1,721,131 research outputs found

    Hubungan Intensitas Komunikasi Dengan Tingkat Keberhasilan Kinerja Kader Pos Pemberdayaan Keluarga

    No full text
    Posdaya merupakan salah satu program pemberdayaan Sumber Daya Manusia berbasis partisipatif dan swadaya masyarakat, oleh karena itu dibutuhkan aktivitas komunikasi yang tepat agar dapat melaksanakan fungsinya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Keberhasilan sebuah Posdaya tentunya didukung oleh berbagai faktor. Beberapa diantaranya yaitu dapat dinilai dari keberhasilan kinerja kader Posdaya dan intensitas komunikasi yang terjalin antar kader. Keberhasilan kinerja kader merupakan sebuah nilai yang memiliki kekuatan atau gerak di dalam kelompok, sehingga dapat menentukan perilaku kelompok dan anggotanya dalam pencapaian tujuan kelompok Posdaya, sedangkan intensitas komunikasi yang terjalin antar kader merupakan keadaan tingkatan atau ukuran yang menggambarkan seberapa sering suatu komunikasi antar kader terjadi serta daya konsentrasi yang terjalin dalam berkomunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus dengan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan intensitas komunikasi dengan tingkat keberhasilan kinerja kader Pos pemberdayaan keluarga di Posdaya Puspa Lestari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden terbukti memiliki hubungan yang positif dengan intensitas komunikasi pada dua indikator, yaitu: pendidikan non formal dan tingkat kekosmopolitan, dan memiliki hubungan yang positif dengan tingkat keberhasilan kinerja kader pada tiga indikator, yaitu: pendidikan non formal, pengalaman, dan tingkat kekosmopolitan. Begitupula, dengan intensitas komunikasi terbukti memiliki hubungan yang positif dengan tingkat keberhasilan kinerja dengan nilai signifikansi sebesar 0,01

    Pencapaian Program Keluarga Harapan (PKH).

    No full text
    Salah satu masalah utama pembangunan yang dialami oleh Indonesia saat ini adalah tingginya jumlah penduduk miskin. Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan sosial bagi keluarga Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM), pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Program Keluarga Harapan adalah bantuan sosial yang diwujudkan dengan bantuan tunai, pendidikan dan kesehatan yang ditujukan kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) khususnya yang memiliki anak usia 0-15 tahun dan ibu hamil/nifas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pencapaian Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Tedunan, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan responden sebanyak 40 orang

    Model pembinaan dan pengembangan pos pemberdayaan keluarga (posdaya) di desa-desa lingkar kampus institut pertanian bogor

    Full text link
    Pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) merupakan suatu kegiatan yang berusaha menghidupkan kembali semangat gotong royong di masyarakat sehingga masyarakkat dapat mengatasi masalahnya secara swadaya dengan bersinergi antara stakeholder di wilayahnya. Tujuan Posdaya adalah peningkatan kesejah-teraan masyarakat dalam rangka pemenuhan MDGs di Indonesia. Kajian penelitian ini akan menelaah pengaruh keberadaan posdaya-posdaya di lingkar kampus IPB Dramaga sebagi institusi yang memberikan perhatian lebih terhadap pemberdayaan masyarakat. Kegiatan pemberdayaan menimbulkan keswadayaan dari dalam masyarakat untuk mengatasi permasalahan melalui pemanfaatan potensi di wilayah tersebut. Masyarakat yang meningkat kesejahteraannya akan meningkatkan pula IPM regional dan akan berdampak ke negara. Penelitian akan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu stratified random sampling. Teknik ini merupakan salah satu teknik penarikan contoh berpeluang dengan mengelompokan contoh berdasarkan strata tertentu. Pengelompokan yang dilakukan adalah berdasarkan wilayah kerja posdaya. Jumlah strata yang digunakan adalah sebanyak 17 strata dengan jumlah sampel setiap strata sebanyak 10 orang yang diambil secara acak sehingga jumlah sampel keseluruhan sebanyak 170 orang. Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan serta pedoman wawancara untuk kepentingan kelengkapan penjelasan (eksplanasi) data primer, termasuk untuk kepentingan pengamatan. Data sekunder dapat diperoleh dari wawancara mendalam terhadap pengurus ataupun anggota masyarakat di dalam posdaya untuk melengkapi data yang diinginkan. Kegiatan pengembangan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan Posdaya dapat memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Model pengembangan dan pembinaan Posdaya di lingkar kampus adalah dengan peningkatan kekosmopoli-tan pengurus posdaya dan peran pendamping.DIKT

