1,720,999 research outputs found
Aktivitas Amilolitik dan Inhibitor -Glukosidase Aktinobakteri Endofit Rhododendron spp.
Indonesia kaya dengan sumberdaya hayati baik tanaman maupun mikrob
dengan beragam bioaktivitasnya, diantaranya adalah Rhododendron sp. dan
aktinobakteri. Rhododendron banyak digunakan masyarakat sebagai tanaman hias
dan obat tradisional. Mikrob endofit yang diketahui dapat hidup dalam jaringan
tanaman Rhododendron adalah aktinobakteri. Aktinobakteri dikenal sebagai
penghasil senyawa bioaktif dengan beragam fungsi biologi seperti inhibitor -
glukosidase. Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas amilolitik dan inhibitor -
glukosidase dari aktinobakteri endofit asal Rhododendron spp. Isolat aktinobakteri
diremajakan menggunakan media ISP-4. Bakteri yang tumbuh ditetesi larutan
iodin untuk uji aktivitas amilolitik. Aktinobakteri dengan aktivitas amilolitik
tertinggi dan terendah diinokulasikan ke dalam tiga media produksi cair, yakni
YS, ISP-2 dan ISP-4 untuk uji inhibisi -glukosidase. Kultur aktinobakteri lalu
disentrifugasi dan supernatan yang dihasilkan digunakan dalam uji inhibisi α-
glukosidase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 23 isolat
aktinobakteri endofit Rhododendron spp. memiliki aktivitas amilolitik yang
beragam. Isolat RJB 1.2 mempunyai indeks amilolitik terbesar dengan nilai 2.48,
sedangkan isolat RSS 1 mempunyai indeks amilolitik terkecil dengan nilai 0.21.
Aktinobakteri RJB 1.2, RSS 1, dan isolat pembanding BWA 65 ditumbuhkan
dalam 3 media menghasilkan inhibisi α-glukosidase bervariasi. Media produksi
ISP-2 menghasilkan aktivitas inhibisi α-glukosidase yang tinggi. Media ISP-2
menghasilkan aktivitas inhibisi α-glukosidase RSS 1 sebesar 18.32%, sedangkan
RJB 1.2 hanya sebesar 3.10%. Aktinobakteri BWA 65 yang telah diketahui
memiliki aktivitas inhibitor α-glukosidase digunakan sebagai pembanding,
memiliki nilai inhibisi α-glukosidase sebesar 29.15%. Persentase inhibisi α-
glukosidase pada acarbose 500 ppm memiliki nilai sebesar 98.95%. Karakteristik
morfologi isolat RJB 1.2, RSS 1 dan BWA 65 sangat beragam dengan miselia tipe
spira, retinaculum-apertura dan biverticillus-spira. Berdasarkan sekuen gen 16S
rRNA, aktinobakteri endofit terpilih RSS 1 memiliki homologi dengan Streptomyces
sp. E5N238 dengan nilai kemiripan sebesar 98%, dan memiliki homologi dengan
Streptomyces collinus NBRC 12547 dan Streptomyces tendae M23 dengan nilai
kemiripan sebesar 97%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktinobakteri
endofit Rhododendron spp. memiliki aktivitas amilolitik dan inhibisi terhadap α-
glukosidase yang beragam
Keragaman Dan Aktivitas Antibakteri Aktinomiset Asal Spons Aaptos Sp. Dan Clathria Sp
Aktinomiset diketahui merupakan penghasil beragam senyawa bioaktif
termasuk antimikrob. Aktinomiset dapat dijumpai di lingkungan akuatik
berasosiasi dengan spons. Saat ini banyak bakteri patogen yang resisten terhadap
antibiotik, sehingga perlu upaya untuk menanggulanginya. Penelitian ini bertujuan
mengkaji keragaman morfologi aktinomiset asal spons Aaptos sp. dan Clathria sp.
