64 research outputs found

    Hircinia vallata Dendy 1887

    No full text
    <i>Hircinia vallata</i> Dendy, 1887 <p> <i>Hircinia vallata</i> Dendy, 1887: 163 (no illustration).</p> <p> <i>Hircinia (Psammocinia) vallata</i>; Von Lendenfeld 1889: 581 (no illustration, not mentioned in Hooper & Wiedenmayer 1994). <i>Psammocinia vesiculifera</i>; Cook & Bergquist 1998: 400.</p> <p> This species described by Dendy from Madras (= Chennai), approximate coordinates 13.0806°N 80.3°E, India (lectotype) and Ceylon (= Sri Lanka), approximate coordinates 9°N 79°E (paralectotype) (the dry Madras lectotype is listed in the BMNH collections as ‘holotype’ BMNH 1887.8.24.1, coll. E. Thurston). The species was prematurely described and named by Dendy, as he referred to Von Lendenfeld’s manuscript name <i>vallata</i> for it, to which he apparently had access. Von Lendenfeld (1889: 581) redescribed the species as <i>Hircinia (Psammocinia) vallata</i>, claiming it as his own species without citing Dendy’s name or reference, but listing Dendy’s material from BMNH in addition to material collected from Port Phillip Heads, Victoria, Australia, approximate coordinates 38.1167°S 144.8667°E.</p> <p> The revision of the genus <i>Psammocinia</i> Von Lendenfeld, 1889 by Cook & Bergquist (1998: 400) mentioned only Von Lendenfeld’s name as a junior synonym of <i>Psammocinia vesiculifera</i> (Poléjaeff, 1884: 58), ignoring Dendy’s original use of the name <i>vallata</i>. It would at first glance be a case of homonymy with Dendy’s <i>vallata</i> as senior primary homonym, but Dendy’s reference to Von Lendenfeld’s monograph and the name <i>Hircinia vallata</i> R. von Lendenfeld, MS, makes it abundantly clear that at least part of the specimens is the same for both author descriptions. It remains perhaps undecided whether the South East Australian specimens are conspecific with the Indian type specimens, but if that would not be the case the Australian specimens would be a simple misapplication of the name <i>vallata</i> Dendy, 1887, not a case of homonymy. I propose to assign this species to the junior synonymy of <i>Psammocinia vesiculifera</i> (Poléjaeff, 1884).</p>Published as part of <i>Van Soest, Rob W. M., 2024, Correcting sponge names: nomenclatural update of lower taxa level Porifera, pp. 1-122 in Zootaxa 5398 (1)</i> on pages 17-18, DOI: 10.11646/zootaxa.5398.1.1, <a href="http://zenodo.org/record/10494167">http://zenodo.org/record/10494167</a&gt

    INTEGRASI SISTEM MONITORING BERBASIS MIKROKONTROLLER UNTUK PEMANTAUAN KUALITAS AIR DAN CUACA DI DANAU DENGAN TEKNOLOGI MINIBUOY

    No full text
    Indonesia memiliki banyak danau besar dan kecil. Aktivitas budidaya di danau banyak dilakukan khususnya budidaya ikan air tawar. Proses budidaya air tawar tidak dapat terlepas dari kualitas perairan, rendahnya kualitas perairan menunjukkan adanya polutan sehingga keseimbangan perairan terganggu yang menyebabkan terjadinya gagal panen atau kematian ikan dalam waktu yang singkat. Selain parameter kualitas air, kondisi cuaca juga menjadi faktor pemicu terhadap perubahan kualitas perairan. Pemantauan kualitas perairan dan cuaca secara kontinyu (realtime) sangat dibutuhkan untuk mendeteksi dini jika terjadi perubahan  kualitas air secara mendadak. Sistem pemantauan yang cocok untuk digunakan di lingkungan seperti ini adalah autonomous minibuoy technology. Perencanaan desain awal teknologi minibuoy dengan melakukan kajian awal desain struktur dan uji integrasi perangkat sensor dan logger berbasis mikrokontroller tipe AtMega 128 serta dilengkapi perangkat komunikasi data GPRS (General Packet Radio Service)  agar dapat beroperasi secara otomatis dan kontinyu. Untuk desain awal struktur minibuoy didapatkan desain yang kecil dan padat dengan berat total termasuk perangkat elektrikal sebesar 60 kg. Uji fungsi sensor dan perangkat elektrikal di lapangan  selama 3 jam  menghasilkan kemampuan pengukuran dan perekaman yang  memiliki tingkat kestabilan dan akurasi yang tinggi

    Painting named "Thursday" showing monks fishing, painted by Walter Dendy Sadler (1854-1923), [s.d.]

