1,721,058 research outputs found
Peran Istri dalam Pengelolaan Sumberdaya Keluarga dan Kesejahteraan Subyektif Keluarga Nelayan pada Sistem Matrilineal
Wife’s role in managing family resources determined as her bargaining position in planning, controlling, actuating, and managing family resources. Matrilineal system creates a typical role of women because of it’s maternal areships. This study intended to analyze the effect of wife’s role in managing family resources to fishermen family’s subjective well-being. This study was placed in Batang Arau Village, Padang Selatan Sub-District, Padang Municipality, West Sumatra, from February to March 2012. There were 60 fishermen families involved in this study, both 30 owner fishermen and 30 laborer fishermen from Minangkabau ethnics chosen by using snowball method. Data collection was held with guidance of questionnaire, then was analyzed with descriptive statistics, independent sample t-test, paired sample t-test, and multiple linear regression test. The result showed that difference between perceived norms and practice on implementing matrilineal system was detected among fishermen families (p0,05). Subjective well-being was affected by family size and wife’s contribution in family income
Dukungan Sosial, Strategi Koping, dan Kesejahteraan Subjektif Remaja pada Keluarga Utuh dan Tidak Utuh.
Masa remaja identik dengan periode perubahan multidimensi yang dapat menyebabkan permasalahan perilaku dan suasana hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial dan strategi koping terhadap kesejahteraan subjektif remaja pada keluarga utuh dan tidak utuh. Penelitian ini melibatkan 100 orang remaja yang terdiri dari 50 remaja dari keluarga utuh dan 50 remaja dari keluarga tidak utuh. Sampel diperoleh melalui disproporsionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji beda T-test, uji korelasi dan Structural Equation Model (SEM). Tidak terdapat perbedaan nyata pada karakteristik remaja, karakteristik keluarga, dukungan sosial, strategi koping, dan kesejahteraan subjektif remaja antara keluarga utuh dan tidak utuh. Perbedaan nyata hanya terdapat pada variabel karakteristik remaja yakni usia remaja dan karakteristik keluarga yakni besar keluarga. Hasil bootstrapping menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kesejahteraan subjektif remaja
Status Sosial Ekonomi, Literasi Keuangan, dan Manajemen Keuangan pada Keluarga Wirausaha
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh status sosial ekonomi
dan literasi keuangan terhadap manajemen keuangan pada keluarga wirausaha.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dan dilakukan di
Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan
contoh dengan non-probability sampling yaitu teknik snowball sampling.
Responden dalam penelitian yaitu suami atau istri sebagai pemilik usaha. Analisis
data menggunakan statistik deskriptif dan inferensia. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa status sosial ekonomi contoh berdasarkan indikator simple poverty
scorecard Indonesia pada tingkat tidak miskin, memiliki indeks literasi keuangan
well literate tetapi memiliki indeks manajemen keuangan keluarga yang rendah.
Literasi keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen keuangan.
Pendapatan per kapita berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen
keuangan
Pengaruh Kekuatan Karakter Orang Tua dan Internalisasi Nilai Kebaikan terhadap Kesejahteraan Anak Pra-Sekolah
Hampir sepertiga dari kasus yang ditangani oleh KPAI pada 2016 yakni
anak bermasalah dengan hukum, dengan proporsi 40 persen adalah anak sebagai
pelaku kejahatan. Hal ini menunjukkan pentingnya pendidikan karakter dilakukan
pada anak sedini mungkin. Anak yang berkarakter baik juga merupakan gambaran
dari kesejahteraan anak. Kesejahteraan anak tidak hanya berfokus pada apa yang
anak terima sekarang tetapi juga kualitas anak mendatang. Dalam pendidikan
karakter, orang tua sebagai pengasuh utama anak berperan melakukan
internalisasi nilai kebaikan. Selain itu kekuatan karakter orang tua yang tampak
dalam perilaku sehari-sehari juga merupakan contoh yang baik bagi anak. Secara
umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kekuatan karakter
orang tua dan internalisasi nilai kebaikan terhadap kesejahteraan anak.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian
dilakukan di Kelurahan Lembur Sawah, Kec. Bogor Selatan (mewakili daerah
perdesaan) dan Kelurahan Babakan Pasar, Kec. Bogor Tengah (mewakili wilayah
perkotaan) yang dipilih secara purposive. Populasi penelitian adalah keluarga
utuh yang memiliki anak usia pra-sekolah (3-5 tahun). Pemilihan contoh
dilakukan secara disproportional stratified sampling berjumlah 120 contoh. Data
primer diambil menggunakan metode wawancara dengan kuesioner terstruktur
meliputi karakteritik keluarga, karakteristik anak, kekuatan karakter orang tua,
internalisasi nilai kebaikan dan kesejahteraan anak. Pengolahan dan analisis yang
dilakukan adalah analisis deskriptif, uji beda t-test, uji korelasi pearson dan uji
regresi linear berganda.
