1,720,993 research outputs found

    Kecenderungan Putus Sekolah Difabel Usia Pendidikan Dasar di Jember

    Full text link
    This study examines the aspirations of children with disabilities in attending school and their tendency to drop out of school. This study answers the question of how disabilities influence aspirations to attend school in relation to the tendency to drop out of school. Data were collected through interviews and observations of three children with disabilities who dropped out of school and three children with disabilities who do not. Data were analysed using the techniques of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the aspirations of attending school were influenced by three considerations: targets, results of risk factor analysis, and social responses. The social response shows the most dominant attention because it is often manifested by support (friendship) or obstacles (intimidation and discrimination). If the social response is positive, then the aspirations of going to school will increase, which affects the sustainability of children in school. [Penelitian ini mengkaji aspirasi anak difabel untuk bersekolah dan kecenderungannya untuk putus sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kepada tiga anak difabel yang putus sekolah, dan tiga anak difabel yang (masih) bersekolah. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspirasi bersekolah dipengaruhi oleh tiga pertimbangan, yaitu: tujuan atau target pembelajaran, hasil analisis faktor risiko, dan respon sosial. Respon sosial menjadi faktor paling dominan karena sering diwujudkan dengan dukungan (ikatan pertemanan) maupun hambatan (intimidasi dan diskriminasi). Jika respon sosial bersifat positif, maka aspirasi bersekolah akan meningkat, yang berdampak pada keberlanjutan anak dalam bersekolah.

    Miftakhuddin Miftakhuddin's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    Pendidikan kewirausahaan dan bahasa asing dalam tingkat SMA dan Pendidikan Tinggi sebagai upaya penanggulangan tawuran pelajar dan peningkatan efektivitas bonus demografi tahun 2028

    No full text
    Peserta bonus demografi (pemuda) ternyata masih banyak melakukan tindakan destruktif, salah satu yang paling terlihat dan paling berdampak adalah tawuran pelajar, padahal mereka adalah ujung tombak Indonesia dimasa depan. Dari kajian sosiologi, pemuda yang melakukan tindakan tidak berguna disebabkan karena tidak tersalurkannya energi dan minat, dan menurut Vena Melinda, tawuran pelajar disebabkan karena pada masa orientasi ditanamkan benih kekerasan berupa bullying dan intimidasi verbal. Jika melihat apa yang akan dihadapi Indonesia, maka langkah paling tepat adalah pendidikan kewirausahaan dan bahasa asing pada tingkat SMA dan pendidikan tinggi. Langkah ini diambil dengan tujuan untuk menghilangkan tawuran dan meningkatkan produktivitas masyarakat serta membawa Indonesia menjadi negara yang kompetitif dalam lingkup global. Karya ini ditulis dengan metode kajian pustaka, baik internet maupun tulisan ilmiah. Sumber internet yang dijadikan rujukan bukan merupakan blog pribadi, namun website yang menyajikan fakta yang relevan. Sedangkan rujukan yang lain adalah berupa softcopy tulisan ilmiah. Kajian dilakukan pada karya yang dipublikasikan 5 tahun terkakhir, dimaksudkan untuk kepentingan validitas atau relevansi masalah yang diangkat. Dengan demikian masalah yang sedang diteliti masih terglong baru. Dalam pelaksanaannya, observasi dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa masalah yang diangkat memang layak, kemudian merumuskan hipotesis untuk dijadikan acuan dalam langkah selanjutnya. Pendidikan kewirausahaan dan bahasa asing dijalankan secara sinergis antara instansi pendidikan dan pemerintah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat global dan lokal. Langkah pelaksanaan berangkat dari masa orientasi dengan penanaman jiwa kewirausahaan dan bahasa asing oleh para pakar dan mewajibkan setiap peserta didik untuk memiliki usaha (dagang atau jasa) dan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Kewirausahaan ditujukan untuk persiapan persaingan global dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan bahasa asing adalah untuk persiapan kerjasama internasional (menjalin mitra membutuhkan komunikasi yang baik). Direktori khusus juga perlu dipersiapkan untuk kepentingan pemantauan. Dengan demikian maka tradisi tawuran akan hilang dan pemuda akan terwujud sebagai bonus demografi yang tersalurkan menjadi kontributor yang solutif bagi masyarakat

    Historiografi Korupsi di Indonesia: Resensi Buku Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia

