1,720,956 research outputs found
Politik untuk Kemanusiaan : Mainstream Baru Gerakan Politik Indonesia
Memutar kembali panggung sandiwara dalam Pemilu Legislatif yang menggoncang perpolitikan Negri Indonesia tercinta ini, hingga mengakibatkan berbagai macam getaran. Getaran-getaran itu merambat dan merasuki relung hati setiap manusia. Bahkan menjelajah dalam keramaian secara kolektif. Goncangan dan getaran menyatu, membentuk pribadi yang penuh dengan pencitraan dan intrik-intrik politik busuk demi menjatuhkan lawan. Lupa kawan, hilang kemanusiaan.Pencitraan yang sangat luarbiasa, tiba-tiba dapat mengubah seseorang yang bakhil menjadi dermawan, peduli sosial dan lingkungan, tiba-tiba merubah gaya hidup glamor menjadi sangat sederhana, tidak berjilbab tiba-tiba berjilbab, tiba-tiba berkopiah, berbaju koko dan bersarung, blusukan diiringi dengan indahnya jepretan cahaya kamera, baliho-baliho dipasang dengan senyum paling menawan, ulama’ digunakan sebagai alat untuk membentengi moral ketidakjujuran dalam pelegitimasian kekuasaan mereka. Belum lagi miliaran bahkan sampai triliunan uang yang digelontorkan demi memihak mereka . Secuil tentang gambaran pencitraan, calon dewan wakil rakyat dan sang penguasa negri ini.Menarik sekali dan membuat saya sejenak merenung tentang politik yang terjadi saat ini, penulis Tamsil Linrung adalah seorang anggota dewan DPR RI 2009-2014 dari Fraksi PKS, sekaligus wakil ketua badan anggaran DPR-RI. Beliau berasal dari pemilihan Daerah Sulawesi Selatan II. Menukil potongan sejarah politik Islam seperti telah diuraikan pada bagian pengantar bagian pertama buku ini. Misalnya sikap kebersahajaan Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, serta Sultan Malik azh-Zhahir dari kerajaan Samudera Pasai dan terdekat dengan rakyat di Indonesia.Terbukti, sikap kebersahajaan tiga contoh penguasa atau pemimpin pada zaman dan Negeri yang berbeda itu, dapat mensejahterakan rakyatnya dengan semangat mengayomi, melayani, serta semangat iman kepada Allah Swt yang terpatri dalam hati sanubari. Seperti munajat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a, sahabat Nabi Muhammad Saw, “ Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami.â€Iman adalah inti kebahagiaan bagi setiap muslim. Kemanusiaan berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan, pilihan tepat. Pesan dan harapan itulah yang sebetulnya ditegaskan oleh penulis Tamsil Linrung dalam buku Politik Untuk Kemanusiaan (Mainstream Baru Gerakan Politik Indonesia)Keimanan yang kuat dan terpatri dalam sanubari seorang muslim khususnya pemempin Negri, seharunya bisa diimplementasikan dalam kehidupan pribadi sehari-hari, keluarga, masyarakat, bahkan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keimanan yang kuat juga menjadikan seorang pemimpin penuh dengan kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak dalam memutuskan sebuah perkara.Tamsil Linrung pada bagian pertama bukunya yang diberi judul Purifikasi Politik, mencoba menghadirkan pemahaman kepada pembaca bahwa politik adalah bagian dari Islam. Politik dapat menyatu dengan nilai-nilai agama. Beberapa dalil al-Qur’an yang tertulis di bagian pertama seperti (Q.s. Shaad [38]:26), (Q.s. al-Qashas [28]:26), (Q.s. al-Anfaal [8]: 27 -28). Semua menjelaskan karakter seorang pemimpin dalam kaca mata Islam, juga menghadirkan pemikiran-pemikiran Islam dan cendikiawan Muslim seperti Abdul Hamid al-Ghazali, Ibnul Qayyim, al-Mawardi, bahkan pemikir kontemporer Hasan al-Banna yang semua merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits.Keimanan