66 research outputs found
Simblefaron
Rodiah Rahmawaty LubisSimblefaron merupakan perlekatan abnormal antara permukaan konjungtiva yang dapat terjadi akibat reaksi radang, trauma, ataupun operasi. Simblefaron dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi dimana terjadi perlekatan bola mata akibat adhesi antara konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi.
Simblefaron dapat terjadi akibat proses penyembuhan permukaan antara konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi. Penyebab umumnya dapat berupa trauma kimia, trauma panas, konjungtivitis membran, ulserasi konjungtiva, dan Stevens-Johnson Syndrome. Simblefaron dapat juga disebabkan oleh komplikasi beberapa penyakit seperti cicatricial conjunctivitis, cicatrcial pemphigoid, eritema multiform, pemfigus bulosa, dan keratoconjuntivitisKarya Tulis Dose
Obstruksi Duktus Nasolakrimal
Rodiah Rahmawaty LubisSistem drainase lakrimal terbagi menjadi unit sekretori dan unit eksretori. Cairan air mata yang dihasilkan oleh kelenjar ini tersusun atas komponen aqueous, musin, dan minyak yang berfungsi untuk mempertahankan epitel permukaan kornea. 90% cairan lakrimal akan mengalir ke sistem eksretori, sedangkan 10% akan menguap saat mata tidak berkedip. Alirannya juga diregulasi oleh otot orbikularis okuli. Sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu bagian akan terjadi keluhan epifora.1,2,3
Obstruksi duktus nasolakrimal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kongenital dan didapat. Obstruksi duktus nasolakrimal kongenital biasanya disebabkan oleh stenosis/atresia punctum dan kanalikula kongenital, malformasi nasal, dan abnormalitas kraniofasial. Sedangkan obstruksi duktus nasolakrimal didapat menjadi primer (diakibatkan oleh inflamasi atau fibrosis tanpa penyebab yang diketahui) dan sekunder (disebabkan oleh inflamasi dan fibrosis dengan penyebab seperti infeksi, inflamasi, neoplasma, trauma, atau faktor mekanik).Karya Tulis Dose
Obstruksi Duktus Nasolakrimal
Rodiah Rahmawaty LubisSistem drainase lakrimal terbagi menjadi unit sekretori dan unit eksretori. Cairan air mata yang dihasilkan oleh kelenjar ini tersusun atas komponen aqueous, musin, dan minyak yang berfungsi untuk mempertahankan epitel permukaan kornea. 90% cairan lakrimal akan mengalir ke sistem eksretori, sedangkan 10% akan menguap saat mata tidak berkedip. Alirannya juga diregulasi oleh otot orbikularis okuli. Sehingga apabila terjadi gangguan pada salah satu bagian akan terjadi keluhan epifora.1,2,3
Obstruksi duktus nasolakrimal terbagi menjadi dua jenis, yaitu kongenital dan didapat. Obstruksi duktus nasolakrimal kongenital biasanya disebabkan oleh stenosis/atresia punctum dan kanalikula kongenital, malformasi nasal, dan abnormalitas kraniofasial. Sedangkan obstruksi duktus nasolakrimal didapat menjadi primer (diakibatkan oleh inflamasi atau fibrosis tanpa penyebab yang diketahui) dan sekunder (disebabkan oleh inflamasi dan fibrosis dengan penyebab seperti infeksi, inflamasi, neoplasma, trauma, atau faktor mekanik).Karya Tulis Dose
The Relationship Between Fibroblast Growth Factor-2 (FGF2) Level and the Incidence of Eye Tumors
Background: Ocular tumors are rare conditions that may pose a threat to vision
and life. They encompass various types, including intraocular and extraocular
tumors, which may be either benign or malignant. Fibroblast Growth Factor-2
(FGF2) is a potent pro-angiogenic factor suspected to play a critical role in
tumor pathogenesis, including ocular tumors, due to its ability to stimulate tumor
cell proliferation and neovascularization.
Methods: This observational study employed a case-control design and was
conducted at Prof. Dr. Chairuddin P. Lubis Hospital, Universitas Sumatera
Utara, and its affiliated network hospitals. Study subjects consisted of patients
diagnosed with ocular tumors (both benign and malignant) and healthy controls.
Serum levels of FGF2 were measured using the ELISA method. Statistical
analyses were performed using SPSS software version 24.0.
