598 research outputs found
PENENTUAN SUPPLIER BAHAN BAKU UTAMA KASUR PEGAS MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION
Penelitian mengenai pemilihan atau penentuan supplier dengan menggunakan metode AHP maupun kombinasinya dengan metode TOPSIS dalam penentuan supplier di industri penghasil kasur pegas belum banyak dilakukan. Penelitian ini akan membahas penerapan gabungan metode AHP dan TOPSIS dalam penentuan supplier di industri penghasil kasur pegas sehingga diharapkan hasil yang diperoleh lebih akurat dibandingkan jika hanya menggunakan salah satu metode. PT XYZ melakukan pemesanan bahan baku kawat kepada 4 supplier dan mengalokasikan pesanan dengan jumlah yang sama rata. Langkah pertama yang dilakukan adalah penentuan kriteria dan subkriteria untuk pemilihan supplier dan penyusunan hierarki. Selanjutnya dilakukan penyusunan kuesioner perbandingan berpasangan untuk menentukan tingkat kepentingan kriteria dan subkriteria. Setelah dilakukan perhitungan dengan metode AHP, diperoleh bobot kriteria dan subkriteria yang menjadi input untuk metode TOPSIS. TOPSIS digunakan untuk mengetahui supplier yang memiliki kinerja terbaik. Hasil yang diperoleh adalah kriteria Price dan subkriteria Harga Bahan Baku mempunyai tingkat kepentingan tertinggi dalam penilaian kinerja supplier kawat karena memiliki bobot tertinggi. Perusahaan dapat tetap menggunakan kebijakan multi-supplier dengan memprioritaskan supplier 1, namun ada beberapa kriteria dari kinerja supplier 1 yang perlu ditingkatkan jika dibandingkan dengan supplier lainnya.Kata Kunci: AHP, Bahan Baku Utama, Kasur Pegas, Supplier, TOPSIS
Want to Sell More? Try Listening More
Author\u27s biography: C. David Shepherd is a professor of marketing and director of the Center for Sales Excellence at Georgia Southern University. He can be contacted at 912-478-1961 or [email protected]
Do "Top Up" students on computing courses think deeply?
Report of a CELT project on supporting students through innovation and researchFor the last four years the School of Computing and Information Technology (SCIT) has offered a degree conversion programme from HND to degree, which is becoming increasingly popular, especially with students from local FE colleges. In addition about 15% of the students are recruited from overseas. However, the students on the ‘Top Up’ programme have demonstrated difficulty with the more academic aspects of their course, especially the individual project, which is taken in semester 2. Although the students rarely failed the project, the marks achieved were substantially lower than those they obtained for other modules, in particular modules that were more practically focussed. This was to be expected given the vocational nature of these students’ previous studies. In their first semester of the degree conversion programme, the students take a core module in Professional Aspects of Computing (PAC). As well as introducing them to professional issues associated with work in an IT environment, this module was designed to improve their key and intellectual skills, especially those required to complete the project successfully such as literature search, referencing and critical evaluation. An improvement in the project marks had been recorded in each of the three previous years through increasing emphasis on those skills in the PAC module. Consideration of current educational research about learning styles led the award team to reflect on whether the students’ learning styles could be an underlying issue in their struggling with the more academic aspects of the course. Marton and Saljo (1976) identified two contrasting approaches to learning: deep and surface, subsequently extended to include a third, strategic, approach (Entwistle, 1987). It is accepted, however, that strategic learners may also be either deep or surface learners. A deep approach to learning is believed to correlate with increased academic success. Entwistle (2000) defined a successful student as one who adopts a deep, strategic approach with no surface, apathetic elements. Initially, in this field of research, assessment of student learning style was by means of interview but that was superseded by inventory, ‘Approaches to Studying Inventory, ASI’ (Entwistle and Ramsden, 1983). Refinement of ASI led to the development of ‘ASSIST, Approaches and Study Skills Inventory for Students’ (Tait et al. 1998)
