1,720,979 research outputs found
Daerah penangkapan pukat cincin untuk ikan cakalang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung
Informasi posisi daerah penangkapan ikan cakalang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung belum banyak diketahui. Banyak orang beranggapan bahwa cakalang yang didaratkan tersebut adalah hasil tangkapan dari Laut Sulawesi dan Maluku. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang posisi daerah penangkapan dan hasil tangkapan ikan cakalang pada alat tangkap pukat cincin yang didaratkan di PPS Bitung; dan memetakan daerah penangkapan tersebut. Upaya tangkap bulanan berpuncak pada bulan Maret dalam rentang waktu Februari hingga Mei dengan jumlah upaya sebanyak 130 kapal pada bulan Maret dan sebanyak 124 kapal pada bulan Mei. Berdasarkan index musim, musim tangkapan ikan cakalang di perairan timur Indonesia terjadi pada bulan Mei dan Oktober hingga Desember dengan puncak musim pada bulan November. Tren tangkapan bulanan menunjukkan hasil tangkapan terendah 5.485,88 ton/tahun pada bulan Juli dan tertinggi 11.882,37 ton/tahun pada bulan November. Posisi daerah penangkapan pukat cincin dengan intensitas penangkapan tertinggi berada di wilayah Sulawesi dan Teluk Cendrawasih. Pemetaan daerah penangkapan cakalang yang didaratkan di PPS Bitung yaitu dari Laut Maluku, Samudera Pasifik, Laut Seram, Laut Kepulauan Raja Ampat, Laut Halmahera dan Laut Sulawesi dengan Laut Halmahera dan Laut Maluku sebagai daerah penangkapan yang produktif
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Fluktuasi hasil dan upaya tangkapan ikan pelagis dengan pukat cincin (small purse seine) yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi dan fluktuasi hasil tangkapan pukat cincin dan mengetahui tingkat upaya pemanfaatan ikan pelagis dengan pukat cincin yang mendaratkan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa, Kota Manado.Penelitian ini didasarkan pada metode survei dengan pendekatan secara deskriftif.Data yang dikumpulkan adalah data hasil tangkapan pukat cincin selama 5 tahun terakhir, melalui wawancara dengan nelayan dan petugas setempat, serta data yang tercatat di PPP Tumumpa. Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan perhitungan CPUE untuk mengetahui upaya pemanfaatan sumberdaya oleh alat tangkap pukat cincin. Hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Tumumpa umumnya adalah ikan pelagis yang terdiri dari ikan layang (Decapterus sp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tongkol (Euthynus affinis), baby tuna (Thunnus sp) dan selar (Selaroides leptolepis).Jenis hasil tangkapan tertinggi adalah ikan cakalang sebesar 23.334 ton, diikuti oleh ikan layang sebesar 11.330 ton, tongkol 4.912 ton, baby tuna 3.725 ton, dan yang terendah adalah ikan selar hanya sebesar 166 ton. Tingkat upaya penangkapan selama 5 tahun menunjukkan tren negatif atau menurun setiap tahun. Hasil tangkapan ikan layang, selar dan baby tuna menunjukkan tren negatif atau menurun setiap tahun, yang mengindikasikan bahwa ketiga jenis ikan tersebut mengarah ke tangkap lebih (overfished) atau tingkat eksploitasinya membahayakan kelestarian sumberdaya
Perbandingan Hasil Tangkapan Rajungan Pada Alat Tangkap Bubu Kerucut dengan Umpan yang Berbeda (The Comparison Catch of Swimming crab In Trap with Different Bait)
Swimming Crab (Portunus pelagicus) is one of the economically important marine commodities produced from the coastal waters of Indonesia. The Catching of swimming crabs directly from nature carried out using various types of fishing gear, one of which is a trap. Methods using experimental methods. Therefore, the objective of this research was to study the effect of type of bait to catch swimming crab. Two kinds of bait, the scad mackerel and chicken intestines. Catch data were collected using 6 units of trap, operated in coastal waters of Manado bay; and data analysis is based on a t-test is done using a comparative analysis of the value of the middle observation sample pairs. Besides evaluation carapace size and weight (legal size) swimming crab based Permen KP nomor 1 tahun 2015. The catch was 76 swimming crabs in total, and the results of t-test analysis showed that the use of bait scad mackerel and chicken intestines on traps caused high significant effect in catch. The size of swimming crabs showed that nearly all eligible allowable catch of 71 individuals (93%) both carapace size and weight, and only 5 individuals (7%) who do not eligible allowable catch. Keywords : swimming crab, carapace size, trap baits, chicken intestines.  