1,069 research outputs found
Menyelamatkan Candi Borobudur dari Erupsi Merapi
Candi Borobudur adalah sebuah kuil nenek moyang, sebagaimana disebutkan dalam prasasti Sri Kahulunan 842 M yang menyebut Borobudur sebagai " ... Kamulan I bhumi sambhara .. . ". Kamulan dapat diartikan sebagai kuil a tau tempat suci nenek moyang (J. G. de Casparis, 1950). Bernet Kempers (1970:152), dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa "Borobudur is a complicated building with
a very special caracter of its own. There is no possibility of adopting any of the system known from literature and of using this as a simple blue print for its interpretation.
Borobudur's bu/iders impresius with the originality of their ideas which make this great monument as a religious document in its own right". Dari pernyataan tersebut,
Kempers beranggapan bahwa Candi Borobudur lahir dari kreativitas pembuatnya, sebab tidak ada satu monumen pun di dunia yang mempunyai kemiripan dengan candi ini
ETNOMATEMATIKA PADA CANDI BATUJAYA KARAWANG
Matematika ialah ilmu yang melatih beripikir kritis, logis dan sistematis.
Di dalam penerapannya matematika dapat di implementasikan terhadap seni dan
budaya yang disebut etnomatematika. Candi Batujaya Karawang merupakan candi
peninggalan kerajaan Tarumanegara. Semakin berkembangnya suatu jaman yang
semakain modern candi-candi di kawasan cagar budaya kompleks percandian
Batujaya, dilihat oleh masyarakat hanyalah sebuah bangunan peninggalan jaman
dahulu yang dijadikan tempat pariwisata. Dengan mengeksplorasi matematika
pada candi Batujaya Karawang diharapkan dapat menjadi inovasi untuk
matematika realistic dan menumbuhkan rasa cinta tanah air untuk para generasi
bangsa. Adapun tujuan peneliti yaitu: 1) Mengetahui sejarah tentang candi
Batujaya. 2) Mengidentifikasi aspek atau unsur matematika pada bentuk candi
Blandongan dan candi Jiwa. Metode penelitian yang digunakan peneliti yaitu
penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara,
observasi, dokumentasi dan catatan lapangan dengan analisis data yaitu, analisis
domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema. Hasil
penelitian yang ditemukan ialah ditemukan penanggalan yang terjadi pada dua
masa, masa yang pertama masanya Tarumanegara pada abad 5-7 M dan pada abad
7-10 M terdapat pengaruh dari Sriwijaya, pada tahun 669 M. Total titik sebaran
yang baru ditemukan adalah 62 titik sebaran, baru 39 titik sebaran yang sudah di
eskavasi dan 2 titik sebaran yang baru di pugar yaitu candi Jiwa dan candi
Blandongan. Unsur matematika yang ditemukan pada candi Batujaya Karawang
ialah golden ratio yang bernilai 1,618.... Golden Ratio yang digunakan peneliti
ialah Golden Section dan Golden Rectangle. Pertama, Golden Section diterapkan
pada 4 sisi bangian candi Blandongan yaitu sisi barat laut, sisi timur laut, sisi
tenggara dan sisi barat daya. Selanjutnya, 3 Golden Rectangle pada tangga candi
Blandongan yang hasilnya memiliki kemiripan dengan kosep Mandhala. Pada
candi Batujaya Karawang terdapat unsur transformasi yaitu Refleksi, Translasi,
Dilatasi, dan Rotasi. Eksplorasi bangun datar pada candi Batujaya, ditemukan
bentuk-bentuk bangun datar pada candi Batujaya diantaranya bentuk : persegi,
persegipanjang, trapesium dan setengah lingkaran. Eksplorasi ruang datar pada
candi Batujaya, ditemukan bentuk-bentuk bangun ruang pada candi Batujaya
diantaranya bentuk : kubus, balok dan setengah tabung. Dari penelitian ini
diharapkan menjadi wawasan serta pengetahuan pembaca terkait candi Batujaya
dan unsur matematika yang terkandung di dalamnya serta dapat memotivasi
generasi muda untuk melestarikan budaya dan menumbuhkan rasa cinta tanah air
Indonesia
TA : Perancangan Buku Berbasis Augmented Reality sebagai Media Promosi Wisata Candi Pari dan Candi Sumur di Kabupaten Sidoarjo
