68 research outputs found
PULPINISASI JERAMI PADA MENGGUNAKAN METODE ORGANOSOLV
Laju perkembangan ekonomi dan industri sangat pesat sehingga memicu kebutuhan akan kertas sebagai media informasi secara tertulis. Upaya untuk meminilisasi biaya produksi yang disebabkan oleh kekurangan pasokan bahan baku kayu dan mahalnya harga kayu sudah lama dilakukan. Salah satunya adalah dengan mencari bahan baku alternatif dari bahan lain seperti ampas tebu, pelepah pisang, merang, jerami dan masih banyak lagi. Selain mencari alternatif bahan baku pulp juga dicari proses atau metode pembuatan pulp yang lebih ramah terhadap lingkungan misalnya dengan organosolv (Antaresti, 2003). Di Indonesia salah satu bahan baku pengganti kayu yang dapat digunakan adalah jerami yang banyak terdapat disetiap wilayah atau daerah. Jerami juga banyak terdapat didaerah Jambi, dan biasanya  jerami hanya digunakan sebagai bahan makanan ternak dan dibuat menjadi alternatif atap rumah bambu, padahal jerami masih memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi lagi yaitu dapat dikonversi menjadi pulp (bubur kertas) karena masih mengandung selulosa yang cukup tinggi untuk dapat diolah menjadi pulp, akibatnya jerami akan mempunyai nilai jual yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Selama ini proses pembuatan pulp menggunakan proses kraft yang tidak ramah terhadap lingkungan jadi dicari proses lain yang lebih ramah terhadap lingkungan, salah satunya proses organosolv. Kelebihan dari proses organosolv diantaranya adalah berdampak kecil bagi lingkungan yaitu tidak menimbulkan pencemaran seperti gas-gas berbau yang disebabkan oleh belerang seperti pada proses kraft, serta cairan pemasaknya lebih mudah untuk dimurnikan kembali (Marzuki, 2005). Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini dilakukan proses pulpinisasi (proses pembuatan bubur kertas) menggunakan metode organosolv yang lebih ramah lingkungan
PENGGUNAAN METODE EKSTRAKSI PADA PROSES PENGOLAHAN DEDAK PADI (RICE BRAN) MENJADI MINYAK PANGAN
Rice bran is byproduct result from process of grinder shell of rice become the rice, what is only used as livestock feed. Rice bran basically rich of substance of obstetrical nutrient of fat about 14%. Rice bran can be developed permanent upon which in making of food oil. therefore done by a research. The research use the method extraction use the hexane as a solvent to know the influence of time of extraction and difference of size measure of bran to yielded oil rate. This research is conducted by three types of size measure of bran that is 0,2 mm, 0,6 mm and 1 mm and variation of of time ekstraksi 4,5, and 6 clock. Early stage of research is preparation of raw material in the form of rice bran sieved and deliberated, hereinafter extraction, result of from extraction have to distillation to dissociate the pelarut from oil. Bran oil which obtain; get is later; then analysed by a rate, sour of free fat and peroxide number. Obtained a bran oil of at size measure of bran 0,2 mm and time extraction 6 clock with the oil rate 18,43 %, acid contents free fat 0,9 % and peroxide number 0,9 %.Key Word : rice bran, hexane, distillation, extraction, time, bra
Effect Of Hydrothermal Temperature On The Synthesis Of Palm Oil Shell-Based Zeolite: The Synthesis Of Palm Oil Shell-Based Zeolite
Palm oil shells are one of the solid waste in palm oil processing plants, currently the use of palm oil shells is only used as activated charcoal. Though the mineral content potential contained in palm oil shell is very large, one of them is silica (SiO2) of 71.1% with a large amount of this can be used as a source of silica.