    Model pembinaan program pengembangan masyarakat di tingkat organisasi organisasi mahasiswa institut pertanian bogor

    Full text link
    Merujuk pada kebijakan maupun program kerja yang disusun organisasi-organisasi mahasiswa tersebut yang menganut paradigma people centered development terdapat 37 organisasi dari jumlah total 89 organisasi di IPB yang memiliki program pengembangan masyarakat. Total keseluruhan organisasi tersebut menunjukkan 41,57% organisasi telah melakukan kegiatan pengembangan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena semakin banyak kegiatan pengembangan masyarakat yang dilakukan mahasiswa IPB dalam mengaplikasikan ilmu yang didapatkan sesuai bidang ilmu keprofesian masing-masing. Selain bidang ilmu yang dikuasai, konsep pengembangan masyarakat juga tidak kalah penting untuk menunjang keberhasilan program dalam membantu memberdayakan masyarakat. Program dapat dikatakan berhasil apabila masyarakat dapat berdaya melalui usahanya sendiri yang dipicu kegiatan mahasiswa tanpa menimbulkan ketergantungan pada organisasi mahasiswa tersebut. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang melakukan kegiatan pengembangan masyarakat. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah pengurus organisasi yang memiliki program pengembangan masyarakat dan terdaftar di Direktur Akademik dan Kemahasiswaan IPB dengan jumlah 37 organisasi dan banyaknya pengurus adalah 1830 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah penarikan contoh acak sederhana (simple random sampling). Teknik ini merupakan salah satu teknik penarikan contoh berpeluang yang mengambil sampel sebanyak n buah secara acak. Dilihat dari keragaman populasi, jumlah sampel yang dapat merepresentasikannya adalah sebanyak 185 orang yang terbagi dalam 37 organisasi. Sehingga setiap organisasi terdapat pemilihan sebanyak 5 orang untuk menjadi responden. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, organisasi mahasiswa IPB yang telah melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat sudah cukup baik memberikan manfaat kepada masyarakat. Hanya saja keberlanjutan program kerja tersebut masih rendah dan paradigma pengembangan masyarakat yang digunakan masih perlu diperbaiki kembali.DIKT

    Jaringan Komunikasi Pemasaran Kakao Di Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat

