1,721,027 research outputs found
Biologi Reproduksi Ikan Kurisi (Nemipterus bathybius Snyder, 1911) di Selat Sunda
Ikan kurisi merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting.
Permintaan pasar ikan kurisi yang semakin meningkat menyebabkan tingginya
tingkat penangkapan sehingga dapat mengancam sumberdaya ikan kurisi. Aspek
reproduksi dapat dijadikan sebagai acuan untuk membuat peraturan maupun
pengendalian terhadap penangkapan ikan kurisi. Penelitian ini bertujuan mengkaji
aspek biologi reproduksi ikan kurisi di PPP Labuan, Banten. Contoh ikan kurisi
diambil pada bulan Mei hingga Oktober 2018. Ikan contoh diambil menggunakan
metode penarikan contoh acak sederhana. Panjang maksimum ikan kurisi betina
lebih panjang dibandingkan dengan jantan. Pola pertumbuhan ikan kurisi adalah
allometrik negatif. Ikan kurisi memiliki bentuk tubuh yang pipih. Jumlah ikan
contoh selama pengamatan didominasi betina. Ikan kurisi didominasi oleh ikan
yang masih dalam masa pertumbuhan (belum matang gonad). Pemijahan ikan kurisi
diduga terjadi sepanjang waktu penelitian dengan puncak pemijahan pada bulan
Juni dan Agustus. Potensi reproduksi ikan kurisi tergolong tinggi dengan rata-rata
fekunditas 10.713 butir telur. Pola pemijahan ikan kurisi adalah partial spawner
Biologi Reproduksi Udang Mantis Harpiosquilla raphidea di Perairan Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi
Mantis shrimp Harpiosquilla raphidea is one type of commodity fishery is a mainstay in some areas, one of Kuala Tungkal, Jabung Tanjung Barat, Jambi. This study aims to examine some aspects of reproductive biology of mantis shrimp, covering the length-weight relationship, morphology of reproductive organs, sex ratio, stage of gonad development, the first time the size of mature gonads, and gonad somato index (GSI). Intake of shrimp sample was performed on 19 to 23 June 2010 in Kuala Tungkal muddy coastal waters, Jabung Tanjung Barat, Jambi with purposive sampling method by dividing the site into 3 stations that are determined based on the level of fishing intensity mantis shrimp. Male genitals called petasma (penes) is located at the base of the foot path (pereiopod) third elongated shape and contained a small bulge on both sides of the foot path, while the female genitals (thelicum) is located in the middle of the foot first way is flat. T-test analysis results show mantis shrimp H. raphidea in Kuala Tungkal have isometric growth pattern. Sex ratio shows a comparison of male: female of 1:1,3 (field) and 1:1,1 (shelter). Observation of stage of gonad development shows the male in stage 1 have a huge percentage compared to stage 2 and 3, while the female stage 1 also dominates the spread but the percentage is not more than the male.Udang mantis Harpiosquilla raphidea merupakan salah satu jenis komoditi perikanan yang menjadi andalan di beberapa daerah, salah satunya Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Penelitian ini bertujuan mengkaji beberapa aspek biologi reproduksi udang mantis, meliputi hubungan panjang-bobot, morfologi organ reproduksi, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, dan indeks kematangan gonad. Pengambilan udang contoh dilakukan pada tanggal 19-23 Juni 2010 di perairan pantai berlumpur Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi dengan metode purposive sampling dengan membagi lokasi menjadi 3 stasiun yang ditentukan berdasarkan tingkat intensitas penangkapan udang mantis. Alat kelamin jantan yang disebut petasma (penis) terletak pada pangkal kaki jalan (pereiopod) ketiga berbentuk tonjolan kecil memanjang dan terdapat di kedua sisi kaki jalan, sedangkan alat kelamin betina (thelicum) terletak pada pertengahan kaki jalan pertama berbentuk datar. Hasil analisis uji-t menunjukkan udang mantis H. raphidea di Kuala Tungkal memiliki pola pertumbuhan isometrik. Rasio kelamin menunjukkan perbandingan jantan:betina sebesar 1:1,3 (lapang) dan 1:1,1 (penampungan). Pengamatan tingkat kematangan gonad (TKG) menunjukkan pada udang mantis jantan TKG I memiliki persentase yang besar dibanding TKG II, dan III, sedangkan pada udang mantis betina TKG I juga mendominasi penyebaran TKG namun persentasenya tidak sebesar pada udang mantis jantan
Reproduksi Ikan Swanggi (Priacanthus tayenus Richardson, 1846) di Perairan Teluk Palabuhanratu, Sukabumi