Penentuan Jumlah Pegawai Bagian Farmasi untuk Mengurangi Total Waktu Menunggu Pasien Rawat Jalan dan Pasien Rawat Inap dengan Metode Simulasi
Penelitian Tamzil (2018) telah mengusulkan penambahan jumlah pegawai bagian farmasi yang melayani pasien rawat jalan dan pasien rawat inap untuk mengurangi waktu menunggu pasien. Pada penelitian ini akan dilakukan pengkajian kembali mengenai usulan penambahan pegawai tersebut, baik yang melayani pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Hal ini bertujuan untuk memperoleh kombinasi jumlah pegawai yang lebih baik lagi sehingga total waktu menunggu dapat menjadi lebih singkat lagi. Penentuan jumlah pegawai tersebut akan menggunakan metode simulasi dimana skenario yang diusulkan adalah sebanyak 3 skenario. Selain itu, untuk mencapai ketentuan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, maka diterapkan juga alternatif perubahan. Alternatif perubahan untuk Bagian Rawat Jalan ada 2, yaitu penambahan pegawai rawat jalan sebanyak 2 orang serta penambahan pegawai rawat jalan sebanyak 1 orang dan pegawai input sebanyak 1 orang. Alternatif perubahan untuk Bagian Rawat Inap, yaitu penambahan pegawai yang mengantarkan obat menuju nurse station sebanyak 1 orang. Berdasarkan hasil penelitian, maka diketahui bahwa skenario usulan 3 alternatif 2 menghasilkan waktu menunggu obat yang lebih singkat untuk pasien rawat jalan, sedangkan untuk pasien rawat inap skenario 3 yang menghasilkan waktu menunggu obat yang lebih singkat. Waktu menunggu obat untuk pasien rawat jalan sudah memenuhi ketentuan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, namun untuk pasien rawat inap tidak ada alternatif yang memungkinkan untuk mencapai standar yang ditetapkan. Hal ini disebabkan pengantaran obat menuju ke nurse station sudah membutuhkan waktu 1,5 jam. Oleh karena itu, pihak rumah sakit perlu meninjau kembali sistem pelayanan pegawai rawat inap
Analisis Penyebab Risiko pada Rantai Pasok Darah di Masa Pandemi COVID-19 Menggunakan Model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan Failure Modes and Effects Analysis (FMEA)
Kebutuhan darah merupakan sesuatu hal yang perlu mendapat prioritas perhatian karena dapat menyangkut keberlanjutan hidup manusia. Entitas dalam suatu rantai pasok darah dapat terdiri dari Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai pemasok darah, bank darah rumah sakit (BDRS) sebagai penyalur darah, dan pasien sebagai konsumen darah. BDRS merupakan unit pelayanan yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan darah yang dapat memadai untuk menunjang pelayanan medis. Semenjak masa pandemi COVID-19, kemampuan pemenuhan produk darah di BDRS Kota Bandung mengalami penurunan. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan pemenuhan produk darah. Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi risiko dan analisis penyebab risiko pada suatu rantai pasok darah di masa pandemi khususnya di BDRS Kota Bandung. Penelitian diawali dengan tahap identifikasi risiko dengan model Supply Chain Operations Reference (SCOR). Penyebab risiko di BDRS dianalisis menggunakan metode Fishbone Analysis. nilai risiko (severity), dan penyebab risiko (occurrence) dinilai menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 34 risiko dan 29 penyebab risiko yang teridentifikasi. Melalui penelitian ini diharapkan BDRS dapat mengidentifikasi dan menganalisis risiko serta penyebabnya agar BDRS dapat segera melakukan penanganan sehingga permasalahan dalam rantai pasok darah dapat diminimasi
Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Dengan Model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan Metode Perbandingan Berpasangan
The rapid development of the industrial world has resulted in increasingly tight competition among companies. This condition shows the importance of improving performance, not only in a company but also other parties in the related supply chain, in order to compete with other companies or supply chains. The good performance of a supply chain will certainly increase the customers satisfaction. Therefore, performance measurement needs to be carried out so that a supply chain can find out how well it currently performing is and keep improving it. This study will discuss about the application of the supply chain operations reference (SCOR) model and the pairwise comparison method for the supply chain performance measurement of a product packaging company
