4 research outputs found
Analisis Indeks Koneksi Pasar dan Distribusi Margin Pada Lembaga-Lembaga Pemasaran Ternak Sapi Potong di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur Indonesia
The activities of institutions involved in cattle marketing in Kupang-District East Nusa Tenggara include: purchasing, transportation, sorting, standardization and assessment, and so on. This research was conducted by survey method. The results of this study: IMC between the price of cattle at the farmer level and midlemen of 1.0040; between farmers and inter island traders 1,0048; between midlemen and inter-island traders 1.0714. Means that in the short term the price of beef cattle in the market has not been perfectly integrated. The farmers’ share is fair enough, while the whole cattle market in this region is imperectly integrated. The average of farmers’ share in the study area is 75.95%. Marketing margin is 62.17%; profit margin is 66.71%. The biggest profit margin received by midlemen is 60.70%, inter-island traders is 29.30%. There was disparity in distribution of marketing margins between midlemen and inter-island traders, where for midlemen 88.57% and for inter-island traders 48.33%.Kegiatan lembaga perantara yang terlibat dalam pemasaran ternak sapi di Kabupaten Kupang-NTT antara lain: pembelian, pengangkutan, sortasi, standarisasi dan grading, dan sebagainya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survai. Hasil penelitian ini : IMC antara harga ternak sapi potong di tingkat peternak dan pedagang perantara 1.0040; antara petani dan pedagang antara pulau 1.0048; antara pedagang perantara dan pedagang antar pulau 1.0714. Berarti dalam jangka pendek harga ternak sapi potong di ketiga pasar belum teritegrasi secara sempurna. Farmer’s share sudah berlangsung cukup adil, meskipun pada berbagai tingkatan pasar ternak sapi di wilayah ini belum terintegrasi secara sempurna. Rata-rata farmer’s share di wilayah penelitian adalah 75,95%. Margin pemasaran adalah 62,17%; profit margin sebesar 66.71%. Profit margin terbesar diterima pedagang perantara adalah 60.70%, pedagang antar pulau adalah 29.30%. Distribusi margin pemasaran di antara pedagang perantara dan pedagang antar pulau masih timpang, di mana untuk pedagang perantara 88.57% dan untuk pedagang antar pulau 48.33%
Optimum Combination of Food Crops and Livestock Farms as a Strategy to Maximize Farmers' Income in Kupang Regency– Indonesia
Dry land farming in Kupang Regency consists of a combination of food crops farming and horticulture like corn, rice, beans and tubers with livestock such as cattle, pigs, goats and local chickens. Those farms were carried out in a traditional combination heritantly using simple technology and subsistence. The research purpose were to analyze the combination of various types of crops cultivated and types of livestock raised by the farmers in order to achieve maximum income and to analyze the contribution of various types of food crops and horticulture and types of livestock to increase the farmers’ income. The data were analyzed by applying a simplex algorithm approach. The results showed that the optimum combination of resources that generate maximum income was IDR 47,646,888.86. Contributions of various farms were as follow: food crops and horticulture including rice (X1) of IDR 2,115,984.17; corn (X2) of IDR. 754.840.28; peanuts (X3) of IDR 184,970.33; and sweet potatoes (X4) of IDR 1,432,994.17. Then, the contribution of livestock likes : cattle (X5) reached at IDR 2,689,130.43; goats (X6) at IDR 1,098,571.43; pigs (X7) IDR 58,851.35 and chickens (X8) IDR 293.310.81; and off-farm activities (X9) at IDR 262,458.
PEMANFAATAN PRODUK UREA LEPAS LAMBAT BERBASIS TEPUNG PUTAK DALAM RANSUM SAPI BALI DI KELOMPOK PETERNAK DESA BAUMATA UTARA, KABUPATEN KUPANG
Permasalahan mitra kelompok tani ternak di desa Baumata Utara adalah rendahnya pengetahuan akan penyediaan pakan sapi yang bermutu dan dapat memenuhi kebutuhannya. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang pembuatan produk pemasakan urea dengan tepung putak dan penggunaannya dalam pakan konsentrat sebagai suplemen ransum ternak sapi. Metode kegiatan adalah, 1) penyuluhan tentang teknologi pemasakan urea dengan tepung putak dan pemanfaatannya dalam ransum sapi; 2) praktek, pembuatan produk pemasakan urea dengan tepung putak, praktek pencampuran produk tersebut dalam pakan konsentrat dan penerapan pemberiannya sebagai pakan suplemen pada ternak sapi dan 3) evaluasi kegiatan secara umum bersama mitra untuk mendapatkan input dan feedback bagi kegiatan di waktu mendatang. Hasil kegiatan menunjukkan 1) peternak mitra sangat antusias menerima inovasi baru di bidang penyediaan pakan bagi ternak sapi; 2) Hasil diskusi dan evaluasi verbal maupun praktek menunjukkan mitra paham dan dapat mengaplikasikannya; 3) Adanya harapan untuk keberlanjutan kegiatan sejenis di waktu mendatang. Disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat diapresiasi oleh peternak mitra karena teknologi pemasakan urea-tepung putak dan penggunaannya dalam ransum konsentrat bagi ternak sapi yang diinformasikan ini memberi wawasan bagi peningkatan sistem pemeliharaan ternak sapi dalam pemenuhan kebutuhan gizinya. Adanya keterbukaan mitra dalam menerima inovasi baru ini.