Ikan swanggi (P. tayenus) merupakan salah satu ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis. Informasi mengenai reproduksi ikan swanggi di Teluk Palabuhanratu masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji aspek reproduksi ikan swanggi sebagai dasar pengelolaan ikan swanggi yang lestari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2017. Jumlah ikan swanggi yang diamati sebanyak 726 ekor. Hasil uji Chi-square menunjukkan nisbah kelamin ikan swanggi jantan dan betina 1:1. Ukuran pertama kali matang gonad ikan swanggi jantan dan betina masing-masing adalah 271,92 mm dan 245,10 mm. Musim pemijahan ikan swanggi adalah pada bulan Agustus-September dengan pola pemijahan partial spawner. Potensi rekruitmen yang diduga dari data fekunditas menunjukkan bahwa rata-rata fekunditas ikan swanggi betina sebanyak 9 692 butir telur. Upaya pengelolaan yang dapat dilakukan dengan meningkatkan sosialisasi terhadap masyarakat nelayan mengenai musim pemijahan ikan swanggi agar mengurangi intensitas penangkapan pada bulan tersebut
Studi Perbandingan Karakter Morfometrik Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus von Martens, 1868) di Perairan Bogor, Jawa Barat
Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) saat ini banyak tersebar di Indonesia. Lokasi yang berbeda diduga dapat menyebabkan variasi karakter morfometrik dari lobster. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakter morfometrik dari lobster air tawar yang berasal dari Situ Salabenda, Situ Burung, dan Situ Cilala, Bogor Jawa Barat. Karakter morfometrik diukur menggunakan metode baku dan truss morphometrics. Hasil analisis diskriminan menunjukkan adanya perbedaan karakter morfometrik. Karakter morfometrik hasil pengukuran dengan metode baku terdapat tiga karakter yang berbeda serta dengan menggunakan metode truss morphometrics terdapat empat karakter yang berbeda. Hasil analisis kluster memperlihatkan C. quadricarinatus yang berasal dari Situ Salabenda dan Situ Burung berada pada kelompok yang sama
Valuation of Mangrove Ecosystem Services with Household Income Approach: A Case Study in Ketapang Village, Tangerang regency, Banten province.
Ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Tangerang memiliki potensi ekonomi tinggi melalui jasa penyediaan seperti perikanan tangkap, budidaya kerang hijau, dan ekstraksi hasil mangrove, serta jasa kultural berupa
ekowisata yang mendukung ekonomi masyarakat melalui UMKM dan pekerjaan lokal. Namun, reklamasi, penurunan kualitas lingkungan, dan tingginya tarif masuk
ekowisata mengancam kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Kurangnya informasi valuasi jasa ekosistem menghambat pengembangan dan
kesadaran akan pentingnya mangrove. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komponen sosial-ekologi, mengestimasi nilai ekonomi jasa penyediaan dan kultural, mengukur tingkat ketergantungan masyarakat Desa Ketapang terhadap mangrove, serta merumuskan strategi pengelolaan berkelanjutan. Digunakan metode pendekatan pendapatan rumah tangga untuk estimasi nilai ekonomi jasa ekosistem
mangrove, purposive dan snowball sampling untuk pemilihan responden, serta metode Point Quarter dan transek kuadrat untuk data ekologi. Jenis mangrove dominan adalah Rhizophora mucronata, dengan aktor utama seperti nelayan,
pembudidaya, dan pelaku UMKM. Nilai ekonomi jasa penyediaan dan kultural masing-masing mencapai Rp3.564.563.592,73/bulan dan Rp16.181.250,73/bulan,
dengan tingkat ketergantungan masyarakat sebesar 61,01% dan 12,63%, dan ratarata total ketergantungan sebesar 36,82%.Mangrove ecosystems in the coastal areas of Tangerang Regency have high economic potential through provisioning services such as capture fisheries, green mussel cultivation, and mangrove product extraction, as well as cultural services in the form of ecotourism that supports the community economy through MSMEs and local employment. However, reclamation, environmental degradation, and high
ecotourism entrance fees threaten ecosystem sustainability and community welfare. Lack of information on ecosystem service valuation hampers development and awareness of the importance of mangroves. This study aims to identify the socioecological components, calculate the economic value of provisioning and cultural services, measure the level of dependence of Ketapang Village communities on
mangroves, and formulate sustainable management strategies. The household income approach was used to estimate the economic value of mangrove ecosystem
services, purposive and snowball sampling for respondent selection, and Point Quarter and transect quadrat methods for ecological data. The dominant mangrove species is Rhizophora mucronata, with the main actors such as fishermen, cultivators, and SMEs. The economic value of provisioning and cultural services reached Rp3.564.563.592,73/month and Rp16.181.250,73/month, respectively, with community dependency levels of 61.01% and 12.63%, and an average total dependency of 36.82%
Dinamika Populasi Ikan Tetengkek (Megalaspis cordyla Linnaeus,1758) Yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.
