1,720,996 research outputs found

    PENGEMBANGAN SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGY TEMATIK UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR

    No full text
    PENGEMBANGAN SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGY TEMATIK UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR Insih Wilujeng, Muhsinatun Siasah Masruri, Muhammad Nur Wangid Pendidikan Sains Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan subject specific pedagogy (SSP) tematik untuk mengembangkan karakter tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan, dan jujur siswa sekolah dasar kelas I, II, dan II. Penelitian ini merupakan research and development dengan menggunakan prosedur pengembangan menurut Borg & Gall (1983). Prosedur penelitian ini meliputi tahap penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi, perencanaan dan perancangan, penyusunan draf SSP, dan pengembangan produk SSP yang terdiri dari penilaian kelayakan draf SSP, dan, revisi dan uji coba lapangan. Hasil penelitian bahwa SSP yang dikembangkan layak berdasarkan penilaian oleh validator dan terbukti efektif meningkatkan karakter kejujuran, disiplin, peduli, dan tanggung jawab siswa kelas I, II, dan III SD yang ditunjukkan dari hasil observasi pada saat pembelajaran. Kata kunci: SSP, Tematik, Karakte

    PERAN KONSELOR SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

    No full text
    School Counselor Roles in Character Education. Character education was one of the focuses in the system of national education. Therefore, educators must not neglect this. A school counselor, as one of the educators, has to play a role in character education. Referring to guidance and counseling responsibilities in relation to students’ personal, social, academic, and career aspects, a school counselor must not escape from the main duties. Considering that character education is the responsibility of all parties, a school counselor can, independently and in collaboration with all school components, play a role in character education. Individually, a school counselor can provide services, such as individual services, individual planning services, and responsive services. In collaboration with other parties, a school counselor can make a synergy in character education programs. Keywords: school counselor, character educatio

    PELATIHAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI KONSELING BERCORAK BUDAYA BAGI GURU PEMBIMBING SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI WILAYAH KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA

    Get PDF
    Abstrak Salah satu tenaga pendidik menurut Undang-Undang Sistem pendidikan Nasonal adalah konselor (guru pembimbing). Namun pemahaman dan kinerja terhadap tenaga ini belum sesuai, baik dalam arti tugas yang diberikan dari sekolah atau pun juga layanan yang diberikan belum sesuai harapan. Salah satu penyebabnya adalah ketrampilam komunikasi konseling guru pembimbing yang tidak mencukupi ketika berhadapan dengan beragam latar budaya siswa. Untuk itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kemunikasi konseling bercorak budaya pada guru pembimbing khusunya di wilayah Kabupaten Sleman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dalam bentuk pelatihan dengan mempergunakan pendekatan experiential learning. Para peserta belajar melalui pengalaman masing-masing dan peserta lain untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan. Khalayak sasaran adalah guru-guru pembimbing di tingkat sekolah menengah pertama yang diwadahi dalam Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) Kecamatan Depok, dengan jumlah total peserta pelatihan sebanyak 30 orang. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah terjadi peningkatan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan ketrampilan komunikasi konseling bercorak budaya, dan terjadi peningkatan ketrampilan komunikasi konseling bercorak budaya pada para peserta. Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini yang ditunjukkan dengan minat yang cukup tinggi mengikuti pelatihan, sikap yang mendukung kegiatan, dan keinginan untuk mempraktekkan berbagai ketrampilan yang dilatihkan

    STUDENT-CENTERED LEARNING: SELF-REGULATED LEARNING

    No full text
    Since mid the year 2013 in Indonesia enacted curriculum 2013, which seeks to change the habit patterns of teachers teaching and students learning. Government or other agencies typically try to help solve the various barriers faced by teachers when the teachers faced various changes to the duties and responsibilities. Various training, workshops, mentoring, and so on are provided for teachers in order they are able to implement the curriculum 2013. But not so with the students, there is no training or workshops are held to deal with changes in the curriculum. Like or not they have to follow the curriculum changes that occur. Study habits at school that has done so far turned out to be changed. This is because students’s study habits it is no longer compatible with the new curriculum. Students should not be passive, they should be active and dynamic, students must arrange their own activities to compensate for changes in teachers' teaching activities. Therefore, students need to learn how to learn, which is done in self-regulated learning abilities. Keywords: student-centered learning, self-regulated learnin

    PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS V

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap penguasaan konsep sains dan keterampilan proses sains siswa kelas V SD. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian Nonequivalent-groups Pretest-Posttest Design. Kelas eksperimen yaitu kelas VB SDN 01 Labuhan Sumbawa (n=38) dengan pembelajaran berbasis masalah dan kelas kontrol yaitu Kelas VA SDN 01 Labuhan Sumbawa (n=36) dengan pembelajaran kon-vensional. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan MANOVA. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran berbasis masalah berpengaruh signifikan dan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep sains siswa SD (Sig.=0.000,p<0.05). (2) Pembelajaran berbasis masalah berpengaruh signifikan dan lebih baik dibandingkan dengan pem-belajaran konvensional terhadap keterampilan proses sains siswa SD (Sig.=0.000,p<0.05). Penelitian ini memiliki implikasi bahwa guru harus mulai meninggalkan model pembelajaran konvensional dan beralih ke pembelajaran berbasis masalah dan guru harus dapat menjadi mediator dan fasilitator dalam pembelajaran. Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, penguasaan konsep sains, keterampilan proses sains

    PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU SEKOLAH DASAR GUGUS III SENTOLO KULON PROGO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi Sekolah Dasar gugus III Sentolo Kulon Progo dan meningkatkan kinerja guru meliputi: (a) unsur-unsur, (b) prinsip dan teknik, (c) tindak lanjut, (d) pendukung dan penghambat, dan (e) upaya mengatasi hambatan supervisi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, subjek penelitian  adalah kepala sekolah dasar di gugus III Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumen. Analisis data melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan memperpanjang waktu penelitian, triangulasi data, member cheeking. Data dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian: menunjukkan bahwa: (a) supervisi akademik meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran; (b) prinsip-prinsip supervisi akademik meliputi: praktis, objektif, humanis, kooperatif, keke-luargaan, demokratis, komprehensif, prinsip berkesimbungan belum dilaksanakan, teknik dalam supervisi invidual dan kelompok; (c) tindak lanjut supervisi belum dilakukan dengan optimal, (d) pendukung supervisi kesediaan guru disupervisi, jadwal, seprofesi, kendala supervisi guru terbebani dan banyaknya kegiatan kepala sekolah; (e) upaya memberikan pemahaman supervisi akademik sebagai kebutuhan guru dan jadwal supervisi efektif

    STUDI KOMPARASI BUDAYA SEKOLAH SDSN DAN SD EKS RSBI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perbedaan budaya sekolah di SDSN dan SD Eks RSBI DIY, (2) memaparkan perbedaan masing-masing aspek budaya sekolah antara SDSN dengan SD Eks RSBI. Jenis penelitian ini adalah komparasi. Populasi penelitian ini adalah semua kepala sekolah, guru, dan staf SDSN dan SD RSBI di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah 797 orang untuk SDSN dan 155 orang untuk SD Eks RSBI. Sampel dari SDSN berjumlah 256 orang dan sampel dari SD Eks RSBI sebanyak 116 orang ditentukan menggunakan teknik proportional sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat, dan uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara budaya sekolah SDSN dengan SD Eks RSBI di Daerah Istimewa Yogyakarta; (2) ditemukan perbedaan skor dari masing-masing aspek budaya sekolah di SDSN dan SD Eks RSBI DIY. Aspek budaya sekolah yang lebih baik di SDSN adalah kolaborasi profesional, hubungan kolegial, self determination, visi-misi, konsensus, dan disiplin. Sedangkan aspek budaya sekolah yang lebih unggul pada SD Eks RSBI adalah aspek komitmen, hormat, empati, bebas bullying dan artefak fisik. Kata kunci: budaya sekolah, SDSN, SD Eks RSB

    PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROSES DENGAN MEDIA GAMBAR DI SDN 3 SAKRA

    No full text
    Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan menerapkan pendekatan proses dengan media gambar di kelas II SDN 3 Sakra Lombok Timur NTB. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IIB yang berjumlah 28 siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, tes, dan dokumentasi. Instrument yang digunkan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan tes unjuk kerja menulis. Penelitian ini menunjukan bahwa pendekatan proses dengan media gambar dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas II SDN 3 Sakra Lombok Timur NTB. Peningkatan tersebut diketahui berdasarkan hasil observasi dan nilai hasil tes siswa. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan, yaitu pada siklus I indikator yang terlaksana 18 dari 28 indikator yang dinilai (Sedang), kemudian pada siklus II meningkat menjadi 24 indikator dari 28 indikator yang dinilai (Baik). Berdasarkan hasil tes keterampilan menulis siswa, persentase pada pratindakan 63%, meningkat pada siklus I menjadi 68,3%, dan pada siklus II meningkat menjadi 75%, yang artinya bahwa ketuntasan klasikal siswa telah tercapai. Kata kunci: Keterampilan menulis, pendekatan proses, media gamba
    corecore