1,721,044 research outputs found

    Perbandingan Efek Quetiapine dan Haloperidol terhadap Simtom Positif Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar Belakang :Kebanyakan pasien skizofrenik mengalami episode akut (dikarakteristikkan dengan tampaknya kedua simtom psikotik, yaitu simtom positif dan negatif) yang diikuti oleh periode-periode stabil, dengan remisi yang parsial atau lengkap. Simtom-simtom positif paling berespons terhadap pengobatan. Keputusan mengenai pilihan terapi bukan saja mempertimbangkan efikasi dan tolerabilitas terhadap beberapa antipsikotik yang tersedia, tetapi juga kecepatan onset. Respons pengobatan yang cepat, dapat mengurangi penderitaan pasien dan keluarganya serta biaya pengobatan, sehingga pasien kemungkinan lebih mematuhi pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efektifitas dan waktu yang dibutuhkan quetiapine dan haloperidol dalam meredakan simtom positif pada pasien skizofenik. Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental two group pretest-posttest design yang merupakan uji klinis tersamar ganda secara paralel dengan 2 kelompok melakukan randomisasi. Penelitian dilakukan di BLUD Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara periode 1 Juli 2010 sampai 30 September 2010. Sampel penelitian adalah pasien skizofrenik akut dengan simtom positif. Pemilihan sampel dengan cara non probability sampling jenis consecutive sampling. Keparahan simtom positif diukur dengan PANSS sub skala positif. Hasil : Dari uji statistik dengan Mann Whitney setelah hari ketiga pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 30,6 (SD 3,3) dan 29,9 (SD 3,2) dengan nilai P = 0,495. Setelah hari kelima pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 27,6 (SD 4,1) dan 28,1 (SD 2,9) dengan nilai P = 0,529. Setelah hari ketujuh pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 23,8 (SD 3,9) dan 26,4 (SD 2,9) dengan nilai P =0,049 Setelah minggu kedua pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 19,6 (SD 3,6) dan 23,9 (SD 2,1) dengan nilai P = 0,001. Setelah minggu ketiga pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 16,5 (SD 3,0) dan 20,5 (SD 2,1) dengan nilai P = 0,0001. Setelah minggu keempat pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 12,4 (SD 2,4) dan 16,8 (SD 2,3) dengan nilai P = 0,0001. Nilai P < 0,05 tersebut menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor PANSS sub skala positif yang bermakna pada hari ketujuh, minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat setelah pemberian quetiapine dibandingkan haloperidol. Dari uji statistik dengan chi-square test terhadap perubahan tingkat keparahan sub skala positif pada pasien skizofrenik, diperoleh nilai P = 0,357 pada hari ketiga, P = 0,296 pada hari kelima, P = 0,026 pada hari ketujuh, P = 0,0001 pada minggu kedua, P = 0,004 pada minggu ketiga, P = 0,057 pada minggu keempat. Quetiapine memberikan hasil bermakna dalam menurunkan tingkat keparahan sub skala positif setelah hari ketujuh, minggu kedua, minggu ketiga dibandingkan haloperidol, sedangkan setelah minggu keempat sudah menunjukkan penurunan tingkat keparahan yang sama pada kedua kelompok. Kesimpulan : Quetiapine lebih bermakna dalam menurunkan skor PANSS sub skala positif pada pasien skizofenik dengan simtom positif dan lebih cepat menurunkan tingkat keparahan sub skala positif dibandingkan dengan haloperidol.118 HalamanTesis Magiste

