1,720,997 research outputs found
Sifat Fisika Tanah Lahan Kering Suboptimal Di Kecamatan Panji, Kendit, dan Kapongan Kabupaten Situbondo Untuk Pengembangan Budidaya Singkong (Manihot utilissima L.)
Singkong merupakan tanaman yang memiliki potensi besar untuk di
kembangkan karena memiliki banyak manfaat serta mampu beradaptasi pada
lahan kurang produktif seperti lahan kering. Kabupaten situbondo memiliki
sebaran lahan kering yang cukup luas khususnya lahan kering suboptimal
sehingga berpotensi untuk dilakukan pengembangan budidaya singkong. Lahan
kering suboptimal memiliki daya menyimpan air yang rendah, umumnya
disebabkan oleh sifat-sifat fisik. Sifat fisik tanah khususnya tekstur, struktur dan
porositas pada lahan suboptimal sangat diperlukan dikarenakan sangat penting
bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, serta pengadaan nutrisi, air
dan udara bagi tanaman.
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mempelajari sifat fisika tanah
lahan kering suboptimal di Kecamatan Panji, Kendit, dan Kapongan Kabupaten
Situbondo bagi pengembangan budidaya tanaman singkong. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April 2019 sampai dengan Mei 2019, pada lahan kering
suboptimal wilayah Kecamatan Panji, Kendit, dan Kapongan Kabupaten
Situbondo. Masing-masing Kecamatan di tentukan 5 tempat untuk diambil contoh
tanahnya. Kemudian contoh tanah di lakukan analisis di Laboratorium Fisika
Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember. Sifat-sifat fisik tanah yang diamati
meliputi : tekstur tanah, berat volume, berat jenis partikel, porositas, WHC (water
holding capacity), dan pori makro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik tanah lahan kering
suboptimal di wilayah Kecamatan Panji, Kendit, dan Kapongan beragam. Tekstur
tanah di Kecamatan Kapongan didominasi tekstur tanah lom, di wilayah kecamatan Kendit tekstur tanah lom berpasir, sedangkan di wilayah Kecamatan
Panji sebagian bertekstur lom berpasir dan sebagian bertekstur lom berklei. Berat
volume tanah lahan kering suboptimal tertinggi di wilayah Kecamatan Kendit
yaitu sebesar 1,52 g/cm3. Berat jenis partikel tertinggi di wilayah Kecamatan
Kendit yaitu sebesar 2,46 g/cm3. Porositas tanah tertinggi di wilayah Kecamatan
Kapongan yaitu sebesar 48,68%. WHC tanah tertinggi di wilayah Kecamatan
Kapongan yaitu sebesar 48, 89%. Pori makro dengan hasil paling tinggi yaitu di
wilayah Kecamatan Panji sebesar 12,80%
Sifat Kimia Tanah Pada Sistim Pemupukan Tanaman Singkong di Lahan Pasir Pantai Selatan Kabupaten Jember
Singkong merupakan tanaman yang memiliki potensi hasil produksi tinggi. Tingginya
potensi produksi tanaman singkong menjadi salah satu komoditas yang mampu
memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat. Tanah pasir pantai memiliki sifat
kimia yang terbatas untuk kebutuhan nutrisi tanaman antara lain : unsur nitrogen (N)
fosfor (P) dan kalium (K). Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan input pupuk
organik. Tujuan dari Penelitian ini mempelajari pengaruh sistim pemupukan terhadap
sifat kimia tanah lahan pasir pantai selatan Kabupaten Jember untuk budidaya
tanaman singkong. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak
kelompok (RAK) dengan 6 (enam) perlakuan, yaitu : (1) kontrol, (2) pemupukan
NPK, (3) pemupukan kompos, (4) pemupukan kompos dan pupuk organik cair
(POC), (5) pemupukan pupuk hayati EvaGrow, (6) pempukan kompos dan pupuk
hayati EvaGrow. Pada masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak
tiga kali. Penelitian dilakukan di lahan pasir pantai di Dusun Kalimalang, Desa
Mojomulyo, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember pada bulan Mei 2017 sampai
Februari 2018. Hasil penelitian menunjukan penggunaan pupuk organik maupun
anorganik terhadap tanaman singkong berpengaruh tidak nyata terhadap pH, KTK
dan kadar fosfor (P) didalam tanah. Pada parameter produksi penggunaan pupuk
organik dan anorganik menunjukan pengaruh terhadap jumlah umbi, berat umbi dan
diameter batang tanaman. Sedangkan pada panjang umbi, diameter umbi, berat
batang dan panjang batang tidak berpengaruh
DAMPAK PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK TERHADAP SIFAT FISIK TANAH DALAM BUDIDAYA SINGKONG LAHAN PESISIR SELATAN KABUPATEN JEMBER
Coastal land is a marginal land that has a low soil productivity as a result of
loose soil structure, low water holding ability, high infiltration and evaporation,
low fertility, low organic matters, high temperatures and strong winds, low cation
exchange capacity and high infiltration. Excessive availability of air in the pores
causes drying and oxidation of organic materials to run fast. In 2014, in the
southern coastal area of Jember Regency had experiments on cassava cultivation
been conducted from January 2014, with a variety of organic fertilizer treatments
such as: control, liquid organic fertilizer, fish hydrolyzate fertilizer, and manure.
