45 research outputs found
Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan Ekstrak Caulerpa racemosa dari Perairan Binuangeun Banten
Caulerpa racemosa mengandung senyawa aktif yang potensial sebagai antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh jenis pelarut terhadap senyawa aktif dalam ekstrak C. racemosa dan pengaruh jenis ekstrak terhadap aktivitas antibakteri dan antioksidan. Sampel segar dimaserasi menggunakan pelarut heksana, etil asetat, dan metanol. Pengujian antibakteri menggunakan metode Resazurin Microtitter Assay. Pengujian antioksidan menggunakan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) dan Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Ekstrak etil asetat C. racemosa menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Escherichia coli, sementara ekstrak etil asetat dan metanol menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat C. racemosa menunjukkan hasil tertinggi pada metode DPPH dan FRAP dengan masing-masing nilai IC50 110.70 ppm dan 96.68 μM
Penapisan Ekstrak Kapang Laut sebagai Antioksidan, Inhibitor Tirosinase, dan Antiglikasi
Sebanyak 28 isolat kapang laut telah ditapis sebagai antioksidan, inhibitor tirosinase, dan antiglikasi. Metode penapisan antioksidan menggunakan 1,1-difenil-2-pikril hidrazil (DPPH). Inhibitor tirosinase ditapis menggunakan substrat L-tirosin dan uji antiglikasi berdasarkan kemampuan menghambat pembentukan advanced glycation end products (AGEs). Ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik ialah ekstrak miselium MFP 271 dengan IC50 287 ± 50 μg/mL. Dilakukan KLT bioautografi antioksidan larutan pengembang etil asetat:butanol 9:1 (v/v). Pita yang aktif sebagai antioksidan diduga adalah senyawa golongan flavonoid. Ekstrak yang memiliki aktivitas penghambatan kerja enzim tirosinase terbaik adalah ekstrak miselium MFP 277 dengan IC50 586 ± 74 μg/mL. Ekstrak media MFP 274 memiliki aktivitas antiglikasi tertinggi dengan nilai IC50 299 ± 74 μg/mL. Ekstrak media MFP 274 berpotensi sebagai antiglikasi; ekstrak miseliumnya berpotensi sebagai antioksidan dan inhibitor tirosinase
MODEL PRODUKSI SENYAWA BIOAKTIF MELALUI KULTUR SEL PADA SPONS Dysidea avara
Spons merupakan hewan multiseluler yang paling sederhana sekaligus merupakan sumber senyawa bioaktif yang sangat berguna di dalam bidang farmasi. Senyawa-senyawa baru yang sangat beragam sudah banyak yang diisolasi dari spons. Kesulitan utama dalam memproduksi senyawa obat baru dari spons adalah kurang mencukupinya jumlah senyawa bioaktif yang dihasilkan spons untuk keperluan uji preklinis dan klinis karena rendemen yang dihasilkan sangat rendah. Artikel ini merupakan tinjauan terhadap metode kultur sel spons untuk memproduksi senyawa bioaktif dalam rangka mengatasi masalah suplai senyawa bioaktif yang diuji. Produksi senyawa avarol dari kultur primmorph spons Dysidea avara dibahas dalam review ini. Avarol dilaporkan memiliki bioaktivitas yang kuat sebagai substansi antitumor, antibakteri, dan antivirus. Model pendekatan melalui kultur primmorph dapat digunakan sebagai cara yang menjanjikan untuk memproduksi senyawa bioaktif dari spons
Kandungan Fukosantin dan Fenolik Total pada Rumput Laut Coklat Padina australis yang Dikeringkan dengan Sinar Matahari
Rumput laut cokelat Padina australis dikenal memiliki kandungan fukosantin dan fenolik total yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin dan fenolik total serta aktivitas antioksidan P. australis yang dikeringkan dengan sinar matahari. Rumput laut cokelat diambil dari Pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia lalu dikeringkan selama 0, 1, 2, 3 dan 4 hari. Kandungan fukosantin dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sedangkan kandungan fenolik total diukur dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteau. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan fukosantin pada rumput laut P. australis semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan sedangkan kandungan fenolik total pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak menunjukkan perbedaan tetapi pada hari ke 4 kandungannya menurun tajam. Kandungan fukosantin dan fenolik total tersebut jauh di bawah kandungan fukosantin dan fenolik yang berasal dari rumput laut segar. Hasil uji DPPH memperlihatkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut semakin menurun dengan bertambahnya waktu pengeringan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fukosantin dan fenolik merupakan faktor yang menentukan aktivitas antioksidan
KANDUNGAN FUKOSANTIN DAN FENOLIK TOTAL PADA RUMPUT LAUT COKELAT Padina australis YANG DIKERINGKAN DENGAN SINAR MATAHARI