    Sindrom Metabolik pada Pasien Skizofrenik Rawat Jalan

    No full text
    Tujuan Penelitian: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi sindrom metabolik pada pasien skizofrenik yang mendapat pengobatan antipsikotik yang sedang rawat jalan dan untuk mengetahui proporsi sindrom metabolik pada pasien skizofrenik yang mendapat pengobatan antipsikotik yang sedang rawat jalan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan tujuan khususnya untuk mengetahui apakah sindrom metabolik pada pasien skizofrenik berbeda berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan agar pasien skizofrenik yang memiliki sindrom metabolik di rujuk ke endokrinologis untuk mendapat penilaian dan penatalaksanaan yang tepat. Metode Penelitian: Penelitan ini merupakan penelitian analitik dengan studi cross sectional untuk menilai berapakah proporsi sindrom metabolik pada pasien skizofrenik yang mendapat pengobatan antipsikotik yang sedang rawat jalan dan berapakah proporsi sindrom metabolik pada pasien skizofrenik yang mendapat pengobatan antipsikotik yang sedang rawat jalan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan apakah sindrom metabolik pada pasien skizofrenik berbeda berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan. Sampel adalah 90 pasien skizofrenik yang berobat jalan di RS Jiwa Daerah Provsu Medan. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2007 sampai dengan Mei 2008. Data-data dikumpulkan dimana pasien diukur berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, dan tekanan darah. Pasien kemudian puasa makanan selama 10-12 jam dimulai jam 22.00 wibb dan diperiksa keesokan harinya: trigliserida, HDL, KGD puasa. Kemudian nilainya dicatat dan disesuaikan, apakah memenuhi 3 dari 5 kriteria sindrom metabolik menurut definisi NCEP ATP III A. Dan analisis statistik menggunakan uji hpotesis chi-square. Perbedaan dikatakan bermakna bila p<0.05. Hasil Penelitian: Dari penelitian ini didapat bahwa rerata lingkar pinggang, BMI, tekanan darah baik sistolik dan diastolik, serta kadar trigliserida pada pasien skizofrenik dengan sindrom metabolik lebih tinggi daripada yang tanpa sindrom metabolik. Rerata kadar HDL pada pasien skizofrenik dengan sindrom metabolik dan yang tanpa sindrom metabolik didapati perbedaan yang kecil [32,22(11,88) mg/dl vs 31,29(11,47)mg/dl]. Didapati pasien skizofrenik rawat jalan yang mengalami sindrom metabolik menurut definisi NCEP ATP III A berjumlah 9 orang (10%), dengan proporsi sindrom metabolik yang paling banyak terjadi pada pasien skizofrenik kelompok umur 50-59 tahun (33.3%); perempuan (55.6%); batak (66.7%); yang tidak kawin dan yang kawin dimana kedua kelompok ini sama (44.4%) tingkat pendidikan SMU (55,6%) dan yang tidak bekerja (66.7%). Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom metabolik pada pasien skizofrenik rawat jalan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna di sindrom metabolik pada pasien skizofrenik rawat jalan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pendidikan dan pekerjaan.58 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Efek Quetiapine dan Haloperidol terhadap Simtom Positif Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar Belakang :Kebanyakan pasien skizofrenik mengalami episode akut (dikarakteristikkan dengan tampaknya kedua simtom psikotik, yaitu simtom positif dan negatif) yang diikuti oleh periode-periode stabil, dengan remisi yang parsial atau lengkap. Simtom-simtom positif paling berespons terhadap pengobatan. Keputusan mengenai pilihan terapi bukan saja mempertimbangkan efikasi dan tolerabilitas terhadap beberapa antipsikotik yang tersedia, tetapi juga kecepatan onset. Respons pengobatan yang cepat, dapat mengurangi penderitaan pasien dan keluarganya serta biaya pengobatan, sehingga pasien kemungkinan lebih mematuhi pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efektifitas dan waktu yang dibutuhkan quetiapine dan haloperidol dalam meredakan simtom positif pada pasien skizofenik. Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental two group pretest-posttest design yang merupakan uji klinis tersamar ganda secara paralel dengan 2 kelompok melakukan randomisasi. Penelitian dilakukan di BLUD Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara periode 1 Juli 2010 sampai 30 September 2010. Sampel penelitian adalah pasien skizofrenik akut dengan simtom positif. Pemilihan sampel dengan cara non probability sampling jenis consecutive sampling. Keparahan simtom positif diukur dengan PANSS sub skala positif. Hasil : Dari uji statistik dengan Mann Whitney setelah hari ketiga pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 30,6 (SD 3,3) dan 29,9 (SD 3,2) dengan nilai P = 0,495. Setelah hari kelima pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 27,6 (SD 4,1) dan 28,1 (SD 2,9) dengan nilai P = 0,529. Setelah hari ketujuh pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 23,8 (SD 3,9) dan 26,4 (SD 2,9) dengan nilai P =0,049 Setelah minggu kedua pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 19,6 (SD 3,6) dan 23,9 (SD 2,1) dengan nilai P = 0,001. Setelah minggu ketiga pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 16,5 (SD 3,0) dan 20,5 (SD 2,1) dengan nilai P = 0,0001. Setelah minggu keempat pemberian quetiapine dan haloperidol diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS sub skala positif masing-masing 12,4 (SD 2,4) dan 16,8 (SD 2,3) dengan nilai P = 0,0001. Nilai P < 0,05 tersebut menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor PANSS sub skala positif yang bermakna pada hari ketujuh, minggu kedua, minggu ketiga dan minggu keempat setelah pemberian quetiapine dibandingkan haloperidol. Dari uji statistik dengan chi-square test terhadap perubahan tingkat keparahan sub skala positif pada pasien skizofrenik, diperoleh nilai P = 0,357 pada hari ketiga, P = 0,296 pada hari kelima, P = 0,026 pada hari ketujuh, P = 0,0001 pada minggu kedua, P = 0,004 pada minggu ketiga, P = 0,057 pada minggu keempat. Quetiapine memberikan hasil bermakna dalam menurunkan tingkat keparahan sub skala positif setelah hari ketujuh, minggu kedua, minggu ketiga dibandingkan haloperidol, sedangkan setelah minggu keempat sudah menunjukkan penurunan tingkat keparahan yang sama pada kedua kelompok. Kesimpulan : Quetiapine lebih bermakna dalam menurunkan skor PANSS sub skala positif pada pasien skizofenik dengan simtom positif dan lebih cepat menurunkan tingkat keparahan sub skala positif dibandingkan dengan haloperidol.118 HalamanTesis Magiste