dan menguji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan Enteropatogenic
Escherichia coli (EPEC) K1.1 dan Bacillus pumilus resisten antibiotik. Metode
yang dilakukan meliputi peremajaan dan karakterisasi aktinomiset, peremajaan
bakteri target, penapisan kemampuan aktinomiset uji dalam menghasilkan
senyawa antibakteri, pola penghambatan isolat aktinomiset terhadap EPEC K1.1
dan B. pumilus serta penentuan konsentrasi hambat minimum. Total isolat
aktinomiset asal spons yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 isolat
yaitu 1 isolat asal Aaptos sp. dan sebanyak 19 isolat asal Clathria sp. Berdasarkan
karakteristik morfologi seperti dihasilkannya miselia aerial dan penataan spora
yang berbentuk spiral, maka diduga isolat-isolat aktinomiset tersebut termasuk ke
dalam genus Streptomyces. Dua isolat penghasil senyawa antibakteri tertinggi
yaitu CLa-1 dan CLc. Kedua isolat tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang
kuat terhadap bakteri target dengan ukuran zona hambat >10 mm. Konsentrasi
hambat minimum dua isolat terpilih untuk B. pumilus adalah 1000 μg/mL.
Aktivitas antibakteri aktinomiset terpilih menunjukkan kemampuannya dalam
menghambat pertumbuhan B. pumilus resisten antibiotik
Aktivitas Inhibitor Alfa Glukosidase Aktinobakteri Endofit Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes
tertinggi didunia. Diabetes mellitus (DM) tipe II memiliki jumlah kasus lebih
tinggi dibandingkan DM tipe I. Selain faktor keturunan, peningkatan jumlah
penderita DM II terjadi karena kondisi obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat.
Alternatif pengobatan yang dipilih oleh penderita diabetes adalah mengkonsumsi
obat antidiabetes setelah makan makanan yang mengandung gula. Konsumsi obat
antidiabetes secara terus menerus menimbulkan efek samping merugikan bagi
penderita diabetes.
Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah lokal yang
tumbuh di daerah tropis. Beberapa laporan ilmiah menunjukkan bahwa kulit buah
manggis kaya akan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antidiabetes.
Kemampuan ekstrak tanaman untuk menghasilkan senyawa bioaktif dapat terkait
dengan peran mikrob endofit salah satunya aktinobakteri. Aktinobakteri memiliki
kemampuan sebagai penghasil senyawa bioaktif yang dapat menghambat aktivitas
alfa glukosidase. Inhibisi alfa glukosidase menyebabkan hidrolisis karbohidrat
menjadi gula sederhana terjadi secara bertahap, sehingga mencegah terjadinya
kondisi hiperglikemia postprandial pada penderita DM.
Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi eksistensi aktinobakteri endofit
kulit buah manggis yang diduga memiliki kemampuan sebagai penghasil senyawa
inhibitor alfa glukosidase. Aktinobakteri endofit kulit buah manggis diisolasi,
dimurnikan, dikarakterisasi secara morfologi, dan dilakukan penapisan aktivitas
inhibitor alfa glukosidase secara in vitro. Hasilnya sebanyak 13 isolat
aktinobakteri berhasil diisolasi, dimurnikan dan dikarakterisasi secara morfologi.
3 isolat aktinobakteri terpilih sebagai isolat potensial berdasarkan hasil penapisan
yakni AGM 1, AGM 2, dan AGM 7 yang memiliki kemampuan penghambatan
alfa glukosidase berturut-turut sebesar 79.61%, 84.62%, 79.66%. Ketiga isolat
terpilih tidak bersifat patogen berdasarkan uji hipersensitivitas dan hemolisis.
Nilai IC50 ekstrak etil asetat AGM 1 berada pada kisaran konsentrasi (62.5-125
μg/mL), AGM 2 (125-250 μg/mL), AGM 7 (250 μg/mL). Nilai IC50 ekstrak etil
asetat kulit buah manggis berada pada kisaran konsentrasi 125- 250 μg/mL. Hasil
ANOVA dan uji lanjut Tukey menunjukkan aktivitas penghambatan alfa
glukosidase dari ektraks etil asetat aktinobateri endofit terpilih dan kulit buah
manggis secara signifikan berbeda nyata (p<0.1). Identifikasi secara molekuler
berdasarkan gen 16S rRNA menunjukkan bahwa ketiga isolat aktinobakteri
potensial berkerabat dekat dengan Streptomyces xylanilyticus SR2-123 dengan
persentase kemiripan lebih dari 99%. Informasi yang diperoleh dari studi ini
menunjukkan bahwa aktinobakteri endofit kulit buah manggis berpotensi sebagai
penghasil senyawa inhibitor alfa glukosidase
Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan dari Aktinobakteri asal Jamu Bersalin Aceh.
