23 research outputs found

    PENGEMBANGAN PAKAN BUATAN BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL DAN LIMBAH DENGAN SUBTITUSI TEPUNG CACING TANAH UNTUK MENDUKUNG PRODUKSI IKAN BANDENG UKURAN EKSPOR

    No full text
    Permintaan ikan bandeng untuk kebutuhan restoran, daerah lain seperti Jakarta dan Papua, serta ekspor umumnya mensyaratkan ukuran minimal 500 g. Ukuran ini sulit dicapai tanpa pemberian pakan tambahan. Harga pakan buatan yang relatif mahal, membuat petambak mencari alternatif dengan memberikan limbah mie instan, yang sekarang mulai sukar diperoleh karena jumlahnya yang terbatas. Oleh karena itu, perlu dikembangkan formulasi pakan buatan yang murah dan ramah lingkungan, tetapi dengan kualitas gizi yang dapat menjamin pertumbuhan ikan bandeng, sehingga tidak kalah dengan kualitas pakan ikan komersil. Hal ini dapat tercapai dengan memanfaatkan bahan baku pakan berbasis lokal dan limbah, serta pemanfaatan tepung cacing tanah sebagai sumber protein untuk mensubtitusi tepung ikan. Untuk mewujudkan pengembangan pakan buatan untuk ikan bandeng ini perlu dilakukan penelitian yang dirancang dalam periode waktu 3 tahun. Tahun 1 adalah uji coba formulasi pakan dengan memanfaatkan tepung cacing tanah sebagai sumber protein untuk mensubtitusi tepung ikan, serta memanfaatkan bahan baku lokal dari produk perikanan dan pertanian ataupun limbahnya, serta limbah pabrik pengolahan pangan yang ada di Sulawesi Selatan sebagai bahan baku untuk pembuatan pakan buatan bagi ikan bandeng. Tahun 2 adalah ujicoba modifikasi formulasi pakan yang idial untuk protein sparing effect, yaitu dengan menyeimbangkan sumber energi pakan (protein, karbohidrat, dan lemak) dilengkapi dengan kadar vitamin dan mineral yang optimal. Tahun 3 adalah aplikasi bioteknologi untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku pakan dan pakan buatan, seperti penggunaan mikroorganisme untuk proses fermentasi bahan baku pakan, probiotik dan enzim pencernaan sebagai biodegradator pakan buatan, serta pengaturan persentase dan time schedule pemberian pakan. Pada penelitian tahun I telah dilakukan percobaan dengan memformulasi pakan dari berbagai jenis bahan baku lokal dan limbah, yang dibagi dalam 2 percobaan. Percobaan 1 : memformulasi 4 formula pakan buatan dengan mensubtitusi tepung ikan dengan tepung cacing tanah (Lumbricus sp.), yaitu pakan A = 0%; pakan B = 34,62%; pakan C = 65,38%; dan pakan D = 100%; dan Percobaan 2 : memformulasi 4 formula pakan buatan dengan mensubtitusi tepung kacang kedelai dengan tepung kacang merah, yaitu pakan A = 0%; pakan B = 33,33%; pakan C = 66,67%; dan pakan D = 100%. Berdasarkan pengujian kualitas organoliptik dan fisik ke-8 formula pakan yang dibuat dapat memenuhi kriteria pakan untuk ikan bandeng. Pengujian kimiawi menunjukkan ke-8 jenis pakan tersebut memenuhi syarat nutrisi yang dibutuhkan ikan bandeng. Ditemukan juga teknologi pembuatan pakan buatan untuk ikan bandeng yang efisien. Pengujian lebih lanjut dengan uji biologis, memperlihatkan bahwa tepung cacing tanah (Lumbricus sp.) dapat mensubtitusi tepung ikan sampai 100% dan kacang merah dapat mensubtitusi kacang kedelai 66.67-100% pada pakan buatan untuk ikan bandeng dengan kualitas gizi yang dapat menjamin pertumbuhan ikan bandeng. Ditemukan pula bahwa pakan buatan yang digunakan sebaiknya mempunyai kadar nutrien yang seimbang dan merupakan campuran berbagai bahan baku pakan agar kandungan nutriennya saling melengkapi

