1,720,968 research outputs found
Forgivingness ditinjau dari kepribadian big five pada mahasiswa UIN Maliki Malang
INDONESIA:
Hubungan interpersonal sehari-hari dengan orang lain amat rentan untuk membawa konflik dan ketidakcocokan. Tanpa kapasitas untuk memaafkan seseorang, kehidupan sosial akan menjadi intolerir. Kapasitas untuk memaafkan pelanggaran dalam peristiwa sehari-hari secara umum inilah yang disebut dengan forgivingness. Salah satu faktor yang mempengaruhi forgivingness adalah kepribadian. Model teori kepribadian yang banyak dipakai untuk menguji pengaruhnya terhadap forgivingness adalah model kepribadian big five. Dimensi model big five terdiri dari neuroticsm, extraversion, openness, agreeableness dan conscientiousness. Penelitian pada konteks masyarakat barat menunjukkan bahwa agreeableness dan neuroticsm memiliki kontribusi besar terhadap forgivingness. Penelitian lain dalam konteks masyarakat China, yang menganut nilai kolektif, menemukan bahwa kecenderungan untuk memaafkan lebih dipengaruhi oleh faktor solidaritas kelompok daripada variabel kepribadian seperti stabilitas emosi maupun keharmonisan dalam diri. Berangkat dari inkonsistensi hasil penelitian inilah, peneliti menganggap perlu untuk menguji pengaruh kepribadian big five terhadap forgivingness pada konteks mahasiswa UIN Maliki Malang sebagai representasi latar belakang masyarakat yang berbeda dari penelitian sebelumnya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 211 yang merupakan mahasiswa UIN Maliki Malang berasal dari 6 Fakultas yang ada pada jenjang strata 1 (S1) diambil dengan teknik cluster sampling. Untuk mengukur kepribadian big five, peneliti menggunakan Skala Big Five Inventory (BFI), sedangkan untuk mengukur tingkat forgivingness mahasiswa UIN Maliki Malang peneliti menggunakan skala Forgivingness Questionnaire (FQ). Hasil analisis regresi linier menunjukkan nilai Fhit sebesar 3,823 dan nilai p 0,002: p < 0,05. Dari hasil tersebut ditemukan juga nilai adjusted R square = 0,063. Nilai tersebut berarti bahwa secara bersama-sama dimensi kepribadian big five memberikan kontribusi sebanyak 6,3% terhadap forgivingness. Masih ada faktor lain sebanyak 93,7% yang mempengaruhi forgivingness pada mahasiswa UIN Maliki Malang. Hasil uji hipotesis minor menunjukkan bahwa hanya dimensi agreeableness yang berpengaruh terhadap forgivingness dan memiliki pengaruh paling kuat dibandingkan empat dimensi kepribadian big five lainnya dengan nilai beta = 0,248 dan p = 0,002, sedangkan dimensi yang lain tidak mempunyai pengaruh terhadap forgivingness
ENGLISH:
Interpersonal relationships with others are susceptible to a conflict. Without capacity to forgive someone’s mistakes, social life will be intolerably. This capacity to forgive an offence in daily circumstance was called forgivingness. One of many factors that affect forgivingness is personality. The Personality model often used to examine the effect personality on forgivingness was Big five personality. This model of personality is composed by five personality dimensions that are neuroticsm, extraversion, openness, agreeableness, and conscientiousness. Research in western cultural context showed that agreeableness and neuroticsm had a strong effect on forgivingness. Other research in Chinese cultural context, which is more collectivist society, showed that the tendency to forgive was strongly affected by group solidarity factors, and weakly affected by personality variables such as emotional stability, and inner harmony. Based on these inconsistencies of research, the researcher consider that it is important to examine the effect of the big five personality on forgivingness in the context of student of Maliki state Islamic university of Malang as representation of different cultural background from the former research.