    No full text
    Pemasaran yang efektif dan efisien menjadi kunci di dalam meningkatkan pendapatan petani. Interaksi antar petani akan melibatkan proses berbagi informasi tentang pemasaran yang sekaligus membentuk jaringan komunikasi diantara petani kakao. Jaringan komunikasi patut untuk dikembangkan dalam pemasaran kakao karena dapat memberikan informasi kepada petani tentang harga jual dan mutu yang diinginkan konsumen dan tujuan pemasaran yang lebih menguntungkan. Ukuran yang dipakai dalam analisis jaringan komunikasi adalah centrality yang merujuk kepada bagaimana posisi aktor (node) dalam keseluruhan jaringan dan melihat seberapa sentral aktor tersebut dalam jaringan. Dalam penelitian ini pengukuran centrality meliputi degree centrality, closeness centrality, dan betweeness centrality. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) mendeskripsikan karakteristik individu, keterdedahan media, dan jaringan komunikasi, 2) menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan jaringan komunikasi pemasaran kakao, 3) menganalisis hubungan keterdedahan media dengan jaringan komunikasi pemasaran kakao, dan 4) menganalisis hubungan perilaku komunikasi pemasaran kakao dengan jaringan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik individu di kedua kelompok tani yaitu: umumnya anggota di kedua kelompok tani berada pada kategori dewasa dengan pendidikan formal rendah, namun memiliki lahan yang cukup luas dan pengalaman berusahatani tinggi. Rata-rata individu di Kelompok Tani Tunas Harapan memiliki pengalaman berkelompok yang tinggi sedangkan pada Kelompok Tani Bunga Harapan tergolong sedang. Tingkat kepemilikan media, frekuensi, dan durasi penggunaan media tergolong rendah di kedua kelompok tani. Aktor sentral pada Kelompok Tani Tunas Harapan adalah pengurus kelompok dan pada Kelompok Tani Bunga Harapan adalah anggota kelompok. Perilaku komunikasi tentang pemasaran kakao tergolong rendah di kedua kelompok tani. Analisis hubungan antar variabel menggunakan uji korelasi rank Spearman menunjukkan karakteristik individu yang berhubungan dengan degree centrality adalah pendidikan formal dan yang berhubungan dengan closeness centrality yaitu luas lahan dan pengalaman berkelompok. Keterdedahan media yang berhubungan nyata dengan degree centrality adalah kepemilikan media, frekuensi dan durasi menggunakan media dan yang berhubungan dengan betweeness centrality adalah frekuensi dan durasi menggunakan media. Perilaku komunikasi pemasaran kakao yang berhubungan nyata dengan degree centrality yaitu akses pada sumber media dan sumber komersial. Perilaku komunikasi pemasaran kakao yang berhubungan dengan closeness centrality dan betweeness centrality adalah akses dengan sumber komersial

    Hubungan Antara Partisipasi Masyarakat dengan Efektivitas Program Kampung Iklim

    No full text
    Program Kampung Iklim adalah Program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sudah diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dan semua pihak berharap Program Kampung Iklim mampu mengatasi masalah perubahan iklim di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penulis meneliti tentang efektivitas Program Kampung Iklim di RW 07, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik individu dari masyarakat dan peran kader PKK sebagai aktor pada Program Kampung Iklim yang memiliki keterkaitan dengan partisipasi masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif didukung oleh data kualitatif dengan jumlah responden sebanyak 40 orang yang menggunakan teknik sensus dan informan dipilih secara sengaja (purposive). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif atau tampak berhubungan tidak nyata antara partisipasi masyarakat dengan efektivitas Program Kampung Iklim

    Hubungan Antara Tingkat Partisipasi Anggota Dengan Kelancaran Program Tabur Puja Di Posdaya Sejahtera, Kota Bogor

    No full text
    Program Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja adalah program dana bergulir yang dikelola oleh Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Program ini diperuntukkan untuk masyarakat khususnya anggota Posdaya yang ingin membuka usaha dan juga menambah modal usaha. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara faktor internal, faktor eksternal dan tingkat partisipasi anggota Program Tabur Puja dengan tingkat kelancaran program tersebut. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang memiliki hubungan adalah tingkat interaksi anggota dan pengelola program dengan tingkat partisipasi anggota pada tahap evaluasi, tingkat partisipasi anggota pada tahap pelaksanaan dengan tingkat kelancaran pemanfaatan program dan tingkat partisipasi anggota pada tahap menikmati hasil dengan tingkat kelancaran penyaluran, pemanfaatan dan pengembalian program

    Innovation Communication Strategy for the Sustainability of Enlargement Aquaculture for Small-Scale Consumption Fish, in Bogor Regency, West Java Province.

