8 research outputs found
Analisis Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia VII Tahun 2021 Tentang Cryptocurrency Sebagai Mata Uang dan Aset Digital Perspektif Hukum Ekonomi Syariah
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang digelar pada tanggal 9 sampai 11 November 2021 di Jakarta memberikan 3 ketentuan hukum; 1) Penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang hukumnya haram, karena mengandung gharar, dharar, dan bertentangan dengan UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang dan Peraturan BI No. 17 tahun 2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah; 2)Cryptocurrency sebagai komoditi/aset digital tidak sah diperjualbelikan karena mengandung gharar, dharar, qimar (perjudian) dan tidak memenuhi syarat sil'ah (komoditi); 3) Cryptocurrency sebagai komoditi/aset memenuhi syarat sebagai sil'ah dan memiliki underlying, serta tidak mengandung gharar, dharar, dan qimar, hukumnya sah untuk diperjualbelikan. Dari ketentutan tersebut masih terdapat kerancuan karena belum ada kategorisasi yang jelas dan menggeneralisir terhadap seluruh kripto. Kenyataannya, kripto memiliki jenis yang sangat beragam dengan kegunaan dan teknologi yang juga sangat berbeda antara satu sama lain.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keputusan ijtima’ ulama komisi fatwa se-indonesia ke-7 tahun 2021 tentang cryptocurrency sebagai alat pembayaran dan aset digital perspektif hukum ekonomi syariah.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), Pendekatan yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, kemudian di analisis secara deduktif untuk menganalisa Putusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang ke VII tentang cryptocurrency sebagai mata uang dan asset digital perspektif hukum ekonomi syariah.
Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan putusan ijtima’ ulama tentang penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang dan aset digital hukum nya haram sesuai dengan perspektif hukum ekonomi syariah karena mengandung unsur Gharar, Dharar, Qimar, tidak memenuhi syarat Sil’ah, sedangkan putusan pembolehan cryptocurrency sebagai komoditi/asset yang memenuhi syarat sil'ah dan memiliki underlying asset tidak sesuai dengan ketentuan hukum ekonomi syariah karena pada dasarnya hingga penelitian ini dibuat cryptocurrency belum ada yang memenuhi syarat sil’ah dan tidak memiliki underlying asset
Profit Sharing Akad of Sharia Venture Capital Companies
This study aims to analyze the essence of profit sharing contracts for Islamic venture capital companies. This study uses a qualitative method which is a method that focuses on in-depth observation. Therefore, the use of qualitative methods in this study resulted in a more comprehensive review of profit-sharing contracts for Islamic venture capital companies. the type of research that the author uses is normative legal research. The nature of research in this writing is the nature of descriptive research. The approach used in this legal research is a statutory approach and a conceptual approach. The results of this study indicate that Islamic venture capital uses musyarakah and mudharabah akad in the profit-sharing scheme. Akad Musyarakah are used for companies that already have an ongoing business, but still need additional capital for business expansion purposes and akad mudharabah are used when a new business is established that has prospects for development
Rancang Bangun Sistem Informasi Pengiriman Barang Santri IKSASS Bondowoso Menggunakan PHP dan Mysql
The delivery service offered by the Santri Alumni Association ensures secure and efficient transportation of goods while maintaining accountability. Challenges such as data loss, errors in delivery information, complex courier task allocation, and difficulty in tracking shipments are prevalent. To address these issues, a web-based freight forwarding information management system is proposed, developed using the waterfall software development method and Unified Modeling Language (UML). This application aims to mitigate risks like data loss and errors by ensuring systematic data storage on a server. By computerizing the management of goods delivery data, the system facilitates accurate tracking of shipments and enables cost estimation. Ultimately, the implementation of this information system is expected to streamline operations at the Bondowoso Association of Santri Alumni, enhancing overall efficiency and service reliability.Layanan pengiriman barang santri oleh Ikatan Santri