1,720,977 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Implementasi Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana (Studi Pada Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunung Kelud 2014 Di Jawa Timur)
Pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) merupakan desain baru dalam pengembangan kerangka kerja untuk mengurangi risiko bencana dengan pendekatan proaktif yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah, masyarakat, swasta dalam penanganan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana, maupun dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana. Perubahan paradigma dalam penanganan bencana dari “responsive” menuju “preventif ”. memberikan menekankan tidak saja pada aspek tanggap darurat saja, tetapi juga menekankan pada pengurangan risiko bencana, sehingga manajemen penanganan bencana menjadi siklus yang saling terkait dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Kebijakan penanggulangan bencana sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, memberikan pedoman tentang sistem penanggulangan bencana dengan jelas bahwa keberhasilan dalam penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab pemerintah, dan pemerintah daerah. Oleh karena terjadi perkembangan luasnya cakupan dalam mengatasi masalah bencana, maka tanggung jawab bergeser menjadi tangungjawab bersama. Di era desentralisasi, pola penanganan terhadap bencana diperlukan perhatian yang serius dari pimpinan mulai dari pusat hingga daerah. Keterlibatan para aktor dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana sebagai suatu kebutuhan yang tidak bisa kita hindari. Disertasi ini meneliti tentang implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana dengan maksud untuk dapat memberikan jawaban atas penanganan menejemen bencana yang selama ini telah dilakukan. Studi ini mendeskripsikan dan menganalisis peran aktor dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana erupsi Gunung kelud di Jawa Timur dengan fokus dalam studi ini adalah: (1) Peran aktor negara, aktor swasta, aktor masyarakat dan aktor lembaga internasional dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana (2) Mekanisme tahapan dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana (3) Keberadaan faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana (4) Menemukan model ideal dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur. Analisis dengan menggunakan pendekatan teori aktor dalam impelementasi kebijakan, merujuk pada teori implementasi kebijakan Lineberry (1978:70) dan Anderson (1979:92) secara ringkas menyatakan bahwa dalam mengimplementasikan suatu kebijakan ada empat aspek yang harus diperhatikan, yaitu (1) siapa yang terlibat dalam implementasi; (2) hakekat proses administrasi; (3) kepatuhan atas suatu kebijakan, dan (4) efek atau dampak dari isi implementasi) sebagai grand theory, sedangkan untuk menganalisis peran aktor x dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana mengunakan analisis teori Grindle (1980:7) bahwa aktivitas implementasi dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks kebijakan, sebagai middle range theory. Adapun operasional teorinya menggunakan gabungan teori Considine (1996:71) tentang aktor kebijakan, institusi kebijakan dan instrumen kebijakan, Howlett dan Ramesh (1998: 52) tentang aktor dalam proses kebijakan dapat berarti individu-individu atau kelompok-kelompok yang dalam kondisi tertentu sebagai subsistem kebijakan, kerangka kerja koalisi advokasi (advocacy coalition freamework) Sabatier dan Jenkins-Smith (1980). Adapun untuk mengkaji manejemen risiko bencana menggunakan teori Nick Carter (2008) dan Jack Pinkowsky (2008). Dari temuan penelitian yang diperoleh melalui wawancara yang mendalam dengan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanggulangan bencana dari pemerintah, masyarakat, swasta dan NGO, menghasilkan temuan penelitian sebagai berikut: Pertama terjadinya kolaborasi antar aktor dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana baik aktor Negara, aktor masyarakat, sektor swasta dan