    No full text
    This review aims to describe the contents of the book, analyze how the book reaches its objectives, and how the author's perspective in presenting his arguments and ideas. The review was conducted by using the report method proposed by Bond (1964). Overall, this book has three weaknesses. Firstly, Carey's writings were not well-translated, so it might complicate nonscholar readers. Secondly, discussion in the first two chapters strays from the topic of "corruption". Thirdly, this book tends to more like an anthology book (it does not seem unified). However, each chapter was written objectively and comparably. In terms of the organization of its ideas, the script of Margana and Carey appears to have been written in strict rules of historical research, both heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Moreover, in Chapter IV, the construct has written in investigative writing by former journalist, Haryadi. It will make the readers' reasoning skills more analytical, critical and anticipatory. In conclusion, this book is a worthy reference for everyone who concerns on corruption issues in Indonesia, mainly due to its incisive analysis by experts and historians.Review ini bertujuan mendeskripsikan konten buku, menganalisis bagaimana buku mencapai tujuannya, dan bagaimana perspektif penulis dalam menyajikan argumen dan gagasannya. Review dituliskan dengan report method yang diusulkan Bond (1964). Secara keseluruhan, buku ini mempunyai tiga kelemahan. Pertama, tulisan Carey tidak diterjemahkan dengan baik, sehingga mungkin akan menyulitkan pembaca umum. Kedua, pembicaraan di dua bab pertama menyimpang terlalu jauh dari “korupsi”. Ketiga, buku ini lebih seperti buku antologi, sehingga terkesan tidak menyatu. Namun demikian, setiap bab dalam buku ini ditulis secara objektif dan berimbang. Ditinjau dari organisasi ide pokoknya, teks dari Margana dan Carey tampak ditulis mengikuti kaidah riset sejarah secara ketat, baik heuristik, kritik, interpretasi, maupun historiografi. Terlebih lagi pada Bab IV yang ditulis dengan nuansa investigatif oleh mantan wartawan Haryadi, akan membuat daya nalar pembaca menjadi lebih analitis, kritis, dan antisipatif.

    Sastra anak: Genre realisme

    No full text
    Sastra dibebani dua tugas yang berbeda: sastra hendaknya melukiskan kenyataan selaras dengan kebenaran, tetapi sekaligus kenyataan itu ingin diubahnya. Gagasan realisme adalah sebuah doktrin sastra yang menegaskan bahwa tugas pengarang adalah menggambarkan realitas secara jujur dan historis (Eagleton, 1976). Prinsip realisme menghubungkan sastra dengan kebenaran historis. Dalam realisme, manusia, dengan pikiran dan perbuatannya mampu menentukan arah dari gerak sejarah. Realisme adalah teori sastra yang secara fundamental bertumpu pada sistem dialektika pengarang dengan lingkungan sosialnya. Segala tendensi sastra dipahami sebagai sebuah motif historis. Karya sastra selalu terhubung secara fundamental dengan lingkungan sosial pada masanya. Hakikat realisme ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai metode kontemplatif untuk mengangkat kesadaran ideologis sebagai manusia yang berkesadaran bahwa realitas sosial adalah sebuah ruang yang tidak dapat dihindari tetapi harus dikonstruksi

    Dilema putus sekolah bagi anak-anak masyarakat tradisional di Jember, Jawa Timur

    No full text
    Fenomena putus sekolah tidak selalu dijelaskan oleh teori-teori dan ilmu pengetahuan. Justeru, akan menjadi bagain dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Beberapa kasus yang diuraikan di atas merupakan evidensi empiris asumsi tersebut. Bahwa putus sekolah sebenarnya bukan hanya tentang punya uang atau tidak punya uang, melainkan “diizinkan atau tidak diizinkan” oleh situasi dan kondisi. Sudah sepantasnya, bagi akademisi hendaknya turut mencari solusi atas berbagai masalah-masalah sosial, terutama yang menyangkut masa depan generasi penerus. Beberapa hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa sebaiknya kaum terpelajar tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi harus cerdas secara sosia

    Pendidikan kewirausahaan dan bahasa asing dalam tingkat SMA dan pendidikan tinggi sebagai upaya penanggulangan tawuran pelajar dan peningkatan efektivitas bonus demografi tahun 2028