The source of silica shell of palm oil in this research is used as the basic material of zeolite manufacture. Zeolite is a hydrated aluminasilicate compound which has many benefits such as catalyst, adsorbent, and ion exchanger. Zeolite fabrication method is a common and widely used hydrothermal method, because this process does not require a high temperature with a relatively short time. Palm oil shells are used to remove carbon in them and the ash is characterised using XRF. Palm oil ash was crushed together with NaOH they were melted at 500°C or 1 hour, and added with distilled water and soaked 24 hours, produced Sodium Silicate and characterised using FTIR. For Alumina, NaOH was reacted with Al(OH)3 to produce Sodium Aluminate and characterised using FTIR. Zeolite preparation was carried out by mixing the sodium silicate and sodium aluminate reactants and the zeolite crystallisation process was carried out using a hydrothermal reactor heated in an oven by varying the hydroternal temperature at 120˚C, 150˚C and 180˚C for 8 hours. Synthesized zeolite was characterised using XRF, XRD and SEM. FTIR analysis Sodium Silicate has been formed at wave number 981.19 cm-1 symmetric vibration Si-O (Na) strectching, and Sodium Aluminate has been formed at wave number 719.87 cm-1 with symmetric vibration Al-O (Na) stretching. The result of XRD characterisation at 120°C produces mixed zeolite of type 4A, Sodalit and Faujasit. At the temperatures of 150°C and 180°C formed Sodalite type zeolite. The best crystallinity was obtained at a hydrothermal temperature of 150°C and analysed using SEM, showing the small cubic crystal form bonding to each other to form an elongated geometry
Pengaruh Penambahan Tempurung Kelapa untuk Meningkatkan Nilai Kalor Biobriket dari Kulit Pisang dan Penggunaan Getah Karet Sebagai Perekat
Biobriket merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari campuran biomassa, dimana bahan bakar padat tersebut merupakan bahan bakar alternatif yang paling murah dan dapat dikembangkan dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi komposisi terbaik dalam produksi biobriket dari bahan dasar kulit pisang. Pengujian mutu dan mutu biobriket dilakukan dengan pengujian kadar air, kadar abu, bahan mudah menguap dan nilai kalor. Parameter yang dijadikan acuan mutu sesuai dengan Standar Mutu ISO Nilai Biobriket. Hasil yang didapat adalah biobriket berkualitas dari 12 komposisi yang terdapat pada perlakuan K3 yaitu lilin kulit pisang 100%, dimana kadar air sebesar 0,74%, kadar abu sebesar 8,47%, bahan mudah menguap sebesar 16,04%, dan nilai kalor sebesar 8669,00 Kal/g. Hal ini dikarenakan biobriket pada perlakuan K3 mempunyai sifat karakteristik yang mendekati standar IS
Exploring Illness Uncertainty and Treatment-Specific Optimism Among Individuals with Refractory and Relapsed Hairy Cell Leukemia.
Hairy Cell Leukemia (HCL) is a rare form of leukemia that invades the spleen and bone marrow causing severe pancytopenia. Little is known about the HCL patients' perception on illness uncertainty and treatment-specific optimism. Purpose: This study aims to explore correlations between uncertainty in illness and treatment-optimism and to present the descriptive summary of numerical and categorical data analysis in patients with relapsed and refractory HCL. Methods: Mishel's uncertainty in illness-community form (MUIS-C) and Cohen's treatment-optimism (CTO) questionnaires were used through a mail survey method. A total of 31 participants completed the questionnaires from a phase II study at the National Cancer Institute, NIH. Data were analyzed using descriptive summary statistics and Pearson correlations. Results: Both MUIS-C (propto=0.85) and CTO (propto=0.84) were tested for reliability with Cronbach's coefficient. The total score for MUIS-C showed a moderately negative correlation with the total score for CTO (Pearson's r=-0.61, p=0.000). Conclusions: The negative Pearson's r-value indicated an inverse relationship between MUIS-C and CTO. This finding is consistent with other cancer related uncertainty-optimism studies where patients with higher disease uncertainty exhibit lower levels of optimism. Future work should focus on a larger sample and factor analyses to examine variability among observed variables with focus on identifying specific factors that affect uncertainty and optimism
