8 research outputs found

    Optimalisasi Manajemen Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur : Laporan Aksi Perubahan Kinerja Organisasi

    No full text
    Terwujudnya suatu organisasi yang handal diperlukan seorang Pejabat Administrator yang memahami dan memiliki tanggungjawab terhadap keberlangsungan peningkatan kinerja melalui berbagai karya dan kerja. Cepat atau lambatnya peningkatan kinerja organisasi akan ditentukan oleh kualitas manajemen kinerja yang dilakukan oleh seorang Pejabat Administrator. Untuk dapat membentuk sosok Pejabat Administrator dengan kinerja yang diinginkan diperlukan sebuah Pelatihan Kepemimpinan Administrator (KPA) yang memungkinkan Pejabat tersebut mampu menerapkan kompetensi yang telah dimiliki. Dalam Penyelenggaraan KPA ini dituntu untuk dapat merancang suatu Aksi Perubahan dan Memimpin Perubahan tersebut sampai memberikan hasil nyata. Aksi Perubahan yang dilakukan untuk memenuhi tuntutan KPA adalah Optimalisasi Manajemen Tanam Jagung Panen Sapi (TPJS). Tanam Jagung Panen Sapi (TPJS) merupakan sebuah tagline Manajemen Usahatani untuk memberi semangat kepada petani Nusa Tenggara Timur (NTT) agar dengan menanam jagung bisa memperoleh ternak sapi dalam jangka waktu yang sangat cepat. Pengelolaan Manajemen TPJS adalah petani menanam jagung dan memproduksi pipilan jagung kering, selanjutnya hasil jagung yang diperoleh sebagian dijual setelah menyisihkan kebutuhan untuk makan sehari-hari atau keamanan pangan (food security) dan hasil penjualan jagung tersebut sebagian dibelikan ternak sapi dan sisanya ditabung dalam buku tabungan.Sebelum adanya TPJS, masyarakat NTT umumnya menanam jagung dengan menerapkan teknologi sederhana dengan luasan yang kecil dan hasilnya hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Semenjak diterapkannya model TPJS dengan ketentuan dan syarat yang harus diikuti, maka sampai saat ini sudah memberikan perubahan besar bagi masyarakat tani. Produksi jagung yang tadinya 700 kg/ha, memberi perubahan produksi menjadi rata-rata 1.554 kg/ha. Rata-rata yang menggunakan teknologi sistem tanam double track adalah 94% sisanya 6% adalah sistem baris. Dengan produksi jagung yang tinggi bisa dijual dan sebagian disimpan untuk dimakan, juga bisa memiliki sapi sendiri dan memiliki buku tabungan di bank sebagai bukti nyata dari usahatani TPJS. Pemanfaatan tongkol jagung sebagai pakan ternak sapi dapat memberi pertambahan bobot badan harian sebesar 0.3-0.5 kghari. Limbah kotoran sapi dapat dikelola menjadi pupuk kandang dan baik sekali bagi tanaman jagung. Pada intinya semua bagian dari hasil tanaman dan ternak sapi secara tidak langsung sudah membentuk model Integrasi Farming System (IFS) dan dapat memberikan manfaat bagi Petani NTT.vi,68p.:ills.; 29 cm (+lampiran

    Review on the Performances of Cihateup Duck (Anas platyrhynchos Javanica) as Genetic Resource of Local Poultry in Indonesia

    Get PDF
    Cihateup duck is one of the local Indonesian poultry genetic resources originated from West Java. These ducks are raised in Tasikmalaya and its surrounding area. Cihateup duck raised as layer or meat type duck is potential to provide business opportunities for people in West Java. For future development of Cihateup duck, some important potential characteristics of Cihateup ducks are required. This paper describes the phenotype performance, rearing management of Cihateup ducks and its genetic relationship with other ducks. Cihateup ducks have longer neck, wing, femur and tibia compared with other Indonesian ducks. Egg production (200 egg/head/year) is lower than Alabio and Mojosari ducks. The quality of meat (taste and flavour) is less preferred by consumers because of its odor. Genetic relationship between Cihateup duck with local ducks in Java is closer than Alabio ducks from South Kalimantan. Key words: Cihateup duck, performance, genetic resourc

    The Characteristics of Meat Duck, Problems and Prevention of Off Flavor Due to Lipid Oxidation

