEBERANGAN Elemen Kebutuhan Pejalan Kaki Setiap pejalan kaki membutuhkan sarana untuk berjalan pada ruas jalan raya dengan aman, nyaman. Maka diperlukan suatu sarana untuk berjalan kaki disepanjang koridor yaitu berupa pedestrian dan jembatan penyeberangan untuk pencapaian diantara arus lalulintas jalan raya yang padat. Pedestrian Pengertian Pedestrian adalah suatu sarana pergerakan atau perpindahan orang atau sekelompok orang dari suatu titik tolak ke tempat lain sebagai tujuan dengan menggunakan modal jalan kaki. Atau bisa dikatakan sebagai suatu sarana untuk pengguna jalan yaitu pejalan kaki untuk melakukan aktifitas/ pencapaian pada suatu tempat, dan secara fisik terletak pada sisi pinggir jalan raya atau ruang transisi yang menghubungkan bangunan dengan jalan raya. Setiap pejalan kaki akan membutuhkan sarana pedestrian yang aman, nyaman. Untuk itu diperlukan pedestrian yang menunjang kebutuhan pejalan kaki, dengan mempertimbangkan lebar pedestrian dan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pedestrian. Dalam merencanakan desain pedestrian harus dilihat secara menyeluruh dengan urban environment dari sutu kota tanpa meningalkan suatu sifat spesifik dari lokasi yang akan digunakan sebagai ide dalam desain. Beberapa elemen/ material yan sering digunakan antara lain: Batu, Bata, Beton,Paving, dan Aspal. Jalur pedestrian pada pinggir jalan akan terlihat menarik, dengan dilengkapi Street Furniture, seperti : Bangku, Tempat Sampah, Lampu Penerangan Jalan, Telepon Umum, Dll. Jembatan Secara Umum Pengertian Jembatan adalah suatu konstruksi untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain ( jalan air/ lalulintas biasa ). Jembatan merupakan salah satu dari instrument sirkulasi yang berfungsi sebagai penghubung antara tempat terpisah secara Horizontal, yang digunakan jika hubungan sirkulasi langsung/ konvensional sudah tidak memungkinkan lagi. Awal munculnya bentuk-bentuk jembatan di awali sejak jaman primitive dengan system yang sederhana, dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Klasifikasi Jembatan Berdasarkan Sifat - Statis ( tidak bergerak ) - Non Statis ( bergerak/ moveable ) - Angkat, Gantung, Apung, Putar Berdasarkan Pola Jembatan - Linier ( flat/datar ), dimana jembatan ini mempunyai bentang yang datar. - Busur (arces), Jembatan yang mempunyai pola melengkung. Berdasar Struktur jembatan Monoblock, Portal, Apung, Rangka, Kabel, Advance. Berdasarkan material Batu, Berbagai jenis kayu, Beton bertulang, Baja, Komposit. Jembatan Penyeberangan Jembatan penyeberangan adalah suatu sarana/ fasilitas diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk melakuan aktifitas penyeberangan/ pencapaian pada tempat yang berseberangan pada suatu ruas jalan dengan kondisi lalu lintas yang relatif padat dengan mobilitas yang tinggi. Jembatan penyeberangan berfungsi sebagai jalur keselamatan bagi pejalan kaki dan juga sebagai aksesoris jalur suatu jalan/ perkotaan. Jalur pejalan kaki yang nyaman dan aman dapat juga berfungsi sebagai penghidup suatu kota, merupakan tempat untuk berinteraksi baik dengan sesama manusia maupun dengan kota itu sendiri. Terdapat berbagai macam jembatan penyeberangan pada suatu kota, dalam hal ini lingkup pembicaraannya yaitu jembatan penyeberangan yang dibuat sebagai fasilitas/ sarana bagi pejalan kaki dan berada pada ruas jalan/ jalur lalulintas kendaraan bermotor. Terminologi Jembatan Titian besar, suatu jalan dari kayu/ beton/ besi yang direntangkan diatas sungai, tepi pangkalan, jalan,dan sebagainya. Sarana yang digunakan untuk menghubungkan suatu tempat dengan tempat lain karena adanya suatu rintangan. Penyeberangan Suatu proses, cara, atau perbuatan menyeberang untuk mencapai pencapaian dan suatu tempat ketempat lain dengan melintasi suatu aktivitas tertentu. Jenis Fasilitas Penyeberangan pada Jalan Raya Jalur penyeberangan merupakan jalur pejalan kaki yang di gunakan sebagai jalur seberang untuk mengatasi dari konflik dan modal angkutan yang lain Adapun jenis-jenis fasilitas penyeberangan pada jalan raya ; yaitu : a. Jembatan penyeberangan Fasilitas penyeberangan berupa jembatan baja/ beton yang berada diatas jalan raya. b. Zebra cross Fasilitas penyeberangan pada badan Jalan itu sendiri dengan identifikasi khusus/warna khusus yaitu warna Zebra/ hitam putih. c. Penyeberangan bawah tanah Saran / fasilitas penyeberangan bawah tanah yang berada pada bagian bawah jalan dengan konstruksi beton. Fasilitas ini belum terdapat di kota Semarang. Fungsi dan Peranan Jembatan Penyeberangan Jembatan penyeberangan mempunyai fungsi dasar sebagai sarana perpindahan moda transportasi pejalan kaki yang akan menyeberang. Peranan jembatan penyeberangan sangat penting bagi penyeberang disekitar daerah yang rawan kecelakaan lalu-lintas ( fast moving ). Oleh karena itu jika sarana Zebra cross sudah tidak dapat mengatasi, peranan jembatan penyeberangan dapat menggantikannya sebagai alternative keselamatan dalam menghindari kecelakaan lalu-lintas dan kenacetan jalan. Selain fungsi pokok, fungsi dan peranan sekunder dari jembatan penyeberangan yaitu sebagai elemen / bagian dan street furniture dan pelengkap kota. Disamping itu jembatan penyeberangan berperan sebagai sarana komersial, dengan ditempatkannya papan-papan reklame/ iklan yang ditempatkan pada badan jembatan yang menghadap keluar pada kedua sisinya. Oleh Pemerintah keseluruhan itu dibuat dengan tujuan agar tercipta suatu keselarasan dalam kehidupan perkotaan yang nyaman dan aman, serta tercipta keindahan visual jalan raya. Pertimbangan Diadakannya Jembatan Penyeberangan Dibangunnya jembatan penyeberangan harus melalui pertimbangan-pertimbangan yang dibuat oieh pemenintah beserta tim, dalam hal ini adalah konsultan, kontraktor, beserta dinas pekerjaan umum sebagal pelaksana proyek. Beberapa pertimbangan yaitu: - Dilihat dan pengguna pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan dengan frekuensi tingkat kepadatan yang tinggi. Misalnya pada pasar, sekolah, dli. - Kebutuhan pengendara motor akan rencana kecepatan yang akan dicapai tanpa ada halangan dan aman. - Dilihat dan lalu-lintas jalan raya yang sangat padat dan mobilitas tinggi. - Kebutuhan keamanan dan penyeberang jalan untuk anak-anak sekolah, karena belum stabil pengontrolan untuk dirinya. Misalnya untuk SD dan taman kanak-kanak. Syarat-syarat Khusus Jembatan Penyeberangan - Dimensi anak tangga sesuai dengan standart ukuran (untrade dan uptrade). - Lebar jembatan penyeberangan 2—2,5 m. - Perletakan kaki jembatan terhadap pedestrian harus benar dan tidak mengganggu pedestrian maupun pengguna pedestrian. - Batas minimal ketinggian ambang bawah jembatan adalah 5,1 m dihitung dan permukaan jalan raya. - Sudut kemiringan menyesuaikan ketinggian dan kebutuhan mengingat keterbatasan lebar pedestrian dan tidak terlalu curam. Konstruksi dan Material a. Konstruksi baja Berupa struktur baja yang dirangkai menjadi jembatan penyeberangan. Alas pijakan kaki lantai jembatan menggunakan kayu. Konstruksi ini merupakan konstruksi pendahulu/ pertama yang digunakan pada kota-kota besar. Untuk biaya proyek ini berkisar antara 160 -190 juta, tergantung kondisi existing dilapangan. b. Konstruksi beton Berupa rangkaian dan beton bertulang pre stress pra cetak untuk batang pembentangnya. Konstruksi mi merupakan konstruksi yang dipakai pada saat mi, karena relative lebih kuat dan kokoh. Untuk biaya proyek berkisar antara 250 - 300 juta, tergantung kpndisi existing dilapangan. Untuk material jembatan penyeberangan yaitu: - Baja, digunakan konstruksi utama - Beton Bertulang, digunakan sebagai konstruksi utama. - Besi, digunakan pada railing I pembatas dan pada rangka atap. - Poly carbonat, digunakan dalam penutup atap kanopi. - Kayu, digunakan sebagai susunan alas pijakanl lantai dan anak tangga pada konstruksi baja. Lantai beton pada konstruksi beton. Hubungan Jembatan Penyeberangan dengan elemen street furniture. a. Pedestrian Pedestrian merupakan sarana fasilitas pejalan kaki yang merupakan tempat diletakkannya kaki-kaki jembatan yang berfungsi sebagai penghubung dengan pedestrian lain diantara jalan raya, jalur kendaraan bermotor dengan lalu lintas padat. b. Median atau Pulau Jalan dan Pagar Pembatas Selain sebagai pembatas dua arus lalu lintas, pulau jalan mempunyai image agar pejalan kaki tidak menyeberang pada jalan tersebut dan harus melalui jembatan penyeberangan. Untuk pagar pembatas memang khusus dibuat dengan tujuan agar pejalan kaki tidak boleh larangan menyeberang pada jalan tersebut, dan harus melalul jembatan penyeberangan. c. Halte Bus / Pemberhentian Angkot Dimana ada jembatan penyeberangan maka disekitarnya juga terdapat halte bus/ pemberhentian angkutan kota. Karena pada umumnya dan secara mayoritas pejalan kaki adalah pengguna jasa angkutan kota sebagai transportasi dalam aktifitas pekerjaan / pemenuhan kebutuhan sehari-hari. ANALISIS PERILAKU PEJALAN KAKI TERHADAP PEMANFAATAN JEMBATAN PENYEBERANGAN PASAR BULU : ANALISA FENOMENA FISIK JEMBATAN PENYEBERANGAN DAN SEKITARNYA Kondisi fisik jembatan penyeberangan Pasar bulu dapat berdampak positif dan negatif terhadap berfungsinya jembatan itu sendiri. Beberapa analisis fenomena dan kondisi fisik jembatan tersebut dapat dilihat dari beberapa contoh dibawah ini. Struktur Jembatan Struktur Baja Merupakan Sistem Struktur Jembatan yang cukup kuat. Kelebihan memakai Struktur ini adalah Iebih ringan serta dengan biaya anggaran yang relatif lebih murah. Struktur ini cukup kuat dan tahan lama. Kekurangan dari pemakaian bahan besi dan baja ini adalah bahan besi tidak kuat terus untuk menahan korosi akibat terguyur hujan dan terik panas matahari. Dilihat dari kondisi kebersihan Kebersihan pada jembatan itu sendiri merupakan tanggung jawab dari seluruh pengguna jembatan, dalam arti tidak boleh membuang sampah pada area tersebut. Pada jembatan Pasar Bulu kebersihan pada jembatan ini bisa dibilang cukup bersih, ini bisa dilihat dari bersihnya jalur jembatan dari sampah. Pada jembatan ini yang masih perlu dibersihkan adalah adanya tali bekas pengikat papan reklame yang masih bergelantungan di tiang dibelakang papan reklame. Tetapi secara keseluruhan jembatan pada Pasar Bulu ini cukup nyaman dilewati oleh penggunanya karena masih bersih. Faktor kesalahan penempatan Median / pulau jalan dan pagar pembatas Pulau jalan berfungsi sebagai pembatas dua atau lebih arus lalu lintas. Merupakan fungsi estetis bila terdapat taman diatasnya. Median ini mempunyai image agar pejalan kaki tidak menyeberang dengan menerobos kepadatan lalu lintas. Namun pada kenyatannya keberadaan pulau jalan tidak rnenghalangi pejalan kaki untuk menerobos kepadatan lalu lintas. karena ketinggiannya yang hanya maksimal 20 cm, dan masih terdapat celah bila diberi taman diatasnya. Material Jembatan Penyeberangan Material Material jembatan pada Pasar bulu ini menggunakan konstruksi baja. Karena secara keseluruhan badan dan kaki jembatan terbuat dari kontruksi baja, jadi relatif lebih kuat dan relatif lebih murah dalam pembuatannya. Kelayakan Jembatan Penyeberangan Sebagian besar jembatan penyeberangan di Semarang, tidak memakai penutup atap. Walaupun ada beberapa jembatan yang didesain dengan rangka atap yang terbuat dari baja dan besi misalnya yang terdapat pada jembatan pasar bulu. Sehingga di harapkan pengguna jembatan terlindung dari terik matahari dan hujan tetapi pada kenyataannya pengguna masih terkena sinar matahari pada siang hari dan air hujan pada waktu hujan. Pemasangan papan reklame dan spanduk Pemasangan reklame yang teratur Keberadaan reklame di Pasar Bulu ini merupakan fungsi lain dari jembatan penyeberangan dan bersifat komersial. Tidak seluruhnya jembatan terdapat reklame. Kesan indah dapat dilihat bila terdapat penataan reklame yang benar dan sesuai aturan. Hal ini bisa menambah persepsi seseorang terhadap estetika jembatan sebagai street furniture kota.Selain itu dengan keberadaan reklame dapat mengurangi panas matahari atau sebagai peneduh. Pemasangan spanduk yang kurang teratur Pada kenyataannya keberadaan spanduk - spanduk membuat kesan tidak teratur, karena pemasangannya yang terkesan liar dan memang tidak ada tempat yang direncanakan. Dalam waktu tertentu spanduk ini akan rusak karena bahannya dari kain dan tidak ada tanggung jawab dari pihak pemasang jika sudah tidak terpakai. Hal ini akan mengganggu estetika dari jembatan itu sendiri. Keberadaan halte atau pemberhentian angkutan umum Di sekitar jembatan penyeberangan pada umumnya terdapat halte / pemberhentian angkutan. Karena mayoritas dari pejalan kaki adalah pengguna jasa angkutan umum dalam mencapai tujuan dari aktifitas sehari-hari. Harus diperhatikan perletakan halte yang tepat dengan melihat kondisi existing dilapangan, karena bila terjadi kemacetan yang yang disebabkan oleh angutan umum, maka kondisi ini akan mempengaruhi perilaku pejalan kaki dengan memanfaatkan kemacetan tersebut untuk menerobos disela -sela kemacetan tersebut. Halte yang ada pada kawasan pasar bulu perletakannya sudah cukup baik. Ini bisa dilihat dari tidak adanya kemacetan pada kawasan tersebut. Pemandangan dan atas jembatan Dari atas jembatan dapat dilihat pemandangan tersendiri, yaitu sebuah koridor jalan dengan arus lalu lintas yang padat. Tetapi hal ini akan menjadi momok bagi pejalan kaki yang mempunyai ketakutan akan ketinggian. Karena Iantai jembatan kurang Iebih berada pada ketinggian 5 m dan pemukaan jalan raya. Bangunan PKL semi permanent Bangunan PKL semi permanen berada pada area pedestrian yang terletak dibawah jembatan penyeberangan. Pada umumnya area pedestrian habis oleh PKL tersebut. Dengan demikian keberadaan PKL akan mengganggu sirkulasi pejalan kaki pada pedestrian yang akan menuju pada jembatan penyeberangan. ANALISA FENOMENA AKTIVITAS PERILAKU PEJALAN KAKI Perilaku yang benar dalam menyebarang Penyeberang pada zebra cross Sarana penyeberang Zebra Cross dibuat pada lokasi-lokasi yang dinilai tidak atau belum membutuhkan sarana Jembatan Penyeberangan. Penyeberang pada zebra cross memanfaatkan jalur penyeberangan yang tersedia pada badan jalan selain jembatan penyeberangan. Meskipun mempunyai persepsi sama dengan menyeberang tidak menggunakan jembatan penyeberangan, tetapi merupakan sarana yang khusus yang telah dipertimbangkan segi keselamatan. Orang yang menyeberang pada jembatan penyeberangan Sebagian kecil dari pejalan kaki telah memanfaatkan jembatan penyeberangan, karena mereka lebih mementingkan segi keselamatan. Meskipun secara fisik lebih melelahkan dan Iebih lama. Mereka mempunyai pemikiran bahwa untuk menerobos kapadatan lalu lintas sudah tidak mungkin lagi, dan dapat menambah kemacetan sesama pengguna jalan. Perilaku yang salah dalam menyeberang. Penyeberang yang tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan. Aktifitas menyeberang dengan tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan, karena mereka menganggap seolah jembatan penyeberangan sebagai penghambat, asal dapat sampai tujuan dengan cepat dan tidak capek. Tetapi juga perlu kita lihat beberapa faktor yang mungkin membuat para pejalan kaki tersebut tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan, misalnya membawa barang bawaan yang banyak, terburu waktu, kondisi jembatan yang rawan serta kondisi tangga jembatan yang terlalu curam dll. Orang yang berdiri diatas pulau jalan Sambil menunggu arus lalu lintas yang renggang, maka pejalan kaki berdiri pada pulau jalan diantara arus lalu lintas dan kemudian mencari saat yang tepat untuk menyeberang pada sisi jalan lain. Hal ini disebabkan karena tidak terdapatnya pagar pembatas yang dapat menghalangi pejalan kaki antar kedua ruas jalan. Hal ini dapat menyebabkan kemacetan pada area tersebut, karena jumlah orang yang ada pada pulau jalan terlalu banyak. ANALISA FENOMENA AKTIVITAS PERILAKU SELAIN PEJALAN KAKI Gelandangan dan pengemis Para gelandangan dan pengemis yang memanfaatkan jembatan penyeberangan sebagai area untuk beraktifitas dan tinggal. Hal ini cukup mengganggu , karena apabila pada jam — jam tertentu saat tingkat aktifitas pemakaian jembatan penyeberangan tinggi hal seperti ini akan mengganggu para pemakai jembatan penyeberangan karena berkurangnya dimensi untuk berjalan, juga jika dilihat dari segi kebersihan hal ini akan mengakibatkan jembatan penyeberangan tersebut terlihat kumuh dan jika dilihat dan segi keamanan hal tersebut menyebabkan kerawanan yang mengganggu kenyamanan bagi para pemakai jembatan penyeberangan. Aktifitas pedagang kaki lima Pedagang kaki lima yang memanfaatkan area bawah jembatan penyeberangan. Penataannya harus teratur agar tidak mengganggu aktivitas berjalan pada pedestrian. Karena jika penempatannya tidak teratur maka akan menghabiskan area pedestrian sehingga pejalan kaki cenderung turun ke jalan dan jika akan menyeberang jalan cenderung pula menerobos lalu lintas jalan raya dan pada harus kembali ke area pedestrian. Oleh Karena itu juga penempatan PKL yang tidak teratur disekitar Jembatan Penyeberangan akan dapat mengganggu sirkulasi bagi para pengguna jembatan penyeberangan di pasar bulu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Jembatan Penyeberangan di Pasar Bulu di dalam pemanfaatan masih belum digunakan secara optimal oleh para pejalan kaki, hal ini terbukti dari hasil survai ternyata kurang dari 30% pejalan kaki yang hanya melewati jembatan penyeberangan tersebut. Jembatan Penyeberangan di Pasar Bulu sudah memenuhi kelayakan didalam penempatannya akan tetapi masih terdapat kekurangan dari fisik jembatan khususnya mengenai disain dari kecuraman tangga Jembatan Penyeberangan tersebut. Saran Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap berfungsinya jembatan penyeberangan diantaranya yaitu : keamanan, kenyamanan, kesenagan,keselamatan. Dari hasil angket bisa diketahui bahwa sudut ketinggian tangga masih terlalu besar ini bisa diketahui dari pengguna jembatan yang merasa lelah saat menaiki tangga jembatan pada pasar bulu. Agar pengguna jembatan merasa nyaman maka sudut ketinggian tangga jembatan harus diperkecil yaitu dengan cara memperpanjang kaki jembatan sehingga lebih landai. Untuk penerangan pada jembatan penyeberangan masih berkurang ini bisa diketahui dari pejalan kaki yang harus melihat anak tangga yang akan di pijak dengan teliti. Untuk itu agar pengguna jembatan merasa nyaman dan juga terasa aman pada malam hari maka perlu ditingkatkannya penerangan pada jembatan pasar bulu. Untuk menambah kenyamanan pada atap jembatan perlu penambahan teritisan agar siang hari pengguna jembatan terhindar dari terik matahari dan pada waktu hujan pengguna terhindar dari hujan. Agar pengguna jembatan dapat melihat lingkungan sekitar dari atas jembatan maka papan reklame harus ditinggikan sehingga pengguna jembatan merasa aman. Dari saran-saran diatas maka diharapkankeamanan, kenyamanan, dan keselamatan dapat terpenuhi, sehingga jembatan penyeberangan dapat berfungsi dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Anthoni J Catanese, J C Snyder, 1989, Perencanaan Kota, Edisi Kedua. Clovis Heimsath, AlA, 1988, Arsitektur dan Segi Perilaku, Bandung: Intermtra. David O Sears, Jonathan L Freedman, Lawne Peplau, 1985, Psikologi Sosial, Edisi kelima, Jilid 2, Jakarta 13740, Erlangga. Dinas Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga, Teknik Perencanaan Jembatan Penyeberangan, Dirgen Bina Marga, Jakarta Eko Budiharjo, 1983, Arsitekturdan Kota di Indonesia, Bandung. H. J. Struyk, K.H.CW. Van Der Veen, Soemarsono, 1995, Jembatan, Jakarta, PT Pradnya Paramita. Pratiwo, 1991, Kota dalam berbagai dimensi, Semarang. Rudjito, Sarwo Edi, 1996, Tugas Akhir, Perencanaan Jembatan Penyeberangan Bawah Tanah di Jalan Mgr. Soegiyopranoto Semarang, Semarang, LPPU - UNDIP. Sarlito Wirawan Sarwono. 1992. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Grasindo. Suwardjoko Wardani, 1990, Merencanakan S/stem Perangkutan,