    No full text
    Komunikasi inovasi diperlukan untuk mewujudkan perubahan perilaku pembudidaya yang berorientasi ekonomi menjadi orientasi sosial dan lingkungan sesuai dengan perubahan kebijakan pembatasan perikanan tangkap menjadi perikanan budidaya. Untuk mewujudkan keberlanjutan pembangunan bidang perikanan memerlukan perubahan perilaku pembudidaya sehingga diperlukan peran komunikasi pembangunan. Keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil dalam memperoleh kesejahteraan (aspek ekonomi), memenuhi kebutuhan masyarakat (aspek sosial) dan memelihara ketersediaan stok secara stabil (aspek lingkungan) harus memiliki daya saing. Daya saing dapat terwujud dengan menggerakkan dan mengorganisasikan seluruh potensi sumber daya produktif dan penguatan teknologi melalui inovasi Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB). Pembudidaya perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil dalam mengakses serta implementasi inovasi berbeda, oleh karena itu penelitian ini merumuskan permasalahan bagaimana komunikasi inovasi untuk keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengevaluasi proses dan elemen komunikasi inovasi CBIB, karakteristik, tahap adopsi inovasi, serta status keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (2) Menilai pengaruh elemen komunikasi inovasi CBIB terhadap keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (3) Menilai pengaruh karakteristik individu terhadap tahap adopsi inovasi pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (4) Menilai pengaruh tahap adopsi inovasi terhadap keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (5) Merancang model strategi komunikasi inovasi CBIB untuk keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil. Penelitian ini berlandaskan pada kerangka pemikiran komunikasi untuk pembangunan dan perubahan sosial, komunikasi pembangunan partisipatif, strategi komunikasi, secara operasional menggunakan model sosioecological serta konsep konsep komunikasi inovasi, inovasi CBIB, jaringan komunikasi, pembangunan berkelanjutan menjadi landasan konseptual penelitian ini. Model sosioekologis merupakan salah satu model komunikasi perubahan sosial yang berfokus kepada tahap, proses dan tujuan dijadikan sebagai acuan dalam mengevaluasi proses dan elemen komunikasi inovasi, karakteristik, tahap adopsi inovasi serta pengaruhnya terhadap keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran skala kecil. Paradigma pragmatis metode campuran digunakan pada penelitian ini secara sekuensial eksplanatori melalui survey terhadap 114 orang pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di sembilan kecamatan Kabupaten Bogor dengan teknik sampel sensus. Teknik pengumpulan data primer menggunakan kuesioner semi terbuka yang berisi data kuantitatif dan kualitatif, dilakukan melalui wawancara langsung dengan subjek penelitian, observasi ke Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bogor, kelompok pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil serta penelusuran secara online untuk data sekunder. Analisis data tahap pertama dilakukan secara kuantitatif untuk mengevaluasi proses komunikasi dan elemen komunikasi inovasi CBIB, karakteristik, tahap adopsi inovasi pembudidaya serta tingkat keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat menggunakan statistik deskriptif skor rata-rata dari skala 1 sampai dengan 5, distribusi frekuensi dan persentase dengan microsoft excel, analisis jaringan utuh dengan software ucinet 6, dan status keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat dengan rapid appraisal for fisheries (rapfish) versi R Multi Dimentional Scalling (MDS), Monte Carlo dan Leverage. Tahap kedua dilakukan secara kuantitatif untuk mengevaluasi pengaruh elemen komunikasi inovasi CBIB, karakteristik dan tahap adopsi inovasi terhadap keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat menggunakan smartPLS-3. Tahap ketiga secara kualitatif merumuskan strategi komunikasi inovasi CBIB untuk keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi inovasi CBIB antarpembudidaya telah dilakukan dengan baik menggunakan tipe komunikasi antarpersonal. Elemen komunikasi yang dominan dari aspek tema pesan adalah inovasi pakan dengan fungsi pesan persuasif, aspek saluran menggunakan saluran media sosial yang bersifat non formal /personal. Pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor rata-rata berusia dalam rentang 18 sampai dengan 45 tahun, tingkat pendidikan formal lulus Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sebagian besar pembudidaya pernah mengikuti pelatihan inovasi CBIB secara mandiri, masa pengalaman budidaya 2 sampai dengan 11 tahun, status lahan budidaya rata-rata sudah hak milik. Aspek komunikator ditemukan pembudidaya yang memiliki tingkatan sentralitas