Usia Ibu dalam penelitian ini berada pada rentang 21-46 tahun, dengan
rataan 32.13 tahun. Lama pendidikan ibu berada pada rentang 0-16 tahun dengan
rataan 8.38 tahun. Hasil uji beda menunjukkan perbedaan signifikan antara lama
pendidikan ibu di wilayah perdesaan dan perkotaan. Ibu di wilayah perkotaan
menempuh pendidikan formal lebih lama dari pada ibu di daerah perdesaan.
Pendapatan perkapita keluarga sebesar Rp625.930 dengan 33.3 persen keluarga
berada dalam kategori miskin. Usai anak berada pada rentang 3-5 tahun yang
terdiri dari 55.8 persen anak laki-laki dan 44.2 persen anak perempuan.
Sebagian besar kekuatan karakter orang tua dalam penelitian ini berada pada
kategori sedang (85%) dengan nilai rataan 72.44. Berdasarkan enam dimensi
kekuatan karakter, kekuatan karakter (keadilan) memiliki nilai rataan tertinggi dan
kekuatan karakter (pengetahuan dan kearifan) memiliki nilai rataan terendah.
Hasil uji beda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kekuatan karakter
ibu di wilayah perdesaan dan perkotaan. Rataan indeks kekuatan karakter di
wilayah perdesaan (71.1) lebih rendah dibandingkan rataan indeks kekuatan
karakter di wilayah perkotaan (73.78). Perbedaan signifikan juga terdapat pada
kekuatan karakter (keteguhan hati) dan kekuatan karakter (kearifan dan
pengetahuan). Rataan indeks kekuatan karakter (keteguhan hati) di wilayah
perdesaan (69.25) lebih rendah dari pada di wilayah perkotaan (74.75). Selain itu,
rataan indeks kekuatan karakter (kearifan dan pengetahuan) di wilayah perdesaan
(59.71) juga lebih rendah dari pada wilayah perkotaan (68.00).
Internalisasi nilai kebaikan (68.30%) berada pada kategori sedang, dengan
nilai rataan indeks sebesar 72.44. Hasil uji beda menunjukkan ibu di wilayah
perkotaan lebih sering melakukan internalisasi nilai kebaikan terhadap anak dari
pada ibu di wilayah perdesaan. Perbedaan signifikan khususnya juga terdapat pada
nilai: kedamaian, tanggung jawab, kebahagiaan, kerja sama, kejujuran,
kerendahan hati, dan toleransi. Hasil penelitian 44.20 persen keluarga sudah
memiliki kesejahteraan anak dalam kategori tinggi, 50.80 persen kategori sedang
dan sisanya lima persen dalam kategori rendah. Hasil uji beda menunjukkan tidak
terdapat perbedaan signifikan antara kesejahteraan anak di wilayah perdesaan dan
perkotaan secara keseluruhan. Perbedaan signifikan kesejahteraan anak
berdasarkan wilayah tempat tinggal terdapat pada dimensi kesejahteraan sosial,
kesejahteraan lingkungan dan kesejahteraan spiritual.
Berdasarkan hasil uji korelasi, lama sekolah ibu berhubungan positif dengan
kekuatan karakter (transenden serta kearifan dan pengetahuan). Selain itu lama
sekolah ibu juga berhubungan positif dengan internalisasi nilai kebaikan secara
keseluruhan dan internalisasi nilai: kedamaian, persatuan, kejujuran, kerendahan
hati, dan toleransi. Selain lama sekolah ibu, pendapatan per kapita juga
berhubungan positif dengan internalisasi nilai (toleransi). Lama sekolah ibu dan
pendapatan per kapita berhubungan positif dengan kesejahteraan anak dimensi
material, sedangkan lama sekolah ibu dan usia anak berhubungan positif dengan
kesejahteraan anak dimensi spiritual. Hasil uji korelasi juga menunjukkan bahwa
kekuatan karakter orang tua berhubungan positif dengan internalisasi nilai
kebaikan. Kekuatan karakter orang tua berhubungan positif dengan kesejahteraan
(material) dan internalisasi nilai kebaikan berhubungan positif dengan
kesejahteraan (spiritual) anak.