    No full text
    Pendidikan kewirausahaan dan bahasa asing dijalankan secara sinergis antara instansi pendidikan dan pemerintah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat global dan lokal. Langkah pelaksanaan berangkat dari masa orientasi dengan penanaman jiwa kewirausahaan dan bahasa asing oleh para pakar dan mewajibkan setiap peserta didik untuk memiliki usaha (dagang atau jasa) dan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Kewirausahaan ditujukan untuk persiapan persaingan global dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan bahasa asing adalah untuk persiapan kerjasama internasional (menjalin mitra membutuhkan komunikasi yang baik). Direktori khusus juga perlu dipersiapkan untuk kepentingan pemantauan. Dengan demikian maka tradisi tawuran akan hilang dan pemuda akan terwujud sebagai bonus demografi yang tersalurkan menjadi kontributor yang solutif bagi masyarakat. Pelaksanaan pendidikan harus mendapat peran dari segala lapisan masyarakat sebagai pengontrol dijalankannya kebijakan. Untuk itu, jika semua masyarakat lokal masih peduli dengan masa depan Indonesia, maka semua masyarakat juga harus mendukung dijalankannya kebijakan dan program in

    Anakku, belahan jiwaku: Pola asuh yang tepat untuk membentuk psikis anak

    No full text
    Setiap orangtua punya cara membesarkan anaknya, bergantung pada budaya, tingkat pendidikan, kesejahteraan ekonomis, bahkan latar belakang keagamanaan. Metode yang ditempuh orangtua itu disebut sebagai pola asuh (parenting style). Teknik-teknik di dalamnya akan menjadi bagian utama dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk kecerdasan, emosi, dan aspek psikologis lainnya. Namun demikian, terkadang orangtua tak menyadari apakah karkateristik psikologis anaknya sesuai dengan gaya pengasuhan yang mereka terapkan. Ketidaktahuan ini pada gilirannya berakibat pada kelalaian pengasuhan (salah asuh) dan berbagai penyimpangan (behavioral and psychological deviations). Itulah mengapa, pada beberapa kasus, ada anak kyai tapi ia adalah pemabuk dan penjudi, anak seorang guru tapi suka mem-bully teman sekolahnya, bahkan ada juga anak polisi yang justeru terlibat tawuran pelajar. Menurut psikolog, satu hal yang luput ialah kekeliruan dalam memahami situasi psikologis anak dan menyelenggarakan pendidikan keluarga yang sesuai. Sebab, masing-masing anak ialah individu yang unik. Mereka tidak bisa saling disamakan karena perkembangannya dipengaruhi nature (sifat alamiah dari gen orangtua) dan nurture (sifat yang terbentuk dari interaksi dengan lingkungan sosial). Persoalan di atas menjadi semakin rumit, lebih-lebih karena orangtua belum menemukan cara mengidentifikasi karakter anak, prosedur pengukuran kesehatan mental anak, bagaimana mengatasi depresi pada anak, dan bagaimanakah strategi mendidik yang disarankan agar psikologis anak tetap sehat. Buku ini berusaha menyajikan solusi atas problematika tersebut, dengan merujuk pada teori-teori psikologi, hasil penelitian, dan pengalaman empiris dari berbagai riset psikologis di Indonesia. Sebagai bahan kajian yang riil, buku ini juga mengangkat contoh-contoh kasus pola pengasuhan pada keluarga utuh, single parent, dan broken home

    Pendidikan vokasional dalam tingkat SMP sebagai upaya mempercepat pemenuhan tenaga ahli abad 21

    No full text
    Perkembangan IPTEKS selalu diiringi dengan pertambahan kebutuhan dan berdampak pada penetrasi tenaga kerja, investasi dan teknologi. Saat ini liberalisasi pasar dan kerjasama regional tidak terhindarkan. Faktanya, negara paling banyak mengalami penetrasi adalah negara dengan SDA melimpah (Indonesia). Indonesia sudah mempersiapkan pembangunan infrastruktur dan penetapan kebijakan ekonomi, namun kurang fokus pada investasi melalui pendidikan vokasi. Pendidikan vokasional berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dibidang industri dan usaha. Pendidikan vokasional penting karena era perdagangan bebas membutuhkan tenaga ahli. Di Indonesia pendidikan vokasi dimulai pada tingkat SMU dengan PSG 4 bulan, sistem ini tidak efektif karena praktik hanya sebentar. Akan lebih efektif jika pendidikan vokasi dimulai pada jenjang SMP, dengan PSG mulai kelas satu sampai lulus (sistem pembelajaran 50:50), tujuannya adalah membuat aktivitas belajar siswa menjadi aplikatif langsung dengan konsep dasar learning by doing. Dengan kata lain pendidikan vokasional sejak pendidikan menengah pertama seperti ini akan mempercepat pemenuhan kebutuhan akan tenaga ahl

    Miftakhuddin Miftakhuddin's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
    corecore