1,720,999 research outputs found

    Hubungan Kecerdasan Emosi dan Konformitas dengan Perilaku Agresif Siswa SMK Pab 2 Helvetia Kabupaten Deli Serdang

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosi dan konformitas dengan perilaku agresif siswa SMK PAB 2 Helvetia Kabupaten Deli Serdang. Hipotesis yang diajukan terdiri dari (1) Ada hubungan Kecerdasan Emosi (EQ) dengan Perilaku Agresif pada siswa, (2) Ada hubungan Konformitas dengan Perilaku Agresif pada siswa, (3) Ada hubungan Kecerdasan Emosi (EQ) dan konformitas secara bersama-sama dengan perilaku agresif pada siswa dengan asumsi bahwa semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin rendah perilaku agresif, sedangkan semakin rendah konformitas maka akan semakin rendah perilaku agresif. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas SMK PAB 2 Helvetia Deli Serdang yang berjumlah 408 orang. Sampel penelitian adalah seluruh siswa yang berperilaku agresif sebanyak 67 orang. Metode pengumpulan data menggunakan skala kecerdasan emosi, skala konformitas dan skala perilaku agresif. Analisis data penelitian menunjukkan bahwa (1) ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan perilaku agresif yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar rx1y = -0,468 dan p < 0,01; (2) ada hubungan positif konformitas dengan perilaku agresif yang ditunjukkan oleh koefieisn korelasi rx2y = 0,415 dan p < 0,01; untuk kedua hipotesis diatas digunakan teknik analisis parsial; ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dan konformitas dengan perilaku agresif siswa yang ditunjukkan oleh koefisien F = 18,870 dan R = 0,609 sedangkan R2 = 0,371 dengan p < 0,01. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosi dan konformitas secara bersama dengan perilaku agresif, analisis yang digunakan adalah analisis regresi ganda.This study aims to determine the relationship of emotional intelligence and conformity with the aggressive behavior of students SMK PAB 2 Helvetia Deli Serdang District. The hypothesis proposed consists of (1) There is a relationship of Emotional Intelligence (EQ) with the Aggressive Behavior of the students, (2) There is a relationship of Conformity with Aggressive Behavior on the students, (3) There is a relationship of Emotional Intelligence (EQ) and conformity together aggressive behavior in students with the assumption that the higher the emotional intelligence the lower the aggressive behavior, while the low semkin conformity will be the lower the aggressive behavior. The type of this research is descriptive correlation. The study population is all students of SMK PAB 2 Helvetia Deli Serdang class which amounted to 408 people. The sample of the study was all students who behaved aggressively as many as 67 people. Data collection methods use emotional intelligence scale, conformity scale and aggressive behavior scale. Analysis of research data showed that (1) there was a significant negative relationship between emotional intelligence with aggressive behavior shown by correlation coefficient of rx1y = -0.468 and p <0,01; (2) there is a positive relationship of conformity with aggressive behavior shown by correlation coefficient rx2y = 0,415 and p <0,01; for both hypothesis above used partial analysis technique; there is a significant relationship between emotional intelligence and conformity with student aggressive behavior shown by coefficient F = 18,870 and R = 0,609 while R2 = 0,371 with p <0,01. The third hypothesis in this study is to determine the relationship of emotional intelligence and conformity together with aggressive behavior, the analysis used is multiple regression analysis

    Differences in Burnout Syndrome Tendencies Viewed from Gender in Emergency Room Nurses at RSUD Dr. Pirngadi Medan

