23 research outputs found
SAMBUTAN DAN TRANSFORMASI SASTRA LISAN DALAM SASTRA INDONESIA: STUDI KASUS PADA DRAMA ARUNG PALAKKA DAN PARA KARAENG
<span>Di dalam estetika resepsi, yang menjadi objek studi sastra adalah penerimaan serta sambutan pembaca atau masyarakat pembaca terhadap teks sastra. Yang dimaksud dengan sambutan pembaca dalam tulisan ini adalah munculnya karya baru yang merupakan transformasi teks-teks yang ada sebelumnya. Sambutan pembaca dengan memunculkan karya baru berupa transformasi dari teks terdahulu dapat dilakukan dengan mengolah kembali, memutarbalikkan, dengan memberontaki, atau dengan menulis kembali teks terdahulu tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk melihat aspek sambutan dan tranformasi sastra lisan ke dalam sastra Indonesia yakni pada karya drama yang berjudul </span><em>Arung Palakka </em><span>dan </span><em>Para Karaeng</em><span>. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan teori resepsi dan intertekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa drama yang berjudul </span><em>Arung Palakka </em><span>dan drama </span><em>Para Karaeng</em><span>merupakan sambutan dan transformasi dari sastra lisan Makassar yang berjudul </span><em>Sinrilik Kappalak Tallumbatua.</em></jats:p
Sinrilik Kappalak Tallumbatua: Suntingan Teks, Nilai-Nilai,Fungsi dan Resepsinya
-E. Tinjauan Pustaka\ud
Pembicaraan mengenai sinrilik sudah banyak dilakukan. Jika dirunut ke belakang, orang pertama yang membicarakan sinrilik adalah B.F. Matthes dalam buku Makassaarsche Chrestomathie (1860). Dalam buku tersebut, Matthes membicarakan hal-hal mengenai kesusastraan Makassar dan jenis-jenisnya dengan melakukan transkripsi dan terjemahan ke dalam bahasa Belanda. Buku Matthes tersebut menjadi sumber rujukan pada beberapa penelitian selanjutnya. Bahkan, buku ini pun menjadi sumber belajar bagi pasinrilik yang beraksara. Di dalam buku ini terdapat beberapa cerita sinrilik seperti I Makdi Daeng RiMakka, Datu Museng, Jayalangkara, Bosi Timurung. Di dalam buku ini pun, terdapat teks sinrilik Kappalak Tallumbatua, tetapi hanya ditranskripsi dan diterjemahkan saja.\ud
Kajian tentang sinrilik selanjutnya dilakukan oleh Parawansa (1965) dengan judul ???Sinrili??? Datoe Moeseng Sebuah Epos Makassar dan Sumbangannya Kepada Kesusastraan Indonesia???. Penelitian tersebut mengenai pengertian sinrilik dan sinrilik Datu Museng sebagai sebuah cerita sejarah serta sumbangannya terhadap pendidikan, selanjutnya dibicarakan gaya bahasa dan perwatakan. Penelitian Basang (1965) berjudul ???Pencerminan Rasa Kebangsaan dalam Kesusastraan Daerah Makassar Chusus dalam Sinrilik???. Pembicaraan yang dilakukan adalah menghubungkan sinrilik dengan pendidikan serta pencerminan rasa kebangsaan yang terdapat dalam cerita sinrilik. Penelitian Nyompa dkk. (1981) berjudul ???Transkipsi Sure Galigo dan Sinrilik di Sulawesi Selatan???. Tulisan ini hanya dalam bentuk transkripsi dan terjemahan tanpa dilakukan analisis. Penelitian Hakim (1990) berjudul ???Kedudukan dan Fungsi Sinrilik I Datu Museng???. Pembicaraannya hanya melihat pada fungsi dan kedudukan sinrilik I Datu Museng dalam kesusastraan Makassar. Penelitian Parawansa dkk. (1992) berjudul ???Sastra Sinrilik Makassar???. Pembicaraannya berupa deskripsi singkat terhadap unsur-unsur alur, penokohan, dan latar terhadap beberapa buah sinrilik. Penelitian Hakim (2001) berjudul ???Nilai-Nilai Kepahlawanan dalam Sinrilik Makassar???. Yang dibicarakannya adalah hal-hal mengenai nilai-nilai kepahlawan yang terdapat dalam sinrilik. Penelitian Sikki dkk. (1991) berjudul ???Nilai-Nilai Budaya dalam Susastra Daerah Sulawesi Selatan??? dengan melihat nilai-nilai budaya apa saja yang terdapat dalam kesusastraan Sulawesi Selatan secara umum, termasuk sinrilik. Semua pembicaraan tentang sinrilik tersebut sumber teksnya berasal dari buku Matthes (1860).\ud
Penelitian yang dilakukan di atas meskipun telah mengungkap aspek fungsi dan nilai-nilai yang terdapat dalam cerita sinrilik, tetapi memperlihatkan perbedaan dengan yang dilakukan dalam penelitian ini. Perbedaan tersebut terletak pada objek cerita yang berbeda dengan SKT sehingga fungsi dan nilai-nilai yang ditemukan memperlihatkan perbedaan pula. Dalam disertasi ini, fungsi dan nilai-nilai SKT dilihat dalam perspektif dulu dan kini. Fungsi dan nilai-nilai yang ditemukan dalam SKT tersebut dipandang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.\ud