    SUBTITUSI TEPUNG KACANG KEDELAI DENGAN TEPUNG KACANG MERAH TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIAWI PAKAN BUATAN UNTUK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal)

    No full text
    Kacang kedelai (Glycine max) adalah salah satu bahan baku pakan ikan yang mahal, karena produk impor dan bersaing dengan kebutuhan manusia. Jenis kacang lokal yang dapat dipertimbangkan pengganti kacang kedelai adalah kacang merah (Phaseolus vulgaris). Kualitas bahan baku dan komposisi yang tepat akan menghasilkan pakan buatan yang berkualitas dengan tingkat water stability yang tinggi, disukai, dan aman bagi ikan bandeng. Tujuan penelitian ini mengevaluasi sifat fisik dan kimiawi pakan buatan yang diformulasi pada berbagai tingkat subtitusi tepung kacang kedelai dengan kacang merah. Perlakuan yang diuji tingkat subtitusi tepung kacang kedelai dengan tepung kacang merah dalam pakan buatan ikan bandeng, yaitu : pakan A. 0%; pakan B. 33,33%; pakan C. 66,67%; dan pakan D. 100%. Peubah yang diamati adalah uji organoleptik (tekstur, aroma, dan warna); uji fisik (stabilitas pakan dalam air, tingkat kekerasan, tingkat homogenitas, kecepatan tenggelam, serta daya pikat dan daya lezat pakan) dan uji kimiawi (kandungan nutrien pakan, yaitu protein, lemak, BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen), serat kasar, dan abu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa berbagai tingkat subtitusi tepung kacang kedelai dengan tepung kacang merah menghasilkan kualitas pakan yang sama dan memiliki kandungan nutrien dalam kisaran kebutuhan ikan bandeng. Dengan demikian, tepung kacang merah dapat mensubtitusi tepung kacang kedelai dalam pakan buatan ikan bandeng sampai 100%

    KADAR GLUKOSA DAN TRIGLISERIDA DARAH SERTA DEPOSISI GLIKOGEN HATI DAN OTOT PADA BERBAGAI LEVEL KROMIUM ORGANIK (Cr+3) DAN KARBOHIDRAT PAKAN BUATAN UDANG WINDU (Penaeus monodon)

