1,721,046 research outputs found
Faktor yang berhubungan dengan Anemia Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Wajo Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara
The study is aimed to determine factors associated with anemia among pregnant women in the working area of the Puskesmas Wajo Bau-Bau South East Sulawesi Province. This is a cross-sectional study. The sample consisted of all pregnant women in the working area of Puskesmas Wajo. Data was collected through interviews using questionnaires and examinations Anemic was assesed using Kato Katz method, while worm investation status and malaria status analysed using Giemsa method. Data were analysed using bivariate and multivariate linear regression. Prevalence of anemia was found 43,3% and risk factors of anemia among pregnant women were maternal age (OR=5.35, 95%CI=1.95-14.66), gestational age (OR=7.34, 95%CI=3:30-16:33), birth spacing (OR=2.39, 95%CI=1.17-4.88), frequency of visits to health care (OR=4.32, 95%CI=2.39-7.81), compliance of taking iron tablets (OR =14.82, 95%CI=5.28-41.65), family role (OR=5.14, 95%CI=2.71-9.78), eating habits (OR=2.53, 95%CI=1.96-3.26), worm investation (OR= 5.54, 95% CI=2.37-12.98).Ibu hamil merupakan kelompok sasaran yang perlu mendapatkan perhatian khusus, karena ibu hamil merupakan kelompok yang rentan untuk menderita masalah gizi (Depkes RI 2002). Salah satu masalah gizi yang banyak terjadi pada ibu hamil adalah anemia, yang merupakan masalah gizi mikro terbesar dan tersulit diatasi di seluruh dunia (Soekirman 2003). Badan Kesehatan Dunia melaporkan bahwa pada tahun 2005 terdapat 52% ibu hamil mengalami anemia di negara berkembang (WHO 2005). Menurut defenisi WHO, anemia pada kehamilan adalah bila kadar hemoglobin (Hb) < 11 g/ dl. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 ditemukan sekitar 40.1% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia, sedangkan di Sulawesi Tenggara, prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 67,25%. Menurut laporan WHO (2005) secara umum penyebab anemia pada ibu hamil dipengaruhi banyak faktor, terdiri dari umur ibu, umur kehamilan, paritas, lingkar lengan bagian atas (LILA), sosial ekonomi (tingkat ekonomi, pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan suami), pola konsumsi, dan riwayat selama kehamilan
Estimasi Konsumsi dan Asupan Zat Besi dari Pangan Berbasis Tepung Terigu pada Siswi SMA di Kota Bogor.
Iron deficiency is a major micronutrient problem in the world. Fortification is the best strategy to increase iron intake through food based approached. The objective of research is to know consumption of fortified wheat flour based foods among high school/women students. The design used in this study was a crosssectional study with high size of 120 girls aged 15-18 years. The research was conducted at three schools with different social-economic status. Pastries/biscuits is the most often products consumed by the students (19.8 ± 19.3 times/month) and snacks (12.8 ± 16.1 times/month). Daily weight consumption of biscuits/pastries is the highest in SMAN 1 and SMAN 10 students, but in SMA PGRI 4 students, instant noodles is the most contributed one. The average intake of wheat flour equivalent consumption a day is 96.2 g, with the highest is among SMA PGRI 4 student (115.8 g), SMAN 10 student (95.4g) and SMAN 1 student (77.3g). Wheat flour based food contributes to 23.0% of RDA of iron. The research found that there was no significant relation between school allowance and amount of wheat consumption (p=0.943, r=0.004)
Riwayat Pemberian ASI, Susu Formula, dan MP-ASI pada Anak Balita dengan Risiko Gizi Lebih di Kecamatan Majalengka
