4 research outputs found
PERANAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DALAM PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DI DESA KARANG PUCUNG KECAMATAN TAMBAK KABUPATEN BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH
ABSTRAK Alam, Mochamad Syamsul. 2016. Peranan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pelaksanaan pembangunan di desa Karang Pucung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum Kata Kunci: Peran, Badan Permusyawaratan Desa, Pembangunan Desa yang merupakan lingkup organisasi atau susunan pemerintahan terkecil dan lebih dekat dengan masyarakat, mempunyai peran penting untuk menjalankan otonomi yang diamanatkan oleh konstitusi sebagai jalan menuju rakyat yang sejahtera. Pelayanan pemerintah desa merupakan subsistem dari sistem peyelenggaraan pemerintah, sehingga desa mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang merupakan perwujudan dari sistem demokrasi, di dalam UU desa mengatakan bahwa BPD merupakan lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil penduduk desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis. BPD dilihat dari wewenangnya dapat dikatakan sebagai lembaga legislatif di tingkat desa, sedangkan pemerintah desa dan perangkat desa yang lainnya adalah lembaga eksekutif. Penduduk desa Karang Pucung beragam dari mayoritas petani, pedagang, pegawai negeri hingga pensiunan. Namun denyut perekonomiannya tidak begitu terasa, dimana pasarnya yang hanya beroperasi 3 kali seminggu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) peranan BPD dalam pelaksanaan pembangunan di desa Karang Pucung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah, (2) faktor- faktor pendukung BPD dalam pelaksanaan pembangunan di desa Karang Pucung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah, (3) kendala yang dihadapi dan solusi yang dilakukan oleh BPD dalam pelaksanaan pembangunan di desa Karang Pucung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, penelitian ini dilaksanakan di desa Karang Pucung Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Sebagaimana dalam penelitian kualitatif, data yang digunakan adalah data naturalistik, asli yang dikumpulkan dari partisipan tanpa mengalami perubahan. Pengumpulan datanya melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian didapatkan (1) peran BPD dalam pembangunan yaitu bersama – sama dengan kepala desa membahas rancangan peraturan desa, mengevaluasi kinerja kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, mengawasi dan memonitoring proses kerja baik yang dilakukan pemerintah desa maupun pihak ketiga, serta melakukan pengawasan terhadap peraturan desa. (2) Faktor pendukungnya yaitu memiliki kantor secretariat, tersedianya dana operasional, memiliki inventaris tetap serta dukungan dari pemerintah desa dan masyarakat. (3) Kendala dan solusinya adalah terbatasnya alokasi dana solusinya dengan mencari dana tambahan ke pihak lain, minimnya peralatan solusinya BPD berusaha mengajukan proposal sedetail mungkin agar waktu pembangunan tidak kekurangan peralatan, tidak tersedianya dana talangan solusinya melakukan kerjasama dengan pihak terkait, perbedaan antara tokoh masyarakat, BPD dan pemerintah desa solusinya BPD menjelaskan fungsi dan manfaat proyek pembangunan tersebut kepada tokoh masyarakat serta menjelaskan pentingnya pembangunan ini kepada pemerintah desa. Sarannya yaitu bagi pemerintah desa Karang Pucung diharapkan memberikan perhatian dan membantu warganya untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi agar menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan nantinya dapat memberikan manfaat dalam pembangunan desa. Kemudian bagi BPD dan aparatur desa lainnya agar lebih merencanakan anggaran dengan cermat dan menentukan skala prioritas supaya proses pembangunan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan warga yang paling mendesak
Evaluating integrated learning: A SECI model approach through importance-performance analysis
This study evaluates the integration of learning models within the Ministry of Finance of Indonesia, using the SECI model as a theoretical framework to assess knowledge management practices. The research addresses the urgent need for effective knowledge integration in public sector organizations, particularly in light of the Ministry’s adoption of the 70:20:10 learning model. The primary objective is to analyze the alignment of this model with the SECI framework and identify areas for improvement in knowledge management practices. A quantitative research design was employed, utilizing Importance-Performance Analysis (IPA) to assess the perceived importance and performance of three integrated learning models: Learning from Experience, Social Learning, and Formal Learning. Data were collected from 382 employees using surveys based on a 1-5 Likert scale. The results indicate significant gaps in the integration of explicit knowledge, particularly in the Learning from Experience and Social Learning models. These models were found to lack sufficient structures for organizing and disseminating explicit knowledge, which hindered their effectiveness. The study recommends the development of a centralized knowledge management system, standardized documentation guidelines, and enhanced collaborative learning environments to address these gaps. This research contributes to the theoretical understanding of the SECI model in public sector learning environments and offers practical insights for improving knowledge management strategies. The findings provide valuable implications for policy and decision-making, aiming to optimize learning processes and enhance organizational performance in public sector institutions
Melalui metode Gathering Plus dalam meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran IPA pada siswa kelas III di MI Syamsul Huda Santren Nanggungan Kediri
ABSTRAK
Pendekatan Outdoor Learning melalui metode Gathering Plus Merupakan suatu bentuk wisata di alam terbuka yang dirancang dalam suasana rekreasi, santai dan gembira dengan muatan educative. Dengan metode Gathering Plus, proses belajar mengajar akan lebih konkret, lebih realistis, lebih aktual, lebih menyenangkan, dan lebih bermakna. Proses belajar mengajar metode Gathering Plus ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar (kualitas, kreativitas, produktivitas, efisiensi dan efektifitas). Dengan metode Gathering Plus, siswa akan mampu memecahkan masalahnya sendiri, yang paling penting melakukan tugasnya sesuai dengan pengetahuan yang mereka lihat.
Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Disini guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat besar, disamping sebagai fasilitator dalam pembelajaran siswa juga sebagai pembimbing yang mengarahkan peserta didiknya sehingga mejadi manusia yang mempunyai pengetahuan luas baik pengetahuan agama, kecerdasan, kecakapan hidup, keterampilan, budi pekerti luhur dan kepribadian baik dan bisa membangun dirinya untuk lebih baik dari sebelumnya serta memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa.
Berpijak pada latar belakang diatas maka permasalahan yang timbul adalah: 1.) Apakah pendekatan Outdoor Learning melalui metode Gathering Plus dapat meningkatkan prestasi belajar IPA bagi siswa? 2.) Bagaimana proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode Gathering Plus? 3.) Bagaimana hasil evaluasi yang dicapai siswa dengan menggunakan metode Gathering Plus? Adapun tujuan yang ingin diketahui dari permasalahan tersebut diatas adalah: 1.) Mengetahui apakah pendekatan Outdoor Learning melalui metode Gathering Plus dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 2.) mendeskripsikan proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode Gathering Plus. 3.) mendeskripsikan hasil evaluasi siswa dengan menggunakan metode Gathering Plus.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, desain yang digunakan adalah desain penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam pengumpulkan data, penulis menggunakan beberapa metode yaitu: metode observasi, metode dokumentasi dan metode interview, adapun yang menjadi responden adalah Kepala Madrasah, guru IPA kelas III dan siswa kelas III di MI Syamsul Huda. sedangkan untuk menganalisisnya penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu berupa data-data yang tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang diamati dan data hasil tes yang telah dilakukan, sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya. Selain itu, untuk mendukung uraian dari keadaan yang sebenarnya ada dilapangan, disini penulis sertakan table sebagai pelengkap data.
Hasil penelitian ini menunjukan hasil yang positif. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pendekatan Outdoor Learning melalui metode Gathering Plus dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas III pada matapelajaran IPA. Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti menyarankan agar metode Gathering Plus ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
ABSTRACT
Outdoor Learning approach through methods Gathering Plus is a form of travel designed outdoor recreation in the atmosphere, relaxed and happy with the charge educative. With the method Gathering Plus, the learning process will be more concrete, more realistic, more actual, more fun, and more meaningfu l. The process of teaching and learning methods Gathering Plus is expected to improve learning outcomes (quality, creativity, productivity, efficiency and effectiveness). With the method Gathering Plus, students will be able to solve their own problems, the most important perform their duties in accordance with the knowledge of what they see.
The process of teaching and learning is at the core of educational activities in schools. Here teachers as educators have a very big role, as well as a facilitator of student learning as well as the supervisor who directed learners that form the human who has extensive knowledge of both religious knowledge, intelligence, life skills, skills, noble character and good personality and be able to build himself to be better than ever and has a great responsibility in nation building.
Building on the background above, the problems that arise are: 1.) Is Outdoor Learning approach through methods Gathering Plus can improve science achievement for students? 2.) How is the process of learning science using the Gathering Plus? 3.) How evaluation results achieved by students using the Gathering Plus? The objectives were to know of the problems above are: 1.) Knowing whether the approach Outdoor Learning through methods Gathering Plus can improve student achievement. 2.) Describe the process of learning science using the Gathering Plus. 3.) Describe the results of student evaluations using the Gathering Plus.
