1,720,973 research outputs found
Kontribusi Wisata terhadap Pendapatan dan Partisipasi Masyarakat di Situ Sangiang, Taman Nasional Gunung Ciremai
Situ sangiang merupakan salah satu objek wisata yang ada di Taman Nasional
Gunung Ciremai yang dikelola oleh SPTN 2 Majalengka dan masyarakat sekitar
Situ Sangiang. Keberadaan suatu objek wisata diharapkan dapat memberikan
kontribusi untuk masyarakat sehingga akan muncul motivasi untuk menjaga dan
melestarikan suatu kawasan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi
bentuk usaha, manfaat ekonomi, tingkat partisipasi dan hubungan antara keduanya.
Metode yang digunakan yaitu wawancara dengan menggunakan kuesioner. Hasil
penelitian menunjukkan bentuk usaha yang ada di Situ Sangiang yaitu pemilik
warung, penjual roti, fotografer, pemandu wisata (kuncen), pengelola parkir,
penjaga tiket, dan petugas kebersihan. Kegiatan wisata memberikan kontribusi
rendah terhadap share (38.6%) dan covering (46.52%). Tingkat partisipasi pelaku
usaha didominasi oleh tingkat partisipasi tinggi sebanyak 67%. Analisis korelasi
Rank-Spearman menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua
variabel tersebut, artinya kontribusi wisata tidak berpengaruh terhadap tingkat
partisipasi masyarakat
Pengelolaan Kesejahteraan Harimau Sumatera Dan Pemanfaatannya Sebagai Satwa Peraga Di Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat
Kebun binatang merupakan salah satu lembaga konservasi ex-situ yang memperhatikan kesejahteraan satwa dengan memenuhi seluruh standar minimum kesejahteraannya, salah satu fungsinya sebagai wahana rekreasi dan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengelolaan kesejahteraan harimau sumatera di Kebun Binatang Bandung dalam kaitannya dengan prinsip kesejahteraan, mengukur tingkat kesejahteraan harimau sumatera di Kebun Binatang Bandung, mengidentifikasi persepsi pengunjung tentang kondisi harimau sumatera sebagai satwa peraga (obyek wisata) di KBB, dan menyusun rekomendasi pengelolaan harimau sumatera di KBB sebagai satwa peraga. Hasil yang diperoleh menunjukkan pengelolaan harimau sumatera di KBB terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu pengelolaan aspek untuk berperilaku alami, pengeloaan kandang dan kesehatan. Kesejahteraan harimau sumatera di KBB termasuk dalam kriteria cukup sampai baik. Pengelolaan kesejahteraan, fasilitas pendukung satwa dan sarana pendukung wisata di KBB masih perlu peningkatan dan penambahan
Perencanaan Jalur Interpretasi Anggrek di Hutan Wisata Taman Eden, Toba Samosir
This study aimed to develop a general plan of orchids interpretive trail at Eden Park Tourism Forest (EPTF). Data was collected through literature review, interviews, distribution of questionnaires, and field observations. Inventory of the region showed that orchid plants were easily found in all four observation trails, with a total of 51 species from 29 genera. Visitors of EPTF was dominated by male visitors (63%) with majority of age group of 20-30 years (48%). Most visitors (64%) preferred trail 1 as interpretive trail for orchids. Trail 1 was then chosen as the trail to be developed into interpretive trail based on its characteristics suitability for such trails, its orcgids potentials, and visitors preference toward the trail. Planning of interpretive trail included program planning, and supporting facilities planning. The programs were developed under the following themes: Paphiopedilum tonsum orchid is very rare species, so it must be protected for its existence and cultivation is one of the activity for orchid plant preservation
Perencanaan Media Interpretasi di Kawasan Wisata Alam Situ Sangiang Taman Nasional Gunung Ciremai
Media interpretasi diperlukan untuk meningkatkan kepedulian pengunjung
terhadap lingkungan wisata yang dikunjungi sehingga tujuan pengelolaan kawasan
taman nasional tercapai, namun Situ Sangiang sebagai bagian Taman Nasional
Gunung Ciremai belum memiliki media interpretasi. Penelitian bertujuan
mengidentifikasi karakteristik dan preferensi pengunjung terhadap media
interpretasi serta merancang media interpretasinya. Penelitian dilakukan pada bulan
April 2017. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan studi literatur dengan
dianalisis secara deskriptif. Mayoritas pengunjung berdasarkan tujuan
kunjungannya adalah pengunjung dengan tujuan rekreasi (76%), yang didominasi
oleh perempuan dewasa muda (17-25 tahun) dengan durasi kunjungan kurang dari
2 jam. Tujuan religi (16%) didominasi oleh laki-laki dewasa (> 25 tahun) dengan
durasi kunjungan 5-10 jam sedangkan tujuan pendidikan (6%) didominasi oleh
perempuan dewasa dengan durasi kunjungan >10 jam. Preferensi media interpretasi
tujuan rekreasi adalah papan interpretasi, sedangkan tujuan ziarah/religi dan
pendidikan adalah interpreter. Media yang direkomendasikan untuk dikembangkan
adalah papan interpretasi dengan mempertimbangkan preferensi pengunjung tujuan
rekreasi dan keterbatasan sumberdaya di dalam kawasan ini
Pelaksanaan dan Capaian Program Training of Trainers (TOT) bagi Guru pada Sekolah Dasar Binaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Kabupaten Cianjur.
