116 research outputs found
Pengaruh Jenis Beras dan PreTreatment Penyangraian Terhadap Karakteristik Fisikokimia Beras Kencur Instan
Kencur merupakan tanaman rimpang yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk pangan fungsional. Pemilihan produk beras kencur instan menjadi salah satu potensi pemanfaatan kencur yang selama ini diolah secara tradisional juga untuk meningkatkan daya tarik konsumen terhadap inovasi produk pangan. Metode percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Percobaan Faktorial. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis beras terhadap sifat fisik dan sensoris minuman beras kencur instan serta mengetahui pengaruh pre treatment penyangraian beras terhadap sifat fisiokimia maupun sensoris minuman beras kencur instan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang dilakukan berpengaruh terhadap karakteristik fisiko-kimia produk. Beras Kencur Instan yang dihasilkan memiliki kadar air 0,78-0,92% dan kadar abu 0,42-0,52%. Serbuk tersebut juga memiliki tingkat tingkat kelarutan 93,33%. Aktivitas Antioksidan yang terkandung dalam produk sebanyak 14,49-23,51% . Hasil analisis kesukaan, panelis lebih suka terhadap perlakuan ini dengan tingkat kesukaan 3,1 yang berati agak suka hingga netral. Sedangkan pada uji deskriptif organoleptik menghasilkan warna kehitaman dan agak kemerahan mempengaruhi deskripsi panelis. Produk dengan perlakuan Penyangraian+Penepungan Beras Putih (STP) paling disukai saat analisis organoleptik dan memiliki karakteristik fisikokimia terbaik
Pengaruh Bahan Pengisi Dan Waktu Pengeringan Terhadap Karakteristik Fisikokimia Pada Granul Effervescent Temulawak
Temulawak merupakan tanaman rimpang yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk pangan fungsional. Pemilihan produk granul effervescent karena selain dapat menutupi rasa pahit temulawak juga untuk meningkatkan daya tarik konsumen terhadap inovasi produk pangan. Metode percobaan yang digunakan yaitu faktorial dengan pola dasar RAL (Rancangan Acak Lengkap). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh variasi bahan pengisi maltodekstrin dan xylitol dengan variasi lama pengeringan yaitu 2 jam, 3 jam, dan 4 jam terhadap sifat fisikokimia granul effervescent temulawak. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang dilakukan berpengaruh terhadap karakteristik fisiko-kimia produk. Granul effervescent temulawak yang dihasilkan memiliki kadar total fenol 0,05-0,07 mg/g dan kecepatan larut 0,04- 0,05g/s. Granul tersebut juga memiliki tingkat higroskopisitas atau daya serap air sebanyak 1,92-2,21%. Kadar air yang terkandung dalam produk sebanyak 1,40-1,94% (b/b). Hasil analisis kesukaan, panelis lebih suka terhadap perlakuan ini dengan Tingkat kesukaan 2,93 yang berati agak suka hingga netral. Sedangkan pada uji deskriptif organoleptik menghasilkan warna yang cukup kuning, rasa agak pahit, rasa cukup asam, dan rasa cukup manis. Produk dengan perlakuan bahan pengisi xylitol dan lama pengeringan 3 jam paling disukai saat analisis organoleptik dan memiliki karakteristik fisikokimia terbaik.Kata Kunci : Temulawak; granul effervescent; maltodekstrin; pengeringan; xylitol
PERLAKUAN PADA ROTI GANDUM UNTUK MENURUNKAN INDEKS GLIKEMIKNYA
Roti gandum umumnya memiliki nilai indeks glikemik yang tinggi sehingga sering digunakan sebagai sampel standar dalam penelitian yang kemudian dibandingkan dengan produk makanan lain yang diteliti. Beberapa inovasi telah dilakukan untuk menurunkan nilai indeks glikemik pada roti gandum. Review ini akan membahas treatment yang dilakukan untuk menghasilkan produk roti dengan indeks glikemik yang lebih rendah, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan.</jats:p
PENDUGAAN POPULASI BEKANTAN (Nasalis larvatus) DI TAMAN WISATA ALAM TANJUNG BELIMBING KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS
Proboscis monkey (Nasalis larvatus) is an endemic animal of Borneo including protected primate species as an endangered species status. This species listed as an endangered species caused by large population decline and habitat demage continues to threaten the proboscis population. This research was conducted in Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing (TWATB) is a nature conservation area that supports the conservation of proboscis monkey. The purpose of this research is to collect the amount of proboscis monkey populations, so as to provide an overview of conservation efforts that must be carried out. The method was used the River Survey method. The result of Proboscis research based on the age level was found consisted average of 5 adult male individuals, 6 adult female individuals, 7 adolescent individuals and 5 childs. Estimation of the population is calculated using the King’s Method. Estimated individuals population is 12 individuals with a density of 25.5 individuals/km2.Keywords: Proboscis monkey, Population, Tanjung Belimbing, Paloh
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Petani dalam Menerapkan Usahatani Padi Organik pada Kelompok Tani Sulek Raya 13
Kebutuhan pangan manusia selalu meningkat, tetapi berbanding terbalik dengan peningkatan produksi pangan. Petani sering menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk peningkatan produksi tanaman pangan. Ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida dan pupuk kimia memiliki dampak negatif terhadap keberlanjutan dibidang pertanian. Pertanian organik merupakan solusi untuk mengatasi masalah tersebut, hal ini dikarenakan pertanian organik tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Pertanian organik telah diterapkan di Desa Sulek Kecamatan Tlogosari pada tanaman padi telah dilakukan sejak tahun 2017 dan masih ada dua kegiatan usahatani padi yaitu padi organik dan anorganik. Kelompok tani “Sulek Raya 13” merupakan salah satu kelompok dari tiga kelompok yang anggotanya masih menerapkan usahatani padi organik dan anorganik. Berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh usahatani padi organik diantaranya yaitu harga gabah akan meningkat apabila sudah mendapatkan sertifikasi organik, hasil panen yang bebas bahan kimia dan menjaga unsur hara dalam tanah. Namun, petani masih belum banyak yang tertarik untuk menerapkan usahatani padi organik
TRC889510 Supplemental Material - Supplemental material for Socioeconomic Characteristics of Songbird Shop Owners in West Kalimantan, Indonesia
Supplemental material, TRC889510 Supplemental Material for Socioeconomic Characteristics of Songbird Shop Owners in West Kalimantan, Indonesia by Adam E. Miller, Demi Gary, Juhardiansyah, Novia Sagita, Muflihati, Kartikawati and Sadtata N. Adirahmanta: the Hand-Wrist Study Group in Tropical Conservation Science</p
PENGELOLAAN MADU LALAU OLEH MASYARAKAT DESA NANGA LAUK KECAMATAN EMBALOH HILIR KABUPATEN KAPUAS HULU
The management of forest honey in Nanga Lauk Village is still carried out modestly by the local community. The honeycomb tree is a tree that is tall, big, and sturdy with wide branches that bees naturally nest in. Forest honey belongs to the Apis dorsata forest bee which is the most productive honey bee in producing honey. This study aims to examine the way on how the management of forest honey in Nanga Lauk Village, Embaloh Hilir District, Kapuas Hulu Regency. A survey method with observation and interview techniques is employed in this study. Interviews were conducted with people who own the honeycomb trees. Respondents were selected using a census technique based on ownership of honeycomb trees. The data are obtained from respondents who own honeycomb trees with a total of 10 groups that have been studied. Based on the qualitative descriptive analysis, the Nanga Lauk Village community has carried out traditional honey management in groups for generations starting from forest area maintenance, forest honey harvesting, packaging, and marketing. From the results of the study, it can be concluded that the management of forest honey in Nanga Lauk Village still uses honeycomb trees which have been applied from generation to generation. This is one of the values to maintain and preserve the existence of forest honey bees in Nanga Lauk Village.Keywords: forest honey, Nanga Lauk Village, ownership of honeycomb trees, honey processing Abstrak Pengelolaan madu hutan di Desa Nanga Lauk masih dilakukan secara sederhana oleh masyarakat setempat. Pohon sarang lalau adalah pohon yang tinggi dan besar serta kokoh dan memiliki dahan lebar yang dihinggapi lebah untuk bersarang secara alami. Madu lalau berasal dari lebah hutan Apis dorsata yang merupakan lebah madu yang paling produktif dalam penghasil madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk pengelolaan madu hutan di Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embalaoh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat yang memiliki pohon sarang lalau. Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan teknik sensus berdasarkan kepemilikan pohon sarang lalau. Penelitian ini memperoleh data dari responden yang memiliki pohon sarang madu sendiri dengan jumlah 10 kelompok yang telah diteliti. Berdasarkan analisis diskriptif kualitatif, pengelolaan madu lalau dilakukan oleh Masyarakat Desa Nanga Lauk secara tradisional, turun temurun dan berkelompok mulai dari pemeliharaan kawasan hutan, pemanenan madu hutan, pengemasan dan pemasaran. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengelolaan madu hutan di Desa Nanga Lauk masih menggunakan pohon sarang lalau yang diterapkan secara turun-temurun. Hal ini merupakan salah satu nilai untuk mempertahankan dan melestarikan keberadaan lebah madu hutan yang ada di Desa Nanga Lauk. Kata kunci : madu lalau, Desa Nanga Lauk, kepemilikan pohon sarang, pengolahan madu, pemasara
BENTUK PINTU MASUK SARANG TRIGONA SPP DI KAWASAN HUTAN MANGROVE SURYA PERDANA MANDIRI KELURAHAN SETAPUK BESAR SINGKAWANG UTARA
The Trigona spp (kelulut) bee is a non-stinging honey bee that belongs to the Apidae family. Kelulut is a social insect that lives in groups in a colony, where this bee colony defends itself by biting if disturbed. Kelulut usually make nests in tree holes, wall gaps and bamboo holes in the house, with simple materials that are used as nests such as wooden boxes, pieces of bamboo, coconut fruit, coconut shells, and earthen pots as long as the nesting material is tightly closed. Bee hives are a place of refuge for a bee colony from bacteria, fungi, viruses, and predators, as well as a place for honey, bee pollen, and bee eggs to grow. Kelulut nests are built from resin material derived from plants, besides that there is a door to the nest which is decorated with a funnel made of resin and has various shapes, some are short and some are long, depending on the type which serves as a place to enter and exit colony members. The entrance and exit of the nest not only serves as a pathway for entry and exit, but also serves as a marker for the nest. Kelulut nest entrances have various shapes, including funnel, oval, elliptical, round and irregular or without protrusions at the entrance. This study aims to determine the shape of the entrance to the Trigona spp nest in the Surya Perdana Mandiri Mangrove Forest Area. The method used is a survey, with roaming techniques. Observations were made on trees with kelulut nests. Data analysis using descriptive qualitative. The results found 2 species of kelulut, namely Heterotrigona itama Cockerell and Tetragonula laeviceps Smith. H.itama bees have 6 the shape of entrance and T.laeviceps bees have 4 the shape of entrance. H.itama bees have a funnel at the entrance and there are propolis around the nest. The H.itama entrance has a different shape in the form of a long and slender funnel and a short and large funnel. In addition, the funnel has a variety of colors, black, golden yellow, light brown, and dark brown. While T.laeviceps species do not have a funnel or nest entrance. This type only makes a hole as a place to enter and exit the nest and there is no propolis found around the nest.Keywords: Heterotrigona, mangrove, nest entrance, tetragonula, trigon
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN YANG DIMANFAATKAN OLEH PENGOBAT TRADISIONAL (BATTRA) DI DESA KUMPANG TENGAH KECAMATAN SEBANGKI KABUPATEN LANDAK