    PENATAAN PAPAN REKLAME PADA PENGGAL JALAN HAYAM WURUK SEMARANG

    No full text
    Seiring dengan adanya pasar bebas, semakin meningkatkan persaingan di dunia perekonomian, salah satunya di bidang perdagangan,. Para pengusaha berusaha semaksimal mungkin untuk menjual produk – produknya agar dapat diterima oleh masyarakat, dengan cara menawarkan-nya baik itu dengan cara promosi langsung maupun dengan memasang iklan di media elektronik maupun di media cetak yang berupa gambar – gambar yang semenarik mungkin dan mudah diingat, hal ini juga banyak kita jumpai di fasilitas - fasilitas umum, salah satunya di jalan – jalan atau yang sering disebut reklame. Para pengusaha melihat fasilitas umum ini cukup efektif untuk menawarkan produk – produknya, karena dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat pemakai fasilitas umum tersebut yang mau tidak mau melihat dan membaca reklame tentang produk mereka. Reklame ini dapat berupa baliho, neon box maupun spanduk kain yang dipasang di tempat – tempat strategis di sepanjang jalan. Pada kenyataan di lapangan masih banyak pemasangan serta penempatannya yang kurang sesuai dengan peraturan pemerintah, dan sering kali mengganggu pengguna jalan yang menimbulkan ketidak-nyamanan. Jalan – jalan umum di Semarang merupakan potensi timbulnya permasalahan tersebut karena kota Semarang merupakan ibukota propinsi dengan tingkat perdagangan yang tinggi. SIGNAGE Pengertian signage Menurut Echols (1975), sign adalah tanda, sedangkan dalam Arsitektur sign diartikan sebagai bentuk – bentuk informasi dan orientasi kota yang dirancang khusus sebagai bagian dari delapan elemen urban design (Shirvani, 1985). Sedangkan Rubenstein (1992) mendefinisikan bahwa signage merupakan tanda tanda fisual di perkotaan yang berfungsi sebagai sarana informasi atau komunikasi secara arsitektural. Senada dengan hal tersebut , Lynch (1962) menyebutkan bahwa sign dapat berfungsi sebagai alat untuk orientasi bagi warga kota. Sama halnya dengan Sanoof (1991) yang menyatakan bahwa signage seperti dalam pengunaan sign, keberadaannya memberikan informasi kepada masyarakat yang sedang melintas, berjalan atau berkendaraan. Signage mengindikasi-kan bahwa signage dapat menciptakan image bagi suatu kota. Sasaran Dan Fungsi Signage Di dalam Arsitektur dikenal moda atau cara berkomunikasi. Seperti dalam komunikasi secara verbal, dikenal istilah “ Bahasa Arsitektur ” sebagai alat komunikasi yang lazim dikenal melalui bentuk. Kata-kata dalam bahasa Arsitektur lebih etnis dan memiliki banyak bentuk dibandingkan bahasa lisan atau tulisan. Bahasa Arsitektur akan menjadi lebih berarti dalam hubungan fisik antara satu dengan yang lainnya yang berada di dalam suatu lingkungan. Signage mempunyai dua sasaran, yaitu langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung, menspesifikasikan identitas usaha, lokasi dan barang-barang bisnis dan pelayanan yang ditawarkan. Signage tersebut mempunyai keterkaitan langsung dengan bangunan dan lingkungan setempat. Sedangkan signage yang tidak mempunyai keterkaitan dengan kegiatan di dalam bangunan atau lingkungan setempat merupakan komunikasi tidak langsung. Sebagai salah satu elemen urban design dan penanda bagi suatu kawasan atau kota, signage memiliki bermacam-macam fungsi. Pentingnya perencanaan signage ini dikemukakan oleh Rubenstein (1992) dalam bukunya Pedestrian Malls, Streetscape and Urban Spaces. Ada empat fungsi utama signage yang menjadikan signage sebagai elemen yang makin penting di dalam kota : 1. Jati diri (identitas) mal (mall identity), dapat berupa symbol atau logo untuk memberikan identitas suatu mal, dan logo tersebut dapat digunakan untuk suatu informasi pada public. 2. Rambu-rambu lalulintas (traffic sign), yang meliputi rambu-rambu pada highway, lampu-lampu lalulintas, rute perjalanan, tanda parkir, tanda berhenti, penyeberangan pejalan kaki dan tanda penunjuk arah. 3. Jatidiri komersial (commercial identity), dimana penempatan sign pada bangunan sebagai jatidiri pertokoan seperti papan nama (name Plate), sign advertising (papan advertensi) disepanjang jalan, atau blok bangunan. 4. Tanda-tanda informasi (informational sign), merupakan tanda-tanda (signs) yang berfungsi untuk memberikan informasi seperti petunjuk arah, peta-peta dan tanda-tanda (signs)khusus yang menunjukkan lokasi parkir, subway atau halte bis. Dengan informasi tersebut akan menuntun orang menuju tujuan tertentu. Menurut Spreiregen (1979), banyaknya signage akan membuat kekacauan visual, yang dapat diatasi dengan membuat signage terpadu dalam satu pole. Misalnya, untuk memberikan informasi pada suatu persimpangan dapat dibuat dengan membuat kombinasi antara papan nama jalan dengan rambu lalulintas pada tempat atau tiang yang sama. Demikian juga street furnishing lain dapat dikombinasikan dalam satu unit. Signage Design untuk downtown Pittsburg, misalnya dalam satu tiang (pole) dibuat suatu system traffic sign terpadu, terdiri dari lampu lalu lintas, penerangan jalan, penunjuk arah dan sebagainya (Barnett, 1982). SIGNAGE DI JL HAYAM WURUK, SEMARANG Potensi Dan Permasalahan Yang Ada Jalan Hayam Wuruk merupakan jalan penghubung ke pusat kota, serta merupakan kawasan pendidikan, sehingga kawasan ini cukup ramai oleh kendaraan maupun mahasiswa, hal ini menarik perhatian bagi para pedagang untuk membuka kios – kios dagangan, yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. Banyak para pedagang yang dengan enaknya membangun kios tanpa memperhatikan kondisi sekitarnya, bentuk dan massa bangunan yang berbeda – beda, skala, penggunaan material, tekstur serta warna yang di terapkan pada kios – kios juga mempengaruhi keserasian dan keseelarasan lingkungan. Garis Sempadan Bangunan sudah tidak jelas, kios – kios sudah sangat dekat dengan jalan. Untuk lebih menarik perhatian konsumen, berbagai cara pun dilakukan oleh para pedagang, salah satunya dengan memasang reklame semenarik dan sejelas mungkin. hal inilah yang menjadi potensi daerah jalan Hayam Wuruk terkesan kurang rapih, semrawut. Pemasangan papan reklame sendiri juga menimbulkan masalah, banyak papan reklame yang terpasang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, misalnya dalam hal proporsi, keselarasan penempatan antara papan reklame yang satu dengan yang lainnya, sehingga timbul suatu kesan tidak harmonis. Padahal pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang penataan papan reklame bahwa setiap perencanaan penempatan reklame harus memperhatikan estetika, keselamatan, keserasian bangunan dan lingkungan sesuai dengan rencana kota. Analisa Papan Reklame Pada Jalan Hayam Wuruk Dari hasil survey, kami dapat mengelompokkan jenis – jenis serta mengetahui jumlah papan reklame yang ada di Jalan Hayam Wuruk Semarang, jenis papan reklame serta jumlahnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : NO. JENIS PAPAN REKLAME UTARA SELATAN 1. Papan Reklame Menempel 20 buah 16 buah 2. Papan Reklame Menggantung 3 buah 8 buah 3. Papan Reklame Tiang Satu Kaki Neon Box Biasa Dua Kaki (biasa) 14 buah 20 buah 5 buah 7 buah 8 buah 3 buah 4. Papan Reklame Spanduk pada kios – kios pada pohon 28 buah 6 buah 15 buah 5 buah jumlah 96 buah 62 buah Baliho 5 buah Jumlah total 163 buah Tabel 1. Tabel Jumlah Papan Reklame Di Jalan Hayam Wuruk ( Sumber : Survey Lapangann Tahun 2006 ) Analisis Jenis Papan Reklame Reklame Papan ( Billboard / Baliho / Neon Box) Baliho atau papan reklame yang berukuran besar, termasuk dalam kategori Freestanding Sign atau tanda – tanda, dalam hal ini papan reklame yang berdiri sendiri yang didukung oleh satu tiang ( pole sign ), adapun sifatnya Permanent Sign yang berfungsi sebagai papan Advertisi ( signboard ), komersial yang maksudnya untuk mempublikasikan kepentingan dagang, memiliki jangka waktu pasang tertentu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau diundangkan ( Kelly dan Raso ), dalam hal ini peraturan pemerintah. Titik – titik penempatannya telah diatur oleh pemerintah serta telah diadakan perjanjian kontrak terlebih dahulu antara pemerintah dengan pemasang iklan, untuk titik – titik penempatan baliho terletak di tempat – tempat yang strategis agar mudah dilihat oleh orang yang lewat, pemasangannya tegak lurus dengan jalan dan kadang sedikit serong, dimaksudkan orang yang lewat dapat melihat sejelas dan selama mungkin papan reklame tersebut, di jalan Hayam Wuruk terdapat 5 buah baliho, dipasang menggunakan tiang dengan satu kaki dengan konstruksi baja. Dimensi Baliho juga merupakan faktor yang harus diperhatikan, hal ini berkaitan dengan luasan dan ketinggian papan reklame, luas ruang, penempatan ( lokasi ), dan kecepatan pergerakan ( ashihara, 1983, lynch, 1988, kelly dan rasso, 1991, smardon, 1992 ). Agar tidak menimbulkan kekacauan visual dan ketidakserasian terhadap lingkungan sekitar. Untuk di daerah jalan Hayam wuruk yang memiliki tingkat kecepatan kendaraan dan dimensi bangunan yang cukup rendah, seharusnya dimensi Baliho juga tidak terlalu besar dan harus memperhatikan estetika lingkungan sekitar. Tetapi karena tuntutan tingkat pendapatan pajak reklame, maka dimensi yang ada pada daerah tersebut tidak terpengaruh dari faktor – faktor diatas. Dimensi Baliho tersebut di lapangan sangat tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, yang menetapkan bahwa ukuran baliho pada titik – titik di jalan Hayam Wuruk yaitu baliho tipe 2 ( dua ) dengan ukuran 2 meter x 2 meter, tetapi pada kenyataanya ada yang berukuran 2,50 meter x 3 meter, sampai dengan ukuran 3 meter x 5 meter. Selain itu penggunaan Baliho tersebut kurang tepat, sesuai yang dikemukakan Richardson bahwa penggunaan tanda harus merefleksikan karakter setempat, yang merupakan kawasan kampus UNDIP Pleburan. Jarak yang satu dengan yang lainnya harus memadai dan menghindari kepadatan dan ketidakteraturan, larangan papan iklan yang besar yang mendominasi visual dan menciptakan pengaruh visual yang negatif, penggunaannya harus harmonis dengan elemen Arsitektur dimana berada, dalam hal ini lingkungan kampus Pleburan sebagai kawasan pendidikan. Selain itu penempatannya ada yang tertutup pohon, sehingga baliho tersebut tidak terlihat seutuhnya, ada sebagian gambar maupun tulisan yang tertutup ranting – ranting pohon. Reklame kain Jenis papan reklame kain / spanduk di jalan Hayam Wuruk juga cukup banyak, dari hasil survey, reklame kain / spanduk banyak digunakan oleh pedagang makanan, pada warung – warung penjual makanan, reklame ini berfungsi juga sebagai penutup atau penghalang pandangan dari arah jalan ke dalam warung, tetapi tidak 100 % terhalang, konsumen masih ada kesan hubungan dengan lingkungan luar, tetapi privasi ketika makan terjaga. Untuk kondisi di jalan Hayam Wuruk masih terkesan semrawut, hal ini sangat bertentangan dengan Peraturan Pemerintah bahwa pemasangan papan reklame tidak boleh menghilangkan estetika bangunan secara keseluruhan. Pemasangannya