ABSTRAK Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditi hasil laut ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan pantai Indonesia. Penangkapan rajungan langsung dari alam dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap, salah satunya adalah bubu. Metode Penelitian menggunakan metode eksperimental. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan rajungan. Dua jenis umpan yang digunakan, yaitu ikan layang dan usus ayam. Data tangkapan dikumpulkan dengan menggunakan 6 unit bubu, yang dioperasikan di perairan pantai Malalayang Teluk Manado; dan analisis data didasarkan pada uji t yang dikerjakan menggunakan analisis perbandingan nilai tengah contoh pengamatan berpasangan. Selain itu dilakukan evaluasi ukuran karapas dan berat (legal size) rajungan berdasarkan Permen KP nomor 1 tahun 2015. Total hasil tangkapan 76 ekor, dan hasil analisis uji t menunjukkan bahwa penggunaan umpan ikan layang dan usus ayam pada bubu kerucut memberikan hasil tangkapan rajungan yang sangat berbeda nyata. Ukuran hasil tangkapan rajungan yang diperoleh menunjukkan bahwa hampir semuanya memenuhi persyaratan tangkapan yang diperbolehkan yaitu 71 ekor (93 %) baik ukuran karapas maupun berat, dan hanya 5 ekor (7 %) yang tidak memenuhi persyaratan. Kata-kata kunci : rajungan, ukuran karapas, umpan bubu, usus ayam
Struktur populasi ikan cakalang hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado
Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) termasuk dalam kelompok ikan pelagis. Ikan ini banyak ditangkap oleh nelayan dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin. Pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang sudah banyak terjadi di Indonesia, khususnya Kota Manado. Oleh sebab itu, perlu adanya informasi tentang bagaimana struktur populasi dari ikan cakalang yang tertangkap oleh alat tangkap pukat cincin, sehingga informasi tersebut dapat digunakan untuk perkembangan perikanan, maupun untuk menentukan kebijakan pengelolaan sumberdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur populasi ikan cakalang yang tertangkap oleh pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Manado dan mengetahui pola pertumbuhan ikan cakalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi ukuran panjang ikan terbesar pada kelas 30,00-34,99 cm dengan pola pertumbuhan ikan cakalang mencapai panjang maksimum yang layak ditangkap (L∞) 38,03 cm dengan koefisien pertumbuhan (K) sebesar 19 % per tahun. Struktur populasi dari ikan cakalang pada perikanan pukat cincin di PPP Tumumpa terbagi dalam dua sub populasi di mana sub populasi dengan ukuran panjang lebih besar tertangkap lebih banyak dibanding dengan sub populasi dengan ukuran panjang lebih kecil. Kata-kata kunci: struktur populasi, ikan cakalang, hasil tangkapan, pukat cinci
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Pengaruh beberapa jenis umpan pada bubu paralon terhadap hasil tangkapan ikan karang di Selat Lembeh
Bubu dasar merupakan salah satu alat tangkap yang umum digunakan oleh masyarakat nelayan untuk menangkap ikan-ikan karang, karena kontruksi sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan. Perbedaan jenis umpan, diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap bubu paralon. Namun informasi ilmiah seperti ini, khususnya pada ikan-ikan karang, belum banyak tersedia. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh umpan bubu paralon terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di Selat Lembeh Kota Bitung; yang didasarkan pada metode eksperimental. Empat jenis umpan yang digunakan sebagai perlakuan, yaitu ikan layang (Decapterus macarellus), selar (Selaroides sp), tongkol (Euthynnus affinis) dan cumi (Loligo sp.). Data tangkapan dikumpulkan menggunakan 12 unit bubu paralon; dan data dianalisis menggunakan rancangan acak kelompok. Hasil tangkapan total sebanyak 128 ekor; yang terdiri dari 17 famili, 26 genus dan 38 spesies ikan. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan pada bubu paralon memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Uji BNT untuk perlakuan menyatakan bahwa penggunaan umpan cumi memberikan hasil tangkapan yang sangat lebih baik dibanding jenis umpan lainnya
