9 research outputs found
OPTIMASI HIDROLIKA LUMPUR PENGEBORAN PADA SUMUR BERARAH “Z” LAPANGAN “L” TRAYEK 12 ¼
Sistem hidrolika lumpur pemboran mempunyai peran yang sangat penting dalam opersi pemboran. Perencanaan dan pengontrolan yang baik dapat mempercepat operasi pemboran dan secara keseluruhan dapat menghemat biaya selama operasi pemboran. Peranan utama dalam sistem hidrolika lumpur pemboran yaitu untuk membersihkan lubang bor dengan mengangkat serbuk bor (cutting) sampai permukaan melalui annulus. Jika serbuk bor (cutting) yang mengendap tidak segera diangkat dapat menyebabkan beberapa masalah pemboran antara lain penggerusan serbuk bor berulang kali oleh pahat (regriding), tersangkutnya serbuk bor di sela-sela gigi pahat (bit balling), bahkan bisa memnyebabkan pipa terjepit (pipe sticking), dan juga hidrolika pahat yang tidak optimum dapat menjadi salah satu penyebab turunnya laju penembusan (ROP). Metode yang digunakan pada sumur “A” lapangan “M” yaitu menggunakan metode BHI (Bit Hydraulic Impact) dikarenakan sumur berarah. Prinsip dasar pada metode ini, menganggap bahwa semakin besar tumbukannya (tumbukan sesaat) yang diterima batuan formasu dari lumpur yang dipancarkan dari bit, maka semakin besar pula efek pembersihannya, sehingga metode ini berusaha untuk mengoptimalkan impact pada bit. Evaluasi perhitungan hidrolika pada pahat yaitu Hal pertama yang dianalisa adalah BHI/HP pada optimasi hidrolika pada bit agar kita tahu apakah nilainya sudah optimal atau belum, nilai BHI/HPs optimum jika BHI/HPs > 48% kemudian menghitung nilai Ca yang optimum jika Ca < 5%, Ft yang optimum jika Ft ≥ 90% dan PBI yang optimum jika PBI ≥ 1.Kata Kunci: Hidrolika Pemboran, BHI, Pengangkatan Cutting
Implementasi Jaringan Virtual Privat Network (Vpn) dan Teknologi Jaringan Vlan pada Kantor Kecamatan Pasar Rebo
Systematics distributing information quickly and effectively to improve the performance of the network is the ability to divide a large broadcast domain into several smaller broadcast domains using VLANs (Virtual Local Area Network). Broadcastdomain smaller device would limit the activities involved in the broadcast and device divides into several groups based on their functions, Pasar Rebo District Office has several village and this will be applying VLAN technology. VLAN is used as an alternative to a router that is used to divide the private network for each floor of the District Office. Where each floor has a different network with one another so that the security of the network increases. VLAN configuration used was a model of VLAN trunking. This model uses a system of VTP (Virtual Trunking Protocol) Server and Client. Switches are used as a server can divide a network of ports available. While the client can only adjust the network that has been provided by the server switch. VLAN configurations are all using Cisco Catalyst Switches, After the network is configured to use VLAN VLAN then the next step would be the author of Virtual Private Network building which serves to connect the VLANs in the District Office and the Village Office located in the District of Pasar Rebo
Perencanaan Sumur Pengembangan Reservoir Gas “RRD” Berdasarkan Metode Decline Curve
Reservoir “RRD” mulai dikembangankan pada tahun 2011 di lepas pantai dan sumur ekplorasi yang dilakukan pemboran diberi nama sumur “R-1”. Pada tahun 2013 dilakukannya pengeboran delineasi yairu sumur “R-2” dengan tujuan sumur pengembangan yang direncanakan produksi selama dua puluh lima tahun. Pengerjaan mulai pada tahun 2019 dengan disetujuinya Kontrak Bagi Hasil (PSC). Tujuan penelitian adalah untuk menentukan jumlah sumur pengembangan dengan metode decline curve dalam waktu kontrak dua puluh lima tahun,Metode yang digunakan pehitungan cadangan reservoir gas motode decline curve dengan menghitung penurunan laju produksi gas sebesar decline 10 % setiap tahun dimulai pada tahun 2024. Jumlah sumur pengembangan dengan laju alir gas 10,37 MMSCF/d, jumlah maksimum cadangan hidrokarbon yang dapat diproduksikan kepermukaan secara komersial 3.214.956 MMSCF selama kurun waktu 25 tahun. Produksi pertama kali dilakukan pada tahun ke-5 yaitu tahun 2024 hingga tahun ke-21 tahun 2040 dengan 7 (tujuh) sumur produksi, terdiri dari 2 (dua) sumur exisiting dan 5 (lima) sumur pengembangan, yang mana jumlah cadangan yang diproduksikan sebesar 3.201.207 MMSCF