Tujuan penelitian ini adalah mempelajari riwayat pemberian ASI, susu formula, dan MP-ASI pada anak balita dengan risiko gizi lebih di Kecamatan Majalengka. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Contoh dalam penelitian ini adalah 62 balita berumur 24-47 bulan yang dipilih secara purposive berdasarkan status gizi. Hasil penelitian menunjukkan 43.6% contoh memiliki status gizi obes berdasarkan indikator IMT/U. Lebih dari setengah ibu contoh memiliki tingkat pengetahuan gizi termasuk kategori sedang. Lebih dar setengah ibu contoh memiliki sikap positif. Sebanyak 62.5% contoh dengan status gizi kemungkinan risiko BB lebih mendapatkan ASI eksklusif. Sebanyak 57.9% contoh dengan status gizi BB lebih mendapatkan ASI Eksklusif. Sebanyak 51.9% contoh dengan status gizi obes mendapatkan ASI eksklusif. Semakin berisiko obes status gizi contoh pemberian ASI eksklusif, melakukan IMD, dan frekuensi menyusui tergolong cukup cenderung menurun. Semakin tinggi risiko obes status gizi contoh pemberian susu formula sampai umur 2 tahun, frekuensi pemberian susu formula pertama kali kurang tepat, jumlah takaran susu formula kurang tepat, dan umur pertama pemberian susu formula sebelum berumur 6 bulan cenderung semakin meningkat. Lebih dari tiga per empat contoh diberikan MP-ASI pertama kali pada umur 6 bulan ke atas, jenis MP-ASI berupa MP-ASI siap saji, dan diberikan dengan frekuensi yang cukup dalam sehari. Semakin berisiko obes status gizi contoh cenderung diberikan MP-ASI siap saji. Uji korelasi Spearman menjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola pemberian ASI, susu formula, dan MP-ASI dengan IMT/U pada balita di Kecamatan Majalengka (p>0.05). Kat
Analisis Status Kerawanan Pangan dan Kualitas Diet Pada Wanita Hipertensi di Perdesaan
Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi masalah yang serius baik
di dunia maupun di Indonesia. Salah satu faktor risiko penyakit kardiovasular
adalah hipertensi yang masih banyak terjadi pada wanita di perdesaan. Hal ini
menjadi perhatian tersendiri, karena kemiskinan (sebagian besar terjadi pada
masyarakat perdesaan) dengan risiko akses makanan yang terbatas ternyata
mempunyai risiko hipertensi. Dimensi kemiskinan merupakan gambaran akses
terhadap pangan pada individu menjadi terbatas. Terdapat hubungan antara
paparan kronis dari stres psikososial yang berkontribusi terhadap perkembangan
hipertensi. Di sela perkembangan tersebut, individu mulai mengubah keragaman
dan kualitas diet yang dikonsumsi. Berdasarkan hal tersebut, maka analisis status
kerawanan pangan melalui kualitas diet dan mental emosional menjadi perhatian
tersendiri untuk dibahas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis status
kerawanan pangan dan kualitas diet pada wanita hipertensi di perdesaan.
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan subjek 143
wanita (71 normal dan 72 hipertensi) di desa Pondokbungur, Kabupaten
Purwakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2017. Responden
tergabung dalam penelitian induk berjudul “Healthy Diet Indicator, Diet Lemak
dan Garam, Profil Lipid, dan Risiko Hipertensi pada Wanita Sunda dan
Minangkabau di Daerah Perdesaan” yang mendapatkan bantuan dana hibah oleh
Neys-van Hoogstraten Foundation (NHF). Kriteria inklusi berupa subjek
merupakan wanita dewasa hipertensi dan normal yang juga ikut serta dalam induk
penelitian, berusia 35-55 tahun, asli atau sudah lama tinggal di daerah penelitian,
untuk hipertensi dalam kategori ≥140/90 mmHg dalam dua kali pengukuran, dan
bersedia menjadi responden wawancara sekaligus melakukan pemeriksaan
kesehatan.
Variabel independen adalah kualitas diet berdasarkan DASH like diet,
status gangguan mental emosional, dan status rawan pangan sedangkan variabel
dependen adalah status hipertensi. Pengukuran hipertensi sebagai skrining di
lapangan menggunakan automatic blood pressure monitor dari Omron.
