1,721,073 research outputs found

    Tinjauan Etis-Teologis Terhadap Nilai Kolegialitas Dalam Relasi Majelis Jemaat Di GMIST Bait-El Tamako-Sangihe

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mendeskripsikan tinjauan etis-teologis terhadap nilai kolegialitas di GMIST Bait-El Tamako-Sangihe. Kolegialitas merupakan dasar atau patokan nilai dalam komunitas gereja yang harus bertumbuh dan berkembang agar mampu berjalan bersama, bukan hanya Pendeta tetapi para Majelis mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab bersama. Metode penelitian yang dipakai yaitu metode kualitatif dalam pendekatan deskriptif. Metode kualitatif menitik beratkan kegiatan penelitian dengan jalan penguraian dan pemahaman terhadap gejala-gejala sosial yang diamati. Metode kualitatif memiliki fokus yaitu pada interaksi dengan narasumber untuk mendapatkan data-data dari permasalahan yang dicari, pengumpulan data dipakai melalui observasi, wawancara terstruktur, dan hasil penelitian. Dengan teori dari Joe. E. Trull dan Robert E. Chreech yaituEthic for Christian Ministry: Moral Formation for 21st-Century Leaders dan Joe. E. Trul dan James. E. Carteryaitu melalui inti dari buku yang membahas tentang etika pelayan gereja harus mempersiapkan diri dan memampukan diri dalam segala bentuk aspek entah tugas, tanggung jawab maupun masalah dan kode etik. Menjadi pelayan Tuhan harus memiliki bekal moralitas dan integritas yang baik bukan bermodalkan pengetahuan saja sehingga untuk itu teori ini membantu bagaimana nilai kolegialitas itu dibangun dari seorang pendeta kepada para pelayan gereja dan begitu pun sebaliknya. Nilai kolegialitas di GMIST Bait-El terbangun sangat baik sehingga memberikan rasa nyaman bukan pada pendeta saja tetapi seluruh jemaat, penulis melihat begitu banyak relasi dan komunikasi yang baik terjalin sehingga diwajarkan jemaat mampu memberikan rasa menghormati, mengasihi dan juga relasi yang begitu sangat baik kepada Pendeta.This research aims to analyze and describe the theological ethical review of the value of collegiality at GMIST Bait-El Tamako-Sangihe. Collegiality is a basic or benchmark value in a church community that must grow and develop so that it is able to work together, not only the Pastor but also the members of the Council are able to carry out their duties and responsibilities together. The research method used is a qualitative method with a descriptive approach. The qualitative method focuses on research activities by describing and understanding the social phenomena observed. Qualitative methods have a focus, namely on interaction with sources to obtain data from the problem being sought, data collection is used through observation, structured interviews and research results. With a theory from Joe. E. Trull and Robert E. Chreech namely Ethics for Christian Ministry: Moral Formation for 21st-Century Leaders and Joe. E. Trul and James. E. Carter, namely through the essence of the book which discusses ethics, church servants must prepare themselves and enable themselves in all aspects, whether duties, responsibilities or problems and codes of ethics. To be a servant of God, you must be equipped with good morality and integrity, not just knowledge, so this theory helps how the value of collegiality is built from a pastor to church servants and vice versa. The value of collegiality at GMIST Bait-El is very well established so that it gives a feeling of comfort not only to the pastor but also to the entire congregation. The author sees that so many good relationships and communication are established that it is natural that the congregation is able to provide a sense of respect, love and also a very good relationship to the Pastor

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Tinjauan Etis-Teologis Terhadap Relasi antar Jemaat GMIH Elim Mawea dan Elim Todokuiha Akibat Perpecahan di Tubuh GMIH