    Get PDF
    Source of poultry meat in Indonesia is currently dominated by chicken while local resources such as ducks have the potential to grow and be used as an alternative meat producer. Duck contribution towards the provision of a relatively small meat of 2.29%, compared with free-range chicken to reachs 20.33%. Sources of duck meat in Indonesia comes from local duck, and culled female ducks. Acceptance of most local duck meat is still relatively low, although in some areas local duck dishes are excellent. Meat ducks are generally less desirable, because taste and smell is different from chicken. Because consumers are not accustomed to the taste of typical meat, especially those that give the sensation of irregularities off meat – flavor or smell fishy/ rancid. Similarly, the color of duck meat is darker than that of chicken meat, high fat content of about 2.7 to 6.8%, which also influences consumer preferences. The high fat content, especially acid-unsaturated fatty acids in meat duck gives a tendency to produce off – flavors. Efforts to increase the consumption of duck meat should be based on the cause of the lack of acceptance by consumers. The smell of rancid meat duck is the most dominant cause of which is not liked by consumers. Efforts to reduce the off flavor of duck meat could be by adding antioxidant in feed stuffs. Key words: Duck meat, off-flavor, lipid oxidation, antioxidant

    Pendugaan Beberapa Bentuk Persilangan antara Itik Alabio dengan Itik Cihateup melalui Aplikasi Program Gen Up

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menduga beberapa bentuk persilangan antara itik Alabio dan Cihateup sebagai itik potong. Persilangan kedua jenis itik ini dilakukan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemui pada tetua murni, sehingga mendapatkan kelompok itik yang produktif di masa depan dan diharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam program pemuliaan. Penelitian ini menggunakan itik jantan masing-masing jenis 30 ekor yakni itik AA (Alabio >< Alabio). Pemanfaatan heterosis dalam program persilangan antara kelompok-kelompok itik lokal dapat memberikan alternatif jangka pendek dalam meningkatkan produktivitas itik. Program persilangan dilakukan untuk memperbaiki sifat-sifat kuantitatif dan kualitatif ternak yang bersifat ekonomis. Prediksi pendugaan dari setiap persilangan dapat dilakukan dengan mengetahui parameter-parameter seperti direct additive effect, maternal additive effect, direct dominance effect dan maternal dominance effect melalui program Gen Up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa itik persilangan CA unggul untuk sifat-sifat performans antara lain bobot hidup akhir memiliki tingkat heterosis 7,06%; pertambahan bobot hidup (PBH) sebesar 7,32%; bobot karkas tingkat heterosis 9,24%, dibandingkan dengan itik persilangan AC. Pada prediksi beberapa bentuk persilangan menunjukkan bahwa persilangan backcross antara itik betina CA dengan jantan Cihateup lebih baik. Apabila persilangan untuk tujuan membentuk kelompok itik sintetik, maka persilangan yang baik adalah dengan melakukan persilangan sintetik seimbang

    PENGGUNAAN BELUNTAS, VITAMIN C DAN E SEBAGAI ANTIOKSIDAN UNTUK MENURUNKAN OFF-ODOR (25%) DAGING ITIK ALABIO DAN CITAHEUP

    Get PDF
    Meat consumption of Indonesian society is not limited to the beef and chicken. Meat ducks are now starting to become popular and food products that are brilliant prospects. Sources of duck meat usually from male and female ducks dismissed that as a result of low-quality meat. The purpose of this study is looking at providing beluntas, vitamin c and e on the effectiveness of local men ducks. In the present study utilized two strain Cihateup male duck and Alabio male duck, each of which consists of three repeats with four treatment of forages, namely: 1. KO (control), 2. Beluntas commercial feed + 0.5% (KB), 3. Beluntas commercial feed + 0.5% + vitamint c 250 mg/kg (KBC), 4. Beluntas commercial feed + 0.5% + vitamint e 400 IU/kg/dose (KBE). Design made of CRD. The results showed that the feed treatment (KB, KBC, KBE) has no effect on feed intake, feed conversion, final weight, body weight gain, weight cut, the percentage of carcasses and carcass parts percentage Alabio duck, but duck feed Cihateup treatment (KBE) significant effect on final weight, percentage body weight gain and carcass parts of the chest compared with treatment C, KB and KBC. The use of leaf starch levels beluntas 0.5% yield better feed conversion. Wheat leaf beluntas as much as 0.5% + Vitamint E in the diet, is able to maintain good performance with the duck

    Upaya Peningkatan Populasi Ternak Sapi Potong Melalui Program Upsus Siwab di Kabupaten Buru Provinsi Maluku