This research was correlational quantitative research. The participant was 211 undergraduate students of Maliki State Islamic University of Malang, taken from 6 faculties presented in undergraduate program. The researcher used cluster sampling technique to collect the participants. To measure big five personality, the researcher used Big Five Inventory (BFI), and to measure the level of forgivingness the researcher used Forgivingness Questionnaire (FQ). Result of regression linier analyses showed score of F 3,823 and p 0,002:p<0,05. The result also found score of adjusted R Square = 0,063. This score indicated that big five personality dimensions simultaneously had 6,3% contribution on forgivingness. There were still 93,7% another factors affecting forgivingness in context of student of Maliki State Islamic University of Malang. The result of multiple regression analyzes showed that only agreeableness had a significant effect on forgivingness and had the strongest effect compared with other big five dimensions with score of beta = 0,248 and p = 0,002, whereas the other big five dimensions had no significant effect on forgivingness
Speeding Behavior Among Young Motorcyclists: The Role of Theory of Planned Behavior Variables and Willingness
Speeding behavior is one of the factors that can cause traffic accidents. To date, empirical studies that examine psychological model in the context of speeding behavior among young motorcyclists in Indonesia are scarce. This study aims to examine the effect of the Theory of Planned Behavior (TPB) variables, namely, Intentions, Attitudes, Perceived Norms, and Perceived Behavioral Control, and Willingness as additional variables on the frequency of riding motorcycle over the speed limit among young motorcyclists in Ponorogo, East Java. This study used a quantitative-correlational design. The subjects of this study were young motorcyclist (16-23 years-old, N = 301) living in Ponorogo. Data collection was carried out using the Intention, attitude, perceived norm, and perceived behavioral control scale and the willingness scale. Data analysis was carried out using hierarchical multiple regression analysis using SPSS. The results showed that intention, perceived behavioral control, and willingness had a significant effect on the frequency of riding a motorcycle over the speed limit. In addition, attitudes, perceived norm, and perceived behavioral control significantly influenced intention to speed. Based on the above findings, it can be concluded that the Theory of Planned Behavior (TPB) and willingness variables have a significant influence on speeding behavior among young motorcyclists in Ponorogo, with which willingness has the largest influence. Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sejauh ini, belum terdapat penelitian empiris yang menguji model teori Psikologi dalam konteks perilaku ngebut pada pengendara motor usia muda di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel Theory of Planned Behavior (TPB) yaitu, intensi, sikap, norma yang dirasakan, dan kontrol perilaku yang dirasakan, dan kesediaan sebagai variabel tambahan terhadap frekuensi berkendara sepeda motor melebihi batas kecepatan di kalangan premotor usia muda di Ponorogo, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif-korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah pengendara sepeda motor usia muda (16-23 tahun, N = 301) yang tinggal di Ponorogo. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala intensi, skala persepsi norma, skala persepsi kontrol perilaku dan skala kesediaan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis regresi liniear bertingkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensi, persepsi kontrol perilaku, dan kesediaan berpengaruh signifikan terhadap frekuensi mengendarai motor melebihi batas kecepatan. Selain itu, sikap, persepsi norma, dan persepsi kontrol perilaku berpengaruh terhadap intensi untuk berkendara melebihi kecepatan. Berdasarkan temuan diatas, dapat disimpulkan bahwa variabel TPB dan kesediaan memiliki pengaruh yang signifikan perilaku ngebut di kalangan pengendara usia muda di Ponorogo, dimana kesediaan memiliki pengaruh yang paling besar
Self Concept Pada Remaja Cosplayer Di Surabaya
Fenomena cosplay, sebagai bagian dari budaya pop, semakin digemari oleh remaja, terutama generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep diri remaja cosplayer dalam konteks internal dan eksternal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomonologis untuk menggali tentang bagaimana remaja cosplayer membentuk konsep diri mereka. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan metode tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi internal dari konsep diri mencakup perubahan identitas, perilaku, dan evaluasi diri, sementara dimensi eksternal melibatkan interaksi sosial dan dukungan lingkungan pada kegiatan cosplay memberikan ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan identitas diri, serta memperkuat konsep diri mereka melalui interaksi internal dan eksterna
Adapting Beyond Educational Background: Self-Adjustment Strategies of Workers in Nonlinear Careers
Self-adjustment in the workplace becomes a challenge for individuals working outside their field of study. This study aims to understand the experiences of workers adapting to jobs unrelated to their educational backgrounds. In-depth interviews and observations were conducted with two early adult female participants whose educational backgrounds differ from their work fields. Data were analyzed using a qualitative approach with phenomenology. The study results identified five key dimensions of self-adjustment: accurate perception of reality, stress and anxiety management, positive self-image, emotional expression, and interpersonal relationships. Strategies such as self-directed learning, emotional management through spiritual approaches or relaxation activities, effective communication building, and social support from the work environment proved helpful for participants in adapting to their jobs. This research provides insights for companies to create a supportive work environment that fosters employee development