yang kuat akan memancarkan pribadi yang baik. Baik terhadap sosial masyarakat, keluarga, bangsa dan negara. Implementasi iman dalam kehidupan manusia akan mewujudkan Metropolis Humanis seperti dipaparkan dalam bagian ke dua dalam buku ini.Pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada masyarakat yang memiliki keunggulan dalam mengembangkan potensi dirinya. Misalnya memberikan beasiswa pendidikan, menyediakan lapangan kerja yang lebih banyak dan pekerjaan yang bergaji tinggi. Pemerintah juga harus memperhatikan pengelolaan urbanisasi yang akan menjadi masalah besar terhadap kenyamanan kota. Seperti kemiskinan, kriminalitas dan pengangguran.Pemerintah justru harus membangun dan menciptakan kota yang bernuansa kemanusiaan. Alasannya, kota dapat melindungi kedaulatan dan stabilitas masyarakat. Luar biasa seorang penulis Tamsil Linrung dalam mengkonsep dan menggagas idenya dalam buku Politik Untuk Kemanusiaan ini. Jelas akan menguntungkan rakyat Indonesia secara umum.Kota hijau adalah kota yang lebih humanis pada semua kalangan, tidak hanya terbatas bagi masyarakat yang memiliki uang banyak dan mudah aksesnya. Penulis menyadari bahwa merubah wajah kota bukan persoalan mudah bagi seorang pemimpin negri Indonesia. Apalagi yang hanya memiliki visi dan tidak memiliki konsep kota jauh ke depan dan tidak memhami sejarah pembangunan kota sejak NKRI. No action nothing happen’s. Tetapi, bukan berarti mengorbankan orang lain dalam artian saling sikut kanan-kiri.Adakalanya, pemerintah kota di Indonesia harus berkaca pada negara-negara yang maju dan berhasil menjadikan kota untuk kemanusiaan. Seperti Paris, New York dan Curitiba di Brazil. Sebuah kota, seharusnya sesuai dengan budaya masyarakatnya. Tidak hanya demi capaian fisik dan materi saja. Belajar dari sejarah Rasulullah Saw mengenai kota, masyarakat dan negerawan. Yaitu sikap humanis dan toleran dalam kemajemukan. Begitu yang saya fahami dari uraian pada bagian ke dua buku ini.Bagian ke tiga dan ke empat yaitu Ketahanan Pangan sebagai Jalan Kemanusiaan dan Humanisasi Pemberdayaan Ekonomi dalam buku ini, bahwa Indonesia mengandung tanah yang subur dan luas. Tetapi pemerintah malah menanam padi di luar negri (Myanmar). Bulog adalah perusahaan umum sekaligus perpanjangan tangan pemerintah dalam membantu food security atau ketahanan pangan. Oleh karena itu, Bulog harus siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta yang merajai pasar pangan nasional.Selain itu, pemerintah harus jelas, akan menjadikan Indonesia agraris atau industri. Sehingga perhatian utama ekonomi negara akan fokus misalnya pada pertanian yang memiliki nilai ekonomis dan berbasis kearifan lokal, juga akan fokus pada kelautan yang memiliki ekosistem laut yang paling beragam di dunia dengan berbagai macam karang dan spesies ikan. Pertanian dan kelautan adalah sumber pangan yang dapat membantu mengentaskan kemiskinan.Bagian terakhir, penulis menegaskan pada rakyat Indonesia, khususnya pada para pembaca buku ini. Kontribusi nyata untuk kemanusiaan, tak terbatas oleh ruang dan waktu. Kapan dan dengan kondisi apapun, semampu kita. Baik dalam pendidikan, pemberdayaan sosial, juga kesehatan. Mendukung masyarakat dengan memberikan pelatihan keterampilan dalam bidang yang ditekuninya akan membantu mereka untuk mandiri. Contoh nyata, Tali Foundation adalah bentuk konkret kontribusi penulis dalam bidang politik untuk kemanusiaan. Semoga menginspirasi spirit politik saya dan para pembaca. Hidup Indonesia
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
