1,720,971 research outputs found
Perbandingan Kadar Serum Seruloplasmin pada Preeklamsia Berat Early Onset dan Late Onset
Objective : To find the difference in ceruloplasmin serum level between patient with early and late onset severe preeclampsia.
Method : this is a comparative analytic study with cross sectional design. Study subjects were pregnant women admitted to obstetric ward and emergency room of H. Adam Malik General Hospital and USU Medical Faculty satellite hospitals, who fulfilled the inclusion criteria. 40 subjects were obtained, with 20 cases of early onset severe preeclampsia and 20 cases of late onset severe preeclampsia.
Result : From 40 subjects obtained, the average ceruloplasmin serum level was higher in subjects with early onset severe preeclampsia (0,899 g/L) compared to late onset severe preeclampsia (0,663 g/L) with p-value <0.05. From Pearson correlation test, a weak inverted correlation (- 0,668) between gestational age of subjects with early onset severe preeclampsia and ceruloplasmin serum level (p-value 0,001), and a strong inverted correlation (- 0,802) between gestational age of subjects with late onset severe preeclampsia and ceruloplasmin serum level (p-value < 0,05) were found.
Conclusion : Average serum level of ceruloplasmin is higher in subjects with early onset severe preeclampsia compared to late onset severe preeclampsia (p-value <0.05). There’s a strong inverted correlation between gestational age, whether in early or late onset severe preeclampsia with ceruloplasmin serum level. With the increase of gestational age, the level of ceruloplasmin will decrease.Tujuan : Mengetahui perbandingan antara kadar serum seruloplasmin pada pasien preeklamsia berat early dan late onset.
Metode : Penelitian ini menggunakan studi analitik komparatif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah semua ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di klinik kebidanan dan ruang gawat darurat Rumah Sakit H Adam Malik dan RS Jejaring FK USU serta memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan 40 sampel, dengan 20 kasus wanita hamil dengan preeklamsia berat early onset dan 20 kasus wanita hamil dengan preeklamsia berat late onset.
Hasil : Dari 40 subjek penelitian, didapatkan hasil kadar rata-rata serum seruloplasmin yang lebih tinggi pada penderita preeklamsia berat early onset (0,899 g/L) dibandingkan late onset (0,663 g/L) dengan p-value < 0,05. Dari uji korelasi pearson didapati adanya korelasi terbalik yang lemah (- 0,668) antara usia kehamilan ibu dengan preeklamsia berat early onset dengan kadar serum seruloplasmin (p-value 0,001) serta korelasi terbalik yang kuat (- 0,802) antara usia kehamilan ibu dengan preeklamsia berat late onset dengan kadar serum seruloplasmin. (p-value < 0,05).
Kesimpulan : Kadar rata-rata serum seruloplasmin pada preeklamsia berat early onset lebih tinggi dibandingkan dengan late onset (p-value < 0,05). Terdapat korelasi terbalik yang kuat antara usia kehamilan dengan preeklamsia berat baik yang early onset maupun yang late onset dengan kadar serum seruloplasmin (p-value < 0,05). Dengan semakin meningkatnya usia kehamilan maka kadar seruloplasmin akan semakin rendah.72 HalamanTesis Magiste
Hubungan Placenta Acrreta Spectrum (PAS) Ultrasound Score dengan FIGO Clinical Grading pada Kejadian Kelainan Spektrum Plasenta Akreta di RSUP H. Adam Malik Medan
Latar Belakang: Peningkatan angka akreta pada negara berkembang terutama di
Indonesia yang disebabkan oleh meningkatnya angka seksio sesarea, dimana pada
pasien akreta sering terjadi kesulitan selama berlangsungnya operasi.