ada yang menggunakan tali dan diikatkan ke sembarang tempat. reklame ini juga banyak digunakan oleh penjual jasa fotocopy dan rental computer. Papan reklame dari kain banyak digunakan karena praktis, murah, termasuk dalam kategori Temporary Sign, karena bersifat sementara / temporer serta dapat dilepas dan dipasang setiap saat (tidak permanen), dan memilki batas waktu sesuai dengan kebijakan perijinan setempat. Dari hasil survey kami, reklame jenis ini baik ditempatkan menempel pada bangunan sehingga tidak terlalu mengganggu sirkulasi pejalan kaki, selain itu sebaiknya ada tempat tersendiri untuk meletakkan reklame jenis kain terutama reklame spanduk, seperti yang telah dikeluarkan pemerintah mengenai panggung spanduk, agar terlihat lebih rapi dan tidak terkesan asal pasang. Untuk dilingkungan kampus sebaiknya terbebas dari reklame spanduk, kecuali yang melintang di atas jalan agar view ke arah kampus tidak terhalang oleh spanduk tersebut. Agar terlihat lebih rapi, alangkah baiknya jika papan reklame dipasang pada suatu tempa tersendiri, selain itu dalam pembacaannya tidak menyulitkan. Papan reklame dari kain ada yang berfungsi sebagai informasi, khususnya yang berupa reklame spanduk, untuk menginformasi-kan kegiatan di suatu lokasi, keterangan tentang keadaan suatu lingkungan, selain itu juga berfungsi sebagi identitas kios dan ada yang bersifat komersial yang maksudnya adalah untuk mempublikasikan kepentingan dagang, profesi, komoditi, pelayanan jasa, hiburan dan lain – lain. Reklame spanduk termasuk jenis signage yang berfungsi sebagai informasi, yaitu untuk menginformasikan kegiatan di suatu lokasi, sedangkan klasifikasinya termasuk kedalam jenis snipesing, karena diletakkan / dipasang pada pohon atau tiang, dan bersifat sementara. Reklame Menempel / Stiker / Poster Menempel pada bangunan, kebanyakan digunakan sebagai identitas kios atau warung yang bersangkutan, karena menempel pada bangunan, termasuk dalam kategori wall sign, ditempel pada dinding bangunan, menjadi satu kesatuan dengan dinding bangunannya, meliputi sign dicat pada didnding atau ditempel dengan cara dipakukan ke bangunan tersebut, sehingga pemasangannya sejajar dengan jalan, papan reklame jenis ini tidak mudah dilihat oleh orang, orang cenderung akan sedikit menolehkan penglihatannya agar dapat terbaca. Dimensi papan reklame juga merupakan faktor yang harus diperhatikan, hal ini juga berkaitan dengan luasan dan ketinggian papan reklame, luas ruang, penempatan ( lokasi ), dan kecepatan pergerakan ( ashihara, 1983, lynch, 1988, kelly dan rasso, 1991, smardon, 1992 ). Untuk di daerah jalan Hayam Wuruk yang memiliki tingkat kecepatan kendaraan dan dimensi bangunan yang cukup rendah, maka dimensi papan reklame menempel juga tidak terlalu besar, serta harus memperhatikan estetika lingkungan sekitar. Pemasangan papan reklame jenis ini cukup praktis, serta mudah, hanya ditempel ke dinding maupun pohon dengan menggunakan lem maupun paku. Papan reklame jenis ini banyak di jumpai di jalan Hayam Wuruk yang dipasang di sembarang tempat, sehingga kebersihan dan keindahan jalan menjadi kurang nyaman. selain itu efek setelah reklame tersebut rusak cukup menggangu bila tidak dibersihkan secara total. terutama yang menggunakan bahan dari kertas dan ditempel ke dinding dengan menggunakan lem. Sasaran dan fungsi papan reklame ini yaitu sebagai jatidiri komersial ( commercial identity ) sebagai jatidiri pertokoan, seperti papan nama ( name plate ), sign advertising ( papan reklame ). Agar penerapannya tidak menimbulkan kepadatan, dan ketidakteraturan visual, perlu adanya penataan jarak pemasangan antar reklame, penggunaan papan reklame harus dapat merefleksi-kan karakter kawasan, dalam hal ini kawasan pendidikan, juga harus harmonis dengan bangunan Arsitektur dimana papan reklame tersebut berada (Richardson dalam Shirvani, 1985). Karena situasi dan kondisi jalan Hayam Wuruk yang merupakan kawasan kampus serta memiliki ketinggian bangunan yang tidak terlalu tinggi, maka penempatan reklame diatas bangunan jarang dipakai, hal ini kurang efektif disebabkan pula banyaknya pohon yang tumbuh subur di sepanjang Jalan Hayam Wuruk. Untuk penempatannya sendiri sangat tidak sesuai dengan peraturan pemerintah, hal ini terlihat dari penempatan reklame pada kios – kios yang terkesan sembarang, pada ruang – ruang kosong, sehingga tidak ada keselarasan, irama yang ditimbulkan dari papan reklame tersebut. Reklame Menggantung Termasuk dalam kategori Suspended Sign karena dipasang dengan cara menggantungkan papan dari bahan seng maupun yang lainnya enggunakan besi yang di pasang pada fasade bangunan. pemasangan papan reklame jenis ini sebenarnya hampir sama dengan jenis tiang, bedanya jenis menggantung tiang vertikalnya tidak ditanam ke tanah atau trotoar, tetapi di pasang pada bangunan yang bersangkutan. reklame jenis ini jarang diterapkan karena sifatnya yang labil bila terkena angin, cenderung akan bergoyang, karena digantung menggunakan kawat yang diikatkan ke pipa besi. Papan reklame menggantung baik bila di pasang di bawah atap tritisan bagian depan, karena terlindung dari angin dan di pasang atau diikatkan menggunakan pipa besi kecil. Untuk pemasangan papan reklame menggantung di jalan Hayam wuruk, masih jauh dari peraturan pemerintah yang menetapkan bahwa ketinggian ruang bebas minimal 2,50 meter, sedangkan pada kenyataannya kurang dari yang ditetapkan pemerintah, yaitu hanya sekitar 2 meter. Selain itu banyak papan reklame yang menjorok ke badan jalan. Dilihat dari keselarasan dengan bangunan masih banyak yang tidak selaras, karena proporsi telalu besar. Analisis Tempat / lokasi Penempatan papan reklame merupakan faktor yang sangat memepengaruhi penataan papan reklame agar terlihat rapi dan teratur, dari hasil survey lokasi, kami mengambil beberapa titik penempatan papan reklame yang sekiranya cukup bermasalah, dalam konteks peraturan pemerintah, implementasi penempatan pada daerah lingkungan pendidikan yang kurang mencerminkan kawasan pendidikan. Titik – titik tersebut merupakan salah satu sampel dari permasalahan yang umum terjadi di jalan Hayam Wuruk, terutama pada penempatannya. Pada Sarana dan Prasarana Kota Trotoar / bahu jalan di sepanjang jalan Hayam Wuruk. Biasanya berupa reklame tiang, dipasang dengan cara menanam tiang dari pipa besi ke dalam trotoar yang digali dan dicor dengan semen. Penempatannya sendiri cukup mengganggu, baik sirkulasi maupun visual pejalan kaki. Jalur pedestrian yang memiliki lebar kurang lebih 150 cm sudah cukup sempit, diambil lagi untuk lahan parkir, kunci dari perancangan pedestrian agar nyaman adalah adanya keseimbangan antara penggunaan pedestrian area dengan fasilitas bagi kendaraan bermotor, dalam hal ini tempat parkir, selain itu adanya penempatan tiang papan reklame dengan jarak antar tiang papan reklame yang terlalu dekat, banyaknya pepohonan yang ada juga memberikan kesan adanya pembatas jalur pedestrian yaitu antara kios – kios pedagang dengan tiang – tiang papan reklame dan pepohonan, sehingga pejalan kaki terkesan berjalan pada ruang yang cukup sempit. Posisi papan reklame diatas banyak yang dipasang tidak teratur, ada yang kearah jalan maupun kearah jalur pedestrian, selain itu ketinggian yang cukup rendah, jumlahnya yang terlalu banyak, lokasi yang saling berdekatan jarak dan ukuran papan reklame kurang memadai dan kurang diatur sedemikian rupa sehingga jarak penglihatan terlalu dekat, hal ini juga menimbulkan kepadatan dan kekacaubalaun visual. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai pemasangan papan reklame pada trotoar, yaitu dengan ketentuan bahwa ketinggian ruang bebas minimal adalah 2,50 meter untuk reklame kecil, selain itu pemasangan papan reklame tidak boleh melebihi / menjorok ke badan jalan. Penggunaan reklame harus dapat merefleksikan karaktaer suatu tempat, dalam hal ini kawasan kampus UNDIP Pleburan sebagai kawasan pendidikan, tapi pada kenyataannya papan – papan reklame yang ada kurang mencerminkan karakter kawasan tersebut. Sasaran dan fungsi papan reklame ini yaitu sebagai jatidiri komersial ( commercial identity ) sebagai jatidiri pertokoan, seperti papan nama ( name plate ), sign advertising ( papan reklame ). Papan reklame yang berada pada trotoar termasuk dalam klasifikasi Freestanding Sign atau tanda – tanda ( papan reklame ) yang berdiri sendiri yang didukung oleh satu tiang ( pole sign ), adapun sifatnya Permanent Sign yang berfungsi sebagai papan Advertisi ( signboard ), komersial yang maksudnya untuk mempublikasikan kepentingan dagang, memiliki jangka waktu pasang tertentu, sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau diundangkan ( Kelly dan Raso ). Untuk itu perlu adanya penataan ulang terhadap papan reklame yang ada atau kios – kios pedagang agar terlihat lebih rapi. Diluar Sarana dan Prasarana Kota Di jalan Hayam Wuruk Penempatan Papan Reklame di luar sarana dan prasarana kota yaitu pada bangunan pribadi yang membuka toko maupun jasa, serta kios – kios di sepanjang jalan tersebut. Pemasangannya paling banyak diterapkan oleh pedagang pemilik kios, karena adanya kebebasan pemasangan, di luar sarana dan prasarana kota. Jenis reklame yang dipasang adalah reklame papan, reklame kain, dengan cara menempel, menggantung pada bangunan maupun menggunakan tiang sebagai penyangga. Karena ada kebebasan pemasangan, serta kurangnya aturan yang baku serta kurangnya pengawasan, maka timbul persaingan antar pedagang untuk memasang papan reklame pada daerahnya agar menarik perhatian konsumen, Richardson dalam Shirvani (1985), memberikan landasan bahwa untuk meningkatkan kualitas lingkungan suatu kawasan maka dituntut karakteristik signage : - Penggunaan signage harus dapat merefleksikan karakter suatu tempat. - Jarak sign satu dengan lainya harus memadai dan menghindari kepadatan dan ketidakteraturan visual. - Pengunaan sign harus harmonis dengan bangunan Arsitektur dimana sign tersebut berada. - larangan untuk papan iklan yang besar dan mendominasi visual sehingga menimbulkan pengaruh visual yang negatif. - kualitas rancangan dan ukuran advertasi pribadi harus diatur untuk membentuk kesesuaian, serta mengurangi persaingan antar sesama iklan. Dilihat dari penempatannya, reklame pada kios cukup membantu dalam memeberikan identitas toko tersebut. Secara langsung penempatan reklame pada kios tidak mengganggu sirkulasi maupun visual pejalan kaki. Di jalan Hayam Wuruk penempatan reklame pada kios biasnya ditempatkan di atas atap tritisan maupun pada dinding paling depan sebelah atas, posisi ini cukup baik karena orang lebih yakin terhadap toko yang dikunjunginya. Selain pada kios – kios permanen, penempatan papan reklame sering terlihat pada kios – kios gerobak rokok yang bersifat tidak permanen, biasanya berupa reklame menempel mengenai suatu produk rokok, hal ini cukup efektif, karena kios – kios tersebut rata – rata m