    No full text
    63 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Kecenderungan Burnout Syndrome Ditinjau Dari Jenis kelamin Pada Perawat IGD RSUD Dr. Pringadi Medan. Dengan hipotesis yaitu terdapat perbedaan kecenderungan Burnout Syndrome perawat laki-laki dan perempuan. Dengan asumsi bahwa kecenderungan Burnout Syndrome lebih tinggi dialami pada perempuan dibandingkan laki-laki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Subjek peneltian ini adalah perawat laki-laki dan perempuan pada ruangan IGD, dimana sudah bekerja minimal 2 tahun, dengan jumlah lakilaki 23 orang dan perempuan berjumlah 27 orang. Skala yang digunakan adalah skala Burnout Syndrome yang berjumlah 28 aitem. Reliabilitas skala Burnout Syndrome adalah rbt= 0,900. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis korelasi Anava satu jalur digunakan untuk mengetahui Perbedaan Kecenderungan Burnout Syndrome Berdasarkan Jenis Kelamin, dengan menggunakan SPSS versi 18,0. Hasil analisis diketahui ada perbedaan kecenderungan Burnout Syndrome ditinjau dari jenis kelamin perawat IGD. Hasil ini dibuktikan koefisien perbedaan F= 41 ,583 dengan p= 0,000, <0,050. Dengan melihat nilai rata-rata, diketahui bahwa perawat IGD perempuan memiliki kecenderungan Burnout Syndrome yang lebih tinggi dengan nilai ratarata/mean empirik 69.370. Dibandingkan dengan perawat IGD laki-laki dengan nilai rata-rata mean emprik 47.391. Diketahui bahwa kecenderungan Burnout Syndrome pada perawat IGD RSUD Dr. Pringadi Medan, berada pada kategori sedang cenderung tinggi, sebab men empiric (59.260) selisih dengan mean hipotetik (56.00) melebihi bilangan SD= 16.242

    Hubungan Pola Asuh Permisif dengan Perilaku Agresif pada Siswa SMP Negeri Padangsidempuan

    No full text
    Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Dalam perkembangan kepribadian seorang remaja mempunyai arti yang khusus, dimana remaja mempunyai tempat yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan. Umumnya masa ini berlangsung sekitar umur 12 tahun sampai 21 tahun untuk wanita dan 13 tahun sampai 22 tahun untuk laki-laki yaitu masa anak duduk di bangku sekolah menengah (Mappiare,1982). Selanjutnya Semiawan (1989) mengibaratkan masa remaja "terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil untuk taplak meja", masa remaja tidak dianggap seperti anak-anak lagi tetapi juga belum bisa masuk ke dalam golongan orang dewasa. Fase remaja adalah fase dimana terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama atau sejajar. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas, mereka sudah tidak tergolong anak-anak tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk golongan orang dewasa (Ali, 2004). Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi- fungsi fisik maupun psikisnya. Ditinjau dari kondisi tersebut mereka masih termasuk golongan kanak- kanak, mareka masih harus menemukan tempat dalam masyarakat. Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat- sifat masa transisinya, karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak- kanak, sehingga hal tersebut sering menimbulkan konflik dalam diri mereka yang tak jarang mereka tunjukk:an dalam bentuk perilaku yang bertentangan dengan lingkungan, seperti perilaku menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis yang lebih dikenal dengan perilaku agresif. Agresif bukan hanya suatu usaha untuk sengaja menyakiti seseorang tetapi juga dasar dari interpretasi intelektual, dari tercapainya kebebasan, bahkan kebanggaan yang bisa membuat seseorang merasa lebih dari teman-temannya (Berkowitz, 2003)

    Hubungan Religiusitas dan Pola Asuh Demokratis Dengan Perkembangan Moral Pada Siswa SMA Muhammadiyah 2 Medan