Results: A total of 38 patients were included in the study, with 65.8% being
female. The mean age of participants was within the fifth decade of life. FGF2
levels were significantly higher in the tumor group compared to the control group
(p = 0.04). Furthermore, FGF2 levels were significantly elevated in patients with
malignant tumors compared to those with benign tumors (p = 0.001), indicating a
correlation between elevated FGF2 levels and tumor malignancy.
Conclusion: There is a significant association between FGF2 levels and the
occurrence of ocular tumors. FGF2 also has potential as a biomarker to
differentiate between benign and malignant ocular tumors.100 PagesTesis Magiste
Sindroma Blefarofimosis
Rodiah Rahmawaty LubisBlefarofimosis, ptosis, sindrom epikantus inversus (BPES) adalah gangguan yang jarang ditemukan yang diturunkan sebagai secara autosomal dominan. Blefarofimosis adalah penyempitan horizontal dari fisura palpebra (celah mata). Gejala utama dari gangguan ini adalah penyempitan horizontal dari fisura palpebra (celah mata) yaitu blefarofimosis, lipatan vertikal kulit dari kelopak mata bawah sampai kedua sisi hidung (epicanthus inversus), dan kelopak mata atas jatuh kebawah (ptosis).
Terdapat dua jenis sindrom yaitu Tipe I BPES yang melibatkan infertilitas wanita dan diturunkan sebagai sifat genetik autosomal dominan. Salah satu orang tua dengan sindroma BPES tipe I, 50% dapat menurunkan kepada anak-anaknya. Tipe II BPES juga diturunkan secara autosomal dominan. Tipe II BPES tidak terkait dengan infertilitas wanita. Dalam sindrom ini, dijumpai flat nasal bridge dan hipoplastic orbital rim.Karya Tulis Dose
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Berjemur pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara
Background: Various studies have found an association between sunlight on the skin which induces vitamin D production and immunity. Therefore, it is understandable that sunlight can boost the immune system and help in fighting various kinds of diseases. Unfortunately, the level of knowledge sometimes does not reflect well on the level of behavior. There are still many people which in this case are students of the Universitas Sumatera Utara who ignore the importance of sunbathing. Objective: This paper is made to determine the relationship between the level of knowledge and sunbathing behavior among students in Universitas Sumatera Utara. In addition, this is to introduce the benefits of sunbathing specifically to increase body immunity. Method: This epidemiological study used an analytic survey method with a cross sectional approach with the sampling technique using a google form questionnaire and filled in by students of the Universitas Sumatera Utara. Results: In this study it was found that from 229 respondents who are an active undergraduate students in the 2019/2020 school year were known to have a low level of knowledge about the benefits of sunbathing for 55.5%. Meanwhile, the level of behavior was categorized as good, for 51.5%. (p value = 0.01) Conclusion: With the p value obtained <0.05, it can be concluded that the hypothesis in this study can be accepted, which means that there is a relationship between the level of knowledge and sunbathing behavior among students at the Universitas Sumatera Utara.Latar Belakang: Berbagai penelitian telah menemukan hubungan antara sinar matahari pada kulit yang menginduksi produksi vitamin D dan imunitas/kekebalan tubuh. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa sinar matahari dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu dalam memerangi berbagai macam penyakit. Sayangnya, tingkat pengetahuan terkadang tidak mencerminkan baiknya tingkat perilaku. Masih banyak masyarakat yang dalam hal ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang mengabaikan pentingnya berjemur. Tujuan: Tulisan ini disusun untuk mengatahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku berjemur pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Selain itu, sebagai upaya memperkenalkan manfaat berjemur yang secara spesifik untuk meningkatkan imunitas tubuh. Metode: Penelitian epidemiologi ini menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan kuisioner google form dan diisi oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Hasil : Pada penelitian ini ditemukan bahwa didapatkan dari 229 responden mahasiswa aktif belajar strata satu tahun ajaran 2019/2020 diketahui mempunyai tingkat pengetahuan kurang mengenai manfaat berjemur yaitu sebesar 55.5%. Sedangkan, untuk tingkat perilaku dikategorikan baik yaitu sebesar 51.5%. (p value = 0.01) Kesimpulan : Dengan p value yang didapatkan <0.05, maka dapat disimpulkan hipotesa pada penelitian ini dapat di terima yang berarti adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku berjemur pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.71 HalamanSkripsi Sarjan
