61 research outputs found

    Penafsiran Modern Ayat-Ayat Waris: Studi Perbandingan Muḥammad Shaḥrūr Dan Munawir Sjadzali

    No full text
    Penelitian ini mendiskusikan wacana waris yang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur?an menurut penafsir modern, Muḥammad Shaḥrūr dengan Munawir Sjadzali. Kedua penafsir ini diangkat karena keduanya dapat dianggap telah berusaha dalam konteksnya masing-masing untuk menjawab munculnya sikap ambigu dalam mengimplimentasikan hukum waris dari kalangan masyarakat muslim. Pokok masalah yang menjadi bahasan dalam skripsi ini adalah: pertama, bagaimana penafsiran Muḥammad Shaḥrūr dan Munawir Sjadzali terhadap ayatayat waris dalam al-Qur?an? Kedua, bagaimana relevansi penafsiran Muḥammad Shaḥrūr dan Munawir Sjadzali pada konteks waris di Indonesia?. Teknik penggalian data pada penelitian ini menggunakan motode analisiskomparatif (analytical-comparative method), yaitu memaparkan penafsiran ayatayat waris, pertama, menurut Muḥammad Shaḥrūr dalam karyanya Metodologi Fiqih Islam Kontemporer dan Prinsip dan Dasar Hermeneutika al-Qur?an Kontemporer. Kedua, Munawir Sjadzali dalam karyanya Reaktualisasi Ajaran Islam dan Ijtihad Kemanusiaan. Kajian komparatif terhadap keduanya diharapkan menemukan interpretasi baru terhadap ayat-ayat waris. Dari hasil penelitian diketahui Muḥammad Shaḥrūr memahami dan mengaplikasikannya dengan cara yang berbeda dengan pendapat dan konsep, seperti terlihat pada ?empat pola perhitungan klasik? (al-amalīyāt al-arba? fī al- ḥisāb) maupun pada aspek sosial, seperti konsep patrilinialisme dalam masyarakat dan semangat kekeluargaan dan kesukuan yang menjadi patokan pembagian harta warisan pada abad lalu ataupun pada aspek politik, seperti tumpangtindihnya konsep hukum waris yang mencampuradukkan antara kepemilikan, hukum dan otoritas kenabian. Dari sini ada relevansi yang cukup jelas antara teori batas yang digagas oleh Shaḥrūr dan upaya pembaharuan hukum Islam yang diharapkan tumbuh berkembang berkeadilan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Sedangkan Sjadzali mengembangkan konsep waris yang terdapat dalam al- Qur?an, untuk mencari relevansi ajaran Islam dengan perkembangan zaman, khususnya dalam konteks Indonesia Modern. Mengingat al-Qur?an bersifat multidimensional, sebagai hudan li al-nas,konsep hukum waris Sjadzali, memiliki nilai tersendiri yaitu dengan mengajarkan prinsip persamaan sebagaima pembagian laki-laki dua kali lipat lebih besar dari perempuan tidak lagi relevan. Ia juga tidak menjelaskan pembagian waris yang memiliki garis ke atas secara memadai. Hal ini karena Sjadzali hanya melihat dari sisi historisitas kedaearahan sebagai wujud kelahiran konsep pembagian waris 1:1 miliknya, tanpa memperhatikan aspek lainnya seperti Ahli Waris dan Pewaris

    Analisis Potensi Sebaran Bahaya Banjir Akibat Kegagalan Tampungan Bendungan Bili-Bili

    No full text
    Tujuan penelitian ini mengetahui sebaran potensi genangan banjir dan penggunaan lahan yang terdampak. Metode yang digunakan yaitu Topographi Wetness Indeks (TWI) dengan modifikasi pembatasan lereng dan jarak dari sungai. Analisis bahaya banjir menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan berbasis data spasial sehingga memudahkan dalam analisis keruangan serta penyajiannya tervisualisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan luasan genangan banjir berkisar 7.289,48 ha atau 41.46% dari luas penelitian. Lokasi genangan banjir yang terluas berada di Kabupaten Gowa Kecamatan Pallangga dengan luas 2.203 ha. Lahan yang berpotensi terdampak banjir adalah lahan produktif berupa lahan sawah, ladang dan lahan pemukiman

    Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh tentang hukum keluarga: studi analisis perspektif jender

    No full text
    Skripsi ini menjelaskan bahwa pemikiran dan gerakan yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan jender yang sedang ramai di era globalisasi sekarang ini menjadi tantangan serius ulama terutama ulama Nahdlatul Ulama (NU). Mereka tidak bisa lari dari masalah ini, karena diskursus jender sudah masuk secara sistematik dalam semua bidang, baik struktural maupun kultural. Kehadiran KH. MA. Sahal Mahfudh dengan pandangan jender yang moderat dan progresif ini menjadi angin segar bagi perjuangan menuju keadilan jender terutama dalam bidang hukum keluarga. Pengaruh besar dan otoritas keilmuan KH. MA. Sahal Mahfudh dalam komunitas NU dan bangsa secara umum menjadikan pandangannya diterima banyak kalangan dengan legitimasi keagamaan yang sangat kuat. Tujuan dari penulisan ini ada beberapa hal: a) mengetahui bagaimana pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh dalam bidang hukum perkawinan, b) bagaimana pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh dalam bidang hukum perkawinan ditinjau dari perspektif jender, dan c) bagaimana kontribusi pemikiran KH. Sahal Mahfudh tentang jender dalam dinamisasi problematika hukum keluarga Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah library research. Data dikumpulkan dengan studi pustaka, baik berupa buku karangan langsung KH. MA. Sahal Mahfudh maupun karangan orang lain yang menulis tentang KH. MA. Sahal Mahfudh. Sumber utama dalam penulisan skripsi ini adalah buku karangan KH. MA. Sahal Mahfudh yaitu Dialog Problematika Umat, (Surabaya: Khalista, 2010). Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan logika induktif yaitu pendekatan yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: a) Diantara pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh dalam bidang hukum perkawinan dapat dikaji dari 4 hal, yaitu wali mujbir, nafkah, hadhanah dan nusyuz. Terkait wali mujbir, KH. MA. Sahal Mahfudh berpendapat bahwa wali mujbir tetap harus izin kepada calon perempuan agar terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kemudian terkait nafkah, KH. MA. Sahal Mahfudh mengatakan jika suami tidak mampu memberikan nafkah, maka istri boleh mengajukan cerai. Selanjutnya terkait hadhanah, KH. MA. Sahal Mahfudh berpendapat bahwa ibu lebih berhak memelihara anak. dengan pertimbangan kasih sayang ibu dengan anak lebih kuat, lebih sabar dan lembut sehingga lebih sesuai melakukan tugas mengasuh serta merawat anak. Sedangkan terkait nusyuz, KH. MA. Sahal Mahfudh mengatakan bahwa jika istri melakukan nusyuz maka lebih baik diam dan mengedepankan dialog untuk mencari solusi efektif serta menghindari cara kekerasan. b) Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh dalam bidang hukum perkawinan tersebut terlihat sekali lebih menjunjung tinggi keadilan jender. Hal ini terlihat dari beberapa pendapatnya. Misalnya, terkait wali mujbir, KH. MA. Sahal Mahfudh mengatakan bahwa wali mujbir tetap harus izin kepada calon perempuan. Begitu juga terkait nafkah, bahwa perempuan dapat meminta cerai jika suami tidak memberi nafkah. Karena, nafkah adalah kewajiban suami. Akan tetapi terkait hadhanah, beliau masih bias jender, karena terlihat tidak adil bagi laki-laki. Padahal tidak sedikit laki-laki lebih sabar dan lembut dari perempuan. Sedangkan mengenai nusyuz, ini jelas adil bagi laki-laki dan perempuan, karena dalam nusyuz komunikasilah yang paling efektif dan dapat menghindari kekerasan. c) Pemikiran KH. MA. Sahal Mahfudh tentang jender telah memberikan kontribusi dalam dinamisasi problematika hukum keluarga Islam di Indonesia, hal tersebut dapat dilihat dari munculnya para pemikir muda yang pemikirannya seide atau senada dengan KH. MA. Sahal Mahfud