Pemanfaatan Reaktor Biogas Untuk Mengkonversi Limbah Organik Menjadi Biogas Sebagai Bahan Bakar Alternatif Di Pasar Rakyat Tradisional Aurduri Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Alam Barajo Jambi
Tim Pelaksana Program Pengabdian Kepada Masyarakat Penerapan Ipteks (PPMPI) yang bermitra dengan paguyuban penjual sayuran dan masyarakat sekitar pasar Aurduri Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Alam Barajo, melakukan pengolahan limbah pasar berupa limbah organic termasuk limbah sayuran menjadi bahan bakar alterbatif dalam bentuk biogas. Biogas yang dihasilkan dari suatu reactor biogas (digester) diharapkan akan dapat menjadi bahan bakar gas alternative pendamping gas LPG yang sering langkah dan mahal harganya. Salah satu teknologi penanggulangan sampah dan sumber energy alternative yang besar peluangnya untuk dikembangkan di daerah Pasar Aurduri dan sekitar adalah energy biogas. Gas ini akan diperoleh dari berbagai sampah organic (limbah pasar) seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan yang dapat dimanfaatkan menjadi energy melalui proses fermentasi bahan- bahan organic oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara). Untuk mengatasi permasalahan limbah dari aktivitas pasar Aurduri maka metode mengkonversi limbah tersebut menjadi bahan bakar alternative (biogas) akan menjadi solusi yang tepat. Pembuatan biogas ini menggunakan reactor biogas (digester) yang dissedign sedemikian rupa untuk menghasilkan biogas yang diinginkan. Jika sampah telah dicampur air atau isian (slurry) dimasukkan ke dalam reaktor biogas maka akan terjadi proses pembusukkan yang terdiri dari dua tahap, yaitu proses aerob dan proses anaerob. Padaproses yang pertama diperlukan oksigen danhasil prosesnya berupa karbondioksida (CO2). Proses ini berakhir setelah oksigen didalam reaktor ini habis. Selanjutnya prosespembusukkan berlanjut dengan tahap kedua (proses anaerob). Pada proses yang kedua inilah biogas dihasilkan. Dengan demikian, untuk menjamin terbentuknya biogas, reaktor ini harus tertutup rapat dan tidakberhubungan dengan udara luar sehingga terdapat kondisi hampa udara Teknologi biogas merupakan suatu cara konversi limbah melalui proses proses anaerobik digestion yang memiliki beberapa keuntungan diantaranya adalah Energi biogas dapat berfungsi sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga dapat mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak (BBM). Biogas tidak hanya menghasilkan gas metana sebagai penyuplai energy, tetapi juga menghasilkan sludge yang sangat baik digunakan sebagai pupuk. Energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti memasak, penerangan, dan lain – lain. Berdasarkan analisis situasi tersebut maka solusi yang ditawarkan dalam kegiatan PPM Penerapan Ipteks ini menggunakan teknologi dengan reactor digester (reactor biogas) untuk menghasikan bahan bakar alternatinatif (biogas) dari limbah sampah organic pasar Aurduri Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Alam Barajo.. Sehingga luaran dari kegiatan program pengandian masyarakat penerapan ipteks ini (PPMPI) ini adalah diperolehnya teknologi pembuatan bahan bakar alternative biogas dengan menggunakan reactor digester yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar untuk kegiatan rumah tangga
Karakterisasi zeolite dari ampas tebu yang dihasilkan dari reaktor hidrotermal dan aplikasinya pada penyerapan ion logam Pb2+
Metode pembuatan zeolit yang umum dan banyak digunakan adalah metode alkali hidrotermal. Dalam penelitian ini proses sintesis zeolit dari ampas tebu menggunakan metode alkali hidrotermal pada temperatur 150 0C dan variasi waktu hidrotermal 8 jam, 16 jam dan 24 jam. Zeolit sintesis yang diperoleh dari metode alkali hidrotermal tersebut dikarakterisasi dengan menggunakan Difraksi Sinar-X dan Mikroskop Pemindai Elektron. Hasilnya adalah zeolit sodalit yang dihasilkan dari variasi waktu hidrotermal 8 jam dengan bentuk kristal kubik berukuran kecil saling berikatan membentuk geometri memanjang. Kemampuan adsorpsi dari zeolit sintetis yang dihasilkan diuji dengan menggunakan ion logam Pb2+. Kapasitas adsorpsi yang dihasilkan adalah 17,5485 mg/g