Analisis Faktor-Faktor Risiko Pasien Katarak di RS Sumatera Eye Center Tahun 2019
Background. Cataract is any state of turbidity in the lens that can occur due to hydration (addition of fluid) of the lens, denaturation of the lens protein, or due to both. Cataract comes from the Greek Katarrakhies, English cataract and Latin cataracta which means waterfall. Cataract is a disease that often causes blindness, generally occurs in old age but can also be due to congenital abnormalities or chronic local eye disease. Aim. This research was made because of the many people with cataracts and to analyze risk factors related to cataracts. Method. The study was observational analytic with cross sectional design. The study sample was all SMEC Hospital patients who were diagnosed with cataracts who had fulfilled the inclusion and exclusion criteria and were taken based on the consecutive sampling method. Research data is primary data directly taken from subjects using a questionnaire. The research instrument was a questionnaire. Results. The results were obtained from 90 respondents, there were 45 respondents with cataracts. The results of statistical calculations with the Chi Square correlation test showed that there was a significant relationship between the occurrence of cataracts with age (p = 0.032), gender (p = 0.028), UV exposure (p = 0.035), and use of corticosteroid drugs (p = 0.046). Conclusion. There is a significant relationship between risk factors for age, sex, exposure to UV rays, diabetes, and the use of corticosteroid drugs to the occurrence of cataracts in patients of SMEC Hospital in 2019.Latar Belakang.Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat kedua-duanya.Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrakhies, Inggris cataract dan Latin cataracta yang berarti air terjun.Katarak merupakan penyakit yang sering menyebabkan kebutaan, umumnya terjadi pada usia lanjut akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital atau penyulit penyakit mata lokal menahun.Tujuan. Penelitian ini dibuat karena banyaknya penderita katarak serta untuk menganalisa faktor risiko yang berhubungan terhadap penyakit katarak. Metode. Penelitian yang dilakukan bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah semua pasien RS SMEC yang didiagnosa katarak yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan diambil berdasarkan metode consecutive sampling. Data penelitian merupakan data primer yang langsung diambil dari subjek dengan menggunakan kuesioner.Instrumen penelitian adalah kuesioner.Hasil.Hasil penelitian didapatkan dari 90 responden, terdapat 45 responden dengan katarak. Hasil perhitungan statistik dengan uji korelasi Chi Square memperlihatkan terdapat hubungan bermakna antara terjadinya katarak dengan faktor usia(p = 0,032), jenis kelamin (p = 0,028), paparan sinar uv (p = 0,035), penggunaan obat kortikosteroid (p = 0,046). Kesimpulan.Terdapat hubungan yang bermakna antara faktor risiko usia, jenis kelamin, paparan sinar uv, dan penggunaan obat kortikosteroid terhadap terjadinya katarak pada pasien RS SMEC tahun 2019.66 HalamanSkripsi Sarjan
Perbandingan Penggunaan Komputer dengan Smartphone Terhadap Kejadian Sindroma Mata Kering
Background. Dry eye syndrome is a multifactorial disease of the tears and ocular surface that
causes eye discomfort and also causes visual disturbances with potential damage to the ocular
surface. Dry eye syndrome can cause mild to severe complaints. Several studies show that dry eye
syndrome can have a major impact on visual function, daily activities, social and physical
functioning, work productivity and quality of life. Complications of advanced stages of dry eye
syndrome are keratitis, ulcers and subsequently can cause blindness. Reports of the incidence of dry
eye syndrome still vary because the definition and diagnostic criteria for research are still diverse.
The use of computers and smartphones for an excessive period of time and a distance that is too
close is related to the condition of the user's eyes. Eyes are organs of vision that work when we stare
at computer screens and smartphones. Symptoms can include eye strain/tiredness, dry eyes, red
eyes, eye irritation, burning sensation in the eyes, blurred vision, double vision, slow to change
focus, changes in color perception, excessive tear secretion, sensitivity to light/glare, headaches.
