81 research outputs found

    ANALISA UJI KINERJA ALAT PENYULINGAN MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH MENGGUNAKAN WATER HEATER

    Get PDF
    Analisa Uji Kinerja Alat Penyuling Minyak Atsiri Daun Cengkeh Menggunakan Water Heater. Yanti S.Pd.,MT, Muhammad Yusuf Ali ST.,MT., Reza Fitrawan Hidayat. Permasalahan yang di bahas penelitian ini, yaitu (1) Mengetahui berapa kapasitas efektif dari alat penyuling minyak atsiri menggunakan water heater. (2) Bagaimana kinerja alat dengan menggunakan dua bahan baku yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan observasi langusng untuk mengetahui kapasitas efektif dari alat dan kinerja alat ketika menggunakan dua bahan baku yang berbeda dengan metode penyulingan system rebus dan menggunakan water heater. Dari hasil pengujian proses penyulingan tersebut untuk daun cengkeh kering dihasilkan 4,4 ml dan untuk daun cengkeh basah dihasilkan 2,3 ml. Penelitian ini dilakukan di Workshop Teknik Mesin Universitas Fajar, waktu penelitian dilakukan diawal bulan Agustus – September 2021 dengan data yang diperlukan cukup

    Anotasi Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 46/PUU-XIV/2016 dalam Perspektif Hermeneutika Hukum

    Get PDF
    Dalam putusannya yang dibacakan pada tanggal 14 Desember 2017 terhadap perkara Nomor 46/PUU-XIV/2016, Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak gugatan uji materi tentang zina dan hubungan sesama jenis atau Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) yang diatur dalam KUHP dengan Pemohon yakni Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.S. dan kawan-kawan. Pada prinsipnya, para Pemohon memohon agar MK menghilangkan sejumlah ayat, kata dan/atau frasa dalam Pasal 284 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP. Walaupun ada pendapat berbeda (dissenting opinion) dari 4 (empat) orang Hakim Konstitusi yakni Arief Hidayat, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, dan Aswanto, tetap saja 5 (lima) orang Hakim Konstitusi lainnya yakni Maria Farida Indrati, I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Manahan MP Sitompul, dan Saldi Isra berpendapat bahwa MK hanya memiliki kewenangan sebagai negative legislator. Artinya, MK hanya dapat membatalkan UU dan tidak dapat mengambil kewenangan Parlemen dalam membuat UU atau peraturan sebagai positive legislator. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis apakah Putusan MK tersebut sudah mencerminkan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat atau tidak apabila dianalisis dalam perspektif hermeneutika hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan MK tersebut, belum mencerminkan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat apabila dianalisis dalam perspektif hermeneutika hukum. Putusan MK tersebut lebih mengedepankan aspek kepastian hukum semata dengan mengorbankan keadilan dan kemanfaatan. Kebutuhan positive legislator bukan kebutuhan yang parsial tapi komprehensif. Positive legislator lebih melihat bahwa hakim harus memiliki gagasan keadilan substantif yang berubah mengikuti perkembangan masyarakat, tidak semata-mata keadilan prosedural. Positive legislator dengan memperluas ruang lingkup suatu tindak pidana (strafbaar feit) dapat dilakukan, manakala norma undang-undang secara nyata mereduksi dan bahkan bertentangan dengan nilai agama dan sinar ketuhanan yang pada dasarnya bersifat 'terberi' (given) bagi ketertiban dan kesejahteraan kehidupan manusia.In its verdict read out on December 14, 2017 against case Number 46 / PUU-XIV / 2016, the Constitutional Court ruled in rejecting the lawsuit for adultery and same-sex, or lesbian, gay, bisexual, transgender (LGBT) matters that are regulated in the Criminal Code with the Petitioner namely Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.S. and friends. In principle, the Petitioners request that the Constitutional Court omit a number of verses, words and / or phrases in Article 284 paragraph (1), paragraph (2), paragraph (3), paragraph (4), paragraph (5), Article 285 and Article 292 Criminal Code. Although there are dissenting opinions from 4 (four) Constitutional Justices namely Arief Hidayat, Anwar Usman, Wahiduddin Adams, and Aswanto, still 5 (five) other Constitutional Justices namely Maria Farida Indrati, I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Manahan MP Sitompul, and Saldi Isra argued that the MK only had the authority as a negative legislator. That is, the Constitutional Court can only cancel the Act and cannot take the authority of Parliament in making laws or regulations as positive legislators. The purpose of this study is to find out and analyze whether the Constitutional Court Decision reflects the sense of justice that lives in the community or not when analyzed in the perspective of legal hermeneutics. The research method used is legal research. The results showed that the Constitutional Court's Decision, did not reflect a sense of justice that lives in the community when analyzed in the perspective of legal hermeneutics. The Constitutional Court's decision emphasizes the aspect of legal certainty at the expense of justice and expediency. The needs of positive legislators are not partial but comprehensive needs. Positive legislators see that judges must have an idea of substantive justice that changes with the development of society, not merely procedural justice. Positive legislators by expanding the scope of a criminal act (strafbaar feit) can be done, when the norms of the law actually reduce and even conflict with religious values and the divine light which is basically 'given' for the order and welfare of human life.</p