    GBPP Mata Kuliah Bahan Bangunan 1

    No full text
    Pada akhir perkuliahan mahasiswa diharapkan mendapatkan pengetahuan mengenai bahan-bahan yang berkaitan langsung dengan perancangan bangunan ataupun desain interior. Disamping mereka juga mampu untuk membaca dan mengintepretasikan gambar-gambar kerja/gambar teknik yang nantinya akan diberikan Arsitek untuk mereka

    ARSITEKTUR KOLONIAL KOTA LAMA SEMARANG

    No full text
    Kota Semarang adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang perkembangannya sebagian besar dipengaruhi oleh fungsinya sebagai kota pelabuhan sejak jaman kolonial. Hal ini menyebabkan banyaknya akulturasi budaya yang terjadi antara pendatang dengan warga pribumi. Percampuran ini juga mempengaruhi aspek arsitektural di Semarang. Baik itu dalam segi perencanaan dan perancangan kota, sampai dengan style bangunan yang banyak digunakan pada masa tersebut. Dalam hal penataan kota, kedatangan ras-ras pendatang itu juga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dan perkembangan pada perencanaan kota Semarang. Pengaruh bangsa Belanda relatif lebih besar terhadap karya-karya arsitektural yang dihasilkan di Semarang itu. Hal ini dapat dilihat dengan keberadaan daerah-daerah seperti Kawasan Candi dan Kota Lama. Kota Lama, berbeda dengan wilayah Candi, ciri arsitektural Kolonialnya masih terlihat dengan jelas lewat bangunan-bangunan dan pengaturan wilayah di salah satu bagian kota Semarang tersebut. Hal ini menjadikan Kota Lama sebagai salah satu miniatur dari keadaan konkrit kota Semarang pada masa tersebut. TEORI KOLONIAL DI INDONESIA Secara umum semua kota-kota kolonial memiliki persamaan, yakni fakta bahwa mereka terbagi menjadi dua bagian, bagian yang berasal dari penduduk/budaya lokal & bagian yang merupakan hasil dari cipta karya/budaya pendatang/ orang asing, karena proses dari imposisi kota yang mereka hasilkan. Oposisi antara belahan campuran & asing ini berakar pada sifat komunitas kolonial yang menekan dan karena hal ini, kota-kota kolonial sering kali dikarakterisasikan sebagai duality atau kota ganda. Di Indonesia kondisi kota-kota kolonial justru jauh lebih kompleks selain karena bagian lokal yang bergaya barat, terdapat juga bagian asing yang bergaya oriental, terutama Cina. Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia pada era kolonial bisa dikarakterisasikan sebagai kota tiga bagian dengan muatan arsitektur lokal berupa Kraton & Kampung, bagian cina yang terdiri dari ruko-ruko, dan satu bagian yang bergaya Barat yang tersusun atas benteng dan gudang-gudang kolonial. Lehmann telah menjabarkan tiga elemen dari penyusun kota; Kraton, Ruko, & Benteng yang mengatur sebuah konfigurasi yang bisa dianggap umum bagi kota-kota kolonial di Indonesia. Bagaimanapun konfigurasi dari tiga elemen ini tidaklah sama di semua kota. Kadang satu bagian atau bagian yang lainnya dominan. Bahkan kadang ada elemen yang tidak ada seperti hilangnya Kraton, karena dominasi dari Benteng di Batavia dan dominasi elemen Cina seperti di Lasem. Bisa juga hilangnya benteng karena dominasi Kraton, seperti di Palembang. Kadang salah satu dari elemen ini tidaklah terlalu berperan atau menonjol, seperti keraton di Manado. Kondisi dari perseteruan tiga elemen yaiut yang menyebeabkan perbedaan di tiga tipe kota kolonial yang ada di Indonesia, yang kebanyakan didominasi oleh orang Indonesia, orang Cina & Bangsa Barat, seperti kota Yogyakarta, kota pasar Lasem, dan kota administratif Batavia. Walaupun ketiga tipe secara fundamental semua sama karena ditentukan oleh situasi kolonialnya, perbedaan dari campuran ketiga bagian ini meningkatkan variasi substansial yang dimana tipologinya dari kota-kota kolonial ini bisa didasarkan. Ruang terbuka publik berada di pusat kota, biasanya dekat dengan dengan gereja atau katedral, balai kota, dan sumur publik; mempunyai konfigurasi tidak menentu; sering tidak ada jalan yang melintasi secara lurus; tempat penduduk berkumpul; kebanyakan menyatu dengan harmoni sebagai elemen estetis kota. Lansekap Belanda sebagian besar adalah dataran rendah yang berada di pesisir pantai. Beriklim sedang dan tanahnya baik untuk agrikultur dan daerah pesisirnya merupakan potensi maritim yang besar. Charles V dari Spanyol mewarisi Negeri Belanda pada tahun 1506 (Jellicol 1996, 192). Kemudian Betanda berkembang menjadi negeri maritim yang kuat dengan kota-kota di tepi laut dengan suatu sistem kanal yang menggunakan teknologi baru pada masa itu untuk memecahkan masalah sempitnya lahan. Sebagian besar rakyatnya hidup dari pertanian, peternakan dan perdagangan melalui laut. Kekuatan Maritim menjadikannya salah satu negara kolonial. Pada tahun 1609 negeri Belanda membebaskan diri dari Spanyol dengan tetap mempertahankan sistem monarki. KOTA LAMA PADA AWAL PENATAAN RUANG DI SEMARANG Sejak tahun 1903, sebelum Karsten tiba di Semarang, telah ada aktivitas lokal dalam bidang perencanaan kota. Aktivitas tersebut merupakan pelaksanaan dari politik desentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya. Pada saat itulah Karsten diangkat menjadi penasehat otoritas lokal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum. Sebagai penasehat kota, Karsten juga menyusun paket lengkap kota, yang berisi : - Town-plan ( perencanaan kota) - Detail plan (rencana detail kota) - Building Regulation ; peraturan bangunan untuk sejumlah kota di Jawa, antara lain : Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun, Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara) dua kota kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dan kota Purwokerto. Ia juga menjadi penasehat kota- kota Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin. Tahun 1906-1942 merupakan masa pemerintahan Kota Praja Semarang (Stadsgemeente van Semarang ) yang diresmikan tanggal 1 April 1906 diatur dalam staatsblad no.120 tahun 1906. Semarang sejak itu terlepas dari Kabupaten dan memiliki batas kekuasaan pemerintah Kota Praja. Kota Semarang mulai dibenahi dengan sistem administrasi pembangunan. Kontrol serta pemeliharaan elemen-elemen kota yang di bangun juga di lakukan dengan baik. Arah pembangunannya tertuju untuk membangun permukiman Belanda yang dilengkapi dengan fasilitas dan utilitas kota antara lain Stadion olah raga, lapangan menembak, taman-taman kota, jaringan jalan baru, drainage di Banjarkanal Timur dan Barat,Siranda Kanal dan CBZ Kanal,juga saluran. Pembangunan sarana-sarana pelabuhan, stasiun kereta api, kantor-kantor dagang dan lain-lain juga terus dilaksanakan. Fungsi kota menjadi meluas di samping sektor perdaganga, militer, pemerintahan, juga di sektor pendidikan dan pariwisata. Namun dalam masa stads gemeente ini, pembangunan kota hanya mengutamakan dan menekankan pada penertiban sistem administrasi pemerintahan, dan bukan pada sektor sosial ekonomi, sosial budaya serta perencanaan fisik yang menyeluruh. Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, maka kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng VIJHOEK.Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai : HEEREN STRAAT. Saat ini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut DE ZUIDER POR. Jalur pengangkutan lewat air sangat penting hal tersebut dibuktikan dengan adanya sungai yang mengelilingi kawasan ini yang dapat dilayari dari laut sampai dengan daerah Sebandaran, dikawasan Pecinan. Masa itu Hindia Belanda pernah menduduki peringkat kedua sebagai penghasil gula seluruh dunia. Pada waktu itu sedang terjadi tanam paksa (Cultur Stelsel) diseluruh kawasan Hindia Belanda. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan "LITTLE NETHERLAND". Kota Lama terletak pada bagian utara Semarang, dekat dengan pelabuhan. Daerah ini dahulu merupakan sebuah benteng pertahanan Belanda. Setelah situasi politik & ekonomi Belanda di Indonesia dirasakan aman & mantap, yaitu pada tahun 1824, benteng ini dihancurkan dan menjadi pusat pertahanan serta perdagangan. Dalam wilayah bekas benteng tadi, seperti pada kota-kota besar lainnya berkembang pusat kota dengan bentuk & gaya kota-kota pada awal abad pertengahan. Bangunan-bangunan berdiri mengelompok membentuk “pulau-pulau” dengan bangunan tanpa halaman depan dan dikelilingi oleh jalan, demikian juga gedung SMN tidak mempunyai halaman depan dan terletak langsung di depan jalan raya. Pintu masuk utama terletak di jalan yang lalu lintasnya kurang ramai. Dalam perkembangan kota, ruang terbuka untuk umum & pertamanan, mempunyai peranan penting. Karsten merencanakan sungai yang mengalir melewati kota difungsikan sebagai ruang terbuka untuk masa yang akan datang. Dia juga membangun taman untuk olahraga, maupun rekreasi pada daerah sebelah Timur kota Semarang, di mana banyak terdapat rumah-rumah villa (rumah-rumah mewah). Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Banyak orang yang sudah mengenal Kota Lama Semarang harus berfikir sejenaK apabila mendengar istilah kampung Eropa. Sebenarnya, sudah semenjak abad yang lalu, kedua pengertian ini, yakni OUTSTADT dan Europeschebuurt , dipakai di kalangan masyarakat untuk menyebut kawasan yang sama. Kawasan tersebut mencakup koloni yang semula berbenteng tempat bermukim orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya yang mempunyai kegiatan utama sebagai pedagang. Usia koloni yang sekarang relatif masih utuh tersebut sudah terbilang abad. Titik awal pengembangannya adalah perjanjian antara VOC dengan Sunan Amangkurat II pada bulan Oktober 1677 yang disusul oleh kesepakatan berikutnya pada bulan Januari 1678. Kedua belah pihak menyetujui hak penguasaan VOC atas sebagian wilayah Semarang. Sebagai imbalan atas bantuannya pada kerajaan Mataram untuk menumpas pemberontakkan Trunojoyo karena hasrat VOC terutama untuk menguasia bandar-bandar di speanjang pesisir utara, maka bagian yang dipilihnya adalah pelabuhan dan sekitarnya. Selanjutnya perjanjian Oktober 1705 memperkokoh kedudukan VOC dengan diperbolehkannya seriakt dagang ini mendirikan benteng. Semenjak itulah kawasan koloni tersebut dikelilingi oleh tembok yang dibuat segi lima yang disebut de VIJHOEK. Walaupun tembok keliling tersebut dibongkar pad abad berikutnya, batas koloni dapat dilacak karena tidak ada perubahan struktur kawasan yang berarti. Dinding sebelah barat terletak di tepi Kali Semarang yang semakin membelok ke Timur Laut. Jalan yang menelusurinya bernamaWester-wal straat yang menerus ke Pakhuis straat (sekarang keduanya disebut jalan Mpu Tantular). Dinding sebelah utara sejajar dengan jalan stasiun Tawang dan disebut Norder- Wal Straat. Sedangkan dinding timur dan Selatan masing-masing bersisian dengan Ooster-wal Straat (jalan Cendrawasih Utara) dan Zuder-Wal Straat (jalan Sendowo). Berangkat dari wilayah yang dikuasai VOC