Medicinal plants are still an option for the community in treating diseases, especially people who work as traditional healers (Battra) in Kumpang Tengah Village, Landak Regency. The purpose of this study was to record the types of traditional medicinal plants used by Battra, record the parts of medicinal plants used for treatment, how to process, and how to use them. This research was conducted by interviewing Battra who utilize medicinal plants for treatment as a whole, which was determined using the census technique. There were 15 traditional healers (Battra) with 6 professions, traditional birth attendants, jampi healers, bone fracture healers, skin disease and worms healers, pediatric healers and venereal disease healers. The results of interviews conducted with Battra obtained 30 types of medicinal plants from 21 families with the most commonly found family, namely the Arecaceae family, the highest habitus is herbaceous (36.7%), the most widely used plant parts are leaves (63.3%), the highest habitat found is in the yard (66.7%), and the highest plant status is cultivated (70%).Keywords: medicinal plants, traditional healers, local knowledge, Kumpang Tengah Village AbstrakTumbuhan obat masih menjadi pilihan bagi masyarakat dalam mengobati penyakit khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai pengobat tradisional (Battra) yang ada di Desa Kumpang Tengah, Kabupaten Landak. Tujuan dari penelitian ini untuk mendata jenis-jenis tumbuhan obat tradisional yang dimanfaatkan oleh Battra, mendata bagian tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan untuk pengobatan, cara pengolahan dan cara penggunaannya. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai Battra yang memanfaatkan tumbuhan obat untuk pengobatan secara keseluruhan yang ditentukan menggunakan teknik sensus. Terdapat 15 orang pengobat tradisional (Battra) dengan 6 profesi yaitu dukun beranak, dukun jampi, dukun patah tulang, dukun penyakit kulit dan cacingan, dukun penyakit anak dan dukun penyakit kelamin. Hasil wawancara yang dilakukan terhadap Battra diperoleh 30 jenis tumbuhan obat dari 21 famili dengan famili yang paling banyak ditemukan yaitu famili Arecaceae, habitus tertinggi yaitu herba (36,7%), bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu daun (63,3%), habitat ditemukan tertinggi yaitu di pekarangan (66,7%), status tumbuhan tertinggi yaitu dibudidayakan (70%) Kata kunci: tumbuhan obat, pengobat tradisional, pengetahuan lokal, Desa Kumpang Tengah
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA RIAM BATU TIMAH DI DUSUN MADI KABUPATEN BENGKAYANG
Riam Batu Timah, located in Madi Village, Lumar District, Bengkayang Regency, is a tourist attraction that has natural beauty and tourist attractions so that it has the potential to compete with other tourist destinations. Even though it has great potential, Riam Batu Timah is still not well recognized, so the number of visitors is still low. The development of Riam Batu Timah as a tourist destination can create opportunities to increase regional income. The purpose of this study was to analyze the ecotourism development strategy of Riam Batu Timah based on internal and external factors. The research used survey methods and interviews with Pokdarwis and related agencies and analyzed using SWOT. The results showed that the Batu Timah Ecotourism development strategy is an aggressive strategy (S-O) which is a strategy that utilizes all strengths to obtain and take advantage of opportunities.Keywords: aggressive strategy, IFAS and EFAS, Riam Batu Timah, SWOT analysis.AbstrakRiam Batu Timah terletak di Desa Madi Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, merupakan objek wisata yang memiliki keindahan alam dan atraksi wisata sehingga memiliki potensi untuk bersaing dengan destinasi wisata lainnya. Meskipun memiliki potensi yang besar, Riam Batu Timah masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, sehingga jumlah pengunjungnya masih sedikit. Pengembangan Riam Batu Timah sebagai tujuan wisata dapat menciptakan peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis strategi pengembangan ekowisata Riam Batu Timah berdasarkan faktor internal dan eksternal. Penelitian menggunakan metode survei dan wawancara kepada Pokdarwis dan instansi terkait dan dianalisis dengan menggunakan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan strategi pengembangan Ekowisata Riam Batu Timah adalah strategi agresif (S-O) dimana strategi yang memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memperoleh dan memanfaatkan peluang yang dimiliki.Kata kunci : strategi agresif, IFAS dan EFAS, Riam Batu Timah, analisis SWOT
- …