Potensi Shale Hydrocarcon Formasi Brown Shale, Cekungan Sumatra Tengah Berdasarkan Data Log Mekanik
Formasi Brown Shale merupakan batuan induk utama hidrokarbon di Cekungan Sumatra Tengah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi formasi tersebut sebagai batuan induk hidrokarbon dan implikasinya dalam eksplorasi shale hydrocarbon berdasarkan data wireline log. Evaluasi yang dilakukan meliputi penentuan ona prospek (shale play), evaluasi kandungan material organik (TOC) untuk mengetahui tingkat kekayaan batuan induk dan evaluasi tingkat kematangannya. Tiga sumur, Sumur Gamma, Jeta dan Kilo dievaluasi dengan menggunakan Metoda Passey (1990) dan Bowman (2010) . Log Gamma Ray, Resistivitas, Sonic, Netron dan Densitas digunakan dalam studi ini.Dari hasil analisis menunjukkan Formasi Brown Shale yang tertembus oleh ketiga sumur tersebut tersusun oleh perselingan batulempung dan batulanau yang mengindikasikan mempunyai prospek sebagai batuan induk dengan tingkat kekayaan material organik miskin sampai kaya dan telah mencapai tingkat kematangan hidrokarbon. Kandungan TOC pada Sumur Gamma berkisar antara 2-8%(kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 6550 ft. Kandungan TOC pada Sumur Jeta berkisar antara 0-7%(miskin-kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 8550 ft. Kandungan TOC pada Sumur Kilo berkisar antara 0-9%(miskin-kaya) dan tingkat kematangan minyak dicapai pada kedalaman 8100 ft.Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan Formasi Brown Shale yang tertembus oleh ketiga sumur di daerah telitian mempunyai potensi yang baik sebagai batuan induk hidrokarbon dan shale hidrokarbon.The Brown Shale Formation is the main hydrocarbon sourcerock in the Central Sumatra Basin. This study aims to evaluate the potential of these formations as hydrocarbon bedrock and their implications in shale hydrocarbon exploration based on wireline log data. The evaluation includes determining the prospect of shale play, evaluating the total organic content (TOC) to determine the level of source rock wealth and evaluating its level of maturity. Three wells, Gamma Well, Jeta and Kilo were evaluated using the Passey (1990) and Bowman (2010) method. Gamma Ray, Resistivity, Sonic, Neutron and Density logs were used in this study. From the results of the analysis showed that the Brown Shale Formation penetrated by the three wells was composed by claystone and siltstone intervals which indicated having prospects as a source rock with poor organic to rich material levels. and has reached the level of hydrocarbon maturity. The TOC content in the Gamma Well ranges from 2-8% (rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 6550 ft. The TOC content in the Jeta Well ranges from 0-7% (poor-rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 8550 ft. The TOC content in the Kilo Well ranges from 0-9% (poor-rich) and the level of oil maturity is reached at a depth of 8100 ft. Based on these results shows the Brown Shale Formation penetrated by the three wells in the study area has good potential as a hydrocarbon host rock and hydrocarbon shale
Potensi Batuan Induk Hidrokarbon Serpih Gumai di Talang Padang, Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung
Identifikasi interval batuan yang mungkin berpotensi sebagai batuan induk merupakan langkah awal eksplorasi yang penting, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian tentang potensi batuan sedimen yang mengandung bahan organik dengan kadar tertentu, yang oleh panas dan waktu dapat menghasilkan hidrokarbon dalam bentuk minyak atau gas secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fasies dan potensi batuan induk hidrokarbon Formasi Gumai di Talang Padang, Cekungan Sumatra Selatan. Analisis geokimia guna mengetahui potensi dan kualitas batuan induk dilakukan pada serpih penyusun Formasi Gumai. Hasil analisis potensi dan kualitas Batuan Induk menunjukkan kandungan TOC 3,55 termasuk “sangat baik”. Rock-Eval menunjukkan bahwa serpih berpotensi “sedang” sebagai