1,721,012 research outputs found

    Efektivitas Penyuluhan Kesehatan Menggunakan Metode Ceramah Disertai Pemutaran VCD dan Tanpa Pemutaran VCD dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Penyakit Pneumonia pada Balita di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat

    No full text
    In Indonesia, pneumonia is still the main cause of mortality in infant and children under five-years old. Pneumonia is regarded being dangerous because it can bring death to the children if they are not given a proper and immediate treatment. Stabat, one of the sub-districts in Langkat District, had a relatively higher morbidity rate of Pneumonia in children under five-years old in 2007. Health extension is one of the appropriate methods used in reducing the morbidity rate of pneumonia in children under five-years old. Lecturing is one of the methods used in health extension and is effective enough in delivering the message, yet the combination of lecturing and VCD show compared to the lecturing alone in improving the mothers’ knowledge and attitude toward the incident of pneumonia in children under five-years old is still unidentified, therefore the study on this issue is significantly needed. The 66 samples of this quasi experimental study with non-equivalent control group design, selected by means of purposive sampling technique, are the mothers with children under five-years old. In the study, they mere divided into groups. One group consisting 33 samples was treated through lecturing only, and the other group which also comprises 33 samples was treated through the combination of lecturing and VCD show. The data for this study were collected through questionnaire distribution. The data obtained were analyzed by means of paired- sample T-test and independent-sample T-test. The result of this study shows that the health promotion using the discourse method without display of VCD significantly (pr cases of pneumonia in children under five-years old.Penyakit pneumonia merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya pada balita karena dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Salah satu upaya untuk menurunkan angka kesakitan penyakit pneumonia pada balita adalah dengan melakukan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efektivitas penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah disertai pemutaran VCD dibandingkan dengan tanpa VCD dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit pneumonia pada balita di Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat. Jenis penelitian adalah quasi eksperimental design, dengan rancangan non equivalent control group design. Penelitian ini menggunakan dua kelompok, yaitu kelompok yang diberi perlakuan penyuluhan dengan metode ceramah tanpa pemutaran VCD dan kelompok dengan metode ceramah disertai pemutaran VCD. Jumlah sampel adalah 66 orang, ditentukan secara purposive sampling dan dibagi atas 2 kelompok secara merata. Alat pengumpulan data adalah kuesioner. Uji yang digunakan adalah Paired-Samples T Test, Independent-Samples T Test dan Chi Square, suatu berbeda dinyatakan secara statistik bermakna bila nilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah disertai pemutaran VCD secara signifikan (p<0,05) memberikan dampak positif yang lebih nyata dibandingkan metode ceramah tanpa VCD baik terhadap pengetahuan (segera setelah penyuluhan 90,9% vs 66,7% dan seminggu sesudah penyuluhan 87,9% vs 48,5%) maupun sikap (segera setelah penyuluhan 87,9% vs 63,6% dan seminggu sesudah penyuluhan 84,8% vs 48,5%) ibu tentang penyakit pneumonia pada balita. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat agar memperbanyak media VCD tentang penyakit pneumonia pada balita dan mendistribusikannya ke daerah-daerah dengan angka kesakitan pneumonia balita tinggi. Selain itu agar melakukan pelatihan bagi petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan kesehatan menggunakan metode ceramah dengan media VCD tentang penyakit pneumonia pada balita.143 HalamanTesis Magiste

    Perbedaan Kejadian Dispepsia pada Pengguna Obat Antiinflamasi Non Steroid (OAINS) di RSUP. Haji Adam Malik Medan Tahun 2017