    Full text link
    174 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Hubungan antara Religiusitas dan pola asuh demokrtais dengan perkembangan moral siswa pada SMA MUHAMMADIYAH 2 MEDAN. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 97 siswa, yang terdiri dari kelas X, XI dan XII, dengan sampel uji coba sebanyak 30 orang. Untuk pengumpulan data dipergunakan skala Religusitas, skala pola asuh demokratis dan skala Perkembangan Moral, dan analisis data menggunakan Teknik Regresi Berganda. Hasil penelitian menunjukkan : (1)Ada hubungan yang signifikann positif antara religiusitas dengan perkembangan moral, dimana koefisien rx1y = 0,625 dengan P = 0,000, nilai kontribusi sebesar 39,1 %.(2)Ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh demokratis dengan perkembangan moral, dimana koefisien rx2y = 0,436 dengan p = 0,000, nilai kontribusi sebesar 19,0 %(3).Ada hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dan pola asuh demokratis dengan perkembangan moral, dimana koefisien determinan rx12y = 0,636 dengan p = 0,000 berarti p ˂ 0,01, dan kontribusi sebesar 40,4 %. Hal ini diketahui dengan melihat nilai F=31,906 dan P = 0,000 ˂ 0,05. Hipotesis diterima. This study aim to determine : The Relationship of Religiusitas and Democratic Parenting to the Moral Development of student in SMA Muhammadiyah 2 Medan. The sample of this study were 97 students. They were the tenth, eleventh and third class students. And for try out were 30 stundents. Data collection techniques used three scales. They were Religiusitas Scale, Democrating Parenting and Moral Development Scale. Data were anaylized with Multiple Regression. The results of study show : (1) There is a significant positive relationship between religiusitas and moral development where the coefficient rx1y = 0,625 dengan P = 0,000with contribution is = 39,1 %. (2) There is a significant positive relationship between Democrating Parenting with moral development where the coefficient rx2y = 0,436 with P = 0,000, with contribution is 19,0 %. And (3) There is a significant positive relationship between religiusitas and democrating parenting with moral development which determinant contribution is rx12y = 0,636 with p = 0,000 where p ˂ 0,01, and the contribution is 40,4 %. whereas F=31,906 dan P = 0,000 ˂ 0,05. So the hypothesis is accepted

    Hubungan antara Persepsi Tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dengan Kinerja Karyawan di PT. Safindo Raya

    No full text
    25 HlmKinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Salah satu hal yang meningkatkan kinerja karyawan adalah persepsi positif karyawan terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang diterapkan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan persepsi tentang K3 dengan kinerja pada karyawan. Hipotesis yang diajukan dalam penulisan ini adalah semakin positif persepsi tentang K3 yang dimiliki karyawan maka semakin tinggi kinerjanya. Jumlah sampel dalam penulisan ini adalah sebanyak 39 orang. Metode pengambilan data yang digunakan adalah dengan menggunakan skala Likert dan dokumentasi kinerja karyawan perusahaan. Berdasarkan perhitungan analisis korelasi product moment dapat dinyatakan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penulisan ini diterima, ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi tentang K3 dengan kinerja karyawan. Hasil ini dibuktikan dengan Koefisien Korelasi Rxv = 0,774; P = 0,000, berarti P < 0,010; dengan sumbangan persepsi tentang K3 sebesar 0,599 atau 59,9 %

    Hubungan Efikasi Diri dan Dukungan Sosial Keluarga dengan Pengaturan Diri dalam Belajar Mahahsiswa STAI Al-Hikmah Medan

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dan dukungan sosial keluarga dengan pengaturan diri dalam belajar pada mahasiswa STAI AL-RIK.MAH Medan. Sampel dari penelitian ini adalah mahasiswa STAI Al-Hikmah Medan pada program studi PAI dan BKI tahun ajaran 2014-2015 berjumlah 125 orang. Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik random sampling. Alat ukur penelitian ini mengunakan skala Likert yang mengukur efikasi diri, dukungan sosial keluarga dan pengaturan diri belajar. Pengolah data dilakukan dengan menggunakan dalam ganda. Hasil penelitian menunjuk:kan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara efikasi diri dan dukungan sosial keluarga dengan pengaturan diri dalam belajar (F hitung = 59.738 , p < 0,05). Dari penelitian ini juga diketahui bahwa efikasi diri dan dukungan sosial keluarga memberikan kontribusi terhadap pengaturan diri dalam belajar pada mahasiswa STAI Al-Hikmah Medan sebesar 49.5% dan sebesar 50.5% dipengaruhi oleh faktor lain

    The Relationship of Religion and Democratic Parenting with Moral Development in Students of Muhammadiyah 2 Medan High School

