1,720,971 research outputs found
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN MATEMATIKA
Pendidikan manusia Indonesi harus terarah ke tujuan tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Negara Republik Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Karakter yang dimunculkan dalam proses pendidikan formal di Sekolah memuat 18 nilai karakter dirumuskan oleh Kememendiknas yang mengarah ke pembentukan anak yang cerdas. Pendidik di Sekolah harus mendidik peserta didik menjadi anak cerdas. Anak cerdas tentu pintar, tetapi anak pintar belun tentu cerdas. Cerdas berhubungan dengan karakter yang selalu berbuat kebaikan. Kenyataannya, orang yang sering berbuat kejahatan (pencuri/koropsi, narkoba) merupakan orang-orang pintar. Matematika mempunyai karakteristik atau ciri khusus sebagai ilmu yang pentig dalam pendidikan nilai, sebagai landasan pendidikan karakter yaitu (1) matematika disusun secra deduktif-aksiomatik (2) dijiwai oleh kesepakatan-kesepakatan, (3) anti Kontradiksi, (4) matematika memiliki banyak analogi, (5) matematika dapat sendiri dan membantu bidang lain, (6) matematika memiliki objek abstrak, dan (7) matematika memiliki semesta pembicaraan. Ilmu pengetahuan dan kepastian sebagai hasil kajian keingintahuan ketidakpastian dan keraguan yang tidak disertai nilai kemanusiaan dengan semangat cinta kasih akan menghancurkan dunia. Dengan berpegang pada karakteristik matematika yang merupakan ciri matematika, kita melaksanakan nilai-nilai kehidupan dengan: (1) berfikir deduktif dari kebenaran pangkal berdasarkan ajaran agama yang dianut, dan berlandaskan pancasila sebagai dasar Negara dan juga sebagai landasan fiosofi pendidikan (matematika) di Indonesia. (2) dijiwai oleh kesepakatan-kesepakatan yang disepakati bersama sebagai norma aturan yang harus ditaati dan dijalankan dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. (3) pemahaman yang anti kontaradiksi yang dapat diterima oleh semua pihak, yang tidak mengorbankan diri sendiri, terutama jangan mengorbankan orang lain. (4) analogi-analogi yang serupa dapat ditiru, tetapi tidak merusak atau mengorbankan aturan dan norma kehidupan dan masyarakat lokal. (5) berkarya sendiri dan membantu bidang lain. Pada dasarnya manusia hidup selalu berada dalam dua situasi yaitu dalam situasi sendiri yang tidak mau diganggu oleh orang lain, dalam situasi pribadi sebagai makhluk individu, dan dalam situasi bersama dengan orang lain sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupan tentu saling membutuhkan. (6) menetapkan semesta pembicaraan yang menunjukkan adanya lingkup pembicaraan, lingkup kajian, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, karena sering terjadi ada campur tangan seseorang tertentu dalam wilayah orang lain yang tidak dalam lingkungannya dan tidak tahu permasalahannya, mencamprui pembicaraan orang lain, tetapi tidak tahu arah pembicaraan, karena masuk pada semesta pembicaraan orang lain
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PERSEORANGAN DAN KELOMPOK KECIL (PPKK) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN DI KELAS VII B7 SMP NEGERI 14 PALU
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang penerapan model Pembelajaran Perseorangan dan Kelompok Kecil (PPKK) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas VII B7 SMP Negeri 14 Palu. Rancangan penelitian mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VII B7 SMP Negeri 14 Palu sebanyak 27 orang serta informan yang dipilih pada penelitian ini sebanyak 3 orang dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Data penelitian ini dikumpulkan melalui lembar observasi, hasil wawancara, catatan lapangan, dan hasil tes akhir tindakan siklus I dan II. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran perseorangan dan kelompok kecil (PPKK) dapat meningkatkan hasil belajar yang tahapannya yaitu : 1) pembukaan/pengantar, 2) informasi demonstrasi dan aktivitas perseorangan, 3) informasi dan aktivitas kelompok, 4) kuis evaluasi, 5) penutup.