Tujuan: mengetahui karakteristik PAS Ultrasound Score dan FIGO Clinical
Grading pada kejadian kelainan spektrum plasenta akreta di RSUP H Adam Malik
Medan
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang memiliki desain
case series (kasus berseri) dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling. Data PAS Ultrasound score diperoleh dari hasil transbdominal
ultrasonografi dan transvaginal ultrasonografi; data FIGO Clinical Grading
berdasarkan temuan lapangan operasi. Data akan dianalisa secara deskriptif untuk
melihat karakteristik sampel dan distribusi frekuensi variabel yang diteliti.
Hasil: Distribusi frekuensi PAS Score ditemukan 7 orang (14,3%) stadium 0, 22
orang (44,9%) stadium 1, 16 orang (32,7%) pada stadium 2 dan 4 orang (8,2%)
pada stadium 3. Distribusi frekuensi untuk FIGO clinical grading, ditemukan 17
orang (34,7%) stadium 1, 14 orang (28,6%) stadium 2, 9 orang (18,4%) stadium
3a, 6 orang (!2,2%) stadium 3b dan 3 orang (6,1%) stadium 3c
Kesimpulan: FIGO menggunakan sistem peniliaian klinis stadium 1, 2, 3a, 3b
dan 3c dan deteksi ultrasonografi PAS menggunakan tanda-tanda ultrasonografi
bermanfaat untuk mengidentifikasi dan menilai keparahan kelainan spektrum
plasenta akreta147 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Kadar Soluble Fms-Like Tyrosine Kinase 1 Serum Pada Kehamilan Normal dan Kehamilan dengan Invasif Plasenta
Placenta Accreta Spectrum (PAS) adalah istilah umum yang digunakan
untuk menggambarkan invasi trofoblas abnormal ke dalam miometrium dinding
rahim. Plasenta Akreta saat ini menjadi perhatian, karena dikelompokkan penyakit
pada uterus yang menonjol di abad 21 dan penyebabnya banyak disebabkan faktor
iatrogenik dari tindakan kedokteran sebelumnya. Plasenta akreta di definisikan
sebagai perlekatan tidak normal plasenta pada dinding uterus karena hilangnya
lapisan decidua.1Tujuan : Mengetahui perbandingan kadar soluble fms-like tyrosine kinase 1 serum
pada kehamilan normal dan kehamilan dengan invasif plasenta.
Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain studi case
control di RSUP H. Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Semua data dikumpulkan kemudian dianalisa. Data dianalisis
menggunakan uji chi square. Jika tidak memenuhi syarat maka digunakan uji Fisher
exact. Nilai p kurang dari 0,05 dianggap signifikan dengan CI 95%i
Hasil : Data karakteristik responden yang dijumpai pada penelitian ini didapatkan
umur, berat badan, tinggi badan, LILA, sistole, diastole, MAP, gravida, paritas,
abortus, dan umur gestasi pada kelompok PAS adalah 33 (26-44); 54 (50-60); 145
(140-160); 24,8 (23,5-27,7); 112 (100-120); 63 (60-68); 80 (74-84); 3 (2-6); 2 (1-
4); 0 (0-3) dan 36 (32-37) sedangkan pada kelompok kontrol dijumpai bahwa umur,
berat badan, tinggi badan, LILA, sistole, diastole, MAP, gravida, paritas, abortus,
dan umur gestasi pada kelompok kontrol adalah 30 (25-28); 54 (50-59); 150 (140-
160); 25,9 (23,5-27,6); 109 (102-120); 65 (60-69); 80 (75-86); 2 (2-5); 2 (1-4); 0
(0-2); 37 (30-38); (p = 0,08; p = 0,72; p = 0,08; p = 0,36; p = 0,83; p = 0,26; p =
0,49; p = 0,09; p = 0,50; p = 0,13; p = 0,68) pada masing-masing kelompok. Pada
penelitain ini kami menemukan peningkatakan konsentrasi sFlt-1 seiring dengan
meningkatnya usia kehamilan baik pada kelompok PAS dan kelompok kontrol.