Selanjutnya, beberapa artikel mengenai sinrilik ditulis oleh Mangemba (1994) dengan judul ???Sinrilik Nyanyian ???Rapsodi??? Sulawesi Selatan???, Yusmanizar (1992) dengan judul ???Mengenal Sinrili???-???Sinrili Tak Akan Mati??? dan ???Sinrili Bukan Keahlian Turunan???, Huda dan Syamsurijal (2006) berjudul ???Mitos Sinrilik dan Narasi Kolonial???, Huda (2006) berjudul ???Ketika Sinrilik Berdialog dengan Islam???. Keseluruhan pembicaraan masih merujuk pada teks yang terdapat dalam buku Matthes.\ud
Pembicaraan berikutnya terhadap sinrilik adalah dengan melihat pada aspek pertunjukannya, tanpa melakukan analisis terhadap teks ditulis oleh Sutton (1995) dengan judul ???Makassarese Epic Singing??? dalam buku Performing Arts and Cultural Politics in South Sulawesi. Penelitian Sutton (2002) berjudul ???Sinrilik and Kacaping: Persistence and Adaptation of Two Makassarese Musical Genre??? dalam buku Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politicsin Lowland South Sulawesi. Penelitian Gibson (2008) berjudul ???From Stranger-King To Stranger-Shaikh Austronesian Symbolism and Islamic Knowledge??? dalam buku Indonesia and the Malay World. Penelitian yang berkaitan dengan pertunjukan dan alat musik yang digunakan melalui kajian etnomusikologi dilakukan oleh Hafid (2011) dengan meneliti seni resitasi sinrilik yang dihubungkan dengan konteks upacara perkawinan adat Makassar di Kabupaten Gowa serta sejauh mana fungsi sinrilik dalam konteks upacaranya. Selain hal tersebut, dilihat juga bentuk penyajian dan struktur musikal serta bentuk instrumennya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukan sinrilik dalam upacara perkawinan hanya digunakan dan berfungsi sebagai hiburan saja. Semua penelitian di atas berbeda dengan penelitian ini, karena dalam kajian disertasi ini SKT tidak dikaitkan dengan pertunjukan atau alat musik serta instrumennya. \ud
Penelitian terhadap sinrilik berikutnya adalah dengan melihat aspek tradisi dan pewarisan sinrilik dengan judul ???Sinrilik Datumuseng: Tradisi, Teks, dan Pewarisannya??? ditulis oleh Inriati-Lewa (1996). Kajiannya berdasarkan pada sinrilik sebagai salah satu ragam sastra lisan yang ada di Sulawesi Selatan. Fokus penelitian yang dilakukan adalah melihat tradisi penyampaian sinrilik serta pewarisan tradisi tersebut berdasarkan aspek pertunjukan dan cerita yang disampaikannya. Dalam penelitian itu, analisis terhadap struktur teks sinrilik Datumuseng dilakukan dengan memanfaatkan teori formula. Meskipun sama-sama menggunakan teori formula, kajiannya memiliki perbedaan dengan yang dilakukan dalam disertasi ini. Perbedaannya terletak pada pemanfaatan formula dan unsur formulaik yang digunakan pada teks lisan SKT yang berasal dari pasinrilik buta huruf dan melek huruf dengan melihat perbedaan di antara keduanya. \ud
Penelitian ataupun tulisan berikutnya adalah mengenai sinrilik Kappalak Tallumbatua berdasarkan naskah dilakukan oleh Parawansa dkk. (1992) berjudul ???Nilai-Nilai Budaya dalam Sinrilik Kappalak Tallumbatua???. Yang dilihat dalam tulisan ini adalah nilai-nilai budaya yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan terutama yang berkaitan dengan budaya siri. Penelitian yang dilakukan oleh Parawansa (dkk.) ini, dapat dikatakan terkait langsung dengan nilai-nilai yang terdapat di dalam SKT. Akan tetapi, penelitian ini memiliki perbedaan dengan yang dilakukan dalam disertasi ini. Perbedaannya terletak pada beberapa perspektif yang dipakai untuk melihat tujuan utama, yakni menemukan latar belakang penciptaan, fungsi, dan sambutan yang terdapat dalam sastra lisan SKT pada masyarakat Makassar melalui aspek formula pembentuk baris dan intertekstual SKT tersebut. Dengan demikian, berdasarkan teori-teori yang digunakan di dalam penelitian disertasi ini, pikiran, perasaan, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam SKT dapat diketahui dan diharapkan dapat digunakan dan diteladani oleh masyarakat sekarang. Faisal (1995) menulis tesis dengan judul ???Sinrilik Kappalak Tallumbatua: Suatu Telaah Filologis Sastra Makassar Klasik???. Penelitiannya dengan cara membuat transliterasi, terjemahan, ringkasan isi, dan analisis isi. Objek yang dijadikan sebagai dasar penelitian adalah naskah yang ditulis pada tahun 1953. \ud
