1,721,018 research outputs found
Keragaman Genetik dan Ketahanan terhadap Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp cepae) Bawang Merah (Allium cepa L. var. aggregatum) Indonesia
Bawang merah (Allium cepa L. var. aggregatum) merupakan komoditas
strategis yang bernilai ekonomi tinggi. Bawang merah memiliki fungsi penting
bagi masyarakat Indonesia karena sebagai komponen utama hampir semua bumbu
masakan, sehingga selalu dibutuhkan baik oleh kalangan rumah tangga maupun
industri masakan. Komoditas bawang merah juga memiliki nilai ekspor yang
cukup tinggi sehingga berperan dalam peningkatan ekonomi nasional. Oleh sebab
itu, untuk memenuhi permintaan konsumen baik dalam maupun luar negeri, maka
peningkatan produksi harus terus dilakukan, salah satunya dengan perakitan
varietas unggul berproduktivitas tinggi. Penyakit layu fusarium yang disebabkan
oleh cendawan Fusarium oxysporum f.sp cepae merupakan salah satu penyakit
penting yang mempengaruhi produksi bawang merah, sehingga penting untuk
menyertakan karakter ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dalam perakitan
varietas unggul bawang merah.
Pengumpulan plasma nutfah dari berbagai wilayah di Indonesia, telah
dilakukan oleh Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB sebagai langkah
awal dalam pemuliaan tanaman bawang merah. Plasma nutfah yang terkumpul
sebanyak 19 genotipe diantaranya genotipe Batu Ijo, Bauji, Bentanis, Bima
Brebes, Bima Curut, Biru Lancor, Katumi, Kramat 1, Lembah Palu, Maja
Cipanas, Manjung, Mentes, Palasa, Pancasona, Pikatan, Rubaru, Super Philip,
Tajuk, and Trisula. Tahapan kedua dalam pemuliaan tanaman adalah identifikasi
keragaman genetik dan karakter-karakter yang diinginkan dalam plasma nutfah
yang berhasil terkumpul. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi
keragaman genetik berdasarkan marka morfologi dan molekuler, dan ketahanan
terhadap penyakit layu fusarium dari 19 genotipe bawang merah.
Hasil analisis marka morfologi menunjukkan terdapat keragaman pada 19
genotipe bawang merah. Keragaman tersebut terlihat pada fenotipe tanaman
diantaranya pada karakter jumlah daun, panjang daun, intensitas warna hijau
daun, diameter daun, bentuk umbi secara membujur, warna dasar kulit luar umbi
kering, intensitas warna dasar kulit umbi kering, ukuran umbi, tinggi umbi,
diameter umbi, rasio tinggi/diameter umbi, posisi diameter terluas umbi, lebar
leher umbi, bentuk ujung batang, dan bentuk ujung akar. Keragaman juga terlihat
pada hasil dendrogram yaitu terpisahnya genotipe kedalam empat kelompok pada
koefisien ketidakmiripan 0.38. Kelompok 1 terdiri dari genotipe Batu Ijo;
Kelompok II terdiri dari genotipe Bentanis; kelompok III terdiri dari genotipe
Bauji, Manjung, Mentes, Katumi, Kramat 1, Maja Cipanas, Bima Curut, Super
Philip, Pikatan, Bima Brebes, Tajuk, Trisula, Pancasona, dan Biru Lancor;
kelompok IV terdiri dari genotipe Lembah Palu, Palasa, dan Rubaru. Karakterkarakter
penting dalam pengamatan morfologi bawang merah, berdasarkan PC1,
PC2, dan PC3 dalam analisis komponen utama adalah ukuran umbi, tinggi umbi,
diameter umbi, lebar leher umbi, bentuk ujung akar, panjang daun, intensitas
warna hijau daun, diameter daun, jumlah daun, bentuk umbi, rasio
panjang/diameter umbi, intensitas warna umbi, dan jumlah daun.