and pain in the neck, shoulders and back. Aim. This study aims to compare the use of computers
with smartphones on the incidence of dry eye syndrome. Method. This study used an observational
analytic method with a cross sectional research design. This research was conducted in Medan. The
population in this study were employees of Bank Bukopin KC Medan and Faculty of
Medicine,University of North Sumatera, who met the inclusion criteria. The data used is primary
data that will be obtained from questionnaires filled out online via google form. Results. Of the 62
respondents, 16 respondents (25.8%) were male and 46 respondents (74.2%) were female. 10 people
(16.1%) computer users experienced severe dry eye syndrome, 7 people (11.3%) computer users
experienced moderate, mild dry eye syndrome and did not suffer from dry eye syndrome. 5 people
(8.1%) smartphone users experience severe dry eye syndrome, 4 people (6.5%) smartphone users
experience moderate dry eye syndrome, 6 people (9.7%) smartphone users experience mild dry eye
syndrome and 16 people (25, 8%) smartphone users showed no dry eye syndrome. Based on the
results of the chi-square test, the p result was 0.021 (p <0.05), which means that there is a
relationship between the comparison of computer and smartphone use on the incidence of dry eye
syndrome in Bank Bukopin KC Medan and Student at Faculty of Medicine,University of North
Sumatera. Conclusion. There is a relationship between the comparison of the use of computers and
smartphones on the incidence of dry eye syndrome.Latar Belakang. Sindroma mata kering adalah penyakit multifaktorial pada air mata dan
permukaan mata yang menyebabkan mata terasa tidak nyaman dan juga menyebabkan gangguan
penglihatan dengan potensi kerusakan pada permukaan mata. Sindroma mata kering bisa
memberikan keluhan ringan sampai berat. Beberapa studi menunjukkan bahwa sindroma mata
kering dapat memiliki dampak besar terhadap fungsi visual, aktivitas sehari-hari, fungsi sosial dan
fisik, produktivitas kerja dan kualitas hidup. Komplikasi tahap lanjut dari sindroma mata kering
adalah keratitis, ulkus dan selanjutnya dapat menimbulkan kebutaan. Laporan angka kejadian
sindroma mata kering masih bervariasi karena definisi dan kriteria diagnosis untuk penelitian
masih beragam. Pemakaian komputer dan smartphone dalam jangka waktu yang berlebih dan jarak
yang terlalu dekat berkaitan dengan kondisi mata pengguna. Mata merupakan organ penglihatan
yang bekerja saat kita menatap layar komputer dan smartphone. Gejalanya dapat berupa
keteganan/kelelahan mata, mata kering ,mata merah, iritasi mata, rasa terbakar pada mata,
penglihatan kabur, penglihatan ganda, lambat dalam mengubah fokus, perubahan persepsi warna,
sekresi air mata yang berlebihan, sensitif cahaya/silau, nyeri kepala dan rasa sakit pada leher, bahu
dan punggung. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan
komputer dengan smartphone terhadap kejadian sindroma mata kering. Metode. Penelitian ini
menggunakan metode analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian
ini dilakukan di Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai Bank Bukopin KC Medan,
mahasiswa FK USU angkatan 2018, yang sesuai dengan kriteria inklusi. Data yang digunakan
adalah data primer yang akan didapatkan dari kuesioner yang diisi secara online melalui google
form. Hasil. Dari 62 responden, 16 responden (25,8%) berjenis kelamin laki-laki dan 46 responden
(74,2%) berjenis kelamin perempuan. 10 orang (16,1%) pengguna komputer mengalami sindroma
mata kering derajat berat, 7 orang (11,3%) pengguna komputer mengalami sindroma mata kering
derajat sedang, ringan dan tidak menderita sindroma mata kering.5 orang (8,1%) pengguna
smartphone mengalami sindroma mata kering derajat berat, 4 orang (6,5%) pengguna smartphone
mengalami sindroma mata kering derajat sedang, 6 orang (9,7%) pengguna smartphone mengalami
sindroma mata kering derajat ringan dan 16 orang (25,8%) pengguna smartphone menunjukkan
tidak mengalami sindroma mata kering. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan hasil p sebesar
0,021 (p<0,05) yang artinya adanya hubungan antara perbandingan penggunaan komputer dengan
smartphone terhadap kejadian sindroma mata kering pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU
dan Pegawai Bank Bukopin KC Medan. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara perbandingan
penggunaan komputer dengan smartphone terhadap kejadian sindroma mata kering.72 HalamanSkripsi Sarjan