Penelitian yang dilakukan oleh Faisal, berbeda dengan yang dilakukan dalam penelitian ini. Perbedaan yang pertama adalah penyediaan objek yang berbeda, yaitu teks SKT yang didasarkan pada naskah, sedangkan dalam disertasi ini teksnya disediakan dari sumber lisan. Kedua, analisis yang dilakukan oleh Faisal tidak membahas mengenai teknik yang dipakai oleh pencerita untuk membangun ceritanya, yakni pemanfaatan formula dan unsur formulaik. Ketiga, meskipun penelitian tersebut memberikan suatu analisis terhadap isi cerita, tetapi tidak melakukan analisis terhadap teknik penciptaan lisan yang digunakan oleh pasinrilik seperti teknik perulangan ataupun tema dalam membangun cerita. \ud
Buku yang ditulis oleh Arief dan Hakim (ed.) (1993) dengan judul Sinrilikna Kappalak Tallumbatua merupakan hasil transkripsi dan terjemahan dari sinrilik tersebut. Transkripsi serta terjemahan yang dilakukan berdasarkan naskah yang berasal dari buku Matthes, tanpa melakukan analisis. Penelitian Rasyid (2001) berjudul ???Ekspresi Semiotik Tokoh Legendaris dalam Sinrilik Kappalak Tallung Batua???, sumbernya masih dari naskah yang terdapat dalam buku Matthes. Fokus penelitian ini adalah pada tokoh cerita terutama tokoh Andi Patunru yang berperan di dalam cerita tersebut dengan menggunakan kajian semiotik. Kajian ini menyimpulkan bahwa tokoh-tokoh di dalam sinrilik ini terutama tokoh utama merupakan tokoh yang melegenda bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Penelitian Suyatno (1997) berjudul ???Tak Tertaklukkan: Sinrilik Kappalak Tallung Batuwa??? dengan melihat kedudukan serta kehebatan sinrilik tersebut di antara sinrilik lainnya. Dalam penelitian ini yang dilakukan adalah membandingkan beberapa cerita sinrilik yang terkenal dan disukai ceritanya. Suyatno menyimpulkan bahwa di antara sekian banyak cerita sinrilik yang ada, sinrilik Kappalak Tallung Batuwa yang paling disukai. Hal ini karena kehebatan cerita dan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Penelitian selanjutnya adalah yang dilakukan oleh Esteban (2010) dengan judul The Narrative of War in Makassar: Its Ambiguities and Contradictions. Penelitian yang dilakukannya adalah ingin mengintegrasikan sejarah lisan dan etnografi dengan melihat kesamaan dan perbedaan tentang Perang Makassar yang terdapat dalam Sinrilikna Kappalak Tallumbatua dan memori kolektif dari perang tersebut. Memori kolektif dari Perang Makassar tersebut diambil dari pasinrilik yang mengetahui cerita itu dan teks yang telah ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Arief dan Hakim (1993). Penulis beranggapan bahwa Sinrilikna Kappalak Tallumbatua yang terbit tahun 1993 merupakan prosa naratif yang tidak sama dengan Perang Makassar. Sinrilikna Kappalak Tallumbatua hanyalah artepak kesusastraan naratif yang berkaitan dengan Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan raja Gowa ke-16 Sultan Hasanuddin. Penelitian yang dilakukan oleh Esteban ini berdasarkan pada sejarah Perang Makassar dan teks Sinrilikna Kappalak Tallumbatua. Kajian yang dilakukan oleh Esteban memperlihatkan perbedaan dengan yang dilakukan dalam disertasi ini. Hal ini karena perbedaan sudut pandang yang dilakukan untuk melihat cerita SKT tersebut, begitu pula dengan objek analisis dalam disertasi yang berasal dari teks dan pertunjukan lisan.\ud
Berdasarkan pada tinjauan pustaka tersebut, tampak bahwa topik yang dibicarakan dalam penelitian ini belum dibahas dan diteliti. Terlihat bahwa beberapa penelitian menggunakan objek material yang sama, tetapi cara mendapatkan objek tersebut berbeda. Penelitian yang dilakukan dalam disertasi ini difokuskan pada penelitian lisan dengan menggunakan kerangka teori formula dalam sastra lisan, resepsi, dan intertekstual yang tentu saja berbeda sudut pandang pembahasannya. Dengan demikian, kehadiran penelitian yang dilakukan ini diperlukan guna menjawab permasalahan yang telah dikemukakan dan diharapkan dapat menambah kajian yang telah ada sebelumnya.\ud