    No full text
    Introduction. Non steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) have many side effects, one of them is dyspepsia. Dyspepsia is a syndrome consist of epigatric pain, nausea, vomit, bloating, early satiation, abdominal fullness, belching, regurgitation and heartburn. Aim. The purpose of this study is to know the difference of incidence of dyspepsia between NSAID user and non NSAID user Haji Adam Malik general hospital. Methods. This study is an analytical observational study with cross sectional design. Samples in this study are all patients who visited Gastroenterohepatology polyclinic and Rheumatology polyclinic of Haji Adam Malik general hospital and met the study criterias. The datas were collected by sharing the questionnaire to the samples. Scoring determination of incidence of dyspepsia be guided by Gutman’s Rule. The collected datas, later, are analyzed with univariate and bivariate analysis. Univariate analysis is to evaluate patient characteristics and bivariate analysis is to test the difference of incidence of dyspepsia in NSAID usage by using Mann-Whitney test. Results. out of 72 respondents, 30 respondents had dyspepsia and 42 respondents did not have dyspepsia. Then, if this is reviewed from NSAID usage, 21 respondents (58.3%) had dyspepsia from 36 NSAID users, while in 36 non NSAID users, it was found only 9 respondent (25%) had dyspepsia. Mean of incidence of dyspepsia in NSAID users are 2.75 (SD 2.03) while mean of incidence of dyspepsia in non NSAID users are 1.19 (SD 2.01). This indicates that incidence of dyspepsia is higher in NSAID users. Furthermore, the result of Mann-Whitney test showed p value 0.001 (p < 0.05). Conclusion. There is difference of incidence of dyspepsia between NSAID user and non NSAID users.Latar belakang. Obat antiinflamasi non steroid (OAINS) memiliki banyak efek samping, salah satunya dispepsia. Dispepsia adalah kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa penuh, sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang menjalar di dada. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kejadian dispepsia antara pengguna OAINS dan bukan pengguna OAINS di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Metode. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah semua pasien yang berkunjung ke poliklinik gastroenterohepatologi dan Reumatologi RSUP. Haji Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner pada sampel penelitian. Penentuan skoring kejadian dispepsia berpedoman pada kaidah Gutman. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Analisis univariat untuk menyajikan karakteristik pasien dan analisis bivariat untuk menguji perbedaan kejadian dispepsia pada penggunaan OAINS dengan uji Mann Whitney. Hasil. Dari 72 orang responden yang mengalami kejadian dispepsia 30 orang dan yang tidak mengalami kejadian dispepsia 42 orang. Kemudian jika ditinjau dari penggunaan OAINS, maka dijumpai 21 orang (58,3%) yang mengalami kejadian dispepsia dari 36 responden pengguna OAINS, sementara pada sampel yang bukan pengguna OAINS yang mengalami kejadian dispepsia berjumlah hanya 9 orang (25%) dari 36 responden. Nilai mean kejadian dispepsia pada pengguna OAINS adalah 2,75 (SD 2,03) sedangkan nilai mean kejadian dispepsia pada bukan pengguna OAINS adalah 1,19 (SD 2,01). Hal ini menunjukkan bahwa kejadian dispepsia lebih tinggi pada pengguna OAINS. Selanjutnya, dengan menggunakan uji Mann Whitney didapatkan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Kesimpulan. Terdapat perbedaan kejadian dispepsia antara pengguna OAINS dan bukan pengguna OAINS.Skripsi Sarjan

    Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terhadap Pemilihan Makanan Natrium Tinggi