    No full text
    Permasalah faktual yang dihadapi adalah adanya kendala fisiologis yang berkaitan dengan kurang efisiennya pemanfaatan karbohidrat pakan oleh udang. Hal tersebut disebabkan pemasukan (influx) glukosa hasil hidrolisis enzimatik karbohidat pakan ke dalam darah dan selanjutnya dari darah masuk ke dalam sel kurang memenuhi kebutuhan energi metabolisme sel, sehingga protein yang dikatabolisme. Hidrolisis karbohidrat menjadi molekul yang lebih sederhana seperti glukosa terutama terjadi di dalam usus halus. Proses tersebut melibatkan aktivitas enzim amilase. Pada Tingkat penyerapan, mekanisme pompa natrium (sodium pump) yang melibatkan aktivitas enzim Na+ATPase pada akhirnya berperan dalam pengaturan konsentrasi glukosa dalam darah. Pemanfaatan glukosa yang kurang maksimum sebagai sumber energi metabolisme sel menyebabkan fungsi sejumlah asam amino dan asam lemak berubah menjadi sumber energi. Hal ini berarti pemanfaatan karbohidrat dan konsekuensinya protein pakan untuk pertumbuhan menjadi kurang efisien.\ud Rendahnya kemampuan udang dalam memanfaatkan glukosa untuk energi metabolisme diduga berkaitan dengan bioaktivitas dan kapasitas kinerja insulin, serta jumlah reseptor insulin yang kurang optimum. Pada tingkat seluler, dengan cara transpor aktif glukosa memerlukan fasilitas pengangkut, yaitu GLUT (Glucose Transpoter) agar dapat melewati membran sel dan masuk ke dalam sitosol sebelum dimetabolisme lebih lanjut menjadi energi. Transpor aktif glukosa dari darah ke dalam sel memerlukan bantuan insulin. Kegiatan ini sangat ditentukan oleh keberadaan kromodulin. Menurut Vincent (2000) kromodulin dikenal sebagai GTF (glucosa tolerance faktor), yaitu suatu oligopeptida yang mengikat kromium dan berbobot molekul rendah. Kromodulin berperan dalam meningkatkan affinitas atau potensi kinerja hormon insulin yang menstimulasi GLUT (glukosa transporter) memasukkan glukosa dari darah ke dalam sel, memacu glikogenesis, lipogenesis, dan pengangkutan serta pengambilan asam amino oleh sel melalui sensitivitas rseptor insulin (Vincent, 2000; Cefalu et al., 2002). Peningkatan aktivitas insulin yang berkaitan dengan naiknya sensitivitas maupun kuantitas reseptor insulin akan mempercepat aliran glukosa darah ke dalam sel target untuk segera dimanfaatkan (Kegley et al., 2000; Vincent, 2000; Moon, 2001; Cefalu et al., 2002). Pemanfaatan glukosa darah yang semakin cepat untuk pemenuhan kebutuhan energi akan mengurangi katabolisme protein sebagai sumber energi, sehingga menaikkan efisiensi penggunaan protein. Naiknya efisiensi penggunaan protein diharapkan akan meningkatkan deposisi protein tubuh, yang berarti terjadi pertambahan bobot atau pertumbuhan.\ud Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan glukosa darah tersebut adalah dengan menambah kromium organik dalam pakan. Kromium sebagai komponen kromodulin merupakan mikromineral esensial yang memiliki kisaran tertentu agar berfungsi secara optimum. Subandiono (2004) melaporkan bahwa penambahan kromium organik dengan kadar 1,5 ppm Cr+3 efektif meningkatkan influx glukosa dalam sel dan penggunaan karbohidrat pakan pada ikan gurame. Dengan demikian, perlu dilakukan evaluasi suplementasi kromium organik yang optimum yang dapat mempercepat tercapainya titik puncak dan permulaan turunnya puncak kadar glukosa dan trigliserida darah pada udang windu. Hal ini berhubungan dengan pemasukan (influx) glukosa hasil hidrolisis enzimatik karbohidrat pakan ke dalam darah dan selanjutnya masuk ke dalam sel. Peningkatan pemasukan glukosa ke dalam sel diharapkan dapat meningkatkan penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi. Hal ini juga dapat diindikasikan oleh adanya pembentukan trigliserida darah, penyimpanan glikogen di hati dan otot, serta pertambahan bobot.\ud Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tercapainya puncak dan permulaan turunnya puncak kadar glukosa dan trigeliserida darah pada udang windu yang diberi suplemen kromium organik dalam pakan, serta pengaruhnya pada deposit glikogen hati dan otot. Hasil penelitian ini diharapkan berguna salah satu sebagai bahan informasi tentang penggunaan suplemen kromiun organik pada pembuatan pakan udang windu.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tercapainya puncak dan permulaan turunnya puncak kadar glukosa dan trigeliserida darah pada udang windu yang diberi suplemen kromium organik dalam pakan, serta pengaruhnya pada deposit glikogen hati dan otot. Penelitian dilaksanakan pada bulan bulan Juli sampai Oktober 2010 di Unit Hatchery Mini, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas. Wadah yang digunakan pada percobaan ini adalah akuarium kaca yang dirancang dengan sistem resirkulasi berukuran 50 x 40 x 35 cm berjumlah 20 buah. Hewan uji adalah juvenil udang windu masing-masing 15 ekor per satuan percobaan dengan bobot total 4 g atau rata-rata 0,27 g. Pakan uji adalah pakan buatan berbentuk pellet yang diformulasi sesuai dengan perlakuan dan disuplementasi dengan kromium organik (Cr+3) masing-masing dengan kadar perlakuan. Percobaan ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 9 perlakuan level karbohidrat 30, 40, 50% dan level Kromium organik (Cr3+) 1, 2, dan 3 ppm, serta pakan kontrol. Setiap perlakuan masing-masing mempunyai 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa dan trigliserida darah juvenil udang windu mencapai puncak dan permulaan turunnya puncak pada jam ke-4 dan 6 post prandial. Kadar glikogen hati dan otot tertinggi dihasilkan pada udang yang mengkonsumsi pakan kadar karbohidrat level 30 dan 40 % dengan suplementasi kromium 1 dan 2 ppm, sedangkan terendah pada kadar karbohidrat 50%. Dalam budidaya udang windu disarankan menggunakan pakan kadar karbohidrat 40% dan suplementasi kromium 2 ppm.This study aims to assess the achievement of the peak and the beginning of the decline in peak blood glucose levels and trigeliserida on shrimp supplemented with organic chromium in feed, and its effects on liver and muscle glycogen deposits. The experiment was conducted in July through October 2010 at the Mini Hatchery Unit, Faculty of Marine Sciences and Fisheries Unhas. The container used in this experiment is designed with glass aquarium recirculation system size of 50 x 40 x 35 cm amounted to 20 pieces. Animal testing is a juvenile tiger prawns each with 15 birds per experimental unit with a total weight of 4 g or an average of 0.27 g. Forage testing is a form of artificial feed pellets are formulated in accordance with the treatment and supplemented with organic chromium (Cr +3) each with levels of treatment. These experiments are designed using Completely Randomized Design with 9 treatment levels of carbohydrates 30, 40, 50% and levels of organic chromium (Cr3 +) 1, 2, and 3 ppm, and feed controls. Each treatment each had two replicates. The results showed that blood glucose levels and triglycerides juvenile tiger prawns and the beginning of the decline in peak hour to peak at 4 and 6 post-prandial. Liver and muscle glycogen levels produced the highest in shrimp feed ingestion levels of carbohydrate level 30 and 40% with chromium supplementation 1 and 2 ppm, while the lowest at 50% carbohydrate content. In the cultivation of black tiger shrimp feed carbohydrate levels is recommended to use 40% and 2 ppm chromium supplementation

