2 research outputs found
Stereotip dan fitnah terhadap wanita dalam Al-Quran: Analisis tafsir Al-Azhar terhadap surat Ali Imran ayat 14 dan surat Yusuf ayat 23-24
INDONESIA:
Skripsi ini mencoba mengangkat permasalahan masih adanya asumsi dalam masyarakat terhadap Stereotip dan fitnah wanita yang memposisikan mereka sebagai subordinasi, marginal, diskriminalisasi,sumber fitnah dan nafsu. Kedatangan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, merupakan agama kasih sayang yang dalam ajarannya perempuan merupakan sosok yang dimuliakan. Penelitian ini bermaksud menjelaskan makna dan konteks stereotip dan fitnah terhadap wanita dalam Surat Ali Imran Ayat 14 dan Surat Yusuf Ayat 23-24 dalam Tafsir al-Azhar serta implikasi penafsiran ayat-ayat tersebut terhadap pemahaman masyarakat tentang peran dan kedudukan wanita.
Dalam penelitian penulis menggunakan jenis Penelitian Normatif (library research) dengan pendekatan kualitatif melalui kajian historis,konseptual dan interpretatif. Hasil penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa Hamka salah satu mufassir Indonesia dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan pada Q.S Ali Imran ayat 14 konteks stereotip wanita dengan sebutan an-nisa` merupakan makhluk diciptaan Allah yang menarik dan menjadi sosok yang disukai lawan jenisnya yakni laki-laki. Sedang wanita yang digambarkan pada Q.S Yusuf Ayat 23-24 pada hakekatnya makhluk secara fitrah memang memiliki hasrat nafsu terhadap lawan jenis dengan kondisi psikologisnya mengawali rayuan sebagaimana digambarkan dalam kisah Yusuf dan istri Raja.
Pemahaman tafsiran ayat tersebut bukanlah bermaksud mengintervensi wanita sebagai sumber fitnah atau nafsu, ditegaskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai potensi sang sama dalam hal itu, namun masing-masing seharusnya menjaga kehormatan dengan menggunakan akal sehat dan tetap memegangi aturan agama.
ENGLISH:
This thesis tries to raise the problem of the existence of assumptions in society regarding Stereotypes and slander of women that position them as subordinate, marginal, discriminated against, sources of slander and lust. The arrival of Islam brought by the Prophet Muhammad SAW, is a religion of compassion in whose teachings women are glorified figures. This study aims to explain the meaning and context of stereotypes and slander against women in Surah Ali Imran Verse 14 and Surah Yusuf Verse 23-24 in Tafsir al-Azhar and the implications of interpreting these verses on society's understanding of the role and position of women.
In this study, the author used the type of Normative Research (library research) with a qualitative approach through historical, conceptual and interpretative studies. The results of this study, the author concluded that Hamka, one of the Indonesian mufassirs in Tafsir al-Azhar, explained in Q.S Ali Imran verse 14 the context of the stereotype of women with the term an-nisa` is a creature created by Allah who is attractive and becomes a figure that is liked by the opposite sex, namely men. While women described in Q.S Yusuf Verse 23-24 are essentially creatures who by nature have lust for the opposite sex with their psychological condition initiating seduction as described in the story of Yusuf and the King's wife.
Understanding the interpretation of this verse is not intended to intervene in women as a source of slander or lust, it is emphasized that men and women have the same potential in this regard, but each should maintain their honor by using common sense and still adhering to religious rules.
ARABIC:
تحاول هذه الرسالة إثارة قضية الافتراضات المستمرة في المجتمع فيما يتعلق بالصور النمطية والافتراءات على المرأة والتي تضعها في موضع تابع، هامشي، معرض للتمييز، ومصدر للافتراء والشهوة. إن وصول الإسلام الذي جاء به النبي محمد صلى الله عليه وسلم، هو دين المحبة الذي كانت المرأة فيه شخصية عظيمة في تعاليمه. يهدف هذا البحث إلى توضيح معنى وسياق الصور النمطية والافتراء على المرأة في سورة آل عمران الآية ١٤ وسورة يوسف الآيتين ٢٣- ٢٤في تفسير الأزهر وكذلك انعكاسات تفسير هذه الآيات على فهم المجتمع لدور المرأة ومكانتها.