    PENENTUAN INDEKS BAHAYA KEKERINGAN AGRO-HIDROLOGI: STUDI KASUS WILAYAH SUNGAI KARIANGO SULAWESI SELATAN

    No full text
    Kekeringan agro-hidrologi dapat diartikan sebagai kekurangan air permukaan, air tanah dan mencukupi untuk tanaman dan kebutuhan masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Sejauh ini belum ada indeks kekerigan agro-hidrologi yang menggabungkan faktor iklim, air permukaan, dan air bawah permukaan tanah. Penelitian ini merumuskan sebuah indeks bahaya kekeringan (Ibk) sebagai indikator kekeringan agro-hidrologi. Model yang dikembangkan dari kombinasi curah hujan musim kering, kedalaman air tanah, jarak sumber air, tekstur tanah dan indeks ketersediaan air bagi tanaman dengan menggunakan metode penginderaan jauh dan GIS. Indeks bahaya kekeringan agro-hidrologi yang telah dikembangkan adalah Ibk= (0.33CH) + (0.27KAT) + (0.20SA) + (0.13T) + (0.0WSVI) dengan hasil validasi model menunjukkan kemiripan yang tinggi kekeringan di lapangan

    AZYUMARDI AZRA THINKING ABOUT PARADIGM SCIENTIFIC AND INSTITUTIONALAND IMPLICATIONS FOR THE EVELOPMENT OF ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

    No full text
    Azyumardi Azra is an Islamic thinker and reformer who is able to break down the barriers of bureaucracy, so he managed to transform IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta became UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Azra effort in menstrasformasikan IAIN to UIN opened it without criticism, the criticism comes from within and outside the campus lead. Criticism relates to IAIN characteristic, as well as changes IAIN to UIN. Then what is the trade mark UIN? The purpose of this study to reveal and analyze the Azra thinking about scientific paradigms and institutional as well as its implications on the development of UIN Jakarta. This research is a figure in the form of library research using qualitative methods. Mber Su primer is Azra and three of his books about education. A secondary source Adala h books, papers, the document is ntasi of welcome speeches Azra during his tenure Rector, SK Rector period Azra, documentation about Azra in mass media literature relevant, either in the form of books, papers, journals, dissertations, theses , theses, and so forth. To strengthen the research, the author makes some figures as a secondary source The research found: The first,'Ilm means knowledge (knowledge), both sciences and sciences qur'aniyyahkauniyyah. Developing his require 'reintegration' in the sciences are derived from passages qur'aniyyah on the one hand and the sciences are derived from passages kawniyah on the other. Second, the State Islamic Institute (IAIN) is an integral part of the national education system can dikembang the concept With Wider Mandate,Changes IAIN to UIN in dasa paint a mixed picture is a demand history and in line with the teachings of Islam that is always demanded of his community to think, work kemanusiaa hard for the interest of n in line with the demands of the times. Third,Context scientific paradigm and its institutional is wanted to eliminate the dichotomy of science by building integrative scientific paradigm. And fourth, implikasi his was the stronger position and role, especially as a pioneer and driving force of the intellectual as well as the progress of the people (Muslims) with models of reintegration of science, so that UIN can be called as a center ofexcelent for scientific development in general and Islam in particular science

    Overview of Indonesian Islamic Education: A Social, Historical and Political Perspective

    No full text
    The aim of this study is to examine how the historical genealogy of Islamic educational tradition, particularly the tradition of teaching and learning, has contributed to the development of Islamic education in Indonesia. By drawing together in an analytic way a historically based description of the social and political circumstances surrounding Indonesian Islamic education, the study discusses some significant issues concerning the religious base, knowledge base, structural form, and the pedagogical approach of Indonesian Islamic education, all of which are important to the development of a modern form of Islamic education. The argument of the thesis is that the existing values of the Islamic tradition in education, particularly evident in Madrasah schools, provide a valuable basis for further developing and reconstructing an effective Islamic education system in Indonesia. However, there is also a strong need to construct an Islamic education curriculum in Indonesia that can meet the challenge posed by the circumstances generally understood as 'modernity'. The quality of teaching and learning in the Madrasah are very much influenced by the quality of the wider Islamic education programme. Any change in the curriculum of Islamic education will thus have significant effects on the quality of the Madrasah schools in Indonesia. This thesis will thus conclude by suggesting some implications for further development of Islamic education that arise from the study. This is a qualitative study using an historical genealogical approach to discover, understand and analyze the challenges currently facing Islamic education In Indonesia. The techniques for collecting data involved, primarily, a critical reading of historical and contemporary policy documents. Primary and secondary sources were also collected, studied and subjected to a critical reading in the production of this account of Indonesian Islamic education

    PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERAWATAN FASILITAS PRODUKSI GULA DI PG KEBON AGUNG

    No full text
    Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui email [email protected], [email protected]

    Discourse of Faḍâ’il al-Qur’an: Muhammad Shadiq's Presentation of the Quran's Privileges in the Book of Qalb al-Qur’an

    No full text
    The purpose of this article is to explain Muhammad Shadiq's Qalb al-Qur'an in his work, faḍâ’il al-Qur'an. The inquiries are as follows: What Qur'anic verses are contained in Qalb al-Qur'an? How do the faḍâ’il al-Qur'an forms in Surah al-Fâ'tiḥah verses 4-5 illustrate receiving privileges from the Qur'an? The book of Qalb al-Qur'an by Muhammad Shadiq has a representation of faḍâ’il al-Qur'an that has about 56 features, according to qualitative-descriptive methodologies, informative, and performative approaches from Sam D. Gill. These features consist of a combination of one or two verses that make up the 114 surahs of the Qur'an's qalb (heart). The author shows the fourth and fifth verses in Surah al-Fâ’tiḥah as qalb based on several interpretations as evidence of its specialty study. While the fifth verse discusses the responsibilities of a servant who must worship only Allah and always seek His help, the fourth verse discusses Allah's power in the cosmos and how He has the right to reward and hold each of His servants accountable in the hereafter. These two verses are regarded as the qalb in Surah al-Fâ’tiḥah because they have a much deeper, more distinctive, and all-encompassing meaning than the other verse

    Multicriteria Analysis Model in Sustainable Corn Farming Area Planning

    No full text
    This study aims to develop a framework for multicriteria analysis to evaluate alternatives for sustainable corn agricultural area planning, considering the integration of ecological, economic, and social aspects as pillars of sustainability. The research method uses qualitative and quantitative approaches to integrate ecological, economic, and social aspects in the multicriteria analysis. The analysis involves land evaluation, subcriteria identification, and data integration using Multidimensional Scaling and Analytical Hierarchy Process methods to prioritize developing sustainable corn agricultural areas. Based on the results of the RAP-Corn analysis, it indicates that the ecological dimension depicts less sustainability. The AHP results yield weight distribution and highly relevant scores that describe tangible preferences. Priority directions are grouped as strategic steps toward achieving the goals of sustainable corn agricultural area planning.Comment: There are 12 pages, 9 fiqures and 36 reference

    Transposition and modulation analysis on the translation of prayer for rain into do?a minta hujan

    No full text
    Muhammad Ridwan Roji Abdullah: ?An Analysis of Translation Procedure on David Campbell?s Poem Prayer for Rain? which is translated by Taufik Ismail Do?a Meminta Hujan. Thesis: English Letters Department of Adab and Humanities Faculty, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, November 2014. The study in this paper discusses the translation procedure of the poem on the tittle ?Prayer for Rain? which is translated by Taufik Ismail. The important purpose in this research, the author tries to explain the translation procedures used in translating at poem Prayer for Rain by David Campbell. The writer uses descriptive qualitative method, to describe and analyze identifies the process of how an English word of the poem is translated into Bahasa Indonesia. In addition, this study also identifies whether the translation process results the changes of manner. To suport the analyses, the writer use some books, and dictionaries, namely A Text book of Translation (Peter Newmark), Teori & Praktek Penerjemahan (Frans Sayogie), Kamus Lengkap Indonesia-Inggris a(2004). The writer uses the theory of translation procedure. Finally, the writer finds fourteen words of translation procedure from Prayer for Rain poem. The translation procedure are Modulation and Transposition
    corecore