    Pengobatan Risperidon pada Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar belakang: Antipsikotik atipikal dipergunakan untuk pengobatan skizofrenia. Pengobatan dengan antipsikotik atipikal terbukti efektif di dalam mencegah terjadinya relaps pada skizifrenia. Risperidon adalah atipikal antipsikotik yang efektif dan ditoleransi dengan baik. Akan tetapi hanya sedikit diketahui terhadap manajemen risperidon di dalam pengobatan skizofrenia. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah melihat efikasi risperidon dengan parameter Brief Psychiatric Rating Scale pada pasien skizofrenik rawat jalan/inap di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara Medan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental berbentuk one group pretest-posttest design terhadap 30 pasien skizofrenik rawat jalan/inap di BLUD RS Jiwa Pempropsu Medan, yang dipilih secara consecutive sampling. Untuk menilai efikasi risperidon pada pasien skizofrenik yang diteliti pada penelitian ini, dipakai uji t berpasangan dengan kemapaman 5%. Hasil: Pada 30 sampel yang diobati dengan risperidon memperlihatkan rata-rata±simpang baku nilai BPRS pre treatment 40,9±1,8 (38-44) dan pada minggu kedelapan 18,4±0,8 (18-21). Pada minggu kedelapan rerata±simpang baku dosis risperidon adalah 4,5±0,7 mg/hari (3-6 mg/hari). Kesimpulan: Risperidon adalah obat antipsikotik yang mempunyai efikasi yang baik dilihat dari nilai BPRS untuk 30 pasien pada penelitian ini.96 HalamanTesis Magiste