    No full text
    Photograph of a painting named "Thursday" showing monks fishing, painted by Walter Dendy Sadler (1854-1923), [s.d.]. Several monks watch in awe as one of the monks reel in a fish. Another monk, holding a net, kneels near the lake ready to catch the fish. More monks are seen around the lake, lounging, reading a book or walking. All the monks are wearing traditional monk robes with hoods and a rope-like belt around their waste. The arcades and towers of a Spanish-like building (possibly a mission) is visible in the background.; "Walter Dendy Sadler (1854-1923) was born in Dorking, England and brought up in Horsham, England, where he showed a precocious talent for drawing. At age 16 he decided to become a painter and enrolled for two years at Heatherly's School of Art in London, subsequently studying in Germany under W. Simmler. He exhibited at the Dudley Gallery from 1872 and at the Royal Academy from the following year through to the 1890s. He painted contemporary people in domestic and daily life pursuits, showing them with comical expressions illustrating their greed, stupidity etc. Dendy Sadler was best known for his pictures of monks - his reputation was established with a picture of monks fishing called 'Steady Brother, Steady' (1875), and his most well-known paintings are 'Thursday' (Tate Gallery, and incidentally one of the first three pictures in Henry Tate's collection) also showing monks fishing, and 'Friday' (Walker Art Gallery, Liverpool), where they are consuming their catch the next day. The monks are characterized as good-natured but foolish looking fellows." -- unknown author (part 1 of 2).; "The combination of realism with whimsicality follows an English tradition of almost slapstick humor, which seems to work better as black and white illustration in the pages of 'Punch' or in light-hearted articles by artists such as Harry Furniss. Another slightly whimsical picture is 'End of the Skein' at the Lady Lever Art Gallery. Perhaps more to modern taste are Sadler's less blatant pictures, as in 'For Fifty Years' (1894), showing an old gentleman happily offering his arm to his blank-faced bored wife - for him 50 years of domestic bliss, for her half a century of increasing dullness. In pictures like this, or 'An Offer of Marriage' of 1895, Sadler also gives some of the best studies of Victorian interiors. He was criticized for this background detail, as it detracted from the subjects of his pictures, but it seems fair to me for a whimsical painting to provide encouragement for the eye to wander around the scene rather than being pushed too hard towards the 'point'." -- unknown author (part 2 of 2)

    ANALISIS POLA SEBARAN KAPAL PENCURI IKAN LAUT NATUNA UTARA GUNA MENDUKUNG SISTEM PERTAHANAN NEGARA

    No full text
    Laut Natuna Utara berada di wilayah perbatasan Indonesia serta terhubung dengan perairan bebas sehingga aktifitas pencurian ikan sangat rawan terjadi. Kasus pencurian ikan ini merupakan ancaman nirmiliter yang merugikan Negara Indonesia. Oleh karena itu Negara mempunyai kewajiban untuk menangkal serta memberantas praktik pencurian ikan. Dalam membangun daya tangkal yang tinggi terhadap ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan maka penyelenggaraan pertahanan Negara mengintegrasikan pertahanan militer dan nirmiliter. Setiap unsur kekuatan dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan terarah dibawah kesatuan komando dengan memadukan strategi pertahanan, sehingga merupakan satu totalitas pertahanan Negara. Teknologi SAR (Synthetic Aperture Radar) dari citra Radarsat-2 dan VMS (Vessel Monitoring System) dapat dimanfaatkan sebagai upaya pemantauan dan pelacakan aktifitas pencurian ikan. Tujuan penelitan ini untuk menganalisis pola sebaran kapal pencuri ikan dan strategi operasi pertahanan laut. Berdasarkan hasil penelitian, sepanjang tahun 2016 terdapat lokasi potensi daerah penangkapan ikan yang tersebar di wilayah Laut Natuna Utara dengan potensi pencurian ikan yaitu sebanyak 444 kapal. Praktik pencurian ikan dominan terjadi pada wilayah batas landas kontinen yang memiliki jarak dari tepi pantai sekitar 2-150 mil laut dengan intensitas tinggi pada bulan-bulan di Musim Peralihan II. Dengan demikian diperlukan strategi pertahanan Negara untuk menghadapi ancaman pencurian ikan tersebut. Strategi kolaborasi merupakan salah satu upaya menjaga laut secara bersama-sama. Konsep kolaborasi tersebut yaitu diantaranya stakeholder saling bersinergi dengan sama-sama beroperasi namun membagi jadwal masing-masing dan saling berbagi informas

    Strategi Teknis Operasional Pengawasan Sumberdaya Perikanan Tangkap dengan Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh dan Vessel Monitoring System di Perairan Selatan Kepulauan Aru