Kata Kunci : Model PPKK, hasil belajar, penjumlahan dan pengurangan pecahan
Abstract : The aim of this research is to describe the application of individual and small group learning model (PPKK) that can improve student learning outcomes to solve addition and subtraction of fraction at VII B7 grade of SMP NEGERI 14 PALU. The research design refers to Kemmis and Mc taggart’s research design. This study was conduct into two cycles. The subjects of the study were all students VII B7 grade of SMP NEGERI 14 PALU as many as 27 people and informants selected in this study as many as 3 people with different levels of ability. The data of this study were collected through observation sheets, interviews, field notes, and end of cycle test results I and II. The result of this research indicate that the application of individual and small group learning model (PPKK) can improve learning outcomes, that is: (1) opening/introduction, (2) demonstrations and activities of individual information, (3) information and group activities, (4) evaluation, (5) closing.
Key Word : Individual and small Group Learning Model, learning outcomes, addition and subtraction of fraction
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN STRATEGI POLYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERSEGI PANJANG DI KELAS VII I SMP NEGERI 3 PALU
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deksripsi penerapan model pembelajaran langsung dengan strategi Polya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita persegi panjang di kelas VII I SMP Negeri 3 Palu. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII I SMP Negeri 3 Palu yang berjumlah 40 orang dan dipilih 3 orang siswa sebagai informan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan desain penelitian yang mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini terdiri atas dua siklus, setiap siklusnya melalui tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil persentase ketuntasan belajar klasikal siklus I adalah 81,08%, dan mengalami peningkatan pada siklus II, dengan persentase ketuntasan belajar klasikal adalah 88,57%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa menerapkan model pembelajaran langsung dengan strategi Polya yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita persegi panjang di kelas VII I SMP Negeri 3 Palu melalui tahap-tahap yaitu: 1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, guru membuka pembelajaran, mempersiapkan siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi dan mengecek pengetahuan awal siswa; 2) presentasi dan demontrasi, guru menyajikan contoh soal cerita persegi panjang dan menjelaskan penyelesaianya menggunakan strategi Polya; 3) membimbing pelatihan, siswa menyelesaikan soal cerita persegi panjang dengan menggunakan strategi Polya yaitu memahami masalah, membuat perencanaan, melaksanakan perencanaan dan melihat kembali pada solusi yang lengkap; 4) mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik, guru mengajak siswa mendiskusikan jawaban yang diperoleh dan memberikan umpan balik; dan 5) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan, siswa menyelesaikan soal latihan mandiri.
Kata Kunci: Model pembelajaran langsung, hasil belajar siswa, persegi panjang.
Abstract: The aim of this research was to obtain the description of applying the direct learning model with Polya strategy to improve students learning outcomes in solving word problems of rectangular in class VII I SMP Negeri 3 Palu. The subjects of this study were VII I grade students of SMP Negeri 3 Palu, amounting to 40 students and choose 3 students as the informant. This research is a classroom action research (CAR). As the research design refers to the design of the research of models Kemmis and Mc. Taggart. This research was conducted in two cycles, each cycle through the stages that is planning, action, observation and reflection. The research results showed that results percentage of classical learning completeness cycle 1 is 81,08%. And an increase in cycle 2, with Percentage of classical learning completeness is 88,57%. Based on the research results can concluded that applying the direct learning model with Polya strategy to improve students learning outcomes in solving word problems of rectangular in class VII I SMP Negeri 3 Palu phases following these steps, that is: (1) outlines the objectives and prepare students, teachers open learning, prepare students, delivering the learning objectives, provide motivation and checking students prior knowledge; (2) presentation and demonstration, teacher presents examples word problems of rectangular and explaining its complection with Polya strategy; (3) guiding the training, students complete word problems of rectangular with Polya strategi that is understanding the problem, make a plan, implement planning and checking back to a complete solution; (4) checking understanding and provide feedback, teachers invite students to discuss answers obtained and provide feedback; and (5) provide opportunities for advanced training and implementation, students the exercises self.
