15 research outputs found
Analisis Kinerja Jaringan Komputer di SMK Darussalam Medan dengan Menggunakan Cisco Packet Tracer
Jaringan komputer adalah dua komputer dapat dikatakan saling terkoneksi dalam sebuah jaringan jika keduanya mempunyai kemampuan untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Untuk memberi sebuah koneksi jaringan komputer keseluruh pengguna dalam area disekitarnya. Dalam tugas akhir ini, penulis memilih tempat di sekolah SMK Darussalam Medan untuk menganalisis kinerja jaringan komputer dan topologi yang digunakan adalah topologi star.
Pada Tugas Akhir ini disimulasikan dan dirancangan jaringan komputer di SMK Darussalam Medan, menggunakan software cisco packet tracer sebagai alat simulasi. Data simulasi diperoleh dari ruang kantor, ruang LAB TKJ (Teknik Komputer Jaringan) dan ruang LAB MM (Multi Media). Masing-masing ruang LAB memiliki 2 switch, 1 switch diruang kantor dan 1 wireless router diluar ruangan. Untuk menganalisis parameter kinerja jaringan yaitu packet loss, delay dan throughput.
Hasil simulasi dengan menggunakan software cisco packet tracer menunjukkan nilai delay yang terjadi diruang kantor sebesar 30,4 ms, untuk ruang LAB TKJ 43,4 ms dan LAB MM 50,2 ms. Sedangkan untuk seluruh ruangan tidak mengalami packet loss saat proses simulasi. Hasil throughput untuk ruang kantor sebesar 0,51 kbps, untuk ruang LAB TKJ 0,38 kbps dan LAB MM 0,37 kbps.42 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Kinerja Jaringan Switching Omega
Switching Omega merupakan jaringan interkoneksi antara modul memory dan modul processor pada sistem jaringan multiprocessor. Jaringan switching omega merupakan salah satu bentuk dari jaringan delta. Jaringan switching Omega pertama kali dipublikasikan oleh Duncan H Lawrie. Tugas akhir ini menganalisis kinerja jaringan switching Omega. Kinerja yang dianalisis adalah probabilitas bloking dan throughput. Untuk mengukur kinerja jaringan switching omega harus terlebih dahulu mengetahui bagaimana cara membangun jaringan, bagaimana prinsip kerjanya, dan apa saja kinerja yang dapat diukur dari jaringan switching Omega. Metode yang digunakan dalam menganlisis kinerja jaringan switching Omega ini adalah metode kuantitatif. Ukuran kuantitatif yang digunakan untuk menilai kinerja jaringan switching omega ini adalah probabilitas bloking dan throughput. Dari hasil analisis terhadap jaringan switching Omega yang telah dilakukan, diperoleh bahwa semakin banyak jumlah tingkat yang dibangun, probabilitas bloking dan throughput pada jaringan switching Omega juga semakin tinggi. Kenaikan nilai probabilitas bloking dan trhrougput juga dipengaruhi oleh nilai probabilitas awal atau p0.58 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Kinerja Jaringan Fiber To The Home (Ftth) di Jalan Lotus Perumahan Cemara Asri Medan
Fiber to the home ( FTTH) merupakan suatu bentuk penghantaran syarat optik
dari pusat penyedia (provider) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik
sebagai medium penghantaran. Perkembangan teknologi ini digunakan untuk
mendapatkan layanan yang dikenal dengan istilah triple play services yaitu layanan akan
akses internet yang cepat, suara dan video dalam satu infrastruktur pada unit pelanggan.
Tugas Akhir ini menganalisis kinerja jaringan FTTH (Fiber To The Home)
menggunakan teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) di Jalan Lotus
Perumahan Cemara Asri. Dalam analisis kinerjanya, parameter yang dianalisis power link
budget, power margin dan rise time budget.