batuan induk hidrokarbon (S2 = 4,32 kg/ton). Angka Ro (<0,6) menunjukkan tingkat pematangan hidrokarbon belum tercapai. Nilai HI yang relatif tinggi mencerminkan bahwa batuan ini jika mencapai kematangan akan cenderung menghasilkan minyak. Nilai HI antara 456 mgHC/g umumnya berasal dari kerogen tipe II yang secara dominan mengandung unsur organisme laut dan darat.Rock Identification intervals that might be as potential source rocks is an important initial exploration step, therefore it is necessary to conduct research on the potential of sedimentary rocks containing certain levels of organic material, which by heat and time can produce hydrocarbons in the form of oil or gas appropriately. This study aims to identify the facies and potentials of the Gumai Formation hydrocarbon source rock in Talang Padang, South Sumatra Basin. Geochemical analysis to determine the potential and quality of the source rock is carried out on the Gumai Formation shale. The results of the analysis of the potential and quality of the Parent Rock showed that the TOC content of 3.55 was "very good". Rock-Eval shows that shale has the potential to be "medium" as a hydrocarbon source rock (S2 = 4.32 kg/ton). Ro (<0.6) indicates the level of hydrocarbon maturation has not been reached. The relatively high HI value reflects that if these rocks reach maturity they will tend to produce oil. HI values between 456 mgHC/g are generally derived from type II kerogen which predominantly contains marine and terrestrial organisms
Petrologi Organik Batuan Induk Serpih Formasi Talang Akar, Daerah Ujungali, Tebing Tinggi, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, Indonesia
Lokasi penelitian terletak di Cekungan Sumatera Selatan dimana targetnya adalah Formasi Talang Akar berumur Eosen. Singkapan serpih tersingkap di Desa Tebing Tinggi, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Kajian petrologi organik batuan induk serpih di daerah Tebing Tinggi bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi potensi hidrokarbon berdasarkan komposisi organik dan analisis rock eval pyrolysis. Profil singkapan tersusun atas perselingan batupasir, serpih dan batulempung, diendapkan di lingkungan lacustrine pada Eosen, fosil polen yang hadir adalah tipe meliaceae dan monoporites annulatus/gramineae pollen. Hasil analisis petrologi organik (maceral) batuan induk serpih Formasi Talang Akar di daerah Tebing Tinggi terdiri dari vitrinite, lamalginite (liptinite), kuarsa dan pirit. Maseral lamalginite (liptinite) merupakan bahan organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan darat berupa alga yang akan menghasilkan minyak. Hasil analisis pirolisis serpih Tebing Tinggi memiliki potensi yang sangat baik untuk menghasilkan minyak. Potensi batuan sumber serpih Formasi Talang Akar di daerah Tebing Tinggi, Sumatera Selatan umumnya menghasilkan minyak dan kondisi belum matang (immature).The research location includes the South Sumatra Basin where the formation target is the Eocene Talang Akar Formation. Shale outcrop was cropping in Tebing Tinggi village, Lahat Regency, South Sumatra. The study of the potential of shale source rock in the Tebing Tinggi area aims to determine and evaluate the potential of hydrocarbons based on rock eval pyrolysis analysis and organic petrology. The outcrop profile is composed of intercalated sandstone shale and claystone, deposited in a shallow lacustrine environment in the Eocene with the presence of meliaceae type and monoporites annulatus/gramineae pollen fossils. The results of organic petrological analysis (maceral) of shale for the Talang Akar Formation in the Tebing Tinggi area consist of vitrinite, lamalginite (liptinite), quartz and pyrite. Maceral lamalginite (liptinite) is an organic material derived from terrestrial plants in the form of algae that will produce oil. The results of the analysis of Tebing Tinggi shale pyrolysis have very good potential to produce oil. The potential of shale source rock for the Talang Akar Formation in the Tebing Tinggi area, South Sumatra generally oil produces and immature condition
PEMBERDAYAAN EKONOMI KRATIF MASYARAKAT TIMOR TENGAH SELATAN (TTS) MELALUI PELATIHAN BATIK KHAS TTS