Pengumpulan data diet pangan akan menggunakan bantuan Buku Foto Makanan
yang digunakan oleh Survei Diet Total Kementerian Kesehatan tahun 2014.
Kualitas diet diperoleh dengan metode multiple recall 2x24 jam, sedangkan
gangguan mental emosional menggunakan kuesioner SRQ yang dikembangkan
oleh WHO (1994). Status rawan pangan dengan pembentukan dummy variabel
dari kuesioner FIES yang dikembangkan oleh FAO (2015). Analisis data
menggunakan uji Chi-Square, Chi-Square multi table, Regresi Logistik dan uji
beda Mann-Whitney. Analisis data dan pengolahan lainnya menggunakan
perangkat program computer Microsoft Excel 2010, Software R, dan Software
Statistical Program For Social Science (SPPS) versi 16.
Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan antara kerawanan pangan tingkat
berat dengan status hipertensi (p=0.044, p<0.05). Hal ini memberikan arti bahwa
responden yang merasakan kesulitan dalam akses terhadap pangan tingkat berat
v
(severe) lebih beresiko mengalami hipertensi sebanyak 4.138 kali lipat
dibandingkan orang yang tidak kesulitan akses pangan.
Analisis hubungan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status
kerawanan pangan dengan status kualitas diet berdasarkan DASH Like Diet
(p>0.05). Begitu pula tidak ada hubungan antara status kualitas diet dengan
hipertensi pada populasi penelitian. Hubungan antara rawan pangan, gangguan
mental emosional dan hipertensi juga kemudian dianalisis. Hasil menunjukkan
bahwa ada hubungan antara kelompok rawan pangan tingkat sedang dengan status
mental emosional (p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa responden yang
mengalami kesulitan akses pangan tingkat sedang memiliki resiko 4.435 kali
untuk memiliki gangguan mental emosional dibandingkan mereka yang tidak
merasakan kesulitan akses pangan tingkat sedang. Hal ini diduga karena adanya
proses adaptasi atau resistensi pada kelompok tingkat rawan pangan berat, namun
dalam masa alarm reaction pada kelompok rawan pangan tingkat sedang.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa responden yang
mengalami hipertensi telah melakukan perubahan pola makan, sehingga tidak
adanya perbedaan asupan zat gizi terjadi karena adanya perubahan pola hidup
yang telah dilakukan oleh responden yang menderita hipertensi, yang mana
beberapa diantaranya berkaitan dengan perubahan diet. Perubahan gaya hidup
yang dilakukan di antaranya berupa mencari informasi mengenai hipertensi,
mengonsumsi obat anti hipertensi, lebih rutin berolahraga, menurunkan berat
badan dengan mengurangi makan, mengurangi rokok, mengurangi ikan asin,
mengurangi garam, dan mengurangi vetsin. Pola makan di perdesaan ditandai
dengan tidak adanya perbedaan asupan zat gizi juga diduga karena adanya
perubahan urbanisasi pola hidup sehingga pola makan cenderung mulai homogen.
Selain itu, kelemahan penelitian ini intake asupan natrium hanya berasal dari
makanan, belum merupakan garam tambahan seperti penggunaan garam meja.
Pada penelitian ini, umur dapat menjadi variabel pencetus terjadinya hipertensi
karena berbeda signifikan terhadap kejadian hipertensi antar kelompok normal
dan hipertensi (p=0.001 p<0.05).