Ikan tetengkek merupakan ikan pelagis yang hidup secara
bergerombol (schooling) dan tersebar di seluruh wilayah Indo-Pasifik tropis mulai
dari Afrika Timur hingga Jepang, dan Australia. Tujuan penelitian ini adalah
mengkaji aspek dinamika populasi ikan tetengkek di Teluk Palabuhanratu untuk
menjadi informasi dasar pengelolaan perikanan. Pengambilan data dilakukan pada
bulan Juni hingga September 2017. Ikan contoh yang diperoleh adalah 490 ekor
dengan 295 ekor jantan dan 195 ekor betina. Analisis uji t menunjukkan pola
pertumbuhan ikan tetengkek adalah alometrik negatif. Ukuran pertama kali
matang gonad ikan jantan dan betina lebih besar dari ukuran pertama kali
tertangkap (Lm > Lc). Nilai parameter pertumbuhan (L∞dan K) jantan berturutturut
adalah 534 mm dan 0,15/bulan, sedangkan betina adalah 610 mm dan
0,12/bulan. Mortalitas penangkapan lebih tinggi dibandingkan mortalitas alami,
sehingga terindikasi mengalami tangkap lebih
Kebiasaan Makan Ikan Kuniran Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) Hasil Tangkapan di Perairan Selat Sunda
Dibawah bimbingan Yonvitner dan Ali Mashar. Ikan kuniran (Upeneus moluccensis) adalah salah satu ikan demersal yang cukup dominan tertangkap di perairan Selat Sunda dan didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan kuniran menyebabkan aktifitas penangkapan terus meningkat. Hal ini dapat berpengaruh terhadap jumlah stok dan kelestarian sumberdaya ikan kuniran di daerah perairan Selat Sunda, Banten. Upaya untuk mencegah agar ikan kuniran tidak punah dan tetap lestari memerlukan langkah kebijakan yang tepat, untuk itu diperlukan informasi lengkap tentang aspek biologi dan ekologi ikan kuniran. Salah satu aspek biologi yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan kuniran ialah makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan dan pola makan ikan kuniran. Penelitian ini dilakukan di PPP Labuan, Provinsi Banten. Ikan contoh yang diperoleh dari PPP Labuan merupakan hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Selat Sunda, Banten. Data yg diambil berupa data primer. Pengambilan data primer dilakukan setiap satu kali dalam sebulan mulai bulan Maret 2011 hingga September 2011. Data yang diambil berupa panjang total ikan dan bobot basah ikan, panjang usus serta berat isi lambung. Analisis data yang dilakukan adalah ISC (Index of Stomach Content), faktor kondisi, IP (Index of Preponderance) dan analisa statistik kelompok. Ikan kuniran yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies Upeneus moluccensis. Nilai indeks isi lambung pada ikan kuniran jantan mulai bulan Maret hingga September adalah 0,6832 (21%); 0,4757 (15%); 0,3674 (11%); 0,6029 (19%); 0,3744 (12%); 0,3822 (12%); 0,3038 (10%) sedangkan nilai indeks isi lambung pada ikan kuniran betina dari bulan Maret hingga September adalah 0,6363 (19%); 0,6527 (20%); 0,2951 (9%); 0,4558 (14%); 0,5355 (16%); 0,4276 (13%) dan 0,2809 (9%). Ikan kuniran jantan memiliki nilai ISC tertinggi pada bulan Maret sedangkan ikan kuniran betina pada bulan April. Jenis makanan ikan kuniran adalah oleh udang dan ika
Pengelolaan Perikanan Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) dengan Pendekatan Ekosistem
Rajungan merupakan salah satu komoditas utama perikanan di Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan. Data produksi tertinggi mencapai 2041.8 ton pada
tahun 2017. Produksi rajungan tersebut berasal dari kegiatan penangkapan