Terdapat perbedaan kadar sFlt-1 pada kelompok PAS dan kelompok kontrol baik
berdasarkan klasifikasi PAS maupun FIGO (p = 0,02; p < 0,001)
Kesimpulan : Terdapat korelasi negatif kuat antara kelompok PAS berdasarkan
klasifikasi FIGO dengan konsentrasi sFlt-1 dalam darah (r = - 0,697; p < 0,001)82 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Kadar Asam Lemak Air Susu Ibu pada Ibu Menyusui Pengguna Kontrasepsi Hormonal Medroxyprogesteron Acetate dan Tanpa Kontrasepsi Hormonal
Latar Belakang: Salah satu bentuk metode kontrasepsi adalah kontrasepsi
hormonal yang mengandung progestin tunggal seperti medroxyprogesterone
acetate (MPA). Tidak jarang kontrasepsi hormonal seperti medroxyprogesterone
acetate berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas air susu ibu, salah satunya
terhadap kandungan asam lemak air susu ibu.
Tujuan:Untuk membandingkan kandungan asam lemak air susu ibu pada wanita
menyusui yang menggunakan kontrasepsi hormonal injeksi MPA dengan tanpa
kontrasepsi hormonal
Hasil: Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok
berdasarkan karakteristik usia, jumlah anak, dan indeks massa tubuh. Rerata kadar
kolesterol total ibu menyusui dengan kontrasepsi injeksi homonal MPA (174,45 ±
19,21) kolesterol total ibu menyusui tanpa kontrasepsi hormonal adalah 174,45 ±
19,67 dengan nilai p=0,799. Rerata kadar asam lemak bebas (FFA) pada ibu
menyusui dengan kontrasepsi injeksi hormonal MPA (30,0 ± 6,83), pada ibu
menyususi tanpa kontrasepsi hormonal adalah 32,06 ± 8,27 dengan nilai p=0,718.
Kesimpulan:Penggunaan kontrasepsi MPA tidak mempengaruhi kualitas air susu
ibu berdasarkan kandungan asam lemak bebas.Background: One of the contraceptive methods is progestin-only contraceptive,
including medroxyprogesterone acetate (MPA). It was found that progestin-only
contraceptive medroxyprogesterone acetate can affect the quality and quantity of
breastmilk, including free fatty acid (FFA)content in breastmilk.
Aim: The aim of this study was to compare the free fatty acid content in
breastmilk on breastfeeding women with injection MPA contraception vs without
hormonal contraception.
Result: In these study, there were no significant differences between two groups
regarding of age, parity, and body mass index. The mean total cholesterol in
breastfeeding women with MPA injectable contraceptive is 174,45 ± 19,21 and in
breastfeeding women without hotmonal contraception is 174,45 ± 19,67
(p=0,799). The mean total FFAs in breastfeeding women with MPA injectable
contraceptive is 30,0 ±6,83, whereas in breastfeeding women without hormonal
contraception is 32,06 ±8,27 (p=0,718).
Conclusion: The use of MPA injectable contraceptive does not affect the quality
of breast milk based on the content of free fatty acid.89 HalamanTesis Magiste
Kadar Matrix Metalloproteinase 7 (MMP-7) Kehamilan Cukup Bulan Saat Persalinan Primigravida dan Multigravida pada Cairan Servikovaginal
Persalinan terjadi pada akhir masa gestasi dan berbagai proses terlibat dalam ripening serviks, kontraksi miometrial, koyaknya membran amnion dan separasi dari plasenta. Hal ini dikoordinasi oleh banyak faktor seperti hormon dan mediator inflamasi. Sejumlah jaringan mengalami kerusakan, perbaikan dan remodeling selama proses persalinan, pelepasan plasenta dan involusi uterus.1,2
Pada kehamilan, proteom cairan servikovaginal manusia merupakan gambaran dari lingkungan biokimia lokal dan dipengaruhi oleh perubahan fisik yang terjadi pada vagina, leher rahim, dan selaput janin di sekitarnya. Kehamilan normal berkaitan dengan tanda hemodinamik dan perubahan uterus yang diikuti dengan aliran darah uteroplasenta yang memadai dan perkembangan uterus untuk pertumbuhan janin.3 Kehamilan normal berhubungan dengan remodeling uterus dan vaskular yang terjadi secara signifikan. Matrix metaloproteinase (MMP) merupakan pengatur utama remodeling jaringan. Hal tersebut menunjukkan bahwa MMP berperan dalam remodeling uteroplasenta dan vaskular selama kehamilan normal.488 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Kadar Serum Progesteron pada Persalinan Preterm dan Kehamilan Normal
Background : Preterm labor defined as regular contraction along with
changes in cervix that happened at gestational age less than 37 weeks.