Berdasarkan temuan pada penelitian di atas, maka perlu dilakukan
penelitian selanjutnya untuk mengetahui aspek akses pangan yang memengaruhi
terjadinya kerawanan pangan pada wanita diperdesaan yang akhirnya
berhubungan dengan hipertensi. Perhatian terhadap kriteria responden telah
melakukan perubahan diet atau belum dan juga menggunakan alat ukut kesehatan
mental yang lain agar bisa dilakukan perbandingan. Selain itu, pengukuran
terhadap asupan natrium pada garam tambahan seperti garam meja, kecap, dan
bumbu lainnya juga perlu diperhatikan. Desain penelitian kohort atau case control
terhadap hubungan rawan pangan dengan hipertensi dapat menjadi perhatian
untuk penelitian selanjutnya. Pengembangan variabel yang lebih luas juga bisa
menjadi perhatian pada penelitian selanjutnya mengingat dimensi kerawanan
pangan yang sangat luas, tidak hanya aksesibilitas, namun juga terdapat dimensi
ketersediaan, utilitas, dan stabilitas
Faktor Risiko Stunting pada Anak Usia 0-23 Bulan di Provinsi Bali, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur
Early stunting is critical largely because it increases risk of severe, persistent stunting and later deficits in cognitive ability The purpose of this study was to asses the prevalence and the risk factors of stunting among 0-23 month old children in Bali, West Java and East Nusa Tenggara. The data was gathered from Riset Kesehatan Dasar (Basic Health Research) 2010, Ministry of Health Republic of Indonesia. Bali, West Java and East Nusa Tenggara (NTT) were selected because they are categorized as having mild, moderate and severe levels of stunting among children aged less than five years respectively. A total of 1554 children aged 0-23 months were selected in the analysis. Prevalence of stunting in Bali, West Java and East Nusa Tenggara was 35.9%, 31.4% and 45.0%, respectively. Chi-square test revealed that there are positive and significant associations between low birth weight (p=0.044), poor sanitation (p=0.003), paternal smoking in the home (p=0.004), low level of maternal (p=0.000) and paternal (p=0.015) education, low income (p=0.047) and mother’s height less than 150 cm (p=0.000) with stunting among 0-23 month old children in Bali, West Java and East Nusa Tenggara. Regression logistic was applied to analyze risk factors for stunting. The risk factors for stunted children were low birth weight (OR= 2.21, 95%CI= 1.006- 4.860), mother’s height less than 150 cm (OR= 1.77, 95%CI= 1.205-2.594), poor sanitation (OR= 1.46, 95%CI= 1.010-2.126) and prelacteal feeding (OR= 1.47, 95%CI= 1.000-2.154)
Faktor-Faktor Penentu Disparitas Prevalensi Stunting pada Balita di Berbagai Kabupaten/Kota di Indonesia
Beberapa penelitian terkait faktor risiko stunting balita telah dilakukan di Indonesia baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Namun, penelitian-penelitian tersebut belum ada yang mengkaji tentang perbedaan stunting antar wilayah. Prevalensi stunting mengalami peningkatan dari tahun 2007 (36.8%) ke tahun 2013 (37.2%) dan terjadi disparitas antar provinsi di Indonesia. Disparitas ini kemungkinan akan lebih besar apabila dilihat ke dalam level wilayah yang lebih kecil seperti antar kabupaten/kota.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan disparitas stunting pada balita di berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Desain penelitian ini adalah studi ekologi dengan unit analisis kabupaten/kota. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar 2007 dan data makro sosial ekonomi data lainnya. Sebanyak 352 kabupaten/kota dari total 438 kabupaten/kota dipilih untuk analisis ini. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah prevalensi stunting, asupan gizi dan ASI eksklusif, derajat kesehatan, karakteristik ibu, akses ekonomi, sosial dan kesehatan masyarakat. Determinan faktor dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Disparitas prevalensi stunting adalah selisih prevalensi stunting balita di suatu kabupaten/kota terhadap batas masalah kesehatan masyarakat untuk stunting (20%). Disparitas prevalensi stunting dikatakan tinggi jika >31.4%, sedang jika 15.7-31.4% dan rendah jika <15.7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 24 kabupaten/kota mempunyai disparitas prevalensi stunting yang tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan disparitas prevalensi stunting adalah persentase imunisasi tidak lengkap, prevalensi malaria, persentase ibu tunggal, tingkat kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia, dengan R2 model adalah 0.361. Studi ini menunjukkan bahwa upaya penanggulangan stunting akan efektif apabila diintegrasikan dengan upaya-upaya seperti penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
Estimasi Konsumsi dan Asupan Zat Besi dari Pangan Berbasis Tepung Terigu pada Siswi SMA di Kota Bogor.