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Komposisi hasil tangkapan jaring insang dasar di perairan Desa Talise Tambun, Kecamatan Likupang Barat (Composition catches of bottom gillnet in Talise Tambun Waters of Likupang Barat District)
The bottom gill nets are the most common fishing gear in coastal areas, with different mesh sizes.The catch of bottom gill nets is generally dameral fish with different sizes and species. Scientific information about the difference of catch composition in the 3-inch and 4-inch mesh size of bottom gill nets is still poorly available. It is therefore necessary to study a composition of the catch on two bottom gill net mesh sizes of 3 inches and 4 inches, comparing the composition of the quantity and weight of the catch and identify the species of fish caught. This research was done in coastal waters of Talise Tambun village, Likupang Barat District of Minahasa Utara Regency for two weeks October 2017; following a descriptive method based on case studies. Two unit bottom gill nets were operated seven trips to data colected; and the data were analyzed by composition species analysis and weight composition.The results showed that the composition of the catch quantity of bottom gill net 3-inch 64 fish and 48 species dominated by Rengginan fish 21.88%, while the catching composition of 4-inch mesh size amounted to 91 fishes and 63 species dominated by Swangi as 14.29% . The weight catch composition of the 3-inch bottom gill net was dominated by sharks of 25.16% with a weight of 33.386 kg, while the 4-inch bottom gill net catch weights were dominated by snapper as 35.71% with a weight of 101,502 kg.The results of the analysis showed that the 3-inch mesh size of bottom gill net catch composition of both the quantity, the species and the catch weight was better than the 4-inch capture composition.Keywords: Bottom gillnet, weight, composition ABSTRAKJaring insang dasar adalah alat tangkap yang banyak ditemukan diwilayah pesisir, dengan ukuran mata jaring yang berbeda-beda.Hasil tangkapan jaring insang dasar umumnya ikan damersal dengan ukuran dan jenis yang berbeda.Informasi Ilmiahtentang perbedaan komposisi hasil tangkapan pada jaring insang dasar mata 3 inci dan 4 inci masih kurang tersedia.Untuk itu perlu suatu penelitian yang bertujuan mengetahui komposisi hasil tangkapan pada dua ukuran mata jaring insang dasar 3 inci dan 4 inci, membandingkan komposisi jumlah dan bobot hasil tangkapan dan mengidentifikasi jenis ikan yang tertangkap.Penelitian ini dilaksanakan di perairanDesa Talise Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara; selama 2 minggu, pada bulan Oktober 2017; dikerjakan dengan mengikuti metode deskriptif yang didasarkan pada studi kasus.Dua unit jaring insang dasar PA Multifilament dengan besar mata masing-masing 3 dan 4 inci dioperasikan selama 7 trip untuk mengumpulkan data; dan data dianalisis dengan analisis komposisi jenis dan komposisi bobot.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jumlah tangkapan jaring insang dasar mata 3 inci sebanyak 64 ekor dan 48 jenis yang didominasi oleh ikan Rengginan sebesar 21.88%, sedangkan komposisi tangkapan jaring insang dasar 4 inci berjumlah 91 ekor dan 63 jenis yang didominasi oleh ikan Swangi sebanyak 14.29 %. Selanjutnya komposisi bobot tangkapan jaring insang dasar mata 3 inci didominasi oleh ikan Hiu sebesar 25.16 % dengan bobot 33,386 kg, sedangkan komposisi bobot tangkapan jaring insang dasar mata 4 inci didominasi oleh ikan kakap sebanyak 35.71% dengan bobot 101,502 kg. Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi tangkapan jaring insang dasar mata 3 inci baik jumlah, jenis maupun bobot tangkapan lebih baik dibandingkan dengan komposisi tangkapan jaring insang dasar mata 4 inci.Kata-kata Kunci: Jaring insang dasar, bobot, komposisi
- …