Program Training of Trainers (TOT) merupakan salah satu program
pendidikan konservasi yang dimiliki oleh Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango yang diperuntukkan bagi guru sekolah dasar yang berada di desa
penyangga. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi
program Training of Trainers (TOT) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,
mengidentifikasi pelaksanaan dan capaian pendidikan konservasi lingkungan di
sekolah binaan TNGGP Kabupaten Cianjur dan mengukur tingkat keberhasilan
program Training of Trainers (TOT). Data dikumpulkan melalui wawancara semi
terstruktur kepada guru yang menjadi peserta TOT dan kepala sekolah, studi
dokumen dan observasi. Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah
dapat terlaksana atas kebijakan kepala sekolah, peranan guru dalam mengajar dan
jalinan kemitraan dengan instansi atau lembaga yang fokus di bidang lingkungan.
Hanya satu dari lima sekolah peserta program TOT yang masuk dalam kategori
sangat berhasil yaitu SDN Nyalindung 3, satu masuk dalam kategori berhasil yaitu
SDN Cimacan 1, satu masuk dalam kategori kurang berhasil yaitu SDN Cijedil
dan dua lainnya masuk kategori tidak berhasil yaitu SDN Giri Mukti dan SDN
Pacet 1
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Konservasi Hutan pada Siswa Sekolah Dasar di Sekitar Hutan Kawasan Gunung Salak Endah, Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP) is a conservation area that is experiencing conflict with people who lived around the Park in the area of Gunung Salak Endah (GSE). Conflicts had arisen because the people did not have awareness and knowledge of the importance of national parks for their livelihood. Knowledge, positive attitude and behavior towards the forest should be instilled in the community to resolve conflict and prevent further problems. Elementary school students, as young generation that will preserve the forest in the future, had great potential for the development of knowledge, positive attitude and behavior about forest conservation. When students were taught about forest conservation and encouraged to apply positive behavior toward forest, then the students would likely participate actively in forest conservation efforts. The purpose of this research was to identify the characteristics of sample schools; to measure students’ knowledge, attitude, and behavior in relation to forest conservation , and; to evaluate forest conservation education for elementary school students in the area of GSE, GHSNP. Four sample schools, namely SDN Gunung Bunder 03, SDN Gunung Bunder 04, SDN Gunung Picung 06 and SDN Gunung Sari 01, were selected using purposive sampling method based on criteria of proximity to the forest. Data were collected through direct observation, the distribution of questionnaires to students through questionnaires and structured interviews with teachers and principals through structured interviews with an interview guide. Students’ respondents were selected from the 5th grade students who had obtained forest conservation subjects in grade 4. The number of respondents was determined using a Slovin formula. Closed-form questions and statements were used in the questionnaire to measure students’ knowledge, attitude and behavior. Knowledge was measured using Thurstone scale, while attitude and behavior using Likert scale. In general, students from all four sample schools had average score of 10 – 20 on knowledge, 14 – 16 on attitude, and 9 – 11 on behavior. SDN Gunung Sari 01 had the largest percentage of respondents who obtained score in high category both for knowledge (46.2%) and attitude (30.8%), however the largest percentage of good behavior category was obtained by SDN Gunung Bunder 03 (41.2%). Respondents from SDN Gunung Sari 01 had also obtained the highest mean score of knowledge, attitude and behavior, but the mean score of behavior was only 0.1 point above the mean score of respondents from SDN Gunung Bunder 03. Better learning process occurred in SDN Gunung Sari 01 was assumed to have produce students with better achievement than the other sample schools. There were more subjects related to forest conservation taught in the school, supported by better infrastructure, more varying media, and more time allocation on lecture and practice. However, the students of SDN Gunung Bunder 03 had the advantage from the extracurricular activities that encouraged the students to familiarize 6 themselves to forest conservation related activities, which stimulated positive behavior. Therefore, learning about forest conservation should not only be given through curricular learning, but also supported by non-curricular learning, which provided students with opportunities to habituate themselves to the related learning subjects, so that students with better knowledge, attitude, and behavior could be generated
Tingkat Kepuasan Pengunjung Terhadap Pelayanan Sistem Informasi Wisata Di Taman Nasional Bali Barat