Iron deficiency is a major micronutrient problem in the world. Fortification is the best strategy to increase iron intake through food based approached. The objective of research is to know consumption of fortified wheat flour based foods among high school/women students. The design used in this study was a crosssectional study with high size of 120 girls aged 15-18 years. The research was conducted at three schools with different social-economic status. Pastries/biscuits is the most often products consumed by the students (19.8 ± 19.3 times/month) and snacks (12.8 ± 16.1 times/month). Daily weight consumption of biscuits/pastries is the highest in SMAN 1 and SMAN 10 students, but in SMA PGRI 4 students, instant noodles is the most contributed one. The average intake of wheat flour equivalent consumption a day is 96.2 g, with the highest is among SMA PGRI 4 student (115.8 g), SMAN 10 student (95.4g) and SMAN 1 student (77.3g). Wheat flour based food contributes to 23.0% of RDA of iron. The research found that there was no significant relation between school allowance and amount of wheat consumption (p=0.943, r=0.004)
Perkembangan program fortifikasi pangan dan identifikasi pangan yang difortifikasi
The study aimed to identify the food fortification program development in the world and Indonesia, and to identify various food that has been fortified until the end of 2012. Since early 20th century, food fortification program has been used as strategy to solve micronutrient deficiencies. The method used were literature review and survey of fortified food products in various type of market around Bogor. The results of this study were, the fortification policy began in 1920 and continues to develop following the problem of micronutrient deficiencies. In line with the food technology development, agricultural science and technology also show the positive progress in supporting the elimination of micronutrient deficiencies through biofortification. Results of fortified survey in various modern and traditional market in Bogor found that were 227 items of food have been fortified such as salt and flour which include in mandatory fortification, while the rest are voluntary fortification
Pengembangan Indeks Ketahanan Pangan dan Gizi untuk Evaluasi Kinerja Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi Provinsi di Indonesia
Pemenuhan hak atas pangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh setiap negara merupakan kunci utama dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan. Isu ketahanan pangan sejak lama telah menjadi fokus utama dan memiliki peran penting dalam pembangunan. Saat ini, isu ketahanan pangan dan gizi muncul terkait dengan perlunya mengintegrasikan aspek gizi ke dalam pembangunan ketahanan pangan. Konsep ketahanan pangan dan gizi (Food and Nutrition Security) mulai digunakan FAO dan badan internasional lainnya sebagai konsep untuk mengintegrasikan aspek gizi dalam pembangunan ketahanan pangan. Beberapa indikator dan indeks telah dikembangkan pada level global untuk menilai situasi ketahanan pangan serta melakukan perankingan. Namun belum terdapat ukuran yang dapat diimplementasikan untuk level regional (tingkat provinsi), khususnya untuk mengevaluasi capaian ketahanan pangan dan gizi provinsi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan indeks ketahanan pangan dan gizi provinsi di Indonesia.
Desain penelitian ini adalah cross-sectional, menggunakan data sekunder dari 32 provinsi dan nasional yang dipublikasi tahun 2010 dan 2013. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Maret hingga Agustus 2017. Penelitian ini terdiri dari empat tahap: identifikasi indikator potensial, seleksi indikator, penyusunan indeks, dan evaluasi. Terdapat 51 indikator potensial ketahanan pangan dan gizi yang kemudian diseleksi berdasarkan empat kriteria relevansi, eliminasi redundancy, ketersediaan data pada level provinsi dan nasional, serta rasionaliasi berdasarkan konsep ketahanan pangan dan gizi. Seleksi indikator menghasilkan 23 indikator yang digunakan untuk menyusun indeks ketahanan pangan dan gizi, yang terdiri dari lima indikator pada pilar ketersediaan pangan, enam indikator pilar keterjangkauan pangan, dan duabelas indikator pada pilar pemanfaatan pangan. Analisis multivariate dengan pendekatan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) digunakan untuk menyusun indeks berdasarkan pilar ketahanan pangan dan gizi yaitu indeks ketersediaan pangan dihitung menggunakan lima indikator, indeks keterjangkauan pangan dihitung menggunakan enam indikator, dan indeks pemanfaatan pangan dihitung menggunakan duabelas indikator. Penyusunan indeks ketahanan pangan dan gizi dengan pendekatan PCA menggunakan 23 indikator terseleksi (gabungan seluruh indikator dari tiga pilar: ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan dan pemanfaatan pangan). Model matematis yang dihasilkan oleh komponen utama pertama dari setiap hasil analisis PCA (dengan nilai total keragaman maksimum) digunakan untuk menyusun indeks ketersediaan, indeks keterjangkauan, indeks pemanfaatan serta indeks gabungan yaitu indeks ketahanan pangan dan gizi.