Prematurity is one of the main cause of neonatal death besides infection,
trauma, and congenital abnormality. Progesterone is a hormone with
important role in pregnancy and possibly, a role in the incidence of
preterm labor
Purpose : The purpose of this study is to compare the progesterone
serum level between women with preterm labor and normal pregnancy.
Method : This is an analytical study with cross sectional design to
compare between serum progesterone level in preterm labor and normal
pregnancy. Population are pregnant women in delivery room and
outpatient clinic of obstetric and gynecology department at RSUP H Adam
Malik and FK USU satellite hospitals in Medan . The sample of this study
are part of population which has fullfilled the inclusion and exclusion
criteria, collected with consecutive sampling. Matching of gestational age
was performed on sample and control group.
Result : From this study, 46 subjects were obtained, which divided
equally between 2 groups, with preterm labor and normal pregnancy.
Mean level of progesterone in preterm labor group is 103,22 ng/ml, lower
if compared to normal pregnancy group with 200,22 ng/ml (p-value =
0,0001 )
Conclusion : Progesterone serum level in pregnant women with preterm
labor is significantly lower compared to normal pregnancy.Latar Belakang : Persalinan preterm didefinisikan sebagai kontraksi
regular disertai dengan perubahan pada serviks yang terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 37 minggu. Prematuritas merupakan salah satu
penyebab kematian yang utama pada neonatus selain infeksi, trauma dan
abnormalitas kongenital. Progesteron merupakan hormon yang berperan
dalam kehamilan dan diduga berhubungan dengan kejadian persalinan
preterm
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kadar serum
progesteron wanita hamil dengan persalinan preterm dan kehamilan
normal
Metode : Rancangan penelitian ini adalah penelitian analitik dengan
disain potong lintang (cross sectional) untuk mengetahui perbandingan
kadar serum progesteron pada persalinan preterm dan kehamilan normal.
Populasi adalah wanita hamil yang bersalin di kamar bersalin dan wanita
hamil yang kontrol kehamilan ke poli ibu hamil Obstetri dan Ginekologi
RSUP H. Adam Malik dan Rumah Sakit Jejaring FK USU di Medan.
Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi yang diambil secara consecutive sampling. Dilakukan
matching sesuai usia kehamilan pada sampel dan kontrol.
Hasil : Dari penelitian didapatkan 46 orang subjek penelitian, yang
terbagi secara rata menjadi 2 kelompok, persalinan preterm dan
kehamilan normal. Didapatkan rerata kadar progesteron pada kelompok
persalinan preterm sebesar 103,22 ng/ml, lebih rendah jika dibandingkan
dengan kelompok kehamilan normal yaitu sebesar 200,22 ng/ml (p-value
= 0,0001 )
Kesimpulan : Kadar serum progesteron pada kelompok persalinan
preterm lebih rendah secara signifikan jika dibandingkan dengan
kelompok kehamilan normal102 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Kadar Asam Lemak Air Susu Ibu pada Ibu Menyusui Pengguna Kontrasepsi Hormonal Medroxyprogesteron Acetate dan Tanpa Kontrasepsi Hormonal
Latar Belakang: Salah satu bentuk metode kontrasepsi adalah kontrasepsi
hormonal yang mengandung progestin tunggal seperti medroxyprogesterone
acetate (MPA). Tidak jarang kontrasepsi hormonal seperti medroxyprogesterone
acetate berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas air susu ibu, salah satunya
terhadap kandungan asam lemak air susu ibu.