    PENGARUH BERBAGAI KONDISI PENCAHAYAAN TERHADAP LAJU KONSUMSI PAKAN DAN SINTASAN LARVA KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) STADIA ZOEA SAMPAI MEGALOPA The Effect Of Various Lighting Condition On Feed Predation And Survival Rate Of Mud Crab (Scylla Olivacea) Larvae Stadium Zoea Until Megalopa

    No full text
    Kepiting bakau merupakan salah satu biota perairan bernilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan secara komersial di beberapa negara tropis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai kondisi pencahayaan terhadap laju pemangsaan pakan dan sintasan larva kepiting bakau (Scylla olivacea). Penelitian dilaksanakan di Balai budidaya Air Payau, Kabupaten Takalar, Propinsi Sulawesi Selatan selama 30 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan kondisi pencahayaan dan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas kondisi cahaya terbuka (TT), setengah terbuka (ST), dan tertutup (TB). Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa kondisi pencahayaan berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) pada laju konsumsi pakan dan sintasan larva kepiting bakau (S. olivacea) stadia zoea sampai megalopa. Laju pemangsaan pakan dan sintasan tertinggi dihasilkan pada kondisi pencahayaan setengah terbuka yakni 65,46 dan 18,32%, sedangkan terendah pada kondisi terbuka yakni 38,56 dan 7,38%

    Effect of Basin Color on The Performance of Blue Swimming Crab (Portunus pelagicus)