yang merupakan serikat dagang Belanda, serikat dagang tersebut memang tidak lalu tumbuh sebagai kampungnya orang Belanda semata. Peta bertahun 1695 menamakan koloni tersebut de Europesche (buurt) , demikian pula yang bertahun1719. untuk memperbedakannya dari de Javanische negara Rijen (perkampungan pribumi), de malaische dan de chineesche kampong (kampung Melayu & Pecinan). Nama-nama unsur lingkuan seperti de Heeren Straat (jalan utama yang membelah koloni menjadi dua bagian) de hersteller, cecylon, amsterdam, de lier, dan de smits ( nama pos keamanan pada tembok keliling ) yang merupakan nama tempat Negeri Belanda, atau nama yang mempunyai kaitan erat dengan negeri tersebut, tidak membentuknya menjadi belanda kecil. Perkmbangan selanjutnya lebih menegaskan kembali kehadiran warna yang berasal dari bagian-bagian eropa lainnya. Arsitektur kota lama Semarang, seperti yang masih terlihat sekarang lebih mengesankan sebagai perpaduan berbagai tradisi dan gaya yang berkembang di eropa yang memperoleh sedikit sentuhan lokal. Baru pada tiga puluhan gaya arsitektur yang berakar dinegeri Belanda masuk ke kota lama. Gaya arsitektur modern ini dikembangkan dari hasil pencarian kelompok pelukis de stijl oleh W.M.Dudok arsitek Liem Bwan Tjie (1930) dan J.E.L Blankenberg (1938) masing-masing menghadirkan rancangan kantor untuk Oei Tiong Ham Concern di Hoogendorp sstraat ( jl. Kepodang ) dan kantor borsumij borneo sumatra maatschappij yang baru, persis di sebelah barat gereja blenduk. Kendati rancangan mereka yang mempunyai ciri dinding polos dan jendela kaca yang menerus membentuk garis-garis horizontal yang sangat kuat, dipadukan dengan menara yang menjulang berhiaskan panel kaca sebagai titik tangkap sangat kontras dengan sekelilingnya, pendekatan yang dilakukan disini terhadap kondisi iklim tidak bergeser jauh dari yang diterapkan oleh kolega yang telah disebut sebelumnya. Bidang dinding yang seperti selubung tersebut sebernarnya merupakan bungkus bangunan yang ada didalamnya. Konsep serambi disini berlaku sebagai isolasi panas. Kantor Borsumij yang sampai sekarang masih kokoh berdiri sekarang ditempati oleh P.T Kerta Niaga, sedangkan Oei Tiong ham concern sekarang berada ditangan Rajawali Nusindo. Satu lagi bangunan yang bergaya serupa ialah Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jl. Mpu tantular KOTA LAMA DAN PERKEMBANGANNYA Kota Lama Kota Semarang dulunya merupakan Kota benteng yang merupakan daerah permukiman khusus bangsa Belanda dan pusat kota lama pada saat ini dikenal sebagai kawasan Kota Lama (Oude Staat) Semarang. Kota Lama didesain dalam suatu pola konsentrik denagn nodes pada paradeplein yang merupakan plaza pusat dengan gereja dan segala aktivitas perdaganagn di sepanjang tepi jalan. Kota ini seolah terbelah dua oleh Heerenstrat yang merupakan bagian dari jaringan de groote postweg yang dibangun pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Daendels. Aksis ke arah utara dan selatan yang dibentuk oleh Jl. Suari telah memunculkan Gereja blenduk sebagai focal point dari arah Pekojan. a. Awal Pertumbuhan Kota Benteng Pertumbuhan Kota Lama dipengaruhi oleh: - Pemberontakkan orang Cina melawan Belanda (1742) - Pindahnya kantor pusat dagang VOC dari Jepara ke Semarang (3 Januari 1778) VOC kemudian memperkuat diri denga membangun benteng-benteng perathanan termasuk pembanguann kota benteng untuk melindunginya dari serangan penduduk asli. b. Pertumbuhan Kota Lama pada pertengahan abad ke-18–Awal abad ke-19 Sampai pertengahan abad ke-18, Semarang mengalami perkembangan yang semakin pesat, demikian pula keadaan dalam benteng Belanda yaitu dnegan tumbuhnya perkantoran pemerintah karena fungsinya sebagai pusat pemerintahan, kantor dagang karena fungsinya sebagai pusat perniagaan, fasilitas sosial dan lain-lain. Kemajuan ini didukung juga oleh peran penting sungai Semarang sebagai jalur transportasi perkonomian utama. Pada waktu itu benteng ini memiliki tiga buah gerbang besar beberapa gerbang kecil, serta enam buah pos keamanan yang terletak menyebar. Tiga buah gerbang besar itu adalah: - De Wester ( Pintu Gerbang Barat) / Gouvernementspoort. Berlokasi di Gouvernements Brug/ Jembatan Gupernemen atau dikenal juga sebagai jembatan Berok. - De Zulder (Pintu Gerbang Selatan). Berlokasi di sekitar jalur lintas trem dekat awal Jalan Pekojan dan Jl. H. Agus Salim. - De Ooster Port. Berlokasi di akhir Heerenstraat (sekarang di persimpangan antara jalan Raden Patah dan Jl. MT Haryono) Sedangakan enam buah pos keamanan tersebut dikenal sebagai: - De Hersteller. Berlokasi di Jl. Ronggowarsito dan Jalan Pengapon - Ceylon. Berlokasi di halaman Gerja Gedongan - Amsterdam. Berlokasi di Jl. H. Agus Salim - De Lier. Berlokasi di kompleks Kantor Pos Lama - De Smits. Berlokasi di Boomlama - De Zee. Berlokasi di Boomlama Tahun 1824 benteng yang mengelilingi Kota Lama dibongkar, berikut gerbang dan pos keamanannya. Hal ini disebabkan oleh karena Belanda ingin mengembangkan Semarang sebagai Kota Modern, yaitu dengan: - Membuka jaringan kereta api - Membuka terusan pelabuah yang diberi nama Kali Baru dan kawasan sekitarnya Revolusi ini dengan cepat mengembangkan kehidupan ekonomi Semarang yang pada masa itu terbagi menjadi 2 morfologi urban denagn dua domain utama, yaitu: Domain Ekonomi. Memiliki inti ganda yaitu Kota Lama dan Pecinan-didukung oleh dua elemen primer transportasi yaitu kanal pelabuhan dan stasiun kereta api. Domain Politik. Memiliki init ganda yaitu sarana pemerintahan Kota Lama dan pusat pemerintahan tradisional di Kanjengan, serta didukung oleh elemn primer berupa benteng. Pertumbuhan Kota Lama pada Pertengahan Abad-19 Awal Perang Dunia II Pada masa ini Kota Lama sudah buka merupakan wilayah Khusus Belanda, aktivitas perekonomian juga sudah tidak didominasi oelh bangsa Belanda. Berdasarkan data yang dibuat pada tahun 1935, maka pada saat itu dalam kawasan Kota Lama telah ditemui gedung-gedung sebagai berikut: Stasiun Kereta Api, stasiun trem, Gereja Katolik, Gereja Kristen, Susteran, kantor notaris, kantor redaksi, konsulat (Muangthai, Belgia, Perancis, Inggris). Bank, perusahaan perkebunan, rumah jompo, klub-klub, kantor penerbit, rumah yatim piatu, pengadilan negeri, kantor pemerintah, kantor usaha dagang, sekolah teknik, staadschouwburg, hotel, kantor polisi. Kota Lama pada Masa Penjajahan Jepang – Setelah Perang Dunia II Pada masa ini hampir tidak ada pembangunan di Semarang. Kota Lama yang merupakan pusat kota menajdi kosong karena sebagian penghuninya yang berkebangsaan Eropa terpaksa menyelamatkan diri dari kejaran tentara Jepang. Bangsa Eropa yang berhasil ditangkap segera dimasukkan ke dalam kamp internir yang berdasarkan peta ”prisonner of War and internment camps” tanggal 15 Juni 1945 terlihat bahwa salah satu kamp internir itu dapat ditemukan di JL. Ronggowarsito yaitu di areal rumah puatu, sedangkan hotel Jansen yang dulunya merupakan hotel Eropa digunakan sebagai markas tentara Jepang. Perang yang terjadi antara Jepang dan Sekutu telah mengakibatkan banyak kerusakan di beberapa bagian kota Lama PENERAPAN GAYA KOLONIAL Mengingat dasar teori kolonial, terutama kolonial yang berasal dari Belanda adalah penerapan dari teori pendesainan kota Renaissance dan juga ada sebagian yang berdasarkan peraturan-peraturan tata kota yang dibuat oleh pemerintah Belanda selama mereka berada di Indonesia, maka berikut ini adalah poin-poin dari teori-teori tersebut yang dapat mencirikan kekolonialan sebuah kota. Poin-poin tersebut antara lain: 4.1.1 Pola Penataan Kota 1. Desain Kota Berbentuk Bintang Radial Penerapan pengaturan kota yang disusun oleh jalan radial dari titik sentral, yang biasanya diusulkan sebagai lokasi untuk sebuah gereja, istana, atau kemungkinan sebuah kastil (dalam kasus kota lama, titik sentralnya adalah gereja Imannuel (Blenduk), juga terlihat pada kota lama 2. Desain dengan Komposisi Poligon Mengingat fungsi pertama wilayah Kota Lama sebagai benteng, desain kota lama yang menggunakan komposisi Poligon sebagai suatu bentuk yang menguntungkan untuk pertahanan. Sudut yang dibentuk oleh dinding menjadi lokasi benteng, yang melindungi dari api dapat diarahkan melawan musuh yang berusaha memanjat dinding. Walaupun sekarang benteng sudah dirubuhkan begitu juga dengan pos-pos penjagaannya, namun, penerapan komposisi poligon ini masih berfungsi di mana dalam penerapannya menyebabkan pertemuan jalan yang adalah suatu manfaat yang berarti pada pemfokusan pada bangunan sentral penting sangatlah sesuai. Hal ini dapat dilihat pada letak gereja Blenduk yang berada di pertemuan 3 jalan. Batas kawasan yang berbentuk poligon tadinya adalah dinding benteng dengan pos-pos penjagaan di tiap-tiap sudutnya 4.1.2. Building Form & Massing 1. Penggunaan detail klasik Roma Penggunaan detail klasik Roma pada bangunan yang terlihat dari jarak yang besar. Aturan klasikal dan ornamen, dengan detail proporsi terbaik mereka. Gbr .5 Contoh Massa Bangunan di Kota Lama,dimana bentuk dari masa bangunannya terlihat sangat megah yang mencerminkan arsitektural kolonial dan masih berdiri hingga sekarang meskipun ada beberapa bangunan yang tidak terawat 2. Landmark Ciri lain yang seharusnya terdapat pada kota-kota kolonial yang mengadaptasi gaya kota renaissance adalah penggunanaan tugu/bangunan yang tinggi sebagai poin kunci kota. Di Kota Lama praktek dari teori ini dapat dilihat pada menara-menara gereja Blenduk yang pada awalnya dirancang lebih tinggi daripada bangunan-bangunan di sekitarnya. Gbr.7 Gereja Blenduk yang dahulu merupakan pusat orientasi masyarakat kota semarang dikawasan kota lama & Situasi Gang di Kota Lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan ciri kota lama 3. Adanya Pengorganisiran konstruksi dan bangunan Hal ini kurang lebih sama dengan teori pengaturan building mass & form di masa sekarang. Dapat dilihat bahwa di kota lama tinggi bangunan pada masing-masing kavling biasanya memiliki ketinggian dan ciri yang sama, sehingga ada kesan tertib yang dihasilkan dari pengaturan tersebut. Gbr. 8 Pengorganisasian massa Bangunan & Situasi Gang-gang Kota Lama 4.1.3 Tata Guna Lahan 1. Adanya Zona Untuk Setiap Kegiatan Pada teori kolonial, teori ini dalam sisi sosial dipersempit maknanya menjadi adanya pembagian zona untuk kraton, ruko dan benteng. Di mana kraton melambangkan zona pribumi, ruko melambangkan zona pendatang dari Cina, dan benteng yang melambangkan zona Belanda/pendatang dari Eropa. Untuk penerapannya pada Kota Lama, dulu hal ini benar-benar diterapkan 100%, tapi mengingat perkembangan zaman, untuk zona pecinannya, sekarang letaknya menjadi agak terpisah walaupun dulunya juga terletak pada bagian yang masih termasuk dalam satu kawasan ini. 2. Adanya kota satelit untuk pekerja