Tujuan:Untuk membandingkan kandungan asam lemak air susu ibu pada wanita
menyusui yang menggunakan kontrasepsi hormonal injeksi MPA dengan tanpa
kontrasepsi hormonal
Hasil: Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok
berdasarkan karakteristik usia, jumlah anak, dan indeks massa tubuh. Rerata kadar
kolesterol total ibu menyusui dengan kontrasepsi injeksi homonal MPA (174,45 ±
19,21) kolesterol total ibu menyusui tanpa kontrasepsi hormonal adalah 174,45 ±
19,67 dengan nilai p=0,799. Rerata kadar asam lemak bebas (FFA) pada ibu
menyusui dengan kontrasepsi injeksi hormonal MPA (30,0 ± 6,83), pada ibu
menyususi tanpa kontrasepsi hormonal adalah 32,06 ± 8,27 dengan nilai p=0,718.
Kesimpulan:Penggunaan kontrasepsi MPA tidak mempengaruhi kualitas air susu
ibu berdasarkan kandungan asam lemak bebas.Background: One of the contraceptive methods is progestin-only contraceptive,
including medroxyprogesterone acetate (MPA). It was found that progestin-only
contraceptive medroxyprogesterone acetate can affect the quality and quantity of
breastmilk, including free fatty acid (FFA)content in breastmilk.
Aim: The aim of this study was to compare the free fatty acid content in
breastmilk on breastfeeding women with injection MPA contraception vs without
hormonal contraception.
Result: In these study, there were no significant differences between two groups
regarding of age, parity, and body mass index. The mean total cholesterol in
breastfeeding women with MPA injectable contraceptive is 174,45 ± 19,21 and in
breastfeeding women without hotmonal contraception is 174,45 ± 19,67
(p=0,799). The mean total FFAs in breastfeeding women with MPA injectable
contraceptive is 30,0 ±6,83, whereas in breastfeeding women without hormonal
contraception is 32,06 ±8,27 (p=0,718).
Conclusion: The use of MPA injectable contraceptive does not affect the quality
of breast milk based on the content of free fatty acid.89 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Kadar Serum Progesteron pada Persalinan Preterm dan Kehamilan Normal
Background : Preterm labor defined as regular contraction along with
changes in cervix that happened at gestational age less than 37 weeks.
Prematurity is one of the main cause of neonatal death besides infection,
trauma, and congenital abnormality. Progesterone is a hormone with
important role in pregnancy and possibly, a role in the incidence of
preterm labor
Purpose : The purpose of this study is to compare the progesterone
serum level between women with preterm labor and normal pregnancy.
Method : This is an analytical study with cross sectional design to
compare between serum progesterone level in preterm labor and normal
pregnancy. Population are pregnant women in delivery room and
outpatient clinic of obstetric and gynecology department at RSUP H Adam
Malik and FK USU satellite hospitals in Medan . The sample of this study
are part of population which has fullfilled the inclusion and exclusion
criteria, collected with consecutive sampling. Matching of gestational age
was performed on sample and control group.
Result : From this study, 46 subjects were obtained, which divided
equally between 2 groups, with preterm labor and normal pregnancy.