tinggi dan sentralitas kedekatan sebagai sumber informasi dan narahubung antarpembudidaya dalam jaringan komunikasi. Tahap adopsi inovasi pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil berada pada tahap pemahaman yang artinya penguasaan terhadap permasalahan budidaya serta cara untuk mengantisipasinya sudah baik. Keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor memiliki nilai status cukup berkelanjutan secara lingkungan, sosioteritorial serta ekonomi. Indikator sensitifitas yang dapat menjadi faktor pengungkit status keberlanjutan yang ditemukan adalah efektifitas produksi, keuntungan penjualan yang menjadi faktor penghambat, kepemilikan modal sebagai faktor pendorong keberlanjutan ekonomi, tren usaha budidaya, kualitas pekerjaan dan kesehatan serta kondisi kerja sebagai faktor pendorong keberlanjutan sosioteritorial, produksi ikan di tambak, peran lembaga kebersihan dan kesehatan sebagai faktor penghambat, serta pengelolaan kebersihan air, indeks konversi lahan sebagai faktor pendorong keberlanjutan lingkungan. Elemen komunikasi inovasi yang berdampak terhadap keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil secara langsung adalah tema inovasi terhadap keberlanjutan ekonomi; fungsi pesan terhadap keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan; jenis saluran terhadap keberlanjutan ekonomi, lingkungan dan tahap adopsi inovasi; tingkatan sentralitas terhadap keberlanjutan ekonomi dan sosioteritoria; serta tahap adopsi inovasi terhadap keberlanjutan sosioteritorial; sedangkan karakteristik pembudidaya tidak memiliki dampak terhadap tahap adopsi inovasi pembudidaya. Model strategi komunikasi inovasi untuk keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat adalah strategi komunikasi pemberdayaan kelompok pembudidaya ikan berbasis jaringan komunikasi dengan penggunaan pesan persuasif menggunakan media sosial dengan melibatkan kemitraan lembaga permodalan, koperasi dan BUMDES serta unit pelaksana teknis terkait untuk keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.Innovation communication is needed to realize changes in the behavior of farmers who are economically oriented to social and environmental orientation in accordance with changes in the policy of limiting capture fisheries to aquaculture. To achieve sustainable development in the fisheries sector requires changes in the behavior of cultivators so that the role of development communication is needed. Sustainability of aquaculture aquaculture for small-scale fish consumption in obtaining welfare (economic aspect), meeting community needs (social aspect) and maintaining stable stock availability (environmental aspect) must have competitiveness. Competitiveness can be realized by mobilizing and organizing all potential productive resources and strengthening technology through innovations in Good Fish Cultivation Methods (CBIB). Small-scale consumption fish farming aquaculture cultivators in accessing and implementing innovations are different, therefore this research formulates the problem of how to communicate innovation for the sustainability of small-scale consumption fish farming aquaculture. This study aims to: (1) evaluate the processes and elements of innovation communication, characteristics, stages of innovation adoption, as well as the sustainability status of small-scale consumption aquaculture aquaculture; (2) Assessing the effect of innovation communication elements on the sustainability of small-scale consumption fish farming aquaculture; (3) Assessing the effect of individual characteristics on the adoption stage of small-scale fish farming innovations; (4) Assessing the effect of the innovation adoption stage on the sustainability of small-scale consumption fish farming aquaculture; (5) Designing an innovation communication strategy model for the sustainability of small-scale consumption aquaculture aquaculture. This research is based on the framework of communication for development and social change, participatory development communication, operational communication strategies using socioecological models and the concepts of innovation communication, CBIB innovation, communication networks, sustainable development are the conceptual basis of this research. The socioecological model is a social change communication model that focuses on stages, processes and objectives used as a reference in evaluating processes and elements of innovation communication, characteristics, stages of innovation adoption and their impact on the sustainability of small-scale aquaculture. The pragmatic paradigm of mixed methods was used in this study explanatory sequentially through a survey of 114 small-scale consumption fish cultivators in nine sub-districts of Bogor Regency using a census sampling technique. The