Aspek ketersediaan bukanlah hambatan capaian pembangunan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari capaian seluruh provinsi yang termasuk dalam kategori tahan pada tahun 2010 dan 2013 (rentang nilai indeks ketersediaan pangan berkisar antara -2 ≤ indeks ≤ 4). Ditinjau dalam aspek keterjangkauan pangan, masih menjadi kendala capaian pembangunan ketahanan
pangan dan gizi di Indonesia. Lebih dari sebagian provinsi di Indonesia tergolong rentan dan tidak tahan pada tahun 2010 dan 2013 (rentang nilai indeks keterjangkauan pangan berkisar antara -3 ≤ indeks ≤ 4). Aspek keterjangkauan pangan yang terkait dengan akses fisik dan akses ekonomi masih menjadi hambatan pembangunan ketahanan pangan dan gizi, terutama di wilayah Indonesia timur. Diindikasikan masih rendahnya proporsi jalan beraspal dan proporsi penduduk tidak miskin dan tahan pangan. Masih rendahnya capaian pilar keterjangkauan pangan tersebut berpengaruh terhadap aspek pemanfaatan pangan, yaitu lebih dari sebagian provinsi di Indonesia termasuk dalam kategori rentan dan tidak tahan pada tahun 2010 dan 2013 (rentang nilai indeks pemanfaatan antara -4 ≤ indeks ≤ 4). Aspek status gizi dan sanitasi yang memadai masih menjadi kendala capaian pilar pemanfaatan pangan, terutama di provinsi yang berada wilayah Indonesia timur.
Secara agregat, capaian ketahanan pangan dan gizi nasional masih jauh dari harapan. Sebagian besar provinsi di Indonesia memiliki indeks yang rendah, termasuk dalam kategori rentan dan tidak tahan (rentang nilai indeks ketahanan pangan dan gizi berkisar antara -5 ≤indeks ≤ 6). Ditinjau pada aspek ketersediaan, secara nasional termasuk kategori tahan namun aspek keterjangkauan pangan dan pemanfaatan pangan masih menjadi hambatan kinerja pembangunan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia. Provinsi Bali memiliki capaian terbaik kinerja ketahanan pangan dan gizi pada tahun 2013, sedangkan Provinsi NTT memiliki capaian terendah dari 32 provinsi di Indonesia pada tahun 2010 dan 2013. Secara umum, wilayah tahan pangan dan gizi memiliki karakteristik tingginya proporsi penduduk yang memiliki akses air bersih dan sanitasi memadai, tingginya proporsi penduduk tidak miskin serta tingginya prevalensi anak balita tidak stunting dan anak balita tidak underweight (PC1>0,3). Fokus program untuk mengurangi prevalensi anak balita stunting, prevalensi anak balita underweight, proporsi rumahtangga di bawah garis kemiskinan serta proporsi rumahtangga dengan akses sanitasi dan air bersih yang tidak memadai merupakan indikator kunci untuk meningkatkan kinerja ketahanan pangan dan gizi, terutama provinsi di Indonesia timur
Pengaruh Intervensi Penambahan Fitosterol pada Minyak Sawit Terhadap Profil Lipid Subyek dengan Sindroma Metabolik.