Di samping penelitian tentang Sinrilik Kappalak Tallumbatua yang telah dikemukakan di atas, terdapat beberapa penelitian sastra lisan di Indonesia yang sudah dilakukan dan dianggap relevan dengan penelitian disertasi ini. Penelitian sastra lisan itu menggunakan konsep formula dan tema yang dikembangkan oleh Lord seperti berikut.\ud
Penelitian tentang cerita epik Kaba Sijobang di Sumatera Barat yang dilakukan oleh Nigel Phillips (1981). Penelitian ini mengungkapkan mengenai peranan formula dalam penciptaan cerita, hubungan sosial, teknik dan metode penceritaan dan penciptaan, serta variasi yang terdapat dalam cerita Sijobang. Teknik formula yang digunakan dapat ditemukan pada dominannya penggunaan pengulangan serta paralelisme, begitu pula dengan pemanfaatan sejumlah adegan siap pakai yang digunakan dalam Kaba Sijobang untuk merakit cerita. Penelitian terhadap puisi keagamaan yang terdapat di Pulau Roti oleh James J. Fox (1986). Dalam penelitian ini, ia mengungkapkan ciri khas puisi keagamaan tersebut yang menggunakan pasangan wajib yang mengarah dan menunjukkan adanya kesejajaran tema dalam puisi keagamaan itu (Fox, 1986). Penggunaan ???semacam??? formula dan tema dari Lord dalam penelitian terhadap cerita kentrung di Tuban oleh Saripan Sadi Hutomo (1987). Ia mengatakan bahwa dalam penciptaan cerita ada semacam formula yang memperlancar dalang kentrung dalam bercerita. Di samping itu, terdapat unsur-unsur bahasa yang sewaktu-waktu dapat difungsikan untuk menceritakan peristiwa tertentu yang berulang dan dapat disamakan dengan istilah tema oleh Lord. Akan tetapi, karena cerita kentrung tidak berbentuk puisi yang terikat oleh aturan yang ketat seperti puisi, ada kebebasan bagi dalang kentrung untuk menggunakan kata dan kelompok kata khusus tersebut. Kebebasan tersebutlah yang menyebabkan dalang cerita kentrung terlihat lincah pada saat pertunjukan berlangsung. Istilah formula dan tema yang terdapat dalam cerita kentrung tidak identik dengan pengertian yang diberikan oleh Lord (Hutomo, 1987). \ud
Selanjutnya, dalam sastra lisan Tanggomo yang berasal dari Gorontalo, ditemukan adanya formula dari Lord pada pengulangan pola, baik pola kata maupun pola baris. Sistem formula yang digunakan dalam Tanggomo ternyata dapat mempermudah dan menampilkan cerita. Formula dalam Tanggomo terdiri atas satu kata, kelompok kata (frasa), dan juga satu baris. Begitu pula dengan penggunaan rima dan gaya bahasa paralelisme yang sangat dominan dalam penceritaan Tanggomo. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola formula yang digunakan dalam Tanggomo adalah pola baris yang mengikuti sistem sintaksis dan ritme tertentu yang digunakan untuk menciptakan baris-baris formulaik yang salah satu unsurnya atau semua unsurnya sama (Tuloli, 1990). Tuloli berkesimpulan bahwa penelitian terhadap Tanggomo secara umum terdapat persamaan dengan temuan Lord, yakni adanya sistem formulaik. Akan tetapi, secara khusus terdapat perbedaan antara sistem formulaik yang ada di dalam cerita lisan Yugoslavia yang diteliti oleh Lord dan sistem formulaik yang terdapat dalam Tanggomo, yaitu tidak ditemukannya sistem formulaik yang didukung oleh matra yang tetap pada suku kata tertentu (Tuloli, 1990: 337). \ud
Penelitian Tuloli (1990) terhadap sastra lisan Tanggomo dianggap relevan dengan penelitian yang dilakukan terhadap SKT dalam disertasi ini. Hal tersebut karena di samping penggunaan teori formula dari Lord seperti yang diutarakan di atas, dilihat pula nilai-nilai budaya dan fungsi dari Tanggomo. Dikatakan bahwa sastra lisan Tanggomo memiliki fungsi historis, fungsi heroik, dokumen peristiwa penting, dan nilai didik. Nilai didik yang terdapat dalam Tanggomo diilhami oleh ide-ide dan pikiran masyarakat, ajaran agama, dan pengalaman-pengalaman.\ud