    Faktor Risiko Terjadinya Relaps pada Pasien Skizofrenia Paranoid

    No full text
    Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data faktor-faktor risiko yang menyebabkan terjadinya relaps pada pasien skizofrenia paranoid dan untuk mengetahui faktor risiko yang paling berpengaruh dalam menyebabkan relaps pada pasien skizofrenia paranoid. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan disain case-control yang menilai hubungan antara faktor risiko dengan kejadian relaps dengan cara membandingkan sekelompok pasien yang mengalami relaps (kasus, n=100) dan sekelompok pasien yang terkontrol (kontrol, n=100) setelah dilakukan matching group pada jenis kelamin dan usia, di Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara Medan. Penelitian dilakukan selama 6 bulan, terhitung sejak Mei 2008 s/d Oktober 2008. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kriteria diagnostik untuk skizofrenia paranoid menurut PPDGJ-III dan Positive And Negative Syndrome Scale (PANSS) yang sudah divalidasi oleh Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dibantu oleh seorang interater yang telah mendapatkan pelatihan (nilai uji korelasi peringkat 0.85, signifikansi pada level 0.001), dan data sekunder didasarkan pada catatan yang ada pada buku status pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah Pemerintah Propinsi Sumatera Utara Medan. Hasil Penelitian: Terdapat hubungan bermakna antara ketidakpatuhan dan stresor psikososial secara umum dengan kejadian relaps. Faktor sehubungan dengan pasien, sehubungan dengan pengobatan dan faktor lingkungan sebagai bagian dari ketidakpatuhan juga memiliki hubungan bermakna dengan kejadian relaps, sedangkan faktor sehubungan dengan dokter tidak ada dilaporkan oleh responden. Pada stresor psikososial problem dengan primary support group, problem pekerjaan, dan problem ekonomi memiliki hubungan bermakna dengan kejadian relaps. Problem berkaitan dengan lingkungan sosial, problem dengan akses pelayanan kesehatan dan problem psikososial dan masalah lingkungan lain tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian relaps. Problem pendidikan, problem perumahan dan problem berkaitan dengan sistem hukum/kriminal tidak ada dilaporkan oleh responden. Setelah dilakukan uji regresi logistik ganda didapatkan bahwa problem dengan primary support group merupakan faktor risiko paling dominan dengan nilai OR 131.2, diikuti faktor lingkungan (OR 18.5) dan problem ekonomi (OR 13.0). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara ketidakpatuhan dan stresor psikososial secara umum dengan kejadian relaps, dan problem dengan primary support group merupakan faktor risiko paling dominan dalam menyebabkan relaps.78 HalamanTesis Magiste

    Perbedaan Skor Ansietas Antara Masa Pandemi Covid-19 dan Keadaan Normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan

    No full text
    Background: The COVID-19 pandemic currently occurring among humans and its spread around the world has a profound impact on global and mental health. Despite all the resources that go into fighting the spread of the virus, additional global strategies are needed to tackle mental health related issues. This pandemic is causing additional health problems such as stress, anxiety, depressive symptoms, insomnia, denial, anger and fear globally. Militaries around the world play an important role in mitigating various kinds of disasters. It is interesting to examine the actual roles played by various forces as well as to examine the roles considered in countries' disaster management policies. coverage of the broad mental health challenges of COVID-19, little attention is paid to the structural aspects of military mental health and the disruption of the role caused by COVID-19 in military groups Objective: Knowing the difference in the State Trait Anxiety Inventory-State (STAI-S) score and the State Trait Anxiety Inventory-Trait (STAI-T) score for the Soldiers of the Battalion Marine Defense Base-I Belawan during the Normal Period and the COVID-19 Pandemic Period. Method: a numerical comparative analytic studies paired with a retrospective cohort approach involving 76 soldiers in the Battalion Marine Defense Base-I Belawanin August 2020 to September 2020 aged 19 - 50 years with a probability sampling method of simple randome sampling type for research sampling. Results: There is a difference in the STAI-S score between the COVID-19 pandemic period and the normal period for the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier. The median of the STAI-S score of the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier in normal times is 33 with a minimum value of 20 and a maximum value of 53, while the median of the STAI-S score for the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier during the COVID-19 pandemic is 35 with a minimum score of 20 and a maximum value of 55. There is a very significant difference between the STAI-S score between the COVID-19 pandemic and the normal condition of the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldiers (p <0.001). There was no significant difference in the STAI-T score between the COVID-19 pandemic and the normal period for the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier. The median of the STAI-T score for the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier in normal circumstances is 33 with a minimum value of 20 and a maximum value of 50, while the median of the STAI-T score during the COVID- 19 pandemic for the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldier is 33.5 with a minimum value of 20 and a maximum value of 50. There was no significant difference between the STAI-T scores between the COVID-19 pandemic and the normal condition of the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldiers (p = 0.45). The measuring instrument used is the State Trait Anxiety Inventory (STAI). Conclusion: There is a very significant difference between the STAI-S score between the COVID-19 pandemic and the normal condition of the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldiers (p <0.001). There was no significant difference between the STAI-Tscores between the COVID-19 pandemic and the normal condition of the Belawan Base I Defense Marine Battalion Soldiers (p = 0.45). Keywords: Anxiety, COVID-19, Soldier, State Trait Anxiety Inventory (STAI)Latar belakang:Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini di antara manusia dan penyebarannya ke seluruh dunia sangat berdampak pada kesehatan global dan mental. Terlepas dari semua sumber daya yang digunakan untuk melawan penyebaran virus, strategi global tambahan diperlukan untuk menangani masalah kesehatan mental terkait.Pandemi ini menyebabkan masalah kesehatan tambahan seperti stress, ansietas, gejala depresi, insomnia, penyangkalan, kemarahan dan ketakutan secara global.Militer di seluruh dunia memainkan peran penting dalam mitigasi dari berbagai macam bencana. Menarik untuk memeriksa peran yang sebenarnya dimainkan oleh berbagai pasukan juga untuk memeriksa peran-peran yang dipertimbangkan dalam kebijakan manajemen bencana negaranya.pemberitaan tentang tantangan kesehatan mental yang luas tentang COVID-19, sedikit perhatian diberikan pada aspek struktural kesehatan mental militer dan terganggunya peranan yang disebabkan oleh COVID-19 dalam kelompok militer. Tujuan:mengetahuiperbedaan skor ansietas antara masa pandemi COVID-19 dan masa normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan. Metode: studi analitik komparatif numerik berpasangan dengan pendekatan kohort retrospektif melibatkan 76 orang prajurit di Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawandi bulan Agustus2020 sampai dengan September 2020 yang berusia 19 – 50 tahun dengan metode probability sampling tipe simple randome sampling untuk pengambilan sampel penelitian. Hasil: Terdapat perbedaan skor STAI-S antara masa pandemi COVID-19 dan masa normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan. Median dari skor STAI-S Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan dalam masa normal adalah 33 dengan nilai ninimum 20 dan nilai maksimum 53, sedangkan Median dari skor STAI-S Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan dalam masa pandemi COVID-19 adalah 35 dengan nilai minimum 20 dan nilai maksimum 55. Terdapat perbedaan sangat bermakna antara skor STAI-S antara masa pandemi COVID-19 dan keadaan normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan (p<0.001). Tidak Terdapat perbedaan bermakna pada skor STAI-T antara masa pandemi COVID-19 dan masa normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan. Median dari skor STAI-T Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan dalam keadaaan normal adalah 33 dengan nilai ninimum 20 dan nilai maksimum 50, sedangkan Median dari skor STAI-T masa pandemi COVID-19 pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan adalah 33.5 dengan nilai ninimum 20 dan nilai maksimum 50. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara skor STAI-T antara masa pandemi COVID-19 dan keadaan normal Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan (p=0.45). Alat ukur yang digunakan adalah State Trait Anxiety Inventory (STAI). Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna skor State Trait Anxiety Inventory-State (STAI-S) dalam masa pandemi COVID-19 dan masa normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan (p <0.001). Tidak terdapat perbedaaan bermakna skor State Trait Anxiety Inventory-Trait (STAI-T) dalam masa pandemi COVID-19 dan masa normal pada Prajurit Batalion Marinir Pertahanan Pangkalan-I Belawan (p = 0.45).86 HalamanTesis Magiste

