3 research outputs found

    ANALISIS PENGGUNAAN KERANGKA KERJA SCRUM DALAM PROSES PENGEMBANGAN PRODUK DIGITAL DI DIGITAL AMOEBA TELKOM

    No full text
    Dinamika pasar saat ini menekankan pentingnya kecepatan, kelincahan, dan keterhubungan yang memaksa organisasi bisnis untuk mengadopsi pendekatan lebih holistik dan kolaboratif dalam pengembangan produk digital. Kerangka kerja Scrum menjadi salah satu kerangka kerja yang paling banyak digunakan dalam pengembangan produk digital di era modern karena dianggap cocok dengan kebutuhan saat ini sehingga memberikan banyak dampak positif. Berbagai penelitian terdahulu menjelaskan bahwa Scrum sulit digunakan di organisasi besar karena birokrasi yang kompleks dan budaya yang kaku. Digital Amoeba Telkom sebagai bagian dari BUMN yang terkenal memiliki budaya kaku dan birokrasi kompleks telah menggunakan Scrum dalam proses pengembangan produk digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan dan dampak Srcum dalam proses pengembangan produk digital di Digital Amoeba Telkom dengn Panduan Scrum Schwaber dan Sutherland tahun 2020. Penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi kasus yang melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi dalam pengumpulan data penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa aktivitas Scrum di Digital Amoeba Telkom meliputi: a) peran tim Scrum seperti product owner, scrum master, dan tim pengembang (pemrograman dan UI/UX); b) enam pertemuan Scrum, yaitu sprint planning, daily Scrum, sprint review, sprint retrospective, dan backlog grooming; c) artefak Scrum, terdiri dari product backlog, sprint backlog, dan increment. Pengalaman Digital Amoeba Telkom menunjukkan bahwa Scrum tidak hanya efektif di organisasi kecil, tetapi juga di organisasi besar selama ada dukungan dari berbagai pihak dan kemauan untuk beradaptasi. Penggunaan Scrum di Digital Amoeba Telkom telah membawa dampak positif dalam berbagai hal, seperti produktivitas, efisiensi tim, kualitas produk, kepuasan produk, kolaborasi, dan transparansi komunikasi. The current market dynamics emphasize the importance of speed, agility, and connectivity, compelling business organizations to adopt a more holistic and collaborative approach in digital product development. The Scrum framework has emerged as one of the most widely used methodologies in modern digital product development due to its alignment with current needs, resulting in numerous positive impacts. Previous studies have indicated that Scrum can be challenging to implement in large organizations due to complex bureaucracy and rigid cultures. Digital Amoeba Telkom, as a state-owned enterprise known for its rigid culture and complex bureaucracy, has adopted Scrum in its digital product development process. This study aims to explore the use and impact of Scrum in the digital product development process at Digital Amoeba Telkom, based on the Scrum Guide by Schwaber and Sutherland 2020. The research employs a qualitative case study method involving interviews, observations, and documentation for data collection. The findings reveal that Scrum activities at Digital Amoeba Telkom include: a) Scrum roles such as product owner, scrum master, and development team (programmers and UI/UX); b) six Scrum meetings, namely sprint planning, daily Scrum, sprint review, sprint retrospective, and backlog grooming; c) Scrum artifacts, consisting of product backlog, sprint backlog, and increment. The experience of Digital Amoeba Telkom demonstrates that Scrum is effective not only in small organizations but also in large ones, provided there is support from various stakeholders and a willingness to adapt. The implementation of Scrum at Digital Amoeba Telkom has had positive impacts on several aspects, including productivity, team efficiency, product quality, product satisfaction, collaboration, and communication transparency

    Korelasi Event Tanggal Kembar Terhadap Daya Minat Beli Masyarakat di Shopee

    No full text
    Teknologi menjadi bukti kemajuan zaman yang pada hakikatnya diciptakan guna mempermudah aktivitas manusia. Salah satu aktivitas manusia yang biasa dilakukan adalah berbelanja. Aktivitas belanja ini dilakukan untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Melihat adanya hal tersebut kini mulai banyak muncul inovasi pada bidang ini yang bertransformasi beralih menjadi versi digital atau dikenal sebagai e-commerce.  Dari banyaknya e-commerce yang ada di Indonesia shopee menjadi salah satu e-commerce yang banyak peminatnya, dengan demikian tujuan dari penelitian yang berjudul “Korelasi Event Tanggal Kembar Terhadap Daya Minat Beli Masyarakat di Shopee” adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara program tanggal kembar yang diadakan shopee terhadap daya minat beli masyarakat. Dalam eksekusinya metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan instrumen yang digunakan berupa kuesioner model skala likert. Kuesioner yang berisi pertanyaan ditujukan untuk seluruh masyarakat yang aktif bertransaksi menggunakan shopee. Dari penyebaran pertanyaan kuesioner didapat 31 responden sebagai populasi dengan uji sampel yang kami lakukan untuk menganalisis data menggunakan SPSS. Berdasarkan pengolahan dan analisis data yang dilakukan hasilnya menunjukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0.012, dimana nilai signifikansi ini lebih kecil dari 0.05 yang digunakan sebagai indikator dalam penggunaan software SPSS sehingga ditemukan adanya korelasi antara variabel event tanggal kembar terhadap variabel daya minat beli masyarakat. Dalam proses pengolahan dan analisis data didapat juga hasil nilai pearson correlation sebesar 0.446 yang artinya memiliki korelasi dengan derajat hubungan korelasi sedang dan bentuk hubungan kedua variabelnya adalah positif, yang artinya semakin sering diadakannya event tersebut berbanding lurus dengan minat beli masyarakat

    The fellowship of St.Diogo : new Christian judaisers in Coimbra in the early 17th century

    No full text
    Dr Antonio Homem was a respected teacher in the University of Coimbra, a Canon in the Cathedral and an illustrious scholar. He was also the heir of a long Jewish family tradition. His great-great-grand father lived and died as a Jew. His great-grandfather, his grandmother and two of his uncles were among his relatives to have been sentenced as judaisers by the Inquisition. His own father kept the Law of Moses, and taught it to all his children, without the knowledge of his wife, an Old Christian of noble lineage. His concern for the situation of the New Christians in Portugal eventually made him build up a congregation of judaisers, which he called the Fellowship of St Diogo as a tribute to a Capuchin friar who had been executed a few years earlier as an apostate and defender of the Jewish Law. His congregation grew to include over sixty people, including clerics, physicians, lawyers and students, as well as merchants and farmers. Its leader gave it a corpus of doctrine and eventually a distinctive liturgy, which showed influence from the Catholic Church. The Fellowship also inspired the creation of judaiser conventicles in three major Monasteries in the Coimbra district, where a relatively large number of nuns held cult meetings and paid homage to Friar Diogo as a martyr of the Law of Moses. After several years of activity, the Fellowship was investigated and dismantled by the Inquisition. Most of its members were arrested and sentenced. Dr AntOnio Homem was himself taken into custody, charged with heresy and apostasy, as well as sodomy (he was a known paederast), and finally handed over to the secular arm for execution. His dream of building up a judaiser community in Coimbra was shattered. The Fellowship members who survived either left the country and joined the orthodox Jewish communities in the Netherlands and elsewhere, or stayed in Portugal and gradually lost their Jewish consciousness. Descendants of some of them can still be found near Coimbra
    corecore