Forgivingness: Between personality and education
In Indonesian culture has a noble culture that is forgiving and forgive each other culturally. It is, at least evidenced by a culture of mutual forgiveness during the holidays. From the culture is very visible that Indonesia is very respectful to others. Today the phenomenon is slightly eroded the amount of violence that is based on revenge, and the rise of legal prosecution for actions performed by others. It is interesting to examine how the dynamics of this forgiveness. The study aims to look Influence of college education background and personality Big five to forgiveness. The study involved 212 students. The results showed that the influence of educational background have a greater influence on forgiveness compared with personality. These results confirm that the learning process has a greater contribution in social interaction, especially forgiveness
Pengalaman Wanita Karir Dalam Menyeimbangkan Tanggung Jawab Keluarga Dan Pekerjaan: Sebuah Studi Fenomenologis
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (Work-Life Balanced) pada wanita karir yang sudah berkeluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, di mana pengalaman hidup wanita karir dalam menghadapi peran ganda sebagai pekerja dan ibu rumah tangga menjadi fokus utama. Subjek penelitian terdiri dari tiga wanita karir berusia 38-44 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima strategi utama yang diterapkan oleh subjek dalam mengelola keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yaitu alternating, outsourcing, bundling, techflexing, dan simplifying. Selain itu, penelitian ini juga menyatakan bahwa para subjek berhasil mencapai Work-Life Balanced melalui pemenuhan aspek Work Interference With Personal Life, Personal Life Intereference With Work, Personal Life Enhancement With Work, dan Work Enhancement WIth Personal Life
Gambaran Persepsi Norma/Perceived Norm pada Pecandu Alkohol di Kalangan Mahasiswa di Universitas Islam
Penelitian ini mengeksplorasi persepsi norma pada mahasiswa pecandu alkohol di perguruan tinggi Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini melibatkan tiga subjek mahasiswa yang memenuhi kriteria pecandu alkohol. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk memahami pengalaman, alasan konsumsi, respon lingkungan, dan dampak perilaku terhadap kehidupan subjek. Hasil penelitian mengungkap bahwa konsumsi alkohol sering dimulai sejak usia muda dengan alasan rasa ingin tahu, tekanan sosial, atau sebagai pelarian dari masalah pribadi. Respon lingkungan beragam, dengan keluarga umumnya bersikap negatif, sedangkan teman sebaya cenderung permisif. Konsumsi alkohol berdampak pada penurunan performa akademik dan kesehatan, termasuk gangguan lambung seperti GERD. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan lingkungan pendidikan dan dukungan keluarga dalam mencegah perilaku serupa. Penelitian ini juga menggarisbawahi perlunya pendekatan holistik untuk menangani kecanduan alkohol di kalangan mahasiswa dengan mempertimbangkan aspek religiusitas dan norma sosial
Hubungan Peer Group dan Fomo Terhadap Impulsive Buying Dewasa Awal di Kota Surabaya
Fenomena impulsive buying di kalangan dewasa awal di Surabaya semakin menarik perhatian, terutama dalam konteks pengaruh peer group dan FoMO (Fear of Missing Out). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kedua faktor tersebut terhadap perilaku pembelian impulsif. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan empat responden yang mewakili beragam latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keinginan untuk diterima dalam kelompok sosial dan ketakutan ketinggalan tren berkontribusi signifikan terhadap impulsive buying. Kesimpulannya, intervensi yang melibatkan edukasi dan pembentukan kelompok dukungan yang sehat sangat diperlukan untuk meminimalkan perilaku pembelian impulsif di kalangan dewasa awal
Finding Meaning in Late Adulthood: A Qualitative Study on Subjective Well-Being among Childless Elderly
The purpose of this study is to describe subjective well-being in older adults without children using a phenomenological qualitative approach. The study participants consisted of two women aged 68 and 71 years who were selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic methods. The results showed that subjective well-being in elderly people without children was reflected in six cognitive themes, namely life satisfaction, spirituality, social relationships, productive activities, physical and mental health, and material sufficiency, as well as two affective themes, namely positive affect and negative affect. The elderly define happiness through harmonious relationships with their spouses, fostering children, spiritual activities, and involvement in social and productive activities. Positive affect, such as gratitude and happiness, is more dominant than negative affect, such as anxiety and loneliness, which are managed through social support and meaningful activities. These findings emphasize the importance of social support, spirituality, and meaningful activities in improving the quality of life of older adults without children
Gambaran Resiliensi Pada Mahasiswa Rantau Tingkat Akhir Di Kota Malang Dan Surabaya
Penelitian ini mengkaji resiliensi mahasiswa rantau tingkat akhir di Malang dan Surabaya, dengan fokus faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan mental dalam menghadapi tekanan akademik. Melalui wawancara mendalam dengan lima responden, ditemukan bahwa pengalaman awal adaptasi memaikan peran kunci dalam pembentukan resiliensi. Mahasiswa di Surabaya lebih cenderung mengembangkan keterampilan multitasking, sementara di Malang lebih fokus pada refleksi diri. Dukungan sosial, kontrol diri, dan spiritualitas terbukti sebagai pendorong utama resiliensi, sesuai dengan teori resiliensi yang menekankan kemampuan individu untuk bangkit dari stress melalui sumber daya internal dan eksternal. Temuan ini menyoroti pentingnya pendekatakan holistik dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa, diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan program dukungan yang lebih efektif
- …