    GBPP MATA KULIAH PERANCANGAN ARSITEKTUR 4

    No full text
    Materi pada mata kuliah Perancangan Arsitektur VI ini, merupakan kelanjutan dari mata kuliah Perancangan Arsitektur III, berisikan penjelasan teori-teori dan penerapannya yang berupa penugasan. Tugas yang harus dikerjakan mahasiswa berupa aktivitas studio dengan cara diskusi, sketsa-sketsa, pembimbingan individu, pembimbingan kelompok, kegiatan grafis. Mata kuliah ini didukung oleh mata kuliah semester sebelumnya. Tugas berupa redesain bangunan gedung sebagai fasilitas pelayanan umum yang ada di beberapa kawasan di kota Semarang. Bangunan2 tersebut berupa gedung bertingkat atau bangunan 2 lantai seperti Kantor kelurahan, praktek dokter bersama, restoran keluarga, showroom mobil, dan mini market. Mata kuliah ini menjadi dasar bagi mata kuliah Perancangan Arsitektur

    GBPP DAN SAP MATA KULIAH TUGAS AKHIR

    No full text
    Mata kuliah ini merupakan terminal akhir dan rangkuman dari seluruh mata-kuliah2 pokok dan penunjang yang diberikan pada semester2 sebelumnya. Cakupan rancangan dan masalahnya sudah lebih luas dan lebih kompleks. Tema tugas akhir adalah bangunan 2 (dua) lantai dengan luas + 300 m2 – 400 m. Pada tugas akhir ini mahasiswa mengajukan judul2 proyek nyata, minimal 2 (dua) judul sebagai sinopsis dilengkapi contoh2 RAB serta RKS, yang akan diuji oleh tim dosen dalam sidang ujian sinopsis. Setelah hasil sidang sinopsis dinyatakan layak, tahap berikutnya mahasiswa masuk ke studio untuk mengerjakan proyek akhirnya dibawah bimbingan dosen pembimbing. Produk akhir dari studio tugas akhir adalah gambar kerja lengkap yang terdiri dari gambar2 arsitektur, gambar2 struktur konstruksi, gambar2 detail, RAB serta RKS sebagai materi untuk ujian sidang akhir

    GBPP mata kuliah PERANCANGAN ARSITEKTUR IV, D3 Desain Arsitektur

    No full text
    GBPP mata kuliah PERANCANGAN ARSITEKTUR IV, D3 Desain Arsitektur Deskripsi Singkat : - Mata kuliah ini merupakan rangkaian atau serial dari mata kuliah Perancangan Arsitektur 1 (PA 1) sampai dengan Perancangan Arsitektur 3 (PA 3). Cakupan rancangan dan masalahnya sudah lebih luas dan lebih kompleks dibandingkan PA 1 sampai dengan PA 3. - Tugas PA 4 adalah bangunan pelayanan umum 2 (dua) lantai dengan luas + 300 m2 – 400 m2 - Pada mata kuliah ini mahasiswa diberikan dasar-dasar penyusunan program ruang, sehingga data studi banding dari tugas yang diberikan dapat digunakan sebagai gambaran nyata dalam pemahaman program ruang