    Perbandingan Aripiprazol Intramuskular dan Haloperidol Intramuskular dalam Penatalaksanaan Agitasi pada Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar Belakang: Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit psikiatrik yang luas. Agitasi sering dijumpai di pelayanan gawat darurat psikiatri sebagai keluhan pasien-pasien dengan gangguan psikotik. Pasien dengan agitasi akut yang dihubungkan dengan skizofrenia berisiko untuk mencelakai diri mereka sendiri dan orang lain dan membutuhkan pengobatan untuk mengontrol gejala dengan cepat. Beberapa pasien mungkin tidak bisa mengambil obat secara oral, dan pada pasien-pasien ini mungkin diperlukan pengobatan dalam bentuk intramuskular. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efektifitas dan waktu yang dibutuhkan aripiprazol intramuskular dan haloperidol intramuskular dalam meredakan agitasi pada pasien skizofrenik. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental two group pretest-posttest design yang merupakan uji klinis terbuka secara paralel dengan 2 kelompok dengan melakukan randomisasi. Penelitian dilakukan di BLUD Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara periode 1 Juli 2010 sampai 31 Oktober 2010. Sampel penelitian adalah pasien skizofrenik akut dengan agitasi. Pemilihan sampel dengan cara non probability sampling jenis consecutive sampling. Keparahan agitasi diukur dengan PANSS-EC. Hasil: Dari uji statistik dengan independent samples test setelah 2 jam pemberian aripiprazol intramuskular dan haloperidol intramuskular diperoleh nilai rerata penurunan skor PANSS-EC masing-masing 13,8 (SD 1,8) dan 15,8 (SD 4,0) dengan nilai P=0,001. Setelah 4 jam pemberian aripiprazol intramuskular dan haloperidol intramuskular nilai rerata penurunan skor PANSS-EC masing-masing 8,1 (SD 1,1) dan 9,3 (1,9) dengan nilai P=0,006. Setelah 24 jam, nilai rerata penurunan skor PANSS-EC masing-masing 6,8 (SD 0,8) dan 7,5 (SD 1,1) dengan nilai P=0,012. Nilai P<0,05 tersebut menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor PANSS-EC yang bermakna dalam 2, 4, dan 24 jam setelah pemberian aripiprazol intramuskular dibandingkan haloperidol intramuskular. Dari uji statistik dengan chi-square test terhadap perubahan tingkat keparahan agitasi pada pasien skizofrenik, diperoleh nilai P=0,018 pada jam ke-2, P=0,037 pada jam ke-4. Aripiprazol intramuskular memberikan hasil berbeda secara bermakna dalam menurunkan tingkat keparahan agitasi setelah 2 jam dan 4 jam dibandingkan haloperidol intramuskular, sedangkan setelah 24 jam hasilnya sudah menunjukkan tingkat keparahan yang sama pada kedua kelompok. Kesimpulan: Aripiprazol intramuskular lebih bermakna dalam menurunkan skor PANSS-EC pada pasien skizofrenik dengan agitasi dan lebih cepat menurunkan tingkat keparahan agitasi dibandingkan dengan haloperidol intramuskular.78 HalamanTesis Magiste

    Pengobatan Risperidon pada Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar belakang: Antipsikotik atipikal dipergunakan untuk pengobatan skizofrenia. Pengobatan dengan antipsikotik atipikal terbukti efektif di dalam mencegah terjadinya relaps pada skizifrenia. Risperidon adalah atipikal antipsikotik yang efektif dan ditoleransi dengan baik. Akan tetapi hanya sedikit diketahui terhadap manajemen risperidon di dalam pengobatan skizofrenia. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah melihat efikasi risperidon dengan parameter Brief Psychiatric Rating Scale pada pasien skizofrenik rawat jalan/inap di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara Medan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental berbentuk one group pretest-posttest design terhadap 30 pasien skizofrenik rawat jalan/inap di BLUD RS Jiwa Pempropsu Medan, yang dipilih secara consecutive sampling. Untuk menilai efikasi risperidon pada pasien skizofrenik yang diteliti pada penelitian ini, dipakai uji t berpasangan dengan kemapaman 5%. Hasil: Pada 30 sampel yang diobati dengan risperidon memperlihatkan rata-rata±simpang baku nilai BPRS pre treatment 40,9±1,8 (38-44) dan pada minggu kedelapan 18,4±0,8 (18-21). Pada minggu kedelapan rerata±simpang baku dosis risperidon adalah 4,5±0,7 mg/hari (3-6 mg/hari). Kesimpulan: Risperidon adalah obat antipsikotik yang mempunyai efikasi yang baik dilihat dari nilai BPRS untuk 30 pasien pada penelitian ini.96 HalamanTesis Magiste