Candi Pari & Candi Sumur merupakan sebuah peninggalan Majapahit yang terletak di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Lokasinya sekitar 2 km ke arah barat laut dari pusat semburan Lumpur Lapindo. Candi ini ditemukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 16 Oktober 1906. Candi ini memiliki bentuk persegi, dibuat dengan batu bata. Dulunya di atas gerbang terdapat batu dengan angka tahun 1293 saka atau 1371 Masehi, Candi ini merupakan peninggalan majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di tahun 1350 – 1389. Posisi Candi Pari menghadap ke arah barat dengan Panjang 16,63 m, tinggi 18,80 m, lebar 14,26 m. Di sekitar Candi Pari sekitar 100–200 m sebelah barat daya terdapat Candi Sumur yang didirikan di zaman yang sama dengan candi pari
Long non-coding RNAs affecting cell metabolism in cancer
Metabolic reprogramming is commonly recognized as one important hallmark of cancers. Cancer cells present significant alteration of glucose metabolism, oxidative phosphorylation, and lipid metabolism. Recent findings demonstrated that long non-coding RNAs control cancer development and progression by modulating cell metabolism. Here, we give an overview of breast cancer metabolic reprogramming and the role of long non-coding RNAs in driving cancer-specific metabolic alteration
Perancangan Video Informasi Candi Kalasan
Tidak diizinkan karya tersebut diunggah ke dalam aplikasi Repositori Perpustakaan Universitas karena telah dipublikasi di Jurnal Kalpataru, Vol. 5, No. 2, Desember 2019, dan dapat diakses di http://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Kalp.Candi Kalasan yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh candi-candi yang berada di sekitarnya. Candi ini didirikan dan bercirikan Hindu dan Budha, agama yang berkembang saat itu. Candi ini sangat indah dan memiliki ukiran Kala yang paling detail dan indah yang tidak dimiliki oleh candi lain. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan masih banyak masyarakat kurang mengetahui detail candi Kalasan, dan hal ini disebabkan karena minimnya media informasi mengenai candi Kalasan, oleh sebab itu perlu adanya media informasi berbentuk audio visual untuk menceritakan detail dan keunikan dari Candi Kalasan kepada masyarakat. Pada proses perancangan video informasi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan strategi linier sehingga diharapkan melalui metode penelitian ini didapat hasil berupa video informasi yang mampu memberikan informasi yang lengkap dan detail mengenai keunikan Candi Kalasan kepada masyarakat dengan baik. Hasil dari perancangan ini dapat dimanfaatkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta dalam menginformasikan atau mensosialisasikan Candi Kalasan kepada masyarakat.Candi Kalasan (Kalasan Temple), located in Special Region of Jogjakarta, has its own exclusivity unlike any other candi has ever had. This temple was built and distinguished by the Hinduism and Buddhism, arising religions at the time when Kalasan Temple was built. This beautiful construction has the most detailed and picturesque Kala sculpture, that none of any temple in this world has. Based on the observations, publics still do not recognize the detail of Kalasan Temple, and this is because the lack of media information about the temple. Therefore, there is a necessity of media information, in form of audio visual, to tell people the detail and beauty of Kalasan Temple. Qualitative method and linear strategy were applied during the video designing process, that expectantly the result in form of informational video will be achieved through this research method that it is able to publicly give complete and detailed information on Kalasan Temple. The result of the design will later be able to be managed by The Preservation of Cultural Heritage to give information or to socialized about Kalasan Temple to the society