Sistem informasi wisata merupakan salah satu pelayanan yang dibutuhkan oleh pengunjung untuk menunjang kegiatan wisatanya. Penelitian dilakukan untuk menilai tingkat kepuasan pengunjung terhadap pelayanan sistem informasi wisata di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), yang dikelola oleh pihak Balai TNBB dan PT. Trimbawan Swastama Sejati (PT. TSS) sebagai pemegang ijin pengusahaan pariwisata alam (IPPA). Metode yang digunakan adalah wawancara. Analisis data menggunakan customer satisfaction index (CSI). Hasil penelitian di lokasi yang dikelola Balai TNBB menunjukkan nilai CSI pengunjung domestik sebesar 0.65 dan pengunjung mancanegara sebesar 0.63, artinya pengunjung cukup puas terhadap pelayanan sistem informasi wisata yang dikelola Balai TNBB. Sementara itu, pada lokasi yang dikelola PT. TSS, nilai CSI pengunjung domestik sebesar 0.87 dan pengunjung mancanegara sebesar 0.85, artinya pengunjung sangat puas terhadap pelayanan sistem informasi wisata PT. TSS. Ketidakpuasan pengunjung disebabkan oleh faktor-faktor yang perlu dioptimalkan, yaitu pengisian website secara kontinyu dan periodik terhadap perkembangan wisata
Pengembangan Produk Wisata di Kawasan Wisata Terpadu Tamansari Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
Tamansari Sub-district with its beautiful landscape combined with high diversity of arts, cultural, religious potentials, and historical uniqueness, as well as high distinctiveness of social community were very prospective for the development of tourism. Tourism in Tamansari Sub-district could be developed through packaging of tourism potential into tourism products with high commercial value. Bogor district’s government had declared Tamansari as Tamansari Integrated Tourism Area. However, there were limited number of products which had been developed. Therefore, it was necessary to carry out research on the development of tourism product in Tamansari Integrated Tourism Area. This study was carried out on August – September 2012, in Tamansari Integrated Tourism Area, Tamansari Sub-district, Bogor District. Data was collected through field observation, literature study, interviews, and questionnaires. Natural potentials of Tamansari Sub-district covered hilly landscape at the foot of Mount Salak on the height of 700 m above sea level that the area had cool and fresh air, and beautiful mountain scenery, Curug Nangka, Setu Tamansari. Sukamantri Camping Ground, and there were agricultural fields that produced excellent commodities. Arts and cultural potentials consisted of many different types of local cultural arts, historical heritage, and traditional events. Religious potentials included Pura Parahyangan Agung Jagatkharta and Indonesian Nichiren Syoshu temple. In addition, the region was also the central of ornamental plants cultivation, as well as shoes and sandals home industries which played the major business sector in the community. Tourism product development was done according to potentions and tourism product aready exist, management planning, and visitor request. The recommended tourism products included development product in the form activities, facilities, and goods. Product development in the form activities including the development tourism programs such as Tamansari Conservation Tourism, Tamansari Industrial Education Tours, Mulih ka Lembur Tamansari, Tamansari Religion-Culture Tourism. Product development in the form facilities such as Warsita construction, provision of special vehicles tourism, accommodation, plant demonstration plots and a souvenirs production house for conservation tourism and aromatic plants demonstration plots. Product development in the form of goods to diversify souvenirs
Modal Sosial Masyarakat Sekitar Suaka Margasatwa Cikepuh dalam Pengembangan Ekowisata
Suaka Margasatwa Cikepuh memiliki daya tarik ekowisata yang unik, salah satunya
yakni sebagai habitat bertelurnya penyu hijau (Chelonia mydas) yang menarik untuk
dikembangkan. Pengembangan ekowisata harus mendapat dukungan dari masyarakat lokal
dengan modal sosialnya, sebagai modal utama untuk pengembangan ekowisata, Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur modal sosial serta mengukur hubungan
unsur-unsur modal sosial terhadap modal sosial. Unsur modal sosial yang ada di Desa
Pangumbahan terdiri dari: kepercayaan terhadap sesama warga yang masih tinggi;
partisipasi dalam suatu jaringan dalam bentuk kerja bakti dan tradisi Ngaruag; ketaatan
tinggi terhadap norma; tindakan proaktif yang secara umum bersifat sedang, serta;
kepedulian terhadap sesama tinggi dan kepedulian terhadap lingkungan cukup tinggi
namun motivasi untuk menjaga lingkungan sebagian bermotif ekonomi. Unsur modal
sosial yang paling tinggi di Desa Pangumbahan yaitu unsur jejaring sosial dengan nilai TValue
sebesar 4.19 dan koefisien pengaruh sebesar 0.79. hal ini berarti unsur jejaring sosial
merupakan unsur modal sosial yang paling berpengaruh terhadap modal sosial
- …