However, the research only examined the productivity of cassava and did not
investigate the physical and chemical properties of the soil that affected the
productivity of cassava plants. The physical properties have either direct or
directly impacts and control the growth of plants, roots, oxygen, and temperature
KESESUAIAN LAHAN PESISIR PANTAI SELATAN KABUPATEN JEMBER UNTUK PENGEMBANGAN MANGROVE
Pantai Selatan Kabupaten Jember beberapa lokasi yang memiliki tanaman
mangrove yang berkembang dengan baik. Sampai saat ini, belum ada kajian
apakah lahan tersebut cocok untuk pengembangan mangrove dan jenis mangrove
apakah yang sesuai di lahan tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian
tentang pengembangan mangrove di pesisir pantai selatan Kabupaten Jember
untuk memberikan informasi apakah pesisir pantai selatan Kabupaten Jember
berpotensi untuk adanya pengembangan mangrove. Tujuan penelitian ini Untuk
menilai kesesuaian lahan pesisir pantai selatan Kabupaten Jember untuk
pengembangan mangrove dan Untuk mengetahui jenis mangrove yang sesuai
dikembangkan pada lahan pesisir pantai selatan Kabupaten Jember.
Penelitian ini dilaksanakan di 4 wilayah pesisir pantai selatan Kabupaten
Jember yaitu Getem, Kepanjen, Payangan, Rowo Cangak. Masing-masing
wilayah dibedakan pada : a) lokasi yang sudah ada tanaman mangrove dan b)
lokasi yang belum ada tanaman mangrove. Analisis tanah dilaksanakan
dilaboratorium kesuburan dan fisika tanah jurusan Ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian, Universitas Jember mulai bulan April sampai Agustus 2015. Metode
penelitian yang dilakukan meliputi penentuan lokasi sampling, pengambilan
sampel tanah, analisis data di laboratorium. Untuk melakukan analisis data
kesesuaian lahan, metode yang digunakan yaitu dengan mencocokan antara hasil
analisis data yang diperoleh baik data primer dan data sekunder dengan
menggunakan metode pengharkatan terhadap parameter sifat kimia dan fisika.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pada kelas
kesesuaian lahan baik pada lokasi yang ada mangrove maupun yang belum ada
mangrove. Semua lokasi atau wilayah yang diteliti memperoleh kriteria kelas
kesesuaian mangrove cukup sesuai (S2). Dengan demikian lokasi-lokasi yang
belum ada mangrove juga berpotensi untuk dikembangkan tanaman mangrove.
ix
Lokasi penelitian Getem dan Kepanjen memiliki kesesuaian pada jenis mangrove
S. caseolaris, R. apiculata, dan Avicennia spp. Untuk lokasi Payangan memiliki
kesesuaian pada jenis mangrove R. apiculata, R. mucronata, S. caseolaris.
Sedangkan pada lokasi Rowo Cangak memiliki kesesuaian pada jenis mangrove
S. caseolaris, dan R. apiculata
KUALITAS TANAH PADA LAHAN YANG TERKENA DAMPAK LUAPAN AIR LAUT UNTUK BUDIDAYA TANAMAN PANGAN (Studi Kasus Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Kabupaten Jember)
Lahan pesisir pantai di Desa Kepanjen Kabupaten Jember sudah lama
dilakukan budidaya pertanian dan terus mengalami perluasan. Akan tetapi
banyak permasalahan yang timbul sehingga menyebabkan lahan tersebut menjadi
tidak produktif lagi. Lahan pesisir Desa Kepanjen Kecamatan Gumuk Mas pada
tahun 2001 masih berproduksi dengan maksimal yang bisa digunakan untuk
budidaya tanaman pangan ataupun hortikultura, akan tetapi setelah rusaknya kelep
penahan air laut maka lahan tersebut tidak mampu berproduksi dengan maksimal.
Lahan pertanian milik warga yang seluas kurang lebih 800 hektar menjadi tidak
bisa berproduksi kembali. Diduga karena luapan air laut yang banyak
mengandung unsur Khlor dan Natrium yang membuat lahan tersebut menjadi
salin. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kualitas tanah pada lahan yang
terkena luapan air laut selama 13 tahun tersebut apakah kualitas tanahnya
mendukung untuk produksi tanaman pangan atau hortikultura. Penelitian ini
dilaksanakan dengan metode survei tanah yang dilakukan di kedua sisi aliran
luapan air laut sepanjang 3 km. Parameter-parameter penelitian yang diamati
yaitu pH tanah, kandungan C-organik, DHL, KTK, N, P dan K, struktur, tekstur
tanah, kelerengan, curah hujan, suhu, vegetasi, draenase dan kedalaman tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pembatas untuk pertumbuhan
tanaman, pada lahan yang terkena dampak luapan air laut adalah salinitas yang
sangat tinggi. Dari seluruh areal lokasi penelitian memiliki nilai salinitas yang
sangat tinggi yaitu lebih dari 5 mmhos/cm yang menyebabkan tanaman menjadi
tidak tumbuh. Dari hasil analisis kualitas tanah pada lahan yang terkena luapan air
laut termasuk dalam kategori sedang sampai dengan baik. Akan tetapi karena
salinitas yang tinggi menyebabkan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan (Padi) pada lahan tersebut menjadi tidak sesuai (N)
Aplikasi Pupuk Organik Pada Tanah Pasir Pantai Dalam Perbaikan Sifat Biologi Dan Kimia Tanah Serta Produksi Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L.)