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis relasi antar jemaat GMIH Elim Mawea dan GMIH Elim Todokuiha akibat perpecahan di tubuh GMIH dari tinjauan etis-teologis, dengan menggunakan perspektif Reinhold Niebuhr tentang Etika Kristen. Etika Kristen merupakan suatu tindakan yang diukur secara moral adalah baik. Etika Kristen menurut Niebuhr adalah etika yang didasari dengan kasih. Penelitian ini memakai metode kualitatif deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini yaitu majelis jemaat, lansia, kaum bapak, kaum ibu, pemuda dan remaja. Hasil penelitian menujukan ada dua pandangan yang berbeda-beda tentang konflik GMIH. Perasaan tidak nyaman karena perpecahan Gereja terjadi dimana-mana, kemarahan terhadap satu dengan yang lain, masing-masing ingin menang sendiri, saling menjatuhkan satu dengan yang lain. Memperburuk konflik antara GMIH Elim Mawea dan GMIH Elim Todokuiha. Relasi yang terjadi di GMIH Elim Mawea dan Elim Todokuiha pada saat perpecahan kurang lebih hampir 9 tahun karena konflik yang belum terselesaikan. Tinjauan etis-teologis terhadap relasi GMIH Elim Mawea dan GMIH Elim Todokuiha menujukan bahwa tindakan kasih harus menjadi tolak ukur dalam membangun relasi. GMIH Elim Mawea dan GMIH Elim Todokuiha memiliki harapan bisa bersama-sama menjalankan persekutuan dengan relasi penuh kasih terhadap sesama. Supaya relasi itu baik dipandang dalam kekeluargaan GMIH Elim Mawea dan GMIH Elim Todokuiha

    Pilihan untuk Berpihak bersama Orang-orang Miskin: Tinjauan Etis-Teologis terhadap Tanggung Jawab Pelayanan Majelis Jemaat di GMIM Alfa Omega Tumpaan-Minsel

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tanggung jawab pelayanan majelis jemaat GMIM Alfa Omega Tumpaan untuk berpihak bersama orang-orang miskin. Analisa tentang tanggung jawab pelayanan majelis jemaat menggunakan tinjauan etis-teologis, memanfaatkan teori Miguel De La Torre seorang ahli etika pembebasan Kristen. Dasar tanggung jawab pelayan gereja dijelaskan dengan menggunakan teori Gaylord Noyce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini adalah pelayan khusus dan anggota jemaat GMIM Alfa Omega Tumpaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa majelis jemaat telah melaksanakan tanggung jawab pelayanannya, terlebih kepada orang-termarginalkan dan orang-orang miskin, khususnya di jemaat GMIM Alfa Omega Tumpaan, hanya saja terdapat kendala serta gesekan-gesekan internal karena masalah struktural yang disebabkan oleh kurangnya komunikasi. Berdasarkan pandangan De La Torre dapat dilihat bahwa keadilan dan kesetaraan merupakan hal yang penting bagi majelis jemaat dalam berpihak bersama orang-orang miskin. Sesuai dengan teori Gaylord Noyce, tanggung jawab moral pelayan gereja dinyatakan dalam tindakan konkrit pelayan khusus yang memberi bantuan pelayanan diakonia, penggembalaan, sharing, menolong serta merangkul mereka dengan tulus hati sebagai pelayan gereja sesuai dengan panggilan Yesus Kristus yang memiliki belas kasih. Berdasarkan analisa dari ke dua teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa berpihak bersama orang-orang miskin dan terpinggirkan adalah bagian dari wujud tanggung jawab etis pelayanan di GMIM Alfa Omega Tumpaan

    Sikap Jemaat GKS Waikabubak terhadap Praktik Padiki Mawine di Loli: Sebuah Tinjauan Etika Sosial Kristen

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap jemaat GKS Waikabubak terhadap praktik padiki mawine di Loli dengan menggunakan pemikiran Norman L. Geisler tentang etika sosial Kristen. Praktik padiki mawine merupakan praktik perkawinan adat di Loli yang telah ada dan dilakukan secara turun-temurun. Praktik perkawinan adat ini merupakan suatu keharusan bagi pasangan yang hendak menyatakan keseriusan menjalani hubungan. Praktik ini biasanya dilakukan sebelum dilaksanakan perkawinan di Gereja. Pasangan yang telah dinyatakan sah oleh adat sebagai suami istri berhak hidup bersama bahkan memiliki anak sebelum menikah secara gerejawi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah jemaat GKS Waikabubak. Berdasarkan hasil penelitian, kurangnya pemahaman jemaat GKS Waikabubak mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam proses praktik padiki mawine serta nilai-nilai etika yang berlaku di dalam jemaat sebagai umat Kristen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jemaat kurang dalam menanggapi betapa seriusnya kesiapan sebagai calon pasangan yang memperhatikan serta menimbang keputusan-keputusan etis sebagai orang Kristen ketika menghadapi praktik padiki mawine sehingga munculnya dilema moral yang tidak disadari di dalam kehidupan sebagai masyarakat yang beragama dan berbudaya. Adapun hal-hal yang menjadi tantangan yang dihadapi pasangan sehingga kurangnya diberikan ruang untuk berbicara dan memutuskan pilihan-pilihan etis dan anggapan bahwa budaya merupakan tradisi turun-temurun yang patut diikuti. Jemaat kurang serius dalam menyikapi fenomena ini sebagai dilema moral yang berdampak serius bagi setiap lingkup jemaat GKS Waikabubak. Oleh karena itu, perlunya tindakan serius yang tepat guna dan tepat sasaran dalam menyikapi praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai etika sosial kekristenan