    Tanggung Jawab Pelaku Usaha Transportasi Laut Terhadap Penumpang di Provinsi Kepulauan Riau

    Get PDF
    The 95 % of Riau Archipelago Province’s territorial is an ocean and only 5% is land which gives an oportunity for businessman to provide sea transportation service, it is started from ferry which connect regency or cities in a far distance, Pompong ship which connect an island with another island in a short distance , and roro ship (roll on roll off) which is used by society to carry their vehicles to the outside area. Particially we still find a passenger (costumer) who are unprofitable with the sea transportation business such as overload passenger the lost or broken luggaeges which is put on the deck, the delayed schedule ship without notification to the passengers, and the scrratch of the passenger’s vehicles when they entered into the ship. The problems of this research is how the responsibility of sea transportation business to the passangers in Riau Archipelago Province, the author of this resaerch uses a normative legal of methodology the result which is found by the author of this research are, first if the businessman load the passengers over than capacity so that there will be a passenger who does not get any seat then, the businessman will get an absolute responsibility principle (absolute liability), second, if the passenger’s luggaes are lost or broken when they are put on the ship’s deck, then the businessman will get a punishment from the government based on their faults (the fault of liability or liability based on fault), third, if the passengers get a delay schedule ship without notification about it, then, the sea transportation businessman will be punished by presumption of liability principle, and, forth if the passanger’s vehicles scracthed when they enter into the roll on roll off ship which is cause by the ship crew while instructing the passenger to park their vehicles and arranging those vehicles, then the sea transportation businessman will punished by strict liability. Key words : Responsibility, Producent, Consum

    Politik Hukum Pengadilan Perikanan di Indonesia

    Get PDF
    The geographical condition of Indonesia as a country of two thirds is the area of marine waters which consists of coastal seas, loose seas, bays and straits which has 95.181 km long beach, with 5.8 million km / square of water. The sea waters are large and rich in various types of marine potential of approximately 4 billion USD / year. But unfortunately, who enjoy all the wealth of the sea is not only the people of Indonesia but foreign nationals as well. Starting from the Exclusive Economic Zone (ZEE) to the territorial sea is an area that is often the case of illegal fishing by foreign country, recorded 242 foreign ships caught in the territory of Indonesia which caused losses of up to 160 billion rupiah. The problem in this research is how is the Legal Politics of Fishery Court in Indonesia and whether Fishery Court has been quite effective in examining, hearing, and deciding criminal acts in the field of fisheries. The author uses normative legal research methods in this research. The results of research that the authors get is the legal politics of the Fishery Court in Indonesia can be seen from the birth of Law Number 45 Year 2009, Presidential Decree Number 15 Year 2010 and Presidential Decree Number 6 Year 2014. Fishery Court in Indonesia has not been effective enough in checking, Prosecute, and cutting of criminals offenses in the field of fisheries due to frequent overlapping or authority disputes with agencies or other agencies. Therefore, the Fishery Court needs to synergize with the Water Police, Navy, Department of Marine Affairs and Fisheries (DKP), and the society so that law enforcement efforts against theft of fish can be more effective. Keywords: Political Law, Fishery Court, Fishery Crime &nbsp; Indonesia adalah salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara yang dua pertiganya adalah wilayah perairan laut yang terdiri dari laut pesisir, laut lepas, teluk dan selat memiliki panjang pantai 95