Formula juga terlihat digunakan pada penyampaian hikayat dalam tradisi sastra Aceh seperti yang terdapat di dalam Hikayat Meukuta Alam. Cara penikmatan hikayat yang lisan telah menyebabkan sistem puisi dalam hikayat sangat dekat dengan ciri-ciri puisi lisan meskipun teksnya telah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Unsur repetisi (perulangan) dan paralelisme digunakan dalam berbagai bentuk seperti perulangan kata, kelompok kata, larik, sampai kepada perulangan adegan dan deskripsi bagian-bagian cerita yang disebut tema oleh Lord sangat dominan digunakan dalam Hikayat Meukuta Alam. Bentuk perulangan yang digunakan tersebut merupakan jaringan formula yang dimanfaatkan penyair untuk membangun larik-larik puisi sehingga dapat merangkai cerita secara lancar. Penyair hikayat tampaknya sangat menguasai kerangka adegan siap pakai yang dirakitnya setiap kali diperlukan. Kerangka itulah yang digunakan menjadi sistem jaringan formula yang menyeluruh mulai dari unsur yang terkecil, yaitu teknik pembentukan larik sampai kepada kerangka yang lebih besar, yakni sistem pembangun cerita. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri sistem puisi yang tedapat dalam teori formula seperti yang dikemukakan oleh Milman-Parry (Abdullah, 1991: 678-680). \ud
Penelitian selanjutnya terhadap sastra lisan, dilakukan oleh Wigati (2008) terhadap sastra lisan Sentani di Papua. Penelitian yang dilakukan oleh Wigati ini lebih difokuskan pada tradisi kelisanan yang terdapat dalam sastra lisan Helaehili dan Ehabla yang lebih ditekankan pada fungsi dan peran perempuan yang direfleksikan dalam sastra lisan tersebut pada masyarakat Sentani di Papua. Menurut Wigati, Helaehili dan Ehabla adalah puisi lisan Sentani yang semakin jarang ditemukan karena orang yang melantunkannya hanya dikuasai oleh generasi tua yang semakin sedikit jumlahnya. \ud
Berdasarkan aspek kelisanan, Helaehili dan Ehabla yang diteliti oleh Wigati memperlihatkan bahwa puisi lisan ini komposisinya dilantunkan secara spontan pada saat dibawakan oleh para pelantunnya tanpa adanya catatan dan hafalan. Pelantun hanya menyiapkan kerangka cerita dan alur cerita dalam pikirannya yang kemudian dielaborasi pada saat pertunjukan. Hal selanjutnya yang disiapkan oleh pelantun adalah membekali dirinya dengan kata atau frasa, baik yang diciptakannya sendiri maupun yang sudah disiapkan oleh adat yang digunakannya untuk merakit larik-larik lantunannya. Selain melihat pada aspek tradisi kelisanan, penelitian terhadap puisi lisan Helaehili dan Ehabla juga melihat fungsinya dalam masyarakat Sentani. Fungsi puisi lisan ini di daerah pedesaan masih bertahan dan bisa diterima oleh generasi muda, tetapi untuk masyarakat perkotaan puisi lisan ini sudah ditinggalkan. Yang bertahan dari puisi lisan Helaehili dan Ehabla ini di masyarakat sekarang adalah fungsinya sebagai hiburan saja. Penelitian yang dilakukan oleh Wigati tersebut memperlihatkan persamaan dengan kajian yang dilakukan terhadap SKT karena tradisi lisan ini pun semakin jarang dipertunjukkan dan orang yang membawakannya (pasinrilik) semakin sulit ditemukan. Begitu pula dengan fungsi SKT pada masyarakat dewasa ini, yakni sebagai media hiburan dan penyimpan pengetahuan saja.\ud
Berdasarkan uraian tinjauan pustaka yang telah dikemukakan, terlihat bahwa pemanfaatan pola formula pada beberapa sastra lisan yang ada di Indonesia menampakkan perbedaan pada penerapannya. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh perbedaan sistem bahasa, sastra, dan budaya yang terdapat pada masing-masing masyarakat pemilik tradisi lisan tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan tradisi lisan sinrilik yang ada pada suku Makassar di Sulawesi Selatan. Untuk melihat hal itu, dalam penelitian ini digunakan teks hasil rekaman lisan yang berasal dari pasinrilik melek huruf dan buta huruf untuk melihat kelisanan di antara keduanya
Sinrilik Kappalak Tallumbatua: Suntingan Teks, Nilai-Nilai,Fungsi dan Resepsinya
-ABSTRACT\ud
Sinrilik is a kind of oral literature performed by Makassar ethnic group in South Sulawesi. One of the sinrilik that has special position among other sinrilik is Sinrilik Kappalak Tallumbatua (SKT) as it narrates the grandeur of the kingdom of Gowa and its kings, their heroic attitude, moral doctrine, customs, and belief which represent its society. There are two narrative versions of SKT, the one that is recited by a pasinrilik who is literate in Latin letters, and the other that is by illiterated pasinrilik; both narrate the unification of kinship of its heroes, and the conflict of three characters, Sultan Hasanuddin, Karaeng Tu Nisombayya, and Andi Patunru or Arung Palakka, to legitimize the power of Sultan Hasanuddin. The aim of this research is to find out the social and cultural aspects of the SKT and its formulas which structure its lyric into oral literary composition, to understand its value, functions, and reception, and to point out its intertextual aspects and its transformation into several forms of reception. \ud