Kualitas Visual Pada Candi Tikus Trowulan Mojokerto
Beragam etnik dan budaya tersebar di berbagai wilayah Indonesia yang semuanya memiliki ciri khas masing-masing, keunikan antara satu suku dengan suku yang lain. Sebagai salah satu negara yang juga memiliki sejarah panjang hingga akhirnya mencapai sebuah nama Indonesia, tiap periode waktu dalam sejarah panjang negeri ini pun memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang dapat kita lihat dari peninggalan-peninggalan dari masa-masa itu. Begitu juga pada periode kebudayaan Hindhu-Budha di Indonesia, banyak peninggalan sejarah yang bisa kita pelajari hingga sekarang, salah satunya adalah candi. Di Jawa Timur, terdapat kompleks situs yang terkenal yaitu situs Trowulan, Kota Mojokerto. Situs itu merupakan reruntuhan Kerajaan Majapahit yang kaya akan peninggalan-peninggalan budaya berupa candi, gapura, sisa-sisa bangunan rumah tinggal hingga barang-barang rumah tangga pada masa Majapahit. Upaya pemerintah Mojokerto dalam konservasi mengenai bangunan peninggalan Majapahit belum sepenuhnya diwujudkan dalam eskavasi situs peninggalan Majapahit. Oleh karena itu perlu adanya sebuah penelitian baru yang merupakan salah satu usaha untuk melestarikan budaya bangsa. Salah satu situs yang belum sepenuhnya diteliti lebih lanjut adalah Candi Tikus, yang mempunyai keunikan tersendiri yang belum pernah teridentifikasi khususnya konsep ruangnya yang unik. Candi Tikus merupakan petirtaan pada zaman Majapahit dan pengatur debit air. Dilihat dari bentuknya Candi Tikus sangat berbeda dengan candi-candi yang ada di Indonesia yang biasanya terkesan kokoh dan megah dengan tinggi menjulang, candi ini dibangun pada kedalaman 3,5 meter dari tanah di sekitarnya dengan ketinggian total 5,2 meter dari dasar. Untuk masuk ke dalam candi pengunjung harus melewati tangga menurun yang berada di sebelah utara candi. Berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22,5 m x 22,5 m bangunan candi didominasi oleh bata merah sedangkan batu andesit digunakan pada pancurannya. Dinding candi dibuat berteras untuk menahan tanah di sekitarnya. Bangunan induk terbagi atas tiga bagian vertikal yaitu kaki, badan dan kepala candi. Sebagai kepala candi adalah menara yang paling besar di antara menara-menara lainnya di bagian kaki dan badan candi. Menara-menara ini merupakan simbolisasi dari Gunung Mahameru sebagai pusat makrokosmos. Posisi candi yang lebih rendah daripada sekitarnya sehingga menimbulkan kesan visual yang berbeda pada saat kita berdiri di tempat berbeda yang akhirnya menimbulkan zonifikasi ruang yang berbeda dibandingkan dengan zoning yang biasa kita terapkan pada suatu bangunan. Pada teori-teori yang umum ditemukan, kesan sempit atau lapang pada suatu bangunan dapat ditentukan dengan rumus tinggi bangunan dan jarak pengamat. Diharapkan dengan penelitian ini nantinya didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas visual pada Candi Tikus beserta perannya sehingga nantinya dapat memperkaya referensi arsitektur tentang konsep ruang arsitektur Nusantara dalam hal ini arsitektur candi
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA CANDI PENATARAN BLITAR
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Eksplorasi Etnomatematika pada Candi Penataran
Blitar” ditulis oleh Indah Puji Rahayu, NIM. 12204173257. Tadris Matematika,
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung,
pembimbing Dra. Hj. Umy Zahroh, M. Kes., Ph. D
Kata Kunci: Etnomatematika, Matematika, Budaya, Candi
Latar belakang penelitian ini adalah semakin banyak peserta didik yang
mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika yang bersifat abstrak.