Hasil analisis marka molekuler juga menunjukkan adanya keragaman yang
terlihat pada hasil pita polimorfik sebesar 92.11% dari total pita yang dihasilkan
dan terpisahnya genotipe kedalam lima kelompok pada koefisien ketidakmiripan
0.38. Kelompok I terdiri dari genotipe Bima Brebes dan Manjung; kelompok II
terdiri dari genotipe Mentes, Pancasona, Kramat 1, Katumi, Maja Cipanas,
Pikatan, Super Philip, dan Biru Lancor; kelompok III terdiri genotipe Tajuk,
Bauji, dan Trisula; kelompok IV terdiri dari genotipe Bentanis, Batu Ijo, dan
Bima Curut. Kelompok V terdiri dari genotipe Lembah Palu, Palasa, dan Rubaru.
Hasil analisis ketahanan terhadap penyakit layu fusarium menunjukkan
adanya keragaman tingkat ketahanan terhadap penyakit layu fusarium pada 19
genotipe bawang merah yang diuji. Keragaman tingkat ketahanan tersebut
meliputi rentan, agak rentan, dan tahan. Genotipe Bima Brebes, Bima Curut,
Bauji, Bentanis, Pancasona, Manjung, Mentes, Kramat 1, Maja Cipanas, dan
Super Philip tergolong kedalam genotipe rentan. Genotipe Lembah Palu, Pikatan,
Palasa, Trisula, Katumi, Tajuk, dan Biru Lancor tergolong kedalam genotipe agak
rentan. Genotipe Batu Ijo dan Rubaru merupakan genotipe yang tergolong tahan
Keragaan enam genotipe terung (Solanum melongena L.) di tiga lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di tiga lokasi (Bogor, Brebes, dan Kediri)
menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) satu faktor pada tiap
lokasi. Bahan tanam yang digunakan yaitu dua galur terung uji (G44 dan G80) dan
empat varietas terung sebagai pembanding (L.U., Sriti, Bruno, dan Jafana).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaan enam
genotipe terung di tiga lokasi, serta mendapatkan informasi mengenai kestabilan
genotipe yang diuji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi
antara genotipe dan lingkungan yang berbeda antara terung bulat dan terung
panjang. Berdasarkan nilai bobot per buah pada rerata genotipe, genotipe G44
merupakan genotipe terung bulat yang mempunyai bobot per buah paling tinggi.
Genotipe LU merupakan genotipe dengan nilai jumlah buah per tanaman dan bobot
buah per tanaman paling tinggi dibandingkan genotipe terung bulat lain pada
pengujian di lokasi Bogor. Berdasarkan nilai bobot per buah pada analisis stabilitas
Finlay-Wilkinson, genotipe uji G44 dan G80 merupakan genotipe yang paling stabil
dibandingkan dengan genotipe lain pada jenis terung yang sama. Nilai bobot per
buah pada terung bulat berkorelasi positif dengan karakter panjang buah, diameter
buah dan panjang tangkai buah, sedangkan pada terung panjang nilai bobot per buah
berkorelasi positif dengan karakter panjang buah, diameter buah, dan tinggi
tanaman
Daya Hasil Cabai Keriting dan Rawit (Capsicum annuum L.) IPB di Rembang, Jawa Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hasil cabai keriting dan rawit
IPB dibandingkan dengan varietas pembanding di Rembang, Jawa Tengah.
Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari hingga Juli 2015 di Desa Pragu,
Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan
menggunakan enam genotipe cabai keriting, lima genotipe cabai rawit, dan lima
varietas pembanding. Hasil analisis ragam genotipe cabai keriting menunjukkan
bahwa pengaruh genotipe uji terdapat pada sebagian besar peubah yang diamati
kecuali tebal daging buah dan tinggi tanaman. Hasil analisis ragam genotipe cabai
rawit menunjukkan bahwa pengaruh genotipe uji terdapat pada sebagian besar
peubah yang diamati kecuali diameter buah, tebal daging buah, umur berbunga,
umur panen, tinggi tanaman, diameter batang, lebar tajuk, dan persentase tanaman
hidup. Beberapa genotipe cabai keriting dan cabai rawit yang dievaluasi
mempunyai keunggulan dari varietas pembanding. Genotipe cabai keriting F6
120159-7-2-4-2, Yuni 4-7-2, SSP dan genotipe cabai rawit IPB C160 x C174
dapat dilepas sebagai varietas baru dataran rendah
Keragaman Genetik Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) di Indonesia Berdasarkan Marka Morfologi, Metabolomik dan Molekuler.