Hasil dari analisis kinerja FTTH di Jalan Lotus Perumhan Cemara Asri Medan,
bahwa dari perhitungan untuk redaman uplink (1310 nm) menghasilkan sebesar 18,9 dB
dan untuk downlink (1490 nm) sebesar 18,7 dB sedangkan redaman uplink (850 nm)
menghasilkan sebesar 22,8 dB dan untuk downlink (1300 nm) sebesar 19,9 dB. Nilai
power margin menghasilkan nilai yang masih berada di atas nol dB (tidak negatif)
sehingga mengindikasikan bahwa link memenuhi kelayakan power link budget. Nilai rise
time total untuk uplink (1310 nm) sebesar 0,25 ns yang masih di bawah waktu total bit
rates sebesar 0,583 ns, sedangkan untuk downlink (1490 nm) sebesar 0,251 ns yang
masih di bawah waktu total bit rates sebesar 0,292 ns. Nilai rise time total untuk uplink
(850 nm) sebesar 0,346 ns yang masih di bawah waktu total bit rates sebesar 15,6 ns,
sedangkan untuk downlink (1300 nm) sebesar 0,253 ns yang masih di bawah waktu total
bit rates sebesar 7 ns.59 HalamanSkripsi Sarjan
Perbandingan Kinerja Jaringan Metropolitan Area Network dengan Internet Protocol Versi 4dan Versi 6
Komunikasi data berbasis teknologi TCP/IP telah umum digunakan sebagai jaringan dasar pada Local Area Network (LAN), baik dengan kabel (802.3) maupun wireless (802.11). Pada umumnya jaringan Local Area Network (LAN) diimplementasikan sebagai bagianMetropolitan Area Network (MAN).
Penelitian ini membandingkan kinerja jaringan MAN menggunakaninternet protocol versi 4 dan internet protocol versi 6. Adapun model jaringan MAN yang diteliti menggunakan 4 jaringan dengan routing berbeda-beda di setiap jaringan. Adapun teknologi routing yang digunakan adalah routing static, EIGRP, RIP dan OSPF. Kinerja jaringan dievaluasi menggunakan aplikasi GNS3 dan aplikasi wireshark dengan parameter throughput, delay, dan packet loss.
Berdasarkan hasil pengujian dapat dilihat nilai throughput IPv6lebih besar 54,92% dibandingkan dengan menggunakan IPv4. Hasil pengujian perbandingan nilai delay pada perancangan menggunakan IPv4lebih besar53,2% dibandingkan dengan menggunakan IPv6.Berdasarkan hasil pengujian packet loss, untuk setiap pengujian pada perancangan menggunakan IPv4 lebih besar41,8% dibandingkan dengan menggunakan IPv6.141 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Kinerja Jaringan Komputer di SMK Darussalam Medan dengan Menggunakan Cisco Packet Tracer
Jaringan komputer adalah dua komputer dapat dikatakan saling terkoneksi dalam sebuah jaringan jika keduanya mempunyai kemampuan untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Untuk memberi sebuah koneksi jaringan komputer keseluruh pengguna dalam area disekitarnya. Dalam tugas akhir ini, penulis memilih tempat di sekolah SMK Darussalam Medan untuk menganalisis kinerja jaringan komputer dan topologi yang digunakan adalah topologi star.
Pada Tugas Akhir ini disimulasikan dan dirancangan jaringan komputer di SMK Darussalam Medan, menggunakan software cisco packet tracer sebagai alat simulasi. Data simulasi diperoleh dari ruang kantor, ruang LAB TKJ (Teknik Komputer Jaringan) dan ruang LAB MM (Multi Media). Masing-masing ruang LAB memiliki 2 switch, 1 switch diruang kantor dan 1 wireless router diluar ruangan. Untuk menganalisis parameter kinerja jaringan yaitu packet loss, delay dan throughput.
