1,720,960 research outputs found
CRITICISM OF HOODBOY'S THOUGHTS ON ISLAMIC SCIENCE
One of the prominent Islamic scientists who reject and criticize the development of Islamic science is Pervez Hoodbhoy. He said that the Qur'an is not a scientific book, even though it explicitly discusses various natural events. Therefore, in this article, the author will discuss the criticism of the scientist Pervez Hoodbhoy in Islamic Science. And examines the reasons for criticism and rejection as well as the responses of several other Islamic scientists to Pervez Hoodbhoy's criticism. by using a qualitative approach, which is library research. The research results show that, Hoodboy's greatest error in understanding Islamic science was first his belief that science is secular while acknowledging the existence of divinity; second, he stated that attempts to create Islamic sciences would fail because knowledge from the West raises doubt and prediction to scientific degrees in terms of methodology; third, morality and theology in any way will not be able to create new science; and fourth, there is no definition of science. Fourth, there is no acceptable definition of science among Muslims. fifth, there is only one universal science on the globe. Sixth, religion and science have different research dimensions. Seventh, questions regarding Islamic Science in the Middle Ages, and eighth, Muslim-developed doubts about Islam's character in science
Strategi Komunikasi dalam Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah Anggota Zona Tahfidz Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri
Strategi komunikasi dapat diartikan keseluruhan perencanaan, taktik, cara yang akan digunakan agar proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar dengan memperhatikan seluruh aspek yang ada pada proses komunikasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan ukhuwa Islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, sehingga menumbuhkan perasaan cinta dan saling percaya terhadap sesame muslim atau saudara seiman. Dalam hal ini penulis mengambil peran strategi komunikasi anggota zona tahfidz Universitas Darussalam Gontor dalam meningkatkan Ukhuwwah Islamiyah.Penelitian deskriptif dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi atau objek yang bersifat alamiah Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Reaserch). Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, wawancara dan dokumentasi dengan beberapa anggota dan pengurus zona tahfidz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang digunakan zona tahfidz Program ON-Roce merupakan strategi komunikasi yang di terapkan oleh anggota Zona Tahfidz Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri. Adapun program tersebut antara lain: Happy family Zona Tafidz, Sharing personal, Mix senjo competition, Penerapan SCE.Key word: Stategi komunikasia, ukhuwah islamyah, ON-Roc
EPISTEMOLOGI ISLAM Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Pengetahuan dalam Islam
Epistemologi dan pandangan hidup, seperti yang akan
dibuktikan nanti, mempunyai kaitan yang sangat erat, sebab
keduanya berada dan bekerja dalam pikiran manusia. Ia bahkan
dapat digambarkan sebagai vicious circle (lingkaran setan) karena
yang satu dapat memengaruhi yang lain. Kepercayaan terhadap
pengetahuan tentang Tuhan, misalnya, membuat pengetahuan
non-empiris menjadi mungkin (possible). Sebaliknya, menafikan
pengetahuan non-empiris berimplikasi pada penolakan terhadap
pengetahuan tentang Tuhan dan tentang hal-hal spiritual lainnya.
Contoh serupa dapat terjadi pada kepercayaan mengenai
sumber pengetahuan tentang moralitas. Percaya bahwa sumber
pengetahuan moralitas hanyalah sebatas subjektivitas manusia
berarti menolak sumber di luar itu,1
termasuk wahyu. Namun,
persoalan bagaimana epistemologi dan pandangan hidup samasama bekerja dalam pikiran manusia memang tidak sesederhana
itu, tapi hubungan antara keduanya dapat didemonstrasikan.