Jamu bersalin merupakan ramuan tradisional dari beberapa tanaman obat
yang digunakan untuk perawatan dan pemulihan selama masa nifas. Masa nifas
beresiko terjadi perdarahan, infeksi, dan preeklamsia yang dapat mengakibatkan
kematian ibu. Aktinobakteri dari tanaman obat memiliki berbagai kemampuan
metabolit sekunder sebagai sumber potensial senyawa aktif. Tujuan penelitian ini
untuk mengisolasi aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh, dan menentukan
aktivitas antibakteri dan antioksidan.
Keragaman morfologi aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh diobservasi
berdasarkan karakter morfologi secara makroskopik dan mikroskopik. Penapisan
aktivitas antibakteri dilakukan dengan uji antagonis langsung terhadap bakteri
target EPEC K1.1 dan Bacillus pumilus. Isolat terpilih diidentifikasi secara
molekuler berdasarkan gen 16S rRNA. Penentuan pola aktivitas antibakteri
dilakukan untuk mengetahui waktu optimum produksi senyawa antibakteri dari
aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh. Isolat aktinobakteri terpilih dan jamu
bersalin Aceh kemudian diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak etil
asetat aktinobakteri dan jamu bersalin selanjutnya diuji aktivitas antibakteri,
antioksidan, dan kandungan fitokimia. Uji aktivitas antibakteri menggunakan
metode Kirby-Bauer, sedangkan uji aktivitas antioksidan menggunakan
metode DPPH.
Keragaman aktinobakteri dari jamu bersalin Aceh memiliki berbagai
macam warna miselium aerial, warna miselium substrat, dan tipe rantai spora.
Hasil penelitian menunjukkan 15 isolat aktinobakteri berhasil diisolasi dari jamu
bersalin Aceh. Karakteristik aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh memiliki
warna miselium aerial putih, putih keabuan dan abu-abu. Warna miselium substrat
didominasi oleh warna kuning kecoklatan hingga coklat tua. Miselium aerial
aktinobakteria asal jamu bersalin Aceh secara mikroskopik didominasi oleh
tipe flexibilis (F) dan biverticillus spira (BIV S). Isolat aktinobakteri dari jamu
bersalin Aceh memiliki kemampuan antibakteri yang beragam terhadap bakteri uji
EPEC K1.1 dan B. pumilus. Isolat terbaik yang dipilih berdasarkan diameter zona
hambat paling lebar dan waktu pertumbuhan isolat. Dua isolat aktinobakteri yang
dipilih yaitu isolat JBA 8 dan JBA 11. Hasil homologi sekuen gen 16S rRNA
menggunakan EzBioCloud menunjukkan bahwa isolat JBA 8 memiliki kesamaan
(95.37%) dengan Cellulosimicrobium cellulans LMG 16121 (T) sedangkan isolat
JBA 11 memiliki kesamaan (98.10%) dengan C. funkei ATCC BAA886 (T).
Pola aktivitas antibakteri supernatan isolat JBA 8 dan JBA 11
menunjukkan aktivitas tertinggi pada hari ke-10 terhadap bakteri uji EPEC K1.1
dan B. pumilus. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat JBA 8, JBA 11, dan
jamu bersalin Aceh memiliki kemampuan antibakteri mulai dari 25 μg/mL sampai
dengan 1000 μg/mL. Ekstrak etil asetat JBA 8 memiliki kemampuan antibakteri
lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (polimixin B 1000 μg/mL) dan jamu
bersalin Aceh terhadap EPEC K1.1.