Hasil simulasi dengan menggunakan software cisco packet tracer menunjukkan nilai delay yang terjadi diruang kantor sebesar 30,4 ms, untuk ruang LAB TKJ 43,4 ms dan LAB MM 50,2 ms. Sedangkan untuk seluruh ruangan tidak mengalami packet loss saat proses simulasi. Hasil throughput untuk ruang kantor sebesar 0,51 kbps, untuk ruang LAB TKJ 0,38 kbps dan LAB MM 0,37 kbps.42 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Kinerja Jaringan Fiber To The Home (Ftth) di Jalan Lotus Perumahan Cemara Asri Medan
Fiber to the home ( FTTH) merupakan suatu bentuk penghantaran syarat optik
dari pusat penyedia (provider) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik
sebagai medium penghantaran. Perkembangan teknologi ini digunakan untuk
mendapatkan layanan yang dikenal dengan istilah triple play services yaitu layanan akan
akses internet yang cepat, suara dan video dalam satu infrastruktur pada unit pelanggan.
Tugas Akhir ini menganalisis kinerja jaringan FTTH (Fiber To The Home)
menggunakan teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) di Jalan Lotus
Perumahan Cemara Asri. Dalam analisis kinerjanya, parameter yang dianalisis power link
budget, power margin dan rise time budget.
Hasil dari analisis kinerja FTTH di Jalan Lotus Perumhan Cemara Asri Medan,
bahwa dari perhitungan untuk redaman uplink (1310 nm) menghasilkan sebesar 18,9 dB
dan untuk downlink (1490 nm) sebesar 18,7 dB sedangkan redaman uplink (850 nm)
menghasilkan sebesar 22,8 dB dan untuk downlink (1300 nm) sebesar 19,9 dB. Nilai
power margin menghasilkan nilai yang masih berada di atas nol dB (tidak negatif)
sehingga mengindikasikan bahwa link memenuhi kelayakan power link budget. Nilai rise
time total untuk uplink (1310 nm) sebesar 0,25 ns yang masih di bawah waktu total bit
rates sebesar 0,583 ns, sedangkan untuk downlink (1490 nm) sebesar 0,251 ns yang
masih di bawah waktu total bit rates sebesar 0,292 ns. Nilai rise time total untuk uplink
(850 nm) sebesar 0,346 ns yang masih di bawah waktu total bit rates sebesar 15,6 ns,
sedangkan untuk downlink (1300 nm) sebesar 0,253 ns yang masih di bawah waktu total
bit rates sebesar 7 ns.59 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Kinerja Metode Akses Token Ring Pada Local Area Network
Local Area Network merupakan jaringan milik pribadi yang umumnya
terdapat di dalam suatu gedung atau ruangan. LAN biasanya digunakan untuk
pemakaian resource bersama-sama, seperti printer dan penggunaan media
penyimpanan secara bersama-sama. Topologi ring merupakan salah satu tipe
jaringan yang di pakai pada jaringan LAN yang menggunakan token sebagai
sinyal pembawa data yang akan ditransmisikan.
Salah satu permasalahan pada pentransmisian data di dalam topologi ring
yang sering dialami adalah berupa delay. Dimana delay merupakan waktu jeda
antara waktu pentransmisian dan penerimaan data di dalam jaringan. Delay yang
mempengaruhi di dalam jaringan topologi ring berupa delay propagasi, yaitu
merupakan lamanya waktu perjalanan token untuk mengelilingi jaringan, dan
delay latency ring, yang merupakan waktu yang diakibatkan dari proses
pentransmisian data di dalam jaringan ring. Throughput merupakan rasio
kecepatan rata-rata dari data yang ditransmisikan pada node di dalam jaringan.
Pada Tugas Akhir ini akan dilakukan analisis delay dan throughput untuk
pentransmisian paket data pada jaringan topologi ring. Dan perolehan dari hasil
kinerja akan dilakukan secara teoritis.