Keywords: Direct learning Model, learning outcome, rectanguler
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) PADA MATERI LUAS PERMUKAAN SERTA VOLUME KUBUS DAN BALOK DI KELAS VIII SWADAYA PALU
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tentang Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi luas permukaan serta volume kubus dan balok di kelas VIII SMP Swadaya Palu. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dan desainnya menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart, dengan tahapannya yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjeknya adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 20 orang siswa. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil tes akhir tindakan, diperoleh presentase ketuntasan klasikal siswa pada siklus I adalah 33,33% dan presentase ketuntasan klasikal siswa paa siklus II adalah 73,68%, sedangkan hasil observasi guru dan siswa pada siklus I berada pada kategori baik dan pada siklus II berada pada kategori sangat baik. Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi luas permukaan serta volume kubus dan balok di kelas VIII SMP Swadaya Palu, dengan mengikuti langkah-langkah (1) fase Think, (2) fase Pair dan (3) fase Share.
 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI FUNGSI INVERS DI KELAS X MIA 1 SMA LABSCHOOL UNTAD PALU
: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang Penerapan model pembelajaran tipe Two Stay Two Stray (TSTS) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Fungsi Invers di kelas X MIA 1 SMA Labschool UNTAD Palu. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 1 SMA Labschool UNTAD Palu yang berjumlah 20 orang siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang mengikuti desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan dan observasi (3) refleksi. Penelitian ini awalnya dirancang untuk dilaksanakan secara offline namun pada pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan secara online melalui ZOOM karena pendemi Covid-19. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Fungsi Invers di kelas X MIA 1 SMA Labschool UNTAD Palu mengikuti fase yaitu: 1) Persiapan, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan apersepsi dan memotivasi siswa, 2) Presentasi guru, guru menyajikan materi secara singkat, 3) Kegiatan kelompok, 2 orang siswa dari tiap kelompok bertamu ke kelompok lain dan 2 siswa lainnya berperan sebagai tuan rumah, tamu dan tuan rumah saling menjelaskan hasil kelompok mareka, 4) Formalisasi, siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan kelompok lain menanggapi, 5) Evaluasi kelompok dan penghargaan, siswa menyimpulkan materi serta guru memberikan penghargaan kepada kelompok
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII E SMPN 18 PALU DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINIER SATU VARIABEL
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII E SMPN 18 Palu dalam Menyelesaikan Soal Cerita Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart, yakni perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel di kelas VII E SMPN 18 Palu yaitu dengan persentase ketuntasan klasikal siswa sebesar 83,33 %. Adapun fase-fase yang digunakan sebagai berikut: (1) fase menyampaikan tujuan dan memotivasi, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran secara lisan, memberikan motivasi dan memberikan apersepsi, (2) fase menyajikan informasi, peneliti menjelaskan model pembelajaran yang diterapkan misalnya: aktivitas yang dilakukan pada setiap fase dan peralatan yang digunakan dalam model pembelajaran tersebut (3) fase penomoran, siswa dikelompokkan dalam 6 kelompok belajar dan setiap anggota kelompok diberi nomor yang berbeda yaitu 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. (4) fase pengajuan pertanyaan, guru membagikan materi pembelajaran dan LKS pada masing-masing kelompok. (5) fase berpikir bersama, siswa diminta untuk mengerjakan LKS dan berdiskusi bersama untuk memperoleh jawaban yang tepat. Kegiatan diskusi yang berlangsung dikontrol dan diberikan bantuan yang terbatas bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam kelompoknya. (6) fase pemberian jawaban atau evaluasi siswa yang nomornya diperoleh dari hasil undian mengacungkan tangan dan maju mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan (7) fase memberikan penghargaan, siswa di arahkan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada semua kelompok serta berdoa.