To attain this aim, philological theory was applied to transcribe the oral text of the SKT into the writing text. The theory of formula in oral literature was used to examine the way pasinrilik composing the story. The theory of reception and intertextuality are applied to clarify intertextual aspect of the SKT, its reception and its transformation into number of forms. \ud
The result of this research shows, first, there are differences in narration and in characters as well as in the poetic and narrative structure. This differences is strongly influenced by pasinrilik???s literacy when using formula and formulaic pattern in composing narration to creates semantic system. Second, based on the background of its composition, it is found that SKT is limited within the legitimation of king???s grandeur and the kingdom, and the king???s dignity. Third, as an oral literary production, SKT is occupied by values and functions derived from its supporting society, which is still considered relevant in the present day. Fourth, SKT shows the reception and the intertextual process in two levels. The first level is the intertextuality process derived from the reception of pasinrilik regarding the incident of Makassar war, stories of Fir???aun and the prophet Musa as well as Syair Perang Mengkasar. The second level is the reception of the SKT in forms of an audio record of Kappalak Tallum Batua, two plays Para Karaeng and Arung Palakka, a novel Perang Makassar 1669: Prahara Benteng Somba Opu. Finally, the finding of research on values, functions and reception shows that SKT has been used to legitimize, to unite culture, ethnicity, kings and their kingdoms, as well as power, and to instill into society???s mind the charisma of Sultan Hasanuddin and Arung Palakka as characteristic figures and Hero
SASTRA LISAN SINRILIK KAPPALAK TALLUMBATUA: LATAR BELAKANG PENCIPTAANNYA
Setelah latar belakang SKT dibahas, bahwa sebagai sebuah karya sastra lisan yang berasal dari suku Makassar SKT memang memperlihatkan dekatnya karya sastra tersebut dengan masyarakat pendukungnya.Sinrilik Kappalak Tallubatua adalah salah satu produk sastra lisan yang terdapat pada suku Makassar di sulawesi Selatan. di antara sekian banyak sinrilik yang ada, Sinrilik Kappala Tallubatua merupakan sinrilik yang sangat populer karena didalamnya diceriatakn tentang dua tokoh yang berasal dari dua kerajaan besar yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, sikap heroisme, Adat-istiadat, ajaran moral, serta kepercayaan yang merupakan pencerminan masyarakatnya. tulisan ini bertujuan mengetahui latar belakang penciptaan SinrilikKappalak Tallubatua pada masyarakat Makassar. untuk mengetahui hal tersebut digunakan pandangan yang kekemukakan oleh Teeuw tentang konvensi budaya dalam sastra dan pandangan Culler tetntang kode Kultural melalui pandangan tersebut ditemukan bahwa latar belakang penciptaan Sinrilik Kappalak Tallubatua adalah mengenai kebesaran raja dan kerajaan serta penegakan harga diri
NILAI-NILAI DAN FUNGSI SINRILIK KAPPALAK TALLUMBATUA: RELEVANSINYA DENGAN MASA KINI
Sastra lisan yang terdapat pada masyarakat suku bangsa yang ada di Indonesia merupakan sumber kekayaan dan kekuatan dalam menghadapi era globalisasi. Nilai-nilai yang terdapat dalam sastra lisan tersebut dapat digunakan sebagai unsur penyatu dan penguat dalam pusaran globalisasi. Nilai-nilai yang terdapat dalam SKT seperti nilai patriotisme baik yang berwujud keberanian, semangat untuk berjuang, rasa kebanggaan terhadap negeri, maupun bangsa sendiri, nilai pendidikan berupa nilai kejujuran, nilai moral, nilai hukum, nilai ketegasan, ataupun nilai demokrasi dipandang masih relevan dalam kehidupan masa kini. Inti nilai-nilai tersebut masih dapat digunakan dan dipertahankan di dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat orang-orang Sulawesi Selatan yang hidup pada zaman sekarang sebagai kekayaan dan kekuatan menghadapi globalisasi. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang terdapat dalam SKT perlu disosialisasikan kepada masyarakat pemilik dan pendukung karya sastra lisan tersebut.\ud