primary data collection technique used a semi-open questionnaire containing quantitative and qualitative data, carried out through direct interviews with research subjects, observations at the Bogor District Fisheries and Livestock Service (Disnakan), groups of small-scale consumption fish growers and online searches for secondary data. The first stage of data analysis was carried out quantitatively to evaluate the communication process and communication elements of CBIB innovation, characteristics, stages of cultivator innovation adoption and the level of economic, socio-territorial and environmental sustainability of small-scale consumption fish farming in Bogor Regency, West Java Province using score descriptive statistics average from scale 1 to 5, frequency distribution and percentage with Microsoft Excel, full network analysis with ucinet 6 software, and status of economic, socio territorial and environmental sustainability of small-scale consumption fish farming in Bogor Regency, West Java Province with rapid appraisal for fisheries (rapfish) version of R Multi-Dimensional Scalling (MDS), Monte Carlo and Leverage. The second stage was carried out quantitatively to evaluate the influence of CBIB innovation communication elements, characteristics and stages of innovation adoption on the economic, socio-territorial and environmental sustainability of small-scale consumable aquaculture aquaculture in Bogor District, West Java Province using smartPLS-3. The third stage qualitatively formulates a CBIB innovation communication strategy for economic, socio-territorial and environmental sustainability of small-scale consumption aquaculture aquaculture, Bogor Regency, West Java Province. The research findings showed that CBIB innovation communication between cultivators has been carried out well with the interpersonal communication type. The dominant communication elements from the message theme aspect are the feed innovation theme with a persuasive message function, the channel aspect uses social media channels that are non-formal/personal in nature. Small-scale consumption fish cultivators in Bogor Regency have an average age of 18 to 45 years, with a formal education level of elementary school and junior high school. Most of the cultivators have attended CBIB innovation training independently, the cultivation experience is 2 to 11 years, the average status of cultivated land is private property. The communicator aspect is found by cultivators who have a high degree of centrality and closeness centrality as a source of information and a link between cultivators in a communication network. The adoption stage of small-scale consumable fish cultivator innovations is at the understanding stage, which means that the mastery of cultivation problems and the ways to anticipate them are good. The economically, socio-territorially and environmentally sustainability of small-scale consumption fish farming in Bogor Regency has a quite sustainable status value. Sensitivity indicators that can be a lever factor for sustainability status found are production effectiveness, sales profits which are inhibiting factors, capital ownership as a driving factor for economic sustainability, aquaculture business trends, quality of employment and health and working conditions as factors driving socio-territorial sustainability, fish production in ponds, the role of hygiene and health institutions as inhibiting factors, as well as management of water hygiene, land conversion index as a driving factor for environmental sustainability. The elements of innovation communication that have an impact on the sustainability of aquaculture aquaculture for small-scale consumption of fish directly are the theme of innovation on economic sustainability, the message function on economic, socio-territorial and environmental sustainability, the type of channel on economic sustainability, the environment and the stage of innovation adoption, the level of centrality towards economic and socio-territorial sustainability as well as the innovation adoption stage on socio-territorial sustainability, while cultivator characteristics have no impact on the innovation adoption stage of cultivators. The innovation communication strategy for the sustainability of small-scale consumable growing aquaculture fisheries in Bogor Regency, West Java Province is a communication strategy for empowering fish cultivator groups based on communication networks by using persuasive messages using social media by involving partnerships with capital institutions, cooperatives and BUMDES as well as related technical implementing units for sustainability economic, socio-territorial and environmental fisheries for growing small-scale consumption fish, Bogor Regency, West Java Province