في هذا البحث استخدم المؤلف أسلوب البحث المعياري (البحث المكتبي) بمنهج نوعي من خلال الدراسات التاريخية والمفاهيمية والتفسيرية. وتوصلت نتائج هذه الدراسة إلى أن حمكة، أحد المترجمين الإندونيسيين في تفسير الأزهر، يشرح في سورة آل عمران الآية ١٤ أن سياق الصورة النمطية للمرأة التي يطلق عليها اسم النساء هي مخلوق خلقه الله جذاب وشخصية محبوبة من الجنس الآخر أي الرجال. في هذه الأثناء، فإن المرأة الموصوفة في سورة يوسف الآيتين ٢٣-٢٤ هي في الأساس مخلوق لديه بطبيعته رغبات شهوانية تجاه الجنس الآخر مع حالتها النفسية التي تبدأ الإغواء كما هو موصوف في قصة يوسف وزوجة الملك.
وليس المقصود من فهم تفسير هذه الآية التدخل في المرأة كمصدر للقذف أو الشهوة، بل يؤكد أن الرجل والمرأة لديهما نفس الإمكانات في هذا الصدد، ولكن يجب على كل منهما الحفاظ على شرفه باستخدام المنطق السليم مع الالتزام بالقواعد الدينية
ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. ANALISIS KONFLIK BATIN PADA TOKOH UTAMADALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA SYEKH NIZAMIKAJIAN PSIKOLOGI SASTRA 1Redho Akbar; 2Yayah Chanafiah; 3Sarwit Sarwono Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu Korespondensi: [email protected] AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun, (2) mendeskripsikan faktor-faktor penyebab konflik batin yang dialami pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun. Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra dan juga menggunakan alat bantu penafisran yaitu hermeneutika Wilhem Dilthey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut. (1)Konflik batin pada tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan, kebimbangan dalam mengadapi permasalahan, dan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, (2) Akhir dari konflik batin Majnun dan Layla, (3)Faktor sosial penyebab konflik batin yang dialami tokoh utama dalam novel Layla Majnun adalah tradisi dan kebiasaan dari keluarga Layla. Kata Kunci: Novel Layla Majnun, Konflik Batin, Akhir Konflik Batin, Faktor Konflik Batin AbstractThis research aims to (1) describe the inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun, (2) describe the causative factors of inner conflict experienced in the main character in the novel Layla Majnun. The data in this study is an inner conflict experienced in the main character in layla majnun's novel. The source of the data in this study is a novel by Sheikh Nizami, entitled Layla Majnun. The novel was published by DIVA Press in 2020 with a total of 223 pages. The type of approach used in this study is a literary psychology approach that focuses on the text or choice of words used by the author in literary works and also uses a disclaimer tool, the hermeneutics Wilhem Dilthey. Data collection is done with reading and recording techniques, while data analysis is done with descriptive analysis techniques. The results of this study can be Outlined as follows. (1) The inner conflict in the main character in Layla Majnun's novel is the conflict between choices not in accordance with desire, doubt in the face of problems, and expectations that do not correspond to reality, (2) Finally the inner conflict of Majnun and Layla, (3) The social factors that cause inner conflict Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono experienced by the main character in Layla Majnun’s novel are the traditions and custom of the Layla family. Keywords: Layla Majnun Novel, Inner Conflict, End of Inner Conflict, Inner Conflict Factor PENDAHULUANSastra adalah bagian dari entitas budaya yang praktiknya tercermin dalam karya-karya sastra. Semua kebudayaan dan peradaban di dunia mengalami suatu periode perubahan yang mendalam (Peursen, 1990:72), termasuk kebudayaan dan peradaban bangsa Arab dengan segala totalitasnya. Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) berpendapat bahwa sastra Islam tersebut mempunyai ciri khas, yakni sebagian besar berupa terjemahan atau saduran yang berasal dari bahasa Arab atau Parsi dan hampir semua karya ini tidak diketahui nama pengarang atau tarikh penulisnya.Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3) juga membagi sastra zaman Islam ke dalam beberapa kategori, yakni cerita Al-Quran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat nabi Muhammad, cerita pahlawan Islam, dan sastra Kitab. Selain itu, menurut Liaw Yock Fang (dalam Sugiartoputri, 2009:3), kajian tentang Al-Quran, tafsir, tajwid, arkan ul-Islam, usukuddin, fikih, ilmu sufi, ilmu tasawuf, tarikat, zikir, rawatib, doa, jimat, risalah, wasiat, Bab An-Nikah dan kitab tib (obat-obatan, jampi-menjampi) dapat digolongkan ke dalam sastra kitab. Melalui sastra kitab, pengguna naskah dapat menambah pengetahuan keagamaan mereka. Oleh karena itu, karya sastra yang bercorak Islam banyak yang berasal dari Persia. Jika dalam puisi dikenal Gazhal, nazam, bayt, qit’ah dan lain-lain. Sedangkan dalam bentuk prosa dijumpai dalam sastra berbingkai. Salah satu jenis sastra berbingkai adalah hikayat seribu satu malam. Cerita-cerita yang terdapat di dalam hikayat seribu satu malam yang sangat populer dan dingat oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Melayu adalah Aladin, Ali Baba, Abu Nawas, Layla Majnun, dan lain-lain.Layla Majnun di Indonesia, pernah ditulis oleh Hamka dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1932, tebalnya 74 halaman. Kemasyuran kisah Layla Majnun ini juga telah memberikan inspirasi kepada sutradara kondang Indonesia, Sjumandjaja, untuk membuat cerita layar lebar. Tahun 1975, dibuatlah film dengan judul Layla Majnun dengan bintang utama Rini S Bono sebagai Layla dan Ahmad Albar sebagai Majnun. Film ini mengantongi penghargaan untuk kategori aktor pembantu bagi Farouk Afero pada festival film Indonesia 1976 (Purwantari, 2004).Layla Majnun adalah salah satu kisah yang populer dalam dunia Islam. Selama lebih dari seribu tahun beragam versi dari kisah tragis ini telah muncul dalam bentuk prosa, puisi, dan lagu dalam hampir semua bahasa di Negara-negara Islam Timur. Meski demikian, sajak epik Nizami lah yang menjadi dasar. Nizami seorang penyair Persia, ditugaskan untuk menulis Layla Majnun oleh penguasa Kaukasia, Shirvanshah, pada tahun 1188 Masehi (1141-1209). Shirvanshah memuji Nizami sebagai “penyair dengan keelokan kata-kata terhebat di dunia”, lalu meminta Nizami untuk menulis sebuah epik romantik atau syair (disusun dalam gaya bahasa puitis yang dikenal dengan masnawi) yang diambil dari cerita rakyat Arab, kisah mengenai Qays yang telah melegenda, sang penyair yang “gila cinta” dan Layla gadis padang pasir yang kecantikannya sangat terkenal Nizami (dalam Rahayu, 2014:82). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra Majnun itu gelarnya, nama aslinya adalah Qays Ibnu Mulawwih. Majnun satu akar kata dengan Jin. Jika di terjemahkan langsung, Majnun adalah orang yang kesurupan Jin atau orang yang gila karena cinta. Sedangkan nama Qays dalam Islam memiliki makna perbandingan, kekuatan, ketegasan, tinggi hati. Ini dimaknai agar nantinya bayi laki-laki menjelma menjadi bayi yang istimewa, tangguh, dihormati, dan bijaksana. Sementara Layla secara akar kata itu artinya malam. Selain itu juga, nama Layla karena matanya sangat indah, hitam pekat seperti malam.Berdasarkan kesimpulan di atas mengenai kejiwaan Qays merupakan salah satu konflik yang dapat dikaji melalui aspek psikologi sastra. Jatman (dalam Endraswara, 2008:97) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena antara baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Memiliki hubungan fungsional karena sama-sama mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Hal yang membedakan adalah, jika dalam psikologi gejala tersebut rill, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.Novel Layla Majnun dipilih dalam penelitian ini karena sangat menarik untuk dikaji. Selain karena novel ini merupakan novel terlaris National Best Seller yang diterbitkan oleh Oase pada tahun 2008. Dan yang diterbitkan oleh Babul Hikmah mendapatkan julukan International Best Seller. Kelebihannya terletak pada ceritanya yakni penderitaan batin yang dialami oleh Majnun dan Layla selaku tokoh utama. Penderitaan batin yang dialami tokoh utama, mengalami penyimpangan dari