1,721,048 research outputs found
Keragaman Genetik dan Konektivitas Populasi Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Utara Jawa Berdasarkan Marka DNA Mitokondria.
Permintaan rajungan (Portunus pelagicus) semakin meningkat di dalam
ataupun luar negri, sehingga rajungan menjadi komoditas perikanan penting bagi
Indonesia. Tangkapan rajungan (P. pelagicus) yang berlebih (over fishing) untuk
memenuhi tingginya permintaan menyebabkan populasi rajungan menurun.
Strategi efektif untuk pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan dengan
memperhatikan aspek keanekaragaman genetik dan konektivitas populasi. Aspek
keragaman genetik dan konektivitas dapat mempengaruhi kemampuan individu
dalam mempertahankan hidupnya secara langsung maupun tidak. Penelitian ini
bertujuan menganalisa variasi karakter populasi dan konektifitas populasi
rajungan di Perairan Utara Jawa meliputi, Pulau Lancang, Rembang, dan
Pamekasan. Rekonstruksi pohon filogenetik dari tiga populasi menunjukan
kekerabatan yang dekat dengan tergabungnya antar populasi dalam satu clade.
Hasil analisis Fixation index (!!") yaitu 0.062 menunjukan populasi rajungan di
Perairan Utara Jawa dikelola secara bersamaan. Nilai keragaman nukleotida antar
populasi berkisar 0.012% hingga 0.015% dan keragaman haplotipe berkisar 0.654
hingga 0.773, menunjukan populasi Pulau Lancang, Pamekasan, Rembang
memiliki kekerabatan sedang. Hal tersebut dikarenakan larva rajungan bersifat
planktonik atau pergerakannya dipengaruhi oleh arus, sehingga populasi relatif
tercampur. Hasil analisis keanekaragaman genetik dan konektivitas populasi dapat
dijadikan data dasar untuk pengelolaan perikanan rajungan (P. pelagicus) yang
berkelanjutan
Analisis Pemanfaatan Pengetahuan Ekologi Lokal Dalam Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (Kkpd) Pesisir Timur Pulau Weh (Ptpw) Sabang
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi
Tenggara. Secara keseluruhan wilayah adminstrasi Wakatobi merupakan taman
nasional yang ditetapkan berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan
No.7651/KPTS-II/2002 tanggal 19 Agustus tahun 2002.Taman Nasional
Wakatobi merupakan taman laut terbesar kedua yang di miliki Indonesia dan
menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata nasional. Merupakan cagar Biosfer
terbaru Indonesia yang ditetapkan oleh UNESCO melalui sidang ke-24 ICC-MAB
program pada tahun 2012 di Paris. Posisi Geostrategis Wakatobi di tengah pusat
karang dunia, menyebabkan daerah ini sebagai wilayah yang memiliki
keanekaragamn hayati yang sangat tinggi dan mempunyai pemandangan alam
bawah laut yang indah dan eksotik. Keunggulan lokasi (geographical advantage)
menjadi alasan Pemerintah Daerah menetapkan Ekowisata sebagai paradigma
pembangunan wilayah Wakatobi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak ekowisata bagi perekonomian
pada tingkatan makro (ekonomi wilayah setempat) dan mikro (ekonomi
rumahtangga) melalui sistem penghidupan dan tingkat resiliensi rumahtangga
setelah ekowisata dikembangkan di Wakatobi menggunakan pendekatan
“Sustainable Livelihood aproach”. Hasil kesimpulan penelitian ini adalah pada
aras makro variabel yang mewakili aktivitas wisata yaitu hotel dan homestay
serta jumlah wisatawan berkorelasi positif dan sangat kuat terhadap beberapa
variabel ekonomi makro seperti PDRB, PDRB perkapita dan PAD, namun
bekorelasi negatif terhadap penduduk miskin. Artinya kegiatan wisata belum
dapat mengurangi tingkat kemiskinan yang terjadi di Wakatobi. Secara
keseluruhan struktur nafkah masyarakat tidak menjadi lebih baik karena adanya
pengembangan kegiatan ekowisata. Sektor pertanian masih menjadi sumber
penghidupan utama. Selain itu tingkat pendapatan perkapita masyarakat diseluruh
lapisan rumahtangga masih rendah, terutama pendapatan lapisan menengah bawah
masih sangat jauh dari garis kemiskinan. Namun aktivitas ekowisata dapat
meningkatkan resiliensi ekonomi rumahtangga. Hal ini terlihat dari lapisan
rumahtangga atas memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan lapisan menengah dan bawah.