Dalam Islam, epistemologi berkaitan erat dengan struktur
metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan
wahyu, hadis, akal, pengalaman, dan intuisi.2
Ini berarti bahwa
ilmu dalam Islam merupakan produk dari pemahaman (tafaqquh)
terhadap wahyu yang memiliki konsep-konsep universal, permanen (tsawābit) dan dinamis (mutaghayyirāt), pasti (muḥkamāt) dan samarsamar (mutasyābih), yang asasi (uṣūl) dan yang tidak (furū‘). Oleh
sebab itu, pemahaman terhadap wahyu tidak dapat dilihat secara
dikotomis: historis-normatif, tekstual-kontekstual, subjektif-objektif,
dan lain-lain. Wahyu, pertama-tama harus dipahami sebagai realitas
bangunan konsep yang membawa pandangan hidup baru. Realitas
bangunan konsep ini kemudian harus dijelaskan dan ditafsirkan
agar dapat dipergunakan untuk memahami dan menjelaskan
realitas alam semesta dan kehidupan ini. Sebabnya, bangunan
konsep dalam wahyu yang membentuk worldview itu sarat dengan
prinsip-prinsip tentang ilmu, maka epistemologi merupakan bagian
terpenting di dalamnya. Tak heran jika tradisi intelektual dalam
peradaban Islam dapat hidup dan berkembang secara progresif.
Jadi, peradaban Islam itu bermula dari kegiatan tafaqquh terhadap
wahyu yang kemudian berkembang menjadi tradisi intelektual yang
melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam, hingga
akhirnya menjadi peradaban yang kokoh. Di situ, pandangan hidup
atau worldview dan epistemologi sama-sama bekerja.
PROSES MUNCULNYA WORLDVIEW DAN ILMU PENGETAHUAN
Sebenarnya, cara seorang individu berproses memiliki
pandangan hidup (worldview) cukup beragam. Dengan keragaman
proses tersebut, berbeda-beda pula bentuk dan sifat worldview yang
dihasilkan. Proses pembentukan worldview hampir tidak berbeda
dengan proses pencarian pengetahuan. Worldview terbentuk dari
adanya akumulasi pengetahuan dalam pikiran seseorang, baik a
priori maupun a posteriori,3
konsep-konsep serta sikap mental yang
dikembangkan oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bagi Thomas
F. Wall, akumuluasi pengetahuan yang ia sebut epistemological beliefs itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan worldview
kita, tapi yang sangat menentukan terbentuknya worldview
baginya adalah metaphysical belief.
4
Bagi Alparslan, worldview lahir
dari adanya konsep-konsep yang mengkristal menjadi kerangka
pikir (mental framework).5
Hal ini dapat dijelaskan bahwa ilmu
pengetahuan yang diperoleh seseorang itu terdiri dari ide-ide,
kepercayaan, aspirasi, dan lain-lain yang kesemuanya membentuk
suatu totalitas konsep, saling berkaitan dan terorganisasikan
dalam suatu jaringan (network) dalam pikiran kita. Jaringan ini
membentuk struktur berpikir yang koheren dan dapat disebut
suatu keseluruhan yang saling berhubungan “achitectonic whole”.
Keseluruhan konsep yang saling berhubungan inilah yang
membentuk pandangan hidup seseorang.6
Dalam kasus Islam,
seperti yang akan dijelaskan nanti, pengetahuan yang membentuk
totalitas konsep itu berasal dari ajaran Islam.
Secara sosiologis, prasyarat terbentuknya worldview bagi
suatu bangsa atau masyarakat adalah kondisi berpikir (mental
environment), meskipun hal ini belum menjamin timbulnya tradisi
intelektual dan penyebaran ilmu di masyarakat. Untuk itu, bangsa
atau masyarakat memerlukan apa yang disebut scientific conceptual
scheme ‘kerangka konsep keilmuan’, yaitu konsep-konsep keilmuan
yang dikembangkan oleh masyarakat secara ilmiah. Melihat
kedua proses pembentukan dan pengembangan worldview yang
seperti ini, maka worldview dapat dibagi menjadi natural worldview
dan transparent worldview. Yang pertama terbentuk secara alami,
sedangkan yang kedua terbentuk oleh suatu kesadaran berpikir
saja.7
Dalam natural worldview, disseminasi ilmu pengetahuan biasanya terjadi dengan cara-cara ilmiah dalam scientific conceptual
scheme, yaitu suatu mekanisme canggih yang mampu melahirkan
pengetahuan ilmiah dan melahirkan pandangan hidup ilmiah
(scientific worldview).8
Berbeda dari natural worldview, transparent
worldview lahir tidak melalui kerangka konsep keilmuan yang
terbentuk dalam masyarakat, meskipun substansinya tetap
bersifat ilmiah.