    Morfologi Kawasan Simpang Lima Di Semarang

    No full text
    9hlm,gbr,28c

    STUDI SISTEM PEMBAYANGAN PADA RUMAH MINIMALIS Studi kasus pada Perumahan Mega Residence Semarang

    No full text
    Rumah merupakan suatu wadah atau tempat berlindung bagi manusia untuk melakukan kegiatan didalamnya. Rumah yang baik yaitu rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya, sehingga penghuninya merasa nyaman saat melakukan aktifitas didalamnya. Nyaman yang dimaksudkan adalah rumah terasa sejuk, memiliki intensitas cahaya yang cukup pada siang hari dan tidak bising. Indonesia termasuk pada daerah beriklim tropis basah dengan intensitas matahari yang cukup tinggi dan curah hujan yang cukup tinggi pada bulan-bulan tertentu. Iklim tropis basah ini dapat direspon dengan desain tritisan yang lebar. Dalam arsitektur, membuat suatu bangunan rumah tinggal di daerah Semarang yang baik, harus mencirikan tropis, salah satu ciri bangunan tropis yaitu dapat melindungi dinding bangunan dari radiasi sinar matahari langsung, karena radiasi sinar matahari langsung pada dinding bangunan dapat merambatkan panas kedalam ruang, sehingga menaikan suhu dalam ruangan. Radiasi sinar matahari langsung pada dinding bangunan dapat ditanggulangi dengan pembayangan dari tritisan pada dinding bagunan sehingga radiasi sinar matahari tidak langsung merambatkan panas pada dinding bangunan. Radiasi sinar matahari langsung pada bangunan juga dipengaruhi oleh orientasi fasade bangunan terhadap arah litasan matahari, jadi fasade bangunan yang menghadap kearah timur dan barat mendapatkan intensitas radiasi sinar matahari yang lebih banyak. PENGERTIAN RUMAH MINIMALIS Rumah sebagai tempat berlindung manusia tidaklah dapat dirancang dan dibangun dengan sekenanya. Rumah yang baik dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Nyaman disini dapat berarti rumah terasa sejuk, memiliki aliran udara yang lancar, cukup terang tanpa bantuan cahaya di siang hari, dan tidak bising. Minimalis adalah pola berpikir, bekerja, dan suatu cara hidup. Sebuah cara pandang baru dalam melihat desain sebagai refleksi cara hidup masyarakat urban yang serba praktis, ringan, efisien, dan penuh kesederhanaan. Rumah minimalis pun hadir dengan karakter lebih jelas (bentuk dan ruang geometris, sederhana), lebih baik (kokoh), dan lebih kuat dengan ruang- ruang yang kosong (sedikit ornamen dan perabotan). Prinsipnya semakin sederhana, maka kualitas desain, ruang yang ada, dan penyelesaian bidang struktur harus semakin lebih baik. John Pawson yang dianggap sebagai guru "minimalisme" menghadirkan desain rumah yang minim garis, suasana yang hening dan indah. Minimum is ultimate ornament. Minimum menjadi tujuan sekaligus ornamen itu sendiri yang sederhana dan murni (simple and pure). Garis-garis lurus, bidang-bidang datar yang mulus, terkadang kasar, dan pertemuan bidang yang serba siku tegak lurus. Blocking massa, material, pencahayaan, pengulangan, sirkulasi ringkas, optimalisasi multifungsi ruang dan berurut. Rumah minimalis pun hadir dengan karakter lebih jelas (bentuk dan ruang geometris, sederhana), lebih baik (kokoh), dan lebih kuat dengan ruang- ruang yang kosong (sedikit ornamen dan perabotan). Prinsipnya semakin sederhana, maka kualitas desain, ruang yang ada, dan penyelesaian bidang struktur harus semakin lebih baik. Rumah minimalis menekankan bentuk desain yang lugas, polos, sederhana, tidak rumit, kompak, dan efisiensi ruang. Bentuk, ukuran, dan tata letak dari rumah bergaya minimalis, seperti untuk ruang tidur, ruang tamu, kamar mandi, atau dapur, secara umum relatif sama dengan rumah bergaya lain seperti modern, mediterranean, atau klasik. Ciri paling menonjol rumah minimalis semuanya serba simpel, garis tegas, persegi, kotak-kotak, dan serba siku. Bahkan minimalis murni lantai rumah tidak difinishing. Tidak menggunakan keramik, hanya diplester atau diberi tekstur batu. Begitu juga dengan pergola, tidak lengkung, tapi lurus, garisnya tegas, dan simpel. Inti dari minimalisme itu sebenarnya adalah mendapatkan 'hasil maksimal dari sesuatu yang minimal. Pada akhirnya nilai keindahan rumah minimalis tidak lagi mengandalkan ornamen dan obyek artifisial, tetapi lebih bermakna kepada sebuah kejujuran bentuk, fungsi, dan penjiwaan ruang yang diciptakan. Maka tak heran jika kemudian rumah minimalis menjadi pilihan masyarakat urban yang merindukan kejujuran, kesederhanaan, dan kepolosannya. Pemakaian beragam bahan material seperti kayu, batu bata, batu kali, kaca, beton ekspos, atau baja juga dapat tampil murni. Ekspos dominasi bahan material tertentu akan menghasilkan efek yang berbeda-beda. Desain dan perhitungan struktur yang detail dapat menghemat pemakaian bahan material dengan hasil bangunan tetap optimal. Penyelesaian mulai dari lantai, dinding, pintu, jendela, lubang angin, skylight, plafon, hingga atap, dengan kombinasi pemakaian bahan secara konsisten. Rangka (beton, baja), dinding (kaca, kayu, beton polos/ekspos, baja, batu kali, batu bata, hebel, batako), pintu dan jendela (kayu, metal), tangga (beton, baja, kayu, fiberglass), skylight (fiberglass), lantai (semen, teraso, keramik, marmer, parquet), plafon (tripleks, gipsum) atau tanpa plafon (beton ekspos, ekspos rangka atap baja, kayu) dan atap (genteng, sirap, baja). Penggunaan warna-warna cerah (merah, oranye, kuning) pada beberapa bidang ekspos akan memperkuat aksen rumah minimalis dan menjadikannya titik pusat perhatian lingkungan. Istilah minimalis sebagai satu konsep atau gaya dalam rancangan rumah tinggal tengah marak digunakan di masyarakat kita, khususnya sejak sekitar tahun 1990-an. Sekalipun konsep dasar minimalis ini telah muncul akibat revolsi industri dan kebangkitan paham modernisme dalam sejarah arsitektur dan berkembang sejak tahun 1920-an setelah kelahiran gaya arsitektur International Style yang mengusung tema functionalism (fungsinal), clarity (kejelasan) dan simplicity (kesederhanaan). Satu gerakan penolakan terhadap peniruan dan pengulangan bentuk-bentuk lama serta penggunaan ornamentasi masa klasik yang dipandang berlebihan, non struktural dan sekadar tambahan yang sebenarnya tidak memberi makna apa-apa dalam arsitektur. Di lain pihak menyuarakan kenyataan kemajuan teknologi dalam proses rancangan, konstruksi dan struktur bangunan yang memberi kemudahan, akurasi dan efisiensi. Tokoh arsitek modern yang lantang menyuarakan gerakan ini antara lain adalah Berlage di Belanda, Peer Behrens di Jerman, Louis Sullivan, Frank Llyod Wright dan Ludwig Mies van de Rohe di Amerika yang terkenal dengan pernyataannya bahwa keindahan dalam arsitektur adalah karena kesederhanaannya Less is more, Le Corbusier dari Perancis yang terkenal dengan sistem Le modular- nya, satu konsep rancangan dengan pendekatan perulangan unit-unit bangunan untuk kemudahan penyusunan standar fungsional dan modulasi sistem struktur serta kecepatan pembangunan yang memungkinkan sistem konstruksi dengan material bangunan prefabrikasi dan Adolf Loos di Inggris yang menyimpan kebencian pada ornamentasi dan dipandangnya hanya sebagai satu bentuk ketakutan terhadap kekosongan ruang (horror vacui). Pernyataannya yang terkenal adalah ornament is crime. Di Indonesia arsitektur minimalis berkembang pesat melalui kelompok Arsitek Muda Indonesia akibat penguasaan teknik presentasi desain melalui alat bantu teknologi komputer. Satu terobosan penting dalam bidang sajian gambar yang praktis dan nyata. Sistem modul, akurasi dimensi, pilihan warna, pencahayaan dan tekstur tersedia sedemikian rupa oleh teknologi informasi yang sedang berkembang. Desain arsitektur hadir melalui konfigurasi pilihan referensi yang telah disediakan teknologi informasi dengan cepat. Secara substantif minimalis merupakan satu bentuk pilihan keputusan dalam desain bangunan akibat intervensi budaya sebagai satu pola pikir, aktifitas dan gaya hidup. Sebuah cara pandang yang merefleksikan gaya hidup masyarakat masa kini yang cenderung cepat, praktis, efisien dan efektif dalam berbagai bidang. Hal ini juga dapat dilihat pada pola makan, pakaian, komunikasi dan sebagainya. Hukum ekonomi yang menekankan pada usaha yang sesedikit mungkin untuk pencapaian yang maksimal merupakan landasan penting dalam gaya hidup minimalis. Paham yang dianut adalah siapa cepat dia dapat dan waktu adalah uang. Tidak ada lagi jargon masyarakat Jawa alon-alon waton kelakon (pelan asal tercapai) atau biar lambat asal selamat. Karena setiap aktifitas pencapaian hidup diukur dan berorientasi pada waktu, persaingan dan keterbatasan sumber daya dan energi. Keterlambatan adalah awal kekalahan. Konsep minimalis dalam arsitektur merupakan satu pendekatan estetik yang menekankan pada hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional baik dalam estetika spatial, bentuk dan struktural. Secara spatial ruang-ruang spesifik disusun sedemikain rupa agar memiliki tingkat fleksibelitas yang tinggi dalam ketersusunan dan kemudahan fungsinya. Bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis tanpa ornamen merupakan karakter utama yang mendominasi permukaan dan massa bangunan. Inovasi berbagai material seperti baja, beton, dan kaca, standardisasi dan efisiensi memberi tantangan baru dalam teknologi dunia rancang bangun. Prinsipnya semakin sederhana, maka kualitas sebuah desain, fungsi ruang yang ada, dan penyelesaian sistem struktur akan semakin lebih baik. Minimum adalah tujuan sekaligus nilai dari estetika itu sendiri. Kontinuitas rancangan sejak gagasan penentuan garis lurus, bidang datar dan pertemuan bidang serba siku tegak lurus, konstruksi volumetrik dan gubahan massa, kejujuran material, olahan cahaya dan udara, perulangan modul, sirkulasi ringkas, ruang multifungsi dan berurut serta kejelasan sistem struktur merupakan ciri utama konsep arsitektur minimalis. Minimalis juga tampak pada sikap dan perilaku perancang dalam berargumentasi, mengenali dan menuntun klien agar menyadari dan berseda mereduksi berbagai kebutuhan yang tidak penting. Hanya fungsi esensial yang dipertahankan sehingga bangunan disebut minimalis karena hasil sebuah proses untuk mendapatkan ruang yang betul-betul termanfaatkan. Minimalis tidak ditampilkan sekadar tujuan akhir bentuk tetapi juga keberhasilan dalam memurnikan fungsi itu sendiri. Arsitektur minimalis adalah ekspresi masyarakat urban kontemporer yang kompetitif melalui sebuah cara hidup jujur, praktis dan sederhana secara total. Secara garis besar, arsitektur minimalis dapat diartikan sebagai ilmu bangunan atau arsitektur yang berlandaskan pada sifat-sifat kesederhanaan dan keterbatasan yaitu simple, clean, praktis, dan meekankan empty space pada fasad, struktur dan interior bangunan dengan tidak mengesampingkan segi astetis. Keindahan dari kesederhanaan dengan menghilangkan ornamen-ornamen pada dinding. Pemikiran seperti ini berawal dari keinginan umtuk melenyapkan pemborosan dari para borjuis pada penampilan bangunan dan menempatkan kembali