Penggunaan pupuk organik (pupuk lokal POLKM, pupuk petroganik, pupuk
cair POCKM, pupuk POMI) yang diberikan pada budidaya tanaman cabai
rawit di tanah pasir pantai selatan Kabupaten Jember mampu meningkatkan
jumlah total populasi mikroorganisme dan meningkatkan aktifitas
mikroorganisme tanah.
Penggunaan pupuk organik (pupuk lokal POLKM, pupuk petroganik, pupuk
cair POCKM, pupuk POMI) yang diberikan pada budidaya tanaman cabai
rawit di tanah pasir pantai selatan Kabupaten Jember dapat memperbaiki sifatsifat
tanah terutama C-Organik, N-total, C/N rasio, pH tanah, daya hantar
listrik (DHL)
Peningkatan Kualitas dan Efektivitas Pupuk Kandang Sapi dalam Penyediaan Unsur Hara P bagi Bibit Kopi Robusta
Pupuk kandang sapi merupakan pupuk kandang dari limbah yang dihasilkan
dari peternakan sapi, seperti feses dan urine sapi. Limbah yang dihasilkan tersebut
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berasal dari pupuk kandang. Ciri
kotoran sapi yang baik untuk pupuk kandang yaitu bewarna hitam gelap, gembur
dan tidak berbau dan memiliki C/N rasio kurang dari 20. Memanfaatkan limbah
yang dihasilkan dari peternakan sapi merupakan salah satu cara untuk mengurangi
pencemaran lingkungan yang dihasilkan. Petani lebih memilih menggunakan
pupuk kimia dari pada pupuk kandang, karena pupuk organik diperlukan dalam
jumlah yang sangat besar dan unsur hara yang tersedia bagi tanaman sangat
lambat, oleh karena itu pupuk organik harus diimbangi dengan pupuk anorganik
agar keduanya dapat saling melengkapi. Unsur hara P merupakan salah satu unsur
hara makro esensiil. Unsur hara P memiliki peranan yang sangat penting dalam
pertumbuhan dan proses metabolisme dan unsur hara P memiliki efisiensi
pemupukan paling rendah dari pada unsur hara N, dan K. Pupuk kandang sapi
dikombinasikan dengan SP-36, fosfat alam, dan bakteri pelarut fosfat dengan
dosis pupuk kandang sapi 5% dari berat media tanam, pupuk SP-36 dan fosfat
alam masing-masing 200 mg P2O5/kg media, serta bakteri pelarut fosfat 5 ml/3 kg
media. Bakteri pelarut fosfat yang digunakan yaitu Pseudomonas fluorescens,
isolat bakteri Pseudomonas fluorescens ini didapat dari Laboratorum Biologi
tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Pupuk kandang sapi dicampur
sesuai dengan perlakuan, kemudian perlakuan tersebut dicampur ke media tanam
dan diinkubasi selama 1 minggu. Bibit kopi yang telah berumur 3 bulan dipindah
ke media tanam sesuai perlakuan. Analisis dilakukan 2 kali yaitu saat awal tanam
(0 hst) dan 2 bulan setelah tanam (60 hst). Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan kualitas pupuk kandang sapi, untuk mempelajari efektivitas
ix
peningkatan fosfor (P) pada pupuk kandang sapi untuk penyediaan fosfor (P) bagi
bibit kopi robusta. Hasil penelitian menunjukkan pupuk kandang sapi yang
dikombinasikan dengan berbagai sumber P (fosfat) (Sp-36 dan fosfat alam) dan
bakteri pelarut fosfat dapat meningkatkan P ekstrak HCl 25% dan P-tersedia
dalam media tanam pada 60 hst. Pupuk kandang sapi yang dikombinasikan
dengan fosfat alam (perlakuan PF) memiliki efektivitas pemupukan paling tinggi
(25,42%)
PENGARUH MEDIA TANAM DARI BEBERAPA FORMULASI BIOCHAR PADA TANAH PASIRAN TERHADAP KUALITAS BIBIT TEMBAKAU (Nicotiana tabacum) BESUKI NA-OOGST
Orientasi pembangunan di Indonesia saat ini cenderung mempersempit lahan pertanian produktif sehingga menghambat peningkatan hasil pertanian. Pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia yang kian meningkat dari waktu ke waktu menjadi salah satu faktor persempitan lahan pertanian. Persaingan untuk mendapatkan tempat tinggal semakin meningkat sehingga memanfaatkan lahan pertanian sebagai pemukiman
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