Transparent worldview lebih sesuai untuk sebutan bagi
pandangan hidup Islam. Sebabnya, pandangan hidup Islam tidak
bermula dari adanya suatu masyarakat ilmiah yang mempunyai
mekanisme canggih untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah.
Pandangan hidup Islam dicanangkan oleh Nabi di Makkah melalui
penyampaian wahyu Allah dengan cara-cara yang khas. Setiap
kali Nabi menerima wahyu berupa ayat-ayat Al-Qur’an, beliau
menjelaskan dan menyebarkannya ke masyarakat. Cara-cara
seperti ini tidak sama dengan cara-cara yang ada pada scientific
worldview. Oleh sebab itu, Alparslan menamakan worldview Islam
sebagai “quasi-scientific worldview”.9
Proses pembentukan pandangan hidup melalui penyebaran
ilmu pengetahuan di atas akan lebih jelas lagi jika kita lihat dari
proses pembentukan elemen-elemen pokok yang merupakan
bagian dari struktur pandangan hidup itu serta fungsi di
dalamnya. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa pandangan
hidup dibentuk oleh jaringan berpikir (mental network) berupa
keseluruhan yang saling berhubugan (architectonic whole). Namun,
ia tidak merepresentasikan suatu totalitas konsep dalam pikiran
kita. Ketika akal seseorang menerima pengetahuan, terjadi
proses seleksi yang alami. Pengetahuan tertentu diterima dan
pengetahuan yang lain ditolak. Pengetahuan yang diterima oleh akal kita akan menjadi bagian dari struktur worldview yang kita
miliki. Struktur worldview hampir serupa dengan elemen worldview.
Di sini, terdapat sedikitnya lima bagian penting struktur konsep:
(1) tentang kehidupan, (2) tentang dunia, (3) tentang manusia, (4)
tentang nilai, dan (5) tentang pengetahuan.10
Proses terbentuknya struktur worldview ini bermula dari
pemahaman tentang kehidupan, termasuk cara-cara manusia
menjalani kegiatan kehidupan sehari-hari, sikap-sikap individual
dan sosialnya, dan sebagainya. Struktur konsep tentang
dunia adalah persepsi tentang dunia di mana manusia hidup.
Struktur konsep tentang ilmu pengetahuan adalah merupakan
pengembangan dari struktur dunia (dalam transparent worldview).
Gabungan dari struktur kehidupan, dunia, dan pengetahuan
ini melahirkan struktur nilai, di mana konsep-konsep tentang
moralitas berkembang. Setelah keempat struktur itu terbentuk
dalam pandangan hidup seseorang secara transparent, maka
struktur tentang manusia akan terbentuk secara otomatis.
Meskipun proses akumulasi kelima struktur di atas dalam
pikiran seseorang tidak selalu berurutan seperti disebut di atas,
tapi perlu dicatat bahwa kelima struktur itu pada akhirnya
menjadi suatu kesatuan konsepstual dan berfungsi tidak saja
sebagai kerangka umum (general scheme) dalam memahami segala
sesuatu, termasuk diri kita sendiri, tapi juga mendominasi cara
berpikir kita. Di sini, dalam konteks lahirnya ilmu pengetahuan di
masyarakat, struktur pengetahuan merupakan asas utama dalam
memahami segala sesuatu. Ini berarti bahwa teori atau konsep apapun yang dihasilkan oleh seseorang dengan pandangan hidup
tertentu akan menjadi refleksi dari struktur-struktur di atas.
Teori ini berlaku secara umum pada semua kebudayaan
dan dapat menjadi landasan yang valid dalam menggambarkan
timbul dan berkembangnya pandangan hidup apapun, termasuk
pandangan hidup Islam. Berarti, kegiatan keilmuan apapun baik
dalam kebudayaan Barat, Timur, maupun peradaban Islam dapat
ditelusuri dari pandangan hidup masing-masing.
Kesimpulannya, ilmu dalam Islam lahir dari pandangan
hidup Islam yang diawali oleh adanya tradisi intelektual Islam.