Ekowisata belum berkontribusi besar dalam pembangunan wilayah karena
terjadi persoalan ”Decoupling Sustainability”, hal ini menghambat tercapainya
tujuan pembangunan wilayah yang berbasiskan ekowisata yaitu kelesetarian alam
terjaga dan masyarakat lokal memperoleh manfaat. Tetapi yang terjadi adalah
pembangunan ekowisata yang belum inklusif sehingga hanya lapisan
rumahtangga atas yang mampu mengakses peluang yang tersedia. Ekowisata pada
dasarnya dapat meningkatkan resiliensi ekonomi rumahtangga
Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Larva Ikan Terumbu beserta Status Konservasi dan Perdagangan
Identifikasi larva ikan biasanya dilakukan berdasarkan karakter morfologi. Namun, banyak dari karakter morfologi ikan tidak muncul sampai dewasa dan secara morfologi banyak berbeda dari dewasanya. Oleh karena itu, identifikasi menggunakan karakter molekuler dapat membantu mengidentifikasi tahap larva ikan di tingkat spesies. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi larva ikan berdasarkan karakter morfologi dan molekuler. Selain itu, spesies yang diidentifikasi adalah korfirmasi untuk status konservasi dan perdagangan berdasarkan IUCN dan CITES. Berdasarkan identifikasi morfologi spesimen diidentifikasi hingga tingkat famili (famili Kuhlidae, famili Labridae, famili Apogonidae) tetapi, identifikasi menggunakan teknik molekuler, spesimen yang diidentifikasi hingga tingkat spesies (Ambassis marianus, Nectamia savayensis, Cheilinus undulatus). Tiga kategori status konservasi diidentifikasi: status risiko rendah (Ambassis marianus), status belum terdaftar (Nectamia savayensis) dan status genting (Cheilinus undulatus) . Dua status perdagangan diidentifikasi: tidak terdaftar (Ambassis Marianus dan Nectamia savayensis) dan status Appendix II (Cheilinus undulatus)
DNA Barcoding, Rekonstruksi Filogenetik dan Struktur Populasi Makroalga Antar Ekoregion Laut Indonesia
Makroalga memiliki banyak manfaat, baik manfaat secara ekologis maupun
ekonomis bagi masyarakat. Berdasarkan pentingnya peranan makroalga, maka
perlu dilakukan pendataan atau inventarisasi makroalga di berbagai perairan laut
di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis secara
molekuler dan morfologi, merekonstruksi pohon filogenetik, menganalisis kondisi
dan keterkaitan makroalga melalui penutupan, kepadatan, dan indeks ekologi
makroalga antar ekoregion laut yang ada di Perairan Kepulauan Seribu,
Karimunjawa, Luwuk, dan Wakatobi.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga bulan Agustus 2016 di
Perairan Kepulauan Seribu, Karimunjawa, Luwuk, dan Wakatobi. Pada Perairan
Kepulauan Seribu dilakukan identifikasi sekaligus membuat rekonstruksi.
Tahapan yang digunakan ada tiga, yaitu ekstraksi, PCR dan elektroforesis. Target
penanda untuk amplifikasi DNA adalah tufA. Pada ketiga lokasi lainnya dilakukan
sampling yang diwakili oleh tiga stasiun pengamatan di setiap lokasi dan setiap
stasiun terdiri dari tiga pengulangan. Transek garis dengan membentangkan
rollmeter sepanjang 50 meter diletakkan sejajar dengan garis pantai di daerah
terumbu karang pada kedalaman 10 meter dan jarak antar transek adalah 10 meter.
Pengamatan penutupan dan kepadatan makroalga pada setiap transek dilakukan
dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 50 cm x 50 cm dengan jarak
antar transek kuadrat sebesar 5 meter. Identifikasi dan perhitungan makroalga
dihitung di setiap transek kuadrat menggunakan perangkat lunak Coral Point
Count with Excell Extension (CPCe). Analisis data yang dilakukan untuk
menghitung penutupan, kepadatan, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks
Kemerataan (E), dan Indeks Dominasi (D).