Kata kunci: Inovasi, Suplemen, Urea Lepas Lambat, Tepung Putak, Sapi Bali
ABSTRACT
The problem with the partners of the livestock farmer groups in Baumata Utara village is the lack of knowledge about the supply of quality cattle feed that can meet their needs. The purpose of this activity is to provide counseling and training on the manufacture of urea cooking products with putak flour and its use in concentrate feed as a supplement for cattle rations. The methods of activity are, 1) counseling on the technology for cooking urea with putak flour and its use in cow rations; 2) practice, manufacture of urea cooking products with putak flour, practice mixing these products in concentrate feed and applying it as supplementary feed for cattle and 3) general evaluation of activities with partners to get input and feedback for future activities. The results of the activity show 1) partner breeders are very enthusiastic about receiving new innovations in the field of providing feed for cattle; 2) The results of the discussion and evaluation of verbal and practice show that partners understand and can apply it; 3) There is hope for the sustainability of similar activities in the future. It is concluded that this activity is highly appreciated by partner breeders because the technology for cooking urea-putak flour and its use in concentrate rations for cattle provides insight into improving the system for raising cattle in meeting its nutritional needs. There is openness partners in accepting this new innovation
Keywords: Innovation, Supplements, Slow Release Urea, Putak Flour, Bali Cattl
Analisis Integrasi Pasar Ternak Sapi Potong di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur
Permintaan sapi secara nasional terus meningkat setiap tahunnya, pada
tahun 2014 jumlah ternak sapi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi daging mencapai 3,1 juta ekor, dan pada tahun 2015 melonjak menjadi
3,4 juta ekor. Permintaan ternak sapi yang terus meningkat tersebut telah
menyebabkan pengantar pulauan ternak sapi potong asal NTT juga meningkat.
Pada tahun 2009 jumlah ternak sapi potong yang dialokasikan untuk diantar-
pulaukan sebanyak 41.000 ekor, realisasinya mencapai 58.329 ekor (42,26% lebih
tinggi dari yang dialokasikan); pada tahun 2010 dialokasikan 40.000 ekor,
realisasinya 49.876 ekor (24,69% lebih tinggi dari total ternak yang dialokasikan);
pada tahun 2013 dialokasikan 69.000 ekor, realisasinya hanya 60.528 ekor atau
realisasinya hanya mencapai 87.72%.
Harga ternak sapi ditetapkan Rp.34.000/kg bobot badan hidup (BBH) yang
ditimbang di Karantina Tenau Kupang, sedangkan harga di tingkat petani Rp. 30.000
per kg BBH dan Rp. 40.000 sampai dengan Rp 41.000 per kg BBH di Jakarta. Jika
disimak harga sapi per kilogram seperti di atas memberi gambaran tentang adanya
perbedaan harga sapi per ekor di wilayah ini, yakni mulai dari petani hingga
pedagang besar penerima di Jakarta.
Disparitas harga ternak sapi potong yang cukup tinggi baik antara
pedagang besar di Jakarta dengan petani peternak sebagaimana yang dikemukakan
di atas, akan semakin besar jika petani peternak tidak bersedia menggunakan BBH
dalam penentuan harga ternaknya. Hal ini karena: 1) jika terjadi kenaikan harga di
tingkat pedagang besar di Jakarta belum tentu ditransmisikan kepada pedagang
antar pulau, begitupun pedagang antar pulau kepada pedagang perantara dan
seterusnya ke petani peternak, 2) pemukiman petani peternak yang tersebar secara
geografis, dengan prasarana yang masih jelek. Sementara tempat penimbangan
ternak pada umumnya terletak di kota kecamatan, yang cukup jauh dari tempat
tinggal para petani peternak. 3) petani dalam memelihara ternak bukan berorientasi
pasar, sehingga mereka akan menjual ternaknya pada waktu kebutuhan mereka
akan tunai mendesak, misalnya untuk upacara adat, membiayai pendidikan anak,
dan kebutuhan lainnya yang bersifat mendesak.
Tujuan Penelitian adalah : 1) Mengetahui struktur pasar ternak sapi potong
di Kabupaten Kupang NTT, 2) Menganalisis integrasi pasar secara vertikal dalam
pemasaran ternak sapi potong.; 3) .Menganalisis distribusi margin dalam pemasaran
ternak sapi potong; 4) Menganalisis besarnya bagian harga yang diterima petani
(farmer's share) dari harga yang dibayar oleh pedagang besar penerima di Jakarta.
Penentuan lokasi dilakukan secara bertahap yakni mulai kecamatan contoh
hingga desa contoh secara purposive. Kecamatan dan desa contoh adalah sebagai
berikut : Kecamatan Amarasi meliputi Desa Ponain dan Desa Oesena; Kecamatan
Sulamu: desa Oeteta dan Desa Bipolo. Untuk penentuan responden petani
dilakukan secara simple randonm sampling sebesar 20% dari populasi petani yang
pernah menjual ternak sapi; sehingga total responden petani berjumlah 10