    Transformasi Arsitektur Mekongga Dalam Perancangan Resort Di Pituluakolaka Utara

    Get PDF
    Transformasi Arsitektur Mekongga Dalam Perancangan Resort Di Pitulua Kolaka Utara,Taufik Hidayat. Kabupaten Kolaka Utara berada di daratan tenggara Pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian barat. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Luwu Timur (Provinsi Sulawesi Selatan). Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Uluwoi Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe Utara (Provisi Sulawesi Tenggara). Sebelah Barat berbatasan dengan pantai Timur Teluk Bone. Selatan berbatasan dengan Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka (Provinsi Sulawesi Tenggara), (BPS Kolaka Utara). Tapak yang akan di rancang berlokasi di Kecamatan Lasusua Kabupatten Kolaka Utara luas lahan berkisar ±8 Ha. Lahan tersebut merupakan area parawisata yang sama sekali belum tersentuh oleh pemerintah daerah yang dimana pengembangannya belum maksimal atau belum ada sama sekali. Usaha pengembangan wisata Resort memegang peranan yang sangat penting dalam dunia pariwisata yang berada di indonesia khususnya di Kabupaten Kolaka Utara mengingat peningkatan jumlah wisata yang datang semakin meningkat tiap tahunnya sehingga di perlukan sarana akomodasi bagi wisatawan yang melakukan perjalanan berlibur.Penerapan tema Arsitektur Metapora pada perancangan ini mengambil beberapa bentuk seperti Rumah Adat karena memiliki bentuk struktur dan warna yang menarik. Selain itu memanfaatkan sumber potensi alam sebagai material local, dan mempertimbangkan beberapa aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat setempat sebagai konsep desain

    SENI GRAFIS CUKIL KARYA MUHAMAD YUSUF TARING PADI

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karya seni grafiscukil  Muhammad Yusuf Taring Padi berupakonsep dan ide penciptaan. Penelitian ini  merupakan penelitian  deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah 5 karya, yaitu Seri Trisakti, Crust The Crast,Crazy Era Series, Little Cosmos, dan Sri Kembali Sri.  Karya  dikaji berdasarkan media, teknik,  konsep dan ide penciptaan. Data diperoleh melalui teknik wawancara, observasi, serta teknik kepustakaan dan dokumentasi. Data dianalisis sesuai dengan variabel yang ada berdasarkan keseluruhan teori dan metode dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian  ini adalah: 1) Muhamad Yusuf banyak mengangkat tema sosial politik. Selain tema sosial politik,  beliau  juga mengangkat tema filsafat Jawa, 2) Media yang digunakan yaitu plat atau acuan cetak, pisau cukil, pensil, rol karet, kaca, kape, dan tinta, 3) Karya Muhamad Yusuf yang dikaji dalam penelitian iniumumnya memuat visi, sosial politik, dan budaya bangsa