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Hubungan antara Religiusitas dan pola asuh demokrtais dengan perkembangan moral siswa pada SMA MUHAMMADIYAH 2 MEDAN. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 97 siswa, yang terdiri dari kelas X, XI dan XII, dengan sampel uji coba sebanyak 30 orang. Untuk pengumpulan data dipergunakan skala Religusitas, skala pola asuh demokratis dan skala Perkembangan Moral, dan analisis data menggunakan Teknik Regresi Berganda. Hasil penelitian menunjukkan : (1)Ada hubungan yang signifikann positif antara religiusitas dengan perkembangan moral, dimana koefisien rx1y = 0,625 dengan P = 0,000, nilai kontribusi sebesar 39,1 %.(2)Ada hubungan positif yang signifikan antara pola asuh demokratis dengan perkembangan moral, dimana koefisien rx2y = 0,436 dengan p = 0,000, nilai kontribusi sebesar 19,0 %(3).Ada hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dan pola asuh demokratis dengan perkembangan moral, dimana koefisien determinan rx12y = 0,636 dengan p = 0,000 berarti p ˂ 0,01, dan kontribusi sebesar 40,4 %. Hal ini diketahui dengan melihat nilai F=31,906 dan P = 0,000 ˂ 0,05. Hipotesis diterima.This study aim to determine : The Relationship of Religiusitas and Democratic Parenting to the Moral Development of student in SMA Muhammadiyah 2 Medan. The sample of this study were 97 students. They were the tenth, eleventh and third class students. And for try out were 30 stundents. Data collection techniques used three scales. They were Religiusitas Scale, Democrating Parenting and Moral Development Scale. Data were anaylized with Multiple Regression. The results of study show : (1) There is a significant positive relationship between religiusitas and moral development where the coefficient rx1y = 0,625 dengan P = 0,000with contribution is = 39,1 %. (2) There is a significant positive relationship between Democrating Parenting with moral development where the coefficient rx2y = 0,436 with P = 0,000, with contribution is 19,0 %. And (3) There is a significant positive relationship between religiusitas and democrating parenting with moral development which determinant contribution is rx12y = 0,636 with p = 0,000 where p ˂ 0,01, and the contribution is 40,4 %. whereas F=31,906 dan P = 0,000 ˂ 0,05. So the hypothesis is accepted

    Studi Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Cybersex pada Pria Dewasa Awal Pengguna Komputer di Kota Medan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku cybersex pada pria dewasa awal di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru Kota Medan, Menurut Cooper (2002) Cybersex didefinisikan sebagai penggunaan internet untuk terlibat dalam aktivitas kesenangan seksual, seperti melihat gambar-gambar erotis, berpartisipasi dalam chatting tentang seks, saling tukar menukar gambar atau email tentang seks, dan lain sebagainya, yang terkadang diikuti oleh masturbasi. Dimana diketahui terdapat 5 (lima) faktor yang mempengaruhi perilaku cybersex, yakni Accesibility, Anonimity, Affordability, Isolation, Fantacy. Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah Pria Dewasa Awai yang melakukan Cybersex di beberapa warung internet di wilayah Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan. Baru. Kota Medan dan berjumlah 60 orang yang diambil dengan teknik Incidental Sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala perilaku cybersex berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Cooper (1998), Carners, Delmolnico, dan Griffin (2001) yang terdiri dari 40 aitem (a = 0, 883). Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif yang menggunakan tabel dan gratis serta proses pembuatan norma yang menggunakan Empirical rules dengan dasar Mean dan SD. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa faktor Affordability (56,7%) menempati urutan pertama sebagai faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku cybersex. Diurutan kedua adalah faktor Fantasy (53,3%.), di urutan ketiga adalah faktor Anonimity (51,7%), selanjutnya diurutan keempat adalah faktor Isolation ( 46, 7%), dan faktor yang berada diurutan kelima adalah faktor Accessibility(43, 3 %)

    Relationship Between Perceptions of Organizational Support and Organizational Commitment to TVRI North Sumatra Employees

    No full text
    55 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi atas dukungan organisasi dengan komitmen organisasi karyawan TVRI Sumut. Kemajuan teknologi mengharuskan perusahaan beradaptasi dengan keadaan yang serba barn dengan begitu dibutuhkan karyawan yang tetap komitmen dalam kondisi seperti itu di dalam organisasinya. This study aims to determine the relationship between upper perceptions organizational support with the organizational commitment of North Sumatra TVRI employees. Advances in technology require companies to adapt to changing circumstances all new with so required employees who remain committed in such conditions within the organization
    corecore