    No full text
    Latar Belakang : Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang meningkatan angka kesakitan dan kematian serta beban biaya kesehatan termasuk di Indonesia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 1,13 Miliar orang di dunia menderita hipertensi dan sebanyak 10,44 juta orang diperkirakan meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Jumlah kasus baru hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, dan diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar penderita hipertensi di dunia. (WHO, 2015). Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia pada tahun 2018 adalah 34,1% yang mengalami peningkatan sebesar 6,3 dibandingkan tahun 2013. Tekanan darah tinggi bisa dicegah dan diatasi pada hipertensi primer. Kemungkinan terjadinya hipertensi dan semua penyakit yang dipicunya dapat diminimalisir dengan melakukan pola hidup yang sehat seperti pola makan yang sehat seimbang, mengkonsumsi sayur dan buah, mengurangi lemak jenuh dan mengurangi asupan garam (natrium) hingga 6 gram per hari. Jumlah garam/natrium merupakan faktor determinan penting level tekanan darah dan resiko hipertensi dan pengurangan asupan garam/natrium pada individu merupakan intervensi yang tepat dalam menurunkan tekanan darah, meningkatkan efisiensi terapi obat dan menurunkan resiko global dari penyakit cardiovascular. Pemahaman masyarakat mengenai pemilihan makanan yang tinggi natrium akan sangat bermanfaat untuk membantu mereka memilih makanan yang sehat dan mengandung natrium dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan. Tujuan : Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan perilaku mahasiswa/i mengenai pemilihan makanan natrium tinggi. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan metode studi cross sectional. Populasi penelitian mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dengan cara pengambilan sampel secara stratified random sampling. Penelitian ini dianalisis secara univariat untuk melihat gambaran deskriptif menggunakan SPSS. Hasil : Dari hasil penelitian diperoleh tingkat pengetahuan mahasiswa/i fakultas kedokteran gigi universitas sumatera utara terhadap pemilihan makanan natrium tinggi pada kategori kurang 38 orang (38.0%) ,kategori cukup sebanyak 36 orang (36.0%) dan kategori baik sebanyak 26 orang (26.0%). Hasil perilaku mahasiswa/i angkatan 2017 didapati hasil bahwa responden memiliki perilaku kecenderungan sebesar 61% dan 64% pada responden dari angkatan 2018 untuk mengkonsumsi makanan natrium tinggi. Kesimpulan : Pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terhadap pemilihan makanan natrium tinggi berada dalam kategori cukup yaitu rata rata responden mendapati skor 9.29 (61.93%). Dari hasil perilaku mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terhadap pemilihan makanan natrium tinggi, didapati mahasiswa/i memiliki kecenderungan untuk memilih konsumsi makanan yang memiliki kandungan natrium yang tinggi.Background of study : Hypertension is a global health problem that increases morbidity and mortality and the burden of health costs, including in Indonesia. According to data from the World Health Organization (WHO) in 2015 an estimated 1.13 billion people in the world suffer from hypertension and as many as 10.44 million people are estimated to die from hypertension and its complications. The number of new cases of hypertension continues to increase every year, and it is estimated that by 2025 there will be 1.5 billion people with hypertension in the world. (WHO, 2015). Based on Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) data, the prevalence of hypertension in Indonesia in 2018 was 34.1%, an increase of 6.3 compared to 2013. High blood pressure can be prevented and treated in primary hypertension. The possibility of hypertension and all the diseases it triggers can be minimized by adopting a healthy lifestyle such as a healthy balanced diet, consuming vegetables and fruits, reducing saturated fat and reducing salt (sodium) intake to 6 grams per day. The amount of salt / sodium is an important determinant of blood pressure levels and the risk of hypertension and reducing salt / sodium intake in an individual is an appropriate intervention in lowering blood pressure, increasing the efficiency of drug therapy and reducing the global risk of cardiovascular disease. Public understanding of the selection of foods high in sodium will be very useful to help them choose foods that are healthy and contain sufficient amounts of sodium as needed. Objective: To describe the level of knowledge and behavior of students regarding the selection of high sodium foods. Methods: This study was conducted with a cross sectional study method. The research population was students of the Faculty of Dentistry, University of North Sumatra by means of stratified random sampling. This research was analyzed univariately to see a descriptive picture using SPSS. Results: From the research results, it was found that the knowledge level of students on the selection of high sodium food in the low category of 38 people (38.0%), 36 people (36.0%) in moderate category and 26 good categories ). The results of the behavior of students of class 2017 found that respondents had a tendency of 61% and 64% of respondents from class 2018 to consume high sodium foods. Conclusion: Knowledge on the selection of high sodium foods is in the moderate category, namely the average respondent has a score of 9.29 (61.93%). From the results of the behavior towards the choice of high sodium foods, it was found that students have a tendency to choose foods that have a high sodium content.73 HalamanSkripsi Sarjan

    Perbandingan Jumlah Seroma antara Modified Radical Mastectomy dengan dan Tanpa Fiksasi Flap Kulit di RSUP H Adam Malik Medan