Bawang merah (Allium cepa var aggregatum) di Indonesia termasuk salah
satu tanaman Allium yang penting dan telah lama diusahakan oleh petani di
Indonesia secara intensif. Penggunaan bawang merah telah banyak diketahui
sebagai perasa dalam makanan ataupun digunakan sebagai bahan obat-obat herbal.
Permintaan bawang merah terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan
pertambahan penduduk. Sehingga komoditi bawang merah terus dikembangkan di
Indonesia. Bawang merah yang ditemukan di Indonesia memiliki bentuk morfologi
yang beragam. Disetiap daerah memiliki genotipe lokal, genotipe tersebut
berkembang mengikuti keinginan dari selera konsumen. Keragaman bentuk
bawang merah yang ada di Indonesia dapat diidentifikasi berdasarkan marka
morfologi, metabolomik dan marka molekuler.
Pengetahuan keragaman genetik sangat penting dalam program pemuliaan,
karena hal ini merupakan dasar dalam pengembangan tanaman selanjutnya.
Eksplorasi dan identifikasi merupakan kegiatan utama dalam program pemuliaan
dengan cara mengumpulkan dan mengoleksi semua sumber keragaman genetik
yang tersedia. Kegiatan dilanjutkan dengan karakterisasi semua sifat yang dimiliki
pada sumber keragaman genetik yang dapat dijadikan sebagai informasi dasar
untuk melanjutkan program pemuliaan.
Empat puluh genotipe bawang merah yang dikoleksi oleh Pusat Kajian
Hortikultura Tropika (PKHT) dari berbagai daerah di Indonesia merupakan materi
genetik yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisa beberapa genotipe bawang merah (Allium cepa var. aggregatum)
berdasarkan penanda morfologi, kandungan senyawa metabolit dan penanda
molekuler RAPD.
Keragaman karakter morfologi pada tanaman terlihat dari perbedaan fenotipe
tajuk dan umbi. Analisis keragaman morfologi bawang merah berdasarkan 21
karakter morfologi menunjukkan koefisien ketidakmiripan sebesar 0.59 sehingga
membagi 40 genotipe bawang merah menjadi 2 kelompok utama. Subkelompok Ia
terdiri dari BM72 dan BM14. Subkelompok Ib terdiri BM07, BM09, BM63, BM18,
BM68, BM06, BM12, BM28, BM77, BM21, BM62, BM76, BM58, BM25, BM59,
BM45, BM24, BM22B, BM67, BM56, BM75, BM65, BM60, BM29, BM20,
BM74, BM64, BM03. Subkelompok Ic terdiri dari BM19, BM10, BM05, BM57,
BM47, BM26, BM66, BM02. Kelompok II terdiri genotipe BM78 dan BM01.
Analisis morfologi berdasarkan 14 karakter morfologi umbi menunjukkan koefisien
ketidakmiripan sebesar 0.48 dan membagi 40 genotipe bawang merah kedalam 2
kelompok utama. Subkelompok Ia terdiri dari BM07, BM72, BM14, BM09, BM58,
BM66, BM18, BM68, BM63, BM06. Subkelompok Ib terdiri dari BM77, BM28,
BM59, BM10, BM75, BM67, BM57, BM47, BM26, BM05, BM22B, BM62,
BM56, BM21, BM25, BM60, BM29, BM45, BM24, BM20, BM76, BM65, BM03,
BM74, BM64, BM02 dan kelompok II terdiri dari BM19, BM12, BM78, BM01.
Tiga belas karakter yang dapat dijadikan karakter penciri pada 40 genotipe
bawang merah yaitu melunaknya tajuk, kelengkungan tajuk, jumlah daun batang
semu, diameter daun, ukuran umbi, tingkat membelah bagian umbi, diameter umbi,
posisi umbi pada diameter terluas, lebar leher umbi, bentuk umbi membujur, bentuk
umbi pada ujung batang, warna dasar kulit umbi kering dan intensitas warna kulit
umbi kering.
Senyawa dari turunan sulfur yang dihasilkan sejumlah genotipe berbeda-beda
seperti farnesyl acetate (BM07), methylsulfanyl-4,5,6,7-tetrahydrobenzo[
c]thiophene (BM26), nonadecane (BM29), allyl-dimethylcyclopropane
(BM45), lanosterol (BM47), stearic acid (BM60), propyl alcohol (BM21), palmitic
acid dihasilkan oleh sebagian besar genotipe. Senyawa lain yang juga ditemukan
pada 40 genotipe bawang merah triterpenoid, karotenoid, volatile, senyawa
aromatik, gliserida, alkane, vitamin D3.