manusia yang normal pada umumnya.Novel Layla Majnun merupakan kisah cinta Majnun dan Layla. Kisah cinta mereka yang bukanlah seperti kisah biasanya yang bersifat duniawi yang tidak banyak memuji kecantikan wanitanya secara batin ataupun memujanya dan rela berkorban untuk cintanya seperti kisah cinta yang ada. Kisah cinta mereka merupakan kisah cinta begitu dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnya kekuatan cinta Qays/Majnun kepada Layla, sehingga indera matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu, pikirannya menjadi kacau, semuanya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada Layla. Dalam hidupnya ada Layla, harta, jabatan penghormatan, semuanya menjadi sirna karena cintanya kepada Layla. Qays rela hidup menderita demi mempertahankan cinta tersebut. Begitu pun sebaliknya dengan Layla. Kisah cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan, namun kisah cinta mereka terhalang kesombongan orang tua Layla yang lebih memihak tradisi dibandingkan kebahagiaan seorang anak.Perbedaan Majnun dan Layla terlihat ketika tidak bisa berbuat seperti Majnun dalam melampiaskan rasa cintanya. Adat dalam masyarakat Arab melarang perempuan yang sudah baligh bermain-main di luar rumah, apalagi menjalin asmara. Perempuan tersebut harus memasuki masa-masa pemingitan yang nantinya akan dilepas ketika ayahnya menjodohkan dengan lelaki yang tepat pilihannya. Layla lebih menderita daripada Majnun. Pada akhirnya kisah cinta mereka tak sampai, penuh dengan penderitaan yang dijalani Majnun dan Layla. Penderitaan yang dijalani oleh Majnun dan Layla, akan sangat menarik apabila dikaji secara pendekatan sastra yaitu pendekatan psikologi sebagai alat bantu, yang berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono Peneliti juga menggunakan hermeneutika Wilhem Dilthey sebagai alat bantu dalam menafsirkan kembali novel Layla Majnun untuk mempermudah, memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut.Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil penelitian terhadap novel Layla Majnun karya Syekh Nizami dengan judul analisis konflik Batin pada Tokoh Utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami Kajian Pskologi Sastra, yang berfokus pada konflik batin dan faktor penyebab terjadinya konflik batin yang dialami Majnun dan Layla. METODEMetode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu untuk memahami fenomena didapat subjek penelitian, seperti watak, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Sebagaimana dijelaskan oleh Strauss dan Corbin (dalam Syamsuddin dan Damaianti, 2007:73) metode penelitian kualitatif juga dapat dimaksudkan sebagai suatu jenis penelitian dimana penemuan teori atau ukuran statistik tidak dapat diperoleh. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2011:4) menyatakan metodologi kualitatif adalah suatu sistem yang menghasilkan data deskriptif. dalam bentuk kata-kata yang tersususun atau diungkapkan dari perilaku yang diamati.Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologi sastra berfokus pada teks atau pilihan kata yang digunakan pengarang dalam karya sastra. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dari tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan konflik batin tokoh utama dalam novel Layla Majnun karya Syekh Nizami. Dalam hal ini, penulis juga menggunakan alat bantu hermeneutika Wilhem Dilthey, hermeneutika yang dijelaskan dalam penelitian ini juga memberikan manfaat tentang hal menafsirkan kembali karya sebelumnya seperti salah satunya pada novel Layla Majnun untuk mempermudah memahami apa yang sedang terjadi pada novel tersebut yaitu pembahasan berkaitan dengan konflik batin yang dialami pada tokoh utama.Data dalam penelitian ini adalah konflik batin yang dialami pada tokoh utama yang ada di dalam novel Layla Majnun. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Syekh Nizami, dengan judul Layla Majnun. Novel tersebut diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman 223 lembar.Teknik pengumpulan data digunakan yaitu teknik membaca dan catat. Teknik membaca adalah teknik untuk menemukan suatu informasi untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar dapat menemukan informasi yang dicari secara cepat dalam novel Layla Majnun, biasanya pembaca menggunakan petunjuk-petunjuk seperti, buku-buku yang relevan untuk membantu penelitian dalam mengkaji konflik batin, psikologi sastra dan hermeneutika. Teknik catat adalah pencatatan informasi yang diselesaikan dengan catatan sesuai dengan kepentingannya (Subroto, 1992:42). Dalam metode pencatatan, peneliti mencatat informasi yang ditemukan dalam laporan pencatatan data-data yang berupa konflik batin dan kajian psikologi sastra pada novel Layla Majnun. HASIL DAN PEMBAHASANPenelitian ini, peneliti terlebih dahulu menguraikan unsur pembangun struktur karya sastra yang meliputi: fakta-fakta cerita (alur, karakter atau penokohan, latar, dan tema). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra AlurTahapan situasion (penyituasian). Pada tahap ini pengarang mulai menggambarkan keadaan keluarga Qays. Syed Omri adalah ayah Qays yang sangat menantikan kelahiran Qays. Di usia senjanya barulah dia mendapatkan Qays. Kehadiran Qays banyak membawa perubahan dalam hidupnya. Syed Omri sangat bahagia dan menjadi seorang yang lebih dermawan. Pada bagian ini juga dikisahkan tentang pertemuan Qays dan Layla di sekolahnya, gadis yang membuatnya tergila-gila. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut:“Qays sendiri sejak pertama kali menatap wajahnya, jiwanya langsung bergetar. Ia bagaikan merasakan bumi bergetar kencang, hingga merenggut hasratnya untuk menuntut ilmu. Qays belum pernah melihat keindahan yang memesonakan laksana kecantikan Layla. Ia sungguh telah jatuh cinta pada mawar jelita, Layla.” (LM, 2020:13). Cerita kemudian dilanjutkan ke tahap genering circumtances. Pada tahap ini, merupakan tahap awal muncul konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang. Ketika Qays dan Layla asyik memadu cinta, tanpa disadari, mereka telah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Pada akhirnya, kabar itu sampai kepada ayah Layla. Mendengar anak gadisnya menjadi buah bibir banyak orang, akhirnya untuk menghindari aib keluarga maka Layla dipingit. Ayah Layla pindah ke Lembah Nejd. Layla yang sudah jauh dari Qays merasa dirinya tersiksa. Hasrat hatinya ingin bertemu dengan Qays. Rasa cintanya semakin mendalam. Sejak perpisahan itu jiwa Qays juga terguncang. Dia merasa bersalah karena dirinya Layla dipingit. Jiwanya sangat merindukan Layla. Qays pun mengembara mencari Layla sambil melantunkan syair-syair cintanya. Orang yang melihatnya ada yang sedih dan ada pula yang menganggapnya gila. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini:“Qays tidak menghiraukan apa kata orang, ia terus berjalan, berbicara dan bersyair memuji pesona kekasihnya. Qays juga tidak peduli bocah-bocah yang sering kali mengikuti dan menirukan gerak-geriknya. Hingga orang-orang tersebut lupa akan nama Qays, mereka lebih mengenalnya sebagai Majnun, si gila.” (LM, 2020:34). Tahap rising action (peningkatan konflik). Syed Omri berusaha untuk meminangkan Layla untuk Majnun, anaknya. Namun, dengan perkataan yang menyinggungkan dan keras ditolak oleh ayah Layla. Ia tidak ingin menikahkan anaknya dengan orang gila. Naufal juga berusaha untuk mempersatukan Majnun dan Layla. Untuk itu, ia rela berperang melawan kabilah ayah Layla. Ia sudah memenagkan peperangan itu, namun ayah Layla tidak mau memberikan Layla untuk Majnun, si gila. Menikahkan Layla dengan Majnun sama dengan menikah dengan kehinaan dan aib keluarga. Mendengar pengakuan orang tua malang itu Naufal menjadi terharu. Ia tidak sanggup membunuh musuh yang tidak berdaya dan lemah. Majnun sangat kecewa pada saat mendengar keputusan Naufal. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut:“Saya tidak mampu menikahkan putriku dengan keburukan dan menerima kutukan dari negeriku! Seekor anjing lebih baik daripada manusia ibkis, karena gigitan seekor anjing dapat disembuhkan, namun luka yang membusuk itu akan meninggalkan bekas selamanya.” Redho Akbar; Yayah Chanafiah; dan Sarwit Sarwono “mendengar pernyataan lelaki tua malang tersebut, Naufal menjadi terharu. Rasa bimbang pun menguasai hatinya. Ia sudah berjanji pada Majnun akan meminang Layla, tetapi ia tidak tega mendengar kata-kata orang tua yang sudah kalah itu, bagaimana mungkin ia akan mampu membunuh musuh yang telah terluka dan tidak berdaya? Bagaimana mungkin ia akan bisa menyakiti lelaki tua yang sudah sekarat? Pantang baginya melukai musuh yang tidak berdaya.” (LM, 2020:118). Tahap climax (puncak kejadian konflik). Pada tahap ini peristiwa-peristiwa mencapai titik intensitas. Kegilaan Majnun semakin memuncak ketika ia mengetahui kabar pernikahan Layla dengan Ibnu Salam. Qays berprasangka Layla tidak setia terhadap dirinya. Padahal, walaupun Layla sudah menikah dengan Ibnu Salam, namun tidak sedikit pun Layla biarkan menyentuh dan merenggutnya. Layla mengatakan bahwa pernikahan tersebut ialah keinginan ayahnya bukan keinginannya. Jadi, raga dan jiwa atas cintanya hanya untuk Majnun seorang. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Dengan suara menyayat dan terdengar lebih menyedihkan dari sangkakala maut, Laylla berucap, “apakah engkau berharap bisa memilikiku? Wahai, Tuan, sadarilah, perkawinan ini merupakan keinginan ayahandaku, bukan keinginanku sendiri! Sedikit pun aku tidak berharap untuk melakukan perbuatan yang aku benci. Aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat. Daripada melakukan tindakan yang aku benci lebih baik darahku menodai pedangmu.” “Saya tidak mau mengkhianati cintaku. Aku pun tidak sudi mengotori jiwaku hingga noda hitam akan melekat di keningku. Duhai, Tuan, janganlah engkau membayangkan dan berusaha untuk mendapatkan sebuah hati yang ditakdirkan bergelimang penderitaan. Dalam hati ini sudah terukir satu nama. Ia tidak bisa digantikan oleh apa dan siapapun. Walaupun emas dan permata ditaburkan untuk menyilaukan pandangan mata, namun jiwa yang penuh cinta tidak akan pernah terlena oleh kemewahan duniawin.” (LM, 2020:130). Cerita dilanjutkan ke tahap denounment (penyelesaian). Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Penyelesaian masalah ini berakhir dengan kematian, yaitu kematian Ibnu Salam, Layla, dan Majnun. Sebelumnya, pengarang novel Layla Majnun menggambarkan tentang kematian Ibnu Salam yang membawa perubahan pada diri Layla. Sekarang Layla bebas menentukan nasibnya. Karakter Tanpilan FisikPada bagian ini, Qays dan Layla merupakan tokoh utama yang merupakan keturunan kaum bangsawan. Mereka berdua memiliki wajah tampan rupawan serta cantik jelita. Hal ini tergambarkan pada kutipan berikut:“Seiring berganti hari, tahun pun berbilang, Qays tumbuh dan berkembang menjadi lelaki yang dapat dibanggakan orang tuanya. Wajahnya tampan rupawan, tubuhnya tinggi semampai bak pilar-pilar yang kokoh, dan suaranya merdu laksana buluh perindu”. (LM, 2020:11). Analisis Konflik Batin Pada Tokoh Utama Dalam Novel Layla Majnun Karya Syekh Nizami Kajian Psikologi Sastra “Di antara anak asuh sang guru, terdapat gadis cantik nan rupawan berusia belasan tahun. Parasnya anggun memesona, lembut budi bahasanya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis ini bersinar terang laksana cahaya mentari pagi, tubuhnya bak biola, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam tebal bergelombang”. (LM, 2020:12). Pengarang Secara Langsung Mendeskripsikan Karakter Tokohnya Qays atau MajnunSebelum menjadi gila/Majnun, namanya adalah Qays. Qays adalah seorang pemuda tampan dan cerdas, tubuhnya kuat dan suaranya merdu. Qays digambarkan seorang pria yang sempurna. Walaupun gila, sebenarnya Majnun adalah tokoh protagonis. Banyak orang-orang yang menyukai syair-syair Majnun dan banyak orang yang memuji-muji kesetian Majnun. Selain itu, Qays digambarkan tidak memiliki motivasi, tidak lagi merawat dirinya sendiri, Qays bahkan lebih memilih tinggal di alam para binatang buas daripada tinggal di rumahnya sendiri yang sangat mewah. LaylaLayla adalah seorang gadis yang cantik lembut dan anggun. Layla juga digambarkan juga sebagai o