    No full text
    Laut Arafura merupakan "the goldenfishing ground" dalam industri perikanan tangkap Indonesia dengan potensi lestari (MSY) sebanyak 771.600 ton/tahun. Salah satu bagian wilayah Laut Arafura yang memiliki potensi fishing ground dan titik rawan illegal fishing adalah perairan selatan Kepulauan Aru. Saat ini, strategi operasional dalam pengawasan sumberdaya perikanan tangkap di Indonesia masih secara sektoral dan konvensional dimana untuk mendeteksi kegiatan illegal fishing dilakukan secara random dan berdasarkan human intelligence sehingga membutuhkan biaya operasional tinggi. Tujuan penelitian ini adalah pemanfaatan data teknologi satelit MODIS, data satelit RADARSA T -2 dan data Vessel Monitoring System (VMS) untuk memperoleh data dan informasi terkini untuk mendukung strategi operasi pengawasan taut secara lebih efektif dan efisien. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data satelit secara spasial dan temporal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim timur dan musim peralihan IT merupakan musim tangkap ikan yang memiliki konsentrasi klorofil-a lebih tinggi dibandingkan musim lainnya. Selain itu, hubungan konsentrasi klorofil-a dengan jumlah kapal ikan memiliki hubungan dekat dengan nilai koefisien korelasi (r) adalah 0,9211, sedangkan hubungan antara jumlah kapal ikan yang beroperasi dengan jumlah pelanggaran memiliki nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,878. Melalui pendekatan teknologi penginderaan jauh dan VMS untuk strategi operasional pengawasan sumberdaya perikanan tangkap dapat meningkatkan efisiensi hari layar patroli menjadi 2 hari per trip dari sebelumnya 4 hari per trip sehingga tercapainya efisiensi biaya pengawasan sumberdaya perikanan per tahun dari Rp. 41,402,112,000 menjadi Rp.20,701,056,000 per tahun. Pemilihan strategi MCS dengan teknologi penginderaan jauh dan VMS yang berdasarkan analisis SWOT berada pada kuadran I (Growth Oriented Stategy)

    Integrasi Data VMS Dengan Echo SAR Untuk Identifikasi Illegal Fishing Dengan Bahasa Python

    No full text
    Synthetic Aperture Radar (SAR) adalah salah satu teknologi penginderaan jauh yang dapat diterapkan untuk pengawasan daerah penangkapan ikan yang dapat juga membantu dalam deteksi kegiatan penangkapan ikan ilegal (illegal fishing). Keefektifan deteksi penangkapan ikan ilegal sangat penting karena pencegahan dan penegakan hukum IUUF (Illegal Unregulated Unreported Fishing) harus dapat dieksekusi dengan cepat. Vessel Monitoring System (VMS) dapat diintegrasikan dengan data SAR sehingga kita dapat membedakan kapal bertransmiter VMS sebagai kapal legal dan kapal tanpa VMS sebagai kapal ilegal. Untuk mengintegrasikan data antara SAR dengan VMS, dapat digunakan algoritma untuk membangun secara otomatis menggunakan bahasa python. Pengembangan algoritma ini untuk membantu menganalisis kapal ilegal secara cepat dan tepat untuk mengurangi kesalahan penafsiran oleh operator. Untuk itu diperlukan sistem inovasi dalam menganalisis kapal ilegal khususnya asosiasi data SAR dan VMS secara otomatis di beberapa lokasi daerah penangkapan ikan di Indonesia

    Striblings of Walnut Hill - Accession 715 no. 7

    No full text
    The Stribling Family of Walnut Hill and Related Families by Bruce Hodgson Stribling chronicles the genealogy and family history of the family and their home Walnut Hill in Oconee, Pickens, and Anderson Counties of South Carolina. The book includes photographs, maps, and an index. Related families surnames include Alexander, Conger, Dendy, Dillard, Kincheloe, Knox, Sloan, and Taliaferro. The book is signed by the author. Please see attached searchable index.https://digitalcommons.winthrop.edu/manuscriptcollection_findingaids/2339/thumbnail.jp

    ANALISIS POSTUR KERJA PEMBUATAN POLA SONGKOK DENGAN METODE RULA DAN OWAS UNTUK MENGURANGI RISIKO CEDERA PEKERJA PADA UKM SONGKOK GRESIK

    No full text
    Jika membutuhkan abstrak atau isi jurnal silahkan menghubungi author melalui [email protected] atau [email protected] Dipublikasikan tanggal: 20 April 202

    Characteristics Fishing Areas of Bigeye Tuna (Thunnus Obesus) in Depth of 155 m Based on Remotely Sensed Data

    No full text
    Bigeye tuna (Thunnus obesus) is one of the commercially important pelagic species that caught mostly in the eastern Indian Ocean. This species prefers to stay close, and is usually below the thermocline layer. Remotely sensed data was used to determine the characteristics of Bigeye tuna fishing areas at a depth of 155 meter. Fishing vessels for Bigeye tuna were obtained from vessel monitoring systems (VMS) from January through December, 2015-2016. Daily data on sub-surface temperature (SST), sub-surface chlorophyll-a concentration (SSC), and sub-surface salinity (SSS) were obtained from the INDESO Project website. All oceanographic parameter data were selected at a depth of 155 m. The position of Bigeye tuna and oceanographic data were then grouped into 2 group monsoon, southeast monsoon (April – September) and northwest monsoon (October – March). The results showed that, during the southeast and northwest monsoon, Bigeye tuna mostly found in SSC of 0.03 – 0.05 mg/m3, SST of 16° - 18°C and salinity of 34 psu. These results showed that at depth of 155 m, Bigeye Tuna prefers to stay in small chl-a (0.03 – 0.04 mg/m3), low SST (16° - 18°C) and salinity of 34 psu. These information were essential and could be used to support fisheries management decisions especially for Bigeye Tuna in the eastern Indian Ocean
    corecore