Keragaman genetik ditunjukkan pita amplifikasi polimorfik sebesar 100%
dari 229 total pita yang dihasilkan. Analisis kluster yang ditampilkan pada
dendrogram menunjukkan koefisien ketidakmiripan sebesar 0.41 sehingga
membagi 40 genotipe bawang merah kedalam dua kelompok utama. Kelompok I
terdiri dari BM12, BM09 dan BM07. Subkelompok IIa terdiri dari BM74, BM72,
BM68, BM67, BM77, BM78, BM76, BM75, BM66 dan BM65. Subkelompok IIb
terdiri dari BM21, BM22B, BM19, BM20, BM18, BM14, BM10, BM06, BM05,
BM02, BM03 dan BM01. Subkelompok IIc terdiri dari BM64, BM63, BM62,
BM60, BM59, BM58, BM57, BM56, BM47, BM45, BM29, BM28, BM26, BM25
dan BM24.
Genotipe BM01 dan BM07 potensial dikembangkan dalam program
pemuliaan tanaman. Genotipe tersebut memiliki perbedaan pada karakter tajuk dan
umbi serta memiliki senyawa spesifik pada kelompok sulfur
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat.
Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun
total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha
memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah
merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9,
PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen
sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan
rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal
dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang
antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di
lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya,
Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten
Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2,
PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola,
Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal
dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan
keragaan produksi pada bahan tanam stek buku tunggal dipengaruhi oleh genotipe.
Genotipe PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding
genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada
percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan
Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman
genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi
menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya
yaitu 17,00 ton ha-1
Karakteristik Morfologi Dan Molekuler 18 Genotipe Cabai Hias (Capsicum Spp.)
Pengkajian mengenai cabai hias di Indonesia masih terbatas. Karakterisasi berdasarkan morfologi dan penanda molekuler genotipe cabai hias (Capsicum spp.) sebagai penelitian awal untuk program pemuliaan perlu dilakukan. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) yang terdiri atas 18 genotipe cabai hias sebagai perlakuan dengan tiga ulangan. Terdapat tiga jenis karakter yang diamati pada penelitian ini, yakni kuantitatif, kualitatif dan molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar 18 genotipe cabai hias berdasarkan karakter morfologi dan molekuler. Analisis molekuler menunjukkan tingkat polimorfisme yang sangat tinggi sebesar 98.18%. Berdasarkan analisis gerombol pada molekuler dengan koefisien kemiripan 54% terbagi menjadi 4 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H10, IPB H3, Triwarsana 1-5, IPB H4, IPB H2, IPB Ungara, dan IPB H6, (2) kelompok B meliputi IPB H5, Triwarsana 1-3, IPB Seroja, IPB H13, Triwarsana 1-1, IPB H7, IPB H12, dan IPB H9, (3) kelompok C adalah IPB H8, (4) kelompok D adalah IPB H11, sedangkan berdasarkan karakter kualitatif dengan koefisien kemiripan sebesar 54% membentuk 5 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H3, IPB H8, IPB Ungara, (2) kelompok B meliputi IPB H2 dan IPB H6, (3) kelompok C meliputi IPB H4, Triwarsana 1-5, Triwarsana 1-1, IPB H13, IPB Seroja, Triwarsana 1-3, IPB H10, (4) kelompok D meliputi IPB H5, IPB H12, IPB H7, IPB H9, (5) kelompok E adalah IPB H11
Uji Daya Hasil Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) IPB di Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi kentang nasional, adalah melakukan pengembangan varietas baru berdaya hasil tinggi dan berkualitas sebagai bibit bermutu. Uji daya hasil merupakan salah satu tahapan dalam kegiatan perakitan varietas baru untuk mengetahui kestabilan hasil dan kemampuan adaptasi dari suatu genotipe terhadap lingkungan tumbuhnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya hasil beberapa genotipe kentang IPB di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasir Sarongge, Cianjur, Jawa Barat pada bulan Februari hingga Mei 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) satu faktor dengan tiga ulangan. Faktor yang diamati berupa genotipe dengan sepuluh taraf percobaan. Bahan tanam yang digunakan adalah enam genotipe kentang IPB, yaitu PKHT-02, PKHT-03, PKHT-04, PKHT-06, PKHT-10, PKHT-12 dan empat varietas pembanding, yaitu Granola, Atlantik, Medians, Intan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe PKHT-10 memiliki kualitas umbi yang cocok untuk kentang industri dan memiliki produktivitas lebih tinggi dari varietas Atlantik. Genotipe lain yang memiliki produktivitas tidak berbeda dengan Granola yaitu, PKHT-02, PKHT-03, PKHT-04, dan PKHT-06. Genotipe yang memiliki hasil lebih tinggi dan tidak berbeda dengan varietas pembanding diharapkan berpotensi sebagai alternatif dan dapat dikembangkan sebagai varietas kentang baru
Ketahanan Bawang Merah (Allium cepa var Ascalonicum) terhadap Colletotrichum gloeosporioides Penz.
