1,720,967 research outputs found
KUALITAS TANAH PADA LAHAN YANG TERKENA DAMPAK LUAPAN AIR LAUT
Budidaya pertanian di lahan pesisir pantai di Desa Kepanjen Kabupaten Jember sudah lama dilakukan dan terus mengalami perluasan. Akan
tetapi banyak permasalahan yang timbul sehingga menyebabkan lahan tersebut menjadi tidak produktif lagi. Lahan pesisir Desa Kepanjen
Kecamatan Gumukmas pada tahun 2001 masih berproduksi dengan maksimal yang bisa digunakan untuk budidaya tanaman pangan
ataupun hortikultura, akan tetapi setelah rusaknya kelep penahan air laut maka lahan tersebut tidak mampu berproduksi dengan maksimal.
Lahan pertanian milik warga yang seluas kurang lebih 800 hektar menjadi tidak bisa berproduksi kembali. Diduga karena luapan air laut
yang banyak mengandung unsur Na yang membuat lahan tersebut menjadi salin. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mempelajari
kualitas tanah pada lahan yang terkena luapan air laut selama 13 tahun tersebut apakah kualitas tanahnya mendukung untuk produksi
tanaman pangan atau hortikultura. Penentuan kualitas tanah dilakukan dengan metode Pryncipal Component Analysis (PCA). Penentuan
jenis tanaman pangan yang sesuai dicocokan dengan menggunakan buku kesesuaian lahan FAO tahun 1983. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kualitas tanah pada lokasi penelitian berada pada katogori sedang – baik. Akan tetapi karena salinitas yang tinggi menyebabkan
kesesuaian lahan untuk tanaman pangan (Padi) pada lahan tersebut menjadi tidak sesuai (N)
Penyiapan lahan; Pemupukan; Usaha konservasi lahan.
Tanah merupakan sumberdaya penting dalam bidang perkebunan serta dalam lingkungan alam. Pengelolaan tanah dan air merupakan
kunci keberhasilan produksi tanaman Kopi. Tujuan pengelolaan tanah adalah untuk mengatur pemanfaatan sumber daya tanah secara
optimal untuk mendukung produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sistem pengelolaan tanah dan air pada budidaya
tanaman kopi milik Perkebunan BUMN (PTPN XII), Perkebunan Swasta (PT. Kalijompo), dan Perkebunan Rakyat (Banjarsengon) serta
dampaknya pada produktivitas tanaman kopi Robusta. Penelitian dilakukan dengan metode investigasi terhadap pengelola perkebunan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem pengelolaan lahan dan metode survei dengan melakukan pengambilan sampel tanah yang
dilanjutkan dengan analisis tanah di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember. Data yang diperoleh dianalisis dengan
statistik secara deskriptif dan selanjutnya dilakukan pengkajian keterkaitannya dengan budidaya tanaman Kopi Robusta yang berada pada
kebun kopi milik BUMN, perkebunan Swasta, dan Perkebunan Rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan tanah pada
ketiga lokasi penelitian memiliki perbedaan dari segi jenis tanaman penaung, penyiapan lahan, pemupukan, dan usaha konservasi lahan.
Perbedaan jenis pengelolaan lahan diindikasikan menjadi penyebab perbedaan produktivitas tanaman Kopi Robusta di setiap kebun.
Produktivitas tanaman Kopi Robusta yang paling tinggi berada pada Kebun Kopi Rayap – PTPN XII 560,22 kg ha-1, kemudian pada PT.
Kalijompo 301,67 kg ha-1, produksi paling rendah terdapat pada Kebun Rakyat Banjarsengon dengan 97,50 kg ha-
Keanekaragaman Meso-Makrofauna Tanah dan Sifat–Sifat Fisika Kimia Tanah Pada Beberapa Penggunaan
Penggunaan lahan hutan, tegal dan sawah di Desa Sumbermalang Kecamatan Wringin Bondowoso mempunyai
keragaman vegatasi dan tanah. Keragaman vegatasi dan tanah dapat menyebabkan adanya keanekaragaman mesomakro
fauna yang berbeda. Penelitian bertujuan untuk mempelajari indeks keanekaragam meso-makro fauna tanah
pada beberapa penggunaan lahan di Desa Sumbermalang dan mengetahui hubungan indeks keanekaragaman mesomakro
fauna tanah dengan sifat fisika-kimia tanah pada penggunaan lahan hutan, tegal dan sawah . Penelitian ini
dilakukan di Desa Sumbermalang Kecamatan Wringin Bondowoso dengan metode awal survei lapang untuk
menentukan vegetasi dan titik pengambilan sampel, pada setiap penggunaan lahan ditentukan 10 area titik masingmasing
ukuran 1m x 1m sampai kedalaman 30 cm, kemudian tanah diangkat. Tanah hasil galian dituangi larutan
pengganggu (5-10liter larutan Alkohol 70% dan menunggu selama 30 menit) dengan tujuan dapat menstimulasi mesomakrofauna
tanah untuk muncul ke permukaan). pengambilan sampel tanah untuk analisis fisika dan kimia tanah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman meso-makro fauna tanah di Desa Sumbermalang Kecamatan
Wringin Bondowoso pada penggunaan lahan hutan sebesar 0,89 yang memiliki indeks keanekaragaman lebih tinggi
dari pada penggunaan lahan tegal yaitu 0,62 dan sawah sebesar 0,61.tidak ada korelasi nyata antara indeks
keanekaragaman meso-makro fauna tanah (H’) dengan sifat fisika dan kimia tanah
Perencanaan Tata Letak dan Kapasitas untuk Mengurangi Angka Kecelakaan disepanjang Jalan Tol Tangerang – Merak pada PT. Marga Mandala Sakti
PT. Marga Mandala Sakti merupakan perusahaan pengelola jalan tol
Tangerang – Merak yang berdiri sejak tahun 1989. Sebagai salah satu perusahaan
yang mengusahakan jalan tol di Indonesia, PT. Marga Mandala Sakti berusaha
memberikan yang terbaik kepada seluruh pemangku kepentingan khususnya
layanan terbaik kepada pengguna jalan tol Tangerang,- Merak. Penulis
diposisikan sebagai staff Business Development, dimana departemen Business
Development yang bertanggung jawab dalam mengembangkan bisnis pada jalan
tol mulai projek pembuatan gardu tol baru sampai usaha-usaha lain seperti iklan,
utilitas, dan rest area. Penulis bertugas untuk membantu pengembangan bisnis
dalam pembuatan projek tempat perhentian bus. Hal ini dikarenakan adanya
desakan pemerintah kepada pengusaha jalan tol Tangerang – Merak yaitu PT.
Marga Mandala Sakti akibat meningkatnya angka kecelakaan yang disebabkan
oleh aktivitas naik dan turun penumpang bus di sepanjang jalan tol Tangerang –
Merak. Aktivitas naik dan turun penumpang bus sangat membahayakan pengguna
jalan tol lain karena bus yang mendadak menepi dari tengah ataupun sisi kanan
jalan tol secara mendadak yang membahayakan pengendara dibelakangnya.
Laporan magang ini berjudul “PERENCANAAN TATA LETAK DAN
KAPASITAS UNTUK MENGURANGI ANGKA KECELAKAAN
DISEPANJANG JALAN TOL TANGERANG – MERAK” dimana penulis akan
membahas tugas-tugas yang dilakukan serta penyelesaian masalah dalam
pembuatan projek tempat perhentian bus
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