Hasil dari Kepulauan Seribu yang teramplifikasi dengan baik berjumlah 3
sampel dari total 9 sampel. Hasil penelitian dari perairan Karimunjawa (Jawa
Tengah), Luwuk (Sulawesi Tengah), dan Wakatobi (Sulawesi Tenggara)
ditemukan 16 spesies makroalga. Terdapat perbedaan nyata untuk penutupan dan
kepadatan makroalga dari ketiga lokasi pengamatan (p<0.05). Spesies Jania
adhaerens memiliki penutupan dan kepadatan terbesar di Luwuk, diikuti oleh
Wakatobi dan terendah di Karimunjawa. Keanekaragaman dan kemerataan
makroalga yang tertinggi terdapat di Wakatobi namun paling rendah untuk indeks
dominan. Hasil analisis cluster berdasarkan kepadatan dan spesies-spesies yang
ditemukan di ketiga wilayah menunjukkan bahwa Wakatobi dan Luwuk memiliki
tingkat kemiripan yang tinggi
Keanekaragaman Spesies dan Kelompok fungsional dari Biota Penempel di Kepulauan Banda Neira.
Kelompok fungsional didefinisikan sebagai kumpulan spesies yang melakukan fungsi yang sama walaupun berbeda taksonomi. Kelompok fungsional digunakan untuk menyelidiki efek perubahan lingkungan pada komunitas biotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies dan kelompok fungsional dari organisme penempel di lokasi pelabuhan dan lokasi terumbu karang di perairan Banda Neira untuk mendapatkan data terkait organisme penempel yang mungkin sebagai spesies invasif. Pemasangan alat settlement arrays sebagai media tumbuh dilakukan di delapan titik pengambilan data dan diletakkan di kedalaman 2 meter dan 5 meter. Empat titik di lokasi pelabuhan dan empat titik di lokasi terumbu karang. Alat settlement arrays di satu titik pengambilan data terdiri dari 8 plat PVC di kedalaman 2 meter dan 8 plat PVC di kedalaman 5 meter. Ditemukan sebanyak 9 kelompok fungsional dengan 33 spesies yang menempel di settlement arrays. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jangka waktu minimal 5 bulan paling bagus bagi keanekaragaman hayati dan meningkat lebih jauh setelah 5 bulan. Keanekaragaman spesies di lokasi pelabuhan lebih tinggi dibandingkan di lokasi terumbu karang dan kedalaman 2 meter maupun 5 meter tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keanekaragaman spesies
Variasi Genetik dan Morfologi serta Tingkat Kekerabatan Kelinci Laut (Phyllidiidae) antara Populasi Papua dan Australia
Sea slugs are shell-less marine molluscs which is classified in the order Nudibranchia within the gastropod group and subclass Opisthobranchiata. The identification process of sea slugs is barely difficult, since they are genetically close-related and morphologically similar among their groups. Nudibranch has a high biodiversity in the Indonesia and Australia waters. However, the study of kinship between the two types are still rare. Therefore, The study was conducted : (1) to identify sea slugs in Papua using morphological and molecular characterization, (2) to identify genetic variation and to reconstruct phylogenetic tree of sea slugs from Papua and Australia population. A total of 4 samples were analyzed : 2 samples (Phyllidia ocellata and Phyllidiella pustulosa) from Papua and 2 samples (Phyllidia ocellata and Phyllidiella pustulosa) from Australia downloaded from Genbank. Homology results from BLAST analysis for Papua’s sea slug samples ranges between 88-98%. Genetic distance were formed ranged from 0.019 to 0.193. Phylogenetic reconstruction was able to classify and show the close relationship of sea slugs population in Papua and Australia
Struktur Genetik dan Filogenetik Ikan Tuna (Thunnus spp.) di TPI Tanjung Luar, Lombok Berdasarkan DNA Mitokondria
Tuna is the third largest fishery commodities in Indonesia after shrimp and demersal fish. Identification of tuna has been difficult because of the close genetic relationships among these species and the ease with which morphological characters may be removed once a fish has been landed. This research aims to identify species, investigate the genetic and phylogenetic structure of tuna that landed and traded in Tanjung Luar fish market, Lombok. The polymerase chain reaction was used to amplify segment of the mitochondrial control region gene from members of these species. 43 samples fins tuna were collected consists of 34 Thunus albacares and 9 Thunus obesus, with homology analysis of BLAST ranged between 98-100%. The average of sequence was 533 bp and there were 30 nucleotides different. Phylogenetic trees forming two clades, Thunus albacares and Thunus obesus, with genetic distance ranged from 0 to 0,145. The clades revealed after bootstrapping generally corresponded well with expectations. This methodology should prove very useful for enforcing the regulations governing Indonesia's bluefin tuna fishing industry
Distribusi Dan Kelimpahan Nudibranchia (Moluska) Di Teluk Jakarta.