pada etika umum masyarakat yang sesungguhnya, yaitu kesederhanaan. Saat ini banyak sekali arsitek dunia yang menerapkan arsitektur minimalis. Diantaranya, Tadao ando, Mies Van Der Rohe, & Johnson Pawson. Karya arsitektur minimalis didasarkan pada: Kesederhanaan Penggunaan warna putih Pencahayaan ruangan Ruang dengan perabot secukupnya/ minimalis. Prinsip-prinsip pokok dari arsitektur minimalis itu sendiri antara lain: Komposisi bentuk geometri Komposisi bentuk geometri mencerminkan sifat kesederhanaan yang penerapannya relevan dengan memiliki keteraturan yang menunjang efisiensi dan efektifitas pembangunan. Kesederhanaan Mengingat faktor biaya pembangunan yang sangat tinggi pada saat ini, kesederhanaan bentuk suatu bangunan sangat menguntungkan, dengan mengurangi bentuk/ornamen-ornamen yang tidak berguna Penggunaan material alami Prinsip kedekatan dengan lingkungan sekitar dalam penerapan prancangan sebuah bangunan dapat diwujudkan dengan penggunaan material-material dari alam. Permainan cahaya dan pembayangan Sinar matahari sanga penting sebagi sumber pancahayaan alami dan efek pembayangan pada tampilan rumah. Dengan penggunaan material kaca sebagai salah satu karakteristik arsitektur minimalis, unsur cahaya dapat dimaksimalkan untuk pencahayaan alami ruang pada siang hari. Dari karakteristik yang ada secara garis besar prinsip-prinsip dasar dan faktor-faktor pembentuk ruang dalam arsitektur minimalis adalah: Faktor bukaan ruang (derajat ketertutupan) Unsur bukaan dan pola bukaan sangat berpengaruh pada persepsi manusia terhadap orientasi dan kesan yang ditimbulkan oleh keseluruhan ruang. Pada penempatan bukaan ruang disesuaikan dengan kegunaan yang diinginkan, sehingga hal ini juga sangat berpengaruh terhadap fasad yang ditimbulkan pada bangunan. Cahaya dan ruang Intensitas cahaya dapat memberikan inspirasi sesuatu yang tetap. Sehingga dapat memberikan dan memperkuat pengaruh visual permukaan-permukaan geometri, tekstur, hirarki, ruang, dan hubungan ruang dalam desain minimalis. Natural (alami) Yang dipertimbangkan dan menentukan letak bukaan dan penutupan sebuah ruang adalah pusat pandangan dan orientasinya. Beberapa ruang sesuai dengan fungsinya dalam desain arsitektur minimalis dapat memiliki fokus intern, misalnya jendela dan bukaan pada dinding memberikan suatu kesatuan hubungan visual dengan alam. Hal ini dimaksudkan sesuai dengan karakteristik arsitektur minimalis yang ingin membentuk suatu ketenangan dan kenyamanan. Warna Desain arsitektur minimalis tidak banyak mengkomposisikan warna. Ditinjau dari karakteristik yang ada, secara prinsip disebutkan ciri-ciri sebagai berikut: Mengutamakan kesederhanaan Peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitar Mengutamakan penciptaan ruang yang nyaman bagi manusia Untuk penggunaan warna pada arsitektur minimalis lebih cenderung menggunakan warna-warna natural dan monochrome. Penampilan yang dahulu berlebihan dan sekarang berubah ke dalam pola yang lebih sederhana. Tujuan dari semua itu adalah memenuhi hasrat manusia akan kualitas ruang yang tenang, kenyamanan dengan material solid dan menikmati pergerakan alam. Fasad Seperti halnya manusia, bangunan juga memiliki wajah. Layaknya wajah kita, wajah bangunan pun diupayakan agar tampil apik dan menarik. Dalam bahasa arsitektur, bagian muka, depan, atau wajah bangunan itu disebut fasade. Sebagai wajah, ia mewakili penampilan bangunan dari luar yang bisa dinikmati oleh siapapun yang melewati bangunan tersebut. Bicara mengenai fasade, saat ini terdapat dua pemahaman dalam perancangan desain fasade. Pertama, fasade dipahami sebagai 'kulit' yang terpisah dari isi bangunan. Sementara itu, ada yang memahami fasade sebagai sesuatu yang mewakili keseluruhan karakter bangunan. Bagi penganut fasade sebagai kulit, desainnya begitu bebas, mengabaikan filosofi dan fungsi dalam bangunan. Desainer melakukan beragam eksperimen melalui pencarian yang eksploratif. Sementara mereka yang memegang prinsip kesatupaduan antara kulit dan isi bangunan, memaknai fasade sebagai sesuatu yang lahir dari dalam. Tepatnya lagi, fasade merupakan sesuatu yang lahir sebagai cerminan ekspresi sang empunya bangunan. ''Layout ruang dalam tercermin pula dalam kulit bangunan. Dengan kata lain, tampilan luar adalah hasil eksekusi dari apa yang ada di baliknya,'' kata Imelda Akmal, arsitek yang dikenal pula sebagai penulis buku-buku arsitektur. Gaya rumah minimalis tengah digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Gaya minimalis menjadi andalan banyak pengembang perumahan saat ini. Dengan prinsip 'form follow function' atau bentuk mengikuti fungsi, gaya minimalis memiliki jawaban atas kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan desain simpel, bersih, dan praktis. Desain minimalis membuang segala ornamen dan hiasan-hiasan berlebihan yang sebenarnya memang tidak perlu. Tampilannya jujur, apa adanya, dan tidak ribet. Hanya saja, terkadang gaya minimalis membuat orang merasa jenuh. Hunian jadi terasa sangat steril, rapi, dan dingin, layaknya ruang kantor. Ia kehilangan kesan hangat yang tentu ingin dirasakan penghuni sebuah rumah. RUMAH MINIMALIS DI PERUMAHAN MEGA RESIDENCE SEMARANG Perumahan Mega Residence merupakan salah satu perumahan yang berada di Semarang Selatan tepatnya di Kecamatan Banumanik. Perumahan ini dibangun diatas lahan seluas ±10 ha dengan menghadirkan tatanan design dengan sistem cluster yaitu pengelompokan tipe rumah menjadi blok-blok dengan konsep disain tropis minimalis yang menghadirkan nuansa hunian idaman yang menyatu dengan alam dan suasana perumahan yang nyaman. Desain tropis minimalis yang diterapkan pada perumahan Mega Residence memberikan sentuhan artistik dan elegan, didukung dengan penataan lanscape sisten cluster yang memberikan keamanan dan privasi tersendiri bagi penghuninya. Keharmonisan bentuk merefleksikan kenyamanan ruang di dalamnya. Pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik disertai dengan tata ruang yang proporsional memberikan SENSE OF RESIDENTIAL yang optimal sehingga mengalirkan suasana kekeluargaan. Lahan mempunyai kontur yang agak miring. Perumahan ini hanya dapat diakses oleh sebuah Main Entrance yang dapat diakses dari jalan Karang Anyar. akses mencapai lokasi hanya dibutuhkan +15 menit dari pusat kota Simpang Lima atau hanya +500m dari jalan perintis kemerdekaan yang merupakan jalan arteri yang menghubungkan Kota semarang dengan Salatiga. Untuk masuk kekawasan perumahan ini juga bisa dicapai dari arah utara memalui jalan Grafika sedangkan dari arah Timur melalui jalan Mpu Sendok. Perumahan Mega Residence Tipe terletak pada kawasan strategis, yaitu pada kawasan yang masih bisa dikatakan sebagai kawasan yang sedang berkembang, dan merupakan kota baru di semarang atas karena telah banyak pusat-pusat pendidikan dan dekat dari tempat perbelanjaan. Selain itu semarang atas merupakan lahan perumahan yang bagus mengingat semarang bawah adalah kota yang sering terjadi banjir. Material Bangunan Pada bangunan di perumahan Mega Residence memiliki konsep minimalis. Bukaan dinding didominasi menggunakan elemen kaca tanpa meninggalkan garis-garis geometris dan tetap menonjolkan fungsi estetik bangunan secara keseluruhan. Terdapat juga kelemahan dari penggunaan elemen kaca ini yaitu kaca membiaskan panas sehingga kondisi didalam bangunan relatif menjadi panas terutama pada pagi bagi rumah yang menghadap timur dan sore bagi rumah yang menghadap barat. Untuk menghindari sinar matahari maupun air hujan yang berlebihan digunakan tritisan diatas kusen jendelanya. Untuk kusen-kusennya sebagian besar rumah pada perumahan Mega Residence terbuat dari kayu yang difinishing coating Atap pada perumahan di Mega Residence menggunakan bahan atap genting dan plat beton.Atapnya campuran atap datar dan atap miring.Untuk terlihat minimalis aksen bangunan diperoleh dari penonjolan bidang-bidang geometris sehingga tampilan bangunan lebih berkesan minimalis, serta penggunaan finishing cat berwarna coklat pada atap rumahnya. Pencahayaan alami diperoleh dari cahaya yang masuk kedalam ruangan dari bukaan-bukaan dinding yang ada.Penggunaan material kaca yang dominan tanpa didukung lebar tritisan yang menyebabkan sinar matahari yang masuk kedalam ruangan masih berlebihan.Terdapat elemen horizontal maupun vertikal berupa tritisan selebar 50 cm.Lebar ini dirasa kurang sehingga sinar matahari berlebih masih masuk kedalam ruangan.Untuk mencegah hal tersebut digunakan tirai dan kacanya menggunakan sanblast. Orientasi Bangunan Pada Perumahan Mega Residence sebagian besar rumah menghadap utara dan selatan, tetapi masih ada beberapa rumah yang menghadap kearah timur, barat, selatan, dan barat daya. Hal ini di maksudkan pengembang perumahan untuk mengoptimalkan tapak yang ada. Dari ketiga type rumah di perumahan Mega Residence terdapat tiga type rumah yaitu, type Postmo, Contempo dan Cosmo yang sebagian besar berorientasi fasade bangunan menghadap utara dan selatan walaupun masih ada beberapa rumah type tersebut yang berorientasi menghadap timur dan barat.. Pembayangan Pada Bangunan Dari keempat Type rumah di perumahan Mega Residence, kami menggunakan tiga type rumah sebagai sampel sistem pembayangan pada bangunan tersebut. Pemilihan tiga type bangunan tersebut berdasarkan lebar tapak yang sama dan penggunaan material bangunan yang sama. Selain itu ketiga type rumah tersebut mempunyai empat orientasi fasade bangunan, yaitu fasade yang menghadap Utara, Selatan, Timur, dan barat. Idealnya sebuah rumah dapat terbayangi secara optimal dari pukul 10.00 – 15.00, karena pada jam-jam tersebut radiasi matahari lansung pada dinding dapat menambahkan panas dalam ruangan. Oleh karena itu kami menggunakan lima waktu pengukuran sebagai sampel, yaitu pukul 09.00 dan 10.00 sebagai sampel untuk pagi hari, pukul 13.00 sebagai sampel pada siang hari, dan pukul 15.00 dam 16.00 sebagai sampel untuk sore hari. Sedangkan untuk menentukan tanggal pengukuran, kami menggunakan sampel tanggal 21 Juni dan 21 Desember. Pemilihan sampel pengukuran pada tanggal 21 Juni karena pada tanggal tersebut matahari beredar pada bumi bagian utara. Sedangkan sampel pada tanggal 21 Desember dipilih karena matahari beredar pada bagian selatan bumi. Untuk sampel bangunan yang menghadap utara, kami hanya menggunakan sampel pada tanggal 21 Juni. Karena pada tanggal 21 desember, matahari berada pada bagian selatan bangunan, jadi fasade bangunan yang menghadap utara akan terbayangi seluruhnya. Sedangkan untuk sampel bangunan yang menghadap selatan, kami hanya menggunakan sampel pada tanggal 21 Desember. Karena pada tanggal 21 Juni, matahari berada pada bagian utara bangunan, jadi fasade bangunan yang menghadap selatan akan terbayangi seluruhnya. Untuk bangunan yang menghadap timur kami menggunakan sampel pada pagi hari saja (pukul 09.00 dan 10.00), karena pada siang hari (pukul 13.00) dan sore hari (pukul 15.00 dan 16.00) bangunan akan te
    corecore