Rumput laut cokelat Padina australis dikenal memiliki kandungan fukosantin dan fenolik total yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fukosantin dan fenolik total serta aktivitas antioksidan P. australis yang dikeringkan dengan sinar matahari. Rumput laut cokelat diambil dari Pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia lalu dikeringkan selama 0, 1, 2, 3 dan 4 hari. Kandungan fukosantin dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) sedangkan kandungan fenolik total diukur dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteau. Uji antioksidan dilakukan dengan metode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan fukosantin pada rumput laut P. australis semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengeringan sedangkan kandungan fenolik total pada hari ke 1, 2 dan 3 tidak menunjukkan perbedaan tetapi pada hari ke 4 kandungannya menurun tajam. Kandungan fukosantin dan fenolik total tersebut jauh di bawah kandungan fukosantin dan fenolik yang berasal dari rumput laut segar. Hasil uji DPPH memperlihatkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut semakin menurun dengan bertambahnya waktu pengeringan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fukosantin dan fenolik merupakan faktor yang menentukan aktivitas antioksidan.</jats:p
Effect of Agitation Speed and Cultivation Time on the Production of the Emestrin Produced by Emericella nidulans Marine Fungal
Emestrin, an epipolythidioxopiperazine (EPT), is bioactive secondary metabolite produced by the marine fungus Emericella nidulans. Emestrin is potential to be developed as anticancer agent. Our present study investigated the effect of the agitation speed and cultivation time on the production of the mycelial biomass and emestrin in E. nidulans. The fungal was cultivated in malt extract broth (MEB) medium with varying agitation speeds of 0, 50, 100,150 rpm during 1,2,3 and 4 weeks of incubation at the temperature of 28 oC. Concentration of emestrin was determined by using high performed liquid chromatography (HPLC). The highest concentration of emestrin was found at static condition (0 rpm) cultivated for 1 week
Figure 2 from: Nursid M, Patantis G, Dewi AS, Achmad MJ, Sembodo PM, Estuningsih S (2021) Immunnostimulatory activity of Holothuria atra sea cucumber. Pharmacia 68(1): 121-127. https://doi.org/10.3897/pharmacia.68.e58820
Figure 2 Morphology (A), viability (B) and probit analysis (C) of normal Vero cells after being treated with H. atra extract for 24 hours. Note: different letters in the graph indicated statistical differences at p < 0.05
Sitotoksisitas dan Induksi Apoptosis Ekstrak Etanol Teripang holothuria atra Jaeger, 1833 pada beberapa Sel Kanker
Teripang Holothuria atra merupakan biota laut yang banyak ditemukan di perairan Indonesia yang termasuk dalam filum Echinodermata dan berpotensi sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sitotoksisitas dan induksi apoptosis ekstrak etanol teripang H. atra secara in vitro terhadap beberapa sel lestari. Pengujian sitotoksisitas dilakukan dengan metode MTT (3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyl tetrazolium bromide) menggunakan sel HeLa, T47D, WiDr dan sel normal Vero, sedangkan uji induksi apoptosis dilakukan terhadap sel dengan hasil uji sitotoksisitas terbaik menggunakan metode flowcytometry dan double staining. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol teripang H. atra mampu menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa, T47D dan WiDr. Nilai IC50 ekstrak H. atra terhadap ketiga sel tersebut masing-masing sebesar 41,06±4,21; 20,89±1,55; 26,50±4,43 µg/ml tetapi esktrak tersebut memiliki sitotoksisitas yang lebih rendah terhadap sel Vero (IC50 sebesar 128,00). Analisis flowcytometry dan double staining pada sel T47D memperlihatkan bahwa ekstrak etanol teripang H.atra mampu menginduksi apoptosis pada sel tersebut
SKRINING SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK METANOL DARI KARANG LUNAK ALCYONIIDAE
Skrining senyawa bioaktif ekstrak metanol dari karang lunak familia Alcyoniidae telah ditakukan. Uji hayati dilakukan terhadap ekstrak metanol dari 4 jenis karang lunak yaitu sinularia leptoclados, Lobophytum pauciflotum, Lobophytum A dan Lobophytum B Skrining dilakukan dengan menggunakan 3 jenis uji hayati yaitu uji toksisitas metode Brine Shrimp Lethatity Test (BSLT); uji sitotoksisitas menggunakan ser kanker HeLa dengan metode uji 3-[4,5-dimethyrthiaz or-2yry-2,idiphenyltekazolium bromide (r.4TT assay), dan uji antibakteri menggunakan metode agar difusi
Isolation and Identification of Emestrin from Emericella nidulans and Investigation of Its Anticancer Properties
The research to isolate, identify and investigate of anticancer properties of active compound produced by Emericella nidulans marine fungus has been done. Active compound was isolated from mycelium extract of the fungus. The molecular formula of active compound was established as C27H21N2O10S2 by LC-ESI-ToF-MS (m/z 597.1105 [M – H]-. Elucidation of molecular structure using FT-IR, LC-ESI-ToF-MS, 1H-NMR, 13C-NMR, and DEPT 135˚ showed that the active compound was emestrin. Emestrin was found to have cytotoxic effect against T47D, HepG2, C28, and HeLa but it was not too toxic against Vero cells with IC50 value of 1.8 µg mL-1, 4.2 µg mL-1, 2.6 µg mL-1, 13.8 µg mL-1, and 260.9 μg mL-1, respectively. Base on the cell cycle analysis by using flow cytometry, emestrin treatment at concentration of 1.0 μg mL-1 induced cell-cycle arrest in G0/G1 phase whereas at concentration of 3.0 μg mL-1, a sub-population of cells (sub G1) appeared. The apoptosis assay by using Annexin-V-FLUOS revealed that most of T47D cell treated with the compound at 1.0 and 3.0 μg mL-1 underwent apoptosis (83.6% and 92.6%, respectively. This anticancer activity of emestrin may be related to the unique of the epithiodioxopiperazine moiety with internal disulphide bond of this compound