    No full text
    Latar belakang: Kanker payudara merupakan kanker paling sering ke dua di dunia dan pada wanita dengan perkiraan ditemukannya 1.67 juta kasus kanker payudara baru pada tahun 2012. Kanker payudara merupakan kanker yang sering ditemukan di negara berkembang maupun kurang berkembang. MRM adalah salah satu modalitas terapi pada kanker payudara. Seroma merupakan komplikasi pascaoperasi MRM pada kanker payudara yang paling banyak dijumpai. Fiksasi flap kulit yang ideal akan meminimalkan keluarnya seroma. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik selama satu tahun. Sampel adalah semua penderita perempuan kanker payudara yang berobat ke RSUPHAM yang dilakukan MRM dengan fiksasi flap kulit dan tanpa fiksasi flap kulit yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel adalah 78 subjek penelitian. Variabel Bebas adalah Fiksasi flap kulit dan variabel tergantung adalah produksi seroma. Data karakteristik pasien akan disajikan secara deskriptif dan dianalisis secara statistik bivariat berpasangan dengan menggunakan uji yang sesuai. Hasil: Penelitian melibatkan pasien kanker payudara yang dilakukan tindakan MRM dengan dan tanpa fiksasi flap kulit sebanyak 78 subjek penelitian dengan masing-masing besar sampel adalah 39 subjek dan jumlah seroma dihitung selama lima hari pasca operasi. Hasil penelitian pada tabel menunjukkan Jumlah seroma dengan menggunakan fiksasi flap kulit adalah 212,82 dan tanpa fiksasi flap kulit adalah 357,66 dengan nilai p = 0,003 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan jumlah seroma yang bermakna antara pasien yang dilakukan modified radikal mastektomi dan atau tanpa fiksasi flap kulit.148 HalamanTesis Magiste

    Deteksi Hasil Positif Palsu dalam Sampel Urin Mahasiswa dengan Menggunakan Rapid Strip Test Pasca Penggunaan Obat Anti Flu yang Mengandung Dekongestan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

    No full text
    Latar Belakang. Obat flu adalah obat yang berisi kombinasi beberapa zat berkhasiat analgetik antipiretik, antihistamin, ekspektoran/antitusif, dan dekongestan. Contoh obat yang berisi dekongestan adalah efedrin, pseudoefedrin, fenilefrin dan fenilpropanolamin. Banyak orang yang menggunakan dekongestan menghasilkan tes positif palsu untuk narkoba. Hal ini karena obat flu yang berisi dekongestan merupakan golongan obat simpatomimetik amin yang mempunyai struktur kimia yang mirip dengan amfetamin atau metamfetamin. Tujuan. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mendeteksi hasil positif palsu pada urin dengan menggunakan Rapid Strip Test pasca penggunaan obat flu berupa dekongestan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study (potong lintang). Besar sampel yang digunakan adalah 20 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dengan alat pengumpulan data berupa test dengan menggunakan Rapid Strip Test. Penelitian dilakukan dengan memasukkan Rapid Strip Test ke dalam bekas sampel urin selama beberapa menit sebelum dan setelah penggunaan obat anti flu yang berisi dekongestan dan melakukan observasi pada tes bahawa positif atau negatif untuk amfetamin dan metamfetamin. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan obat yang berisi dekongestan dapat memberikan hasil positif palsu untuk amfetamin dan metamfetamin. Kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, daripada 20 orang responden, didapat hasil 15 orang yang negatif untuk metamfetamin dan 5 orang responden yang positif untuk metamfetamin. Selanjutnya, daripada 20 orang responden didapat hasil 11 orang yang positif untuk amfetamin dan 9 orang yang negatif untuk amfetamin.Background. Cold medicine is a drug that contains a combination of several substances which have antipyretic analgesic, antihistamine, expectorant / antitussive, and decongestant properties. Examples of drugs containing decongestants are ephedrine, pseudoephedrine, phenylephrine and phenylpropanolamine. Many people who use decongestants produce false positive tests for drugs. This is because flu drugs containing decongestants are a group of sympathomimetic amine drugs that have a chemical structure similar to amphetamine or methamphetamine. Aim. This study aims to detect false positive results in urine by using the Rapid Strip Test after the use of decongestant flu drugs in students of the Faculty of Medicine, University of North Sumatra. Method. This study is a descriptive study with a cross sectional study design. The sample size used was 20 respondents. The data collection technique used is observation and the data collection tool used is the Rapid Strip Test. The study was carried out by inserting the Rapid Strip Test into the urine sample for a few minutes before and after the use of anti-flu drugs containing decongestants and making observations on the test whether positive or negative for amphetamine and methamphetamine. Results. The results of this study indicate a drug containing decongestants can give false positive results for amphetamine and methamphetamine. Conclusion. The conclusion of this study is that, of the 20 respondents, 15 people were negative for methamphetamine and 5 were positive for methamphetamine. Furthermore, compared to 20 respondents, the results of 11 people were positive for amphetamines and 9 were negative for amphetamines.Skripsi Sarjan