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Tinjauan Etika Kepemimpinan Kristen terhadap Kolegialitas Pelayan di GPIB ATK Ambarawa

    Full text link
    Kolegialitas adalah sikap yang berciri rasa setia kawan dan harus dimiliki tiap-tiap individu di dalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Begitupun, dengan gereja sebagai sebuah organisasi yang di dalamnya ada yang menjadi pemimpin dan yang dipimpin, kolegialitas harus dimiliki setiap individu. Untuk itu, di dalam praktek kepemimpinannya, seorang pelayan gereja harus mampu membangun hubungan kolegialitas dengan cara bekerjasama untuk memberitakan visi Kerajaan Allah. Pelayan gereja yang menjadi fokus penelitian ini ialah pendeta, penatua dan diaken. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis praktek kepemimpinan dan peran kolegialitas pelayan di GPIB ATK Ambarawa dari perspektif etika kepemimpinan Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penulisan deskriptif untuk membuat deskripsi secara akurat mengenai fakta terkait fenomena yang diselidiki. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah observasi partisipatif dan wawancara tak berstruktur dengan teknik pengambilan sampel Purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktek kepemimpinan di GPIB ATK Ambarawa sudah sesuai dengan sistem presbiterial sinodal, sebagaimana nampak dalam keterlibatan para pelayan dalam Sidang Majelis Jemaat dan kesadaran akan tugas serta tanggung jawabnya. Namun, dalam hal membangun hubungan kolegialitas ditinjau dari etika kepemimpinan Kristen, para pelayan di GPIB ATK Ambarawa, masih perlu meningkatkan kualitasnya. Hal ini dikarenakan, masih ditemukannya beberapa kelemahan dalam hubungan kolegialitas yang terjalin antar pelayan di GPIB ATK Ambarawa. Permasalahan-permasalahan tersebut di dasari oleh kurangnya relasi kolegal antar pelayan, perbedaan pendapat, masalah koordinasi dan perasaan segan terhadap pelayan yang lebih tua

    Peran Orang Tua sebagai Pendidik terhadap Pertumbuhan Rohani Remaja Usia 13-19 Tahun pada Masa Pandemi COVID-19 di GMIT Galilea Padang Tekukur

    Full text link
    Orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga telah diberikan tanggung jawab atau mandat oleh Allah untuk menjadi pendidik, agar seluruh anggota keluarga termasuk remaja mengalami pertumbuhan iman kepada Allah. Dalam upaya pendidikan ini, orang tua perlu menjadi pendidik yang membebaskan terutama kepada remaja yang sedang berada dalam tahapan pencarian jati diri dan tidak mau berada di bawah otoritas orang tua. Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi peranan orang tua di GMIT Galilea Padang Tekukur sebagai pendidik di dalam rumah terhadap pertumbuhan rohani remaja, khususnya selama masa pandemi COVID-19, melalui kajian pendekatan dialog dan didaktik dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Kedua pendekatan tersebut menuntun para orang tua sebagai pendidik untuk menerapkan metode pendidikan di dalam rumah yang tidak menindas bagi remaja, melainkan menciptakan relasi belajar-mengajar yang memandang remaja sebagai subjek dan rekan belajar. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, dimana diuraikan tentang relasi orang tua sebagai pendidik dan remaja usia 13-19 tahun yang mengalami pertumbuhan rohani. Teknik pengumpulan data dilakukan dalam bentuk wawancara dan observasi. Unsur kebaruan dari penelitian ini yaitu mengkaji proses pendidikan di rumah yang membebaskan bagi remaja oleh orang tua sebagai pendidik selama masa pandemi COVID-19. Hasil yang didapati dari penelitian ialah orang tua di GMIT Galilea Padang Tekukur telah memahami dan melaksanakan perannya sebagai pendidik terhadap pertumbuhan rohani remaja, tetapi belum sepenuhnya menerapkan proses belajar-mengajar yang membebaskan
    corecore