Abstract: The purpose of this research was to obtain a description that applying CooperativeLearning Type NHT to improved the learning outcomes of Class VII E Students of 18 Palu Middle School in Resolving the Problem of Equations and Linear Variables in One Variable. This research is classroom action research which refers to Kemmis and Mc. Taggart research design that including are planning, doing, observation and reflection. The results showed that the application of cooperative learning model type NHT to improved the learning outcomes of class VII E students of 18 Palu Middle School by the percentage of classical completeness of students is 83.33%. The phases used are as follows: (1) the phase of delivering goals and motivating, the researcher conveys the learning objectives verbally, gives motivation and gives apperception, (2) the phase of presenting information, the researcher explains the learning model applied for example: activities carried out in each phase and equipment used in the learning model (3) numbering phase, students are grouped into 6 study groups and each group member is given a different number namely 1, 2, 3, 4, 5 and 6. (4) the phase of asking questions, the teacher distributes learning material and worksheets to each each group. (5) shared thinking phase, students are asked to work on LKS and discuss together to get the right answers. The discussion activities that took place were controlled and given limited assistance to students who experienced difficulties in their groups. (6) the phase of giving an answer or evaluation of a student whose number is obtained from the results of a lottery hand show and forward presenting the results of his group work and (7) the phase of giving awards, students are directed to giving applause and praise to all groups and pray and answer.Keywords: Cooperative Tipe NHT; Learning outcomes; One Variable Linear Equations and Inequalities
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XII SMA NEGERI I BALAESANG TANJUNG PADA MATERI PELUANG
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh deskriptif tentang peningkaan hasil belajar siswa melalui model Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII SMA Negeri I Balaesang Tanjung pada materi peluang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Desain penelitian yang mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggart, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pada penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh bahwa hasil belajar siswa kelas XII SMA Negeri I Balaesang Tanjung mengalami peningkatan yang ditunjukkan dari persentase ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 62% sedangkan persentase ketuntasan belajar klasikal siklus II sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II yang telah berhasil mencapai persentase ketuntasan belajar klasikal lebih dari atau sama dengan 70%. Hasil observasi guru pada siklus I berkategori baik dan siklus II berkategori sangat baik, dan hasil observasi siswa juga berkategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pada aktivitas guru dan siswa dari siklus I ke siklus II. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII SMA Negeri I Balaesang Tanjung pada materi peluang, dengan mengikuti tahapan yaitu: (1) Orientasi siswa pada masalah, (2) Mengorganisasikan siswa, (3) Membimbing penyelidikan individu dan kelompok, (4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PAIR CHECK DAN KEMAMPUAN AWAL PADA HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS XI MIA MAN 1 PALU
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Memperoleh pengaruh model pembelajaran pair check terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI MIA MAN 1 Palu, (2) Memperoleh perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi yang diajar dengan model pembelajaran pair check dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung, (3) Memperoleh perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan awal rendah yang diajar dengan model pembelajaran pair check dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, dengan rancangan penelitian menggunakan desain faktorial 2×2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA MAN 1 Palu yang terdaftar pada tahun ajaran 2017/2018, yang tersebar dalam empat kelas sebanyak 156 siswa. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling, kelas yang menjadi sampel penelitian adalah kelas XI MIA 1 dan XI MIA 3. Hasil perhitungan dengan ANAVA satu jalur pada taraf signifikan 0,05: (1) Hipotesis 1 diperoleh Fhitung = 763,44 dan Ftabel = 3,96, karena nilai Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran pair check terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI MIA MAN 1 Palu. (2) Hipotesis 2 diperoleh Fhitung = 5,02 dan Ftabel = 4,18, karena nilai Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi yang diajar dengan model pembelajaran pair check dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. (3) Hipotesis 3 diperoleh Fhitung = 1,095 dan Ftabel = 4,18, karena nilai Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki kemampuan awal rendah yang diajar dengan model pembelajaran pair check dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung.
Kata Kunci: Model pembelajaran pair check; model pembelajaran langsung; kemampuan awal; hasil belajar matematika.