Antraknos merupakan salah satu penyakit utama pada bawang merah (Allium cepa var Ascalonicum) yang disebabkan oleh patogen Colletotrichum gloeosporioides Penz. Penggunaan varietas tahan terhadap penyakit akan mengurangi konsumsi penggunaan bahan kimia pada tanaman sehingga dapat menjaga kelestarian lingkungan. Informasi mengenai varietas bawang merah yang tahan terhadap penyakit antraknos masih terbatas sehingga dibutuhkan skrening keparahan penyakit. Kemampuan tanaman untuk merespon serangan patogen perlu diperhatikan. Respon ketahanan yang bersifat konstitutif akan membuat tanaman selalu melakukan mekanisme pertahanan diri walaupun disaat tanaman dalam kondisi sehat. Hal ini dapat mengurangi hasil produksi tanaman tersebut. Sedangkan respon ketahanan yang bersifat inducible akan sangat menguntungkan, karena respon tersebut hanya aktif saat muncul serangan patogen dan mengakibatkan hasil produksi tanaman tetap optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nformasi tentang korelasi senyawa metabolit sekunder dan karakter anatomi daun yang terkait dengan ketahanan patogen Colletotrichum gloeosporioides pada tanaman bawang merah (Allium cepa var ascalonicum)
Penelitian ini terdiri dari tiga sub percobaan. Percobaan pertama adalah skrining ketahanan tanaman bawang merah terhadap Colletotrichum gloeosporioides yang dilakukan pada bulan Agustus 2017 sampai bulan Januari 2018 di Rumah kaca Cikabayan dan Laboratorium Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian, IPB. Percobaan ini menggunakan 14 aksesi bawang merah yang terdiri dari Bima Brebes, Biru Lancor, Manjung, Super Philip, Trisula, Tajuk, Kramat-2, Bauji, Bali Karet, Maja Cipanas, Mentes, Pikatan, Pancasona dan Rubaru. Perkembangan gejala ditaksir merujuk pada metode Galvan et al (1997). Data yang didapat akan dianalisis ANOVA menggunakan aplikasi SAS versi 9.1.3 dan uji lanjut menggunakan uji BNJ. Hasil penelitian menyatakan bahwa Rubaru merupakan varietas yang paling tahan terhadap C. gloeosporioides Penz dengan nilai keparahan penyakit sebesar 30% dan varietas Biru Lancor merupakan varietas yang paling rentan terhadap C. gloeosporioides Penz dengan nilai keparahan penyakit sebesar 95%.
Percobaan kedua adalah identifikasi karakter anatomi daun bawang merah terhadap C gloeosporioides. Percobaan ini dilaksanakan pada bulan November 2017 di Laboratorium Mikroteknik, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB. Percobaan ini menggunakan 3 varietas bawang merah yakni Biru Lancor dan Super Philip (rentan), serta Rubaru (tahan). Penelitian ini disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor, yakni faktor genotipe dan perlakuan infeksi patogen. Data yang didapat akan dianalisis sidik ragam ANOVA menggunakan aplikasi SAS versi 9.1.3 dan uji lanjut menggunakan uji Duncan, selanjutnya dilakukan analisis korelasi spearman menggunakan aplikasi SAS versi 9.1.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan palisade merupakan karakter yang terkait dengan ketahanan bawang
merah terhadap C. gloeosporioides. Karakter ketahanan tersebut mengalami peningkatan ketebalan tertinggi pada varietas Rubaru saat terserang patogen C. gloeosporioides.