Mean level of progesterone in preterm labor group is 103,22 ng/ml, lower
if compared to normal pregnancy group with 200,22 ng/ml (p-value =
0,0001 )
Conclusion : Progesterone serum level in pregnant women with preterm
labor is significantly lower compared to normal pregnancy.Latar Belakang : Persalinan preterm didefinisikan sebagai kontraksi
regular disertai dengan perubahan pada serviks yang terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 37 minggu. Prematuritas merupakan salah satu
penyebab kematian yang utama pada neonatus selain infeksi, trauma dan
abnormalitas kongenital. Progesteron merupakan hormon yang berperan
dalam kehamilan dan diduga berhubungan dengan kejadian persalinan
preterm
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kadar serum
progesteron wanita hamil dengan persalinan preterm dan kehamilan
normal
Metode : Rancangan penelitian ini adalah penelitian analitik dengan
disain potong lintang (cross sectional) untuk mengetahui perbandingan
kadar serum progesteron pada persalinan preterm dan kehamilan normal.
Populasi adalah wanita hamil yang bersalin di kamar bersalin dan wanita
hamil yang kontrol kehamilan ke poli ibu hamil Obstetri dan Ginekologi
RSUP H. Adam Malik dan Rumah Sakit Jejaring FK USU di Medan.
Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi yang diambil secara consecutive sampling. Dilakukan
matching sesuai usia kehamilan pada sampel dan kontrol.
Hasil : Dari penelitian didapatkan 46 orang subjek penelitian, yang
terbagi secara rata menjadi 2 kelompok, persalinan preterm dan
kehamilan normal. Didapatkan rerata kadar progesteron pada kelompok
persalinan preterm sebesar 103,22 ng/ml, lebih rendah jika dibandingkan
dengan kelompok kehamilan normal yaitu sebesar 200,22 ng/ml (p-value
= 0,0001 )
Kesimpulan : Kadar serum progesteron pada kelompok persalinan
preterm lebih rendah secara signifikan jika dibandingkan dengan
kelompok kehamilan normal102 HalamanTesis Magiste
Perbedaan Kadar Alpha-Fetoprotein (Afp) Serum pada Kehamilan dengan Kelainan Placenta Accreta Spectrum (Pas) dibanding Kehamilan Normal di Rsup H. Adam Malik Medan Dan Rs Jejaring
INTRODUCTION: Placenta Accreta Spectrum (PAS) disorder associated with
pathological placental adhesions. Increase prevalence of PAS disorder is associated
with an increase rate of cesarean delivery and the presence of placenta previa.
Pregnant women who experience PAS disorder are more likely to need a hysterectomy,
and increase of maternal morbidity and mortality. Ultrasound examination is used as a
screening and prenatal diagnosis. Histopathology remains a definite diagnosis. Alphafetoprotein
(AFP) is a biomarker and a serum glycoprotein produced by the yolk sac and
fetal liver. Increase of maternal serum AFP levels during second and third trimesters of
pregnancy are associated with adverse pregnancy outcomes. Therefore, this study aims
to determine the differences of serum AFP levels in pregnancies with PAS disorder
compare to normal pregnancies.
METHOD: This observational analytic study with a case control design was conducted at
Department Obstetrics and Gynecology H. Adam Malik General Hospital and Sundari
General Hospital, starting from March 2020 until November 2020. Consist of case group
(n=15) namely third trimester pregnant women who have a risk of PAS disorder that
have been enforced by ultrasound criteria and have been proven by histopathology, and
have met the inclusion and exclusion criteria and control group (n=15), namely third
trimester pregnant women whom do not have a risk of PAS disorders, single pregnancy,
do not have gynecological disease or malignancy, specific disease in liver, and
congenital abnormalities were found. Blood sample was sent to clinical laboratory of H.
Adam Malik General Hospital. This research had received approval from the Ethics
Committee of the Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara. Data analysis using
computer program Windows SPSS version 22.0.