Abstract: This research aims to : (1) Gain influence of pair check learning model to the results of learning mathematics class XI MIA MAN 1 Palu. (2) Gained a difference learning outcomes between students with high initial ability taught by the pair check learning model and who were taught with direct learning model. (3) Gained a difference learning outcomes between students with low initial ability taught by the pair check learning model and who were taught with direct learning model. This research is a quasi experimental research, with the research design using factorial design 2×2. The population in this study were all students of class XI MIA MAN 1 Palu registered in academic year 2017/2018, spread in four classes. The sampling technique is done by simple random sampling, the class which is the research sample is class XI MIA 1 and XI MIA 3. Result of calculation with ANAVA one lane at significant level of 0,05: (1) Hypothesis 1 obtained Farithmetic = 763,44 and Ftable = 3,96, because the value of Farithmetic>Ftable, then H0 rejected, so it can be concluded that there is influence of pair check learning model to the results of learning mathematics class XI MIA MAN 1 Palu. (2) Hypothesis 2 obtained Farithmetic = 5,02 and Ftable = 4,18, because the value of Farithmetic>Ftable, then H0 rejected, so it can be concluded there is a difference in learning outcomes between students who have high initial ability taught by a pair check learning model and who are taught by direct learning model. (3) Hypothesis 3 obtained Farithmetic = 1,095 and Ftable = 4,18, because the value of Farithmetic<Ftable, then H0 accepted, so it can be concluded there is a difference in learning outcomes between students who have low initial ability taught by a pair check learning model and who are taught by direct learning model.
Keywords: Pair check learning model; direct learning model; initial ability; result of learning mathematics
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PERSEORANGAN DAN KELOMPOK KECIL (PPKK) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model PPKK untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIB SMP Negeri 20 Palu pada materi hubungan antar sudut. Pada model PPKK ada aktivitas perseorangan dan aktivitas kelompok yang dilaksanakan dalam satu pertemuan. Model PPKK dilaksanakan dalam 5 fase. Penelitian ini dilakukandalam dua siklus, setiap siklusnya melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil observasi aktivitas guru siklus I yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan baik, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan sangat baik. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan baik, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu memperoleh kriteria taraf keberhasilan sangat baik. Persentase ketuntasan belajar klasikal siklus I yaitu 61,90% dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu sebesar 85,71%. Dari hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan penerapan model PPKK dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIB SMP Negeri 20 Palu pada materi hubungan antar sudut.
Kata kunci: Model PPKK, Prestasi belajar, hubungan antar sudut.
Abstract: This purpose of this study was to describe the application of the PPKK model to improve student achievement in class VIIB SMP Negeri 20 Palu on the relationship between angles, In the PPKK model there are individual activities and group activities carried out in one meeting. The PPKK model is carried out in 5 phases. This research was conducted in two cycles, each cycle through four stages, namely planning, action, observation and reflection. The results of observations of the activities of teacher in cycle I are obtaining good success criteria, and have increased in cycle II, namely obtaining very good success criteria. The results of observations of the activities of students in cycle I are obtaining good success criteria, and have increased in cycle II, namely obtaining very good success criteria. The percentage of classical learning completeness in cycle I is 61,90% and has increased in cycle II by 85,71%. From the results of the research, it can be concluded that the application of the PPKK model can improve students’ learning achievement in the VIIB class of SMP Negeri 20 Palu on the relationship between angles.
Keywords: PPKK Model, learning achievement, relationship between angles.
 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BENTUK ALJABAR DI KELAS VII A SMP LABSCHOOL UNTAD PALU
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VII A SMP Labschool UNTAD Palu pada materi penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Desain penelitian ini mengacu pada desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dengan mengikuti langkah-langkah, yaitu: (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu dan kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Kata Kunci: Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning); hasil belajar; penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar.
Abstract: This research aims to obtain a description about application of problem based learning model that can improve students’ learning outcomes on addition and substraction of algebraic in class VII A SMP Labschool UNTAD Palu. The type of this research is classroom action research. The design of this research referred to Kemmis and Mc. Teggart’s design. This research was conducted in two cycles. The results of this research indicating that through the application of problem based learning (PBL) model that can improve students’ learning outcomes, by following the steps, as follow: (1) orientation the students at the problem, (2) organize the students to learn, (3) assist in the investigation of individual and group, (4) develop and present work result and, (5) analyze and evaluate problem-solving process.
Key Words: Problem based learning (PBL) model; learning results; addition and substraction of algebraic expression
- …