Alumni bertujuan untuk memudahkan transportasi barang secara aman dan terpercaya dari satu tempat ke tempat lain. Namun, beberapa tantangan seperti kehilangan data, ketidakakuratan, dan ketidaklengkapkan informasi pengiriman, kompleksitas dalam alokasi tugas kurir, serta kesulitan dalam pelacakan pengiriman telah diidentifikasi. Untuk mengatasi permasalahan ini, penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem informasi manajemen ekspedisi berbasis web menggunakan metode pengembangan perangkat lunak waterfall. Aplikasi ini bertujuan untuk mengurangi risiko kehilangan data dan ketidakakuratan dengan menyimpan data pengiriman secara terpusat pada server. Diharapkan sistem ini dapat mengkomputerisasi data pengiriman, menyediakan fitur perhitungan biaya kirim, serta memungkinkan pelacakan pengiriman barang. Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan pengujian Black Box dengan teknik Equivalence Partitions untuk memastikan pengujian yang komprehensif terhadap sistem, meningkatkan keandalan dan fungsionalitasnya bagi Ikatan Santri Alumni di Bondowoso
Produktive Financing Problems in Islamic Banks, (Research at Universities in Indonesia : A Systematic Literature Review Analysis)
This research is a systematic literature review study that aims to find out the extent of research conducted by students in Indonesia regarding the Problems of Productive Financing in Islamic Banks with an emphasis on preparing final assignments such as Theses and Dissertations. The method used consists of three stages, namely collection, assessment, and presentation. The results of this study indicate that there are 16 final assignments that address the problem of Productive Financing Problems in Islamic Banks in universities throughout Indonesia. The writing of this final project has been started since 2018 and will reach its peak in 2022. Of the many tertiary institutions in Indonesia, students of the Raden Intan Lampung State Islamic University and Iain Padangsidimpuan are the most enthusiastic in making Productive Financing Studies on Islamic Banks in their final project. The most widely used method is the quantitative method with a total of 8 pieces of research and 7 qualitative pieces and the theme most widely raised is related to the analysis and influence of Earning Financing Assets. Until now, studies on Productive Financing in Islamic Banks in tertiary institutions in Indonesia have concluded that Productive Financing (profit sharing system) in Islamic banks is still low and less desirable than consumptive financing. From year to year the profit value in Islamic banking has a decreasing effect. Some of the problems faced in the development of productive financing are not only external but also internal factors from the Islamic banking itself. Some of them are the risks that are considered high, the lack of supervision process, the understanding and interest of the public which is still small in the perception of sharia financing, the inadequate quality and number of human resources, profit-sharing financing is considered complicated and inefficient, the lack of innovation and service development compared to conventional banks and so on. regulations and the role of the government which are considered not optimal.
 Keywords: Problems, productive financing, Islamic banking, Systematic Literature Review Analysi
RECONSTRUCTION OF REGULATION OF LAND REGISTRATION (Sale and Purchase of Ownership of Legal Land According to Customary Law Can be Registered at Land Office)
This research is due to the existence of legal issues of sale and purchase of ownership of their legal land according to customary law that is done clearly and in cash in the front of chief of the tribal council or village chief can not be registered at the Land Office because it is blocked by the provision of Article 37 paragraph (1) and Article 45 paragraph (1) of Government Regulation Number 24 of 1997 on the Land Registration. However, legal vision of Basic Agrarian Law (BAL) is to realize the unification of the agrarian law by establishing customary law as the basis of the national agrarian law, which means including sale and purchase of ownership of land. According to Article 37 paragraph (1) of Government Regulation 24 of 1997, transfer of rights can be registered if it is proven by deed made by PPAT. In Article 45 paragraph (1) Head of Land Office refuses registration of sale and purchase of ownership of land if it is not proven by a deed of PPAT. That provision makes people who do sale