Ekstrak etil asetat ekstrak etil asetat JBA 8 dan JBA 11 memiliki aktivitas
antioksidan dengan IC50 279.7 ppm dan IC50 470.5 ppm, sedangkan jamu bersalin
Aceh memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 36.6 ppm. Hasil analisis
fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat JBA 8 dan JBA 11 mengandung
senyawa flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Ekstrak etil asetat JBA 8 juga
mengandung senyawa steroid. Ekstrak etil asetat jamu bersalin Aceh
mengandung flavonoid, triterpenoid, dan kuinon. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa isolat aktinobakteri asal jamu bersalin Aceh memiliki potensi
sebagai sumber antibakteri dan antioksidan
Aktivitas Antioksidan dan Antiglikasi dari Aktinobakteri Rizosfer dan Endofit Xylocarpus granatum.
BATUBARA dan YULIN LESTARI.
Pemanfaatan bakteri endofit seperti aktinobakteri merupakan salah satu cara
alternatif untuk memperoleh senyawa bioaktif yang sama dengan tumbuhan
induknya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi senyawa dari aktinobakteri
rizosfer dan endofit Xylocarpus granatum yang memunyai aktivitas antioksidan dan
antiglikasi. Supernatan kultur aktinobakteri diekstraksi menggunakan etil asetat
dengan nisbah 1:1 (v/v). Aktivitas antioksidan diuji menggunakan 2,2-difenil-1-
pikrilhidrazil. Kromatografi lapis tipis bioautografi dan uji fitokimia digunakan
untuk memprediksi senyawa aktif. Kemampuan antiglikasi ditetapkan berdasarkan
penghambatan pembentukan advanced glycation end products. Sebanyak 15 isolat
aktinobakteri telah diisolasi dari rizosfer, buah, dan daun X. granatum. Lima isolat
dari rizosfer, dua isolat dari buah, dan tiga isolat dari daun telah diuji aktivitasnya
sebagai antioksidan dan antiglikasi. Isolat XR2 memiliki aktivitas antioksidan
tertinggi dengan nilai IC50 1719 mg/L. Sementara itu, aktivitas antiglikasi tertinggi
dimililiki oleh isolat XR8 dengan nilai IC50 328 mg/L. Ekstrak etil asetat
aktinobakteri rizosfer lebih berpotensi sebagai antioksidan dan antiglikasi
dibandingkan aktinobakteri endofit
Inhibitory activity of bacteria isolated from digestive track of chicken broiler against Escherichia coli and Salmonella spp. at several growth media, aeration, pH, and temperature
Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik untuk keluarga, mendorong meningkatnya permintaan akan bahan pangan hewani sebagai sumber protein. Salah satu bahan pangan hewani yang bermutu tinggi adalah produk asal ayam. Akan tetapi pemenuhan akan bahan pangan inisering mendapat kendala. Masalah utama dalam peningkatan produksi ternak termasuk ayam adalah penyediaan pakan, terutama sebagai sumber protein dan energi yang masih diimpor dan sebagai konsekuensinya harga pakan meningkat. Untuk efisiensi pakan biasanya dengan pemberian feed additive sebagai zat pemacu tumbuh (growth promotant). Zat pemacu tumbuh yang umum dipakai berasal dari kelompok antibiotik. Penggunaan antibiotik mempunyai sifat positif seperti meghambat infeksi bakteri patogen dan memacu pertumbuhan. Akan tetapi antibiotik mempunyai efek samping yaitu ikut hadirnya residu antibiotik dalam produk yang dihasilkan sehingga mengakibatkan efek teratogenik, karsinogenik, mutagenik, resistensi bakteri patogen serta. membunuh bakteri pencernaan yang menguntungkan. Untuk memicu produksi dan reproduksi ternak yang lebih aman maka dicari zat pengganti antibiotik seperti probiotik, dan enzim. Probiotik adalah makanan tambahan (feed additive) berupa mikroba hidup, baik bakteri maupun kapang atau yeast yang dapat menguntungkan bagi inagnya dengan jalan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak. Enzim adalah senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa komplek menjadi sederhana yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam susunan yang teratur dan tetap. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antibakteri, dari metabolit bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap Escherichia coli dan Salmonella sp. Kajian juga dilakukan terhadap aktivitas proteolitik, amilolitik, lipolitik,selulolitik dari metabolit yang dihasilkan bakteri asalsaluran pencernaan ayam pada beberapa media, aerasi, pH, dan suhu.This research aim to study the Inhibition activity of bacteria isolated from digestive track chicken broiler against Echerichia coli and Salmonella sp. at several growth media, aeration, pH and temperature. Isolation of digestive track broiler bacteria was conducted by using Nutrient Agar (NA) media at pH 7.0 and pH 4.5. The isolates were assayed against Echerichia coli and Salmonella sp. The isolates which showed inhibition capability were selected, microscopically identified, Gram stained and used for further assay The inhibitory activity of selected isolates was examined using De Man Ragosa (MRS ) and Tripton Glucosa Yeast Extract (TGY) media, with and without agitation. The selected media wasthen modified with molasses and soybean meal assource of carbon and nitrogen, respectively. The stability of inhibitory activity was examined at five levels of temperature (25 degrees celcius, 30 degrees celcius, 37 degrees celcius, 40 degrees celcius, 50 degrees celcius), and seven pH levels (3.0,4.0, 5.0, 6.0, 7.0, 8.0, and 9.0). The selected isolates were also enzimatically assayed for amylase, protease, lipase, and cellulose activity. The results showed that 7n isolate produced the highest inhibition activity against E. coli and Salmonella enteric. For E coli strong inhibition showed by 7n isolate at MRS modified media, pH 6.0-8.0, and temperature at 370 C, and similar condition applied also for EPEC K1-1, except the highest inhibition occured at 500 C. For Salmonella enteric growth inhibition by 7n isolate was obtained using MRS modified media, pH 5, and temperature at 300 C. For other Salmonella subsp.2 small inhibition by 34n occurred at both MRS and TGY modified at pH 4.0-5.0 and temperature at 37 degrees celcius. Both 7n and 34 isolates showed amylase, protease, lipase and cellulose activity. The results indicate that both isolates have their potency to be developed as probiotics, served as feed additive. The isolates are expected can function as growth promoter through their antibacterial and degrading enzymes activities. Keywords: chicken broiler bacteria, antibacterial activity, E. coli, Salmonella sp., MRS modified media, pH, temperature, degrading enzym
Aktivitas Inhibitor Α-Glukosidase Dan Profil Senyawa Dari Ekstrak Etil Asetat Metabolit Streptomyces Sp. Ipbcc.B.15.1539 Yang Ditumbuhkan Pada Media Ys Dan Isp-2
Streptomyces merupakan salah satu bakteri endofit yang termasuk ke
dalam kelompok aktinomiset yang diketahui menghasilkan senyawa bioaktif
dengan beragam fungsi biologi. Streptomyces sp. IPBCC.B.15.1539 merupakan
salah satu aktinomiset endofit asal Tinospora crispa yang dapat menghasilkan
inhibitor α-glukosidase. Aktinomiset endofit ini memiliki potensi sebagai
antidiabetik melalui aktivitas inhibisi α-glukosidase. Pertumbuhan dan produksi
senyawa bioaktif dapat dipengaruhi oleh jenis media pertumbuhan. Telaah lebih
lanjut mengenai potensi, karakteristik dari senyawa aktif, perlu diidentifikasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas inhibitor α-glukosidase dan
profil senyawa dari ekstrak etil asetat metabolit Streptomyces sp.
IPBCC.B.15.1539 yang ditumbuhkan pada media Yeast Soluble Starch (YS) dan
International Streptomyces Project No.2 (ISP-2).
Streptomyces sp. IPBCC.B.15.1539 ditumbuhkan pada media Yeast
Soluble Starch Agar (YSA) selama 10 hari. Kultur kemudian diinokulasikan pada
media YS dan ISP-2 dan ditumbuhkan selama 15 hari pada suhu ruang. Proses
ekstraksi dilakukan menggunakan etil asetat. Ekstrak kering etil asetat digunakan
untuk uji inhibisi α-glukosidase dan penentuan profil senyawa. Aktivitas inhibisi
α-glukosidase diukur secara in vitro menggunakan spektrofotometer, sedangkan
profil senyawa dinilai menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Aktivitas inhibisi α-glukosidase dari ekstrak etil asetat Streptomyces sp.