Research by the author is included in the descriptive qualitative research, the design used is the design of Classroom Action Research (CAR). In pengumpulkan data, the authors use several methods, namely: observation methods, methods of documentation and interview methods, while the respondents are Principals, third grade science teacher and third grade students at MI Syamsul Huda. while to analyze authors used a qualitative descriptive analysis of the data in the form of written or spoken of people and the observed behavior and test data that has been done, so in this case the authors attempt to conduct research that is thoroughly describe the actual state of affairs. In addition, to support the description of the real situation existing in the field, the authors include a table here as complementary data.
These results indicate a positive result. Based on the results of this study concluded that the approach Outdoor Learning through methods Gathering Plus can improve the learning process and results in the third grade students Lesson Sains. Therefore, in this case the researchers suggest that the method Gathering Plus can be an alternative to implement the learning in the classroom to improve student achievement
THE ROLE OF THE MOSQUE IN ESTABLISHING PEACE OF COMMUNITY AFFECTED BY DISASTER AFFECTS (CASE STUDY OF MOSQUES IN PALU CITY)
This paper wants to show that mosques can help peace of mind for people affected by disasters. Many people who are affected by disasters, especially Muslims, when natural disasters occur, many run to the mosque. This phenomenon is very worthy of research and this happened in the city of Palu. In this study the author has also compared several other works with the author's writings including, first, Muhadi's work with the title Mosque as a Da'wah Center, and secondly Nurul Jannah's work with the title Revitalizing the Role of Mosques in the Modern Era (Case Study of Medan City), third, there is also M Syafi's work entitled Building Mosques at the Time of the Prophet and Its Implications for Women's Mosque Congregations, Fourth Mosque-Based Community Education by Suhairi Umar and fifth a journal article entitled "Mosques in the Trajectory of Islamic History" by Syamsul Kurniawan. These five works both explain about mosques, but there are several aspects that are examined differently, namely the object of this research study is the people who live in the area around the mosque whether they are calm or not, while the three works do not explain this. While the method used is descriptive analysis by using this method researchers will collect data based on the results of interviews with researchers. Based on the results of this study, the mosque is able to provide peace of mind due to the closeness of a human being with his god, when in the mosque a human feels that God or the Khaliq is near him, causing him to feel calm. This also happened in the city of Palu, when an earthquake occurred, some people ran to the mosque.
Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa masjid dapat membantu ketenangan jiwa bagi masyarakat yang terkena bencana. Banyak masyarakat yang terkena bencana khususnya umat Islam, ketika terjadi peristiwa bencana alam banyak yang berlarian ke masjid. Fenomena ini sangat layak untuk diteliti dan ini terjadi di kota Palu. Dalam penelitian ini penulis juga telah membandingkan dengan beberapa karya yang lain denan tulisan penulis diantaranya, pertama, karya Muhadi dengan judul Masjid sebagai Pusat Dakwah, dan kedua karya Nurul Jannah dengan judul Revitalisasi Peranan Masjid di Era Modern (Studi Kasus Kota Medan), ketiga, terdapat pula karya M Syafi yang berjudul Bangunan Masjid Pada Masa Nabi dan Implikasinya Terhadap Jamaah Masjid Perempuan, Keempat Pendidikan Masyarakat Berbasis Masjid oleh Suhairi Umar dan kelima sebuah artikel jurnal yang berjudul “Masjid Dalam Lintasan Sejarah Umat Islam” oleh Syamsul Kurniawan. Lima karya ini sama-sama menjelaskan tentang masjid, akan tetapi ada beberapa aspek yang diteliti berbeda yaitu objek kajian penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di daerah sekitar masjid apakah tenang atau tidak, sedangkan tiga karya tersebut tidak menjelaskan hal tersebut. Sedangkan metodo yang digunakan adalah analitis deskriptif dengan menggunakan metode ini peneliti akan mengumpulkan data berdasarkan hasil wawancara peneliti. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yaitu masjid mampu memberikan ketenangan jiwa disebabkan kedekatan seorang manusia dengan tuhannya, ketika di masjid seorang manusia merasa bahwa Tuhan atau sang Khaliq berada di dekat dia, sehingga menyebabkan dia merasa tenang. Hal ini terjadi pula di kota Palu, ketika terjadi gempa maka sebagian masyarakat lari ke masjid