Analisis uji regresi pada penelitian ini menggunakan dua model. Model
pertama menunjukkan pengaruh kekuatan karakter orang tua (enam jenis karakter)
dan internalisasi nilai kebaikan (11 nilai kebaikan) terhadap kesejahteraan anak
dengan adjusted R Square sebesar 0.164. Sedangkan pada model kedua, wilayah
tempat tinggal, karakteristik keluarga dan karakteristik anak juga ikut dimasukan
dalam uji regresi (adjusted R Square 0.175). Berdasarkan kedua model tersebut,
secara konsisten kekuatan karakter (transenden) dan internalisasi nilai
(perdamaian dan kerjasama) berpengaruh signifikan positif terhadap kesejahteraan
anak. Kekuatan karakter (keteguhan hati) berpengaruh signifikan negatif terhadap
kesejahteraan anak.
Kekuatan karakter keteguhan hati identik dengan sifat tegas dan
berpendirian teguh. Orang tua perlu mengontrol sikap ini sehingga tidak mencapai
sifat otoriter. Selain itu aktivitas keagamaan, pengembangan diri dan aktivitas
kekuatan karakter transenden lainnya juga baik untuk kesejahteraan anak. Selain
itu orang tua juga diharapkan terus melakukan internalisasi nilai kepada anak
khususnya nilai kedamaian dan nilai kerja sama
Pengaruh Interaksi Teman Sebaya dan Literasi Keuangan terhadap Perilaku Konsumtif Siswa Sekolah Menengah Pertama
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interaksi teman sebaya
dan literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif siswa Sekolah Menengah
Pertama. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan
pemilihan lokasi penelitian secara purposive. Penelitian ini melibatkan 105 siswa
yang bersekolah di salah satu sekolah negeri Kabupaten Bogor. Sekolah dipilih
karena berada di lokasi yang dekat dengan pusat perbelanjaan yang diasumsikan
dapat memengaruhi perilaku konsumtif siswa SMP. Data dikumpulkan melalui
pengisian kuesioner kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif, serta uji
regresi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi teman sebaya siswa termasuk pada
kategori sedang, literasi keuangan tergolong kategori sufficient literate (cukup
terliterasi), dan perilaku konsumtif siswa temasuk kategori sedang. Faktor yang
memengaruhi perilaku konsumtif siswa SMP antara lain adalah usia siswa,
pendidikan ibu, interaksi teman sebaya dan literasi keuangan. Usia siswa,
pendidikan ibu, dan interaksi teman sebaya memiliki pengaruh positif signifikan
terhadap perilaku konsumtif siswa, sedangkan literasi keuangan memiliki pengaruh
negatif signifikan terhadap perilaku konsumtif siswa Sekolah Menengah Pertama
Manajemen Keuangan dan Perilaku Menabung pada Keluarga Petani
Economic problem is a crucial issue and most experienced by farmer families, thus it becomes important to properly manage the family finances. The aim of this study was to analyze the influence of financial management and saving behavior in farmer families. This research using cross-sectional design conducted in Ciaruteun Ilir Village with purposive selection location. The study was performed in 70 randomly selected family with working mothers. The results showed that financial management of farmer family is poorly. A total of 71.4 percent of farmer families performs activities saving, but not all of the family routinely save. The results of multiple linear regression showed that the bigger of the family size would reduce family financial management, but the amount of assets and the higherof family income would increase family financial management. Logistic regression results showed that family with better financial management are more likely to have a family savings and to save more often. Furthermore, the bigger of family size would reduce the value of savings and the higher of family income would increase the value of savings
Kajian Tekanan Ekonomi, Strategi Koping, dan Kesejahteraan Keluarga Petani di Daerah Rawan Banjir