IPBCC.B.15.1539 yang ditumbuhkan pada media YS adalah 51.95%, sedikit lebih
besar dibandingkan pada ISP-2 (50.36%). Nilai IC50 ekstrak etil asetat dari media
YS adalah 6.35 μg mL-1 sedangkan dari media ISP-2 sebesar 11.40 μg mL-1.
Sementara itu, nilai IC50 akarbosa yang digunakan sebagai pembanding sebesar
0.88 μg mL-1. Berdasarkan analisis KLT, ekstrak etil asetat mengandung enam
pita yang mengindikasikan adanya senyawa pada ekstrak yang memiliki aktivitas
inhibisi α-glukosidase. Pita berwarna merah dengan nilai Retardation Factor (Rf)
0.02 yang diperoleh dari ekstrak etil asetat media YS kemungkinan terkait dengan
keberadaan senyawa antosianidin. Sementara itu, pita berwarna biru dengan nilai
Rf berkisar antara 0.03 sampai 0.98 yang diperoleh dari ekstrak etil asetat media
YS dan ISP-2 kemungkinan berkaitan dengan keberadaan senyawa flavon,
flavonon, flavonol, dan isoflavon
Analisis Metagenomik Aktinomiset Endofit Pada Tanaman Brotowali (Tinospora Crispa L. Miers) Berdasarkan Gen 16s Rrna
Keragaman aktinomiset endofit yang berasosiasi dengan tanaman obat sangat penting dipelajari karena memiliki potensi sebagai sumber beragam senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat. Status keragaman aktinomiset endofit pada Tinospora crispa dapat dianalisis dengan pendekatan culture dependent dan culture independent. Analisis aktinomiset endofit pada tanaman T. crispa menggunakan pendekatan culture dependent telah berhasil dilakukan, ditemukan sebanyak 32 isolat aktinomiset endofit yang sebagian besar merupakan genus Streptomyces. Isolasi aktinomiset endofit dengan pendekatan culture dependent hanya merepresentasikan 0,1-10 % yang dapat tumbuh pada media agar. Sebagian besar mikrob yang ada di alam yaitu lebih dari 99% memiliki beragam potensi, namun masih belum banyak diketahui kegunaannya. Analisis metagenomik komunitas mikrob di lingkungan dengan cara tanpa pengkulturan (culture independent) dilakukan untuk mendapatkan galur yang bisa dikulturkan, sulit dikulturkan maupun yang tidak bisa dikulturkan pada media agar. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji keragaman aktinomiset endofit pada T. crispa dengan pendekatan culture independent dianalisis dengan teknik PCR-DGGE berdasarkan gen16S rRNA. Hasil kajian tentang keragaman aktinomiset endofit pada T. crispa berdasarkan analisis metagenomik merupakan informasi baru yang pertama kali dilaporkan. Ditemukan beberapa kesamaan pada aktinomiset endofit yang terdapat pada batang, akar dan daun dengan komunitas aktinomiset tanah pada rhizosfer tanaman T. crispa. Interpretasi menggunakan piranti lunak Phoretix 1D menunjukkan bahwa keragaman paling besar dari aktinomiset ditemukan pada batang dan daun yaitu 17 dan 16 pita, sedangkan pada akar dan tanah ditemukan yaitu 14 dan 10 pita masing-masingnya secara berurutan. Jumlah total dari pita yang didapatkan menggunakan piranti lunak ini adalah 21 pita. Analisis molekuler dengan metode PCR-DGGE menunjukan 12 pita yang dominan. Sekuen A4 dan A9 memiliki kesamaan 95% dan 86% untuk pita dengan panjang 180 bp dengan Williamsia dan Streptomyces, secara berurutan. Sekuen yang ditemukan ini diduga tergolong baru karena memiliki persentase kesamaan yang lebih rendah dari 97 %. Hasil 10 sekuen lainnya memiliki kesamaan dengan rentang antara 97-100% dengan panjang sekuen 180 bp yang menunjukkan kekerabatan yang dekat dengan genus Streptomyces, Microbacterium, Amycolatopsis, Actinomadura, Actinoplanes, Actinokineospora, Kibdelosporangium, Williamsia, Kocuria. Berdasarkan kajian culture independent dengan pendekatan metagenomik gen 16S rRNA yang dianalisis dengan teknik PCR-DGGE berhasil diketahui keragaman komunitas aktinomiset endofit pada T. crispa. Sebagian besar aktinomiset yang diperoleh memiliki kekerabatan dengan rare aktinomiset dan sebagian lagi berkerabat dengan Streptomyces. Diantara aktinomiset yang diperoleh diduga terdapat novel aktinomiset endofit T. crispa
Aktinomiset Endofit Artemisia vulgaris Asal Thailand dan Indonesia: Keanekaragaman, Aktivitas Antibakteri dan Pelarut Fosfat.