    No full text
    ABSTRAKUpaya peningkatan populasi ternak sapi potong dilakukan pemerintah Indonesia diseluruh provinsi dan kabupaten yang menjadi sentra ternak sapi dan kerbau guna mencapai peningkatan kecukupan daging dalam negeri di tahun 2026 nanti. Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) menjadi tolak ukur keberhasilan program strategis Kementerian Pertanian dengan melibatkan peternak dan petugas di lapangan. Provinsi Maluku, Khusus Kabupaten Buru merupakan salah satu kabupaten yang menjadi sentra ternak sapi di Maluku dengan populasi yang terus meningkat tiap tahunnya. Metodologi yang digunakan adalah metode survei dan wawancara. Data primer dan sekunder dianalisis secara statistic sederhana (deskriptif). Hasil yang diperoleh menunjukkan rata-rata keberhasilan pelaksanaan selama 3 tahun periode 2018-2020 mencapai 113,8% untuk pelaksanaan IB,  Pemeriksaan Kebuntingan (PKb) mencapai 153.73% dan kelahiran anak sapi mencapai 146.77%, semua diatas 100 persen. Hal ini menggambarkan bahwa kabupaten Buru dalam kondisi keterbatasan sarana prasarana dan SDM mampu menunjukkan kemampuannya dalam melaksanakan program UPSUS SIWAB dengan baik dan berhasil. Hal yang sama dapat dilihat dari peningkatan populasi sapi sejak tahun 2018 sampai tahun 2021.Kata kunci: Kebuntingan, Kelahiran, Inseminasi Buatan, Upaya Khusus, Siwa

    A Review: Nutritional and Bioactive Potential of Maluku Endemic Seaweed “Porphyra sp.” as Functional Feed Ingredient for Poultry

    Get PDF
    One type of seaweed found on the Coast of Ambon Island is Porphyra sp., a red algae species from the Rhodophyta phylum utilized by the local community as a “sea vegetable” due to its beneficial nutritional and bioactive compounds, consisting of 24.6-40.0% protein, 0.2-2.8% fat, and 35.0-49.8% crude fiber. In an effort to address the challenges of poultry health and performance in the modern era, functional feed supplements have emerged as a promising solution. Functional feed supplements are feed additives that not only provide basic nutrition but also provide specific health benefits or improve certain physiological functions in livestock. Porphyra sp. has various names, according to its country of origin, including purple laver (England, United States, and Canada), karengo (New Zealand), nori (Japan), kim (Korea), and zicai (China). This review aims to synthesize various scientific literatures on the nutritional composition and bioactive compounds of Porphyra sp. endemic to Maluku and analyze its potential as a functional feed supplement for poultry. Scientific evidence shows that Porphyra sp. is rich in protein, polysaccharides, minerals, vitamins, and antioxidants, which can improve feed efficiency, growth performance, and poultry product quality. Furthermore, its bioactive compounds can modulate the immune response and maintain digestive tract integrity. Porphyra sp. has the potential to become a functional supplement in environmentally friendly poultry feed. While promising, challenges related to production availability require attention, as it has not yet been widely cultivated. Further research on optimal dosage and long-term impacts on poultry is urgently needed

    Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Terhadap Daya Tetas Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan telur ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) terhadap daya tetas. Hasil pengamatan menggunakan analisis rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Kedelapan perlakuan dibedakan atas watu penyimpanan yaitu: L1: Lama Penyimpanan 1 hari, L2: Lama Penyimpanan 2 hari, P3: Lama Penyimpanan 3 hari, L4: Lama Penyimpanan 4 hari, L5:  Lama Penyimpanan 5 hari, L6: Lama Penyimpanan 6 hari, L7: Lama Penyimpanan 7 hari, dan L8: Lama Penyimpanan 8 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama simpan telur ayam KUB untuk masing-masing perlakuan adalah L1 (70.77 ± 25.63 %), L2 (73.77 ± 10.97 %), L3 (76.83 ± 7.18 %), L4 (72.06 ± 11.34 %), L5 (55.66 ± 8.24 %), L6 (49.42 ± 4.26 %), L7 (32.94 ± 11.21 %), dan L8 (17.95 ± 1.81 %). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa lama penyimpanan telur terhadap daya tetas telur berpengaruh nyata (P&lt;0,05). Jadi, lama penyimpanan telur ayam KUB yang tepat adalah antara L1 sampai L4 atau lama simpan 1 – 4 hari. Hal ini ada kecenderungan semakin lama telur tetas disimpan maka akan menurunkan persentase daya tetas telur
    corecore