Peserta didik beranggapan bahwa pembelajaran matematika tidak ada kaitannya
dengan kehidupan sehari-hari. Untuk itu diperlukan pembelajaran matematika yang
melibatkan dengan kehidupan sehari- hari seperti pendekatan pembelajaran
matematika berbasis budaya.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui peran kolam suci Candi Penataran
pada pembelajaran matematika geometri. (2) Mengetahui konsep matematika
geometri pada bangunan Candi Penataran Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis
penelitaian etnografi dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam menganalisis
data menggunakan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kolam suci Candi Penataran berperan
sebagai media atau objek pada pembelajaran matematika geometri karena pada
kolam suci Candi Penataran terdapat konsep matematika geometri dimensi dua. (2)
Terdapat konsep matematika geometri dimensi dua pada bangunan Candi Penataran
seperti sulur umpak berbentuk belah ketupat, sulur gapura pendopo teras, balai
agung, dan candi induk berbentuk segitiga sama kaki, medallion berbentuk
lingkaran, dan bingkai relief naga bersayap berbentuk persegi panjang. Selain itu
juga terdapat konsep matematika geometri dimensi tiga pada bangunan Candi
Penataran seperti umpak, pendopo teras, balai agung, candi perwara, candi naga
yang berbentuk balok. Ada juga candi angka tahun dimana pada bagian kaki dan
badan candi berbentuk balok dan bagian kepala candi berbentuk limas persegi
panjang
Pendugaan Struktur Bawah Permukaan Peninggalan Purbakala Situs Candi Jabung Probolinggo Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas
Pendugaan struktur bawah permukaan dengan metode resistivitas mapping konfigurasi Dipole-dipole di area Situs Purbakala Candi Jabung yang terletak di Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dengan menggunakan alat Resistivitymeter OYO MacOhm. Pendugaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan kedalaman batuan di bawah permukaan area Situs Purbakala Candi Jabung serta sebagai sumber informasi bagi usaha penemuan benda-benda purbakala yang masih terpendam dalam tanah. Akuisisi data dilakukan pada 10 lintasan ukur dan mencakup luas daerah pengukuran ±20.042 m 2 . Dari sepuluh lintasan pengukuran, tiga lintasan pengukuran berada pada area singkapan batuan candi. Lintasan pengukuran 1, 2, 3, 4, 5, 6 berada di sekitar Candi Menara Sudut dengan panjang lintasan 12 m dan jarak rentang elektroda (a = 1 m), sedangkan lintasan 7, 8, 9, dan 10 berada di area halaman Candi Jabung. Lintasan 7 dan 8 panjang lintasannya 150 m dengan a = 10 m, sedangkan lintasan 9 dan 10 panjang lintasannya 200 m dengan a = 4 m. Pengolahan data menggunakan software Res2dinv. Nilai resistivitas yang digunakan untuk menentukan batuan penyusun candi adalah nilai resistivitas batu bata. Dari hasil interpertasi terdapat 7 lintasan yang diduga terdapat sisa batu bata penyusun Candi Jabung dengan nilai resistivitas 33,0 Ω.m sampai 92,6 Ω.m yang berada hingga kedalaman rata-rata 1,79 m, sedangkan pada 3 lintasan yang lain tidak ditemukan sisa batuan penyusun candi. Hasil penelitian ini menunjukkan metode geolistrik sangat efektif untuk pendugaan struktur bawah permukaan tanah khususnya dalam bidang arkeologi
Pelestarian Lingkungan Candi dengan Memadukan Teknik Penanggulangan Banjir Studi Kasus Candi Blandongan di Kawasan Batujaya Kabupaten Karawang
Pelestarian kawasan merupakan salah satu langkah untuk mempertahankan keberadaan benda- benda atau cagar budaya maupun peninggalan kepurbakalaan, tinggalan budaya yang menunjukan tingkat dan perkembangan peradaban nenek moyang yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Kawasan cagar budaya Batu Jaya secara geografis terletak di desa Telagajaya kecamatan Batujaya kabupaten Karawang. Kawasan ini memiliki sekitar empat puluh sembilan situs dimana salah satu situs yang sedang dikembangkan adalah candi Blandongan. Sebagai kawasan lindung, candi ini diharapkan berguna menjadi media pendidikan dan lokasi wisata budaya yang menarik buat masyarakat. Lingkungan situs terletak di daerah persawahan dan pemukiman dimana pada saat musim penghujan dan terjadi air laut naik menimbulkan permasalahan baru yaitu banjir yang dapat merusak elemen-elemen candi, sehingga perlu adanya teknik dalam menanggulangi pengelolaan lingkungan tersebut. Teknik pengendalian banjir yang diterapkan yaitu dengan membuat selokan dengan kedalaman 2 m, lebar 1 m dan membuat tanggul setinggi 0,5 m mengelilingi candi, serta membuat kolam penampungan air berukuran panjang 2 m, lebar 2m dan kedalaman 2,5 m. Dengan teknik pengendalian banjir ini dapat mencegah terjadinya banjir dan melindungi kerusakan-kerusakan situs candi ini. Pelestarian situs ini sangat penting mengingat situs ini merupakan tempat wisata dan peribadatan dan yang terpenting dengan adanya cagar budaya ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat disekitar nya dan Kabupaten Karawang
- …