Nudibranch is a group of marine gastropod molluscs which shed their shell after their larvae stage. Nudibranchia is benthic animals which consume algae, sponges, hard and soft corals, bryozoans, and hydroids . Nudibranch occur in coral reefs with high density. However, distribution and abundance of nudibranchia in Jakarta Bay are lack known. This study aimed to measure the density and abundance of Nudibranch. Therefore, the study was conducted on September 6 to 8, 2013 at 10 sites on the Jakarta Bay. Distribution and abundance data were collected by using the belt transect method (Belt Transect) and Line Intercept Transect (LIT). A total of 6 family of 18 species and 97 individuals Nudibranch was observed in the study sites. The highest Nudibranch density was found in the Kayangan Island (51 individu/500 m²) and the lowest Nudibranch density was found in the Untung Jawa island (0 individu/500 m²)
Pola Distribusi Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Berdasarkan Struktur Genetik di Teluk Cendrawasih, Pulau Kapoposang, dan Kupang.Pola Distribusi Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Berdasarkan Struktur Genetik di Teluk Cendrawasih, Pulau Kapoposang, dan Kupang.
The olive ridley sea turtle (Lepidochelys olivacea) is one species of sea turtles that can be found in Indonesia. The distribution pattern of olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea) based on the genetic structure is poorly known. Therefore, this study aimed to determine the distribution pattern of olive ridley sea turtle (Lepidochelys olivacea) based on the genetic structure Mitochondrial. DNA Cytochrome Oxidase 1 (CO1) was used as marker. The distribution pattern indicated that the absence of inter-population genetic structure of olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea) between three populations of Cendrawasih Bay, Kapoposang Island, and Kupang (FST=-0.023;P-value=0.462). High genetic diversity was observed in three populations (h=1.00+/-0.04). High gene flow seems influenced by the behavior of turtle migration. The olive ridley turtle migration patterns moving within the Indonesian waters
Identifikasi Molekuler, Keragaman Genetik Dan Karakteristik Habitat Siput Laut (Nudibranchia) Dari Beberapa Populasi Di Indonesia
Nudibranchia berasal dari “Nudus” berarti telanjang dan “Branchia” yang berarti insang. Spesies Nudibranchia yang telah teridentifikasi di kawasan perairan Indonesia sebanyak 59 spesies dan terdiri dari 15 famili. Namun, eksplorasi di studi tentang jenis-jenis nudibranch di Indonesia masih jarang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi serta menganalisis keragaman genetik nudibranch di Indonesia dengan menggunakan metode molekuler, menganalisis karakteristik habitat dan hubungannya dengan spesies nudibranch di Indonesia. Metode yang digunakan adalah DNA Barcoding dengan marka mitokondria lokus Cytochrom oxidase 1 (CO1). Hasil BLAST yang diinterpretasikan dalam pohon filogenetik menghasilkan 14 spesies nudibranch dari 30 sampel dengan tujuh lokasi di Indonesia. Keragaman haplotipe untuk setiap spesies nudibranch berbeda-beda dengan kategori rendah hingga sedang serta memiliki nilai keragaman genetik 0 - 0.5. Nilai keragaman genetik rendah terdapat pada spesies Phyllidiella pustulosa di Gosong pramuka, Phyllidiella pustulosa di Papua, Phyllidia ocellata di Papua, Phyllidiella pustulosa, Phyllidia ocellata, Chromodoris annae and Elysia cf marginata di Papua, Phyllidia elegans dan Phyllidia coelestis di Luwuk, Phyllidia varicosa di Nusa Penida, Taringa caudata di Pulau Dapur, Doriprismatica atromarginata, Mexichromis multituberculata, Risbecia tyroni, Chromodoris striatella di Teluk Jakarta. Nilai keragaman genetik sedang terdapat pada Phyllidiella pustulosa di Luwuk, Nusa Penida dan Biak, Chromodoris magnifica di Nusa Penida, serta Plakobranchus sp. di Papua. Hubungan karakteristik habitat dengan spesies nudibranch didapatkan melalui Correspondence Analysis (CA) yang menjelaskan spesies nudibranch yang termasuk kedalam famili Phyllidiidae habitatnya adalah terumbu karang dan spesies dalam famili Chromodorididae banyak mendiami rubbel sebagai habitatnya
- …