RESULT: Mean levels of serum AFP in case group 249,51 ng/mL ± 90,86 ( 2,22 ± 0,81
MoM) and control group 120,5 ng/mL ± 49,95 (1,07 ± 0,44 MoM) with p < 0,001. Mean
levels of serum AFP in PAS1 Group 230 ng/mL ± 26,68 and PAS 2 group 258,98 ng/mL
± 110,58. Mean levels of serum AFP in accreta group 248,70 ng/mL ± 95,66, increta
group 220,63 ng/mL ± 69,78 and percreta group 373,08 ng/mL.
CONCLUSION: There was a significant difference in AFP levels in pregnancies with
PAS disorders compared to normal pregnancies. An increase in AFP levels was directly
proportional to the severity of PAS disorders based on ultrasound criteria and
histopathological features.LATAR BELAKANG: Kelainan Placenta Accreta Spectrum (PAS) berkaitan dengan
perlekatan plasenta yang patologis. Meningkatnya prevalensi kelainan PAS berkaitan
dengan meningkatnya angka kelahiran caesar dan adanya plasenta previa. Ibu hamil
yang mengalami kelainan PAS lebih besar kemungkinannya membutuhkan histerektomi,
dan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu. Pemeriksaan ultrasound
digunakan sebagai skrining dan diagnosis prenatal. Hasil histopatologi tetap menjadi
diagnosa pasti. Alpha-fetoprotein (AFP) merupakan biomarker dan suatu glikoprotein
serum yang diproduksi oleh yolk sac dan hepar janin. Peningkatan kadar AFP serum ibu
selama trimester kedua dan ketiga kehamilan berkaitan dengan hasil kehamilan yg
merugikan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar
AFP serum pada kehamilan dengan kelainan PAS dibanding kehamilan normal
METODE : Penelitian analitik observasional dengan desain penelitian case control ini
dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP H. Adam Malik Medan dan
RSU Sundari Medan yang dimulai dari Maret 2020 hingga November 2020. Terdiri dari
kelompok kasus (n=15) yaitu ibu hamil trimester ketiga yang memiliki resiko kelainan
PAS yang telah ditegakkan dengan kriteria USG dan telah dibuktikan dengan
histopatologi, serta telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan kelompok kontrol
(n=15) yaitu ibu hamil trimester ketiga yang tidak memiliki resiko kelainan PAS,
kehamilan tunggal, tidak memiliki penyakit ginekologi ataupun keganasan, tidak memiliki
penyakit khusus pada organ hati, dan tidak ditemukan kelainan kongenital. Sampel
darah dikirim ke Laboratorium Klinik RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitan telah
mendapatkan persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara Analisa data menggunakan program komputer windows SPSS versi 22.0.
HASIL : Rerata kadar AFP serum pada kelompok kasus 249,51 ng/mL ± 90,86 ( 2,22 ±
0,81 MoM) dan kelompok kontrol 120,5 ng/mL ± 49,95 (1,07 ± 0,44 MoM) dengan p <
0,001. Rerata kadar AFP serum pada kelompok PAS1 230 ng/mL ± 26,68 dan kelompok
PAS 2 258,98 ng/mL ± 10,58. Rerata kadar AFP serum pada kelompok plasenta akreta
248,70 ng/mL ± 95,66, kelompok plasenta inkreta 220,63 ng/mL ± 69,78 dan kelompok
plasenta perkreta 373,08 ng/mL.
KESIMPULAN : Adanya perbedaan kadar AFP yang bermakna pada kehamilan dengan
kelainan PAS dibanding kehamilan normal. Adanya peningkatan kadar AFP yang
berbanding lurus dengan tingkat keparahan kelainan PAS berdasarkan kriteria USG dan
gambaran histopatologi.128 HalamanTesis Magiste
Perbandingan Nilai Resistensi Insulin Berdasarkan Homeostatic Model Assessment For Insulin Resistence (Homa-Ir) pada Penderita Preeklampsia dan Non Preeklampsia
Aim : Preeclampsia is a global problem that affects 2-8% of all pregnancies. Insulin resistance has long been attributed in preeclampsia pathogenesis and is a significant risk factor. Its also the main diagnostic characteristic in hypertension. HOMA-IR is one of insulin resistance assessment method that is easy to do in clinical practice and linier with the hyperinsulinemic euglycemic glucose clamp, which is the gold standart for assessing insulin resistance. If there is a significant difference of insulin resistence in obese preeclamptic patient compared with normal pregnancy, then it can be used as a marker for preeclampsia in the whole cohort.