PEMBERDAYAAN EKONOMI KRATIF MASYARAKAT TIMOR TENGAH SELATAN (TTS) MELALUI PELATIHAN BATIK KHAS TT
Potensi Batuan Induk Hidrokarbon Serpih Warukin di Tampang Tumbang Anjir, Kabupaten Gunung Mas Propinsi Kalimantan Tengah
Identifikasi interval batuan yang mungkin berpotensi sebagai batuan induk merupakan langkah awal eksplorasi yang penting, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian tentang potensi batuan sedimen yang mengandung bahan organik dengan kadar tertentu, yang oleh panas dan waktu dapat menghasilkan hidrokarbon dalam bentuk minyak atau gas secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fasies dan potensi batuan induk hidrokarbon Formasi Warukin di Tampang Tumbang Anjir, Cekungan Barito.Analisis geokimia guna mengetahui potensi dan kualitas batuan induk dilakukan pada serpih penyusun Formasi Warukin. Hasil analisis potensi dan kualitas Batuan Induk menunjukkan kandungan TOC 17,97% termasuk “sangat baik”. Rock-Eval menunjukkan bahwa serpih berpotensi “baik” sebagai batuan induk hidrokarbon (S2 = 67,87 mg/g). Angka Tmax 405 menunjukkan tingkat pematangan hidrokarbon belum tercapai. Nilai HI yang relatif tinggi mencerminkan bahwa batuan ini jika mencapai kematangan akan cenderung menghasilkan minyak dan gas. Nilai HI antara 378 mgHC/g umumnya berasal dari kerogen tipe II yang secara dominan mengandung unsur organisme laut dan darat
Pemanfaatan Energi Angin akibat Laju Kendaraan Berbasis Pengembangan Inovasi Teknologi Hybrid Vertical Axis Wind Turbine sebagai Penghasil Listrik untuk Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian awal berjudul “Pemanfaatan Energi Angin dari Laju Kendaraan Berbasis Kincir Vertikal sebagai Penghasil Listrik untuk Penerangan Lampu Jalan”. Pada penelitian ini telah dilakukan serangkaian pengembangan dan pembaharuan baik dari segi penentuan daerah potensial maupun segi desain konstruksi hybrid va (vertical axis) wind turbine. Pembaharuan dan pengembangan dilakukan guna meningkatkan kesiapan implementasi hybrid va wind turbine di seluruh daerah efektif di Indonesia. Pada penelitian sebelumnya kelengkungan atau radius kincir belum dapat diketahui. Untuk mencari tahu kelengkungan kincir dengan efektivitas rotasi tertinggi maka dilakukan perancangan miniatur kincir vertikal dengan rasio 1:5 terhadap ukuran kincir sumbu vertikal reguler sesungguhnya. Peningkatan desain dengan memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan yang melintas sangat perlu dilakukan. Penggunaan material atau bahan yang dapat merefleksikan cahaya dari lampu kendaraan pada malam hari yang dilekatkan di konstruksi hybrid va wind turbine merupakan salah satu metode untuk meningkatkan aspek keselamatan. Pengukuran terhadap lebar bagian tengah kedua jalur jalan yang berlawan arah sebagai lokasi pemasangan hybrid va wind turbine juga dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan pengendara. Pemberian toleransi jarak antara bagian sisi terluar kincir dan bagian terluar lajur jalan sangat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada konstruksi hybrid va wind turbine serta demi keselamatan pengendara yang melintas. Pada jalan-jalan dengan lebar bagian tengah antara kedua jalur jalan yang berukuran di bawah 2meter (<2m) tidak dapat diterapkan hybrid va wind turbine reguler, sehingga penerapan hybrid va wind turbine minimalis merupakan solusi untuk daerah tersebut. Penentuan daerah efektif untuk implementasi pada penelitian ini dilakukan dengan pengukuran terhadap aspek-aspek potensi yang dimiliki oleh jalan di antaranya; rata-rata intensitas kendaraan yang melintas, kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas, kecepatan angin rata-rata yang tersedia akibat laju kendaraan yang melintas, lebar bagian tengah antara kedua jalur jalan yang berlawanan arah, kondisi geografis jalan, serta potensi timbulnya kepadatan. Jalan tol Semarang-Solo memiliki total panjang jalan 75,7km dan dalam penelitian ini telah dipilih 3 titik awal yang diprediksi dan diukur aspek-aspek kelayakannya untuk dilakukan implementasi hybrid va wind turbine pada daerah tersebut.Kata kunci: Hybrid va wind turbine, Peningkatan desain, Aspek keselamatan, Aspek-aspek potensi jalan.