Keywords: supply chain, performance measurement, SCOR, pairwise compariso
Perancangan Sistem Antrian dan Penentuan Jumlah Operator SPBU untuk Mengurangi Panjang Antrian dan Total Biaya Operasional dengan Metode Simulasi
Improving and enhancing the performance of both service and manufacturing systems is essential for achieving customer satisfaction with the service. Research on improving and enhancing the performance of gas stations, whether using simulation methods or combinations with other methods, has been extensively conducted. However, studies that focus on improving the queue system at gas stations using simulation methods to reduce queue length and total operational costs are still limited. Previous research has proposed changes in the combination of fuel types at nozzles and the number of operators working per shift to reduce operational costs. However, these studies did not consider the resulting queue lengths. Therefore, this study will propose a design for the queue system and determine the number of operators to reduce queue length and total operational costs. First step, a simulation model of the actual queue system is created. Next step, alternative scenarios are developed for fuel type allocation at each nozzle and for determining the number of operators. Then, a simulation model of the queue system for each scenario is created. The final step is to calculate the queue length and total operational costs for the actual and proposed queue systems. There are 5 alternative scenarios to reduce the number of operators, with the best alternative being scenario 5. Scenario 5 also results in a shorter average vehicle queue length and lower total operational costs compared to the actual queue system. The average vehicle queue length decreased by 0.52 units or 31.71%. Additionally, the total operational cost decreased by Rp 714,717.74, or 23.24%
The picture of David Hoyer from Jan Kupecký at Leipzig
The thesis focuses on portrait on painting of David Hoyer from baroque artist Jan Kupecky that is placed in Museum der bildenden Künste in Leipzig. Firstly, I will deal with life and work of the author Jan Kupecky. The main focus will be dedicated to the painting from 1711 which depicts Saxon painter David Hoyer with lyra. I will try to unveil more information about life of the depicted man, consequently, I will concentrate on the actual type of portaval style and mention other significant work of the same nature made by the author prior 1711. This actual painting example will allow me to show how the portrait creation was forming not only in life of Jan Kupecky but also in context of whole Europe
Usulan Penentuan Rute Distribusi dengan Multi Trip, Multi Product, dan Time Windows Menggunakan Algoritma Nearest Addition Heuristic
Biaya distribusi memegang 10% - 20% dari biaya akhir barang [1] dan mempengaruhi lebih dari 45% dari biaya logistik [2]. Untuk mengurangi biaya distribusi maka diperlukan sistem distribusi yang baik. Banyaknya persaingan membuat perusahaan berlomba-lomba meminimasi biaya dan mencapai customer satisfiction. Biaya distribusi yang tinggi akan mempengaruhi biaya akhir barang menjadi lebih tinggi. Distributor XYZ menyadari pentingnya meminimasi biaya distribusi dengan memperbaiki metode penentuan rute dan mengurangi keadaan menganggur yang terjadi pada sistem distribusi saat ini.
Adapun usulan dalam penelitian ini memecahkan masalah Vehicle Routing Problem (VRP) menggunakan beberapa model tambahan seperti time windows, multi-trip, dan multi-product. Pemecahan VRP ini akan dibantu dengan Metode Nearest Addition Heuristic dengan mempertimbangkan waktu dan juga jarak yang didukung dengan menggunakan tools spreadsheet Excel VBA untuk melakukan kalkulasi pencarian solusi. Pada penelitian ini juga memberikan usulan peletakan menggunakan easy cargo menggunakan aturan LIFO (Last In First Out) untuk mempermudah dan mempercepat saat proses unloading. Berdasarkan perbandingan antara metode aktual dengan metode usulan, penerapan metode usulan ini membuat distributor dapat menghemat biaya distribusi sebesar Rp 656,667.06 dalam seminggu atau rata-rata pengematan sebesar 31.27% perharinya
Two-echelon inventory model with controllable reorder point and lead time subject to service level constraint
- …