Ilmu dalam Islam bukan diambil dari kebudayaan lain. Sebabnya,
ilmu tidak dapat timbul dan berkembang pada suatu masyarakat
dari hasil impor.11 Artinya, suatu ilmu tidak dapat muncul dengan
secara tiba-tiba dalam suatu masyarakat atau kebudayaan yang
tidak memiliki latar belakang tradisi ilmiah atau tanpa worldview
yang kaya dengan struktur keilmuan. Ilmu asing “diadapsi” bukan
“diadopsi”, itupun sebatas konsep-konsepnya yang dinilai layak
untuk diadapsi. Karena, proses pinjam meminjam antara satu
kebudayaan dengan kebudayaan lain merupakan sesuatu yang
alami. Namun, dalam mengadapsi konsep-konsep dari worldview
dan kebudayaan asing diperlukan proses epistemologis untuk
mengislamkannya. Bahkan, sebenarnya, ketika elemen-elemen
asing itu ditransmisikan ke dalam pandangan hidup Islam, pada
saat yang sama terjadi proses Islamisasi.
Meskipun demikian, posisi konsep pinjaman tidak bisa
menjadi lebih dominan. Dalam kasus filsafat dan sains Islam,
misalnya, posisi konsep pinjaman dari Yunani digambarkan
dengan tepat sekali oleh M. M. Sharif. Baginya, pemikiran Muslim
sebagai kain dan pemikiran Yunani sebagai sulaman (tambahan), “meskipun sulaman itu adalah benang emas, kita hendaknya
tidak menganggap sulaman itu sebagai kain”.12 Ini bermakna
bahwa kita tidak bisa dikatakan menghasilkan suatu disiplin ilmu
jika paradigma, prinsip-prinsip, dan teorinya didominasi oleh
pandangan hidup lain.
Akhirnya, kehadiran buku ini sangat penting untuk
memahami lahir dan berkembangnya epistemologi Islam. Buku
ini sangatlah tepat untuk dijadikan rujukan salah satu mata kuliah
Islamisasi Ilmu Pengetahuan, yaitu Epistemologi Islam. Kami
ucapkan selamat menikmati dan meneguk hikmah dari buku ini
الترصيع في سورة مريم (تحليل في علم البلاغة)
Ilmu badi’ is an art of Arabic rhetoric contained in the Holy Qur'an, in its surah and verse, especially in Surat Maryam. Tarshi’ is one of the types of verbal enhancements in Ilmu badi’, and it is the interview of each word of the prose paragraph or the chest of the stanza with a word on its weight and narration. The writing of this paper is in view of the manifestations of the broad rhetorical study, especially in the inlay of the Ilmu badi’, the content in many Arabic prose, especially in the Holy Quran. Each surah in the Qur'an contains a variety of words that make the hearts of the reader or listener touch the beauty and meaning of the word. And from this research, from this study it has been found that 21 forms of tarshi' in surah marya
Dalil al-Akhirah inda Maulana Wahiduddin Khan
This article is written to review one of the new proving methods in the development of Kalam science, in order to face the modern-day materialism that is oriented towards all things physically as a dangerous threat to religion. This is because belief in religion, in addition to discussing physical things, also discusses the metaphysical matters. It includes faith in God and faith in the Hereafter, both of which are metaphysical. One of the new ideas that became an important theme in the study of contemporary Islamic scholars is the thought of Maulana Wahiduddin Khan. This article uses the type of Library research, with the study of the Kalam science approach. Subsequently, the researcher used a Descriptive method to describe the Akhirat proof according to Wahiduddin Khan. In proving the religious truth about life in the Hereafter, Khan combines kalam with evidence of strong experiments, explaining the importance of belief in the life of the Hereafter. And in combining Kalam with evidence of Experimentt, Wahiduddin Khan opened up the afterlife by describing some of the research that has been done by scientists in modern times which is based on the experiment by: 1) in terms of medical research, 2) terms of research psychology, 3) in terms of the study of the spiritual, With these three studies aimed at preventing human beings from adverse acts and in order to improve human morale to live better
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