    Perbedaan Kepuasan Pasien Berobat ke Dokter Sebelum Pandemi dan Saat Pandemi

    No full text
    Background of study. since January 2020, coronavirus disease (covid19) has been one of issues in the world health. the covid-19’s first identified case was in Wuhan on 3 May 2020. in Indonesia, the first confirmed case which had reported was on 2 March 2020, and today the confirmed cases in Indonesia keep increasing so that it is claimed as a pandemic. moreover, covid-19’s pandemic has been the cause of change in the health service’s process such as online registration, the number of people who are limited, and steps to avoid crowds that have applied. therefore the matter has influenced the fulfillment of patient who has gone to doctors. Purposes. to know the patients’ satisfactions who consulted to doctors before the pandemic and during the pandemic. Method. this research is an analytical descriptive which uses cross-sectional design. People in this research are citizens who are ≥ 16-year-old and have utilized the health services in medan that consists of Medan Selayang District, Medan Baru District, Medan Johor District, Medan Sunggal District. the sampling of this research was taken with stratified random sampling method, an even sampling in every district. the data which is obtained will be analyzed by SPSS app. Result. Based on the result of the study, it was obtained that the satisfaction value of patients who were visiting the doctor before the pandemic is classified as the very satisfied group which includes 33 people (25%), the category for satisfied has 77 people (58.3%), the neutral team has 20 people (20%), the dissatisfied scoring contains 2 people (1.5%) and the assessment of very dissatisfied with the doctors’ visits during the pandemic, namely none (0%). on the other hand, the patients’ satisfactions during the pandemic has 33 people (25%) for the very satisfied, 54 people (40,9%) satisfied, 34 people for the neutral rating, the dissatisfied has got 10 people (7,6%) and the evaluation of very dissatisfied has 1 person (0,8%). In conclusion, the patients’ satisfactions level of medical treatment before the pandemic came by an average of 4,1 value which categorized as the satisfied. meanwhile, the patients’ satisfaction during the pandemic obtained an average value of 3,7 which is grouped as neutral. so the patients’ satisfaction level during the pandemic has decreased from before the pandemic.Latar Belakang. Sejak Januari 2020, Coronavirus Disease (COVID-19) menjadi salah satu masalah kesehatan dunia. Kasus COVID-19 pertama kali teridentifikasi di Kota Wuhan pada 3 Mei 2020. Di Indonesia, kasus konfirmasi COVID-19 pertama kali dilaporkan pada tanggal 2 Maret 2020 dan hingga saat ini kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia terus meningkat sehingga dinyatakan pandemi. Selain itu, pandemi COVID-19 menyebabkan proses pelayanan kesehatan telah berubah seperti pendaftaran online, jumlah orang yang dibatasi, dan langkah-langkah untuk menghindari keramaian telah diterapkan. Oleh karena itu, hal tersebut berpengaruh terhadap kepuasan pasien berobat kedokter. Tujuan. Mengetahui perbedaan kepuasan pasien berobat ke dokter sebelum pandemi dan saat pandemi. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional.Populasi penelitian ini adalah masyarakat yang berusia ≥ 16 tahun dan yang telah menggunakan pelayanan kesehatan di Kota Medan yang terdiri dari Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Sunggal. pengambilan sampel pada penelitian ini dengan metode stratified random sampling, yaitu pengambilan sampel secara merata ke setiap kecamatan. Data yang didapat akan dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS. Hasil. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai kepuasan pasien berobat kedokter sebelum pandemi pada penilaian sangat puas sebanyak 33 orang (25%), penilaian puas sebanyak 77 orang (58,3%), penilaian netral sebanyak 20 orang (20%), penilaian tidak puas sebanyak 2 orang (1,5%) dan penilaian sangat tidak puas terhadap berobat kedokter saat pandemi yaitu tidak ada(0%). Sedangkan nilai kepuasan pasien berobat kedokter saat pandemi pada penilaian sangat puas sebanyak 33 orang (25%), penilaian puas sebanyak 54 orang (40,9%), penilaian netral sebanyak 34 orang (25,8%), penilaian tidak puas sebanyak 10 orang (7,6%) dan penilaian sangat tidak puas terhadap berobat kedokter saat pandemi yaitu 1 orang (0,8%). Kesimpulan. Tingkat kepuasan pasien berobat kedokter sebelum pandemi didapatkan nilai rata-ratai 4,1 yang berarti dalam kategori puas. Sedangkan tingkat kepuasan pasien berobat kedokter saat pandemi didapatkan nilai rata-rata 3,7 yang berarti dalam kategori netral. Maka tingkat kepuasan pasien berobat kedokter saat pandemi mengalami penurunan tingkat kepuasan dari sebelum pandemi.93 HalamanSkripsi Sarjan

