1,721,057 research outputs found
Lila Khamelda, Ludfi Djakfar, Wisnumurti, Femiana Gapsari, Kinerja CPHMA terhadap Aplikasi Alternatif Modifier Asbuton Berbasis Minyak Kemiri.
Kebutuhan jalan yang semakin meningkat berdampak pada suplai bahan baku, utamanya
aspal. Kebutuhan aspal minyak setiap tahun diperkirakan sebesar 1.200.000 ton dan hanya
dapat terpenuhi sekitar 500.000 ton dari produksi dalam negeri sedangkan kekurangannya
masih dipenuhi oleh produsen luar negeri. Aspal minyak sebagai aspal konvensional hingga
saat ini masih merupakan prioritas utama dalam menyuplai kebutuhan bahan baku jalan.
Jumlah sumber daya dan kuantitas aspal minyak yang terbatas, belum dapat mencukupi
kebutuhan konstruksi jalan. Hal ini menunjukkan dibutuhkannya peningkatan akan bahan
baku dalam negeri, baik kuantitas maupun sumber daya alam.
Aspal Buton (Asbuton) sebagai produk dalam negeri menawarkan peluang sebagai alternatif
sumber daya alam yang akan mampu menyuplai kebutuhan aspal. Asbuton hingga saat ini
masih belum populer digunakan dikarenakan beberapa kekurangannya, antara lain
dibutuhkannya material sebagai modifier asbuton. Kebutuhan asbuton akan material ini
disebabkan asbuton telah terekspos di udara terbuka selama ratusan tahun sehingga fraksi
cairan dari maltene berkurang dan bitumen terperangkap dalam mineral asbuton.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan material yang dapat menjadi modifier untuk
asbuton sehingga dapat menggantikan penggunaan modifier konvensional dimana idealnya
material yang akan menjadi modifier juga merupakan produk lokal, mudah didapatkan,
mudah dikerjakan dan relatif tidak mahal. Kinerja modifier akan diaplikasikan pada
perkerasan CPHMA (Cold Paving Hot Mix Asbuton) dimana modifier dengan kuantitas
tertentu dicampurkan dengan agregat dan asbuton, diaduk secara manual pada suhu ruang
dan dipanaskan di oven dengan suhu dan durasi tertentu, kemudian dipadatkan. Hasil yang
didapatkan dari penelitian ini akan dapat meningkatkan kuantitas suplai aspal, peningkatan
nilai ekonomis dan pemanfaatan asbuton serta teknologi untuk produk lokal.
Metode penelitian yang akan dilakukan berpedoman pada pengujian aspal yang menguji
ketahanan campuran perkerasan dengan uji marshall, tensile strength, rutting, stiffness,
fatigue dan creep dimana tahap seleksi material didasari oleh uji coba (trial), liquid liquid
extraction (LLE), fourier transform infra red (FTIR) dan X-Ray Fluorescence (XRF).
Hasil dari penelitian yang merupakan novelty dalam pengetahuan asbuton yaitu (1)
terbuktinya potensi minyak kemiri sebagai bahan dasar modifier asbuton, (2) ditemukannya
proses seleksi minyak nabati atau material dengan titik didih tinggi sebagai modifier asbuton,
(3) ditemukannya mekanisme pelunakan dan pelarutan bitumen asbuton, (4) ditemukannya
kuantitas modifier serta durasi dan suhu pemanasan campuran CPHMA untuk mendapatkan
ketahanan yang optimal, (5) ditemukannya nilai ketahanan marshall, tensile strength, rutting,
stiffness, fatigue dan creep optimal dari campuran CPHMA dengan modifier berbasis
minyak kemiri
Pengaruh Penambahan Serabut Kelapa Terhadap Kinerja Campuran Aspal Self Healing
RINGKASAN
RIDANI PUTRI dan DINDA TIARA LEMBAYUNG, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Juni 2022, Pengaruh Penambahan Serabut Kelapa Terhadap Kinerja Campuran Aspal Self Healing, Dosen Pembimbing: Prof. Ir. Ludfi Djakfar, MSCE., Ph.D., IPU. dan Rahayu Kusumaningrum, ST., MT., M. Sc.
Jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang paling utama di Indonesia. Namun, sepanjang jalan itu banyak ditemukan penuaan aspal seperti kerusakan jalan seperti retak dan pelepaasan butiran (raveling) yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta volume dan beban kendaraan yang semakin meningkat. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini adalah dengan metode overlay. Namun kurang efektif terhadap penghematan biaya, sumber daya alam, dan berpengaruh terhadap elevasi permukaan jalan. Oleh sebab itu dilakukan penelitian dengan menambahkan serabut kelapa pada campuran aspal self healing. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan serabut kelapa terhadap nilai stabilitas, komposisi optimum dari kadar dan panjang serabut kelapa, dan pengaruh penambahan serabut kelapa pada campuran aspal self healing.
Pada penelian ini penambahan kapsul pada campuran beraspal sebesar 2% dengan perbandingan komposisi air dan sunflower oil adalah 3:1. Ditemukan bahwa Kadar Aspal Optimum (KAO) yang akan digunakan yaitu 6,15%. Variasi kadar serabut kelapa adalah 0.2%; 0.4%; dan 0.6%. Serta variasi panjang serabut kelapa adalah 10 mm; 15 mm; dan 20 mm. Hasil dari penelitian ini dianalisis menggunakan metode grafik pita dan metode grafik 3 dimensi yang nantinya akan dibandingkan untuk menentukan nilai stabilitas yang lebih optimum. Selain itu, pada penelitian ini digunakan metode Two Way Anova dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serabut kelapa pada kinerja campuran beraspal.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kapsul kalsium alginate mengalami kebocoran pada saat proses pencampuran dan pemadatan yang diakibatkan karena beberapa faktor sehingga pada saat pengujian Marshall hasil dari nilai stabilitas menurun. Oleh karena itu penelitian dilanjutkan dengan menggunakan serabut kelapa sebagai additive pada campuran beraspal. Dan hasil dari analisis menggunakan metode Two Way Anova didapatkan bahwa terdapat pengaruh pada penambahan serabut kelapa terhadap campuran beraspal. Selain itu, hasil interpretasi dengan menggunaan grafik 3 dimensi didapatkan kadar optimum serabut kelapa sebesar 0.2% dengan panjang 13.18 mm serabut kelapa mampu meningkatkan nilai stabilitas sebesar 6.2%.
Kata Kunci: Aspal Self Healing, Serabut Kelapa, Karakteristik Marshall, Grafik 3D,
Sunflower Oil
Pengaruh Variasi Kadar dan Panjang Serat Ijuk Sebagai bahan Modifier Campuran Laston Lapis Aus Asbuton (AC-WC Asb) Terhadap Kinerja Marshall dan Cantabro.
RINGKASAN
Theo Adhitya Kusuma, Abid Haritsah Rahman, Departement Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Juli 2022, Pengaruh Variasi Kadar dan Panjang Serta Ijuk Sebagai Bahan Modifier Campuran Laston Lapis Aus Asbuton (AC-WC Asb) Terhadap Kinerja Marshall dan Cantabro, Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Ludfi Djakfar, MSCE., Ph.D., IPU dan Rahayu Kusumaningrum, ST., MT., M.SC.
Terdapat sekitar 4.000 km lapisan jalan nasional yang mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan volume kendaraan yang tinggi, sehingga menjadikan pembebanan yang berlebih pada jalan. Oleh karena itu munculah ide untuk menambahkan serat ijuk kedalam campuran aspal sebagai bahan perkuatan. Indonesia juga masih mengimpor aspal minyak sebesar 600.000 ton setiap tahunnya, padahal Indonesia memiliki deposit aspal alami yang sangat besar yang terletak di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara sehingga dinamakan Aspal Buton. Maka dari itu pada penelitian ini, kami memanfaatkan aspal buton guna mensubtitusikan kebutuhan aspal minyak. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serat ijuk terhadap nilai karakteristik marshall dan cantabro dari campuran laston lapis aus asbuton (AC-WC Asb), juga menganalisis kadar dan panjang serat optimum yang akan menghasilkan karakteristik campuran yang maksimal.
Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan terlebih dahulu melakukan pengujian terhadap sifat fisik masing-masing material yang akan digunakan, dengan acuan Spesifikasi Bina Marga 2018. Penelitian dilakukan dengan menelusuri terlebih dahulu nilai KAO campuran (aspal minyak dan aspal buton) untuk selanjutnya ditambahkan serat ijuk dengan rentang kadar serat 0.2 % - 0.4 % serta panjang serat ijuk 0.5 cm – 1.5 cm. Penelitian dilanjtukan dengan pengujian cantabro, untuk mengetahui pengaruh penambahan serat terhadap tingkat kerapuhan campuran. Analisis statistic data dilakukan dengan pengujian normalitas, homogenitas, anova, tukey HSD, duncan, regresi dan korelasi.
Hasil pemeriksaan keseluruhan sifat fisik bahan material yang digunakan menunjukan bahwa seluruh material memenuhi batasan spesifikasi bina marga. Dari hasil pengujian dan pengolahan data didapati bahwa penambahan serat berpengaruh terhadap karakteristik marshall campuran. Berdasarkan parameter stabilitas diperoleh kadar serat ijuk optimum sebesar 0.2 % dari berat campuran, dengan panjang serat ijuk optimum sepanjang 0.5 cm. Dibandingkan dengan campuran tanpa penambahan serat, pada kadar dan panjang serat ijuk optimum ini menunjukan peningkatan nilai stabilitas sebesar 3.11 %, nilai MQ sebesar 15.56 %, nilai VMA sebesar 7.97 %, nilai VIM sebesar 33.76 %. Sedangkan nilai VFB mengalami penurunan sebesar 9.80 %, dan kelelehan mengalami penurunan sebesar 13.07 %, untuk pengujian cantabro didapati nilai kehilangan partikel meningkat sebesar 3.77 % yang berarti campuran menjadi semakin rapuh. Penambahan serat secara umum didapati tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan nilai stabilitas, namun memiliki kecenderungan meningkatkan nilai kelelehan. Dapat diartikan campuran menjadi semakin lentur, sehingga memiliki ketahanan terhadap retak yang cukup baik, namun kurang tahan terhadap alur roda (nilai VIM tinggi). Campuran semacam ini cocok sebagai bahan perkerasan untuk jalanan dalam kota yang sering dilewati kendaraan ringan.
Kata kunci: AC-WC Asb, Asbuton, Serat Ijuk, VIM, VMA, VFB, Stabilitas, Kelelehan, MQ, Kehilangan Partike
Drivers' Responses to Countdown Timer at Signalized Intersection
Countdown Timers (CT) have gained significant popularity in recent years not only in many countries but also in Indonesia, particularly in the provinces of Central Java and East Java. CT displays the remaining seconds in numbers clearly before switching the traffic light on or off after a period of time. Three seconds before the light is to be off, drivers prepare to slow down the vehicles. On the contrary, some speed up to hasten the vehicles. The contrast behaviors represent different responses to traffic signals in an intersection. There are contradictions found in a number of previous studies as using a CT has potential advantages and disadvantages. One advantage is the driver is more prepared to continue riding. The disadvantage is the driver manipulates the countdown to speed up by yellow to red signals. To be objective, the data were obtained from the results of questionnaire based on a Likert Scale with eight variables out of 100 respondents of Sragen, 175 of Probolinggo, and 390 of Malang. The data were tabulated and analyses were carried out using Binary Logistic Regression. The results of the research are expected to be able to strengthen the previous findings. It can be concluded that CT is not necessary intall at the signalized intersection which can be the referrence for the further researches
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