Dari analisis yang dilakukan untuk jarak 2 km dengan panjang data 1000 bit
diperoleh bahwa delay untuk jumlah 10 stasiun = 22,55 μs; untuk 20 stasiun =
25,06 μs; untuk 30 stasiun = 27,57 μs; untuk 40 stasiun = 30,08 μs; untuk 50
stasiun = 32,59 μs. Dan untuk throughput dengan jumlah 10 stasiun = 0,025;
untuk 20 stasiun = 0,05; untuk 30 stasiun = 0,075; untuk 40 stasiun = 0,1; untuk
50 stasiun = 0,125.66 HalamanSkripsi Sarjan
Pencapaian Lebar-Pita Antena Mikrostrip dengan Tingkap Tergandeng untuk Frekuensi 2,4 GHz
PENGARUH JALUR REDUNDAN TERHADAP PROBABILITAS BLOCKING JARINGAN MULTISTAGE INTERCONNECTION NETWORK TOPOLOGI GAMMA
Multistage Interconnection Network (MIN) dalam beberapa dekade terakhir telah digunakan sebagai jaringan switching pada bidang Telekomunikasi dan menjadi jaringan interkoneksi antara prosesor dengan prosesor atau prosesor dengan memori pada bidang Komputer menggantikan topologi matriks. Namun MIN umumnya hanya memiliki satu jalur dari setiap pasangan sumber-tujuan. Pada tulisan ini dibahas salah satu MIN yang memiliki sejumlah jalur redundan di antara pasangan sumber dan tujuannya, yaitu jaringan MIN topologi Gamma. Pola representasi jalur redundan dari setiap pasangan koneksi sumber-tujuan jaringan Gamma ini digunakan sebagai routing tag untuk merute di dalam jaringan. Dari pengujian yang dilakukan dengan menggunakan dua buah permutasi diperoleh hasil bahwa jika jalur redundan pertama gagal, maka perutean di dalam jaringan dapat memanfaatkan jalur redundan berikutnya, sehingga kegagalan dapat dihindarkan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa jalur redundan mampu memperbaiki probabilitas blocking jaringan MIN topologi Gamma
Perbaikan Internal Blocking Jaringan Interkoneksi Banyak Tingkat Topologi Omega 8x8 dengan Algoritma Look-Ahead
Jaringan interkoneksi banyak tingkat (Multistage Interconnection Network/MIN) hingga saat ini digunakan sebagai switching pada sentral-sentral dalam sistem-sistem Telekomunikasi. Disamping itu MIN juga digunakan sebagai switch penghubung antara prosesor dan modul memori pada sistem-sistem Komputer. Penggunaan MIN semakin diminati karena penghematan jumlah crosspoint yang dimilikinya dibandingkan dengan switch matriks konvensional yang jumlah crosspoint-nya lebih banyak. Selain itu MIN mudah dikontrol dan mampu mendukung koneksi input-output dalam skala besar. Namun MIN bersifat internal blocking, sehingga dibutuhkan suatu cara untuk menjadikannya non-blocking atau mengurangi persentase internal blocking yang dimilikinya. Salah satu cara yang dilakukan untuk maksud tersebut adalah menggunakan algoritma. Pada tulisan ini dibahas algoritma Look-Ahead untuk mengurangi internal blocking MIN topologi Omega 8x8. Dari 2 buah contoh yang dianalisis, untuk permutasi dengan koneksi input-output yang uniform tanpa algoritma Look-Ahead diperoleh hasil bahwa internal blocking sebesar 62,5% dan jika menggunakan algoritma Look-Ahead internal blocking turun menjadi menjadi 25%. Sedangkan dengan permutasi yang memiliki koneksi yang non uniform persentase internal blocking-nya menjadi lebih tinggi yaitu sebesar 87,5% jika tanpa algoritma Look-Ahead, sedangkan dengan algoritma Look-Ahead turun menjadi 50%. Jadi algoritma Look-Ahead sangat mengurangi kegagalan koneksi input-output sebuah permutasi atau dengan kata lain mengurangi internal blocking sebuah jaringan MIN secara signifikan