aktor NGO, secara sinergis sehingga pengurangan risiko bencana erupsi Gunung Kelud dapat dilakukan dengan baik. Kedua, mekanisme dan pola implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana erupsi Gunung Kelud mulai dari pra bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana dapat dilakukan secara optimal. Ketiga dalam implementai kebijakan pengurangan risiko bencana erupsi Gunung Kelud disamping terdapat keberadaan faktor pendukung yang meliputi: faktor pendukung internal yaitu pengalamam masa lalu yang menciptakan kesadaran masyarakat akan risiko bencana, adanya peringatan dini dan kesiapsiagaan, peran aktif masyarakat di lereng Gunung Kelud menghadapi bencana erupsi Gunung Kelud tahun 2014 yang lalu (relawan), kondisi geografis daerah, kondisi sosial ekonomi dan kemajuan daerah, dan faktor pendukung eksternal yaitu; komitmen dan dukungan pemerintah, legalitas dan regulasi yang dibuat oleh pemerintah baik pusat dan daerah dalam bentuk peraturan perundang-undangan, kapasitas sumberdaya dan kelembagaan, adanya rencana aksi dan rencana kontigensi (Renaksi dan Renkon), potensi daerah sebagai aset untuk peningkatan penganggaran, dukungan dan kepedulian terhadap bencana dengan membangun kemitraaan dan memberdayakan masyarakat dan peran dunia usaha melalui Coporative Social responsibility (CSR). Selain itu juga terdapat faktor penghambat meliputi penghambat internal yaitu; kondisi masyarakat masih banyak yang rentan terhadap bencana, pengetahuan dan sosialisasi tentang bencana yang masih minim, kelompok masyarakat dalam komunitas terkait bencana di level desa masih bersifat reaktif, kurangnya sarana dan prasarana peringatan dini dan, adanya nilai-nilai kepercayaan yang telah terbangun di wilayah terdampak, dan faktor penghambat eksternal yaitu; dukungan dan alokasi anggaran yang masih minim, sumber daya aparatur BPBD yang belum memiliki kompetensi bidang kebencanaan, lemahnya koordinasi, sinkronisasi, sinergi dan konsistensi program dan kegiatan secara vertikal dan horizontal, belum adanya produk hukum terkait forum khusus tentang PRB, minimnya peran dan partisipasi masyarakat, melalui mekanisme pelaksanaan musrenbang, dan program penanggulangan bencana. Keempat, menemukan model implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana erupsi xi Gunung Kelud yang dapat dikembangkan menjadi model ideal dalam penanganan risiko bencana. Implikasi teoritis dari disertasi ini adalah: 1) Konsep Condisine relevan untuk menjelaskan tentang institusi kebijakan untuk menganalisis peran nilai dalam implementasi kebijakan, 2) Teori Howlett dan Ramesh bahwa peran aktor kebijakan sebagai sub-sistem kebijakan relevan untuk menganalisis peran aktor dalam implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana. 3) Sabatier dan Smith dalam ACF theory menunjukkan adanya kolaborasi dan sinergi antar aktor dalam implementasi kebijakan, di mana masing-masing aktor memiliki kepercayaan dan keyakinan serta nilai dan kepentingan yang berbeda, sehingga memelukan peran aktor penengah (policy brokers). 4) Ottwin Renn Bahwa Teori Metafora Arena (Social arena Metaphor) yang dikembangkan oleh sosiolog dukungan teori ini juga dipadukan dengan teori sebelunya, bahwa implementasi kebijakan sebagai proses sosial dan arena perjuangan para aktor yang memainkan peran dalam sebuah arena dalam penaggulangan bencana. 5) Teori Grindle sangat relevan untuk menjelaskan keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh variabel konteks dan konten. Teori ini menajamkan adanya pelaku kebijakan dengan melihat variabel yang mendukung keberhasilan dalam implementasi kebijakan publik. 6) Farasman dan Ceo dan Chen dalam Sound Governance dan Dynamic Governance untuk menjelaskan tentag peran lembaga internasioanl dalam implementasi kebijakan PRB dan 7) Carter dan Pinkowski sangat relevan untuk menjelaskan secara komprehensif tentang siklus manajemen bencana
Implementasi kebijakan pengurangan risiko bencana (studi pada pengurangan risiko bencana erupsi gunung kelud 2014 di Jawa Timur)
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