    Ayat-Ayat Himpunan Dalam Perspektif Taftir Ath-Thabari

    Get PDF
    Skripsi ini berjudul tentang Ayat-Ayat Himpunan dalam Perspektif Tafsir At-Thabari, latar belakang penelitian ini adalah perbincangan seputar ayat-ayat himpunan yang ada di dalam Al-Qur'an. Dimana seperti yang sudah diketahui bahwa Al-Qur'an memiliki segudang berbagai ilmu pengetahuan. Kerana Al-Qur'an adalah merupakan sumber segala ilmu pengetahuan maka harusnya kita umat Islam harus tanggap terhada kitab suci umat Islam yaitu Al-Qur'an. Maka dalam hal ini haruslah meningkatkan kemuan akan membaca, mengamalkan maupun mengkaji Al-Qur'an yang di sana benyak sekali berbagai macam ilmu pengetahuan. Skripsi ini merupakan hasil dari penelitian empiris untuk menjawab beberapa pertanyaan: pertama, Apa-apa saja ayat-ayat himpunan yang terdapat di dalam Al-Qur’an ? Serta kedua, Bagaimana konsep himpunan berdasarkan perspektif tafsir At-Thabari ?. Untuk menjawab pertanyaan di atas, Penelitian ini menggunakan metode jenis penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif kualitatif sebagai cara untuk menganalisis konsep himpunan melalui tafsir At-Thabari. Adapun jenis penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan metode penelitian keputaskaan atau library research ialah penelitian untuk memperoleh data- data, objek maupun informasi. Maka dapat diambil hasil penelitian tentang Ayat-Ayat Himpunan dalam Perspektif Tafsir At-Thabari ada tujuh ayat di dalam Al-Qur'an. Adapun ayat-ayat tersebut merupakan hasil penemuan peneliti yang membahas konsep himpunan di dalam Al-Qur’an. Adapun dianataranya yaitu, (Surat Al-Fathir ayat 1 dan 28) himpunan malaikat dan hewan, (Surat Al-An'an ayat 128) himpunan golongan jin dan manusia, (Surat Al-Fatihah ayat 7) himpunan sekelompok manusia, (Surat An-Nur ayat 45) himpunan sekelompok hewan, (Surat Az-Zariyat ayat 56) himpunan golongan jin dan manusia, dan (Surat Al-Waqi'ah ayat 7-10) himpunan golongan kanan dan kiri

    Modernisasi Pendidikan Islam dalam Pandangan Prof. Dr. Harun Nasution

    Get PDF
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep modernisasi pendidikan Islam dalam pandangan Prof. Dr. Harun Nasution memunculkan ide-ide pembaruan dengan maksud mengembalikan sikap dan pandangan hidup umat Islam agar sesuai dengan alQur’an dan Hadis. Dari arah pemikirannya, dua agenda saja yang ingin Harun wujudkan, pertama; bagaimana membawa umat Islam ke arah rasionalitas, kedua; bagaimana menumbuhkan pengakuan Qadariah (akal/pikiran) manusia. Dari dua agenda yang ingin Harun wujudkan untuk kemuliaan umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia, setidaknya bermuara kepada tiga gagasan besarnya, yaitu: peranan akal diberikan ruang yang lebih luas, pembaruan teologi umat, dan perbaikan hubungan akal dan wahyu. Sedangkan ragam modernisasi pendidikan Islam sebagai legasi dari Prof. Dr. Harun Nasution di antaranya, yaitu: pembaruan kurikulum Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia, perubahan tradisi akademik Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia, pendirian Pascasarjana di IAIN, pewujudan transformasi IAIN ke UIN. Adapun implementasi modernisasi pendidikan Islam yang dijalankan oleh Prof. Dr. Harun Nasution ialah pembaruan kurikulum, Penumbuhan tradisi ilmiah, Pengembangan Pascasarjana, pengembangan organisasi di IAIN, Penerbitan jurnal ilmiah dan pembinaan dosen, dan menjadikan IAIN pusat pembaruan pemikiran Islam. Implikasi dari penelitian ini adalah kepada peneliti selanjutnya agar mempertimbangkan dan memperbanyak bahan rujukan, kepada lembaga pendidikan agar dapat menerapkan konsep yang digagas oleh Prof. Dr. Harun Nasution, dan kepada pemerintah agar memberikan akses dalam peningkatan mutu pendidikan
    corecore