    Analisis Pelayanan Kesehatan Bernuansa Islami di Puskesmas Kota Langsa Tahun 2008

    No full text
    The proportion of patient who visit puskesmas in Langsa city before the implementation of health service with Islamic nuance was 53%, increase to 63% after the implementation of Islamic nuance. However, the increase in patient visit to puskesmas until 10%, but it was still insufficient. It could be indicated that the people did not utilize to health service of puskesmas. Islamic nuance health service is one of the policy forms applied in NAD province as one of putting law into effect in NAD province includin Langsa city. This research is a survey with an explanatory research. Its purpose is to analyze the influence of the attitude of puskesmas staff, the attitude among puskesmas staff, and the attitude head of puskesmas on an Islamic nuance service. The population is people who visit for the treatmens to Puskesmas Langsa city. The samples are 151 patient, taken by using purposive sampling. The data were collected from the interviews which are based on questioners. The date were analyzed through logistic regression test with a reliability coefficient of 95%. The result of this study shows that there are two variabels which have significant influence on Islamic nuance. They are Puskesmas staff attitude and the attitude among the puskesmas staff. There is no influence of variable attitude of the head of puskesmas on Islamic nuance service. A variable of the attitude of puskesmas staff is the most influence on the health service with an Islamic nuance significantly in the puskesmas, langsa city. It is suggested to increase the attitude of puskesmas staff on the health service with an Islamic nuance, so that the quality of the health service can increase and visiting of the patients for the treatments to puskesmas will be more increase. Then, there would be more following researches qualitatively on the health service with an Islami nuance in Langsa city, the Province of Nanggroe Aceh Darussalam as the forms of execution of Islamic Law.Proporsi kunjungan pasien ke Puskesmas di Kota Langsa sebelum penerapan pelayanan kesehatan bernuansa Islami sebesar 53%, meningkat menjadi 63% setelah penerapan pelayanan kesehatan bernuansa Islami. Hal ini menunjukkan peningkatan kunjungan pasien ke puskesmas masih rendah hanya mengalami peningkatan 10%, sehingga diindikasikan masyarakat masih belum memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas. Pelayanan kesehatan bernuansa Islami merupakan salah satu bentuk kebijakan yang diterapkan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagai salah satu bentuk pemberlakuan syariat Islam di NAD termasuk di Kota Langsa. Penelitian ini merupakan survai dengan pendekatan explanatory research bertujuan untuk menganalisis pengaruh perilaku petugas kesehatan, perilaku antar petugas kesehatan dan perilaku pemimpin puskesmas terhadap pelayanan kesehatan bernuansa Islami di Kota Langsa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berobat ke puskesmas di Kota Langsa dengan jumlah sampel sebanyak 151 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data melalui wawancara berpedoman pada kuesioner. Analisis data menggunakan uji regresi logistik pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh signifikan perilaku petugas puskesmas dan perilaku antar petugas puskesmas terhadap pelayanan kesehatan bernuansa Islami. Variabel perilaku pemimpin puskemas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap pelayanan kesehatan bernuansa Islami. Variabel perilaku petugas puskesmas merupakan variabel paling berpengaruh signifikan terhadap pelayanan kesehatan bernuansa Islami di Kota Langsa. Disarankan perlu peningkatan perilaku petugas puskesmas ke arah yang lebih Islami, sehingga kualitas pelayanan kesehatan dapat meningkat dan kunjungan masyarakat akan lebih meningkat, serta perlu penelitian lanjutan bersifat kualitatif tentang pelayanan kesehatan bernuansa Islami di Kota Langsa.111 HalamanTesis Magiste

    Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal terhadap Kinerja Petugas Pengelola Obat di Puskesmas Kota Subulussalam Tahun 2011

    No full text
    The performance of medical supervisor in managing of medicine at health centers is still low. Based on the report of Subulussalam Health Department in 2010, it is found out that 3 (three) out of 5 (five) health centers send their LPLPO in the right time,however the data sent were not accurate and valid, the medicine storage and arrangement was not in a standard form, and 109 kinds of medicine were damaged and already expired. The purpose of this study was to analyze the influence of internal factors (length of service, education, knowledge) and external factors (facility, leadership, supervision) on the performance of medical supervisor at Subulussalam Health Center. The present is an explanatory survey that was conducted from October 2011 to January 2012. The population of this study was all of the 25 medical supervisors at Subulussalam Health Centers and all of them were selected to be the samples. The data for this study were obtained by questionnaire-based interviews. The data obtained were analyzed through multiple linear regression tests. It was found that the internal factor and external factor had influence on the performance of medical supervisor at Subulussalam Health Centers (p < 0,05) i,e. knowledge with p=0,000, facility with p=0,041, leadership with p=0,026, and supervision with p=0,046. However the knowledge valiable was a dominant variables in influencing the performance of medical supervisor at Subulussalam Health Centers. It is suggested that the Head of Subulussalam Health Department to plan the implementation of training, complete provide the facility, done supervision, complete the standard procedure of medicine management at puskesmas.Kinerja petugas pengelola obat di puskesmas masih rendah dalam pengelolaan obat. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Subulussalam tahun 2010 bahwa dari 5 (lima) puskesmas hanya 60 % yang tepat waktu mengirim LPLPO ke dinas kesehatan, pengisian data yang tidak akurat dan valid, penyimpanan dan penyusunan obat belum sesuai standar, serta ditemukan obat-obatan yang rusak dan kadaluarsa sebanyak 109 jenis obat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh faktor internal (masa kerja, pendidikan, pengetahuan) dan faktor eksternal (sarana, kepemimpinan, supervisi) terhadap kinerja petugas pengelola obat di Puskesmas Kota Subulussalam. Jenis penelitian menggunakan survey explanatory. Penelitian ini dilaksanakan mulai Oktober 2011 sampai dengan Januari 2012. Populasi adalah seluruh petugas pengelola obat di 5 (lima) Puskesmas Kota Subulussalam sebanyak 25 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel. Pengumpulan data melalui wawancara yang berpedoman pada kuesioner penelitian. Analisis data dengan uji regresi linier berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal berpengaruh terhadap kinerja petugas pengelola obat di Puskesmas Kota Subulussalam (p<0,05), meliputi pengetahuan dengan p=0,000, sarana dengan p=0,041, kepemimpinan dengan p=0,026 dan supervisi dengan p=0,046.Variabel pengetahuan lebih dominan memengaruhi kinerja pengelola obat di Puskesmas Kota Subulussalam. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Subulussalam agar merencanakan pelatihan, melengkapi sarana, melaksanakan supervisi, serta melengkapi prosedur tetap dalam pengelolaan obat di puskesmas.118 HalamanTesis Magiste

    Pengaruh Komunikasi Petugas Pelayanan Informasi Obat terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Rsud. Dr. H. Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi

    No full text
    Medical Information Service is an activity have been done by Hospital Pharmacists in providing information the use of medicine to their health colleagues and patients. Unfortunately,, there are still many patients whose uncompliance to take their medicine. This research was cross-sectional study conducted with 46 patients suffering from diabetes mellitus as sample at dr. H. Kumpulan Pane General Hospital, Tebing Tinggi The data obtained from the interview with the patients by using the structured questioner. The data obtained was analyzed by multivariate analysis by using multiple logistic regression tests. The result showed statistically that the communication of medical information service staff gave a significant influenced on the compliance to take drugs with p < 0.05, namely, variables of drug information with p = 0.032, information method with p = 0.014, and the role of medical information service staff with p = 0.001. The role of medical information service staff was the dominant variable influencing the compliance to take drugs. The stakeholders is suggested to support the role of medical information service staff as one of Hospital Society Health Promotion Program (PKMRS).Pelayanan Informasi Obat adalah kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker Rumah Sakit dalam memberikan informasi penggunaan obat yang benar kepada sejawat kesehatan dan pasien. Namun kenyataannya masih banyak pasien belum patuh dalam penggunaan obat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 46 pasien diabetes mellitus rawat jalan di RSUD.dr.H.Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi. Data diperoleh melalui wawancara langsung dengan pasien menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan melalui uji multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan secara statistik komunikasi petugas pelayanan informasi obat mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum obat dengan nilai p < 0,05, yaitu variabel isi informasi dengan nilai p = 0,032, metode informasi dengan nilai p = 0,014, dan peran petugas dengan nilai p = 0,001. Peran petugas memiliki pengaruh dominan terhadap kepatuhan minum obat Disarankan pada pihak terkait agar menggalakkan peran petugas informasi obat sebagai salah satu bentuk program Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS).112 HalamanTesis Magiste

    Pengaruh Mutu Pelayanan terhadap Pemanfaatan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah (IFRSUD) Pandan Tahun 2008

    No full text
    The increasing demands of the citizen on the quality of health it is therefor the function of health services especially in the hospital, should be gradually increased to be more effective and efficient for the patients, the family, and all citizen. There were many complaints from patients to the service of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital, one of them is related to unavailable of medicines. The present study is purposed to analyze the influence of quality service (physical proof, reliability, response, guarantee and empathy) on the utilization of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital in the Tapanuli Tengah District in 2008. It is an analytical study with the cross sectional approach. The populations are all patients in Pandan Hospital, consist of 200 subjects. The primary data are obtained from interviews by using the questionnaires. The data obtained were then analyzed through multiple logistic regression test. The results show that respondent stated that the physical proof is not good 33,5%, the reliability is not good 37,5%, the responsiveness is not good 45%, the guarantee is not good 38,5% and the empathy is not good 34,5%. Based on statistic analysis the service quality (physical proof, reliability, response, guarantee and empathy) have influence on the utilization of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital (p<0.05). The most dominant variable which has influenced the utilization of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital is the physical proof (result B=2.955). Considering the physical proof is the most dominant variable toward the utilization of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital, it is suggested to the director of Pandan Hospital for increasing the service quality especially the physical proof, such as provide adequate medicines, hygiene and comfortness of Pharmaceutical Installation of Pandan Hospital.Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan maka fungsi pelayanan kesehatan termasuk pelayanan dalam rumah sakit secara bertahap perlu terus ditingkatkan agar menjadi lebih efektif dan efisien serta memberi kepuasan terhadap pasien, keluarga maupun masyarakat. Banyak pasien mengeluh terhadap pelayanan Pemanfaatan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah (IF-RSUD) Pandan, karena tidak semua obatnya dapat diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh mutu pelayanan (bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap pemanfaatan IF-RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2008. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh pasien di RSUD Kabupaten Tapanuli Tengah dengan jumlah sampel 200 orang. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 33,5% responden berpendapat tidak baik tentang bukti fisik, 37,5% keandalan tidak baik, 45% daya tanggap tidak baik, 38,5% jaminan tidak baik dan 34,5% empati tidak baik. Berdasarkan analisis statistik diperoleh ada pengaruh mutu pelayanan (bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap pemanfaatan IF-RSUD Pandan (p<0,05). Variabel yang paling dominan mempengaruhi pemanfaatan IF-RSUD Pandan adalah bukti fisik (nilai B=2,955). Mengingat bukti fisik merupakan variabel yang dominan dalam pemanfaatan IF-RSUD Pandan, diusulkan kepada RSUD Pandan agar meningkatkan mutu pelayanan khususnya bukti fisik, seperti melengkapi obat-obat, menjaga kebersihan, serta kenyamanan IF-RSUD Pandan.83 HalamanTesis Magiste
    corecore