Sindroma metabolik (SM) merupakan suatu kondisi yang penting untuk dikaji karena akan meningkatkan resiko penyakit kronis terutama penyakit jantung koroner (PJK) dan diabetes mellitus tipe 2 (DMT2). Sindroma metabolik adalah pengelompokan kriteria terkait abnormalitas metabolik terdiri dari obesitas abdominal, hipertensi, dislipidemia atrogenik dan intoleransi glukosa (Alberti et al. 2009). Fitosterol merupakan sterol utama yang ditemukan pada minyak nabati sehingga disebut juga plant sterol. Fitosterol dapat mengurangi absorpsi kolesterol di saluran pencernaan dan potensial untuk digunakan dalam pencegahan dan terapi hyperlipidemia (Bender 2006). Fitosterol dalam bentuk ester dapat larut pada minyak dan mempunyai stabilitas yang cukup baik terhadap panas sehingga dapat dapat dicampurkan pada minyak sawit dan digunakan sebagai minyak goreng (Hallikainen 2001, Soupas et al. 2005, Dewi et al. 2013). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh intervensi penambahan fitosterol pada minyak sawit yang digunakan sebagai minyak goreng terhadap profil lipid yang terdiri dari kolesterol total, kolesterol HDL, kolesterol LDL dan trigliserida pada subjek sindroma metabolik. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda. Sebanyak 30 subjek dewasa umur 40-60 tahun yang memenuhi kriteria sindroma metabolik terlibat pada penelitian ini. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok perlakuan diberikan minyak sawit yang diperkaya 6.5% (w/w) fitosterol dan digunakan sebagai minyak goreng sesuai kebiasaan sehari-hari. Pada kelompok kontrol diberikan minyak sawit tanpa fitosterol. Perlakuan ini diberikan selama 8 minggu. Konsumsi pangan dinilai melalui metode 24 jam-recall setiap 2 minggu. Pengukuran antropometri dan profil lipid darah dilakukan pada awal dan akhir intervensi. Setelah 8 minggu intervensi, estimasi rata-rata total konsumsi minyak sawit yaitu 46 ± 23 g/hari dan rata-rata estimasi asupan fitosterol pada kelompok perlakuan yaitu sebesar dan 2.0 ± 1 g/hari. Tidak terdapat perbedaan nyata asupan pada kedua kelompok tersebut. Rata-rata konsumsi kalori dari lemak pada kedua kelompok mencapai 40% dari total konsumsi kalori pada kelompok tersebut. Asupan fitosterol telah diatas jumlah yang disyaratkan (>1.3 g/hari). Hasil pada penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata kadar kolesterol-LDL (p>0.05) antara awal dan akhir intervensi, sedangkan kadar kolesterol-total dan trigliserida menurun secara signifikan (p<0.05). Walaupun estimasi asupan fitosterol telah mencapai 2 g/hari namun pada akhir intervensi tidak didapatkan penurunan kadar LDL yang signifikan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada subjek SM, absorpsi kolesterol di intestinal rendah dan sintesis kolesterol endogen tinggi sehingga hal ini diduga menghambat efektivitas fitosterol. Kadar kolesterol-total dan trigliserida yang menurun secara signifikan diduga terkait dengan VLDL. Fitosterol dapat menghambat sintesis endogen VLDL di hati. Pada kelompok kontrol terdapat kecenderungan peningkatan kadar iii kolesterol total dan walaupun secara statistik tidak berbeda nyata. Hal ini dapat disebabkan karena konsumsi minyak sawit yang tinggi Kesimpulan pada penelitian ini adalah dengan konsumsi minyak sawit yang diperkaya fitosterol sekitar 40 g/hari, dapat mencapai asupan fitosterol sebesar 2 g/hari dan memenuhi asupan fitosterol yang dipersyarakan (1.3 g/hari). Terdapat perbaikan kadar kolestorol total dan TG namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar kolesterol LDL
- …