Aktinomiset endofit merupakan bakteri yang mengkolonisasi inang tanpa adanya efek negatif yang merugikan serta menghasilkan beragam senyawa metabolit sekunder seperti antibiotik dan kemampuan melarutkan fosfat dalam tanah. Salah satu inang yang dikolonisasi oleh aktinomiset endofit adalah tanaman yakni Artemisia vulgaris. Artemisia vulgaris dikenal dengan nama god ju la lum pha (Thailand) dan baru cina (Indonesia) adalah tanaman obat yang digunakan dalam mengobati muntah, epilepsi, diare, masalah konstipasi, dan masalah menstruasi. Eksistensi aktinomiset endofit Artemisia vulgaris asal Thailand dan Indonesia serta potensinya belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan mengkaji keragaman aktinomiset endofit tanaman Artemisia vulgaris asal Thailand dan Indonesia serta potensinya sebagai antibakteri dan pelarut fosfat. Metode yang digunakan meliputi isolasi, uji aktivitas antibakteri dan pelarut fosfat, serta identifikasi secara molekuler. Isolat AvTcrs-22, AvTcrs-30, dan AvIr-13 menunjukkan hasil yang positif terhadap uji antibakteri dan pelarut fosfat sedangkan AvIcrs-09 hanya mampu menghasilkan aktivitas antibakteri. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa 3 isolat AvTcrs-22, AvIr-13, dan AvTcrs-30, berkerabat dekat dengan genus Streptomyces dengan nilai kemiripan berturut-turut 98.00%, 97.51%, dan 93.95% sedangkan AvIcrs-09 berkerabat dekat dengan genus Microbispora dengan nilai kemiripan sebesar 97,77%. Informasi yang diperoleh mengindikasikan keragamaan aktinomiset endofit A. vulgaris asal Thailand dan Indonesia dan sebagian diantaranya memiliki potensi sebagai antibakteri dan pelarut fosfat
Kajian Tablet Aktinomiset Endofit terhadap Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri dan Peningkatan Pertumbuhan Tanaman Padi
Bacterial leaf blight (BLB) is an important disease in rice plants that cause production to decrease. Endophytic actinomycetes has been known to have an important role in enhancing rice plant’s growth. This research aimed to assess the capability of endophytic actinomycetes based product in controlling BLB disease, to improve rice plant’s growth, and to identify bacteria causing the BLB disease. Selected endophytic actinomycetes (AB131, AB131-2, and PS4-16) biomass were produced using modified molasses-soybeans medium and formulated into tablet. Biological product application was done by seed coating and soaking the roots of seedlings. Identification of bacteria causing the BLB disease was done using API iii 20 NE kit. Application of endophytic actinomycetes tablet at 200 g ha-1 in the field was able to increase plant height by 4% higher than control. Endophytic actinomycetes tablet could reduced BLB disease severity up to 74%. Based on morphological and biochemical characters, bacteria causing BLB disease which was isolated from the affected leaves in the field was indicated as Sphingomonas paucimobilis. Result of Koch's postulates test showed that S. paucimobilis produced similar symptoms with BLB disease in rice plant
- …