Bahasa dan budaya yang terdapat dalam sastra lisan???sinrilik???yang di dalamnya terkandung nilai-nilai dan kearifan masyakat pemilik sastra lisan tersebut dapat dipakai sebagai alat pemersatu dalam menghadapi gempuran dan serbuan dari negara-negara maju yang berada dan berasal dari benua lain. Sastra lisan yang terdapat pada semua suku bangsa yang ada di Indonesia dapat dijadikan sebagai kekayaan dan kekuatan untuk digunakan sebagai bagian promosi moral dan budaya di samping promosi sosial. Dengan demikian, identitas sebagai bangsa Indonesia tidak larut dan tenggelam dalam arus globalisasi yang terjadi yang dapat menghilangkan bahasa, sastra, dan budaya yang dimilikinya. Nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra yang berasal dari masa lampau merupakan warisan budaya yang relevansinya untuk masa kini masih sangat diperlukan. Nilai-nilai yang terdapat dalam SKT tersebut masih sangat diperlukan, dan menjadi hal yang sangat penting sebagai penunjang kerangka modernisasi dan globalisasi yang dihadapiKeberadaan tradisi lisan tidak bisa dilepaskan dari sejarah serta aspek tertentu dalam kehidupan masyarakatnya. Jika dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada masa kini, tradisi lisan harus diakui mempunyai kekuatan dan sumber daya yang besar artinya, dan tidak dapat dilepaskan baik dari wawasan nilai, konsepsi ideologis, maupun konsepsi budaya yang tumbuh dalam masyarakat pendukungnya. Tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan nilai-nilai dan fungsi yang terdapat dalam salah satu sastra lisan yang ada pada suku Makassar yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Tradisi lisan yang terdapat pada semua suku yang ada di Indonesia dipandang sebagai salah satu kekayaan dan kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk menghadapi gempuran yang terjadi pada saat ini
Sinrilik Kappalak Tallubatua: Suntingan Teks, Nilai-nilai, Fungsi, dan Resepsinya
-ABSTRACT\ud
Sinrilik is a kind of oral literature performed by Makassar ethnic group in South Sulawesi. One of the sinrilik that has special position among other sinrilik is Sinrilik Kappalak Tallumbatua (SKT) as it narrates the grandeur of the kingdom of Gowa and its kings, their heroic attitude, moral doctrine, customs, and belief which represent its society. There are two narrative versions of SKT, the one that is recited by a pasinrilik who is literate in Latin letters, and the other that is by illiterated pasinrilik; both narrate the unification of kinship of its heroes, and the conflict of three characters, Sultan Hasanuddin, Karaeng Tu Nisombayya, and Andi Patunru or Arung Palakka, to legitimize the power of Sultan Hasanuddin. The aim of this research is to find out the social and cultural aspects of the SKT and its formulas which structure its lyric into oral literary composition, to understand its value, functions, and reception, and to point out its intertextual aspects and its transformation into several forms of reception. \ud
To attain this aim, philological theory was applied to transcribe the oral text of the SKT into the writing text. The theory of formula in oral literature was used to examine the way pasinrilik composing the story. The theory of reception and intertextuality are applied to clarify intertextual aspect of the SKT, its reception and its transformation into number of forms. \ud
