1,720,986 research outputs found
Keanekaragaman Kutu Tanaman (Hemiptera: Coccoidea) pada Berbagai Tanaman di Kebun Raya Bogor.
Kutu tanaman (Hemiptera: Coccoidea) merupakan kelompok serangga yang
banyak berperan sebagai hama, bersifat polifag dan memiliki kisaran inang yang
luas. Coccoidea dapat menyebabkan kerusakan langsung maupun tidak langsung
pada tanaman. Kerusakan langsung berupa klorosis, sedangkan kerusakan tidak
langsung berupa embun madu yang menjadi media tumbuhnya embun jelaga.
Kelompok serangga ini juga dapat berperan sebagai vektor virus. Mempelajari
keanekaragaman kutu tanaman sangat baik dilakukan di tempat yang memiliki
keanekaragaman tanaman yang tinggi seperti di Kebun Raya Bogor. Informasi
terkait keanekaragaman Coccoidea masih sedikit. Penelitian ini bertujuan
mempelajari keanekaragaman kutu tanaman dari Ordo Hemiptera, Superfamili
Coccoidea di Kebun Raya Bogor. Pengambilan sampel kutu tanaman dilakukan
dengan cara purposive sampling pada berbagai tanaman dengan ketinggian 1
sampai 150 cm dari atas permukaan tanah. Sampel yang didapat dibuat preparat
mikroskop untuk diidentifikasi sampai tingkat spesies dengan mengamati karakter
morfologinya. Terdapat 17 spesies Coccoidea yang terdiri atas 5 famili kutu
tanaman yang menginfestasi 36 spesies tanaman. Kelima famili kutu tanaman
tersebut adalah Coccidae, Diaspididae, Margarodidae, Ortheziidae, dan
Pseudococcidae. Dysmicoccus lepelleyi (Betrem) (Pseudococcidae) merupakan
spesies yang paling banyak ditemukan selama penelitian ini. Spesies ini
menginfestasi 10 spesies tanaman inang. Arecaceae (palem-paleman) merupakan
famili tanaman yang paling banyak ditemukan terinfestasi kutu tanaman
Biologi Heortia vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae) pada Tanaman Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.)
Crown of god (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.), a member of family Thymelaeaceae, is one of medicine plants that recently has been used by many people. One of the problems on cultivating this plant is incursion of Heortia vitessoides (Lepidoptera: Crambidae). The aim of this study was to observe the biology of this pest on crown of god. The study was conducted at Insect Biosystematics Laboratory, Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University, from August 2011 to April 2012. Eggs and larvae were collected from the field and then kept in the laboratory. Biological aspects of this pest were observed. The results showed that H. vitessoides has four instars. Eggs layed in cluster consist of 189.88 eggs. Eggs are laid under the leaf surface. Average of egg, larvae, and pupa stadia were 3.75, 18.0 and 7.75 days, respectively. The pupa was dark brown. Longevity of male and female were 3.90 and 4.20 days
Lalat Buah (Bactrocera spp.) dan Parasitoid pada Pertanaman Belimbing di Desa Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.
Belimbing manis (Averrhoa carambola L.) merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang berpotensi besar untuk dikembangkan secara komersial.
Penurunan produksi belimbing dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu
faktornya serangga hama. Lalat buah (Bactrocera spp.) merupakan hama utama
buah belimbing. Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan musuh
alami di antaranya penggunaan parasitoid. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui populasi lalat buah (Bactrocera spp.), parasitoid, dan tingkat
parasitisasinya pada pertanaman belimbing di Desa Pasir Putih, Kecamatan
Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan
mengambil buah busuk yang sudah jatuh ke permukaan tanah. Sampel buah
dipelihara hingga didapatkan parasitoidnya. Pemasangan perangkap lalat buah
menggunakan atraktan yaitu metil eugenol. Hasil perangkap yang dikumpulkan
kemudian diidentifikasi hingga tingkat spesies. Spesies lalat buah yang ditemukan
adalah Bactrocera carambolae, B. papayae, dan B. umbrosa. Parasitoid yang
muncul dari pemeliharaan buah yang terserang adalah Fopius arisanus,
F. vandenboschi, Diachasmimorpha longicaudata, dan Opius sp
Serangan Asphondylia capsicicola sp. n. (Diptera: Cecidomyiidae) pada Pertanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) di Pertanian Organik Cisarua Bogor
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas holtikultura
penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Serangan hama Asphondylia
capsicicola sp. n. (Diptera: Cecidomyiidae) berpotensi menggangu produksi
tanaman cabai rawit. Serangga ini menyebabkan puru pada cabai, dengan gejala
terhambatnya pertumbuhan buah. Serangan A. capsicicola juga ditemukan
menyerang cabai keriting. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati gejala yang
ditimbulkan oleh hama A. capsicicola pada tanaman cabai serta mengetahui luas
dan intensitas serangannya di pertanaman cabai rawit organik Yayasan Bina
Sarana Bakti Cisarua, Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus
2016. Gejala serangan A. capsicicola pada tanaman cabai rawit terjadi pada
bagian kuncup, bunga, dan buah muda. Gejala puru lebih banyak ditemukan pada
buah muda daripada kuncup dan bunga. Luas serangan A. capsicicola yaitu 32.80
sampai 48.40% dengan total intensitas serangan tinggi pada buah muda yaitu
23.84%. Intensitas serangan pada kuncup adalah 2.07%, dan pada bunga 5.91%.