rajungan yang tidak terkontrol, diantaranya nelayan menangkap rajungan dengan
lebar karapas kurang dari 10 cm serta rajungan bertelur yang telah diatur di dalam
PERMEN-KP Nomor 56 Tahun 2016. Melihat fenomena pemanfaatan rajungan
yang semakin meningkat tersebut, maka diperlukan kebijakan pengelolaan yang
memperhatikan potensi lestari rajungan agar tidak terjadi degradasi berlebihan
dari populasinya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biologi, menilai status
pengelolaan dan memberikan rekomendasi pengelolaan berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhi kondisi perikanan rajungan yang berkelanjutan di pesisir
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
November 2018 sampai April 2019 dengan menggunakan metode observasi dan
wawancara mendalam terhadap responden secara purposive sampling melalui
pendekatan kuesioner. Analisis status pengelolaan perikanan rajungan di perairan
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dilakukan melalui pendekatan indikator
Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM). Kemudian rekomendasi
pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan dilakukan melalui pendekatan
keputusan taktis (tactical decision).
Kondisi biologi rajungan di pesisir Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
diindikasikan telah mencapai kondisi pemanfaatan berlebih (over exploited).
Status pengelolaan perikanan rajungan secara umum tergolong dalam kategori
sedang, masih dapat dikembangkan dan diperbaiki. Untuk memperbaiki
pengelolaan perikanan rajungan secara bertahap maka direkomendasikan untuk
memperkuat pengawasan terhadap nelayan agar mengembalikan tangkapan
rajungan dibawah ukuran 10 cm dan rajungan bertelur ke laut, memperbaiki
tutupan lamun, koordinasi antar lembaga pada tata kelola perikanan rajungan,
serta peningkatan partisipasi stakeholder dalam upaya pengelolaan perikanan
rajungan
Pengelolaan Spesies Invasif Lobster Air Tawar Cherax quadricarinatus (von Martens, 1868) di Danau Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Cherax quadricarinatus di perairan umum Jawa Barat merupakan spesies invasif.
Salah satu daerah penyebaran utama lobster air tawar di Jawa Barat terdapat di Danau Lido,
yang merupakan hasil kegiatan introduksi. Spesies invasif dapat menjadi kompetitor,
predator, patogen, dan parasit terhadap spesies asli, sehingga mengganggu keseimbangan
ekosistem di perairan. Kebijakan mengenai pengelolaan C. quadricarinatus sebagai spesies
invasif di perairan umum masih dipertanyakan karena belum ada peraturan larangan
penyebarannya. Tujuan penelitian ini untuk menentukan prioritas kebijakan dalam
pengelolaan lobster air tawar (C. quadricarinatus) sebagai spesies invasif di lingkungan
perairan Danau Lido. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Analytical
Network Process (ANP). Berdasarkan analisis ANP diperoleh tiga kriteria prioritas dalam
pengelolaan C. quadricarinatus, yaitu keberadaan spesies kompetitor inferior, nilai
ekonomi sumberdaya, dan peranan masyarakat. Secara keseluruhan alternatif yang menjadi
prioritas kebijakan pengelolaan spesies invasif lobster air tawar di Danau Lido adalah
diperbolehkan pemanfaatannya dengan ketentuan adanya pemantauan dan pembatasan
yang baik. Alternatif pengelolaan C. quadricarinatus tersebut memiliki nilai kesepakatan
(rater agreement) dari para responden sebesar 0,61, yang artinya cukup tinggi
- …