    No full text
    Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a sea crab that is widely found in Indonesian waters. One of the determinants of the success of crab cultivation is the availability of quality seeds. Howewer, blue swimming crab hatchery is currently experiencing problems, namely unstable seed availiability due to high mortality and growth at the larvae stage. This research aims to evaluate the effect of various colors of rearing basins of feeding rate and survival rate of blue swimming crab larvae (P. pelagicus) in zoea stage. The larvae for the study was zoea-1 stage with a stocking density of 50 ind/L. The basins used in this study was a round plastic basin with a volume of 40 L filled with 30 L of media water. The feed used was rotifer and artemia nauplius. The method used was a completely randomized design consist of 4 treatments and 3 replications. The treatments that were the use black, green, blue, and red basins colors. The results of the analysis of variance showed that the color of the basins had a significant effect on the feeding rate (p &lt; 0,05) and very significant on survival rate (p &lt; 0,01) for small blue swimming crab larvae were produced in black basins 90.14 and 16.60%

    BIOENCAPSULATED OF LIVE FEEDS WITH CAROTENOID OF NON ECONOMIC CRAB SHELL: EFFECT ON SURVIVAL AND GROWTH RATES OF BLUE CRAB (Scylla olivacea) ZOEA STAGE

    No full text
    The aim of the study were to determine the optimal dose of bioencapsulated carotenoid emulsion of non economic crab to increase carotenoid content of natural food (rotifer and nauplii Artemia) and to decide on the optimal dose of bioencapsulated carotenoid emulsion to improve growth and survival rate of blue crab (Scylla olivacea). The research result showed that the enrichment with carotenoid on rotifer under dose of 10.59 g/l and on nauplii Artemia under dose of 9.85 g/l can increase the content of carotenoid in the rotifer and nauplii Artemia.. The maximum survival rate of 39.12% reached at dosage 7.34 g/l and the maximum carapace growth reached at range of dosage between 7.25 and 8.29 g/

    PENGARUH BERBAGAI KONDISI PENCAHAYAAN TERHaDAP laju pemangsaan pakan DAN SINTASAN LARVA KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) STADIA ZOEA SAMPAI MEGALOPA

    No full text
    ????????????Kepiting bakau merupakan salah satu biota perairan bernilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan secara komersial di beberapa negara tropis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai kondisi pencahayaan terhadap laju pemangsaan pakan dan sintasan larva kepiting bakau (Scylla olivacea). Penelitian dilaksanakan di Balai budidaya Air Payau, Kabupaten Takalar, Propinsi Sulawesi Selatan selama 30 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan kondisi pencahayaan dan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas kondisi cahaya terbuka (TT), setengah terbuka (ST), dan tertutup (TB). Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa kondisi pencahayaan berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) pada laju pemangsaan pakan dan sintasan larva kepiting bakau (S. olivacea) stadia zoea sampai megalopa. Laju pemangsaan pakan dan sintasan tertinggi dihasilkan pada kondisi pencahayaan setengah terbuka yakni 65,46 dan 18,32%, sedangkan terendah pada kondisi terbuka yakni 38,56 dan 7,38%

    Respon Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla olivacea) yang Dipelihara pada Kawasan Mangrove dengan Rasio Jantan dan Betina