Faktor Risiko Terjadinya Sindrom Mata Kering pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Background. Dry eye syndrome is a multifactorial disease that can trigger a decrease in the production of eye fluids, this is due to changes in the epithelial surface so that it shows a decrease in tear production and sensitivity of the eye surface caused by the appearance of various inflammatory responses.Aim. To analyze the risk factors that can cause the occurrence of dry eye syndrome in colleger of FK USU. Method. The method used in this study was analytic observational with a cross-sectional design regarding the risk factors for the incidence of dry eye syndrome in FK USU students in 2019, 2020 and 2021 as a population and 88 as a study sample. Research data collection was carried out using a g-form containing the OSDI questionnaire and risk factor questions. Results. The results showed that there was a relationship between dry eye syndrome and smartphone exposure duration ≥ 8 hours per day through the chi- square test with a p value of p = 0,001 ( 6 hours per day through the chi-square test with p = <0,001 (<0,05). However, there was no relationship between exposure to cigarette smoke in active smokers and the occurrence of dry eye syndrome in college in FK USU through chi-square test p = 0,367 (<0,05). Conclusion. Environmental factors can influence the occurrence of dry eye syndrome, therefore you should be more aware of minimizing exposure to risk factors such as using a smartphone and also being in an air-conditioned room.87 HalamanSkripsi Sarjan
Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) dalam Menghambat Staphylococcus aureus pada Pasien Konjungtivitis Bakterial
Introduction: Bacterial conjungtivitis is a condition of inflamed conjungtiva caused by bacterial agent. One of the most common bacterial agent being Staphylococcus aureus. The first line option of treatment of this condition is by applying antibiotic but the downside of this option is the rise of resistency phenomenom and hypersensitivity reaction. Piper betle L. leaf has been known to exhibit antimicrobial potency because of its phenol component. Objective: To determine the effectivity of Piper betle L. leaf extract in inhibiting Staphylococcus aureus. Method: This study follows a post-test only experimental design on agar-well diffusion method with six Piper betle L. leaf extract concentrations (0.5%; 1%; 1.5%; 2%; 2.5%; 3%). The datas were obtained by observing the diameter of clear zones around the well. Result. The average diameter on 0.5% concentration is 2.500 ± 5.000 mm; 1% is 11.875 ± 1.750 mm; 1.5% is 13.000 ± 2.160 mm; 2% is 15.875 ± 2.780 mm; 2.5% is 17.500 ± 2.380 mm; 3% is 20.375 ± 6.332 mm. Analysis with Mann-Whitney test results showed that in between 1% and 1.5%; 1% and 2%; 1.5% and 2%;1.5% and 2.5%; 2% and 2.5%; 2.5% and 3% concentrations do not show a significant difference but in between 0.5% and 1%; 0.5% and 1.5%; 0.5% and 2%; 0.5% and 2.5%; 0.5% and 3%; 1% and 2.5%; 1% and 3%; 1.5% and 3%; 2% and 3% concentrations, Piper betle L. leaf extract shows a significant difference on inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. Conclusion. Piper betle L. leaf extract has an antibacterial activity against Staphylococcus aureus.Latar Belakang. Konjungtivitis bakterial adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh adanya inflamasi pada konjungtiva mata oleh agen infeksius bakteri dengan Staphylococcus aureus sebagai salah satu penyebab tersering. Tatalaksana yang digunakan dalam konjungtivitis bakterial adalah dengan penggunaan antibiotik. Namun hal ini sering menimbulkan peristiwa resistensi dan reaksi hipersensitivitas. Daun Sirih (Piper betle L.) dikenal memiliki efek antimikroba dikarenakan kandungan senyawa fenol yang dimilikinya. Tujuan. Mengetahui efektivitas ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus pada pasien konjungtivitis bakterial. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only. Data penelitian adalah data primer yang didapatkan melalui observasi terhadap diameter hambatan pertumbuhan Staphylococcus aureus yang terbentuk di sekeliling sumuran setelah diisi dengan ekstrak daun sirih (Piper betle L.) dengan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3%. Hasil. Diameter rata-rata zona terang pada konsentrasi 0,5% sebesar 2,500 ± 5,000 mm, 1% sebesar 11,875 ±1,750 mm, 1,5% sebesar 13,000 ± 2,160 mm, 2% sebesar 15,875 ± 2,780 mm, 2,5% sebesar 17,500 ± 2,380 mm, dan 3% sebesar 20,375 ± 6,332 mm. Analisis dengan uji Mann-Whitney menunjukkan pada kelompok 1% dengan 1,5%, 1% dengan 2%, 1,5% dengan 2%, 1,5% dengan 2,5%, 2% dengan 2,5%, 2,5% dengan 3% tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Namun pada konsentrasi 0,5% dengan 1%, 0,5% dengan 1,5%, 0,5% dengan 2%, 0,5% dengan 2,5%, 0,5% dengan 3%, 1% dengan 2,5%, 1% dengan 3%, 1,5% dengan 3%, 2% dengan 3% daya hambat ekstrak daun sirih memiliki perbedaan yang signifikan dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Kesimpulan. Ekstrak daun sirih (Piper betle L.) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.75 HalamanSkripsi Sarjan
- …