and purchase of ownership of legal land according to customary law, in order to be able to be registered it must repeat with deed of PPAT in accordance with Article 23 BAL paragraph (2). Regulation Number 24 of 1997 does not regulate the provision of registration of sale and purchase of ownership of legal land according to customary law. Any decisions of supreme courts are not at one, some argue that registration is administrative action, some argue that it should be registered. This is due to the reduction of meaning of customary law in Article 5 of BAL, the government's act that is hesitate about recent customary law and the existence of insynchronous Articles which are Article 37 and Article 45 of Government Regulation of 24 of 1997 with BAL. To achieve fairness, certainty and legal protection, it needs reconstruction of Article 37 and Article 45 of Government Regulation Number 24 Year 1997 so that the sale and purchase of ownership of legal land according to customary law can be registered at the land office in order to meet a simple agrarian law and ensure legal certainty. Keywords: sale and purchase of ownership of legal land, customary law, land registration
Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Sebagai Pupuk Organik Cair Dan Penggunaan Benih Baru Varietas Lokal Di Desa Sokaan
Household waste, which is formed from daily activities in the household, contains various types of materials that have lost value or are considered useless by household residents. This type of waste can generally be divided into two forms, namely solid and liquid waste. One of the innovative approaches implemented is the use of household waste as a basic ingredient in the production of liquid organic fertilizer (POC). This brings dual benefits, namely reducing the negative impact of environmental pollution while increasing the fertility of agricultural land. POC, which is an abbreviation for liquid organic fertilizer, is a solution produced through a natural fermentation process using raw materials such as plant residues, animal waste, or even human waste. In this context, POC is described as a sustainable and environmentally sound option in the world of agriculture. The advantage of POC lies in its existence in liquid form, which has appeal to farmers who care about the environment and human health. In addition, POC contains various microorganisms which play an important role in accelerating plant growth and development. Selection of local plant varieties that have been adapted to environmental conditions in Sokaan Village is also an important part of this service. This step aims to strengthen the sustainability of local agriculture, increase crop productivity and reduce dependence on imported varieties. Thus, this service activity has significant implications in efforts to support sustainable and environmentally friendly agriculture at the local level
PERAN PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT HUKUM DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
This research discusses the role of Pancasila as a philosophy of law in the formation of legislation in Indonesia. As a rule of law state, Indonesia recognizes Pancasila as the Grundnorm that underlies all legislation. Pancasila functions not only as a fundamental norm but also as a source of values that reflect the character of the Indonesian nation. This study employs a qualitative approach to explore the meanings and in-depth understanding of the application of Pancasila in the legal context. Through document analysis and literature review, this research identifies how the values of Pancasila are integrated into the formation of laws and their impact on society. The findings indicate that Pancasila plays a crucial role in producing laws that are just, socially equitable, and responsive to the needs of the community. Thus, Pancasila as a philosophy of law should serve as a guideline in every legislative process to achieve the state\u27s goals based on justice and welfare for all Indonesian people.Penggunaan sistem noken dalam pemilu hingga saat ini belum ada kajian mendalam mengenai siapa pencetus ide atau konsep mengenai penggunaan noken dalam pemilu, juga suku bangsa mana yang pertama kali memulainya dan pada tahun berapa digunakan, tempat pemungutan suara (TPS) mana saja yang menggunakan sistem ini dan penyelenggara pemilu mana saja yang menyetujui penggunaan noken dalam pemilu. Namun berdasarkan informasi yang beredar di kalangan masyarakat adat, penggunaan noken dalam pemilu berawal dari