The result of this research shows, first, there are differences in narration and in characters as well as in the poetic and narrative structure. This differences is strongly influenced by pasinrilik???s literacy when using formula and formulaic pattern in composing narration to creates semantic system. Second, based on the background of its composition, it is found that SKT is limited within the legitimation of king???s grandeur and the kingdom, and the king???s dignity. Third, as an oral literary production, SKT is occupied by values and functions derived from its supporting society, which is still considered relevant in the present day. Fourth, SKT shows the reception and the intertextual process in two levels. The first level is the intertextuality process derived from the reception of pasinrilik regarding the incident of Makassar war, stories of Fir???aun and the prophet Musa as well as Syair Perang Mengkasar. The second level is the reception of the SKT in forms of an audio record of Kappalak Tallum Batua, two plays Para Karaeng and Arung Palakka, a novel Perang Makassar 1669: Prahara Benteng Somba Opu. Finally, the finding of research on values, functions and reception shows that SKT has been used to legitimize, to unite culture, ethnicity, kings and their kingdoms, as well as power, and to instill into society???s mind the charisma of Sultan Hasanuddin and Arung Palakka as characteristic figures and Heros
CALABAI DALAM PERSPEKTIF BUDAYA BUGIS MAKASSARPADA NOVEL CALABAI: PEREMPUAN DALAM TUBUH LELAKIKARYA PEPI AL-BAYQUNIE (PENDEKATAN STRUKTURAL)
SULFIANA SBR. Calabai dalam Perspektif Budaya Bugis-Makassar pada NovelCalabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki Karya Pepi Al-Bayqunie: PendekatanStruktural (dibimbing oleh Inriati Lewa dan Haryeni Tamin).Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan mengenai calabai dalamperspektif budaya Bugis-Makassar dalam novel Calabai: Perempuan dalamTubuh Lelaki karya Pepi Al-Bayqunie. Penelitian ini diteliti dengan pendekatanstruktural dengan memanfaatkan teori dari A. Teeuw mengenai tiga aspek dalammembaca dan menilai sastra yaitu kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.Adapun metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa calabai dalam perspektif budayaBugis-Makassar menjadi sebuah pro dan kontra. Hal tersebut karena perbedaanidealisme agama, sosial, dan budaya masyarakat Bugis-Makassar dalam novel.Kata kunci: calabai, perspektif, struktural.xiiABSTRACTSULFIANA SBR. Calabai in the Perspective of Bugis-Makassar Culture in theCalabai Novel: Perempuan dalam Tubuh Lelaki authored by Pepi Al-Bayqunie:Structural Approach (Supervised by Inriati Lewa and Haryeni Tamin).This study aims to reveal about Calabai in the perspective of Bugis-Makassar culture in the Calabai novel: Perempuan dalam Tubuh Lelaki authoredby Pepi Al-Bayqunie. This study used structural approach by employing theoriesof A. Teeuw regarding three aspects in reading and in valuing literatures whichare language, cultures, and literary codes. The method is a qualitative method.The results showed that Calabai in the perspective of Bugis-Makassarculture became pros and cons. This is because of the differences in religiousidealism social and culture of the Bugis-Makassar societies in the novel.Keywords: calabai, perspective, structural.xi + 67 hlm
Postmodernism in The Art Concept of Putu Wijaya
This research will explore the life journey of a prominent Indonesian writer, Putu Wijaya. His life history is traced especially his connetion to traditionality and modernity, starting from childhood until graduating from high school in Bali, as a student to his graduation in Yogyakarta, then moving to settle and making art in Jakarta. The three places gave him an intense understanding of the traditionalities of Bali, Java, and the Archipelago. At the same time, the three places also provide him with an understanding of modernity. The various forms of traditionality and modernity mingled in Wijaya’s works, traditionalities such as fairy tales, wayang stories, and even mystical things that do not make sense also influence Wijaya\u27s way of thinking. Meanwhile, one of the important modernities that also influenced him since childhood was Indonesian language. The language was chosen and designed based on the modern thinking of linguists Von de Wall, HC Klinkert, and Van Ophuijsen from the Dutch colonial state. Wijaya\u27s mingling of traditionality and modernity allows him to write fluently various things, including the absurd and the absurd. His understanding of himself and his readers who were victims of feudalism and colonialism, made him write literary works to make his readers think more freely. This makes Wijaya\u27s literary works tend to have a postmodernist styl