Percobaan ketiga adalah identifikasi metabolit sekunder bawang merah terhadap C gloeosporioides. Percobaan ini dilaksanakan pada bulan November 2017 di Laboratorium Kimia Terpadu Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor dengan menggunakan dua varietas bawang merah yakni Biru Lancor dan Rubaru. Percobaan ini disusun menggunakan rancangan tersarang dengan dua faktor, yakni factor genotype dan perlakuan infeksi patogen. Data yang didapat akan dianalisis sidik ragam ANOVA menggunakan aplikasi SAS versi 9.1.3 dan data disajikan dalam bentuk bagan histogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa carbamic acid merupakan senyawa elicitor pada jalur transduksi jasmonic acid dan menginduksi respon ketahanan bawang merah terhadap C. gloeosporioides
Evaluasi Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Gunung Sejahtera PT Pertiwi Agro Sejahtera Landak, Kalimantan Barat.
Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Gunung Sejahtera PT Pertiwi Agro Sejahtera, Landak, Kalimantan Barat pada tanggal 13 Februari 2019 hingga 15 Mei 2019. Kegiatan magang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman kerja secara nyata dalam aspek budidaya tanaman kelapa sawit baik secara teknis di lapangan maupun aspek manajerial. Tujuan khusus kegiatan magang ialah mempelajari dan mengevaluasi kegiatan pemupukan pada tanaman kelapa sawit berdasarkan efektivitas pemupukan yang terdapat di Divisi I PT PAS. Metode yang dilaksanakan selama kegiatan magang yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif, rata-rata, dan uji t-student menggunakan Minitab 16. Pengamatan dilakukan terhadap efektivitas pemupukan meliputi kaidah 6T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, tepat tempat, dan tepat alat), prestasi kerja, dan gejala defisiensi hara. Hasil pengamatan gejala defisiensi unsur hara secara visual menunjukkan tanaman kelapa sawit masih mengalami kekurangan unsur Magnesium, Kalium, Boron, dan Nitrogen
Karakterisasi Morfologi Umbi dan Fisikokimia Tepung Kentang Genotipe PKHT-4, PKHT-6, dan PKHT-10 untuk Industri Pangan Olahan
Kentang merupakan salah satu tanaman penghasil umbi yang digemari
masyarakat Indonesia. Kentang merupakan sumber karbohidrat. Olahan kentang
dapat berupa sayur, serta olahan pangan lainnya seperti keripik kentang, french
fries, dan sebagainya. Namun, beberapa varietas memiliki sifat yang kurang
kompatibel untuk dijadikan olahan pangan dan industri. Institut Pertanian Bogor
lewat Pusat Kajian Hortikultura Tropika sedang mengembangkan varietas kentang
baru yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan olahan industri dan pangan.
Penelitian menggunakan kentang genotipe PKHT-4, PKHT-6, dan PKHT-10 dan
pembandingnya yaitu varietas Granola dan Medians. Penelitian dilakukan di Pusat
Kajian Hortikultura Tropika, Bogor, Southeast Asian Food an Agricultural
Science and Technology (SEAFAST), Institut Pertanian Bogor serta Laboratorium
MBRIO Padjajaran, Bogor mulai dari November 2018 sampai Januari 2019. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa genotipe hasil pemuliaan IPB memiliki karakter
yang lebih baik dari varietas Medians sebagai varietas olahan industri. Genotipe
PKHT-4 memiliki massa jenis, kadar air, kadar lemak, kadar protein, serta tingkat
produktivitas yang lebih unggul dari varietas Medians. Genotipe PKHT-6
memiliki massa jenis, kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat
serta tingkat produktivitas yang lebih baik dari varietas Medians. Genotipe
PKHT-10 memiliki keunggulan dengan varietas Medians pada massa jenis, kadar
abu, dan karbohidrat. Masing-masing genotipe tersebut memiliki potensi
kegunaan pada olahan industri dan pangan
- …