spontanitas dan inisiatif beberapa orang yang hadir dalam acara bakar batu, berdiskusi dan menyepakati, bagaimana jika surat suara diisi dalam noken.Kegiatan bakar batu merupakan adat dan tradisi suku Dani yang cukup besar di Papua. Masyarakat Lani menyebutnya dengan “lago lakwi”. Dalam tradisi bakar batu terdapat makna ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, simbol kebersamaan dan solidaritas yang kuat. Bakar batu merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada sang pemberi kehidupan, yaitu Sang Pencipta. Selain itu juga sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara, menyambut datangnya kabar gembira, atau mengumpulkan pasukan sebagai persiapan berperang melawan musuh dan atau setelah pertempuran yang telah dilakukan. Bahkan, kegiatan ini menjadi media perdamaian antar kelompok yang bertikai.Ide ini kemudian diterima oleh semua yang hadir dalam pesta tersebut, kemudian dibahas lebih lanjut dan disosialisasikan secara lisan ke beberapa wilayah di Kabupaten Pegunungan Tengah. Akhirnya para kepala suku, tokoh adat dan tokoh masyarakat sepakat untuk melaksanakan Pemilu dengan menggunakan noken. Oleh karena itu, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di beberapa Kabupaten Pegunungan Tengah Papua dilaksanakan dengan menggunakan noken. Itulah sedikit informasi tentang asal muasal proses Pemilu dengan menggunakan noken yang dilaksanakan oleh masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah Provinsi Papua.Pemilu dengan menggunakan noken menjadi trending topik karena belum diatur secara tegas, legal dan de jure dalam peraturan perundang-undangan seperti Undang-Undang (UU), peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). Meskipun belum diatur, namun Pemilu dengan menggunakan noken sudah dilaksanakan sejak lama untuk semua kategori atau jenjang Pemilu seperti Pemilu Legislatif dan pemilihan kepala daerah sebagaimana telah diuraikan di atas. Penggunaan sistem noken dalam pemilu telah dilaksanakan oleh masyarakat di wilayah pegunungan Papua sejak tahun 1971, artinya sebelum dikeluarkannya peraturan mengenai pemilu, masyarakat di wilayah pegunungan Papua sudah melaksanakan pemilu menurut hukum adat dan hal tersebut dinilai baik dan adil bagi masyarakat adat.Hal tersebut juga diperkuat dengan Putusan Mahkamah Konstitusi yang pada pokoknya menyatakan tidak mempermasalahkan sistem pemungutan suara yang digunakan oleh masyarakat adat Papua karena hakikat dari proses Pemilu adalah setiap orang dapat menggunakan hak pilihnya secara langsung, bebas, dan rahasia. Hal tersebut juga disampaikan oleh Hakim Konstitusi, Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H., M.H. yang menyampaikan bahwa Mahkamah Konstitusi dapat memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Papua yang memiliki kekhasan dalam menyelenggarakan pemilihan umum dengan cara dan sistem ‘kesepakatan warga’ atau ‘aklamasi’, karena apabila dipaksakan menggunakan tata cara pemilihan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dikhawatirkan akan timbul konflik antar kelompok masyarakat setempat. Mahkamah berpendapat agar mereka tidak terlibat atau terbawa ke dalam sistem persaingan dan perpecahan di dalam dan antar kelompok yang dapat mengganggu kerukunan yang selama ini telah mereka jalani.Masih banyak kelompok masyarakat yang tidak puas karena keputusan yang diambil, termasuk Putusan Mahkamah Konstitusi, atas dasar sistem Pemilihan Noken ini. Sistem Pemilihan Noken membuat kepala daerah di Papua tidak serius dalam membangun daerahnya, karena mereka akan dengan mudah terpilih kembali melalui segelintir orang yang memberikan suaranya pada surat suara yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah pemilih sebenarnya. Terlebih lagi ketika jumlah pemilih fiktif tersebut dialihkan ke formulir resmi dan ditandatangani oleh penyelenggara pemilu di daerah. Ketika terjadi sengketa di Mahkamah Konstitusi, formulir tersebut menjadi alat bukti yang tidak terbantahkan.Perlu adanya pemahaman untuk meningkatkan penyelenggaraan Pemilu dengan baik, sehingga penyelenggaraan Pemilu yang berkarakter daerah dapat dibakukan sesuai dengan sistem yang berlaku secara nasional. Selain beberapa faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan pemilu, misalnya faktor adaptasi geografis, sosiologis, dan kultural. Terkait hal tersebut, akan diberikan penjelasan mengenai mekanisme Pemilu Noken, Pengaruh Elit Lokal dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu Noken, serta Makna Pemilu Noken dalam Putusan Mahkamah Konstitusi