Pengaruh Berat Unggun terhadap Efisiensi dan Kapasitas Adsorpsi Zat Warna Rhodamin B dengan Sistem Kontinyu
Kolom adsorpsi sistem kontinyu dengan arah upflow digunakan untuk menurunkan konsentrasi zat pewarna Rhodamin B menggunakan adsorben yang terbuat dari kulit durian terlapisi lateks. Adsorpsi dilakukan selama 60 menit dengan waktu pengambilan sampel setiap 20 menit. Berat unggun adsorben divariasikan yaitu 29,68 gr; 46,74 gr; 63,48 gr; 90,15 gr dan 110,28 gr. Konsentrasi Rhodamin B setelah proses adsorpsi diukur menggunakan Spektrofotomer UV-Vis sehingga dapat diketahui kapasitas dan efisiensi adsorpsinya. Jumlah kapasitas adsorpsi akan berbanding terbalik dengan efisiensi adsorpsi. Didapat kapasitas adsorpsi paling besar yaitu 490,73 mg/g pada penggunaan berat unggun 46,74 gram sementara efisiensi adsorpsi terbesar yaitu 67,53% dengan menggunakan unggun adsorben 110,28 gr
Karakterisasi Adsorben Kulit Durian Tanpa Modifikasi dan Termodifikasi dengan Pelapisan Lateks untuk Penyerapan Rhodamin B
Kulit durian memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai adsorben dalam meminimalisir zat pewarna Rhodamin B sebelum dibuang ke lingkungan melalui proses adsorpsi. Lateks diketahui memiliki stabilitas dan kekuatan mekanik yang baik. Oleh karena itu, modifikasi adsorben kulit durian terlapisi lateks dilakukan dengan harapan mampu meningkatkan daya adsorpsi. Daya adsorpsi ditinjau dengan membandingkan karakteristik yang dihasilkan antara adsorben kulit durian tanpa modifikasi dengan adsorben kulit durian yang dimodifikasi dengan pelapisan lateks. Dilakukan analisa SEM untuk mengetahui morfologi adsorben dan analisa EDS untuk melihat unsur-unsur yang terdapat pada adsorben. Dari hasil analisa terbukti bahwa retakan dan patahan yang terbentuk pada adsorben kulit durian tanpa modifikasi diperbaiki dengan pelapisan lateks, menghasilkan pori-pori yang terdistribusi merata dengan ukuran paling kecil 2,814 μm dan paling besar 4,110 μm serta kadar unsur karbon berjumlah 69,27%. Adorben yang dihasilkan kemudian diuji kinerjanya pada penjerapan zat pewarna rhodamin B dalam kondisi asam. Ketika penjerapan, adsorben terlapisi membentuk gumpalan dan tidak terjadi penjerapan. Karakteristik adsorben setelah penjerapan dianalisa menggunakan SEM-EDS, diketahui bahwa akibat terjadinya penggumpalan lanjutan terbentuk pori-pori berukuran kecil padahal kadar unsur karbon yang terdapat pada adsorben berjumlah besar yaitu 82,35%
Pra Rancang Pabrik Pembuatan Asam Sulfat dari Sulfur, Oksigen, dan Air Menggunakan Proses Kontak dengan Kapasitas 160.000 Ton/Tahun
Pabrik pembuatan asam sulfat ini direncanakan berlokasi di daerah Prambonwetan, Jawa Timur dengan area luas 3,8 ha dengan kapasitas 160.000 ton/tahun. Proses pembuatan Asam Sulfat menggunakan bahan baku dari Sulfur, Oksigen dan Air dengan bantuan Vanadium Pentoksida sebagai katalis. Reaksi berlangsung di dalam Burner (B-01) sebagai pembentukan Sulfur Dioksida pada suhu 1000 oC dan tekanan 1 atm. Selanjutnya reaksi berlansung di dalam dua jenis reaktor yaitu Continuous Stirred Tank Reaktor (R-02) sebagai pembentukan Asam Sulfat pada suhu 80oC dan tekanan 1 atm. Sedangkan reaktor Fixed Bed Multibed (R-01) tersusun atas 4 buah bed sebagai pembentukan Sulfur Trioksida dengan suhu masing-masing 450oC, 440oC, 425oC, dan 405oC pada tekanan 1 atm. Perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang dipimpin oleh seorang Direktur Utama. Sistem organisasi perusahaan adalah line and stuff dengan total karyawan 210 orang. Hasil analisa ekonomi dari prarancang pabrik pembuatan Asam Sulfat ini adalah Biaya Produksi sebesar US 3.947.629.377,3979, Annual Cash Flow sebesar US $ 811.552.893,4923, Pay Out time selama 3 tahun, Break Even Point 36,4319 %, Service Life 11 tahun
- …