Bencana alam khususnya banjir dapat menyebabkan tekanan ekonomi karena hilangnya harta benda, kerusakan, terganggunya aktivitas mata pencaharian, dan lain-lain yang menimbulkan kerugian baik fisik maupun non fisik yang dapat menimbulkan tekanan ekonomi. Apabila tekanan ekonomi yang ditimbulkan dari bencana banjir dapat dikelola dengan strategi koping yang baik dan sesuai, maka keluarga petani dapat mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi dan pada akhirnya keluarga petani mampu menciptakan kesejahteraan keluarganya dan kondisi kehidupan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tekanan ekonomi, strategi koping, dan kesejahteraan keluarga petani di daerah rawan banjir, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga buruh tani yang bertempat tinggal di daerah rawan banjir. Lokasi penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu Desa Kemujan dan Desa Tegalsari, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Teknik pengambilan contoh dengan Multi Stage dengan cara mengumpulkan populasi keluarga buruh tani di dua lokasi Desa Kemujan dan Desa Tegalsari. Selanjutnya populasi di dua desa tersebut dipilih dengan cara simple random sampling dan jumlah contoh yang diambil sebanyak 100 keluarga. Uji analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji beda t, uji beda Mann Whitney, dan uji regresi linier berganda. Uji beda t digunakan untuk menganalisis perbedaan karakteristik keluarga, uji beda Mann Whitney digunakan untuk menganalisis perbedaan status kemiskinan keluarga (indikator BKKBN). Uji regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi persepsi tekanan ekonomi, strategi koping, dan kesejahteraan keluarga petani di daerah rawan banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia suami 44,94 tahun, umur istri 40,61 tahun, lama pendidikan suami 7,92 tahun, lama pendidikan istri 7,27 tahun, jumlah tanggungan keluarga 3,84 orang. Aspek ekonomi yang dimiliki keluarga seperti pendapatan keluarga Rp 1.227.000, pendapatan per kapita Rp 349.200, pengeluaran per kapita Rp 332,600, luas rumah-pekarangan 29,45 ubin atau 414,14 m2. Banyaknya jenis bantuan yang pernah diterima 4,11 jenis dan tingkat keparahan kerugian akibat banjir mayoritas pada tingkat rendah, persepsi tekanan ekonomi mayoritas pada tingkat sedang (46%) dan strategi koping yang dilakukan keluarga juga mayoritas pada kategori sedang (61%). Status kemiskinan keluarga menurut indikator BKKBN mayoritas masuk ke dalam kelompok Pra-KS dan KSI atau miskin (83%), selain itu kesejahteraan keluarga menurut indikator Subjective Quality of Life /SQL mayoritas masuk ke dalam kelompok keluarga tidak sejahtera (75%). Terdapat perbedaan yang signifikan persepsi tekanan ekonomi di Desa Tegalsari desa yang letaknya jauh dari ibukota kecamatan dengan p-value α=0,05 strategi koping yang dilakukan keluarga contoh di Desa Kemujan dan Desa Tegalsari Hasil uji beda menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga, tingkat keparahan kerugian akibat banjir, indeks persepsi tekanan ekonomi, dan indeks kesejahteraan keluarga petani di Desa Kemujan dan Desa Tegalsari memiliki perbedaan yang signifikan dengan p-value < 0,05. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi tekanan ekonomi adalah usia suami (p<0,1), jumlah tanggungan keluarga (p<0,05), bantuan yang pernah diterima (p<0,1), pekerjaan sampingan kepala keluarga (p<0,1), dan status kemiskinan keluarga (p<0,01). Selanjutnya hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap banyaknya strategi koping ekonomi adalah usia suami (p<0,01), tingkat keparahan kerugian banjir (p<0,05), persepsi tekanan ekonomi (p<0,05), pekerjaan sampingan kepala keluarga (p<0,1), dan pekerjaan ibu (p<0,05). Faktor-faktor yang memengaruhi intensitas strategi koping adalah usia suami (p<0,01), tingkat keparahan kerugian banjir (p<0,05), persepsi tekanan ekonomi (p<0,05), dan pekerjaan ibu (p<0,05). Selain itu hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesejahteraan adalah persepsi tekanan ekonomi (p<0,01), status kepemilikan rumah (p<0,1), dan status keluarga tidak miskin (p<0,1). Kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh keluarga di daerah penelitian, sehingga keluarga dapat meningkatkan pendapatannya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan upah yang besar. Saran untuk pemerintah daerah adalah meningkatkan program pemberdayaan keluarga dan program pelatihan-pelatihan terkait peningkatan sumber daya manusia yang diharapkan program-program tersebut dapat meningkatkan kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Mempermudah akses pengiriman bantuan terkait bencana banjir di lokasi rawan banjir dan tidak hanya fokus pada daerah yang tingkat kerugiannya lebih tinggi, serta bekerja bersama masyarakat memperbaiki lingkungan agar dapat memperkecil resiko banjir. Penelitan selanjutnya sebaiknya juga mengukur strategi koping selain koping ekonomi, seperti strategi koping fokus pada penanganan banjir dan strategi koping terkait dengan mengatasi trauma atau psikologis pada keluarga petani dan bukan petani di daerah rawan banjir. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan tidak hanya pada satu kecamatan saja, melainkan dilakukan juga pada kecamatan yang berbeda di kabupaten yang berbeda daerah rawan banjir
Manajemen Keuangan Dan Kesejahteraan Keluarga Nelayan Penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (Blsm)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik keluarga dan manajemen keuangan terhadap kesejahteraan keluarga nelayan penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Desain penelitian menggunakan cross sectional study, dilakukan di Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Sebanyak 53 keluarga terlibat dalam penelitian ini yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan dengan wawancara dan dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh keluarga (54,7%) memiliki manajemen keuangan pada kategori rendah. Tingkat kesejahteraan keluarga baik objektif maupun subjektif berada pada kategori sedang. Faktor yang mempengruhi kesejahteraan objektif secara nyata adalah pendapatan per kapita dan faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif secara nyata adalah manajemen keuangan tahap pelaksanaan
Kontrol Diri, Sikap terhadap Uang, dan Pengelolaan Keuangan pada Mahasiswa.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dan pengaruh kontrol diri dan
sikap tentang uang terhadap perilaku pengelolaan keuangan pada mahasiswa. Penelitian ini
menggunakan desain cross-sectional study dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data
dikumpulkan dengan metode wawancara yang dilakukan di kampus Dramaga Institut
Pertanian Bogor, Jawa Barat. Teknik penarikan sampel dilakukan dengan teknik non
probability sampling menggunakan metode quota sampling sejumlah 270 mahasiswa
program sarjana Institut Pertanian Bogor. Analisis data yang digunakan adalah regresi
linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri, sikap terhadap uang, dan
pengelolaan keuangan mahasiswa berada pada kategori cukup, dengan rataan sebesar 53,8
pada kontrol diri, 54,6 pada sikap terhadap uang, dan pengelolaan keuangan dengan rataan
sebesar 45,7. Dimensi paling tinggi pada perilaku pengelolaan keuangan adalah dimensi
pengontrolan dengan rataan sebesar 52,3, dan dimensi paling rendah pada perilaku
pengelolaan keuangan adalah dimensi pelaksanaan dengan rataan 41,9. Kontrol diri dan
sikap terhadap uang berhubungan positif signifikan terhadap pengelolaan keuangan. Hasil
uji regresi menunjukkan kontrol diri dan sikap terhadap uang berpengaruh positif signifikan
terhadap perilaku pengelolaan keuangan
Pengaruh Manajemen Keuangan dan Kepemilikan Aset terhadap Kesejahteraan Subjektif pada Keluarga Wirausaha
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh manajemen keuangan dan kepemilikan aset terhadap kesejahteraan subjektif pada keluarga wirausaha. Penelitian ini dilakukan pada 90 keluarga yang memiliki usaha di Desa Babakan, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Cara pengambilan contoh menggunakan purposive sampling. Responden dalam penelitian ini adalah suami atau istri yang memiliki dan mengelola usaha sendiri. Penelitian ini menggunakan wawancara kuesioner. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensia. Statistik inferensia dengan uji regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa keluarga wirausaha memiliki indeks manajemen keuangan yang rendah. Sebagian besar keluarga memiliki aset minimal tiga jenis. Tingkat kesejahteraan subjektif keluarga wirausaha tergolong sedang. Pendapatan per kapita dan manajemen keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap kesejahteraan subjektif keluarga. Namun, kepemilikan aset berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kesejahteraan subjektif keluarga
- …