    Tingkat Stres pada Pasien Skizofrenik Fase Stabilisasi Pengobatan

    No full text
    Objektif : Untuk mengetahui tingkat stres pada pasien skizofrenik pada fase stabilisasi pengobatan dan perbedaan karakteristik demografi berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal terhadap tingkat stres. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sistemik randomisasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sampai jumlah sampel mencapai 100 orang, yang dilakukan terhadap pasien skizofrenik fase stabilisasi pengobatan yang datang berobat ke Poliklinik Psikiatri Umum BLUD Rumah Sakit Jiwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, selama periode 1 Maret 2010 sampai dengan 31 Agustus 2010. Pengisian kuesioner dilakukan dengan wawancara langsung secara autoanamnesis dengan menggunakan skala pengukuran Daily Hassles Scale. Hasil : Dari 100 pasien skizofrenik didapati bahwa tingkat stres menengah adalah sebesar 31 orang (31%), tingkat stres tinggi sebesar 33 orang (33%) dan tingkat stres paling tinggi sebesar 36 orang (36%). Berdasarkan demografi dijumpai tingkat stres paling tinggi pada jenis kelamin laki-laki sebesar 27 orang (75%), pada kelompok umur 35-44 tahun sebesar 17 orang (47,2%), pada kelompok yang tidak bekerja sebesar 24 orang(66,7%), pendidikan SMA sebesar 22 orang (61%), dan tempat tinggal diluar kota medan sebesar 27orang (75%). Kesimpulan : Didapati tingkat stres paling tinggi pada pasien skizofrenik fase stabilsasi pengobatan yaitu sebesar 36 orang (36%), jenis kelamin laki-laki, usia 33-44 tahun, tidak bekerja, tingkat pendidikan SMA, dan tinggal diluar kota Medan.61 HalamanTesis Magiste

    Hubungan Antara Beban Perawatan dengan Expressed Emotion pada Keluarga Pasien Skizofrenik

    No full text
    Latar belakang : Sekitar 49.2% pada keluarga yang merawat pasien skizofrenik mengalami expressed emotion yang tinggi, disebabkan akibat penambahan peran dalam memberikan perawatan pada pasien skizofrenik. Tujuan penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara beban perawatan dengan expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik, dan untuk mengetahui hubungan antara komponen beban perawatan dengan expressed emotion, serta untuk mengetahui komponen beban perawatan dengan komponen expressed emotion Metode : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional terhadap 100 pasien skizofrenik yang datang berobat ke instalasi rawat jalan BLUD RS Jiwa Propinsi Sumatera Utara. Tingkat Beban perawatan caregiver dengan menggunakan Zarit Burden Interview (ZBI), untuk mengetahui expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik menggunakan Family Questionnaire (FQ). Untuk mengetahui hubgungan antara beban perawatan dengan expressed emotion, serta komponen-komponen yang berperan di dalammnya digunakan uji Chi Square. Kriteria untuk signifikansi ada tidaknya hubungan adalah dengan menggunakan nilai P < 0,05. Hasil : Terdapat hubungan yang bermakna antara beban perawatan dengan expressed emotion (p =0.004), terdapat hubungan yang bermakna antara tekanan peran dengan expressed emotion (p = 0.001), terdapat hubungan yang bermakna antara tekanan pribadi dengan expressed emotion (p=0.002), terdapat hubungan bermakna antara tekanan peran dengan emotional over involved (p=0.013), terdapat hubungan bermakna antara tekanan pribadi dengan emotional over involved (p=0.001), tidak terdapat hubungan bermakna antara tekanan peran dengan critical comments (p=0.076), tidak terdapat hubungan bermakna antara tekanan pribadi dengan critical comments (p=0.262). Kesimpulan : Beban perawatan mempunyai hubungan dengan expressed emotion, komponen di dalam beban perawatan juga mempunyai hubungan dengan expressed emotion, tetapi komponen-komponen di dalam beban perawatan hanya berhubungan emotional over involved, dan tidak berhubungan dengan critical comments.59 HalamanTesis Magiste
    corecore