Parasitoid yang ditemukan dalam pengamatan di lapangan yaitu Sigmophora sp.
dari Ordo Hymenoptera, Famili Eulophida
Keanekaragaman dan Tingkat Parasitisasi Parasitoid Plutella xylostella dan Crocidolomia pavonana (Studi Pustaka)
Kubis (Brassica oleracea L. var. capitata) merupakan salah satu komoditas hortikultura penting dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi kubis adalah adanya serangan hama tanaman yang dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen. Plutella xylostella and Crocidolomia pavonana merupakan hama penting pada pertanaman kubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman parasitoid pada P. xylostella dan C. pavonana serta tingkat parasitisasinya yang telah dilaporkan dalam beberapa penelitian. Metode penelitian yang dilakukan adalah kajian pustaka yang berhubungan dengan parasitoid pada P. xylostella and C. pavonana. Sumber pustaka dicari melalui internet, yaitu Google, Google Schoolar, Researchgate dan sumber pustaka lain yang relevan dengan penelitian ini. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan terdapat lima famili dari Ordo Hymenoptera yang dilaporkan menjadi parasitoid pada P. xylostella. Lima famili tersebut adalah Braconidae, Eulophidae, Chalcididae, Ichneumonidae dan Trichogrammatidae, dengan total 46 spesies parasitoid. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan terdapat tiga famili dari Ordo Hymenoptera dan satu famili dari Ordo Diptera yang dilaporkan menjadi parasitoid pada C. pavonana. Famili dari Ordo Hymenoptera tersebut adalah Braconidae, Ichneumonidae dan Trichogrammatidae dan famili dari Ordo Diptera adalah Tachinidae. Sebanyak 12 spesies parasitoid dilaporkan telah memarasit C. pavonana.Cabbage (Brassica oleracea L. var. capitata) is an important vegetable
commodity and has a high economic value in Indonesia. One of the declining
factors in cabbage production is the attack of plant pests which can reduce the
quality and quantity of the yields. Plutella xylostella and Crocidolomia pavonana
are the main pests in cabbage cultivation. This study aims to summarize
information about the diversity of parasitoids in P. xylostella and C. pavonana as
well as the level of parasitization that has been reported in several studies. The
research method used was literature review related to parasitoids on P. xylostella
and C. pavonana. Library sources searched through the internet include Google,
Google Schoolar, Researchgate and other literature sources relevant to this
research. The results of literature search show that there were five families of the
Order Hymenoptera which were reported to be P. xylostella parasitoid. The five
families were Braconidae, Eulophidae, Chalcididae, Ichneumonidae and
Trichogrammatidae, with a total of 46 parasitoid species. The literature search
results on the parasitoid of C. pavonana show that there were three families of the
Order Hymenoptera and one family of the Order Diptera which were reported to
be parasitoid of C. pavonana. The families of the Order Hymenoptera were
Braconidae, Ichneumonidae and Trichogrammatidae and the family of the Order
Diptera was Tachinidae. A total of 12 parasitoid species were reported to
parasitize C. pavonana
. Keanekaragaman Parasitoid Pada Areal Sawah, Kebun Sayur, Dan Hutan Di Daerah Bogor
Parasitoid merupakan agens pengendali hayati yang berperan dalam pengendalian hama terpadu. Pengetahuan mengenai parasitoid yang berada di suatu areal pertanaman seperti sawah, kebun sayur, dan hutan sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman parasitoid dengan memanfaatkan jaring serangga dan separator pada areal sawah, kebun sayur, dan hutan di daerah Bogor. Pengambilan sampel di setiap areal, terdiri atas tiga petak (plot), dan setiap plot terdiri atas empat subplot. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga ulangan yang mewakili fase pertumbuhan tanaman khususnya areal sawah dan kebun sayur. Serangga dikoleksi menggunakan jaring serangga dan separator. Pengambilan sampel dengan jaring serangga dilakukan sebanyak 50 kali ayunan ganda untuk setiap subplot pengamatan. Serangga yang tertangkap diidentifikasi hingga tingkat famili. Serangga dan laba-laba yang tertangkap selama penelitian sebanyak 6928 individu dari 12 ordo dan 79 famili. Ordo serangga yang dominan tertangkap pada penelitian ini adalah Diptera (35.0%), Hymenoptera (26.5%) dan Hemiptera (20.8%). Total serangga Hymenoptera parasitoid yang tertangkap sebanyak 1213 individu dari 19 famili yang terdiri atas 246 individu dari 13 ordo pada areal sawah, 652 individu dari 17 ordo pada areal kebun sayur dan 315 individu dari 16 ordo pada areal hutan. Hutan memiliki nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wienner (H’) untuk Hymenoptera parasitoid paling tinggi (2.30) dibandingkan lahan sawah (1.99) dan kebun sayur (1.96). Famili Hymenoptera parasitoid yang paling dominan di ketiga lahan penelitian adalah Scelionidae, Braconidae, dan Eulophidae
Keanekaragaman Ektoparasit Pada Beberapa Spesies Tikus
Tikus berperan penting sebagai hama di lingkungan pertanian sehingga menyebabkan kerugian secara ekonomis, demikian juga pada kesehatan manusia dan hewan di perkotaan. Pada tubuh tikus terdapat arthropoda yang dikenal sebagai ektoparasit. Ektoparasit yang hidup pada tubuh tikus mempunyai hubungan yang erat dengan inangnya. Ektoparasit menyukai inang tertentu, inang pilihan, atau inang kesukaan. Pada tubuh tikus ditemukan berbagai jenis ektoparasit yaitu kutu, pinjal, tungau, dan caplak. Seringkali ektoparasit tersebut ditemukan pada waktu yang bersamaan dan dikenal sebagai poliparasit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang keanekaragaman ektoparasit pada berbagai spesies tikus dan habitatnya. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi baru tentang spesifikasi inang dan toleransi ektoparasit terhadap lingkungan inang, baik untuk pengendalian ektoparasit sebagai penular penyakit atau hama, maupun sebagai koleksi referensi untuk ilmu pengetahuan. Penangkapan tikus dilakukan pada habitat rumah, kebun, sawah, dan got (saluran air). Tikus ditangkap dengan menggunakan perangkap hidup tikus dengan umpan ikan kering, tulang ayam, dan ubi jalar. Tikus yang tertangkap dimasukkan ke dalam kantung plastik dan diberi label, selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi tikus. Ektoparasit diambil dari tubuh tikus yang tertangkap dan dijadikan sebagai sampel, kemudian dilakukan identifikasi terhadap ektoparasit. Keanekaragaman ektoparasit dianalisis dengan menggunakan rumus indeks keanekaragaman dari Shannon-Weaver. Analisis kesamaan dilakukan untuk mengetahui perbedaan atau kesamaan variasi komposisi jenis ektoparasit antara tikus dengan membandingkan kuantitas dan keanekaragaman ektoparasit masing-masing kelompok tikus. Analisis dilanjutkan dengan uji-t (α = 0.05). Sebanyak 87 ekor tikus tertangkap selama penelitian di empat habitat tikus yang berbeda. Jenis tikus diidentifikasi sebagai Rattus rattus diardii, R. argentiventer, R. tiomanicus, dan R. norvegicus. Sebanyak 2 548 individu ektoparasit yang ditemukan pada tubuh tikus terdiri dari lima spesies ektoparasit yaitu, Hoplopluera pacifica Ewing (Phthiraptera: Hoplopleuridae), Polyplax spinulosa Burmeister (Phthiraptera: Polyplacidae), Xenopsylla cheopis Rothschild (Siphonaptera: Pulicidae), Laelaps nuttalli Hirst dan L. echidninus Berlese (Acariformes: Laelapidae). H. pacifica dan P. spinulosa ditemukan lebih banyak dari pada ektoparasit lainnya. Pada tubuh tikus yang ditangkap, H. pacifica ditemukan sebanyak 1 383 individu (1 001 jantan dan 382 betina), P. spinulosa sebanyak 685 individu (155 jantan dan 530 betina), X. cheopis sebanyak 16 individu (9 jantan dan 7 betina), L. nuttalli sebanyak 174 individu (61 jantan dan 113 betina), dan L. echidninus sebanyak 290 individu (91 jantan dan 199 betina). H. pacifica mempunyai ciri-ciri antara lain berukuran sedang sampai besar dengan bentuk tubuh agak membulat. Lempeng paratergal (paratergal plate) membesar dan pada bagian posterior melebar atau masing-masing sisi memiliki cuping. Lempeng sternal (sternal plate) pada abdomen ruas ke-3 memanjang sampai pada lempeng paratergal dan memiliki dua pasang seta yang kokoh pada lempeng sternal. Bentuk lempeng sternal pada toraks meruncing pada bagian posterior. P. spinulosa mempunyai ciri-ciri tubuh berukuran kecil sampai sedang dan berbentuk langsing. Tiap sisi dari lempeng sternal pada abdomen tidak pernah mencapai sisi dari lempeng paratergal dan tidak terdapat seta yang kokoh pada lempeng sternal. Lempeng sternal toraks berbentuk pentagonal. Ciri-ciri yang dimiliki X. cheopis antara lain yaitu tidak memiliki pronotal combs dan genal combs. Setiap ruas abdomen memiliki satu baris seta. Ketiga ruas toraks mempunyai panjang yang sama dengan abdomen ruas pertama. Terdapat seta (ocular bristle) yang kokoh dekat mata. L. nuttalli mempunyai ciri-ciri antara lain ukuran tubuh sedang berbentuk oval. Lempeng anal terpisah dari lempeng genito-ventral, sisi bagian anterior lurus dengan anterior lateral. L. echidninus memiliki ciri-ciri antara lain tubuh berukuran besar hingga mencapai 2 mm pada tungau betina. Lempeng anal berhubungan dengan lempeng genito-ventral. Lempeng anal membulat pada bagian depan dan mencapai bagian cekungan dari lempeng genito-ventral. Prevalensi rata-rata infestasi semua spesies ektoparasit pada tubuh tikus sebesar 76.75%. Pravalensi ektoparasit pada tubuh R. norvegicus sebesar 88.9%, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi pada ketiga spesies tikus lainnya. Tingkat persentase prevalensi ektoparasit pada masing-masing tikus relatif tinggi. Nilai indeks keanekaragaman spesies ektoparasit relatif tinggi pada tikus betina dari spesies R. rattus diardii yaitu 0.525. Berdasarkan hasil uji-t pada taraf 5% semua indeks keanekaragaman pada empat spesies tikus tidak berbeda secara nyata
Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT) untuk Leptocybe invasa (Hymenoptera: Eulophidae)
Any measures against the introduction and spread of new pests must be justified by a science-based pest risk analysis (WTO 2011). PRAs are an essential component of plant health policy, allowing trade to flow as freely as possible, while minimizing to a reasonable and justifiable extent the risk of introduciton of plant pests. Leptocybe invasa is currently becoming threat to eucalyptus plantation in the world. The insect forms bump-shaped galls on the leaf midribs, petioles and stems of new growth of several Eucalyptus species (Mendel et al. 2004). L. invasa can cause death in seedlings and young plants and cause significant economic losses in many countries. First objective of this research was to identify and evaluate risk of introduction, established and spread of L. invasa into and within Indonesia, the second was to identify the pest risk management. The PRA preparation based on semi-quantitative method. There were three stages of PRA process, initiation, risk assessment and risk management. The risk assessment results indicated that L. invasa categorized into a high risk potential to entry to Indonesian territory through eucalyptus plants and seedlings. On the other hand, eucalyptus seeds, plant tissue culture and woods have a moderate risk potential to entry to Indonesian territory. L. invasa was also have a high risk potential to established, spread and cause economic consequences in Indonesia. The overall risk assessment indicated that L. invasa have a high risk potential to entry, established, spread and cause economic consequences into Indonesia territory through seeds, plant tissue culture, seedlings, woods and eucalyptus plants importation. At the end of risk management process, general and technical requirements were determined due to the importation of Eucalyptus spp
Distribusi Spasial Serangan dan Biologi Aulacaspis tegalensis Zehntner (Hemiptera: Diaspididae) pada Tanaman Tebu