Method : This study using case control design, to insulin resistence with HOMA-IR in preeclamptic and non preeclamptic patients. This study was conducted in Adam Malik General Hospital Medan and Universitas Sumatera Utara affiliate teaching hospitals. Study population consist of all third trimester pregnant woman, that fullfills inclusion and exclusion criteria. Started in June 2020 with minimal sampel of 20 in each group, with consecutive sampling method.
Results : In this study, there is 20 participating sampel in each groups. The mean age in PE group is 30,80 ± 7,59 years, with upper arm circumference 25,42 ±1,49 cm. Most patients were in between second and fifth pregnancy (55%). Mean fasting blood glucose level in PE group is 86,80±30,32 and in control group is 81,25 ± 25,95 with p-value (0,534). Mean fasting insulin level is 9,49±6,95 and 12,93±8,97 in PE and control group consecutively, with p-value (0,172). Mean HOMA-IR in PE group is 2,20 ± 2,02 and in control group is 2,85 ± 2,38 with p-value (0,303).
Conclusion : According to the statistical analysis, there is no significant difference in the insulin resistence according to HOMA-IR between Preeclamptic and non Preeclamptic woman.Tujuan: Preeklampsia merupakan masalah global yang mempengaruhi 2-8% dari kehamilan. Resistensi insulin telah lama diketahui terlibat dalam patogenesis preeklampsia dan secara signifikan menjadi faktor risiko preeklampsia. Resistensi insulin menjadi penanda diagnostik utama terkait hipertensi. HOMA-IR merupakan penilaian resistensi insulin yang mudah dilakukan dalam praktek klinis dan linier dengan hyperinsulinemic euglycemic glucose clamp yang merupakan standart baku emas penilaian resistensi insulin. Bila terjadi perbedaan signifikan nilai resistensi insulin pada pasien preeklampsia tanpa obesitas dibandingkan dengan kehamilan normal, maka resistensi insulin dapat digunakan sebagai salah satu penanda terjadinya preeklampsia pada semua kelompok.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control untuk menilai resistensi insulin berdasarkan HOMA-IR pada pasien preeklampsia dan nonpreeklampsia. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat, yaitu RSUP H. Adam Malik Medan dan rumah sakit jejaring. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil trimester III di RSUP H. Adam Malik Medan dan RS jejaring Obgyn FK USU dengan sampel adalah ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juni 2020 dengan jumlah sampel minimal 20 orang pada setiap kelompok dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 20 sampel tiap kelompok. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kelompok usia rata rata pada kelompok kasus adalah 30,80 ± 7,59 tahun, dengan lingkar lengan atas didapati 25,42 ±1,49 cm, terbanyak pada sekundi-multigravida (55%). Nilai kadar gula darah puasa menunjukkan KGD puasa kelompok kasus rata rata 86,80±30,32 dan kelompok kontrol rata rata 81,25 ± 25,95 dengan p-value (0,534). Insulin puasa pada kelompok kasus rata rata 9,49±6,95 dan kelompok kontrol rata rata 12,93±8,97 dengan p-value (0,172). Nilai HOMA-IR kelompok kasus rata rata 2,20 ± 2,02 dan kelompok kontrol rata rata 2,85 ± 2,38 dengan p-value (0,303)
Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji statistik, tidak terdapat perbedaan signifikan retata nilai resistensi insulin berdasarkan HOMA-IR, pada kelompok preeklampsia dan non preeklampsia97 halamanTesis Magiste
- …