    No full text
    Budidaya kepiting bakau untuk penggemukan dapat dilakukan pada kawasan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio jantan dan betina yang tepat pada budidaya penggemukan kepiting bakau (Scylla olivacea) yang dipelihara pada kawasan mangrove. Penelitian dilaksanakan di kawasan mangrove Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. olivacea) jantan dan betina berukuran bobot 250 ?? 10 g yang ditebar dengan kepadatan 10 ekor/kurungan. Wadah yang digunakan adalah kurungan yang terbuat dari bambu berukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 1,0 x 1,0 x 1,0 m yang ditempatkan di kawasan mangrove. Pakan yang digunakan adalah ikan-ikan rucah dosis 10% dari biomassa kepiting dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yakni pagi hari sebesar 30% dan sore hari 70%. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu rasio kepiting jantan dan betina: (7 dan 3), (6 dan 4), (5 dan 5), (4 dan 6) dan (3 dan 7) ekor/kurungan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut W-Tuckey. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa rasio jantan dan betina tidak berpengaruh nyata (p > 0,05) pada sintasan, akan tetapi berpengaruh sangat nyata (p < 0,01) pada pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian kepiting bakau (S. olivacea). Sintasan yang dihasilkan berkisar 93,33-100%, pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian kepiting tertinggi dihasilkan pada rasio jantan dan betina (7 dan 3) dan (6 dan 4) ekor/kurungan yakni 56,99 dan 1,35; 56,25 g dan 1,36%/hari sedangkan terendah pada rasio (3 dan 7) ekor/kurungan yakni 28,97 g dan 0,73%/hari

    - Optimizing N:P Ratios to Enhance Carbohydrate and Lipid Content in Outdoor Cultured Gracilaria verrucosa

    No full text
    A leading commodity that has the potential to be developed as an export commodity for Indonesia is seaweed. One type of Gracilaria that has economic value and is widely cultivated is Gracilaria verrucosa. This study aims to analyze the effect of nitrogen (N) and phospor (P) concentration ratio on carbohydrate and lipid content in G. verrucosa seaweed cultivated outdoors. This research was conducted in May-June 2023 at the Hatchery FIKP, Hasanuddin University. Seaweed seedlings were reared for 44 days using 70 cm diameter conical fiber tanks filled with 100 g/150 L of water. This study used a non-parametric method Kruskal-Wallis consisting of 3 treatments and each treatment consisted of 3 replicates so that there were 9 experimental units. Based on the results of Kruskal-wallis analysis showed significant differences in carbohydrate content in seaweed G. verrucosa). The highest carbohydrate content was obtained in the treatment with a ratio of 2 ppm : 1 ppm (A), which is 33.49%, treatment with 2 ppm : 1.5 ppm (B) is 29.56% and the lowest treatment was in the ratio of 2 ppm: 2 ppm (C) which is 29.28%. The highest lipid content was at a ratio of 2 ppm: 2 ppm (C) 0.84% and the lowest at a ratio of 2 ppm: The water quality parameters observed during the study were all suitable for the growth of G. verrucosa.Komoditas unggulan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor Indonesia adalah rumput laut. Salah satu jenis Gracilaria yang bernilai ekonomis dan banyak dibudidayakan adalah Gracilaria verrucosa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rasio konsentrasi nitrogen (N) dan phospor (P) terhadap kandungan karbohidrat dan lemak pada rumput laut G. verrucosa yang dibudidayakan secara outdoor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2023 di Hatchery FIKP, Universitas Hasanuddin. Bibit rumput laut dipelihara selama 44 hari menggunakan bak fiber kerucut berdiameter 70 cm yang diisi dengan 100 g/150 L air. Penelitian ini menggunakan metode non-parametrik Kruskal-Wallis terdiri dari 3 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan sehingga terdapat 9 satuan percobaan. Berdasarkan hasil analisis Kruskal-wallis memperlihatkan perbedaan yang signifikan terhadap kandungan karbohidrat pada rumput laut G. verrucosa. Kandungan karbohidrat tertinggi didapatkan pada perlakuan dengan rasio 2 ppm : 1 ppm (A), yaitu 33.49%, perlakuan dengan 2 ppm : 1,5 ppm (B) yaitu 29,56% dan perlakuan terendah berada pada rasio 2 pmm : 2 ppm (C) yaitu 29.28%. Kandungan lemak tertinggi berada pada rasio 2 ppm : 2 ppm (C) 0.84% dan terendah pada rasio 2 ppm : 1 ppm (A) 0.36%.Parameter kualitas air yang diamati selama penelitian semuanya layak untuk pertumbuhan G. verrucos
    corecore