The decrease of sugar production can be caused by a decrease in productivity of sugarcane, one of which is caused by pests. The sugarcane scale, Aulacaspis tegalensis, is a pest that sucks sucrose liquid stored in parenchyma cells on sugarcane stalk. The aim of this study were to determine the dispersion pattern and to observe the biology of the pest. The study was conducted at Laboratory of Insect Bionomy and Ecology, Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University and at Laboratory of Entomology, Department of Research and Development of Gunung Madu Plantations (GMP), Lampung from March to October 2014. The insect samples were collected from sugarcane field at GMP and kept in laboratory to observe its biological aspects. Field observation on the insect population was also conducted at sugarcane plantation field of GMP. The result showed that the spatial distribution pattern of A. tegelensis infestation on three varieties of sugarcane with different susceptibility were clumped. A. tegalensis have two instars nymph. The average of nymph stadia was 17.11 ±0.90 days. Pre oviposition and oviposition periods were 5.89 ± 1.12 days and 11.19 ± 6.23 days respectively. The female can lay on average of 210.03 ± 114.29 eggs during their lifetime. Eggs were laid under the female scale. The longevity of adult female was 17.13 days
Pengaruh Aplikasi Insektisida terhadap Serangga Hama dan Musuh Alami pada Pertanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.).
Pada pertanaman kacang panjang, petani sering dihadapi dengan
permasalahan hama yang dapat menurunkan produksi polong baik secara kualitas
maupun kuantitasnya, dan mereka selalu menggunakan insektisida untuk mengatasi
masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
aplikasi insektisida terhadap perkembangan serangga hama pada pertanaman
kacang panjang dan populasi musuh alami yang dominan.
Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan (dengan dan tanpa aplikasi
insektisida) dengan 10 ulangan yang disusun dan diatur pada rancangan acak
kelompok. Insektisida yang digunakan adalah λ-sihalotrin 25 EC (25 g/l) yang
diaplikasikan pada konsentrasi 1 ml/l, pada 35, 42, 49, dan 56 hari setelah tanam
(HST). Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada 5
tanaman setiap plot, dan memasang 5 pitfall trap dan 5 sticky trap per plot untuk
mendapatkan hama dan musuh alami yang termasuk predator dan parasitoid.
Parasitoid didapatkan melalui jaring serangga dengan 20 kali ayunan tunggal per
plot. Pengamatan dilakukan setiap minggu, mulai pada 1 minggu setelah tanam
(MST) hingga panen.
Serangga hama yang ditemukan pada penelitian ini yaitu lalat bibit
Ophiomyza phaseoli, ulat pemakan daun Spodoptera litura, dan hama penggerek
polong Maruca vitrata, dan kutudaun Aphis craccivora. Musuh alami yang
ditemukan berasosiasi dengan kacang panjang yaitu predator antara lain
Menochilus sexmaculatus, Sycanus annulicornis, dan Pardosa pseudoannulata,
sedangkan parasitoid yaitu Scelio sp., Ooencyrtus sp., Fopius sp. dan Microplitis
sp. Secara keseluruhan pemberian insektisida pada tanaman kacang panjang
mampu menekan populasi serangga hama kutudaun yang terdapat pada daun di
minggu ke- 8, pada bunga di minggu ke- 5, 6 dan 8 serta kutudaun yang terdapat
pada polong di minggu ke- 7. Pemberian insektisida mampu menekan hama
penggerek polong pada minggu ke-8, serta hama S. litura pada minggu ke-4, ke-6
dan ke-7. Insektisida tidak memberikan pengaruh nyata dalam mengurangi jumlah
individu kepik predator S. annulicornis tetapi berpengaruh negatif terhadap
populasi serangga predator Menochilus sp. pada minggu ke-6, ke-7 dan ke-8.
Pemberian insektisida juga dapat menurunkan populasi parasitoid Scelio sp.,
Ooencyrtus sp., Fopius sp. dan Microplitis sp. pada lahan tanaman kacang panjang.
Pemberikan insektisida berpengaruh negatif terhadap laba-laba predator P.
pseudoannulata. Kerusakan polong tertinggi pada plot tanpa insektisida yaitu pada
minggu ke-8, sedangkan dengan perlakuan insektisida pada minggu ke-7
- …