    Pengaruh Perilaku Bermain Video Game Berunsur Kekerasan Terhadap Perilaku Agresi Remaja

    No full text
    Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat, perkembangan ini mempengaruhi media audio visual salah satunya adalah video game. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Menganalisis perbedaan pengaruh tingkat bermain video game berunsur kekerasan terhadap tingkat perilaku agresi remaja, 2) Menganalisis perbedaan pengaruh faktor personal sebagai pembentuk perilaku bermain video game berunsur kekerasan terhadap tingkat perilaku agresi remaja, 3) Menganalisis perbedaan pengaruh faktor situasional sebagai pembentuk perilaku bermain video game berunsur kekerasan terhadap tingkat perilaku agresi remaja. Analisis dalam penelitian ini menggunakan tabulasi silang, uji statistik Mann-Whitney dan Kruskall-Wallis dengan taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat situasional dan perbedaan jenis kelamin terhadap tingkat perilaku bermain video game berunsur kekerasan; dan terdapat perbedaan tingkat perilaku bermain video game berunsur kekerasan terhadap tingkat agresivitas remaja

    Analisis Kebutuhan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kompetensi guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru. Berbagai program pelatihan yang diselenggarakan belum berdampak nyata terhadap peningkatan kompetensi guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru. Kegagalan program pelatihan disebabkan pelatihan bersifat top downdan tidakdidasarkan pada kebutuhan nyata guru IPA SMP Negeri. Analisis kebutuhan pelatihan harus dilakukan sebelum penyelenggaraan pelatihan untuk menentukan kompetensi yang butuhdiperbaiki melaluipelatihan.Training Needs Analysis(TNA)merupakan metode efektif untuk menganalisis kebutuhan pelatihan guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru. Tujuannya adalah: (1)memetakan tingkat kompetensi aktual guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru yang terdiri atas kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, (2) menganalisis bagian-bagian kompetensi guru yangbutuh ditingkatkan melalui pelatihan,(3) menganalisis prioritas kebutuhan pelatihan,dan (4) memberikan rekomendasi metode pelatihanyang efektif untuk meningkatkan kompetensi guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui survei, wawancara, dan FGD. Sebanyak 165 dari 213 guru IPA SMP Negeri menyatakan kesediaan sebagai responden. TNA dimulai dengan penilaian kompetensi ideal guru (KIG) dan kompetensi aktual guru (KAG) menggunakan kuesioner yang diadopsi dan dimodifikasi dari Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Analisis kesenjangan kompetensi Guru (KKG) dilakukan dengan membandingkan nilai KIG dan KAG. Apabila nilai KKGlebih besar dari 1, maka terdapat kesenjangan kompetensi yang menunjukkan adanya kebutuhan pelatihan. Penetapan kebutuhan pelatihan dilakukan melalui wawancara tentang faktor penyebab kesenjangan kompetensi. Prioritas pelatihan ditetapkan berdasarkan nilai KKG, jumlah guru (JG) dan persentase guru (PG) yang membutuhkan pelatihan pada kompetensi tertentu. Metode pelatihan efektif diperoleh dari kelompok ahli melalui FGD. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional aktual guru IPA SMP Negeri berada di bawah standar kompetensi ideal. Guru IPA SMP Negeri membutuhkan pelatihan untuk seluruh kompetensi guru.Terdapat 8 prioritas pelatihan peningkatan kompetensi guru IPA SMP Negeri, yaitu: (1) pelatihan teknologi informasi dan komunikasi(TIK/ICT)untuk pembelajaran dan pengembangan diri guru, (2) pelatihan kode etik profesi guru Indonesia, (3) pelatihan penelitian tindakan kelas (PTK), (4) pelatihan teori dan prinsip pembelajaran IPA terpadu, (5) pelatihan kurikulum IPA terpadu, (5) pelatihan psikologi anak, (7) pelatihan komunikasi pendidikan, dan (8) pelatihan kepribadian guru. Metode pelatihan yang efektif untuk pelatihan guru IPA SMP Negeri di Kota Pekanbaru adalahIn House Training (IHT), pelatihan khusus, kursus singkat, dan pembinaan internal
    corecore